SEJARAH BELUM BERAKHIR, Menuju Perubahan Tata Dunia Baru

30 September 2015

EXECUTIVE SUMMARY

 Pada tahun 1989, tepat dua puluh enam tahun yang lalu, Francis Fukuyama merilis teori tentang berakhirnya sejarah dunia dalam bukunya yang sangat terkenal, “The End of History”, yang ditandai dengan kejayaan demokrasi kapitalis liberal. Ia menyimpulkan bahwa pertempuran ideologis antara Timur dan Barat telah berakhir dengan kemenangan pihak Barat, jika sebuah negara berharap untuk menikmati kemakmuran, mereka harus merangkul beberapa kebijakan kapitalisme. Teori “end of history” pun bergema meski bukan tanpa tantangan. Saat ini, realita menunjukkan bahwa sejarah belumlah berakhir. Potensi Perang Dingin sangat mungkin terjadi lagi. “Kapitalisme Marxist” ala China menunjukkan  bahwa Anda bisa kaya tanpa “kebebasan”. Kelompok Islam fundamentalis yang berorientasi negara pun semakin tumbuh.

Beberapa kritikan menggunakan peristiwa 9/11 sebagai contoh perlawanan terhadap demokrasi liberal. Kritikan lain mengetengahkan kebangkitan fundamentalisme Islam dan Arab Spring sebagai bukti bahwa pertempuran ideologi masih berlangsung, dan sejarah belum lah berakhir.

Diskusi tentang tata dunia baru berkembang secara sangat intensif setidaknya terjadi dalam empat kejadian dalam 100 tahun terakhir: pada masa pemerintahan Woodrow Wilson pasca Perang Dunia I, saat Liga Bangsa-Bangsa lahir; setelah Perang Dunia II ketika diskusi mengenai tata dunia baru berujung pada pembentukan PBB, EEC, NATO, dan lembaga-lembaga Bretton Woods; dan pasca Perang Dingin, saat istilah tersebut juga sangat sering digunakan. Dan pada tahun 2014, diskusi mengenai tata dunia baru kembali menghangat di media dan literatur internasional. Hal ini dikarenakan perkembangan dan krisis yang terjadi saat ini membuat keseimbangan dunia berubah: kebangkitan China dan India, banyaknya konflik di kawasan Asia, menurunnya pengaruh AS sebagai dampak dari dinamika konflik yang terjadi, menyusutnya pengaruh Uni Eropa; ISIS, Iraq, dan Afghanistan; respon Rusia terhadap “colour” revolution (Perang Rusia-Georgia 2008, Konflik Crimea); meningkatnya kemiskinan yang disebabkan oleh krisis ekonomi 2008, di mana negara berkembang menyalahkan negara maju; perubahan iklim; terorisme lintas negara, dll. Beberapa pembuat kebijakan senior dari Eropa, Amerika, dan beberapa negara lain sepakat bahwa saat ini kita sedang memasuki dunia baru—dunia yang sangat mirip dengan dunia lama—yang ditandai dengan meningkatnya konflik antar negara.

Prediksi bahwa sistem internasional saat ini—yang dibangun pasca Perang Dunia II—akan memudar atau bahkan menghilang pun mulai mengemuka. Transformasi tersebut terjadi diantaranya dipicu oleh ekonomi yang semakin mengglobal, yang ditandai oleh pergeseran kekayaan dan kekuatan ekonomi dari Barat ke Timur.  Pergeseran kekuatan tidak hanya terjadi di antara nation state, kekuatan berbagai aktor non-state—pelaku bisnis, suku, organisasi keagamaan, dan jaringan kriminal—pun akan terus meningkat. Bahkan, beberapa negara sangat mungkin “diambil alih” oleh aktor non-state tersebut.

Sejarah menunjukkan bahwa perubahan secara cepat akan membawa banyak bahaya. Transisi dua puluh tahun ke depan ke arah sistem internasional yang baru bisa jadi akan penuh dengan risiko. Risiko tersebut diantaranya adalah tumbuhnya prospek perlombaan senjata nuklir di Timur Tengah dan kemungkinan terjadinya konflik akibat menipisnya sumber daya.

Ada beberapa wild card yang dapat mem mempengaruhi keseimbangan tata dunia ke depan, yaitu:

  1. Menurunnya pengaruh AS
  2. Arab Spring dan pergolakan di Timur Tengah dan Afrika Utara (busur ketidakstabilan).
  3. Makanan, Air, dan Iklim
  4. Krisis Ekonomi Global
  5. Potensi Meningkatnya
  6. Dampak Teknologi

Risiko dan ancaman ketidakstabilan di masa depan ini direkam oleh analisis badan intelijen nasional AS pada tahun 2012. Mereka melakukan prediksi mengenai tren global pada tahun 2030, diantaranya:

  1. Meningkatnya kekuatan individu

Kekuatan individu akan naik secara signifikan karena berkurangnya kemiskinan, meningkatnya kelompok middle class secara global, meningkatnya capaian pendidikan, meluasnya penggunaan teknologi komunikasi dan manufaktur, dan majunya layanan kesehatan.

  1. Penyebaran kekuatan

Tidak ada lagi kekuatan hegemonik. Kekuatan akan bergeser menuju jaringan (networks) dan koalisi dalam sebuah dunia yang multipolar.

  1. Pola demografis

Pertumbuhan ekonomi di negara yang “sudah menua” akan turun. Enam puluh persen penduduk dunia akan tinggal di wilayah perkotaan, migrasi akan meningkat.

  1. Hubungan antara makanan, air, dan energi

Permintaan akan sumber daya tersebut akan meningkat secara substansial karena meningkatnya populasi global. Mengatasi masalah yang terkait dengan satu komoditas akan terkait dengan supply dan demand komoditas lainnya.

Sistem globalisasi telah menyerap transformasi yang terus berkembang. Televisi satelit, world wide web, media sosial, semuanya muncul pasca berakhirnya Perang Dingin. Akses informasi instan, 24 jam sehari ini telah memicu lahirnya “kebangkitan global”, yang secara dramatis bisa kita lihat dalam peristiwa Arab Spring. Sistem nation state pasca Perjanjian Westphalia kini ditantang oleh globalisasi dan meningkatnya kekuatan individu.

Sejarah menunjukkan, tatanan dunia bisa berubah dan senantiasa berubah oleh berbagai faktor yang mempengaruhinya. Tatanan lama ala imperium yang sudah berumur ratusan tahun, yang tidak pernah terbayangkan bentuk lainnya waktu itu, tergantikan oleh tatanan baru, di mana negara modern menggantikannya. Sejarah juga lah yang menunjukkan bahwa AS, super power saat ini, pernah harus membayar upeti tahunan pada kekhalifahan Turki sebesar 12.000 dinar emas per tahun. Tatanan saat ini, dengan berbagai elemen yang ada di dalamnya, bukanlah bentuk final dari sejarah kehidupan manusia. Roda sejarah terus berputar, pergiliran kekuasaan dan tatanan internasional pun bisa dan akan terjadi.

Tidak pernah terjadi sebelumnya dunia begitu saling terhubung. Namun semakin kuat ketergantungan mutual, semakin diperlukan aturan yang lebih eksplisit. Pertanyaannya, apakah manusia cukup pintar untuk mengenali perlunya perubahan sebelum chaos terjadi? Apakah perang diperlukan untuk membuat perubahan tersebut?

Untuk membaca naskah lengkap lapsus ini silahkan unduh versi pdfnya.