SETELAH KONSTANTINOPEL

20 November 2015

Rasulullah saw. pernah ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dahulu, Konstantinopel atau Roma?” Rasul menjawab, “Kota Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel”[1]

Lebih dari 14 abad lalu, Rasulullah saw Muhammad bin Abdullah pernah menjanjikan kepada para pengikutnya (sahabatnya) bahwa mereka akan menaklukkan dua super power dunia saat itu, yaitu Persia dan Romawi, serta membebaskan kota-kotanya. Di antara kota Emperium Romawi yang dijanjikan tersebut adalah Konstantinopel dan Roma.

Konstantinopel merupakan salah kota terpenting dunia. Ia didirikan pada tahun 330 M oleh penguasa Emperium Bizantium, Konstantin I. Letak Konstantinopel merupakan posisi geografis yang begitu unik dan langka. Sebagiannya menjulur ke arah laut dan sebagiannya lagi berada di daratan. Ia ibarat permata yang berada di perut Tanduk Emas di utara, Selat Bosporus di sebelah timur, dan Laut Marmara di bagian selatan. Selain itu, ia juga sangat strategis lantaran merupakan titik penghubung antara Eropa dan Asia. Atas dasar ini, tidaklah mengherankan jika ada yang berpendapat bahwa seandainya dunia hanya sebuah negara maka Konstantinopel merupakan kota yang paling pantas sebagai ibukotanya. Sejak didirikannya, Emperium Bizantium telah menjadikan Konstantinopel sebagai ibukota mereka. Pada masanya, Konstantinopel adalah di antara kota terbesar dan terpenting di dunia.

Tatkala umat Islam mulai bersinggungan dan berjihad melawan Emperium Bizantium, Konstantinopel memiliki tempat istimewa dalam narasi pertempuran tersebut. Untuk itulah, Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepada para sahabatnya bahwa mereka akan membebaskan dan menguasai kota tersebut dalam beberapa kesempatan. Faktor inilah yang menyebabkan para khalifah Islam dan para panglima mereka dari berbagai dinasti senantiasa dan selalu berusaha membebaskan dan menguasainya. Berbagai cara telah mereka lakukan agar mereka menjadi orang yang dimaksudkan dalam hadits Rasulullah saw, “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel. Sebaik-baik Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya.”[2]

Terinspirasi dari sabda Rasulullah saw tersebut, imajinasi, harapan, dan cita-cita untuk membebaskan Konstantinopel pun mulai hadir dalam jiwa para khalifah Islam sejak Daulah Umayyah. Tercatat bahwa tatkala Mu’awiyah bin Abi Sufyan menduduki posisi khalifah maka prioritas utama yang ia letakkan di depan matanya adalah membebaskan Konstantinopel. Kota yang keindahannya mampu memukau mata yang melihatnya,  juga kota paling terkenal di Emperium Bizantium sekaligus ibukotanya. Keindahan kota tersebut dikelilingi oleh menara-menara pengintai dan benteng-benteng yang kokoh seolah-olah menantang siapa saja yang ingin menaklukkannya. Daripada itu, pagar-pagarnya yang tinggi menjulang di segala penjuru juga telah banyak membuyarkan mimpi para panglima dan menghancurkan harapan para penakluk. Delapan abad kemudian, nubuwat Rasulullah saw pun terwujud. Mimpi dan cita-cita membebaskan Konstantinopel menjadi kenyataan di tangan Muhammad bin Murad dari Daulah Utsmani. Lantaran jasanya itulah maka ia mendapat gelar al-fatih, yang berarti sang pembebas, di belakang namanya.

Sementara Roma yang dahulu merupakan ibukota Romawi Barat hingga kini belum dibebaskan oleh umat Islam. Justru pembebasan Roma kelak, menurut pandangan ulama Islam merupakan tanda dan rangkaian dekatnya hari kiamat. Meski tidak ada pujian khusus dari Rasulullah saw bagi pembebas Roma sebagaimana pembebas Konstantinopel, namun peristiwa tersebut merupakan bagian dari keyakinan setiap Muslim sebagai bentuk keimanannya kepada Rasulullah saw.

EKSPEDISI DAULAH UMAYYAH

EKSPEDISI ISLAM PERTAMA UNTUK MEMBEBASKAN KONSTANTINOPEL

Meski memiliki pagar-pagar yang tinggi menjulang dan menara-menara pengintai yang kokoh serta ditambah dengan serdadu Bizantium di setiap penjuru kota, namun hal itu tidak menjadikan Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan gentar dan mengurungkan tekadnya untuk membebaskan Konstantinopel. Bahkan Mu’awiyah mulai mempersiapkan cita-citanya yang tinggi tersebut.

Dalam waktu singkat, Mu’awiyah mampu mempersiapkan ekspedisi untuk membebaskan Konstantinopel pada tahun 49 H (669 M). Mu’awiyah memulainya dengan mengutus Sufyan bin ‘Auf ke arah Konstantinopel.[3] Sufyan bin ‘Auf pun berhasil membebaskan negeri-negeri di Asia Kecil dan juga benteng-benteng di wilayah Anadol, bahkan ekspedisi darat yang dipimpinnya telah sampai di pesisir laut Marmara.[4]  Mu’awiyah kemudian mengirimkan pasukan bantuan yang dipimpin oleh putranya Yazid bin Mu’awiyah untuk membantu Sufyan bin ‘Auf, sekaligus ditunjuk sebagai komandan pasukan ekspedisi tersebut.[5] Pasukan bantuan tersebut terdiri dari beberapa sahabat Rasulullah saw terkemuka seperti: Abdullah bin ‘Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Az-Zubair, dan Abu Ayyub Al-Anshari, seorang sahabat Anshar yang dengan senang hati menjadikan rumahnya sebagai tempat tinggal sementara Rasulullah saw saat tiba di Madinah.[6] Ekspedisi ini terdiri dari pasukan darat dan laut. Pasukan laut tersebut merupakan buah dari keberhasilan pasukan Islam menguasai kapal-kapal pada saat perang Dzatu Ash-Shawari yang terjadi pada tahun 34 H/ 654 M.

