Taliban dan Al-Qaidah Setelah Mulla Umar, Prospek ke Depan dan Pengaruhnya bagi Jihad Global

26 November 2015

Taliban dan Al-Qaidah merupakan potret kekenyalan sebuah kelompok perlawanan jihadis yang mampu bertahan bahkan hingga 15 tahun. Perubahan status labelisasi musuh, dari semula sebagai kelompok teroris hingga kemudian dianggap sebagai kelompok insurgen, menunjukkan bahwa Taliban cukup memiliki posisi tawarnya di mata musuh. Sementara Al-Qaidah mencerminkan diri sebagai kelompok perlawanan global yang mampu menahan gempuran kampanye kontraterorisme bahkan berkembang hingga mampu membangun basis teritorial.

Kedua kelompok tersebut berhasil menciptakan sinergi yang saling mendukung, meski memiliki fokus dan gaya pendekatan yang berbeda. Keduanya juga menyatakan saling loyal, meski kini menghadapi tantangan baru dengan munculnya kompetitor, yang menamakan diri “Daulah Al-Khilafah Al-Islamiyyah” atau the Islamic State (IS). Tulisan ini mencoba untuk memotret hubungan segitiga antara ketiga kelompok jihad tersebut dan prospeknya ke depan.

Al-Qaidah Memperbarui Baiat kepada Mulla Umar

Al-Qaidah menerbitkan edisi pertama buletin online baru yang berjudul “An-Nafir” (yang berarti seruan untuk memobilisasi) pada 20 Juli 2014. Dalam edisi perdana tersebut, Al-Qaidah memperbarui baiatnya kepada Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid.

 “Edisi pertama dimulai dengan memperbarui baiat/janji setia kepada Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid dan menyatakan bahwa Al-Qaidah serta cabang-cabangnya adalah merupakan prajurit beliau,” demikian buletin itu berbunyi. Al-Qaidah melanjutkan dengan mengatakan bahwa itu adalah pertempuran di bawah panji Amirul Mukminin untuk mengembalikan kontrol atas petak luas wilayah untuk dibangunnya khilafah islamiyah.

Meskipun An-Nafir baru saja dirilis secara online oleh As-Sahab, media resmi Al-Qaeda, tanggal publikasi edisi perdana tersebut menunjukkan bahwa buletin itu diproduksi pada bulan April/Mei, bertepatan—atau sengaja dikaitkan—dengan deklarasi “khilafah” oleh the Islamic State (IS).

Sebagai bagian dari pengumuman, IS mengatakan bahwa semua kelompok jihad lainnya, hendaklah memberikan baiatnya kepada Abu Bakr Al-Baghdadi (sekarang disebut “Khalifah Ibrahim”). Ini adalah upaya langsung untuk merebut kepemimpinan Al-Qaidah yang saat ini dipimpin oleh Aiman Azh-Zhawahiri dan bisa dibaca sebagai tantangan bagi semua jihadis senior lainnya di seluruh dunia. 

Lewat sejumlah kesuksesan kampanye militer, IS berhasil mengontrol sejumlah wilayah di Irak dan Suriah. Klaim khilafah dari Al-Baghdadi telah menyebabkan masalah yang signifikan bagi Al-Qaidah yang telah lama membangun jaringan jihad yang luas, yang juga sebenarnya dalam rangka mendirikan khilafah islamiyah juga, dan telah memiliki beberapa cabang di berbagai Negara. Cabang-cabang regional Al-Qaidah di Timur Tengah dan Afrika, beberapa anggotanya telah menyatakan persetujuan dengan deklarasi khilafiah tersebut, tapi tidak satu pun dari cabang-cabang Al-Qaidah yang telah secara resmi berbaiat kepada “khilafah” IS ini.

Keduanya—Mulla Umar dan Al-Baghdadi--bergelar Amirul Mukminin. Hanya saja, Al-Baghdadi telah mengklaim menjadi khalifah untuk seluruh dunia. Walaupun pada kenyataannya, kekuasaan IS belum mencakup ke seluruh dunia, bahkan IS belum menguasai Irak dan Suriah secara keseluruhan. Sedangkan Taliban menamakan dirinya Emirat Islam Afghanistan, yang berarti kekuasaannya merupakan daerah Afghanistan yang saat ini sebagian besar telah dikuasai oleh Taliban, dan bukan sebuah kekhalifahan. 

Ulama jihad, seperti Abu Muhammad Al-Maqdisi, telah menyampaikan kritikannya terhadap khilafah ala IS ini. Beliau mengatakan, bahwa Emirat Islam Taliban tidak pernah menyeru seluruh kaum muslimin di seluruh dunia untuk berbaiat/janji setia kepada beliau, dan tidak pernah memaksa kelompok-kelompok jihad lainnya untuk berbaiat kepada beliau, sedangkan IS menyeru dan bahkan sampai pada tahap mengancam. 

Al-Qaidah juga menggunakan momentum terbitnya buletin online baru untuk menyatakan bahwa Al-Qaidah memiliki komitmen untuk membela dan membantu negara-negara mayoritas Muslim di seluruh dunia. 

“An-Nafir memulai edisi pertama dengan menyampaikan pesan ke seluruh kaum muslimin, di seluruh dunia: Kami bersama kalian dan tidak akan melupakan kalian, Darah kalian adalah darah kami, luka kalian adalah luka kami juga, dan mereka yang terbunuh, terluka, yang menjadi yatim, dan janda, adalah anak dan saudara kami juga.” Kemudian buletin tersebut menampilkan daftar sejumlah negara di seluruh dunia yang mana Al Qaidah telah berkomitmen untuk membela umat Islam. 

Pembaruan baiat kepada Mulla Umar setelah dipublikasikannya video Usamah bin Laden yang membahas mengenai baiat. Pada tanggal 13 Juli, Al-Qaidah merilis ulang sebuah video pidato Usamah bin Ladin yang direkam pada pertengahan 2001, hanya beberapa bulan sebelum Operasi 11 September. Secara singkat, Usamah menceritakan sejarah hubungan Al-Qaidah dengan Taliban. 

Seorang pendengar bertanya kepada Usamah tentang baiatnya kepada Mulla Umar selaku pemimpin Emirat Islam Afghanistan. Usamah mengatakan, “Baiat saya kepada Amirul Mukminin (Mulla Umar) adalah baiat agung, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah,” lanjut Usamah, “Setiap Muslim semestinya memiliki keinginan dan hasrat untuk berbaiat kepada Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar untuk baiat yang agung ini.”

Secara luas diyakini oleh umat Islam bahwa khalifah baru haruslah berasal dari suku Quraisy. Dalam upaya untuk menopang klaim Abu Bakar Al-Baghdadi untuk menjadi khalifah yang baru, IS telah menyatakan bahwa dia adalah keturunan dari suku Quraisy.

Namun, Usamah juga mengatakan dalam videonya bahwa walaupun Mulla Umar bukan berasal dari suku Quraisy, namun ini tidak menjadi penghalang bagi beliau untuk menjadi khalifah yang sah. Meski bukan berasal dari suku Quraisy, namun Usamah mengatakan bahwa ini adalah faktor minor, yang dapat diabaikan mengingat keadaan yang ada pada saat itu. Usamah pun menjelaskan bahwa baiat kepada Mulla Umar adalah baiat yang sah.

Usamah mengutip perkataan Syekh Muhammad bin Abdul Wahhab, ulama Islam di abad ke-18, yang menyatakan, “Ketika seorang laki-laki memimpin negara dan para ulama di negeri ini menerima keputusannya, maka putusan sebagai seorang amir dari kaum mukminin adalah sah.” Usamah juga mengatakan bahwa Mulla Umar telah memenuhi persyaratan ini dan menjelaskan bahwa lebih dari 1.500 ulama telah berbaiat kepada Mulla Umar. Oleh karena itu, adalah kewajiban dari setiap mukmin untuk berbaiat kepadanya.”

Dalam kasus Al-Baghdadi, situasi ini justru sebaliknya. Bahkan sebelum ia mengumumkan kepada dunia bahwa ia adalah “khalifah” yang baru, baik Al-Baghdadi maupun IS, telah mendapat penolakan luas dari ulama jihad terkemuka, termasuk kelompok-kelompok yang masih memiliki kedewataan ideologi jihadi dengan IS. Sementara itu, semua mujahid menganggap Mulla Umar adalah amir di Afghanistan yang memiliki kekuasaan di sana dan didukung oleh semua elemen jihad di Afghanistan. Adapun kekuasaan Al-Baghdadi di Suriah tidak pernah diakui sebagai kekuasaan yang sah, dan bahkan menimbulkan konflik antarmujahidin yang berkepanjangan di Suriah.[1]

Mulla Umar yang Seperti Legenda

Berita kematian Mulla Umar menghenyakkan dunia. Bukan hanya soal ketokohannya, namun juga tentang kontroversi seputar kematiannya; kapan dan bagaimana. Setelah pemerintahan boneka Afghanistan menyatakan bahwa Mulla Umar meninggal pada tahun 2013, dan kemudian dikonfirmasi oleh juru bicara resmi Taliban, berita tentangnya pun menjadi headline besar media dunia. Ramai ditulis tentang kiprahnya selama ini hingga kematiannya.

Sosok Mulla Umar telah berjuang melawan Soviet, pernah memerintah Afghanistan selama sekitar lima tahun, hingga menggawangi perlawanan gigih dalam upaya membebaskan tanah airnya. Ya, perang yang telah memaksa para pembayar pajak Amerika Serikat (AS) harus merelakan 1 triliun dolar untuk membiayai perang terpanjang dalam sejarah AS.

