FOREIGN POLICY ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

27 February 2016

Sosok Abu Bakar Ash-Shiddiq yang lebih menonjol dalam memori sebagian besar umat Islam adalah pribadi yang lemah lembut, tenang, rendah hati, zuhud terhadap dunia, tidak senang kemewahan, adil, tidak ambisius dan sebagainya. Namun tidak banyak yang menyentuh pribadi Abu Bakar sebagai khalifah (pengganti) Rasulullah saw. Padahal saat kapabilitasnya sebagai khalifah, ia sangat percaya diri, teguh dan tegas dalam mengambil berbagai sikap dan kebijakan, terkhusus kebijakan luar negeri (foreign policy) nya. Ketika para sahabat ragu untuk meneruskan ekspedisi pasukan Usamah dan kepemimpinannya sebagai komandan pasukan, ia tetap teguh untuk meneruskannya karena itulah yang dikehendaki oleh Rasulullah saw. Bahkan saat itu tegas untuk memerangi orang yang tidak mau mengeluarkan zakat, Umar bin Khaththab sempat mempertanyakan kebijkan tersebut meski pada akhirnya menyetujuinya. Tidak hanya itu, Abu Bakar juga membuka jalan bagi penaklukan Persia dan Syam, yang kemudian disempurnakan oleh Umar bin Khaththab saat ia menjabat sebagai khalifah penggantinya.

BIOGRAFI ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

Mulanya Abu Bakar dikenal oleh masyarakatnya sebagai salah seorang yang istimewa karena nasab dan perangainya. Nama aslinya adalah Abdullah bin Utsman.[1] Ia lahir dalam keluarga mampu dan terpandang, bani Taim. Pada beberapa kalangan kabilah Arab, bani Taim dijuluki dengan Mashabihuzh Zhulam (lentera di tengah kegelapan).[2]

Nasabnya tersambung dengan Nabi Muhammad saw pada kakeknya Murrah bin Ka’ab bin Lu’ai. Ia dikenal oleh bangsa Arab dengan kebaikan, keberanian, kokoh pendirian, memiliki berbagai ide brilian, toleran, penyabar dan mempunyai tekad yang tinggi.[3]

   Sebelum dan setelah keislamannya hingga menjabat sebagai khalifah, Abu Bakar berprofesi sebagai usahawan sukses. Dalam ranah dakwah, dengan keislamannya, ia berhasil menarik beberapa kalangan kelas atas bangsa Arab kepada Islam seperti Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Ia selalu menemani Rasulullah saw selama di Makkah, bahkan ialah yang mengiringi Rasulullah saw ketika bersembunyi dalam gua Tsaur dan dalam perjalanan hijrahnya dari Makkah hingga sampai ke Madinah. Di samping itu, ia mengikuti seluruh peperangan yang diikuti Rasulullah saw, baik perang Badar, Uhud, Khandaq, Fathu Makkah, perang Hunain, dan perang Tabuk.[4]

PERISTIWA SAQIFAH BANI SA’IDAH DAN PENUNJUKAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ

   Ketika Rasulullah saw wafat pada hari Senin 12 Rabi’ul Awwal 11 Hijriah, orang-orang Anshar berkumpul di Saqifah bani Sa’idah[5]. Isu pemilihan calon pemegang urusan kekhilafahan sepeninggal beliau beredar di kalangan mereka. Orang-orang Anshar berkumpul di sekitar pemimpin suku Khazraj, Sa’ad bin Ubadah. Berita perkumpulan orang-orang Anshar di Saqifah bani Sa’idah ini sampai pada kaum muhajirin yang saat itu sedang berkumpul bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk keperluan yang sama dengan mereka. Kaum Muhajirin yang diwakili Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, dan Abu Ubaidah bin Jarah lalu segera menyusul orang-orang Anshar di Saqifah bani Sa’idah.

   Ketika perwakilan orang-orang Muhajirin  tiba dan bermajlis bersama orang-orang Anshar, kemudian Sa’ad bin Ubadah pun berpidato dan berorasi. Pidato Sa’ad bin Ubadah tersebut direkam oleh Ath-Thabari sebagai berikut,

“Wahai orang-orang Anshar! Kalian memiliki keunggulan dalam agama dan keutamaan dalam Islam yang tidak dipunyai satu kabilah Arab yang lain. Muhammad saw tinggal belasan tahun di tengah-tengah kaumnya untuk mengajak mereka beribadah kepada Allah Yang Maha Pemurah, meninggalkan tandingan-tandingan dan berhala. Namun, hanya segelintir orang dari kaumnnya yang beriman, mereka tidak sanggup melindungi Rasulullah saw, memuliakan agamanya dan tidak pula mampu melawan kezaliman yang menimpa diri mereka. Hingga ketika Allah menghendaki keutamaan bagi kalian, Dia menggiring nikmat ini kepada kalian dan secara khusus melimpahkan nikmat ini untuk kalian. Dia mengunegerahi kalian keimanan kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya, melindungi beliau dan sahabat-sahbat beliau, memuliakan beliau dan agama beliau, serta berjihad melawan musuh-musuh beliau. Kalian adalah orang-orang yang paling tegas terhadap musuh-musuh beliau hingga bangsa Arab menuruti perintah Allah secara sukarela maupun terpaksa dan orang jauh memberikan ketundukan dalam keadaan hina dan rendah. Hingga Allah menundukkan dunia untuk Rasul-Nya melalui perjuangan kalian dan bangsa Arab bertekuk lutut kepada beliau lantaran pedang-pedang kalian. Allah mewafatkan beliau sedang beliau ridha dan bangga kepada kalian. Kuasailah urusan (kepemimpinan) ini karena kalian yang berhak memegangnya bukan orang lain.”[6]

   Mendengar pidato Sa’ad bin Ubadah, Umar bin Khaththab langsung hendak bicara namun Abu Bakar menyuruhnya untuk diam. Abu Bakar kemudian berpidato,

“Sungguh Allah telah mengangkat Muhammad sebagai utusan untuk makhluk-Nya dan saksi bagi umatnya agar mereka beribadah kepada-Nya dan mengesakan-Nya, di saat mereka menyembah tuhan-tuhan yang beraneka macam dan menyakininya mampu memberi syafaat untuk mereka di sisi-Nya serta bermanfaat untuk diri mereka. Padahal tuhan-tuhan itu hanyalah batu yang dipahat dan kayu yang diukir.”Beliau lalu membacakan surat Yunus ayat 18 dan Az-Zumar ayat 3.

   Abu Bakar lalu melanjutkan, “Namun, bangsa Arab enggan meninggalkan agama nenek moyang mereka. Maka Allah memilih kaum Muhajirin pertama dari kaum beliau untuk membenarkan beliau, mengimani, membantu dan bersabar bersama beliau dalam menghadapi kejamnya gangguan dan pendustaan kaum beliau. Semua orang menyelisihi mereka, mencemooh mereka. Tetapi mereka tidak ciut hanya karena berjumlah sedikit, atau karena kebencian orang-orang pada mereka, maupun karena persekongkolan kaum yang mengucilkan mereka. Mereka ini orang-orang pertama yang menyembah Allah di muka bumi (dari umat ini), beriman kepada Allah dan Rasulullah. Mereka itu adalah wali Allah, keluarga besar beliau dan orang yang paling berhak memegang estafet kepemimpinan sepeninggal beliau. Tidak ada yang berusaha merebutnya dari mereka selain orang-orang zalim. Dan kalian wahai orang-orang Anshar, adalah orang-orang yang keutamaan dan keunggulannya dalam Islam tidak diingkari. Allah ridha kalian menjadi penolong agama dan Rasul-Nya, hijrah beliau kepada kalian yang diikuti pula oleh istri-istri serta para sahabat beliau menjadikan mereka tinggal di tengah-tengah kalian. Bagi kami, setelah generasi Muhajirin pertama tidak ada yang setinggi kedudukan kalian. Kami pemimpin dan kalian menteri. Kalian selalu diajak bermusyawarah dan tak akan diputuskan suatu perkara tanpa persetujuan kalian.”[7]

   Dalam riwayat Ahmad disebutkan bahwa di antara isi pidato Abu Bakar yaitu, “Kalian telah mengetahui bahwa Rasulullah saw telah bersabda. ‘Seandainya manusia meniti suatu lembah, sedangkan orang-orang Anshar melewati lembah yang lain, aku akan melewati lembah Anshar.’ Dan engkau telah mengetahui wahai Sa’ad, bahwasanya Rasulullah saw pernah bersabda saat engkau sedang duduk, ‘Kaum Quraisy adalah pemegang urusan (kekhilafahan) ini, maka orang yang berbakti dari kalangan manusia akan mengikuti orang yang berkati dari kalangan Quraisy. Dan orang yang durhaka dari kalangan manusia akan mengikuti orang yang durhaka dari kalangan Quraisy.” Kemudian Sa’ad berkata kepada Abu Bakar, “Engkau benar. Kami adalah menteri, sedangkan kalian adalah pemimpin.”[8]

   Setelah ketegangan sedikit mereda, Basyir bin Sa’ad bin Tsa’labah Al-Khazraji Al-Anshari lalu berdiri dan berpidato, “Wahai Anshar! Demi Allah! Sungguh jika kita adalah orang-orang yang menyandang keutamaan dalam berjihad melawan orang-orang musyrik dan memiliki keunggulan dalam agama ini, kita tidak meniatkannya selain untuk meraih ridha Rabb kita, menaati Nabi kita dan sungguh beramal untuk diri kita. Tidak sepantasnya kita mengungkit-ungkit hal tersebut di hadapan manusia. Ketahuilah, Muhammad saw dari Quraisy dan kaumnya lebih berhak dan lebih utama mewarisi kepemimpinannya. Demi Allah! Allah tidak akan melihatku merebut perkara ini dari mereka selamanya. Bertakwalah kepada Allah. Jangan menyelisihi dan menentang mereka.”[9]

   Lalu dengan bijak Abu Bakar menyudahi perselisihan itu dengan mengajukan dua orang dari Muhajirin untuk memegang kekhilafahan seraya berkata, “Kebaikan yang telah kalian sampaikan, itu memang hak kalian. Namun permasalahan (kekhilafahan) ini tidak akan dijabat kecuali oleh orang dari kalangan Quraisy. Mereka adalah pemilik nasab dan tempat tinggal paling baik. Aku ridha kalau salah satu dari kedua orang ini (Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah) menjadi pemimpin kalian. Terserah kalian, manakah di antara keduanya yang akan kalian pilih!”