Ekspedisi ini pun tiba di pagar-pagar Konstantinopel sehingga terjadilah perang yang sengit antara pasukan Islam dan pasukan Bizantium. Pasukan Islam pada saat itu belum berhasil mewujudkan cita-cita mereka untuk membebaskan Konstantinopel. Banyak sahabat Rasulullah saw yang gugur sebagai syuhada para perang tersebut, termasuk Abu Ayyub Al-Anshari yang kemudian dikuburkan di suatu tempat dekat kota Bursa. Musim dingin yang menusuk, sulitnya pasokan logistik akibat jarak yang begitu jauh dan tidak tersedia transportasi yang cepat pada saat itu, juga minimnya makanan, tersebarnya penyakit, ditambah benteng-benteng Konstantinopel yang kokoh telah mengakibatkan kegagalan ekspedisi pertama tersebut. Pasukan Islam telah sekuat tenaga merobohkan tembok-tembok Konstantinopel setelah beberapa lama mengepungnya, namun mereka gagal menjebolnya lalu pulang pada tahun 50 H (670 M) tanpa menelan kerugian yang besar.[7]

Walau demikian, Rasulullah saw telah mengabarkan perihal peperangan tersebut, bahkan menegaskan bahwa pasukan yang ikut dalam perang tersebut mendapat ampunan Allah. Sebagaimana sabda Rasulullah saw, “Pasukan dari umatku yang pertama kali menyerang kota Kaisar (Konstantinopel) maka mereka akan diampuni.”[8]

Pelajaran penting yang diperoleh Mu’awiyah dari kegagalan ekspedisi pertama adalah urgennya mendukung pasukan darat yang menyerang Konstantinopel dengan pasukan laut yang besar. Ini karena Konstantinopel dikelilingi oleh air dari tiga penjuru. Untuk itu, Mu’awiyah segera mempersiapkan pasukan laut yang tangguh selama empat tahun. Dalam masa persiapan tersebut, pasukan laut Islam berhasil menguasai kembali pulau Rhodes tahun 52 H (672 M) dan pulau Arwad yang kemudian dijadikan sebagai basis untuk mengkoordinir pengepungan Konstantinopel yang kedua tahun 54 H (674 M).[9]

EKSPEDISI KEDUA TAHUN 54-60 H (674-679 M)

                Dalam rangka pengepungan yang kedua ini, pasukan Islam berhasil menguasai Izmir dan pesisir Likya, termasuk menguasai pulau Arwad. Lalu berangkatlah armada pasukan Islam dari pulau Arwad yang dipimpin oleh Junadah bin Abi Umayyah Al-Azdi. Saat itu, pasukan Islam berhasil mengepung Konstantinopel dengan sangat ketat baik dari darat maupun laut, dari bulan April hingga September. Kemudian mereka menunda pengepungan tersebut  tatkala tiba musim dingin dan kembali ke pulau Arwad, lalu melanjutkan mengepungnya pada musim panas berikutnya. Namun mereka harus kembali ke pulau Arwad pada musim dingin tahun berikutnya, dan kembali mengepungnya pada musim panas. Hal tersebut terus terjadi hingga tahun 60 H/679 M ketika Mu’awiyah akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pengepungan tersebut dan menarik seluruh pasukan. Pada masa itu, Mu’awiyah melakukan perjanjian damai dengan penguasa Bizantium Konstantin IV selama tiga puluh tahun.[10]

                Banyak panglima perang pasukan Islam yang gugur pada pengepungan tersebut. Tiga puluh ribu menemui kesyahidan dan banyak armada kapal yang hancur tenggelam di lautan. Di antara sebab kegagalan tersebut adalah kebosanan dan kejemuan yang dihadapi pasukan Islam akibat lamanya masa pengepungan. Selain juga mereka dikejutkan dengan persenjataan musuh yang belum bisa mereka atasi pada saat itu. Senjata tersebut dikenal dengan Api Penenggelam atau Api Yunani. Pasukan Bizantium menggunakan senjata tersebut sebagai sarana pertahanan yang mampu membakar banyak armada kapal pasukan Islam dan hal itu menimbulkan kepanikan dan kebingunan dalam hati pasukan Islam yang mengepung Konstantinopel. Api tersebut terdiri dari unsur minyak, belerang dan gas, sehingga ketika jatuh di atas permukaan air justru semakin bertambah besar. Api tersebut tidak bisa dipadamkan kecuali menggunakan pasir dan kain yang dibasahi. Pengaruh senjata api tersebut yang besar itulah yang menghalangi pasukan Islam untuk membebaskan Konstantinopel sehingga mereka terpaksa mengakhiri pengepungan dan melakukan perjanjian damai dengan emperium Bizantium.[11]

                Usaha pengepungan dan pembebasan Konstantinopel pada era Mu’awiyah bin Abi Sufyan selama bertahun-tahun yang kemudian berhasil digagalkan oleh Emperium Bizantium menunjukkan tujuan utama dari misi pembebasan tersebut. Daulah Umayyah yang ketika itu dipimpin oleh Mu’awiyah bertekad membebaskan Konstantinopel bukan sekedar ingin menguasai sepetak tanah dari kota tersebut, namun ia berharap dengan keberhasilan membebaskannya maka Konstantinopel bisa menjadi pintu gerbang masuknya risalah Islam kepada umat Nasrani Eropa. Dengan demikian, tercapailah tujuan utama Daulah Umayyah sebagai pengemban risalah Islam untuk dunia. Karena itu, kegagalan dua kali usaha pembebasan tersebut tidak menyurutkan dan menggoyahkan tekad para pemimpin Daulah Umayyah untuk membebaskan Konstantinopel.[12]

                Meski pergelokan internal tahun 60 H hingga 72 H (679-691 M) menyebabkan redupnya pertempuran antara Daulah Umayyah dan Emperium Bizantium, namun ketika kondisi internal sudah stabil Daulah Umayyah kembali melakukan penyerangan yang sengit dan berhasil mereaih kemenangan demi kemenangan dan membebaskan satu persatu wilayah. Daulah Umayyah juga berhasil merebut kembali wilayah yang sempat dikuasai oleh Bizantium, seperti wilayah Mashishah yang berhasil direbut kembali oleh Abdul Malik bin Marwan tahun 84 H/703 M setelah selama empat belas tahun berada di tangan Bizantium.