Sekarang komandan Taliban tersebut sudah meninggal secara wajar. Pengumuman kematiannya pun menjadi pukulan bagi pers dan musuhnya karena mereka terlambat mengetahuinya hingga dua tahun, yang mana ia meninggal di Islamabad! Barat pun tampak tidak terlalu bersemangat menyambut kematiannya. Mungkin mereka sadar bahwa Taliban masih terlampau kuat untuk dikalahkan. Kekecewaan akan semakin bertambah jika kemudian terbukti bahwa penggantinya—Mulla Akhtar Manshur—ternyata adalah figur yang kuat. Bukan hanya sebagai sosok pemersatu yang diterima luas, namun juga tak diragukan kapasitasnya, karena selama ini menjadi tangan kanan Mulla Muhammad Umar.

Cara yang berikutnya masuk akal adalah mengeksploitasi bibit perpecahan dan mencoba mengeksploitasinya. Setelah upaya memisahkan diri dari pendukung IS berhasil dieliminasi Taliban, yang terkini muncul kabar pemisahan diri yang coba dibesar-besarkan oleh media Barat.

Diberitakan oleh BBC bahwa telah muncul pecahan kelompok Taliban di Afghanistan yang mengangkat pemimpinnya sendiri. Menurut kantor berita tersebut, ini menunjukkan adanya perpecahan mendalam di Taliban menyusul kematian pendirinya, Mulla Umar. Orang yang ditunjuk menjadi pemimpin pecahan Taliban ini adalah Mulla Muhammad Rasul. Pengangkatan dilakukan dalam pertemuan yang dihadiri oleh para pejuang di Provinsi Farah.[2]

Ketika Taliban masih berkuasa di Afghanistan, “Mulla Rasool” menjabat sebagai gubernur Nimroz. Pengangkatan “Mulla Rasool” dikabarkan muncul karena ketidakpuasan terhadap pemilihan Mulla Akhtar Manshur sebagai pemimpin Taliban pada Agustus tahun ini sebagai pengganti Mulla Umar yang meninggal dunia dua tahun sebelumnya. Disebutkan pula bahwa anggota Taliban yang menentang Mulla Manshur berpendapat pemimpin baru itu menyandera gerakan karena "ketamakan pribadi".

Dalam rekaman video yang diperoleh BBC tentang pemilihan pemimpin sempalan Taliban di Farah, “Mulla Rasool” tampak mengenakan kacamata dan serban hitam dalam rapat pengangkatan pemimpin sempalan Taliban. Ia menyampaikan pidato selama 13 menit di hadapan para pendukungnya. Di bawah Mulla Rasul terdapat empat wakil; dua wakil untuk urusan militer dan dua wakil lagi untuk urusan politik.

Bagi AS dan rezim Kabul, hal ini mungkin terdengar seperti sebuah perkembangan positif. Namun, menaklukkan faksi membutuhkan tawaran solusi yang meyakinkan untuk jaminan keamanan dan pemerintahan. Hanya saja, BBC sendiri menilai bahwa Washington terlalu berharap besar jika mengandalkan kelompok sempalan akan dapat menjadi aktor politik yang meyakinkan. Bahkan, dikhawatirkan justru membuka pintu munculnya pemberontak alternatif.

Penyandang Gelar “Amirul Mukminin”  

Disebut-sebut dengan istilah Amirul Mukminin, Mulla Umar berkuasa sebagai pemimpin dominan di Afghanistan pada tahun 1996–2001. Ia berhasil menegaskan otoritas dan legitimasi daripada pemimpin Afghanistan lain yang semasa. Terkenal tertutup dan tidak tergesa-gesa dalam bersikap. Gaya politik yang santun dan citranya sebagai orang yang bersih menjadi salah satu faktor kuat mengapa dukungan terhadapnya begitu kuat sejak pasca-Soviet.

Di sisi lain, pihak luar yang penasaran tidak banyak tahu secara detil siapa dirinya dan banyak bergantung pada dua foto tua dan simpang siur biografi yang samar. Tak mengherankan jika dalam salah satu dokumennya, AS menilai Mulla Umar sebagai sosok yang luar biasa (extraordinary). Kadang ia dilaporkan sebagai sosok yang tak begitu berkharisma dan tak terlalu paham urusan global, namun herannya Amerika Serikat tidak bisa menyepelekan—apalagi mengalahkan—Taliban.

Secara sederhana, kekurangan informasi resmi tentang Umar, termasuk pengetahuan intelijen dasar sebagai hari kelahirannnya (apakah pada akhir 1950-an atau awal 1960-an), bagaimana penampilan, tingkat pengaruh atas keputusan strategis atau taktis, atau bahkan apakah ia masih hidup atau mati, secara tidak langsung meminggirkan anggapan bahwa pemimpin Taliban tersebut tidak penting. Jika AS menganggapnya tidak penting, lebih layak jika mereka tahu lebih banyak tentang dia.

Menurut majalah Foreign Affairs, peran stratejik Mulla Umar dalam pemberontakan Taliban pasca-2001 masih belum jelas (di mata Barat).[3] Sebagian besar analis menyimpulkan bahwa ia menjabat sebagai tokoh penting, tetapi memiliki sedikit pengaruh taktis. Misalnya, Bette Dam, penulis biografi tentang Mulla Umar, berpendapat bahwa Umar “didn't exert a lot of political or military influence…. I think we in the West really exaggerated his position as the leader of the enemy.” (‘tidak mengerahkan banyak pengaruh politik atau militer.... Saya pikir kita di Barat benar-benar berlebihan posisinya sebagai pemimpin musuh.’) Beberapa pejabat AS seolah sependapat dengan pandangan ini jika dilihat dari upaya yang relatif kecil dibuat untuk menangkap Omar dibandingkan dengan yang usaha menangka Usamah bin Ladin—hidup atau mati.

Namun, menurut wartawan Steve Coll, Richard Holbrooke, utusan khusus AS untuk Afghanistan, sepenuh hati percaya bahwa Umar memiliki perang kritis (penting). Holbrooke mencatat bahwa ia akan memprioritaskan penangkapan Umar daripada Bin Ladin. Vali Nasr, juga mendukung pandangan Holbrooke, dan menyebutnya sebagai "Ho Chi Minh perang ini". Setidaknya mirip dengan Ho Chi Minh dari sisi bahwa Umar juga meninggal di tengah perjuangannya melawan Amerika Serikat, namun perlawanan yang ia rintis dan pimpin mampu bertahan.

Sepertinya tidak ada perselisihan di mata Barat bahwa Mulla Umar merupakan legenda pemersatu dan sumber legitimasi. James Dobbins, wakil khusus Departemen Luar Negeri untuk Afghanistan dan Pakistan, berkomentar bahwa tidak begitu penting apakah Umar "hidup atau tidak, yang jelas Taliban beroperasi secara koheren dan bersatu di bawah nama (panji)nya." Label Umar dan “legenda” (baca: kepercayaan dan harapan) tentangnya diakui penting secara stratejik. Hebatnya, betapa ia cukup berada di balik layar sementara mampu menegakkan simbol pemerintahan, termasuk jaminan keamanan, peradilan, penegakan hudud, dan simbol-simbol islami lainnya.

Setelah tahun 2002, dari balik tempat yang dirasa aman, sosok Mulla Umar kemudian menjadi simbol kuat dari brand Taliban, seolah melestarikan statusnya sebagai legenda. Mulla Umar berusaha untuk tetap tersembunyi tetapi tetap mempertahankan pengaruhnya sebagai seorang komandan dan Amirul Mukminin. Di satu sisi, operasi istisyhadiyyah tetap menjadi salah satu pilihan taktis Taliban. Sementara, pada saat yang sama, Mulla Umar—atau juru bicara yang ditunjuk—secara teratur mengeluarkan pernyataan dan nasihat agar berhati-hati dalam operasi yang bisa berdampak pada keselamatan warga sipil, sekaligus menyalahkan Kabul dan Washington atas pertumpahan darah dan penjajahan. Dalam hal ini, Mulla Umar secara konsisten berhasil menunjukkan diri sebagai pemimpin yang mencerminkan kesalehan dan pengendalian diri.

Baiat Al-Qaidah, Taliban, danMujahidin Lainnya kepada Mulla Akhtar Manshur

Setelah melakukan shalat Jumat, pada 31 Juli 2015, ribuan ulama, para mujahidin, dan orang-orang setia lainnya telah menyatakan sumpah setianya (berbaiat) kepada pemimpin Emirat Islam Afghanistan yang baru diangkat, Mulla Akhtar Muhammad Manshur. Pertemuan tersebut dihadiri oleh ribuan warga negara Emirat Islam Afghanistan itu.

Dikabarkan hadir sejumlah besar ulama, para ustadz dari berbagai madrasah, para mujahidin dari garis depan, para pimpinan pergerakan Islam dan faksi-faksi militer, tokoh-tokoh terkemuka dari negara tetangga, juga para pembesar masyarakat Afghanistan seperti Al-Haj Maulawi Hafizh Muhammad Yusuf (Rektor Universitas Al-‘Allamah Abdul Ghani), para penanggung jawab Emirat Islam dari provinsi-provinsi selatan, wakil kepala Emirat Islam Afghanistan yang baru diangkat, Maulawi Haibatullah Akhunzada, Maulawi Abdul Kabir, (anggota dewan Pimpinan Pusat Emirat Islamiyah Afghanistan) dan ribuan warga negara Afghanistan.