   Tetapi Umar bin Khaththab dan Abu Ubaidah menolaknya. Umar bin Khaththab lalu mengatakan, “Tidak. Demi Allah! Kami tidak pantas memegang kepemimpinan ini membawahi dirimu. Engkau Muhajirin terbaik, salah seorang dari dua orang kala keduanya berada di gua dan pengganti Rasulullah saw dalam memimpin shalat. Sementara shalat merupakan amal terbaik dalam Islam. Siapakah yang pantas maju di hadapanmu atau memegang perkara ini membawahi dirimu? Ulurkan tanganmu! Kami akan membaiatmu.”[10] Abu Bakar pun mengulurkan tangannya dan Umar langsung membaiatnya diikuti oleh Abu Ubaidah orang-orang Muhajirin, dan kemudian oleh orang-orang Anshar.[11]

   Menurut Ash-Shalabi, Sa’ad bin Ubadah telah membaiat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah pasca perdebatan yang terjadi di Saqifah bani Sa’idah. Ia telah mengubah pendapatnya yang pertama untuk menjadi pemimpin dan memberi persetujuan kepada Abu Bakar sebagai khalifah. Ia juga menilai bahwa tidak ada periwayatan shahih yang menyebutkan adanya kemelut baik yang bersifat sepele maupun serius. Tidak pernah pula diriwayatkan secara shahih adanya kelompok oposisi yang berambisi terhadap kekhilafahan, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian penulis sejarah.[12]          

PEMBAIATAN UMUM TERHADAP ABU BAKAR SEBAGAI KHALIFAH DAN PIDATO POLITIKPERDANYA

   Pasca pembaiatan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang bersifat terbatas di Saqifah Bani Sa’idah, pada hari berikutnya kaum muslimin berkumpul untuk melakukan pembaiatan umum.

   Sebelum proses pembaiatan umum, Umar bin Khaththab mengawalinya dengan berpidato, “Wahai manusia! Kemarin aku sudah mengatakan kepada kalian sesuatu yang tidak aku dapatkan dalam Kitab Allah dan bukan pula wasiat Rasulullah yang disampaikan kepadaku. Akan tetapi, aku melihat bahwa Rasulullah saw yang akan mengatur urusan kita. Allah swt telah menjaga kitab-Nya di tengah-tengah kalian yang dengannya Allah memberi petunjuk kepada Rasul-Nya. Bila kalian semua berpegang teguh dengannya, niscaya Allah akan memberi petunjuk kepada kalian sebagaimana yang Dia telah memberi petunjuk kepada Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah swt telah menitipkan semua urusan kalian kepada orang yang terbaik di antara kalian. Dialah sahabat Rasulullah saw dan orang kedua daro dua orang saat berada di gua. Untuk itu, berdirilah kalian dan berbaiatlah kepadanya.” Maka orang-orang pun membaiat Abu Bakar setelah pembaiatan di Saqifah.[13]

   Abu Bakar Ash-Shiddiq, setelah proses pembaiatan umum, lantas menyampaikan pidato perdana kekhilafahan dan politiknya. Dengan suara lantang dan penuh keyakinan ia berkata, “Wahai manusia! Aku telah diserahi kekuasaan untuk mengurus kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Itulah sebabnya, jika aku melakukan kebaikan, bantulah aku. Dan jika aku berbuat salah, ingatkanlah aku. Jujur adalah sikap amanah dan dusta merupakan sikap khianat. Orang yang lemah di antara kalian kuanggap kuat di sisiku sebelum aku memberi haknya, insya Allah. Dan orang kuat di antara kalian kuanggap lemah di sisku sebelum aku mengambil hak yang harus ditunaikan olehnya, insya Allah. Tidaklah suatu kaum meninggalkan jihad fi sabilillah, kecuali Allah akan menjadikan hidup mereka hina dan dihinakan. Tidaklah perbuatan keji menyebar di suatu kaum, kecuali Allah akan menyebarkan malapetaka di tengah-tengah mereka. Karena itu, taatlah kalian kepadaku selama aku taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Jika aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, tidak ada ketaatan kepadaku bagi kalian. Dirikanlah shalat, semoga Allah merahmati kalian.”[14]

   Dalam pandangan Ash-Shalabi, pidato perdana kekhilafahan dan politik Abu Bakar Ash-Shiddiq merupakan pidato yang substansial meski ringkas. Dalam khutbah tersebut, Abu Bakar menetapkan prinsip keadilan dan kasih sayang dalam hubungan antara penguasa dan rakyat. Ia menekankan bahwa ketaatan kepada penguasa harus selaras dengan kataatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Abu Bakar juga membangkitkan semangat jihad fi sabilillah sebagai jalan sangat penting untuk memuliakan umat dan mengajak umat Islam meninggalkan perbuatan keji demi melindungi masyarakat dari kehancuran dan kerusakan.[15]

BEBERAPA KEBIJAKAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ SETELAH MENJABAT KHALIFAH

   Manakala bangsa Arab mendengar berita wafatnya Rasulullah saw, banyak dari mereka yang murtad. Gelombang orang-orang yang murtad ini menimbulkan ancaman besar di Jazirah Arab. Muncul juga orang-orang yang mengaku sebagai nabi. Bahkan mereka memobilisasi pasukan untuk memerangi umat Islam. Selain itu, juga ada gelombang mereka yang enggan mengeluarkan zakat.

   ‘Aisyah, Ummul Mukminin menggambarkan keadaan saat itu dengan ungkapan, “Tatkala Rasulullah saw wafat, orang-orang Arab kembali murtad secara besar-besaran dan kemunafikan pun merajalela. Demi Allah! Aku mendapat beban yang berat, seandainya ia menimpa gunung yang kokoh niscaya ia akan hancur lebur. Para sahabat Muhammad ibarat domba yang diguyur hujan lebat pada malam hari di suatu kebun yang berada di tengah-tengah padang yang dipenuhi binatang buas.”[16]

  1. a.      Pemberangkatan Pasukan Usamah bin Zaid

Kebijakan pertama yang diambil oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah memberangkatkan pasukan Usamah bin Zaid. Sebelum itu, pada tahun kesebelas Hijriah, Rasulullah saw sebenarnya telah mengirimkan satuan perang untuk memerangi Romawi di daerah Balqa’ dan Palestina. Sebagian anggota pasukan itu adalah para senior orang-orang Muhajirin dan Anshar yang dikomandani oleh Usamah bin Zaid. Mobilisasi pasukan Usamah bin Zaid ini terhitung satuan perang ketiga yang dipersiapkan Rasulullah saw dalam menghadapi Romawi setelah Mu’tah (8 Hijriah) dan Tabuk (9 Hijriah).

Ketika sakit Rasulullah saw semakin parah, pasukan Usamah bin Zaid masih berjaga-jaga di Jurf.[17]Mereka kembali ke Madinah ketika Rasulullah saw wafat, lalu kembali lagi ke Jurf.

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq menjabat khalifah, ia memerintahkan salah seorang pada hari ketiga wafatnya Rasulullah untuk mengumumkan di tengah-tengah manusia, “Pengiriman pasukan Usamah harus segera dilaksanakan, dan ingatlah bahwa tidak seorang pun anggota pasukan Usamah yang boleh tinggal di Madinah. Mereka harus pergi ke markas pasukan Usamah di Jurf.”

Sebagian sahabat mengusulkan kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq agar membatalkan pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid. Mereka beralasan bahwa orang-orang Arab sedang bersiap-siap menyerang Madinah, sementara yang ikut bersama Usamah bin Zaid adalah mayoritas kaum muslimin. Mereka khawatir terhadap keselamatan khalifah, kehormatan Rasulullah, dan serta seluruh kota dan penduduk Madinah.