                Pada masa Khalifah Walid bin Abdul Malik, gerakan pembebasan beberapa wilayah yang masif pun dimulai. Hal ini tidak terlepas dari jasa ayahnya Abdul Malik bin Marwan yang mampu menstabilkan kondisi internal dan kembali menyatukan Daulah Umayyah. Hal ini menyebabkan Emperium Bizantium terpaksa sekali lagi kembali mengambil sikap bertahan. Pada awal pemerintahannya, Walid bin Abdul Malik berhasil membebaskan benteng Thiwanah tahun 88 H/707 M yang merupakan pintu masuk antara Syam dan Selat Bosfor setelah memberikan pengalaman pahit bagi Bizantium dengan gugurnya lima puluh ribu pasukannya. Pada tahun berikutnya 89 H/708 M, ia berhasil membebaskan ‘Amuriyyah dan Herikliyah. Sejak saat itu, dimulailah persiapan untuk  kembali mengepung dan membebaskan Konstantinopel.[13]

EKSPEDISI KETIGA YANG DIPIMPIN MASLAMAH BIN ABDUL MALIK (97-98 H/715-716 M)

                Walid bin Abdul Malik pun segera memperkuat armada laut Islam dan membangun sinergi antara pasukan darat dan pasukan laut, serta membuat suatu kalender yang baik untuk operasi perang. Hingga pada tahun 94 H/712 M mulailah Walid bin Abdul Malik mempersiapkan pasukan Islam untuk membebaskan ibukota Bizantium, Konstantinopel. Ia mempersiapkan sebuah ekspedisi yang terdiri dari pasukan darat dan laut yang dipimpin oleh saudaranya sendiri, Maslamah bin Abdul Malik.[14]

                Kabar persiapan Walid bin Abdul Malik untuk membebaskan Kosntantinopel ternyata didengar oleh penguasa Bizantium sehingga mereka pun mulai memperkuat sarana-sarana dan senjata-senjata yang mampu mempertahankan tembok-tembok Konstantinopel. Mereka juga memperkuat persenjataan pertahanan laut sebagai persiapan menghadapi pengepungan yang berlangsung lama seperti yang terjadi pada pengepungan yang kedua. Akan tetapi, wafatnya Walid bin Abdul Malik mengakibatkan penundaan keberangkatan ekspedisi tersebut. Lalu tatkala saudaranya Sulaiman bin Abdul Malik diangkat sebagai khalifah, maka ia pun mempersiapkan pasukan-pasukan tersebut bergerak menuju Konstantinopel.

Merupakan tradisi bahwa usaha pembebasan Konstantinopel sejak era Mu’awiyah bin Abi Sufyan adalah memberangkatkan setiap panglima perang bersama pasukan yang berjumlah besar. Ekspedisi yang dipimpin Maslamah bin Abdul Malik pun berangkat dengan armada laut yang besar, yaitu sekitar depalan belas ribu kapal. Maslamah berangkat bersama seratus dua puluh ribu pasukan menuju kota Atiqah tahun 98 H/716 M untuk memulai pengepungan ketiga. Pengepungan Konstantinopel ketiga ini menurut sebagian sejarawan merupakan titik pergeseran penting berkaitan hubungan umat Islam dan umat lainnya.[15]

                Pengepungan yang berlangsung selama dua tahun tersebut juga berakhir dengan kegagalan mewujudkan misi utama mereka untuk membebaskan Konstantinopel sebagaimana pengepungan sebelumnya. Kegagalan pengupungan ketiga ini disebabkan oleh beberapa sebab. Sebagiannya berupa penyebab penting yang mengakibatkan kegagalan pengepungan selama tujuh tahun dahulu, dan sebagian lagi penyebab-penyebab yang baru ditemukan pada pengepungan terakhir ini. Di antara penyebab kegagalan yang terjadi berulang-ulang adalah kondisi iklim yang ekstrim di wilayah Konstantinopel, kemahiran pasukan Bizantium menggunakan Api Penenggelam atau Api Yunani, semangat penduduk Konstantinopel untuk mati-matian mempertahankan kota mereka, ditambah dengan tembok-tembok pagarnya yang kokoh menjulang dan letak geografisnya yang menguntungkan untuk melakukan pertahanan.

                Penyebab baru terpenting yang menyebabkan gagalnya pengepungan ketiga ini adalah terjalinnya koalisi pasukan Islam dengan salah satu petinggi Bizantium, seorang penglima militer yang bernama Leo Isaurian. Seorang yang sangat berhasrat untuk duduk di singgasana Bizantium. Maslamah bin Abdul Malik lalu menginstruksikan kepada komandan ekspedisi tersebut untuk membantu apa saja yang Leo Isaurian inginkan. Ia berjanji bahwa jika ia dibantu menyerang masuk ke Konstantinopel dan berhasil melengserkan Theodosius III dan berhasil menjadi penguasa Bizantium, maka ia akan mempersilahkan pasukan Islam untuk memasuki kota. Maslamah bin Abdul Malik pun membantunya dan memenuhi apa yang dimintanya. Akan tetapi tatkala Leo berhasil berkuasa, ia pun mengingkari janjinya bahkan barbalik arah bergabung dengan pasukan Bizantium dan berusaha mempertahankan kota mereka. Usaha mereka pun berhasil menggagalkan dan membendung serangan demi serangan pasukan Islam serta berhasil mempertahankan tembok-tembok pagar mereka yang kokoh lagi tinggi menjulang. Ini sekaligus menunjukkan bahwa perjanjian antara umat Islam dengan selain mereka dengan tujuan untuk mengalahkan lawan yang juga bukan dari umat Islam merupakan senjata yang bermata dua.[16]

