MERUNTUHKAN HEGEMONI PERSIA DAN ROMAWI, Foreign Policy Khalifah Umar Bin Khaththab

30 May 2016

Prestasi yang berhasil ditoreh Umar bin Khaththab tatkala menjabat khalifah terasa cukup unik dan mengesankan. Umar bin Khaththab yang dijuluki oleh Rasulullah sebagai Al-Faruq langsung menjabat sebagai khalifah pengganti Abu Bakar setelah kematiannya pada tahun 13 Hijriah. Jika Abu Bakar adalah khalifah yang berjasa mengokohkan politik Islam dan membuka jalan bagi pembebasan negeri-negeri di sekitarnya dengan foreign policy (kebijakan luar negeri) yang diambilnya, terkhusus Irak dan Syam, maka dapat dikatakan bahwa Umar bin Khaththab adalah penyempurna foreign policy Abu Bakar. Sejarah mencatat, dalam rentang waktu selama sepuluh tahun lebih masa khilafahnya, Umar berhasil meruntuhkan hegemoni Persia dan Romawi, terkhusus di wilayah Irak, Syam, Mesir dan Jazirah Arab. Bahkan tidak hanya berhasil meruntuhkan hegemoni Persia, Umar bin Khaththab juga tuntas melenyapkan eksistensi Persia.

BIOGRAFI UMAR BIN KHATHTHAB

Dilahirkan 13 tahun setelah Tahun Gajah[1], ia diberi nama Umar oleh orang tuanya, Khaththab. Garis keturunannya bertemu dengan Rasulullah pada kakek yang kedelapan, yaitu Ka’ab bin Luayy bin Ghalib[2]. Sementara ibunya adalah Hantamah binti Hisyam bin Al-Mughirah, dari bani Makhzum, kakak dari Abu Jahal bin Hisyam[3].

Jika Abu Bakar berasal dari bani Taim, maka Umar bin Khaththab juga berasal dari keluarga terpandang bangsa Quraisy, bani ‘Adi. Kakeknya, Nufail bin Abdul Uzza termasuk orang yang diminta pertimbangan oleh bangsa Quraisy jika terjadi pertikaian[4].

Umar menghabiskan sebagian hidupnya pada masa jahiliah dan tumbuh berkembang seperti kebanyakan anak-anak bangsa Quraisy pada umumnya. Hanya saja karena berasal dari keluarga terpandang, Umar termasuk salah seorang pemuda Quraisy yang bisa membaca dan menulis pada saat itu. Suatu ketrampilan yang dapat dibilang cukup langka untuk bangsa Arab pada masa itu[5].

Semasa kecil, Umar sudah memikul tanggung jawab dan tugas yang bisa dibilang cukup berat. Ia tumbuh dalam kehidupan sangat keras yang tidak mengenal kemewahan. Dengan sikap keras dan kasar, ayahnya, Khaththab, menyuruhnya ke padang pengembalaan untuk mengembalakan unta miliknya[6]. Bahkan, Umar tidak hanya mengembala ternak milik ayahnya saja, namun juga pernah berkerja mengembala beberapa ternak milik bibinya dari pihak ibu[7].

Selain berprofesi sebagai penggembala, Umar juga terlibat dalam perdagangan dan mendapatkan keuntungan darinya, meski ia tidak menjadi salah seorang konglomerat di Mekah. Dari aktivitas perdagangan ini, ia mendapatkan berbagai macam pengetahuan dari negara yang disinggahinya saat berdagang.

Umar menempati posisi yang menonjol pada masyarakat Mekah Jahiliah dan secara efektif memberi sumbangsih pada peristiwa di Mekah. Ia terbantu oleh sejarah mulia nenek moyangnya. Interaksi Umar dengan kakeknya dan latar belakang keluarganyalah yang pada akhirnya memberi pengalaman, ilmu dan pengetahuan mengenai kondisi-kondisi orang Arab dan kehidupan mereka. Apalagi dengan kepandaian dan kecerdasannya, orang-orang Arab selalu merujuk pada Umar bin Khaththab untuk menguraikan perselisihan mereka[8].

Pada fase hidupnya, Umar pernah menjalani hidup pada masa jahiliah, mengukur kedalamannya, memahami hakikatnya, tradisinya, adat istiadatnya, dan membelanya dengan segenap kekuatan yang dimilikinya. Oleh karenanya, ketika ia memeluk Islam, kemudian memahami keindahannya, hakikatnya, dan meyakini perbedaan antara kebenaran dan kebatilan, dan juga antara keimanan dan kekufuran, maka keislamannya begitu bermakna pada dirinya. Tidaklah mengherankan jika ia pernah berujar, “Sesungguhnya, ikatan Islam akan terlepas ikat demi ikat, apabila seseorang tumbuh dalam Islam yang tidak mengenal jahiliah[9].”