Pertemuan itu diresmikan dengan pembacaan ayat suci Al-Quran, dan pemanjatan doa kepada Allah agar senantiasa merahmati mendiang Amirul Mukminin Mulla Umar tersebut, dilanjutkan dengan kata-kata sambutan dan testimoni dari pemimpin baru Emirat Islam Afghanistan, para anggota Dewan Ahlul Halli wal ‘Aqd, para anggota keluarga Mulla Umar, kerabat, rekan-rekan, serta para ulama dan mujahidin, yang menjelaskan kiprah Mulla Umar dalam jihad serta besarnya pengorbanannya dalam perjuangan untuk menegakkan Islam. Juga, besarnya keyakinan Mulla Umar kepada Allah SWT, kesabaran, ketabahan, dan usahanya yang menakjubkan dalam memperjuangkan Islam.

Para tokoh yang berpartisipasi dalam pertemuan ini menyampaikan pidato singkat yang menjelaskan dukungan penuh mereka terhadap kepemimpinan baru Emirat Islam Afghanistan. Mereka menegaskan kesetiaan dan loyalitas kepada pemimpin baru Mulla Akhtar Muhammad Manshur sebagaimana mereka sebelumnya telah mendukung dan menaati Mulla Muhammad Umar.[4]

Segera setelah Emirat Islam Afghanistan menyatakan telah menunjuk pemimpin baru, mujahidin yang ada di wilayah Afghanistan menyatakan baiat. Demikian pula partner lama mereka—Tanzhim Al-Qaidah—menyatakan baiat mereka kepada Mulla Akhtar Manshur. Demikian pula seluruh jajaran dan cabang yang ada di bawahnya. Berikut ini intisari baiat Al-Qaidah:

1. Doa kebaikan untuk pemimpin baru Taliban

“Saya berharap, semoga Anda, saudara-saudara, pasukan, dan para pembela Anda berada dalam kondisi yang baik. Kondisi yang dicintai Allah Ta’ala berupa kemuliaan di dunia dan keberuntungan di akhirat. Semoga Allah Ta’ala membimbing Anda kepada hal-hal yang dicintai dan diridhai-Nya. Semoga Allah Ta’ala menghindarkan setiap kejahatan dan keburukan dari Anda di dunia dan akhirat.”

2. Pernyataan duka cita atas meninggalnya Mulla Umar

“Telah sampai kepada kami dengan rasa sedih dan haru karena kami merasa begitu merasa kehilangan—perasaan kehilangan yang juga dialami oleh umat Islam, mujahidin, muhajirin, murabithin—dengan wafatnya amir kita Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid—semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas.”

3. Persaksian atas keutamaan Mulla Umar

"Kami bersaksi untuknya bahwa dia berkata dengan jujur dan dia jujur dengan ucapannya. Dia membuat janji dan memenuhi janjinya. Dia tidak mundur dari akidah dan agamanya. Dia memberikan contoh layaknya cahaya dalam sejarah Islam dan kaum muslimin dalam perkara kejujuran, tawakal yang baik kepada Allah Ta’ala, percaya dengan janji Allah, dan lebih mendahulukan akhirat daripada dunia. Allah-lah yang akan menghisabnya.

Dialah sebaik-baik Amir untuk sebagus-bagus emirat. Dialah pahlawan yang tidak tunduk dan cenderung kepada para pemimpin kekafiran global. Dan bahkan melawan mereka bersama dengan pasukannya yang tangguh seraya bertawakal kepada Allah Ta’ala. Allah pun memenangkannya dan mengangkat derajatnya. Dialah Amir yang mengatakan, ‘Permasalahan Usamah bukan lagi permasalahan individu personal, akan tetapi telah menjadi soal kemuliaan Islam.’.”

4. Pembaruan baiat sebagai kelanjutan estafet dari para pemimpin Al-Qaidah sebelumnnya

“Dalam rangka melanjutkan jalan jihad dan usaha menyatukan mujahidin, dan dalam rangka mengikuti langkah para pemimpin kami, para syuhada, orang-orang saleh—semoga Allah Ta’ala merahmati mereka, yaitu amir kami Asadul Islam Usamah bin Ladin, saudara-saudara kami: Abu Mush’ab Az-Zarqawi, Abu Hamzah Al-Muhajir, Mushthafa Abul Yazid, Abu Laits Al-Libi, Athiyyatullah Al-Libi, Abu Yahya Al-Libi, dan seluruh masyayikh jihad yang jujur, sebagaimana kami mengira mereka dan kami tidak menyucikan seorang pun di hadapan Allah Ta’ala—maka sebagai amir Jamaah Qaidatul Jihad, di sini saya memberikan baiat kami kepada Anda; memperbarui jalan Syaikh Usamah dan saudara-saudaranya para syuhada di dalam baiat mereka kepada Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid—semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semua.”

5. Rincian amal yang dijadikan pijakan baiat

“Maka kami membaiat Anda dalam rangka menegakkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya, di atas sunnah Khulafa Rasyidin Radhiyallahu ‘anhum yang diberi petunjuk.

Kami membaiat Anda untuk menegakkan syariat, sehingga syariat memimpin negeri-negeri kaum muslimin sebagai aturan hukum dan bukan yang diatur, sebagai pemimpin dan bukan yang dipimpin, sampai tidak ada lagi aturan yang lebih tinggi darinya, dan tidak ada lagi yang menentangnya.

Kami membaiat Anda untuk bara’/berlepas diri dari seluruh hukum, sistem, kondisi, janji, kesepakatan, atau janji setia yang melanggar syariat, baik itu sistem yang ada di dalam negeri kaum muslimin atau di luarnya semisal berbagai rezim, badan, organisasi yang sistemnya melanggar syariat seperti PBB dan yang lainnya.

Kami membaiat Anda dalam rangka berjihad membebaskan setiap jengkal negeri kaum muslimin yang terampas mulai dari Kashgar hingga Andalusia, mulai dari Kaukasus sampai Somalia dan Afrika Tengah, mulai dari Kashmir sampai Al-Quds, mulai dari Filipina sampai Kabul, Bukhara, dan Samarkand.

Kami membaiat Anda untuk berjihad melawan para penguasa yang mengganti syariat. para penguasa yang berkuasa di negeri-negeri kaum muslimin sehingga mereka menanggalkan hukum-hukum syariat, menjalankan hukum kafir kepada kaum muslimin. mereka sebar kerusakan dan sikap merusak. Mereka memberi kekuasaan rezim murtad dan pengkhianat untuk mengatur kaum muslimin. Rezim yang merendahkan syariat, menjunjung tinggi ideologi dan falsafah kafir, dan menyerahkan negeri dan kekayaan kaum muslimin kepada musuh.

Kami membaiat Anda dalam rangka membela orang-orang mukmin yang lemah tertindas di manapun mereka.

Kami membaiat Anda untuk menegakkan amar makruf nahi mungkar semampu kami.

Kami membaiat Anda demi melindungi Emirat Islam selama Emirat memimpin kami dengan kitabullah dan sunnah rasulnya.

Kami membaiat Anda dalam rangka menegakkan Khilafah Islamiyah yang tegak atas pilihan dan kerelaan kaum muslimin. Khilafah yang menebarkan keadilan dan membuka lebar syura. Khilafah yang memberikan rasa aman, mengangkat kezaliman, mengembalikan hak kepada pemiliknya, dan mengangkat panji jihad.”

Dari substansi baiat, kita bisa melihat bagaimana Emirat Islam Afghanistan dan pemimpinnya diposisikan oleh Al-Qaidah sebagai ikon atau representasi jihad global.[5] Selanjutnya, para pendukung Al-Qaidah dan Taliban juga memublikasikan video yang menunjukkan proses pembaiatan Mulla Akhtar Manshur, ketika ribuan kaum muslimin dan mujahidin—termasuk keluarga Mulla Umar—membaiatnya.[6]

Penerimaan Mulla Akhtar Manshur atas Baiat Al-Qaidah dan yang Lainnya

Pemimpin baru Emirat Islam Afghanistan, Mulla Akhtar Muhammad Manshur, menyambut seluruh baiat yang disampaikan kepada dirinya. Ia juga berterima kasih atas ucapan belasungkawa dan simpati terhadap musibah yang menimpa Emirat Islam Afghanistan atas wafatnya Mulla Muhammad Umar Mujahid.

Tokoh paling utama yang ia sambut baiatnya adalah Amir Al-Qaidah Dr. Aiman Azh-Zhawahiri dan seluruh mujahidin yang berada di bawah kepemimpinannya. Mulla Akhtar Manshur juga berdoa, semoga Allah membantu dirinya dan seluruh mujahidin dalam melayani Islam dan umat Islam.

Berikut intisari pernyataan resmi Mulla Akhtar Manshur, yang diterjemahkan dari situs resmi Emirat Islam Afghanistan:

  1. Kebanggaan atas kesabaran mujahidin dan prestasi yang diraihnya

“Saya sangat berbahagia bisa berbicara kepada kalian di saat kita menyaksikan pasukan pecundang dan kalah milik koalisi kafir yang dipimpin AS keluar dari bumi Afghanistan, bumi para mujahidin, dalam keadaan sangat hina.

“Bagi Allah segala urusan sebelum dan sesudahnya. Dan pada hari itu kaum mukminin bergembira.” (Ar-Rum: 4)

Kita yakin pertolongan besar ini tidak datang kecuali dengan karunia Allah SWT, kemudian dengan pengorbanan sesuai oleh warga muslim Afghanistan yang membuat bangga, dan dukungan penuh (baik secara fisik maupun moral) dari umat Islam.