Usamah bin Zaid pun yang saat itu sedang berada di Jurf mengutus Umar bin Khaththab kepada Abu Bakar agar diizinkan kembali ke Madinah dengan alasan yang sama. Akan tetapi Abu Bakar tidak menyetujuinya dan tetap pada pendiriannya untuk memberangkatkan pasukan Usamah. Bahkan ia berkata, “Demi Zat yang jiwa Abu Bakar berada di tangan-Nya! Sekiranya aku yakin ada binatang buas yang akan menerkamku, sungguh aku akan tetap melaksanakan pengiriman pasukan Usamah seperti yang diperintahkan Rasulullah saw. Seandainya tidak tersisa di negeri ini selain diriku, sungguh aku tetap akan melaksanakan perintah itu.”

Sementara itu, orang-orang Anshar menuntut agar pasukan tersebut dipimpin orang yang lebih tua dari Usamah yang disampaikan Umar bin Khaththab kepada Abu Bakar. Menanggapi usulan itu, Abu Bakar lantas berkata kepada Umar, “Celakalah engkau wahai putra Khaththab! Rasulullah telah mengangkat Usamah (sebagai komandan pasukan), tetapi mengapa engkau menyuruhku membatalkannya.”[18]

Pada saat pemberangkatan pasukan Usamah bin Zaid, Abu Bakar mengantarkan pasukan tersebut dengan berjalan kaki, sementara Usamah mengendarai hewan tunggangannya. Usamah lantas mengusulkan agar Abu Bakar lah yang naik hewan tunggangan dan ia yang berjalan kaki. Tetapi usul itu ditolak Abu Bakar.[19] Pada kesempatan itu juga Abu Bakar meminta izin kepada Usamah bin Zaid agar mengizinkan Umar bin Khathtthab untuk bisa tinggal di Madinah supaya membantu dan menemaninya menjalankan kekhilafahan. Usamah pun mengizinkannya. Tatkala itu Umar bin Khaththab adalah salah satu pasukan Usamah.

Sebelum mereka berangkat, Abu Bakar memberi wasiat kepada pasukan Usamah bin Zaid,

“Wahai manusia, berdirilah! Aku wasiatkan kepada kalian sepuluh hal, yang hendaknya kalian jaga: Janganlah kalian berkhianat, mengambil ghanimah sebelum dibagi, menipu, memutilasi, dan membunuh anak kecil, orang lanjut usia, maupun perempuan. Janganlah kalian merusak dan membakar pohon kurma. Janganlah kalian menebang pohon yang sedang berbuah dan janganlah kalian menyembelih domba, sapi, dan juga onta untuk kecuali untuk dimakan. Kalian akan melewati beberapa kaum yang membawakan untuk kalian bejana-bejana yang berisi berbagai macam makanan. Jika kalian memakannya sedikit demi sedikit, sebutlah selalu nama Allah sebelum makan. Kalian juga akan bertemu dengan beberapa kaum yang mencukur bagian tengah rambut mereka saja dan membiarkan sekelilingnya seperti ikat kepala. Tebaslah mereka dengan pedang dan mulailah dengan menyebut nama Allah.”[20]

Dari wasiat Abu Bakar kepada pasukan Usamah tersebut, tampaklah tujuan jihad umat Islam, yaitu mendakwahkan Islam. Ketika suatu bangsa menyaksikan pasukan Islam yang menaati wasiat tersebut, bangsa tersebut pasti memeluk Islam secara sukarela. Penyebabnya adalah:

  • Mereka menyaksikan pasukan Islam tidak berkhianat, tetapi menjaga amanah, memenuhi janji, tidak mencuri harta orang lain maupun menguasainya dengan cara yang tidak benar.
  • Pasukan Islam tidak memutilasi musuh. Mereka membunuh dengan cara yang benar; suka memaafkan; memuliakan dan menyayangi anak kecil; berbuat baik dan menghormati orang yang sudah tua; menjaga dan melindungi kaum wanita.
  • Pasukan Islam tidak menghambur-hamburkan kekayaan negeri yang telah ditaklukkan. Bangsa yang ditaklukkan justru akan melihat pasukan Islam menjaga pohon kurma dan tidak membakarnya; tidak menebang pohon yang sedang berbuah dan tidak menghancurkan perkebunan atau merusak ladang.
  • Pasukan Islam bisa menjaga kekayaan umat manusia, sehingga mereka tidak akan bertindak licik, berkhianat, mengambil ghanimah sebelum dibagikan, memutilasi musuh yang terbunuh, dan membunuh anak kecil, orang yang lanjut usia dan kaum wanita. Pasukan Islam juga menjaga hewan ternak, sehingga tidak akan menyembelih domba, sapi maupun unta kecuali hanya untuk dimakan saja. Apakah pasukan non-muslim mampu menjaga salah satu dari etika perang tersebut? Atau, mereka justru mengubah negeri yang mereka taklukkan menjadi rusak dan hancur? Kita dapat melihat faktanya dari agresi Komunis atheis di Afghanistan, dan Serbia di Bosnia dan juga Kosovo, di India terhadap Muslim Kashmir, di Chechnya, dan Yahudi di Palestina.
  • Pasukan Islam menghormati keyakinan dan agama umat terdahulu, sehingga tidak menyerang orang-orang yang sedang beribadah di gereja dan tidak mengganggu mereka.

Setiap poin yang disebutkan dalam wasiat Abu Bakar bukan sekedar kata-kata, melainkan telah dilaksanakan oleh pasukan Islam di masanya dan masa sesudahnya.[21]

Usamah dan pasukannya berangkat ke medan perang. Usamah dan pasukannya meraih kemenangan demi kemenangan dan berhasil mendapatkan ghanimah. Keberangkatan pasukan Usamah ini sampai pulangnya membutuhkan waktu 40 hari.

  1. b.      Memerangi Orang Murtad

Berita wafatnya Rasulullah saw menjadi buah bibir di kalangan bangsa Arab. Pada saat itu, bara api kemurtadan mulai bermunculan. Meski gerakan kemurtadan sudah mulai muncul pasca ‘Amul Wafud (Tahun Delegasi) pada sembilan Hijriah, namun baru setelah wafatnya Rasulullah mereka berani menampakkannya secara terang-terangan. Di antara tokoh yang murtad bahkan mengaku sebagai nabi adalah Al-Aswad Al-‘Ansi di Yaman yang tewas berhasil dibunuh ketika pada masa nasa Rasulullah, Musailamah Al-Kadzdab di Yamamah, dan Thulaihah Al-Asadi. Dengan tegas, Abu Bakar Ash-Shiddiq pun memerangi mereka sampai ke akar-akarnya.

Setelah kedatangan pasukan Usamah bin Zaid dan sesudah pasukannya telah cukup beristirahat, Abu Bakar lalu membuat planning pengiriman berbagai pasukan guna menumpah orang-orang murtad dan yang enggan membayar zakat. Ia membuat 11 pasukan perang. Berikut nama-nama panglima dan ke arah mana mereka ditugaskan:

  • Khalid bin Walid, dikirim untuk menghancurkan Thulaihah Al-Asadi. Bila sudah selesai, selanjutnya ia menyerang Malik bin Nuwairah di Buthah jika orang tersebut melawan dirinya.
  • Ikrimah bin Abu Jahl, dikirim untuk menumpas Musailamah.
  • Muhajir bin Abi Umayah, diutus untuk menghancurkan pasukan sisa–sisa pasukan Al-Aswad Al-Ansi dan mmebantu kaum Abna’ menghadapi Qais bin Maksyuh, kemudian menuju Kindah di Hadhramaut.
  • Khalid bin Sa’id, diutus ke wilayah-wilayah pinggir Syam.
  • Amru bin ‘Ash, diutus ke kabilah Qudha’ah dan Wadi’ah.
  • Hudzaifah bin Mihshan Al-Ghifari, dikirim kepada penduduk Duba.
  • Arfajah bin Hurtsumah, dikirim ke Maharah.
  • Syurahbil bin Hasanah, ditugaskan menyusul Ikrimah bin Abu Jahl. Bila sudah selesai menjalankan tugas di Yamamah, ia dengan pasukannya menuju Qudha’ah.
  • Ma’n bin Hajiz, ditugaskan ke Bani Salim dan Hawazin yang bergabung dengan mereka.
  • Suwaid bin Muqarin, ditugaskan ke Tihamah, Yaman.
  • Ala` bin Hadhrami, ditugaskan ke Bahrain.[22]

Thulaihah Al-Asadi

Nabi palsu pertama yang berusaha menyerang Madinah adalah Thulaihah Al-Asadi. Nama lengkapnya adalah Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi, dari Bani Asad bin Khuzaimah. Dulu, ia seorang paranormal lalu memeluk Islam, kemudian murtad dan mengaku nabi di masa hidup Rasulullah saw. Beliau lalu mengutus Dhirar bin Azwar untuk menindak tegas Thulaihah. Ia pun berhasil melemahkan Thulaihah namun belum berhasil membunuhnya. Setelah Rasulullah wafat, pengaruh Thulaihah kembali besar bahkan memiliki pengikut yang banyak.[23]

Thulaihah mengirim utusannnya kepada Abu Bakar untuk mengajukan dispensasi meninggalkan shalat dan zakat. Namun Abu Bakar menolak mentah-mentah dan berkata, “Demi Allah! Seandainya mereka menahan‘iqal[24] dariku pasti aku berjihad memerangi mereka karena hal itu.” Beberapa hari berselang, pengikut dan pasukan Thulaihah kemudian berusaha menyerang Madinah pada malam hari, namun berhasil digagalkan oleh pasukan Islam dan membuat mereka lari kocar-kacir. Bahkan Abu Bakar ikut mengejar mereka hingga sampai di Dzul Qashah.