                Kendati pasukan Islam harus menempuh berbagai kesulitan dalam pengepungan tersebut, harus mempersembahkan pengorbanan yang tidak ternilai, banyak di antara mereka yang menemui kesyahidan, banyak armada laut mereka yang diterpa angin kencang sehingga merusak kapal-kapal mereka, selain senjata Api Penenggelam yang digunakan pasukan Bizantium yang juga berhasil menenggelamkan banyak kapal-kapal pasukan Islam, meski semua itu, pasukan Islam masih mampu meneruskan pengepungan dengan sangat ketat hingga Sulaiman bin Abdul Malik wafat pada sembilan Shafar tahun 99 H (September 717 M). Pada waktu yang sama, musim dingin yang menusuk pun tiba dengan dingin dan saljunya sehingga menyebabkan meninggalnya sebagian pasukan Islam. Kondisi yang minim makanan juga memaksa mereka untuk menyembelih kuda-kuda tunggangan mereka, bahkan mereka harus memakan hewan-hewan melata, kulit-kulit hewan, akar-akar pepohonan, dedaunan, serta memakan apa saja selain bebatuan dan tanah. Sulitnya kondisi tersebut tidak menyurutkan tekad mereka sedikitkan. Maslamah bin Abdul Malik yang memimpin ekspedisi tersebut pun pantang untuk berinisiatif mundur. Hingga sampailah instruksi dari khalifah baru pengganti Sulaiman bin Abdul Malik, Umar bin Abdul Aziz, untuk segera meninggalkan pengepungan dan kembali ke Syam.[17]

                Ekspedisi ketiga untuk membebaskan Konstantinopel ini merupakan ekspedisi terbesar dan terbanyak yang mampu dilakukan oleh kekuatan Islam untuk menghancurkan kekuatan Bizantium. Ekspedisi ini juga merupakan usaha maksimal yang mampu dilakukan oleh umat Islam dalam rangka membawa panji-panji Islam kepada bangsa Barat. Namun demikian, mimpi dan cita-cita untuk membebaskan Konstantinopel tidak pernah dan tidak akan pernah sirna dalam jiwa para penguasa Islam, hingga hal itu bisa diwujudkan oleh Daulah Utsmaniyah pada tahun 857 H/1453 M melalui perantaraan Muhammad II Al-Fatih.

EKSPEDISI DAULAH ABBASIYYAH

                Setelah runtuhnya Daulah Umayyah yang kemudian digantikan oleh Daulah Abbasiyyah, cita-cita untuk membebaskan Konstantinopel terus diwarisi oleh Daulah Abbasiyyah. Pada masa Khalifah Al-Mahdi, ia mengirim  ekspedisi-ekspedisi musim panas ke wilayah-wilayah Emperium Bizantium sejak 163 H/779 M. Saat itu, Al-Mahdi mengirim sebuah ekspedisi musim panas yang langsung dipimpin puteranya Harun Ar-Rasyid yang bertujuan untuk mengepung Konstantinopel. Hingga pada 166 H/782 M, Harun Ar-Rasyid kembali memimpin ekspedisi musim panas yang berjumlah sembilan puluh lima ribu personel. Ekspedisi ini tiba hingga di laut yang mengelilingi Konstantinpel.[18]

                Tatkala itu, kendali pemerintahan Bizantium dipegang oleh Irene yang mewakili anaknya, Constantine VI yang ketika itu masih kecil. Irene menawarkan perjanjian damai dengan Harun Ar-Rasyid dan menyatakan kesanggupan untuk membayar jizyah senilai 90.000 dinar pada bulan April di setiap tahunnya jika Harun Ar-Rasyid meninggalkan pengepungan Konstantinopel. Perjanjian damai tersebut berlangsung selama tiga tahun. Namun sebelum perjanjian selesai, Bizantium melanggar perjanjian tersebut lalu Daulah Abbasiyyah pun mengirimkan sebuah ekspedisi yang dipimpin Ali bin Sulaiman bin Ali untuk menyerang Bizantium dan berhasil mengalahkan mereka. Selanjutnya, pengepungan Konstantinopel tidak terlaksana pada masa Abbasiyyah lantaran konflik internel yang melandanya dan mengalami kemunduran.

EKSPEDISI DAULAH UTSMANIYAH

                EKSPEDISI BAYAZID I (795-803 H/ 1393-1401 M)

                Sultan pertama Utsmaniyah yang berusaha mengepung Konstantinopel adalan Bayazid I. Bahkan membebaskan Konstantinopel merupakan target utama dalam program jihad Sultan Bayazid !. Oleh karena itulah, ia bergerak sendiri memimpin pasukan Utsmaniyah dan melakukan pengepungan ibukota BIzantium yang demikian rapi dan melakukan tekanan yang keras.[19]

                Usaha pertama Bayazid I mengepung dan membebaskan Konstantinopel terjadi pada tahun 795 M/1393 M. Hal itu terjadi ketika penguasa Bizantium Manuel II menolak permintaan Bayazid I untuk membayar jizyah dan mendirikan sebuah pemukiman Muslim di kota Konstantinopel. Akhirnya Manuel II setuju dengan permintaan Bayazid dengan mengkhususkan 700 rumah di dalam kota untuk umat Islam. Namun saat itu, Bayazid belum berhasil membebaskan Konstantinopel.[20]

                Setelah ekspedisi Utsmaniyah berhasil membebaskan beberapa wilayah Romania, Bayazid kembali mengepung dan berusaha membebaskan Konstantinopel. Pengepungan itu terjadi selama tujuh bulan (Syawal 797- Rabiul Akhir 798 M/ Agustus 1395 – Februari 1396). Namun usaha ini kembali menemui kegagalan. Pengepungan ketiga kembali dilakukan Bayazid I setelah enam bulan dari pengepungan kedua, akan tetapi juga tidak menghasilkan sesuatu yang berarti. Bayazid I kembali mengepung Konstantinopel untuk keempat kalinya dengan memanfaatkan kepergian Manuel II ke Inggris untuk meminta bantuan.[21]

Pengepungan ini berlangsung sedemikian rapi hingga membuat Konstantinopel hampir menemui keruntuhannya. Akan tetapi, tatkala Eropa menunggu hari-hari kejatuhan Konstantinopel, tiba-tiba Sultan memalingkan perhatiannya ke arah lain, karena ia melihat sebuah bahaya baru yang mengancam Daulah Utsmaniyah, yaitu serangan dari Timurlenk.[22] Dalam perang melawan Timurlenk, Bayazid I tertawan dan wafat dalam masa penawanan.