Jihad suci kita melawan penjajah asing sejak 14 tahun lalu, yang mungkin sekarang mendekati tahap kemenangan akhir, telah dipimpin oleh Amirul Mukminin Mulla Muhammad Umar Mujahid Rahimahullah. Sejarah akan mencatat prestasi dan kebajikan dengan nama beliau Rahimahullah.”

  1. Pernyataan terima kasih atas bela sungkawa dan kepercayaan mujahidin untuk memimpin

“Melalui surat ini, saya ingin menyampaikan terima kasih dari lubuk hati paling dalam kepada mereka yang berbagi kesedihan dan simpati dengan kami di masa-masa sulit dan sensitif, yang dilalui umat Islam ini. Mereka juga telah menyampaikan ucapan belasungkawa atas wafatnya Amirul Mukminin Rahimahullah, atau membaiat kami sebagai pemimpin baru Emirat Islam dan sebagai pelayan umat Islam.”

  1. Penerimaan baiat khususnya dari Tanzhim Al-Qaidah

“Dari saudara-saudara yang mulia itu, yang terdepan saya menerima baiat pemimpin organisasi Al-Qaidah Dr. Aiman Azh-Zhawahiri. Saya berterima kasih kepada beliau, yang juga menyampaikan belasungkawa dan simpati, serta baiat seluruh mujahidin yang beliau pimpin. Begitu juga, saya menyampaikan terima kasih kepada seluruh mujahidin yang berjaga di front terdepan, guru-guru sekolah dan universitas serta lembaga pendidikan, tokoh-tokoh jihad dan negara, kelompok-kelompok jihad yang berbagi kesedihan dengan kami di seluruh penjuru dunia, atau yang membaiat kami sebagai Amirul Mujahidin. Saya memohon semoga Allah membantu kita semua dalam melayani Islam dan umat Islam.”[7]

Di sini kita bisa melihat bagaimana posisi penting Al-Qaidah di sisi Emirat Islam Afghanistan dan bagaimana positioning dari kedua kelompok bisa berjalan seiring, dan tidak harus dilihat sebagai hal yang bertolak belakang, di mana salah satu berkonsentrasi pada jihad regional untuk membebaskan negeri kaum muslimin dari penjajahan, sementara yang satu lagi bervisi global untuk membantu jihad di seluruh belahan dunia.

Siapa Mulla Akhtar Manshur dan Bagaimana Pandangan Politik Taliban Terkini?

Para tokoh terkemuka di jalan jihad umumnya memiliki kualitas kepemimpinan yang unik lagi istimewa. Mereka biasanya memiliki bakat kepemimpinan secara alami atau mereka menguasai kemampuan memimpin dan memecahkan persoalan melalui proses belajar dan mempelajari ajaran atau keteladanan dari para pemimpin jihad lainnya.

Emirat Islam Afghanistan telah dianggap dan berperan sebagai ujung tombak terdepan dalam jihad melawan kekuatan internasional dan tirani rezim. Pendiri dari emirat ini terlihat mampu mewariskan kemampuan yang luar biasa dan keterampilan kepemimpinan dalam memandu. Sang pendiri—Mulla Muhammad Umar Mujahid, —telah menjadi teladan hidup dalam kualitas kepemimpinannya. Di tengah peperangan melawan kekuatan internasional, ia berhasil berhasil mentransfer bakat kepemimpinan kepada sejumlah saudaranya sesama mujahidin, yang selama ini setia menemani dan berjuang bersama-sama di jalan jihad dalam rangka menegakkan syariat Islam.

Mulla Umar adalah tokoh spiritual dan moral bagi para siswa di madrasah jihad (Gerakan Taliban) serta menjadi pemimpin militer mereka. Madrasah jihadnya telah berhasil melatih dan meluluskan banyak kepribadian berkaliber tinggi selama masa hidupnya dan di bawah kepemimpinannya. Hasil didikannya mampu dibimbingnya untuk melalui masa-masa kritis yang dialami Emirat Islam.

Menurut penilaian generasi penerusnya, madrasah jihad “Taliban” telah menjadi lembaga yang didirikan di atas fondasi diniyah (keislaman) dan bukan di atas fondasi figuritas seseorang, sehingga mampu memainkan peran penting dalam gerakan yang berlandaskan akidah dan jihad. Tanggung jawab inti kepemimpinan dalam gerakan ideologis tersebut terfokus untuk mendidik anggota dan pengikutnya, baik secara moral maupun ideologis, dan dalam rangka memompa semangat spiritual dan membangun sikap istiqamah.

Mulla Umar juga berhasil membimbing sejumlah mujahidin calon-calon pemegang tampuk kepemimpinan masa depan yang menampilkan kejelian, sifat-sifat kepemimpinan, serta memiliki kemampuan untuk memimpin kafilah jihad dalam rangka merealisasikan tujuan dan target-targetnya. Karakter yang coba dibangun adalah kepribadian yang tak kenal takut dan berani serta tidak gentar dengan situasi yang paling sulit dari berbagai kondisi, serta tidak goyah karena berbagai keadaan dan situasi yang mengancam dan berbahaya.

Di antara murid-muridnya terdapat sosok yang dipandang memiliki kepribadian yang visioner dan pandangan jauh ke depan, berkewaspadaan tinggi, sekaligus loyalitas tinggi, yaitu pemimpin Taliban yang baru yang terpilih, Mulla Akhtar Muhammad Manshur. Meskipun ia telah dikenal dan diakui oleh mereka yang berkecimpung di kancah jihad Afghanistan, tetapi dunia secara umum belum banyak mengenal latar belakang, kiprah, hingga visi politiknya dalam memimpin Emirat Islam Afghanistan.

Terkait sekilas siapa dia dan bagaimana pandangan politik Taliban terkini, bisa dilihat dari wawancara antara juru bicara resmi Emirat Islam Afghanistan, yaitu Zabihullah Mujahid, dengan harian Asy-Syarq Al-Ausath. Transkripnya dimuat di situs resmi Emirat Islam.[8] Berikut ini kutipan wawancara tersebut, sebagaimana yang diadaptasi dari terjemahan situs muqawamah.net:

Pertanyaan: Apa yang terjadi setelah kematian Mullah Muhammad Umar Mujahid?

Jawaban: Setelah kematian Amirul Mukminin (rahimahullah), karena kondisi Jihad yang sedang genting, pertemuan mendesak dan penting orang yang cerdas dan berpengaruh, yang terdiri dari anggota dewan terkemuka Emirat Islam dan para ulama diadakan, di mana diputuskan bahwa Mullah Akhtar Muhammad Mansur akan menjadi pemimpin baru karena beliau cukup kompeten untuk memikul tanggung jawab yang besar ini dan praktis beliau memimpin Emirat Islam selama beberapa tahun terakhir. Beliau dipercaya oleh Mujahidin dan dekat dengan Amirul Mukminin Mullah Muhammad Umar Mujahid (rahimahullah). Sehingga beliau diangkat sebagai Amir (pemimpin) baru.

Ketika berita pengangkatannya diumumkan, para pemimpin front Jihad, komandan, pejabat, ulama, Mujahidin dan masyarakat sipil dari seluruh negeri memberikan janji kesetiaan (baiat) mereka kepadanya. Demikian pula dalam rentang waktu singkat yaitu tujuh puluh dua jam, pesan dari baiat diterima dari seluruh bagian negara yang mengkonfirmasi betapa pentingnya penyatuan barisan kami bagi semua Mujahidin Emirat Islam! Hal ini juga mengungkapkan kepercayaan yang teguh dan kepercayaan para pemimpin dan ulama mereka serta keridhoan mereka dengan penunjukan Mullah Akhtar Muhammad Mansur sebagai pemimpin baru mereka.

Memang ada ketidaksetujuan dari satu atau dua orang, itu bukan dengan amirnya, tetapi dengan prosedur pengangkatannya dan itu bukanlah masalah serius. Hal ini sangat alami bahwa perbedaan pendapat muncul dalam gerakan besar seperti ini yang terdiri dari pelbagai orang dengan ide-ide dan pendapat yang berbeda. Tapi, perbedaan ini tidak serius. Sebuah solusi akan ditemukan di awal saat dewan syura ulama bekerja untuk memecahkan masalah ini dan di dalam barisan kami, kami tidak memiliki kekhawatiran tentang mereka.

Namun demikian, karena tanggung jawab, kewajiban dan juga toleransi Emirat Islam, pelbagai upaya telah dilakukan untuk meyakinkan masyarakat untuk mendukung Emirat Islam dan untuk menghindari memberikan kesempatan propaganda negatif bagi musuh-musuh Emirat Islam. Baik sengaja atau tidak sengaja disalahgunakan oleh orang lain.

Pertanyaan: Apakah Mullah Akhtar Muhammad Mansur memanfaatkan dukungan dari semua anggota politik 'Dewan Quetta' dan apakah mereka telah berjanji kesetiaan kepadanya?

Jawaban: Emirat Islam tidak memiliki organ yang disebut 'Dewan Quetta' dalam susunan pemerintahannya, sebaliknya ini adalah organisasi khusus dan komisi untuk kemajuan semua kegiatan Jihad. Mayoritas dewan terkemuka, ulama muktabar, perwakilan terpercaya dan komisi tersebut di atas telah secara bulat dan konsisten berjanji setia (berbaiat) kepada Mullah Akhtar Muhammad Mansur (semoga Allah melindunginya) sebagai Amir baru mereka. Mereka menyeru massa untuk membaiat dan juga seruan itu disambut hangat.