Perang ini terhitung kecil. akan tetapi kemenangan yang ditorehkan Abu Bakar memiliki efek siksifikan dan dampak yang besar dalam jiwa umat Islam juga pada jiwa musuh-musuh Islam.[25]

Khalid bin Walid yang ditugaskan untuk menumpas gerakan Thulaihah Al-Asadi pun berhasil menjalankan tugasnya setelah melewati pertempuran yang hebat dengan pasukan Thulaihah di daerah Buzakhah. Thulaihah berhasil lolos pada pertempuran tersebut bersamanya istrinya, Nawar, dan melarikan diri ke Syam.[26]

Musailamah Al-Kadzdzab

Nama lengkap Musailamah adalah Musailamah bin Tsumamah bin Kabir bin Habib Al-Hanafi Abu Syamah. Ia lahir dan tumbuh di Yamamah. Musailamah mengaku sebagai nabi sejak Rasulullah saw masih hidup. Ia mengaku mendapat wahyu dari Jibril bahkan berani meniru dan mengubah Al-Quran lalu mengklaimnya sebagai  wahyu. Musailamah mendapat banyak pendukung dari bani Hanifah. Apalagi setelah Ar-Rajjal bin Unfuwah Al-Hanafi, salah seorang tokoh bani Hanifah, yang pernah hijrah kepada Rasulullah saw sekaligus menyatakan keislamannya, dan telah menghapal dan mempelajari beberapa surat Al-Quran, membelot dan bersaksi di hadapan bani Hanifah bahwa Musailamah telah bersekutu dengan Rasulullah dalam hal kenabian. Padahal Rasulullah saw mengutus Ar-Rajjal bin Unfuwah ke bani Hanifah adalah untuk menjelaskan tentang fitnah Musailmah Al-Kadzdzab. Musailamah berhasil mendapat pengikut sekitar 40.000 orang.

Penglima perang Abu Bakar yang ditugaskannya untuk melumpuhkan gerakan Musailamah Al-Kadzdzab adalah Khalid bin Walid. Itu ia perintahkan setelah Khalid berhasil menumpas Thulaihah Al-Asadi dan Malik bin Nuwairah. Khalid pun melanjutkan perjalanan untuk memerangi bani Hanifah dan memobilisasi semua kaum Muslimin yang bersamanya. Abu Bakar juga memberangkatkan pasukan besar untuk membantu Khalid bin Walid. Khalid pun bertemu dengan beberapa panglima lainnya seperti Ikrimah bin Abu Jahal dan Syurahbil bin Hasanah di tengah perjalanan menuju Yamamah.

Pasukan Islam yang dikomandani Khalid bin Walid pun bertemu dengan pasukan Musailamah Al-Kadzdzab di Aqraba, suatu daerah di ujung negeri Yamamah. Pertempuran sengit antara dua pasukan yang berjumlah besar tidak terelakkan. Pertempuran tersebut juga menghabiskan waktu yang relatif panjang. Khalid bin Walid berpikir bahwa pertempuran tersebut tidak akan berakhir kecuali jika Musailamah terbunuh. Benar, setelah Musailamah terbunuh, bani Hanifah pun kocar-kacir dan lari tunggang langgang.

Pertempuran tersebut berakhir ketika beberapa petinggi bani Hanifah menawarkan perdamaian kepada Khalid. Khalid lalu menerima tawaran tersebut karena melihat pasukan Islam sudah letih disebabkan peperangan yang panjang. Khalid juga mengajak mereka kembali masuk Islam, dan ternyata seluruhnya menerima tawaran tersebut. Bahkan Khalid mengembalikan pada mereka sebagian ghanimah dan tawanan perang.[27]

  1. c.       Penaklukan Irak

Ketika peperangan melawan orang murtad telah berakhir, kebijakan selanjutnya yang ditempuh Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah membuka wilayah di Jazirah Arab. Abu Bakar Ash-Shiddiq mulai melaksanakan rencana penaklukan yang sesungguhnya telah dirancang oleh Rasulullah semasa hidupnya. Ia pun mengirimlan pasukan untuk menaklukkan Irak dan Syam.

Setiap isnstruksi Abu Bakar Ash-Shiddiq kepada panglima perang di Irak, yaitu Khalid dan Iyadh, menunjukkan naluri perang dan strategi tingkat tinggi pada diri Abu Bakar Ash-Shiddiq. Dalam hal ini ia memberikan banyak kebijakan militer dan strategi untuk memenangkan suatu pertempuran melawan musuh. Ia menentukan batasan-batasan wilayah bagi kedua panglima perang tersebut untuk masuk dan menguasai Irak. Abu Bakar memberikan instruksi itu layaknya sedang berada di ruang operasi militer di Hijaz dan di dinding ruangan terbentang peta wilayah Irak dengan segala medan dan rutenya.

Khalid bin Walid, sebagai salah satu penglima, terlibat dalam berbagai pertempuran yang terjadi di wilayah Irak, dan itulah di antara sebab negeri Irak dapat dikuasai oleh pasukan Islam. beberapa pertempuran tersebut adalah pertempuran Dzatus Salasil, Madzar, Walujah, Ullais, Herat, Anbar, ‘Ain Tamar, Dumatul Jandal, Al-Hushaid dan Al-Firadh.[28]

  1. d.      Penaklukan Syam

Ketika Abu Bakar Ash-Shiddiq hendak menaklukkan Syam, ia meminta saran dan pendapat para sahabat Rasulullah. Ia pun meminta bantuan pada penduduk Yaman untuk melakukan jihad bersama dengan kaum muslimin lainnya. Ia juga membentuk beberapa satuan perang yang dikepalai komandan perang, dan mengirim mereka ke negeri Syam. Ada empat satuan perang yang dikirim ke Syam, masing-masing dipimpin oleh Yazid bin Abi Sufyan, Abu Ubaidah bin Jarrah, Amr bin Ash dan Syurahbil bin Hasanah.

Pasukan perang yang dikirim untuk membebaskan Syam ini menghadapi berbagai macam kesulitan dalam menjalankan misinya. Mereka harus berhadapan dengan bala tentara Romawi yang terkenal kuat dan tangguh, serta berjumlah sangat besar. Itulah sebabnya, pasukan Islam mengirim surata kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq untuk memberitahukan kesulitan yang sedang mereka hadapi. Abu Bakar pun memerintahkan mereka untuk mundur ke wilayah yarmuk dan berkumpul di sana, lalu memerintahkan Khalid untuk berangkat dengan sebagian pasukannya yang sedang berada di Irak menuju Syam dan menjadi komandan pasukan perang di Syam.

Khalid bin Walid mampu mewujudkan keinginan Abu Bakar Ash-Shiddiq. Ia berhasil mengalahkan pasukan musuh di Syam, dan memenangkan pertempuran melawan musuh di Ajnadain dan Yarmuk.[29]

KEBIJAKAN  LUAR NEGERI (FOREIGN POLICY)  DALAM  PEMERINTAHAN ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ[30]

   Di bawah pemerintahannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq telah menetapkan beberapa target dalam menerapkan politik luar negerinya, yang terpenting di antaranya ialah:

  1. a.      Menanamkan Rasa Kagum dan Takut di Hati Para Pemimpin dan Rakyat Negara Lain

Sebuah negara yang tidak ditakuti oleh negara lain tidak akan pernah bisa mencapai stabilitas atau keamanan; mereka akan terus menerus dipandang oleh negara lain sebagai target yang mudah—sebuah negara yang menjadi sasaran empuk  invasi. Abu Bakar memahami realitas ini dengan sangat baik, karenanya salah satu tujuan utama kebijakan luar negeri beliau adalah untuk menanamkan rasa takut di hati musuh. Pada masa awal kekhilafahnnya, ia mencapai tujuan itu dengan dua cara:

Pertama, Ia berperang melawan dan mengalahkan para pemberontak murtad. Tujuan utama Abu Bakar adalah membawa stabilitas di wilayah yang ia kuasai. Sedang tujuan keduanya adalah untuk menunjukkan kepada kekuatan asing bahwa umat Islam mampu mengatasi semua rintangan dan ancaman.

Para pemimpin negara asing mencermati dengan sangat serius apa yang terjadi di dunia Arab, terutama para pemimpin Romawi dan Persia. Sebelum berkembangnya Islam, dua negara superpower adalah Romawi dan Persia, sedangkan bangsa Arab, kalaupun mereka memiliki nilai penting dalam panggung dunia, lebih sering dimanfaatkan oleh Romawi dan Persia untuk berperang membela kepentingan mereka. Selain itu, beberapa wilayah Arab juga digunakan sebagai wilayah penyangga (buffer zone) di antara wilayah Romawi dan Persia. Namun sekarang, umat Islam telah bangkit, bahkan di zaman Rasulullah masih hidup beliau mengirimkan pasukan untuk bertempur dan menguji kekuatan pasukan Romawi. Karena itu, bangsa Romawi dan Persia mempunyai kepentingan atas apa yang tejadi di dunia Arab. Mereka sangat kecewa saat mereka menyaksikan pasukan Islam mampu menghancurkan pasukan pemberontak murtad. Dampaknya, para pemimpin Romawi dan Persia menyadari bahwa umat Islam telah menjadi lebih kuat dan memberikan ancaman yang semakin meningkat. Keberhasilan umat Islam, untuk mengatasi ancaman internal yang tidak remeh tersebut tentunya membuat Romawi dan Persia berfikir berulang kali sebelum berencana menyerang Arab. Kegamangan mereka, sebagai hasil dari rasa takut dan kekhawatiran untuk tidak menderita kekalahan yang berat, kembali menghantui mereka saat justru bangsa Arab yang kemudian menyerang mereka; bukan mereka yang menyerang bangsa Arab.