                Sultan Bayazid I tampak terburu untuk menaklukkan Konstantinopel, sebelum pijakan Daulah Utsmaniyah benar-benar kokoh dari segala sisinya. Akibat ketergesaan tersebut, Sultan Bayazid I harus membayar mahal ekspansi-ekspansi yang dilakukannya. Di sisi lain, kegagalan membebaskan Konstantinpel pada masa Bayazid I ini merupakan rahasia ilahi untuk memperbaiki kondisi internal Daulah Utsmaniyah sebelum mereka benar-benar memenuhi syarat untuk melakukan penaklukan yang besar.[23]

                PENGEPUNGAN SULTAN MURAD II

                Tertawanannya Bayazid I menimbulkan konflik internal antara anak-anaknya, Sulaiman, Muhammad, dan Musa. Hal tersebut terjadi selama beberapa tahun sehingga akhirnya Muhammad I berhasil memulihkan stabilitas internal. Saat itu, Muhammad I memilih untuk mengadakan perdamaian dengan Bizantium disebabkan kondisi internal yang lemah akibat perang saudara.

                Setelah wafatnya Muhammad I yang kemudian digantikan oleh Murad II, usaha membebaskan Konstantinopel pun kembali dilakukan. Peristiwa tersebut terjadi selama 64 hari, yaitu sejak Jumadal Tsani hingga Ramadhan 825 M (Juni – Sepetember 1422 M). Pada pengepungan ini, Murad II mengerahkan 30.000 pasukannya yang terdiri dari pasukan darat dan laut. Murad II lalu mengakhiri pengepungan tersebut dan kembali ke ibukota setelah adiknya yang ketika itu berumur 13 tahun mengaku sebagai penguasa Utsmaniyah yang sah dengan dukungan dari Bizantium. Murad II tidak melanjutkan usaha pembebasan Konstatninopel hingga wafatnya karena memperkuat internal Utsmaniyah.[24] Namun ia berhasil mewariskan seluruh sarana bagi penerusnya Muhammad II Al-Fatih yang hanya berselang dua tahun berhasil menjadikan impian membebaskan Konstantinopel menjadi kenyataan.

                PENGEPUNGAN DAN PEMBEBASAN MUHAMMAD II AL-FATIH

                Muhammad II Al-FAtih menempuh kebijakan yang diwariskan oleh ayah dan kakek-kakenya dalam hal ekspansi kekuasaan. Ketika kondisi internal Utsmaniyah sudah terlihat kuat, stabil dan mantap; mulailah Muhammad II Al-Fatih melirik wilayah-wilayah yang berada di bawah kekuasaan Nasrani Eropa. Cita-cita dan impian ayah dan kakek-kakeknya untuk memperluas kekuasaan dan penyebaran Islam dibuka kembali pintu-pintunya pada masa kekuasaannya. Wilayah utama yang menjadi perhatiannya tidak lain adalah membebaskan Konstantinopel dari kekuasaan Bizantium.[25]           

                Muhammad II Al-Fatih terobsesi membebaskan Konstantinopel, pusat Emperium Bizantium dan merupakan tempat paling strategis yang kerap dipakai koalisi Salibis Eropa untuk menyerang wilayah-wilayah Islam. Kota Konstantinopel merupakan kebanggaan Kaisar Bizantium dan kebanggaan orang Nasrani secara umum. Muhammad II Al-Fatih bertekad untuk menjadikan Konstantinopel sebagai ibukota Islam. Hal ini sekaligus sebagai amanah perjuangan, untuk meneruskan impian para penguasa, panglima pasukan, serta pasukan Islam di masa-masa lalu yang belum terwujud.[26]

                Persiapan Penaklukan

                Muhammad II Al-Fatih berusaha dengan berbagai cara dan strategi untuk membebaskan Konstatinopel. Di antaranya sebagai berikut:

  1. Memperkuat kekuatan pasukan Utsmaniyah dengan memperbanyak kuantitas jumlahnya hingga mencapai 250.000 personil. Angka ini merupakan jumlah yang sangat besar jika dibandingkan dengan jumlah tentara negara lain pada saat itu.
  2. Memperkuat pelatihan pasukan dengan berbagai seni tempur dan ketangkasan bersenjata, sehingga mereka memiliki kemampuan tempur tingkat tinggi, untuk menyambut operasi jihad yang ditunggu-tunngu.
  3. Memperhatikan spiritual dan menanamkan semangat jihad ke dalam jiwa pasukan. Muhammad II Al-Fatih selalu mengingatkan pasukannya tentang sanjungan 
    Rasulullah saw kepada pasukan yang mampu membebaskan Konstantinopel. Ia  selalu berharap, pasukan yang dimaksud Rasulullah saw adalah pasukannya.
  4. Memantapkan pasukan dengan dukungan banyak ulama di tengah-tengah pasukan Islam. Hal itu bermanfaat menguatkan tekad pasukan dan semangat jihad mereka sesuai dengan perintah Allah.
  5. Memperkuat pasukan dari segi infrastruktur angkatan perang dan persenjataan mutakhir dan strategi canggih.
  6. Membangun benteng Romali Hishar di wilayah selatan Eropa di selat Bosphorus pada sebuah titik paling srtetegis yang berhadapan dengan benteng yang pernah dibangun di masa pemerintahan Bayazid di daratan Asia. Khusus kebijakan pembangunan benteng, Kaisar Bizantium berusaha menggagalkannya dengan membujuk menawarkan sejumlah uang. Namun Muhammad II Al-Fatih tetap bergeming dan melaksanakan rencananya.[27]

Persiapan Senjata dan Armada Laut

Muhammad II Al-Fatih menaruh perhatian khusus untuk mengumpulkan senjata yang dibutuhkan dalam rangka membebasklan Konstantinopel. Salah satu yang terpenting adalah meriam. Untuk itu ia mengundang seorang insinyur ahli meriam yang bernama Orban. Insinyur ini mampu merakit meriam yang sangat besar. Di antara meriam yang sangat besar adalah meriam Muhammad Al-Fatih yang sangat terkenal. Meriam ini berbobot hingga ratusan ton dan membutuhkan ratusan sapi untuk menariknya.