Seperti yang saya nyatakan, bahwa dalam jangka singkat 72 jam, baiat telah diterima dari berbagai front Jihad, desa, kota, suku-suku dan sejumlah besar warga Afghanistan yang tinggal di pengasingan di berbagai negara yang secara bersamaan merilis, bersama dengan mereka laporan dan rincian kecil, di website resmi Alemara. Kami dapat menyimpulkan bahwa Amir yang baru diangkat adalah pemimpin tak terbantahkan dan ada tidak ada masalah dan kendala dalam seleksi.

Pertanyaan: Maukah Anda berbicara tentang kepribadian Mullah Akhtar Muhammad Mansur karena kaum Muslimin, baik di timur maupun di barat, memiliki sedikit informasi tentang dia! Dapatkah kita katakan bahwa dia adalah salah satu elang Emirat Islam?

Jawaban: Ya, amir baru Mullah Akhtar Muhammad Manshur Hafizhahullah adalah salah satu rekan dekatnya Amirul Mukminin Mullah Muhammad Umar Mujahid Rahimahullah. Beliau telah bertugas  di berbagai pos-pos militer dan sipil penting pada masa pemerintahan Emirat Islam. Beliau telah bekerja sebagai menteri penerbangan selama lima tahun. Dalam susunan pemerintahan baru setelah invasi Amerika, beliau berfungsi sebagai penanggung jawab jihad untuk Provinsi Kandahar selain menjadi anggota dewan terkemuka. Beliau kemudian diangkat menjadi asisten wakil kepala pertama Emirat Islam, Mullah Abdul Ghani Baradar. Ketika Mullah Abdul Ghani ditangkap, Mullah Akhtar Muhammad Manshur diangkat sebagai wakil kepala Emirat Islam pada tahun 2010 oleh Amirul Mukminin, Mullah Muhammad Umar Mujahid Rahimahullah. Jadi, selama lima tahun terakhir, beliau telah secara tidak langsung mengelola semua kegiatan Emirat Islam dan dengan kasih sayang dan karunia Allah SWT, beliau mahir dan berhasil memanggul tanggung jawab besar penting Emirat Islam dalam situasi yang paling menakutkan sebagai wakil pemimpinnya.

Beliau memiliki hubungan dekat dengan semua mujahidin. Beliau sangat simpatik juga memiliki toleransi yang mendalam dan kesabaran. Beliau adalah orang yang saleh dan berilmu. Beliau berkonsultasi dengan para ulama dan sangat memperhatikan pandangan mereka karena beliau sangat berhati-hati dan berkomitmen penuh dengan kepentingan mereka. Beliau memiliki wawasan yang mendalam dan kekuatan akal pikiran dalam menangani isu-isu politik.

Beliau sangat populer di kalangan para Mujahidin. Karenanya beliau telah menjadi pemimpin yang penyayang dan simpatik bagi para pemimpin kelompok Jihad. Oleh karena itu, Insya Allah, Mujahidin Emirat Islam tidak akan memiliki kekhawatiran tentang beliau. Sepenuhnya mereka percaya padanya karena dia orang terkenal dan berpengalaman.

Pertanyaan: Apa sikap Anda yang terbaru tentang negosiasi dengan pemerintah? Apakah Anda memiliki informasi terbaru dalam hal ini?

Jawaban: Kami belum mengubah sudut pandang kami tentang negosiasi. Afghanistan masih di bawah pendudukan Amerika dan pemerintah yang berbasis di Kabul tidak memiliki kekuatan. Kantor politik kami telah diizinkan untuk melakukan pembicaraan. Kapan saja itu dipandang perlu dan mereka yakin bahwa pendudukan berakhir dan sistem Islam di dalam negeri dapat dipulihkan melalui negosiasi maka seharusnya tidak ada masalah dalam proses ini.

Pertanyaan: Apakah Anda takut meningkatnya pengaruh Daesh (ISIS) bahwa mereka akan menggantikan Taliban?

Jawaban: Daesh (ISIS) adalah hasil dari konflik politik, militer dan agama yang parah di Irak dan Timur Tengah. Karena itu orang-orang seperti ini tak diinginkan dan belum hadir di dalam Afghanistan, karenanya kehadiran Daesh (ISIS) tidak diperlukan di sini dan kami juga tidak takut kepada mereka.

Kami selalu berusaha untuk mencegah konflik etnis, agama dan perbedaan internal lainnya di Afghanistan dan oleh kasih dan karunia Allah SWT, kami telah cukup berhasil dalam mencapai itu. Untuk masa depan, kami berdoa kepada Allah SWT agar bangsa kami yang berani melawan pasukan pendudukan asing secara serentak dan Dia akan menyelamatkan mereka dari perpecahan dan kehancuran.

Pertanyaan: Bagaimana sebenarnya laporan keluarnya beberapa komandan Taliban dari Emirat Islam dan bergabungnya mereka dengan Daesh (ISIS)?

Jawaban: Anda tahu bahwa Emirat Islam memiliki kontrol penuh atas pasukan di bawah sistem administrasi yang mapan di mana aturan dan ketetapan telah ditetapkan yang ditujukan untuk mengontrol kegiatan dan kemampuan mereka, dan mereka diwajibkan untuk bertugas dan bergerak dalam yurisdiksi norma dan aturan yang ditetapkan.

Sejumlah orang yang mencoba menyalahgunakan nama Emirat Islam dan memanjakan diri dalam kegiatan yang tidak sesuai dengan aturan dan peraturan dari Emirat Islam. Mereka dilarang oleh otoritas Emirat Islam dari melakukan tindakan seperti itu. Karena mereka berulang kali melanggar kebijakan Emirat Islam dan tidak menahan diri dari kegiatan ilegal seperti penculikan, penyiksaan warga sipil, penjarahan dan berbagai kegiatan lainnya, karena itu Emirat Islam harus mengusir mereka dari jajarannya dan beberapa dari mereka dikenakan hukuman.

Mereka ini adalah orang-orang yang berkumpul di provinsi timur Nangarhar yang didukung oleh sejumlah kalangan asing dan meluncurkan kegiatan mereka melawan Emirat Islam dengan nama Daesh (ISIS). Dengan kasih sayang dan karunia Allah SWT, (kemudian) juga dengan dukungan terus-menerus dari masyarakat setempat, sebagian besar daerah yang diduduki oleh mereka telah dibebaskan dengan cepat. Dan pada saat ini, tidak ada perlawanan yang signifikan di daerah-daerah itu terhadap Emirat Islam.

Pertanyaan: Di Barat, ada persepsi bahwa perjuangan Taliban dipimpin dan diarahkan oleh badan-badan intelijen Pakistan dan Mulla Umar hanyalah simbolik. Apakah itu benar?

Jawaban: Kami bukan satu-satunya korban propaganda tak berdasar seperti itu bahkan semua gerakan yang menginginkan kebebasan terutama gerakan-gerakan Islam telah menjadi sasaran propaganda sejenisnya. Tukang fitnah ini tidak percaya pada dukungan dan bantuan Allah, mereka juga tidak percaya pada jihad dan pengorbanan di jalan Allah. Mereka kagum bagaimana Mujahidin yang lemah dengan tangan kosong berhasil mengalahkan musuh yang kuat. Jadi untuk memenuhi pikiran sempit mereka, mereka kadang-kadang menghubungkan perjuangan mulia kami dengan Pakistan, kadang-kadang mereka menghubungkannya dengan lembaga Amerika, dll.

Kami yakinkan pada orang-orang bahwa perjuangan kami tidaklah berhutang budi kepada siapa pun. Tidak ada dukungan asing maupun badan-badan intelijen rahasia yang mampu mensponsori perjuangan besar ini. Jika memiliki dukungan atau pengawasan intelijen eksternal menguntungkan, Amerika dan otoritas antek mereka pastinya lebih mendapatkan keuntungan dari hal itu. Amerika memiliki sistem intelijen yang kuat dan terorganisir dengan baik yang aktif dan secara jelas bekerja keras di negara kami selama empat belas tahun terakhir tapi itu semua sia-sia. Jika dukungan asing berguna, pemerintahan yang berbasis di Kabul tidak akan menghadapi kesulitan karena mendapat dukungan penuh dari 49 negara yang berperalatan lengkap dan canggih di dunia.

Mereka semua telah gagal. Hal ini hanya karena berkat agama suci Allah SWT. Sebenarnya itu adalah pembuktian kesalahan mereka dan kebenaran pihak mujahidin. Orang-orang yang tidak dapat dengan benar membedakan hal ini, mereka memfitnah kami dengan fitnahan yang buruk dan itu hanya soal pola pikir mereka.

Pertanyaan: Taliban saat ini mereka membutuhkan pemimpin yang kuat untuk menjaga kesatuan barisan mereka dan apa dampaknya terhadap masa depan gerakan Taliban?

Jawaban: Sejak dulu front jihad merupakan arena pengorbanan di mana semua orang termasuk komandan dapat saja dibunuh, ditangkap atau menghadapi kematian alami. Oleh karena itu, ini merupakan langkah-langkah antisipasi yang diambil oleh kepemimpinan front jihad untuk masa depan.

Selain karakteristik dan spesifikasi lainnya, front jihad kami adalah madrasah untuk pelatihan dan memperkuat para pemimpin. Di sini, jika seorang pemimpin terbunuh atau ditangkap atau meninggal dunia, Mujahidin tidak menjadi goyah dan juga tidak merasakan adanya kelemahan dalam tekad mereka. Mereka telah diberitahu bahwa kelanjutan dari Jihad tidak ada hubungannya dengan para pemimpin atau individu sebaliknya perjuangan ini berhubungan dengan cita-cita dan tujuan mulia tersebut. Sosok pribadi pasti akan silih berganti di jalan ini baik karena alasan alami atau militer, tetapi cita-cita dan tujuan yang membentuk dan membungkus perjuangan jihad akan tetap konstan.