Kedua, Abu Bakar mengirimkan pasukan Usamah. Menancapkan rasa takut di hati musuh adalah salah tujuan yang terbersit dalam pikiran Abu Bakar saat ia memutuskan untuk mengirim pasukan Usamah. Bangsa Romawi mempunyai alasan untuk takut. Pada awalnya mereka berharap bahwa dengan pemberontakan kaum murtad, semenanjung Arab akan terjerembab dalam situasi chaos, namun mereka justru menyaksikan dengan mata kepala mereka sendiri bahwa negara Islam justru mengirimkan pasukan besar untuk menyerang Romawi. Keberanian untuk melakukan invasi tersebut mencengangkan dan membuat Romawi ketakutan. Dan yang lebih buruk lagi, pasukan Usamah berhasil menjalankan misinya, yaitu mengalahkan pasukan musuh yang loyal pada bangsa Romawi dan membawa pulang ghanimah. Dampaknya, kaisar Romawi Heraklius, mengirimkan puluhan ribu pasukan Romawi untuk menjaga perbatasan antara Syam dan Arab.

Persia juga mempunyai alasan untuk takut, karena berita tentang pasukan Usamah juga sampai kepada para pemimpin Persia, yang mulai mengkhawatirkan keselamatan dan keamanan tanah Persia, terutama Irak. Para pemimpin Persia, karena ketakutan pada kekuatan umat Islam, mulai melakukan aliansi dengan pemberontak murtad, dengan memberi bantuan material dan moral kepada mereka dalam perang melawan umat Islam. Jadi, dengan menggunakan kekuatan minimal, Abu Bakar berhasil mengirimkan pesan kepada para pemimpin asing: tidak lama lagi pasukan Islam akan melakukan invasi besar-besaran ke tanah mereka, dan mereka akan datang dengan pasukan yang rindu akan kematian sebagaimana mereka rindu akan kehidupan.

  1. b.      Meneruskan Jihad yang Diperintahkan Rasulullah

Bahkan sejak awal misi kenabian, Islam adalah pasukan yang ekspansif. Islam bukanlah untuk satu suku, satu kelompok, atau satu bangsa, tapi untuk seluruh umat manusia. Karena itu umat Islam yang memiliki kewajiban untuk mendakwahkan Islam pada orang lain, harus terus menerus berjuang untuk meruntuhkan segala penghambat yang mencegah pesan Islam dari didengar oleh orang asing; yaitu dengan menyebarkan Islam dari Makkah ke Madinah, kemudian ke seluruh Jazirah Arab, dan kemudian menyebarkannya ke Irak dan Syam.

Tidak ada yang lebih dekat dengan Rasulullah daripada Abu Bakar. Faktanya, setelah shalat Isya, mereka berdua duduk bersama dan mendiskusikan persoalan umat Islam. Abu Bakar banyak menghabiskan waktu dengan Rasulullah, ia paham tidak hanya pentingnya menyebarkan Islam, tapi juga sarana dan strategi yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dengan kata lain, Abu Bakar paham bahwa operasi  militer adalah sarana utama untuk meruntuhkan penghalang-penghalang yang mencegah Islam sampai ke masyarakat dunia. Karena itu, jika para pemimpin Persia menolak masuk Islam dan jika masyarakat Persia masih tetap musyrik, menjadi tugas Abu Bakar untuk menurunkan pasukan guna menaklukkan imperium Persia.

Dalam mengirimkan pasukan ke luar negeri, Abu Bakar sangat memahami pepatah yang menyatakan bahwa siapa yang ragu akan kalah. Jika Abu Bakar menunda, musuh akan semakin berani, dan bisa jadi Romawi yang akan menginvasi negara Islam, bukan Islam yang akan menginvasi kekaisaran Romawi. Begitu juga, Perang Riddah berakhir seiring dengan pengiriman pasukan Islam ke Irak dan Syam.

Para komandan Abu Bakar pergi ke luar negeri dengan niat menyebarkan pesan-pesan Islam dan menyingkirkan para pemimpin tiran dan zalim dari singgasananya. Para pemimpin yang pemberani, seperti Khalid, Abu Ubaidah, Amr bin Ash, Syurahbil dan Yazid, dipilih dengan sangat teliti untuk menjalankan tugas menginvasi negara lain. Abu Bakar sebagai seorang yang mempunyai pengalaman militer luar biasa memilih para komandannya berdasarkan kemampuan, talenta, dan terutama ketaatan mereka. Mereka kemudian mampu menaklukkan Irak dan Syam dalam waktu yang sangat singkat.

  1. c.       Menegakkan Keadilan di Negeri Asing (Foreign Lands), dan Memperlakukan Rakyat yang Ditaklukkan dengan Murah Hati

Mudah untuk bicara kepada rakyat yang ditaklukkan dengan mengatakan kepada mereka bahwa penaklukkan tersebut demi kebaikan mereka sendiri: untuk membuat mereka lebih beradab, membawa demokrasi pada mereka, menguatkan mereka, membebaskan mereka dari belenggu tirani, dan lain-lain. Banyak penakluk mengatakan hal demikian kepada mereka yang ditaklukkan, padahal realitanya motif mereka sering kali hanya untuk kepentingan mereka sendiri tanpa peduli pada harga diri dan kesejahteraan rakyat yang mereka taklukkan.

Tapi Islam selalu berbeda. Benar bahwa Abu Bakar ingin memenangkan hati dan pikiran rakyat yang ia taklukkan (winning the hearts and minds) tapi ia berbeda dengan penakluk non-muslim lainnya, ia benar-benar melakukan apa yang ia katakan. Abu Bakar tahu bahwa ia tidak bisa memenangkan hati rakyat asing dengan pedang. Menaklukkan musuh hanya dengan pedang tidak akan menyelesaikan atau menghasilkan sesuatu. Dengan kata lain, Abu Bakar memahami fakta bahwa perencanaan pasca perang (post-war planning) sama pentingnya dengan perencanaan sebelum perang (pre-war planning). Pre-war planning meliputi mengalahkan musuh di medan tempur, sedangkan pos-war planning meliputi memenuhi kebutuhan dasar rakyat yang ia taklukkan, memberikan keamanan pada mereka dan menyebarkan keadilan di tengah mereka. Rakyat harus diyakinkan hingga mereka tidak berpikir bahwa satu tiran digantikan tiran lain yang lebih keras, kejam, dan jahat dibandingkan yang pertama.

Untuk itu, Abu Bakar memerintahkan kepada komandannya untuk berlemah lembut dan berkasih sayang kepada penduduk yang mereka taklukkan. Mereka yang tangannya telah ditaklukkan perlu diyakinkan dalam semua tindakan bahwa tanah mereka tidak akan dirampas, mereka tidak akan dicegah dari sarana kehidupan mereka, dan bahwa keluarga mereka akan tetap aman dari para penjahat. Para komandan Muslim, sebagaimana perintah Abu Bakar, melindungi infrastruktur-infrastruktur di tanah yang mereka taklukkan dan menghargai kesucian hidup di antara rakyatnya. Sebagai hasilnya, rakyat di Persia dan Syam mencintai umat Islam karena kemuliaan akhlak mereka, kemurahan hati mereka, kebaikan mereka, dan ketulusan hati mereka. Melalui keagungan akhlak para penakluk Muslim, cahaya Islam masuk ke dalam hati orang-orang asing, sebagaimana saat dan sesudah Fathul Makkah, masyarakat masuk Islam secara berbondong-bondong. Sebagai hasilnya, mereka mendapat keamanan, keselamatan, kestabilan, kemakmuran, dan kesetaraan dengan saudara Muslim mereka di negeri Arab.

Bagi rakyat Persia dan Syam, perbedaan kehidupan yang mereka tahu sebelumnya dengan Islam adalah seperti perbedaan malam dan siang. Ketika pasukan Persia atau Romawi menginvasi sebuah wilayah, mereka menghancurkan segala yang mereka lalui. Mereka melakukan mutilasi terhadap pasukan musuh, menghancurkan kehidupan orang-orang yang tidak berdosa, memunculkan kerusakan dalam segala hal yang mungkin, dan mendapatkan kutukan dan kebencian dari orang-orang yang mereka invasi selamanya. Kengerian perang dan kebebesan yang direnggut oleh para pemenang hari itu sudah sangat diketahui oleh masyarakat pada abad itu, maka mereka punya alasan untuk terkejut dengan apa yang dibawa oleh penakluk Muslim, bukan kesengsaraan dan kerusakan, tapi keadilan, perdamaian, penghormatan, dan kemakmuran. Mereka telah menghilangkan segala bentuk tirani dan penindasan dari kehidupan orang-orang yang mereka taklukkan.