 

Selain itu, saat mempersiapkan pembebasan Konstantinopel, Muhammad II Al-Fatih juga memberi perhatian besar pada penguatan armada laut. Hal itu dilakukan dengan membuat banyak kapal yang nantinya dipakai untuk pembebasan kota itu. Konstantinopel adalah sebuah kota laut yang tidak mungkin dikepung kecuali dengan menggunakan kapal=kapal untuk melakukan tugas itu. Kapal yang dipersiapkan untuk itu berjumlah sekitar 400 kapal.[28]

Melakukan Perjanjian Damai dengan Negara Rival

Sebelum melakukan serangan ke Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih melakukan perjanjian damai dengan beberapa negara rival, dengan tujuan agar ia bisa berkonsentrasi menghadapi satu musuh. Maka dijalinlah perjanjian dengan negara Galata yang berbatasan dengan Konstantinopel dari arah timur, yang dipisahkan dengan selat Tanduk Emas. Ia juga menjalin perjanjian dengan negara Majd dan Venezia, dua negara yang berbatasan dengan negara-negara Eropa. Namun negara-negara ini tidak memedulikan perjanjian tatkala Muhammad II Al-Fatih mulai begerak untuk membebaskan Konstantinopel. Negara-negara tersebut justru datang ke Konstantinopel untuk membantu mempertahankan kota tersebut. Bantuan yang mereka lakukan untuk saudara-saudara mereka seiman dalam Nasrani. Mereka melupakan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya.[29]

Berunding dengan Kaisar Constantine

Kaisar Bizantium, Constantine berusaha sekuat tenaga menyelamatkan Kosntantinopel dengan cara apa pun. Namun Muhammad II Al-Fatih tetap memintanya untuk menyerahkan kota tersebut secara damai. Jika hal itu dilakukan, maka Muhammad II Al-Fatih berjanji akan memberi jaminan bahwa tidak akan ada seorang penduduk pun dan satu gereja pun yang akan diganggu. Akan tetapi Kaisar Bizantium tetap bergeming tidak menyerahkan kota tersebut. Bahkan ketika Konstantinopel diambang keruntuhannya, Muhammad II Al-Fatih kembali menawarkan untuk menyerahkan kota itu dengan damai dan berjanji dengan janji yang sebelumnya disampaikan. Lagi-lagi penawaran itu ditolak oleh Constantine.

Pembebasan Konstantinopel

Setelah hampir dua bulan melakukan pengepungan dan serangan, yaitu dari 26 Rabi’ul Awal hingga 19 Jumadil Ula 857 H (6 April – 28 Mei 1453 M), dan dengan mengerahkan berbagai strategi termasuk memindahkan kapal-kapal melalui bukit, membuat terowongan-terowongan, dan membuat benteng bergerak dari kayu, akhirnya pada 20 Jumadil Ula 857 M (29 Mei 1453 M) Konstantinopel berhasil dibebaskan pasukan Islam.

Dua hari sebelum, 18 Jumadil Ula 857 H (27 Mei 1453 M), Muhammad II Al-Fatih memberikan wejangan kepada pasukannya untuk membersihkan dan mendekatkan diri kepada Allah dengan melakukan berbagai amal saleh. Sementara pada malam sebelum penyerangan dilakukan pada paginya, Muhammad II Al-Fatih berpidato di hadapan para komandan pasukannya. Di antara isi penting pidato tersebut yaitu “Jika penaklukan Konstantinopel ini sukses maka sabda Rasulullah saw sudah menjadi kenyataan, salah satu mukjizatnya telah terbukti. Kita sendiri akan mendapat bagian dari apa yang telah dijanjikan dalam hadits Nabi tersebut, yaitu berupa kemuliaan dan penghargaan. Maka sampaikanlah kepada pasukan satu persatu bahwa kemenangan yang akan kita capai nanti akan menambah ketinggian dan kejayaan Islam.”[30]

Setelah berhasil membebaskan Konstantinopel, Muhammad Al-Fatih menuju gereja Aya Shopia. Di sana telah terkumpul banyak orang dari kalangan rahib, pendeta, dan masyarakat. Tatkala Muhammad Al-Fatih mendekati pintu gereja, orang-orang Nasrani merasa sangat ketakutan. Salah seorang pendeta segera membukakan pintu untuk Sultan. Sultan meminta pendeta menenangkan orang-orang yang di dalam gereja, dan memerintahkan mereka pulang ke rumah mereka masing-masing dengan tenang dan aman. Mendengar sikap demikian, warga yang awalnya bersembunyi di gereja mulai merasa tenang. Saat itu ada beberapa pendeta yang bersembunyi di lorong-lorong bawah tanah. Maka tatkala mereka menyaksikan sikap toleran Muhammad II Al-Fatih, mereka pun menyatakan diri masuk Islam.

Muhammad II Al-Fatih juga memberikan kebebasan kepada kalangan Nasrani untuk melakukan ibadah mereka dan memberikan kebebasan bagi mereka memilih pemimpin agama yang memiliki otoritas untuk melaksanakan pengadilan dalam masalah-masalah sipil di kalangan mereka. Kebebasan ini juga diberikan pada para pemipin gereja di wilayah lain. Muhammad II Al-Fatih juga menjamin keamanan mereka dan karena itu ia diwajibkan untuk membayar jizyah.[31]

                Mewujudkan Nubuwat Nabi saw: Motivasi Utama Muhammad Al-Fatih

                “Kalian pasti akan membebaskan Konstantinopel. Sebaik-baik Amir (panglima perang) adalah Amir-nya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukannya” demikianlah bunyi sabda Rasulullah saw yang mampu memotivasi dan menggelorakan jiwa para penguasa Islam untuk membebaskan Konstantinopel. Termasuk dalam diri Muhammad Al-Fatih kecil yang ditanamkan oleh gurunya Syaikh Aaq Syamsuddin.Tidak seorang pun penguasa Islam kecuali terpendam dalam jiwanya impian, harapan, dan cita-cita menjadi orang yang dimaksudkan oleh Rasulullah saw. Penguasa Islam mana yang tidak menginginkan menjadi sebaik-baik amir, dan pasukannya menjadi sebaik-baik pasukan. Sungguh gelar dan sanjungan yang begitu prestisius.