Ini adalah alasan utama bahwa bahkan setelah pengungkapan kematian Amirul Mukminin, mujahidin tidak merasa kelemahan di barisan mereka malahan mereka tak henti-hentinya mengikuti jalan akhir amir mereka karena kesetiaan dan pengabdian mereka kepada misi dan berjuang dengan semangat dan antusiasme yang sama melawan penjajah asing, pasukan sekutu dan antek internal mereka.

Ditambah, amir yang baru diangkat dari Emirat Islam, Mullah Akhtar Muhammad Manshur Hafizhahullah telah menjadi pemimpin Jihad berpengalaman dan sukses. Beliau sepenuhnya dipercaya oleh Amirul Mukminin. Beliau telah biasa memimpin front Jihad dalam keadaan yang paling menakutkan. Saat ini, dia telah menunjuk para wakil yang cerdas, berpengaruh dan alim. Dia mendapat dukungan dari dewan syura yang terdiri dari para ulama dan anggota terkemuka dari Emirat Islam. Oleh karena itu, kami berharap bahwa kesatuan Emirat Islam akan kuat dipertahankan dan kehadiran kami akan menghasilkan lebih banyak kekuatan dan kesatuan suara.

Pertanyaan: Siapakah Mullah Akhtar Muhammad Manshur dan apa peran militer di jajaran Taliban?

Jawaban: Mullah Akhtar Muhammad Manshur adalah salah satu orang terkemuka Gerakan Islam Taliban. Dia telah berpartisipasi dalam Jihad suci melawan Rusia. Seperti pendahulunya, dia juga terluka serius dalam perang melawan Rusia. Dia telah bekerja di berbagai bidang pada masa pemerintahan Emirat Islam. Dia telah menjadi menteri penerbangan. Setelah pendudukan Amerika yang kejam, dia menjadi komandan militer umum provinsi penting Kandahar.

Setelah penangkapan Mullah Abdul Ghani Baradar, dia memanggul tugas yang paling berat dan penting yaitu wakil kepemimpinan. Dia sangat dihormati oleh para pemimpin, ulama dan semua Mujahidin Emirat Islam. Mereka percaya keseimbangan dan kecakapannya. Dia memiliki potensi untuk mengendalikan dan memimpin jajaran jihad. Dia sangat memerhatikan nasihat dari ulama dan orang-orang cerdas. Dia diberkahi dengan wawasan politik yang mendalam. Karena semua fitur ini, dia diperkenalkan sebagai pemimpin baru dari Emirat Islam dan diterima secara luas di seluruh negeri.

Analisis Hubungan Al-Qaidah dan Taliban ke Depan

Pengumuman kematian pemimpin Taliban Mulla Umar sempat menimbulkan rentetan komentar tentang implikasi bagi Taliban dan peluang pembicaraan damai dengan rezim Kabul. Tapi, yang tak kalah menarik adalah seberapa dampak pentingnya bagi gerakan jihad, khususnya bagi Al-Qaidah, dan peluang menguatnya the Islamic State (IS).

Sosok Mulla Umar yang tertutup dikenal sebagai sekutu kuat Al-Qaidah. Kematiannya merupakan kehilangan besar bagi kelompok tersebut dan pemimpinnya, Dr. Aiman Azh-Zhawahiri. Mulla Umar telah menjadi teman setia bagi Al-Qaidah sejak Taliban mulai berkuasa di Afghanistan pada tahun 1996. Selama bertahun-tahun, ia berdiri di belakang Usamah bin Ladin, meski posisi ini dipandang menyulitkan upaya Taliban untuk melakukan hubungan luar negeri dengan komunitas internasional.

Loyalitas hubungan keduanya dibangun di atas fondasi akidah dan persaudaraan islami, meski harga yang harus dibayar untuk melindungi Bin Ladin dan pengikutnya sangat mahal. Setelah 9/11, ketika Mulla Umar menolak untuk menyerahkan Bin Ladin, AS pun melancarkan invasi AS yang memaksa Emirat Islam Afghanistan menarik diri dari daerah perkotaan dan terus melakukan gerilya hingga kini.

Pendekatan intensif Al-Qaidah terhadap Taliban dimulai pada tahun 1998, ketika Bin Ladin berbaiat kepada Mulla Umar. Pada tahun-tahun berikutnya, Al-Qaidah terus berkomitmen dengan baiat tersebut, namun mereka memandang strategi jihad globalnya—“memukul kepala ular”—tidak bertentangan dengan janji setia tersebut, meski gaya pendekatan dan komunikasinya berbeda dengan Taliban. Setelah munculnya IS, dalam kondisi masih melakukan recovery setelah meninggalnya Usamah bin Ladin serta para pemimpin senior lainnya, Al-Qaidah tampak tidak ingin menguras banyak energi untuk melawan IS secara keras dan terbuka.

Al-Qaidah memang ingin fokus untuk menggalang dukungan umat Islam dalam rangka memanfaatkan momentum Arab Spring. Berisiko tinggi jika harus mendisiplinkan IS—yang dulunya adalah cabang Al-Qaidah di Irak—secara paksa. Apalagi, IS terus tumbuh dan meraih sumberdaya—baik material maupun personal—yang luar biasa pesat sebagai hasil operasi militer dan propaganda mereka. Kemudian IS mengikuti keberhasilannya dengan mendeklarasikan khilafah, dengan Abu Bakar Al-Baghdadi sebagai khalifah baru.

Ketika IS membatalkan seluruh kepemimpinan yang menolak untuk menjadi subordinatnya, Al-Qaidah seperti teringat “teman lama”, yaitu Taliban. Al-Qaidah pun mempertegas loyalitasnya kepada Emirat Islam Afghanistan. Mereka menggarisbawahi bahwa baiat mereka adalah kepada Mulla Muhammad Umar dan kemudian memperbarui baiat kepada Mulla Akhtar Manshur. Ini semacam penentangan terbuka sekaligus alat untuk mendelegitimasi upaya IS untuk melebarkan sayapnya.

Logika Al-Qaidah sederhana.

Pertama, ingin menantang klaim ISIS yang merasa merepresentasikan umat Islam dengan mengingatkan para jihadis dan simpatisan mereka di seluruh dunia bahwa Mulla Umar telah ditetapkan sebagai pemimpin dengan “baiat kubra” jauh-jauh hari sebelum Al-Baghdadi. Taliban sendiri tampil sebagai hanya sebuah emirat sehingga klaim IS sebagai khilafah dipandang terlalu ambisius. Dilihat dari julukan Mulla Umar saja sebagai Amirul Mukminin sudah cukup untuk menunjukkan bahwa klaim otoritas IS coba disaingi.

Kedua, dengan menekankan bentuk hubungan eratnya dengan Taliban, Al-Qaidah berusaha untuk menangkis tuntutan IS agar tunduk kepada “khalifah gadungan”.

Ketiga, Al-Qaidah mencoba untuk membedakan diri dari IS dengan mengirim sinyal bahwa mereka tetap menganut komitmen selama ini. Sebaliknya, IS justru mengingkari janji setianya untuk Al-Qaidah. Akhirnya, dengan menegaskan kembali baiatnya, Azh-Zawahiri mengisyaratkan bahwa Al-Qaidah memfokuskan diri untuk meraih keridhaan Allah dan bekerja untuk kemaslahatan umat Islam, sedangkan Al-Baghdadi sedang mengejar ambisi kekuasaan pribadi.

Ketika kematian Mulla Umar baru diumumkan dua tahun setelah meninggalnya, IS berusaha mengeksploitasi hal tersebut. Para pendukung IS melihatnya sebagai upaya untuk menghalangi legitimasi Al-Baghdadi dan ini cukup rawan bagi Al-Qaeda. Setidaknya, itu membuat Al-Qaidah lebih rentan terhadap tuntutan IS bahwa dengan demikian Al-Baghdadi kehilangan pesaing yang layak untuk memimpin umat Islam, khususnya dari kalangan jihadis.

Sekilas, komitmen kesetiaan Al-Qaidah untuk Emirat Islam Afghanistan tidak bersifat otomatis beralih kepada pengganti Mulla Umar ketika ia meninggal. Secara teori, Al-Qaidah bisa menilai kembali situasi dan IS tentu berharap mujahidin—termasuk Al-Qaidah—mau mengalihkan kesetiaan kepada Al-Baghdadi. Namun, harapan IS tersebut bertepuk sebelah tangan. Apalagi, Al-Qaidah dan cabang-cabangnya telah menyatakan penolakan secara terbuka dengan cara dan pendekatan IS dalam menegakkan khilafah dipandang menyelisihi syariat. Kemudian tampak bahwa keputusan untuk tetap berada di bawah kepemimpinan Taliban semakin kuat legitimasinya setelah suksesi Mulla Akhtar Manshur berjalan lancar dan didukung oleh mayoritas mujahidin Taliban.