Abu Bakar menginginkan kesempurnaan dari para komandannya. Ia terus mengawasi mereka dan melarang mereka dari segala bentuk tirani. Dan ia segera mengoreksi kesalahan sekecil apa pun yang dilakukan oleh mereka. Al-Baihaqi meriwayatkan bahwa ketika pasukan asing memperoleh kemenangan dalam sebuah perang, mereka menganggap bahwa melakukan kekejaman terhadap pasukan musuh adalah tindakan yang legal. Misalnya, sudah menjadi kebiasaan bagi mereka untuk membawa penggalan kepala komandan musuh kepada raja mereka sebagai cara untuk mengumumkan kemenangan. Selama perang di Syam, dua komandan Islam, Amr bin Ash dan Syurahbil bin Hasanah membawa kepala Ban’an, salah satu pendeta tertinggi di Syam kepada Abu Bakar. Ketika utusan Amr bin Ash dan  Syurahbil, yaitu Uqbah bin Amir, kembali dengan kepala Ban’an Abu Bakar sangat marah. Kemudian Uqbah berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah! Ini yang mereka lakukan terhadap kita.” Kemudian Abu Bakar menjawab, “Haruskah kita mengikuti cara-cara Persia dan Romawi! Jangan lagi membawa kepala kepadaku.  Cukup kau kirimkan surat kepadaku atau menginformasikannya secara langsung (tentang kemenangan atau tentang kematian pemimpin musuh).”

  1. d.      Memberi Kebebasan Beragama Kepada Rakyat yang Ditaklukkan

Walaupun tujuan utama Abu Bakar adalah menyebarkan pesan Islam kepada rakyat asing, tapi tujuannya bukanlah memaksa orang untuk memeluk Islam. Faktanya, Abu Bakar tidak pernah memaksa bangsa atau kelompok manapun untuk masuk Islam, sebuah kebijakan yang diturunkan dari firman Allah, “Apakah kamu (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?” (QS. Yunus: 99).

Tidak disangsikan lagi bahwa umat Islam ingin menghilangkan tirani dan memberikan kesempatan pada rakyat untuk melihat, mengapresiasi, dan merengkuh cahaya Islam. Ketika sebuah bangsa ditaklukkan dan rakyatnya didakwahi dengan pengajaran Islam mereka dizinkan untuk memilih apakah mereka mau masuk Islam ataukah tetap pada agama mereka. Mereka diperbolehkan tetap pada agama mereka selama mereka mematuhi  perjanjian mereka dengan umat Islam, yaitu:

  • Mereka membayar jizyah pada umat Islam. Jizyah ini dibayarkan oleh non-Muslim yang tinggal di negara Islam. Pilihan ini memberi hak pada non-Muslim untuk tetap mengikuti agama mereka dan juga menjamin mereka bahwa selama mereka tetap setia pada pemerintahan Islam, umat Islam akan berlaku adil pada mereka dan melindungi mereka dari seluruh musuh. Sebagaimana warga Muslim yang lain, mereka juga mendapatkan keamanan dan keselamatan, dan tidak ada seorang pun yang mempunyai hak untuk mencuri harta benda mereka atau merampasnya.
  • Ada beberapa pekerjaan yang tidak bisa mereka ikuti; misalnya, karena loyalitas mereka kepada Islam masih diragukan mereka tidak diizinkan bergabung dengan militer Islam.
  • Mereka tidak boleh memberikan ancaman pada umat Islam dan agama mereka, dan mereka juga  tidak diperbolehkan membentuk berbagai pergerakan yang  bertujuan untuk menghancurkan, merusak, atau mendistorsi segala aspek tentang Islam.
  • Mereka diperbolehkan untuk tetap memeluk agama mereka, tapi jika mereka ingin pindah agama, mereka hanya boleh memeluk agama Islam.

Islam mengakui bahwa keyakinan itu di dalam hati, yaitu bagian dari tubuh manusia yang kebal dari paksaan. Karena itu umat Islam tidak memaksa orang lain untuk memeluk Islam, tapi melalui perilaku dan perkataan, melalui dakwah dan perbuatan, mereka berusahan mengpengaruhi non-Muslim dengan harapan bahwa mereka, atas keinginan sendiri, menerima dan memeluk Islam.

STRATEGI MILITER ABU BAKAR ASH-SHIDDIQ[31]

Dengan mempelajari penaklukan miter yang terjadi pada masa khilafah Abu Bakar, kita mampu melihat pola strategi kunci yang ia gunakan untuk meraih kemenangan melawan musuh. Di antara strategi penting tersebut adalah sebagai berikut:

  1. a.      Menaklukkan Wilayah Musuh Satu Kota Satu Waktu

Jelas, bagi kalangan umat Islam, pengambil keputusan dan strategi secara umum dalam perang waktu itu adalah Abu Bakar, bukan para komandannya. Abu Bakar menggunakan layanan dari para utusannya yang terpercaya dan cepat untuk bisa berkomunikasi secara konstan dengan para komandannya. Dengan mempelajari invasi Irak dan Syam, kita mampu melihat bahwa ada dua macam keputusan yang perlu diambil:

Pertama, terkait dengan strategi perang secara umum yang meliputi persoalan antara lain: siapa yang menyerang, kapan menyerang, kapan mundur, kapan bergabung dengan pasukan lain, kapan merasa cukup dengan jumlah tentara dalam satu kesatuan pasukan, dan seterusnya. Seorang komandan Muslim bisa membuat keputusan secara langsung di lapangan hanya ketika aksi tersebut perlu diambil dengan segera—yaitu ketika tidak ada waktu untuk menunggu perintah Abu Bakar. Namun, saat itu komandan tersebut membuat keputusan dan kemudian menginformasikan kepada Abu Bakar keputusan tersebut.

Kedua, tentang keputusan tempur, yang harus dilakukan terkait dengan strategi tempur untuk perang tertentu—di mana menempatkan masing-masing batalion, di mana menempatkan pasukan kavaleri, formasi apa yang terbaik untuk mengalahkan musuh, dan seterusnya. Keputusan tersebut hampir selalu diserahkan kepada para komandan.

Di antara keputusan yang masuk kategori pertama adalah pertanyaan tentang seberapa cepat pasukan muslim harus melakukan penetrasi ke dalam teritorial musuh. Satu teori menyatakan bahwa pasukan Islam sebaiknya melakukan penetrasi ke dalam teritorial musuh sedalam dan secepat mungkin. Namun, Abu Bakar menolak teori ini. Ia dengan tegas memerintahkan kepada para komandannya untuk mengamankan wilayah musuh yang paling dekat sebelum melakukan penetrasi ke dalam teritorial musuh yang lebih dalam. Ketika Abu Bakar memerintahkan Khalid dan Iyad untuk menyerang Irak dari wilayah utara dan selatan, ia mengirimkan pesan yang sama kepada keduanya:

“Siapa pun di antara kalian yang tiba lebih dahulu di Al-Hirah, ia menjadi pemimpin kalian. Jika kalian berdua telah berkumpul di Al-Hirah—insyaallah—dan berhasil menghancurkan pertahanan Persia, sehingga kalian dan kaum muslimin yang bersama kalian merasa aman, hendaknya salah seorang di antara kalian menjadi pelindung kaum muslimin di Al-Hirah. Adapun yang lain hendaknya menyerang tentara Persia dan melucuti semua persenjataan mereka.”

Surat ini menunjukkan bahwa Abu Bakar bukanlah pemula dalam seni perang. Sebaliknya, ia adalah veteran dari banyak perang. Ia sangat tahu bagaimana cara mengalahkan musuh dan bagaimana mematahkan keinginan mereka. Superioritas wawasan perang Abu Bakar diakui oleh ahli perang terhebat saat itu, yaitu Khalid bin Walid. Khalid tidak hanya melaksanakan perintah Abu Bakar, tetapi ia juga paham bahwa dengan menjalankannya merupakan hal terbaik yang bisa ia lakukan untuk meraih kemenangan.

Ketika Khalid berjalan ke wilayah utara Al-Hirah untuk membantu Iyad menuntaskan misinya, ia berhenti di Karbala. Pasukan Islam banyak yang mengeluh kepadanya tentang banyaknya lalat. Kemudian Khalid berkata kepada Abdullah bin Watsimah, “Sabarlah, karena aku ingin menghancurkan benteng musuh yang ia diperintahkan untuknya, sehingga kita bisa menduduki wilayah tersebut bersama dengan orang-orang Arab dan melindungi pasukan Islam dari serangan dari garis belakang. Kemudian orang-orang Arab akan mendatangi kita tanpa rasa takut dari sergapan musuh. Demikianlah perintah khalifah untuk kita, dan sungguh, idenya memang benar-benar menyelamatkan umat.”

Di Irak, Al-Mutsanna bin Haritsah mengadopsi strategi yang sama. Saat itu, Abu Bakar berpesan kepadanya, “Perangilah orang-orang Persia di garis perbatasan tanah mereka, di tempat yang paling dekat dengan tanah Arab. Jangan menyerang di daerah musuh. Jika Allah menampakkan tanda-tanda kemenangan untuk pasukan Islam, bergeraklah maju di belakang mereka. Jika tidak, kembalilah ke dalam barisan, karena musuh lebih mengetahui seluk-beluk negeri mereka, dan lebih berani melakukan serangan dari tempat mereka, sampai Allah membalikkan keadaan mereka.”