Sejak dididik dan diajari oleh Syaikk Aaq Syamsuddin saat masih kecil, ia mampu meyakinkan dan selalu mengisyaratkan kepada Muhammad II Al-Fatih kecil bahwa yang dimaksud dengan hadits Rasulullah saw atas adalah dirinya.[32]Tidak mengherankan jika Muhammad II Al-Fatih sangat merindukan agar dirinya menjadi orang yang mampu merealisasikan sabda Rasulullah saw tersebut. Oleh itu, tatkala Muhammad II Al-Fatih memangku sebagai penguasa Utsmaniyah saat usianya masih muda, Syaikh Aaq menasehatinya agar segera bergerak merealisasikan hadits Rasulullah di atas. Atas nasehatnya, pasukan Utsmaniyah segera digerakkan untuk mengepung Konstantinopel dari darat dan laut, sehingga berkecamuklah perang sangat sengit selama 54 hari.

Sejak masa ayahnya memerintah, Muhammad II Al-Fatih telah terlibat dalam urusan pemerintahan. Ia banyak terlibat dalam setiap konflik dengan Emperium Bizantium dalam berbagai kondisi. Ia juga mengetahui bahwa para pendahulunya telah berusaha untuk membebaskan Konstantinopel. Bahkan ia sadar sepenuhnya bahwa usaha-usaha tersebut  sudah dilakukan oleh penguasa-penguasa Islam, bahkan dirintis sejak era Khulafa’ Rasyidin. Dengan demikian, sejak berkuasa penuh pada 855 H/1451 M ia langsung mengarahkan pandangannya untuk membebaskan Konstantinopel.

                Di sisi lain, hasil tarbiyah Islam yang ia terima telah mengantarkannya penjadi seorang pemimpin yang berkarekter islami; keimanan yang tinggi terhadap janji-janji Allah dan Rasul-Nya, tawakkal yang penuh kepada-Nya yang diiringi dengan kerja keras, dan kesabaran. Tatkala Bizantium berhasil memenangkan peperangan sementara dan mereka bangga dengan masuknya bantuan 4 kapal perang yang dikirimkan Paus, para panglima dan menteri Muhammad II Al-Fatih segera berkumpul menemui Muhammad II Al-Fatih yang mengkritik penyerangan terhadap Konstantinopel disebabkan Muhammad II Al-Fatih lebih mendahulukan nasehat gurunya Syaikh Aaq Syamsuddin. Mendengar hal itu, Muhammad Al-Fatih segera mengirim utusannya menemui Syaikh Aaq untuk dimintai usulan atau solusi terhadap pengepungan Konstantninopel. Namun Syaikh Aaq hanya memberikan jawaban dengan meyakinkan Muhammad Al-Fatih bahwa Allah pasti akan memberikan kemenangan kepadanya.

                Muhammad Al-Fatih tidak puas dengan jawaban tersebut, lalu mengutus kembali utusannya untuk menemui Syaikh Aaq Syamsuddin untuk meminta penjelasan yang lebih. Saat itulah, Syaikh menulis surat kepada Muhammad II Al-Fatih,

Sungguh, Allah lah Dzat Yang Maha Pemberi kemuliaan dan Pemberi kemenangan. Sungguh peristiwa kapal perang itu telah menimbulkan rasa negeri dan ketakutan di dalam hati, dan menimbulkan rasa gembira dan bangga di kalangan musuh. Sungguh, masalah yang pasti adalah bahwa seorang hamba hanya sekedar merancang, sedangkan yang menentukan adalah Allah, dan semua ketentuan berada di tangan-Nya. ... Kita telah berserah diri pada Allah dan telah membaca Al-Quran. Itu semua tidak lebih dari rasa kantuk dalam tidur setelah ini, dan merupakan kelembutan-kelembutan kekuasaan Allah. Dengan itu semua, akan segera tiba kabar-kabar gembira tentang kemenangan yang belum pernah terjadi sebelumnya.”[33]

                Hampir saja Muhammad II Al-Fatih mengurungkan niatnya membebaskan Konstantinopel disebabkan usulan para komandan perangnya, namun keimanan yang tinggi terhadap janji Allah dan Rasul-Nya yang diingatkan kembali oleh Syakh Aaq menjadikannya tetap terus mengepung Konstantinopel.

EPILOG: SETELAH KONSTANTINOPEL

Hadits Rasulullah saw. saat ditanya, “Kota manakah yang dibebaskan lebih dulu, Konstantinopel atau Roma?” Kemudian Rasul menjawab, “Kotanya Heraklius dibebaskan lebih dulu, yaitu Konstantinopel”[34] merupakan kabar gembira dari Rasulullah saw bahwa umat Islam kelak akan berhasil membebaskan Roma. Berdasarkan hadits tersebut, secara kronologi, pembebasan Roma terjadi setelah pembebasan Konstantinopel. Bahkan sebagian riwayat menyebutkan bahwa kabar gembira tersebut justru Rasulullah saw sampaikan tatkala umat Islam dalam masa-masa sulit saat mempersiapkan parit untuk menghadang pasukan koalisi Bangsa Quraisy pada Perang Ahzab.

Pembebasan Konstantinopel dan Roma merupakan nubuwat Rasulullah saw yang menginspirasi para khalifah, amir, dan sultan Islam dari generasi ke generasi untuk membebaskan Konstantinopel, selain juga hadits lain yang menjelaskan sanjungan untuk mereka yang berhasil membebaskannya. Sejak masa sahabat Rasulullah saw, impian dan cita-cita tersebut telah melekat dalam diri setiap khalifah, amir, dan sultan Islam, sehingga baru terealisasi delapan abad lebih setelah Rasulullah saw menyebutkan sabda tersebut.

Setelah pembebasan Konstantinopel lima abad yang lalu, hingga sekarang umat Islam belum berhasil membebaskan Roma. Penyebutan Roma setelah Konstantinopel tampaknya merupakan mukjizat tersendiri karena hingga sekarang Roma merupakan simbol agama Nasrani dan juga peradaban Romawi (Barat).

Serupa ketika kondisi para sahabat mendengar sabda Rasulullah saw tersebut, sekarang ini pun umat Islam seolah-olah tidak mampu menghadapi dan menahan arus peradaban Romawi. Namun dengan adanya arus Arab Springs, terkhusus yang terjadi di Suriah, Syam, menunjukkan bahwa umat masih mempunyai benih-benih kekuatan untuk mewujudkan nubuwat Rasulullah saw.