Sejauh ini, Dr. Aiman Azh-Zawahiri tempak cukup berhasil dalam menjaga cabang-cabang Al-Qaidah dari pembelotan ke ISIS pada saat propagandanya sedemikian meroket. Meskipun terjadi pembelotan pada tingkat personal, terutama dari level menengah ke bawah, mayoritas petinggi Al-Qaidah terus berdiri di belakangnya. Bahkan, ketika para pemimpin cabang Al-Qaidah di Yaman dan Somalia mengalami kehilangan besar saat para pemimpin tertingginya gugur terkena serangan pesawat tak berawak, penerus mereka tetap menyatakan kesetiaan kepada komando pusat Al-Qaidah. Menurut Barak Mendehlson dari Foreign Affairs, kemampuan pemimpin Al-Qaidah untuk melestarikan organisasi akan lebih dibatasi oleh seberapa besar ancaman dan kemampuan survival­nya.[9]

Yang menarik, sepertinya Azh-Zawahiri terus berusaha menjaga Al-Qaidah untuk terus berjalan di atas arahan umum perjuangan yang telah diberikannya serta ‘cetak biru’ organisasi. Upaya ekspansi Al-Qaidah pun tampak terus berjalan, apalagi sejak lebih dari setahun lalu (September 2014) Azh-Zhawahiri telah memperkenalkan AQIS, cabang terbaru Al-Qaidah di Anak Benua India. Azh-Zhawahiri juga semakin memberikan otonomi cabang-cabang untuk merespons tantangan global agar organisasi tetap mengapung. Ini tampak pada beberapa pernyataan bersama AQIM dan AQAP.

Namun, tak diragukan bahwa Al-Qaidah memang berada dalam tekanan berat. Azh-Zhawahiri harus mewaspadai upaya loyalis IS yang berusaha menggembosi organisasinya, sementara pada saat yang sama harus terus mengawasi drone AS di atas yang terus mengincar para petinggi Al-Qaidah. Jika IS sampai bisa menggalang pemimpin Al-Qaidah atau salah satu cabangnya, dikhawatirkan bisa menjadi ‘pengubah irama permainan’.

Dengan dimulainya era Mulla Akhtar Muhammad Manshur, muncul pertanyaan: Akankah Taliban mempertahankan hubungannya dengan kelompok-kelompok “teroris”? Bagaimana Emirat Islam Afghanistan memosisikan diri?

Pertanyaan semisal pernah diajukan dalam wawancara situs berita Afghan Islamic Press, yang dijawab langsung oleh juru bicara resmi Taliban Zabihullah Mujahid:

Pertanyaan: Komunitas internasional selalu menekankan agar Taliban meninggalkan semua hubungan dengan kelompok teroris (kelompok bersenjata internasional). Taliban selama beberapa tahun terakhir juga telah menyatakan dalam pernyataan mereka bahwa tidak ada kelompok-kelompok bersenjata asing hadir di Afghanistan dan juga Taliban tidak memiliki hubungan dengan mereka. Sekarang, pemimpin Al-Qaidah, Aiman Azh-Zhawahiri berbaiat dan diterima oleh Mullah Manshur. Apakah ini bukan berarti muncul kesenjangan sekali lagi muncul antara Taliban dan komunitas internasional?

Jawaban: Kami telah memiliki kebijakan tidak mencampuri sejak Emirat memerintah. Kami menghendaki hubungan kedutaan dengan dunia, duta besar dikirim ke negara-negara yang mengakui kami secara resmi, serta berbagai upaya dilakukan untuk membangun hubungan dengan pihak-pihak yang tidak (mengakui).

Namun, di atas semua ini, kami tetap tidak bisa melupakan kaum muslimin dan perorangan yang tertindas di seluruh dunia. Ini adalah tanggung jawab agama dan etis kami untuk bersimpati dengan muslimin yang terzalimi. Orang-orang bisa saja melabeli mereka apa pun yang mereka mau, tetapi mereka tetaplah saudara kami dalam agama.

Kami belum pernah meminta siapa pun dari luar negara kami untuk memberikan baiat mereka kepada kami, tetapi jika mereka melakukannya karena kesadaran mereka sendiri, maka kami tidak memiliki dasar agama untuk menolak janji setia mereka selain harus menanggapi secara timbal balik kepedulian mereka.

Tapi, ini bukan berarti bahwa tanah kami dapat digunakan terhadap orang lain tanpa sepengetahuan kami. Ini adalah kebutuhan dan keharusan waktu kita untuk tidak menjadikan dunia memusuhi kita dan secara bodoh meningkatkan sekutu Amerika karena kebijakan kami. Merupakan sikap bijaksana dan kebutuhan agar dunia luar tidak merasa terancam oleh kami.[10]

Pernyataan Taliban Memperingati 14 Tahun Peristiwa 11 September

Selanjutnya, pernyataan resmi Taliban yang memperingati Serangan 11 September di sisi lain juga mempertegas bahwa Mulla Akhtar Manshur dan emiratnya hakikatnya masih terus berdiri di belakang Al-Qaidah. Berikut ini terjemahannya, sebagaimana yang dipublikasikan di website resmi Emirat Islam Afghanistan:

Empat belas tahun yang lalu saat Amerika mengambil langkah menjijikkan memanfaatkan insiden 9/11 (11/September) untuk mengintimidasi kawasan dan mengancam tanah air Islam kita dengan invasi.

Itu adalah waktu ketika Amerika, yang saat ini telah habis dari segala sisi, saat itu Amerika tenggelam dalam ekstasi arogansi, tidak menggunakan akalnya, sebaliknya malah memaksa dan intimidasi.

Sejajar dengan itu, bangsa Afghanistan yang gagah berani meluncurkan Jihad melawan invasi Amerika sesuai dengan kewajiban agama dan bangsa. Mujahidin berhasil menimpakan kepada Amerika dan sekutu-sekutunya korban tewas, kerugian dan pukulan yang menghancurkan selama periode empat belas tahun, sesuatu yang tidak penah terjadi sebelumnya dalam sejarah.

Amerika kehilangan perannya sebagai pemimpin dunia dan tiran, kekuatan militernya dipertanyakan, perekonomiannya jatuh dan sekarang berbicara dengan bahasa perdamaian dan keamanan dengan rival internasional bukan dengan bahasa kekuatan.

Berapa besar penderitaan yang telah didapatkan Amerika akibat dari insiden 11 September? banyak dari realitas yang akan ditemukan oleh para politisi Amerika sendiri, tetapi apa yang bisa dipelajari Amerika dan kekuatan saat ini adalah bahwa mereka tidak harus menyerang negara-negara lain untuk mencegah insiden seperti 11 September dan sesegera mungkin menarik cengkeraman mereka dari tenggorokan Dunia Islam.

Mereka harus mengubah kebijakan luar negeri mereka, seperti mereka mengikutsertakan bangsa-bangsa lain berdasarkan prinsip, menghindari politik intimidasi dan kekerasan, mengakhiri invasi, eksploitasi dan penjajahan berkepanjangan terhadap negara-negara miskin termasuk Afghanistan dan melindungi kehidupan warga Amerika dengan kebijakan rasional yang sehat.

Jika mereka gagal melakukan ini dan melanjutkan kebijakan penindasan dan masih berupaya untuk tujuan kolonial, maka mereka harus mengerti bahwa bangsa di dunia sekarang sedang terbangun. Negara-negara akan melawan dan mengambil sikap tegas terhadap setiap kebijakan penindasan Amerika.

Ini adalah hak Islam dan rakyat Afghanistan yang saat ini melancarkan perjuangan untuk kemerdekaan.

Sayangnya, beberapa dolar yang dikonsumsi telah menjual moral mereka, mereka mengutuk untuk mengkhianati Jihad dan mempermalukan Mujahidin, mempromosikan kejahatan dan kerusakan.

Dan ada sejumlah individu yang ingin mengaitkan perjuangan murni dan jihad melawan kekafiran dan penjajahan di bawah kepemimpinan Emirat Islam dengan kepentingan negara-negara lain. Menghubungkan pengorbanan besar dan keberanian yang tak tertandingi dalam memperjuangkan kemerdekaan dengan kalangan intelijen asing tidak ada tujuan lain selain untuk menutupi sejarah memalukan mereka sendiri.

Tuduhan tersebut tidak pernah akan bisa membawa malu pada perjuangan dan jihad kami, juga tidak dapat mengubah jalan kami yang sah. Emirat Islam memegang kehormatan memimpin Jihad yang diberkati yangsegala puji bagi Allahtelah menghancurkan benteng kekafiran.

Sejarah telah membuktikan bahwa kita adalah bangsa yang bebas dan merdeka. Bangsa ini tidak akan pernah menyetujui perbudakan dan penghambaan. Faktanya bahwa jihad saat ini di berlangsung dengan dukungan lengkap bangsa tertindas kami membuktikan jalan ini adalah jalan dari ayah dan nenek moyang kami yang kemarin mengusir keluar Soviet dan sebelumnya Inggris. Dan tidak akan lama lagi pelaku kejahatan saat ini di bawah kepemimpinan Amerika juga akan diusir, Insya Allah, dan tidak ada yang sulit bagi Allah.[11]

Penutup

Sebagai penutup, muncul pertanyaan tentang bagaimana Al-Qaidah memosisikan diri dalam menguatkan legitimasi Emirat Islam Afghanistan sebagai kepemimpinan yang harus didukung sekaligus bagaimana mendeligitimasi klaim khilafah IS. Jawabannya tersedia dalam serial “Islamic Spring” yang belum lama ini dirilis Al-Qaeda, yang berisi khotbah dan arahan Dr. Aiman Azh-Zhawahiri.