Adapun dalam menaklukkan negeri Syam, padang tandus senantiasa berada di belakang pasukan Islam, sebagai upaya perlindungan diri. Meski sudah demikian posisinya, pasukan Islam tetap memastikan sebelumnya bahwa pasukan musuh tidak mungkin menemukan cara untuk menyerang mereka secara tiba-tiba dari arah belakang.

Di samping itu, mereka juga telah lebih dahulu menguasai kota serta daerah yang berada di samping kanan dan kiri mereka. Semua celah yang dapat di masuki musuh juga telah diantisipasi dengan melakukan berbagai serangan. Area yang mereka tempati itu pun senantiasa berada dalam pengawasan dan penjagaan yang sangat ketat.

  1. b.      Memobilisasi dan Mengonsolidasikan Pasukan

Abu Bakar tidak menyelenggarakan wajib militer pada masa kekhilafahannya, atau dengan kata lain, ia tidak memaksa seorang pun untuk ikut serta dalam berperang. Namun, kemenangan tidak akan tercapai tanpa jumlah pasukan yang cukup. Abu Bakar tidak lah menginvasi kekuatan yang remeh, tapi dua kekuatan super power saat itu, yaitu imperium Romawi dan Persia. Pertanyaannya sekarang adalah, bagaimana ia mendapatkan pasukan untuk mencapai tujuannya menaklukkan Irak dan Syam? Ini adalah pertanyaan yang bagi Abu Bakar tidak dianggap remeh, terutama dengan mempertimbangkan fakta bahwa ia menerapkan aturan yang sangat ketat dalam perekrutan pasukan. Ketika Khalid dan Mutsanna memutuskan untuk meminta pasukan tambahan, karena jumlah pasukan mereka tidak mencukupi kebutuhan perang yang ada, Abu Bakar kemudian membalas surat keduanya dengan berkata, “Ambillah pasukan Islam yang sebelumnya ikut Perang Riddah dan orang-orang yang tetap berada dalam agama Islam setelah Rasulullah wafat. Jangan kalian merekrut pasukan dari kalangan orang yang pernah murtad sekalipun mereka insaf, sebelum saya memutuskan apa yang harus aku lakukan kepada mereka.”

Meski demikian, Abu Bakar mengambil beberapa langkah kunci untuk meyakinkan rakyatnya agar bersedia berjihad: Ia menyampaikan ceramah yang menggerakkan, dengan mengingatkan rakyatnya tentang pahala berjihad di jalan Allah. Selain itu, ia juga meminta bantuan kepada umat Islam di Yaman. Dampaknya, banyak orang yang secara sukarela bergabung untuk berperang di Irak dan Syam. Ringkasnya, waktu itu tidak diperlukan wajib militer karena sukarelawan yang bergabung untuk berperang sudah mencukupi, mereka menunggu janji Allah: kemenangan atau mati sebagai syuhada. Dan faktanya, karena tingginya keimanan mereka, banyak orang yang lebih memilih pilihan kedua.

Abu Bakar memfokuskan energinya untuk meyakinkan rakyatnya agar bergabung bersama pasukannya tidak hanya sebelum invasi Irak dan Syam, namun juga saat invasi berlangsung. Ia terus mengirimkan pasukan tambahan untuk para komandannya—beberapa pasukan batalyon yang terdiri dari ratusan orang—hingga akhir hayatnya.

  1. c.       Memastikan Tujuan Perang

Abu Bakar Ash-Shiddiq tentu saja tahu apa tujuan utamanya dalam menginvasi Irak dan Syam, tapi itu tidak cukup: Ia juga memastikan bahwa seluruh prajuritnya mempunyai pemahaman yang sama. Dalam ceramahnya, dan juga dalam nasihat yang ia berikan kepada para komandan dan prajuritnya, Abu Bakar menegaskan bahwa mereka berperang untuk menyebarkan pesan Islam, untuk menyampaikannya kepada seluruh manusia di dunia, dan mencegah para tiran yang mencegah rakyatnya dari mempelajari agama yang benar. Para komandannya juga paham tentang tujuan mereka. Hal ini terbukti dari kesamaan pilihan yang diberikan kepada musuh: masuk Islam, membayar jizyah, atau perang.

  1. d.      Mengirim Pasukan ke Tempat yang Paling Membutuhkan

Abu Bakar Ash-Shiddiq mempunyai kebijakan yang jelas soal pengiriman pasukan ke medan perang: Jika ia berperang di banyak front, ia akan mengonsentrasikan pasukannya di front yang paling penting. Namun, bukan berarti ia mengesampingkan front yang lain. Ia berusaha seimbang, mengonsentrasikan sebagian besar pasukan di tempat yang paling membutuhkan, dan mengirimkan unit dan pasukan lain ke front lainnya. Contoh, Abu Bakar Ash-Shiddiq mengerahkan sebagian besar pasukannya untuk memerangi orang-orang murtad, karena mereka memberikan ancaman yang dekat dan berbahaya bagi umat Islam, namun ia tidak mengesampingkan medan tempur lainnya, yang dibuktikan dengan fakta bahwa ia tetap mengirimkan pasukan Usamah untuk berperang di perbatasan Romawi.

Dengan kata lain, Abu Bakar Ash-Shiddiq menunjukkan kemampuan yang brilian dalam menata distribusi pasukannya untuk mendapatkan hasil yang optimal. Pada pertengahan dan akhir kekhilafahannya, ia juga menyebarkan pasukannya antara Irak dan Syam. Lalu, ketika ia memandang bahwa perang di Syam tidak begitu baik hasilnya sebagaimana di Irak, ia memerintahkan Khalid bin Walid untuk membawa separuh pasukannya dan pindah dari Irak ke Syam. Dengan kondisi di mana mayoritas pasukannya berada di Syam, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak berarti mengabaikan Irak. Ia tetap menyisakan beberapa pasukan yang mencukupi di sana, dan menunjuk seorang pemimpin yang tangguh dan bijaksana, Mutsanna bin Haritsah.

Contoh di atas hanyalah salah satu contoh. Sepanjang kekhalifahannya, Abu Bakar Ash-Shiddiq terus menyebarkan, menyebarkan ulang, menugaskan, dan mentransfer pasukan berdasarkan tingkat kebutuhan di masing-masing medan perang. Dengan melakukannya dalam sebuah cara yang secara strategis sangat brilian, ia telah menanamkan kepercayaan diri kepada para pasukannya, yang memahami bahwa jika jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding musuhnya, mereka bisa meminta kepada sang pemimpin untuk mengirimkan pasukan yang cukup, yang paling tidak bisa memberi kesempatan bagi mereka untuk menang.

  1. e.       Mengganti Komandan Perang

Tidak ada gubernur, komandan, atau pemimpin pasukan yang dijamin bahwa ia akan menduduki jabatannya seumur hidup; sebaliknya, semua pejabat pemerintah terus dievaluasi berdasarkan performa mereka. Jika seseorang lalai dalam tugasnya, ia akan dipecat. Dan bahkan jika seseorang jujur dan sudah melakukannya semampu yang ia lakukan, namun ternyata gagal untuk mencapai misinya, Abu Bakar Ash-Shiddiq akan mempertimbangkan untuk memecatnya jika ada yang dirasa mampu mengerjakannya dengan lebih baik. Ini adalah sikap yang adil dan benar, karena dalam kebijakan Abu Bakar Ash-Shiddiq kebaikan bersama yang lebih luas lebih penting dibanding perasaan individu. Ini adalah realita pelayanan publik di masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan harusnya menjadi realita dalam pemerintahan manapun. Misalnya, saat Khalid bin Said gagal dalam menjalankan misinya di Tabuk. Khalid bin Said adalah orang yang jujur dan tulus; ia melakukan yang terbaik untuk menjalankan misinya, namun pada akhirnya gagal. Hal tersebut tidak membuat derajatnya berkurang sebagai seorang Muslim, namun kondisi tersebut memicu pertanyaan apakah ada orang lain yang mampu untuk menggantikan peran yang gagal dijalankan oleh Khalid bin Said tersebut. Abu Bakar Ash-Shiddiq terus memikirkan pertanyaan ini dan akhirnya memutuskan untuk mengganti Khalid dengan Ikrimah. Pada akhirnya, Ikrimah berhasil menyelesaikan misinya.

Selain itu, meski seseorang mempunyai kualifikasi untuk melakukan satu tugas, dan bahkan mempunyai performa yang baik, Abu Bakar Ash-Shiddiq tetap tidak segan-segan menggantinya jika ada orang yang mempunyai kualifikasi yang lebih baik. Mutsanna menunaikan tugas dengan sangat baik di Irak, namun Khalid mempunyai kualifikasi yang lebih baik dan lebih memiliki kemampuan untuk memenangkan pertempuran di masa depan. Dan di Syam, Abu Ubaidah sangat cocok memimpin pasukan di wilayah tersebut, namun lagi-lagi Abu Bakar Ash-Shiddiq berpikir bahwa lebih baik menggantinya dengan seorang komandan militer yang lebih baik, Khalid bin Walid.