Memang Rasulullah saw tidak secara tegas menyebutkan kapan pembebasan Roma terjadi dan siapa aktornya seperti halnya pembebasan Konstantinopel. Akan tetapi yang pasti adalah pembebasan Roma tidak akan terjadi kecuali setelah umat Islam memiliki kekuatan yang sangat besar, yaitu kekuatan yang seperti atau bahkan melebihi kekuatan umat Islam tatkala membebaskan Konstantinopel. Kekuatan itu hanya mungkin terjadi ketika dalam tubuh umat Islam telah berdiri khilafah yang ditegakkan berdasarkan metode kenabian, sebagaiman komentar Syaikh Al-Albani ketika mengomentari hadits di atas. Ia menulis,

“Pembebasaan pertama (Konstantinopel) telah berhasil direalisasikan melalui tangan Muhammad Al-Fatih al-‘Utsmani seperti yang sudah diketahui. Hal itu terealisasi setelah lebih dari delapan ratus tahun sejak berita gembiranya disampaikan oleh Rasulullah saw. Pembebasan kedua (yaitu penaklukan kota Roma) dengan izin Allah juga akan terealisasi. Sungguh, beritanya akan Anda ketahui dikemudian hari. Tidak diragukan bahwa realisasi pembebasan kedua itu menuntut kembalinya Khilafah Rasyidah ke tengah-tengah umat Muslim. Hal itu telah diberitakan oleh Rasulullah saw. dalam sabda beliau.” [Ali Sadikin]

  

[1] Hadits ini diriwayatkan dalam beberapa kitab hadits terkemuka seperti Musnad Imam Ahmad (jld. 11, hal. 224, no hadits 6645), Sunan Ibnu Majah (jld. 5, hlm. 219, no hadits. 4094), Sunan Ad-Darimi (jld. 1, hlm. 430, no hadits. 503), dan Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani (jld. 13, hlm. 68, no hadits. 166). Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, jld. 1, hlm. 33, no hadits. 04)
[2]Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad (jld. 31, hlm. 387, no hadits. 18957), Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir (jld. 2, hlm. 38, no hadits. 1216), dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak (jld. 4, hlm. 468, no hadits. 8300).
[3]Lihat Al-Kamil fi At-Tarikh karya Ibnul Atsir, jld. 3, hlm. 56-57
[4]Lihat Ad-Daulah Al-Umawiyyah Daulatul Futuhat karya Nadiyah Mahmud Mushthafa, hlm. 22-23, Mujaz ‘An Al-Futuhat Al-Islamiyyah karya Thaha Abdul Maqshud Abdul Hamid, hlm. 33.
[5]Lihat Tarikh Khalifah Ibnu Khayyath, hlm. 211, Tarikh Ath-Thabari, jld. 5, hlm. 232.
[6]Lihat  Al-Kamil fi At-Tarikh, jld. 3, hlm. 56-57
[7]Lihat Al-Kamil fi At-Tarikh, jld. 3, hlm. 56-57, dan Mujaz ‘An Al-Futuhat Al-Islamiyyah, hlm. 33.
[8] HR. Al-Bukhari, no hadits. 2924 yang diriwayatkan dari Ummu Haram.
[9]Lihat Ad-Daulah Al-Umawiyyah Daulatul Futuhat, hlm. 24, Mujaz ‘An Al-Futuhat Al-Islamiyyah, hlm. 33.
[10]Lihat Al-Kamil fi At-Tarikh, jld. 3, hlm. 91, Ad-Daulah Al-Umawiyyah Daulatul Futuhat, hlm. 24.
[11]Lihat Ad-Daulah Al-Umawiyyah Daulatul Futuhat, hlm. 24,  Mujaz ‘An Al-Futuhat Al-Islamiyyah, hlm. 34.
[12]Ad-Daulah Al-Umawiyyah Daulatul Futuhat, hlm. 24-25.
[13]Ibid, 25.
[14]Mujaz ‘An Al-Futuhat Al-Islamiyyah, hlm. 37.
[15]Ad-Daulah Al-Umawiyyah Daulatul Futuhat, hlm. 30.
[16]Ibid, hlm. 30-31.
[17]Mujaz ‘An Al-Futuhat Al-Islamiyyah, hlm. 38-39.
[18] Lihat Hasan ‘Awwad Abdul Karim ‘Ali, “Muhawalah Al-Muslimin Fath Al-Qusthanthiniyyah”, dalam  Majallah Jami’ah Shendi, no. 7, Juli 2009  http://journal.ush.sd/_pdf/_fullResarch/Ush-The%20conquest%20of%20Constantinople.pdf hlm. 16-17. [5/11/2015]
[19] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyyah: ‘Awamilu An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hlm. 68.
[20] Lihat Hasan ‘Awwad Abdul Karim ‘Ali, Muhawalah Al-Muslimin Fath Al-Qusthanthiniyyah, hlm. 18-19.
[21] Ibid, hlm. 19-20.
[22] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyyah: ‘Awamilu An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hlm. 68.
[23] Ibid.
[24] Hasan ‘Awwad Abdul Karim ‘Ali, Muhawalah Al-Muslimin Fath Al-Qusthanthiniyyah, hlm. 22-23.
[25] Ali Muhammad Ash-Shalabi, Ad-Daulah Al-‘Utsmaniyyah: ‘Awamilu An-Nuhudh wa Asbab As-Suquth, hlm. 87.
[26] Ibid, hlm. 87-88.
[27] Ibid, 91-92.
[28] Ibid, 92.
[29] Ibid, hlm. 93.
[30] Ibid, hlm. 107.
[31]Ibid, 111.
[32]Ibid, 91.
[33]Ibid, 114.
[34]Hadits ini diriwayatkan dalam beberapa kitab hadits terkemuka seperti Musnad Imam Ahmad (jld. 11, hal. 224, no hadits 6645),Sunan Ibnu Majah (jld. 5, hlm. 219, no hadits. 4094), Sunan Ad-Darimi (jld. 1, hlm. 430, no hadits. 503), dan Al-Mu’jam Al-Kabir karya Ath-Thabrani (jld. 13, hlm. 68, no hadits. 166). Hadits ini dishahihkan oleh Al-Albani (Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah, jld. 1, hlm. 33, no hadits. 04).