Al-Qaidah telah merilis sebuah pesan audio terbaru Azh-Zhawahiri, yang membahas insiden terbaru di Masjid Al-Aqsa Yerusalem. Pidato dalam bentuk audio ini dikemas dalam sebuah video yang berdurasi hampir 16 menit. Dr. Aiman Azh-Zhawahiri memulai pidatonya dengan menyatakan bahwa "Kaum Muslimin di mana-mana dibuat kesal oleh orang-orang Yahudi yang berulang kali melakukan serangan terhadap Masjid Al-Aqsha yang diberkati," menurut terjemahan yang diperoleh The Long War Journal.[12]

Dalam pidatonya, ia memuji serangan pisau yang dilakukan warga Palestina terhadap Zionis Yahudi, dengan mengatakan itu adalah "sebuah epik jihad baru, di mana orang membela Palestina dan Al-Aqsa dengan pisau, mobil, batu, dan segala sesuatu yang mereka miliki." Dan beliau memohon kepada Allah agar "memberkahi para pencari Syahid ini yang berani menusuk orang-orang Yahudi bahkan saat mereka sadar hampir pasti mereka akan terbunuh di tangan Yahudi."

Amir Al-Qaidah itu berpendapat bahwa dua hal yang diperlukan untuk membebaskan Yerusalem. Pertama, “para Mujahidin harus menyerang Barat, dan terutama Amerika, di jantung nya dan juga menyerang kepentingan Barat di mana-mana saja ia berada.”

Kedua, Dr. Aiman Azh-Zhawahiri mengatakan bahwa “umat Islam harus mendirikan sebuah Emirat di Mesir dan Syam untuk memobilisasi umat membebaskan Palestina." Amir Al-Qaidah menggunakan poin ini untuk menekankan salah satu tema intinya. Mendirikan emirat yang berlandaskan hukum Islam "membutuhkan persatuan, menghindari sengketa dan mengakhiri permusuhan antara mujahidin.” Ini mengacu kepada pertikaian antara IS—yang dipimpin oleh Abu Bakar Al-Baghdadi— dan kelompok jihadi di Suriah dan negeri-negeri lainnya.

Oleh karena itu, Azh-Zhawahiri sekali lagi menyerukan persatuan Mujahidin melawan musuh bersama Mujahidin. Beliau secara jelas tidak mendukung "khilafah" Al-Baghdadi, dan ia sudah memberikan kritik yang luas terhadap “khilafah” Al-Baghdadi dalam pesan sebelumnya. Dalam pesan terakhirnya, beliau mengatakan bahwa Al-Qaidah sedang berjuang untuk menghidupkan kembali khilafah berdasarkan metode kenabian, yang membutuhkan syura (musyawarah). Al-Baghdadi tidak berkonsultasi dengan kelompok-kelompok jihad lain sebelum mendeklarasikan sebuah "khilafah" yang meliputi sebagian wilayah Irak dan Suriah.

Namun, Azh-Zhawahiri ingin para pejuang dalam barisan Al-Baghdadi untuk menghentikan pertempuran dengan Jabhah An-Nushrah, cabang resmi Al-Qaidah di Suriah, dan kelompok jihad lainnya di Suriah, serta kelompok jihad di negara lain, sehingga mereka dapat fokus melawan aliansi antara Amerika, Eropa, Rusia, Rafidhah (Iran), dan Syiah Nushairiyah (rezim Basyar Asad). Aiman Azh-Zhawahiri menjelaskan bahwa semua pihak ini "mengoordinasikan perang mereka melawan mujahidin dalam sebuah aliansi bersama,” sehingga ia mempertanyakan, mengapa mujahidin tidak dapat mengesampingkan perbedaan-perbedaan mereka dan menyatukan semua upaya dalam melawan mereka (salibis).

Kepada seluruh kelompok jihad dari berbagai kelompok di seluruh dunia, Azh-Zhawahiri mengatakan bahwa “Syam dan Mesir adalah dua gerbang Yerusalem bersejarah dan pertempuran di dua daerah adalah perjuangan melawan aliansi Salibis-Syiah.”  Kaum muslimin di seluruh dunia harus mendukung pertempuran ini semampunya, karena itu adalah pertempuran untuk menunjukkan apa artinya bagi umat Islam untuk melancarkan jihad yang tujuannya adalah meninggikan syariat Allah, bukan rezim sekuler dan nasionalis.

Azh-Zhawahiri ingin membangun dukungan umat bagi upaya mujahidin dan memandangnya sebagai kunci kemenangan Mujahidin. "Ini adalah pertempuran jihad politik sehingga kita bisa meyakinkan umat bahwa perilaku kita ini sejalan dengan apa yang kita serukan dan tidak bertentangan dan tidak menjauhkan umat Islam dari mujahidin," katanya.

Dengan demikian, “Mujahidin harus menyempurnakan perilaku untuk meyakinkan umat Islam bahwa kita benar-benar tertarik untuk berhukum dengan syariat Islam jika kita menyerukan untuk menerapkannya," dan tidak menyebut kaum Muslimin lainnya sebagai kafir. Mujahidin harus meyakinkan umat Islam bahwa mereka "penyayang terhadap kaum Muslimin dan tidak berusaha untuk menindas umat Islam."

Tampak bahwa pendekatan Al-Qaidah sangat berbeda dengan IS. Sementara keduanya ingin membangun pemerintahan berdasarkan hukum syariat, Al-Qaidah jauh lebih terfokus pada membangun legitimasi untuk proyek ideologis dalam hati dan pikiran umat Islam. Al-Qaidah dan sekutu-sekutunya ingin secara bertahap menerapkan hukum syariat dan akhirnya membangkitkan sebuah khilafah.

Melalui kepemimpinannya yang otoriter, IS berusaha untuk meyakinkan umat Islam bahwa khilafah yang dideklarasikannya adalah benar pada hari ini dan bahwa versi penerapan hukum syariah yang mereka praktikkan—terutama eksekusi dan hukuman pidana (hudud)—adalah tepat. Dalam menerapkan hukum hudud, misalnya, pada umumnya Al-Qaidah menghindari dokumentasinya dan berfokus pada implementasi dari hukuman syariah, sedangkan IS secara eksplisit mengiklankan pemenggalan dan amputasi). Dari perspektif IS, umat Islam yang tidak menerima keabsahan "khalifah" akan dieksekusi.

Dr. Aiman Azh-Zhawahiri tidak hanya mengkritisi Daulah, dengan sikap keras, tetapi juga kelompok-kelompok lain yang mengadopsi pendekatan yang lebih “moderat” mencapai tujuan mereka. Dalam pertempuran “jihad politik” ini, Azh-Zhawahiri mengatakan bahwa muslimin harus mengetahui bahwa kelompok-kelompok seperti kelompok salafi yang mendukung rezim Mesir, dan Rached Ghannouchi (politikus Tunisia yang mendirikan Partai An-Nahdhah di negaranya) telah keliru karena bersekutu dengan pemerintah sekuler dan politisi korup yang menindas umat Islam. Ia juga mengatakan kelompok ini telah mengirimkan perwakilan untuk perjanjian yang mengakui legitimasi Israel, "karena mereka telah menyadari bahwa harga untuk mencapai kekuasaan adalah mengakui konstitusi sekuler dan menyerah pada Israel."

Mujahidin di Palestina harus berjuang untuk membangun sebuah pemerintahan Islam, menurut Azh-Zhawahiri, dengan alasan bahwa "pemerintah sekuler yang menolak syariat di Yerusalem tidak dapat diterima.” Kemudian menjelang akhir pesannya, Azh-Zhawahiri sekali lagi menyerukan persatuan mujahidin di Mesir dan Syam dalam upaya untuk merebut Palestina. "Kita harus bekerja untuk membentuk pemerintahan Muslim di negeri-negeri tetangga Israel, dan pertikaian Mujahidin mengalihkan perhatian dari misi utama ini.”

Arsip rekaman Usamah bin Ladin jugadihadirkan pada awal dan akhir rilisan “Islamic Spring” tersebut. Rekaman di akhir untuk menekankan bahwa Al-Qaidah berusaha untuk menghidupkan kembali khilafah islamiyah. "Hari ini, segala puji bagi Allah, kita menggambar ulang peta dunia Islam untuk membuat satu negara di bawah bendera khilafah, insya’allah," kata Bin Ladin, dan Al-Qaidah menegaskan bahwa kiprah mujahidin di Syam dan Mesir merupakan kunci untuk merealisasikan tujuan tersebut, dengan izin Allah. (F. Irawan)



[1] http://www.longwarjournal.org/archives/2014/07/al_qaeda_renews_its.php
[2] http://www.bbc.com/news/world-asia-34719314
[3] https://www.foreignaffairs.com/articles/afghanistan/2015-09-01/legend-mullah-omar
[4] http://shahamat-english.com/declaration-of-the-leading-council-of-the-islamic-emirate-regarding-the-appointment-of-new-amir-leader-of-the-islamic-emirate/ (3 Agustus 2015)
[5] http://foreignpolicy.com/2015/08/13/al-qaeda-boss-zawahiri-pledges-allegiance-to-new-taliban-leader/
[6] https://m.youtube.com/watch?v=XbXtRX2-L_M&feature=youtube_gdata_player 
[7] http://shahamat-english.com/message-new-amir-of-islamic-emirate-thanks-and-accepts-all-who-pledged-allegiance/ (14/8/2015).
[8] http://shahamat-english.com/a-detailed-interview-of-zabihullah-mujahid-with-the-daily-asharq-al-awsat-about-the-recent-developments/
[9] https://www.foreignaffairs.com/articles/afghanistan/2015-08-09/al-qaeda-after-omar
[10] http://shahamat-english.com/spokesman-of-islamic-emirate-answers-several-important-questions/
[11] http://shahamat-english.com/statement-of-islamic-emirate-regarding-the-fourteenth-year-of-september-11-incident/ (27/11/1436 H bertepatan 11/9/2015 M)
[12] www.longwarjournal.org/tags/islamic-spring (September 2015).