Karenanya, dalam soal urusan penunjukan dan penggantian komandan militer, Abu Bakar Ash-Shiddiq lebih mementingkan kebaikan bersama umat Islam dibanding perasaan perseorangan. Sebagai pemimpin kaum muslimin, Abu Bakar Ash-Shiddiq paham bahwa dalam perang, dan dalam kehidupan secara umum, kepentingan yang sedikit tidak melebihi kepentingan orang banyak.

  1. f.       Berkomunikasisecara Konstan dengan Para Komandan Perang

Pada masa kekhilafahan Abu Bakar Ash-Shiddiq, belum ada kamera, foto satelit, pesawat pengintai, telepon, atau segala bentuk teknologi lain yang memudahkan pemimpin untuk berkomunikasi dengan pasukannya secara real time. Selalu ada masa Selalu ada delay: waktu yang diperlukan oleh utusan untuk berjalan dari medan perang ke Madinah. Namun, berdasarkan seluruh peristiwa yang terjadi selama perang riddah dan juga invasi ke Irak dan Syam, seolah-olah Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak berada di Madinah, namun hadir dalam setiap zona perang. Dia memberi komando dan merencanakan rute perjalanan bagi pasukannya seolah-olah ia bisa melihat semua yang terjadi di zona perang, dan seolah-olah ia memiliki akses peta modern yang menunjukkan topografi setiap wilayah.

Bagaimana Abu Bakar Ash-Shiddiq bisa seolah-olah hadir di setiap medan perang? Tidak dengan sihir tentuya, namun ia melakukannya dengan sistem pengiriman pesan yang rumit yang telah ia kembangkan bersama dengan para komandannya. Sebagaimana pentingnya pasukan di medan tempur, para pembawa pesan yang berjalan di antara Madinah dan medan perang juga sangat penting. Mereka membawa pesan antara Abu Bakar dan para komandannya. Para utusan Abu Bakar Ash-Shiddiq adalah orang-orang yang terpercaya, mereka hanya sedikit beristirahat untuk memastikan pesan sampai secepat mungkin. Mereka juga sangat hati-hati dan menjaga rahasia, untuk menghindari informasi tentang rencana Abu Bakar Ash-Shiddiq jatuh ke tangan musuh.

  1. g.      Mengisolasi Medan Perang

Ketika Abu Bakar mulai menyiapkan pasukan untuk memerangi Romawi dan Persia, ia mengirimkan Khalid bin Sa’id ke Tabuk dengan misi utama menguasai wilayah strategis sebagai titik utama untuk bergerak. Abu Bakar melakukan itu agar pasukannya menjadi pelindung bagi kaum muslimin selanjutnya. Ketika Khalid bin Sa’id tidak berhasil dalam menjalani misinya ini, dan justru melakukan kesalahan, Ikrimah bin Abu Jahal ditugaskan menggantikan posisinya. 

  1. h.      Strategi Perang yang Selalu Berkembang Seiring Perubahan di Lapangan

Saat berita keberangkatan pasukan Romawi yang didukung kekuatan orang-orang Damaskus sampai ke telinga Abu Bakar, ia segera menulis surat kepada Abu Ubaidah yang berbunyi, “Kerahkanlah pasukan berkudamu ke wilayah antara Al-Qura dan As-Sawad. Desaklah pasukan musuh dengan menutup jalan antara Mirah dan Madah, serta janganlah mengepung Madain sebelum aku memerintahkannya.”

Itu adalah perintah pertama, dan setelah Abu Bakar mengirim pasokan tentara yang cukup, ia pun kembali menulis surat, “Jika musuh menyerang pasukanmu, lawanlah mereka dan berdoalah memohon bantuan Allah untuk menghadapi mereka, karena jika setiap kali musuh mendapat bantuan maka kami pun akan mengirim bantuan pasukan seperti mereka.”

KESIMPULAN

Memang, Abu Bakar dikenal oleh umat Islam akan ketaatannya, kedekatannya dengan Rasul, kelembutannya, ketakwaannya kepada Allah, dan ilmunya, Namun, ia juga adalah seorang ahli militer yang brilian, bahkan salah satu yang terbaik dalam sejarah manusia.

Pada saat yang menentukan (kritis), ia mengambil keputusan dan kebijakan politik yang berani dan tidak populer melawan orang-orang murtad; sebuah keputusan yang pada akhirnya akan mengubah sejarah.

Terkait kebijakan luar negeri, Abu Bakar berusaha mencapai tujuan sebagai berikut:

  • Membuat bangsa lain takut kepada umat Islam.
  • Melanjutkan jihad.
  • Menegakkan keadilan di wilayah yang ditaklukkan, dan bersikap lemah-lembut terhadap bangsa yang ditaklukkan.
  • Memberikan kebebasan beragama kepada orang yang ditaklukkan.
  • Berusaha membuat orang-orang di seluruh dunia untuk mendengarkan pesan Islam.

Perang bukanlah sesuatu yang remeh, juga bukan sesuatu yang dilakukan dengan cara-cara yang kejam dan serampangan, tanpa menghiraukan aturan dan prinsip-prinsip yang benar. Ada aturan yang harus diikuti dan semua pihak yang terlibat dalam perang memiliki hak yang harus ditunaikan. Abu Bakar menegaskan hal tersebut dalam surat-surat yang ditulis kepada para komandan pasukannya. Tetapi, lebih daripada itu semua, Allah memiliki hak atas pasukan Islam. Misalnya, sepanjang mereka berperang membela keadilan, mereka harus sabar dan teguh di medan perang. Mereka juga harus ikhlas dengan menempatkan ridha Allah di atas tujuan yang lain. [Ali Sadikin]



[1] As-Suyuthi, Tarikh Khulafa, hal. 26.
[2] Ibnu Qutaibah, Al-Ma’arif, hal. 105.
[3]Muhammad Syamil as-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khulafa`ur Rasyidin Ibnu Katsir, hal. 13
[4]Ibid, hal. 14.
[5] Saqifah bani Sa’idah berada di Madinah. Ia semacam aula atau balai urung yang biasa mereka gunakan untuk mengadakan pertemuan dan bermajlis. Bani Sa’idah sendiri, pemilik Saqifah ini, adalah salah satu kelompok dari kaum Anshar. Lokasi Saqifah bani Sa’idah berdekatan dengan pasar Madinah dan juga berdekatan dengan rumah Sa’ad bin Ubadah.
[6] Lihat Tarikh Ath-Thabari, jld. 3, hal. 218. Lihat juga Muhammad Ridha, Abu Bakr Ash-Shiddiq, hal. 42-43.
[7] Lihat Tarikh Ath-Thabari, jld. 3, hal. 19-20.
[8] HR. Ahmad dalam Musnad-nya, no hadits. 19. Lihat juga Ali Ash-Shalabi, Sirah Abu Bakr Ash-Shiddiq, hal. 118-119.
[9] Beberapa riwayat menyebutkan perselisihan antara Umar bin Khaththab dengan Hubab bin Al-Mundzir ketika di Saqifah. Menurut Ali Ash-Shalabi, riwayat tersebut tidaklah shahih.
[10]Muhammad Ridha, Abu Bakar Ash-Shiddiq, hal. 48.
[11]Ali Ash-Shalabi, Sirah Abu Bakr Ash-Shiddiq, hal. 118. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa manakala orang-orang Muhajirin bergerak membaiat Abu Bakar, Basyir bin Sa’ad pun segera berbaiat mendahului mereka. Dengan demikian, ia menjadi orang pertama yang berbaiat kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.
[12] Ibid, hal. 121-124. Lihat juga Mahmud Syakir, At-Tarikh Al-Islami, jld. 3, hal. 57.
[13] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, jld. 6, hal. 301
[14] Ibid.
[15] Ali Ash-Shalabi, Sirah Abi Bakr Ash-Shiddiq, 138-139.
[16] As-Suyuthi, Tarikhul Khulafa, hal. 59.
[17] Jurf adalah suatu tempat berjarak tiga mil dari Madinah ke arah Syam.
[18] Mahmud Syakir, At-Tarikh Al-Islami, jld. 3, hal. 65.
[19] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, jld. 6, hal. 305.
[20] Mahmud Syakir, op. cit, hal. 66.
[21] Ali Ash-Shalabi, Sirah Abi Bakar Ash-Shiddiq, hal. 189-190.
[22] Muhammad Ridha, Abu Bakar Ash-Shiddiq, hal. 76-77.
[23] Ibid, hal. 72.
[24] ‘Iqal artinya tali. Ini hanya dijadikan perempamaan untuk sekecil apa pun barang yang mungkin tidak mereka tunaikan. Ada yang berpendapat, maksud ‘iqal adalah barang zakat itu sendiri, yaitu anak kambing.
[25] Muhammad Ridha, Abu Bakar Ash-Shiddiq, hal. 74.
[26] Ibid, hal. 82-87.
[27] Ali Ash-Shalabi, Sirah Abi Bakr Ash-Shiddiq, hal. 278.
[28] Ibid, hal. 409.
[29] Ibid, hal. 410.
[30] Lihat Ali Ash-Shalabi, The Biography of Abu Bakr As-Siddeeq, (penerjemah: Faisal Shafeeq), hal. 687-692.
[31] Lihat Ali Ash-Shalabi, The Biography of Abu Bakr As-Siddeeq, (penerjemah: Faisal Shafeeq), hal. 694-700.