Umar memeluk Islam pada saat berusia 27 tahun[10].  Saat itu, enam tahun setelah Rasulullah diangkat sebagai seorang Nabi. Ia tercatat sebagai laki-laki ke 40 yang menyatakan keislaman mereka. Sejarawan mencatat bahwa keislamannya hanya berjarak tiga hari setelah keislaman paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthallib[11].

Sebelum keislamannya, Umar bahkan sempat berkeinginan untuk membunuh Rasulullah. Namun, hidayah Allah lebih dahulu menyelinap dalam hatinya kemudian malah berbalik mencintai Rasululullah[12].  Keislaman Umar, bagaimanapun, tidak terlepas dari peran doa Rasulullah : “Ya Allah! Kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua orang yang paling Engkau cintai; Abu Jahal bin Hisyam atau Umar bin Khaththab[13].”

Keislaman Umar memberi pengaruh besar terhadap dakwah Islam. Umarlah yang mengusulkan kepada Rasulullah untuk mendakwahkan Islam secara terang-terangan dan dikabulkan oleh Rasulullah, sehingga untuk pertama kalinya umat Islam bisa terang-terangan masuk ke Masjidil Haram secara berombongan. Umarlah yang berani terang-terangan menyatakan keislamannya di hadapan para tokoh bangsa Quraisy[14]. Selain itu, ketika umat Islam lainnya sembunyi-sembunyi berhijrah ke Yatsrib (Madinah), justru Umar menantang bangsa Quraisy, yaitu siapa di antara mereka yang berani menghalanginya berhijrah ke Yatsrib[15].

UMAR DILANTIK SEBAGAI KHALIFAH

Pengalaman selama sekitar 17 tahun mendampingi Rasulullah  dan sekitar 2 tahun lebih ikut serta membantu Abu Bakar Ash-Shiddiq dalam menjalankan roda kekhalifahan merupakan bekal paling berharga yang dimiliki Umar bin Khaththab sebagai khalifah. Segala aspek yang berkaitan tentang khilafah telah ia kuasai dengan baik. Ia tahu betul pekerjaan apa saja yang telah, sedang, dan yang belum dilakukan dan belum tercapai pada masa Abu Bakar. Visi dan misi kekhalifahan yang dipahami Abu Bakar dan diwarisi dari Rasulullah, telah mendarah daging dalam diri Umar. Tidaklah mengherankan jika selama sepuluh tahunan menjabat sebagai khalifah banyak terobosan yang telah ia lakukan.

Tidak sebagaimana Abu Bakar, yang saat dibaiat dan dilantik sebagai khalifah yang diawali dengan ketegangan antara pihak Muhajirin dan Anshar, proses pengangkatan Umar bin Khaththab berlangsung dengan kesepakatan dan kerelaan para tokoh Muhajirin dan Anshar[16].

Tatkala merasa sakit yang dideritanya semakin parah, Abu Bakar dengan sigap berusaha mencari pengganti sepeninggalnya kelak. Abu Bakar pun bermusyawarah dengan para sahabat. Semua sahabat berusaha menolak masalah kepemimpinan dari diri sendiri dan menyerahkannya kepada saudaranya yang dipandang lebih baik dan lebih layak. Oleh karena itu, mereka kembali menemui Abu Bakar seraya berkata, “Wahai Khalifah Rasulullah! Kami akan berpendapat seperti pendapatmu.” Abu Bakar lantas menanggapinya, “Biarkan aku sejenak hingga aku melihat masalah ini, demi kepentingan Allah, agama, dan hamba-hamba-Nya.”

Abu Bakar pun memanggil beberapa sahabat senior dari kalangan Muhajirin dan Anshar untuk meminta pendapat mereka tentang Umar bin Khaththab. Di antaranya yaitu Abdurrahman bin Auf, Utsman bin Affan, Usaid bin Khudair, Sa’id bin Zaid, dan Thalhah bin Ubaidillah. Mereka semuanya sependapat bahwa Umar bin Khaththab adalah orang terbaik setelah Abu Bakar dan setuju apabila nanti ditunjuk sebagai pengganti Abu Bakar sebagai khalifah, kecuali Thalhah bin Ubaidillah yang agak keberatan lantaran sikap Umar yang keras. Abu Bakar pun lantas menjelaskan sebab sikap keras Umar kepada mereka, “Hal itu karena ia melihat aku bersikap lembut. Jika saja masalah kekhalifahan ini diserahkan padanya, niscaya ia akan meninggalkan watak dirinya[17].”

Abu Bakar menulis wasiat yang dibacakan kepada penduduk Madinah dan di berbagai kota melalui para panglima pasukan. Teks wasiat tersebut berbunyi:

“Bismillahirrahmanirrahim. Inilah yang diamanatkan oleh Abu Bakar bin Abu Quhafah di akhir masanya di dunia yang akan ditinggalkannya, dan di awal masanya di akhirat yang akan di masukinya. Yaitu tempat orang kafir akan beriman, pendosa akan yakin dan pendusta akan berkata jujur. Dengan pertimbangan matang aku mengangkat pemimpin untuk kalian setelahku, yaitu Umar bin Khaththab. Dengarkanlah ia dan patuhilah. Aku belum mampu mendatangkan kebaikan bagi Allah, Rasul-Nya, agama-Nya, dan kalian semua. Jika ia berlaku adil, hal itu sesuai persangkaanku dan pengetahuanku tentangnya. Apabila ia berlaku zalim, tiap-tiap orang akan mendapatkan dosa. Hanya kebaikanlah yang aku harapkan. Aku tidak mengetahui perkara yang gaib. ‘Dan orang yang zalim itu kelak akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali (QS. Asy-Syu’ara: 227)[18].”

Setelah mendengar wasiat itu, Umar menemui Abu Bakar dan mengutarakan keberatan dan keenggenannya menerima wasiat tersebut. Akan tetapi, pilihan dan keputusan Abu Bakar sudah final dan tidak bisa diganggu-gugat. Tidak ada pilihan lain, kecuali Umar harus menerimanya[19].

Abu Bakar menugaskan Utsman bin Affan untuk membacakan surat amanat kepada orang-orang dan kelak melakukan baiat terhadap Umar bin Khaththab sebelum Abu Bakar meninggal dunia dan setelah distempel[20].  Abu Bakar kemudian bertemu empat mata dengan Umar bin Khaththab untuk memberikan beberapa rekomendasi dan nasihat. Berikut nasihat tersebut:

“Bertakwalah pada Allah, Wahai Umar! Ketahuilah bahwa di sisi Allah terdapat amalan pada siang hari tetapi tidak diterima oleh Allah pada malam harinya, dan amalan di malam hari tetapi tidak diterima Allah pada siang harinya. Allah tidak menerima amalan sunah sebelum amalan wajib ditunaikan. Orang yang berat timbangan amalnya pada hari kiamat adalah yang mengikuti kebenaran di dunia. Orang yang ringan timbangan amalnya pada hari kiamat adalah yang mengikuti kebatilan di dunia. Allah  menyebutkan penghuni surga, menyebutkan amal perbuatan terbaik mereka dan mengampuni keburukannya. Jika engkau mengingat mereka katakanlah, ‘Aku takut jika tidak bertemu mereka.’ Allah menyebutkan penghuni neraka, menyebutkan amal perbuatan terburuk mereka dan menolak kebaikannya. Apabila engkau mengingat mereka, katakanlah, ‘Aku berharap tidak bersama dengan mereka’. Hendaklah seorang hamba berharap dan takut, tidak berandai-andai terhadap Allah, serta tidak berputus asa akan rahmat-Nya. Apabila engkau menjaga wasiatku ini, janganlah sesuatu yang gaib menjadi yang lebih engkau cintai daripada kematian. Karena kematian pasti menghampirimu. Jika engkau menyia-nyiakan wasiatku ini, janganlah sesuatu yang gaib menjadi yang lebih engkau benci daripada kematian. Karena engkau tidak akan bisa membuat kematian tidak berdaya[21].”

Dari proses pengangkatan Umar bin Khaththab jelaslah bahwa pencalonan Umar oleh Abu Bakar tidak memiliki kekuatan secara syar’i selama tidak berpijak pada kerelaan mayoritas umat Islam terhadap Umar. Abu Bakar tidak menetapkan pencalonan Umar kecuali setelah berkonsultasi dengan para tokoh sahabat. Abu Bakar bertanya kepada setiap mereka secara pribadi. Ketika kesepakatan mereka sudah kuat, baru Abu Bakar mengumumkan pencalonan Umar[22].

Pada Senin, 21 Jumadal Tsani 13 Hijriah, setelah Maghrib, Abu Bakar meninggal dunia[23]. Sejak saat itu, Umar bin Khaththab langsung menggantikan dan melaksanakan tugas-tugas dengan sebaik-baiknya sebagai khalifah. Setelah resmi menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khaththab lantas  berpidato di hadapan umat Islam,

“Sesungguhnya, Allah menguji kalian dengan aku, dan mengujiku dengan kalian setelah sahabatku (Abu Bakar). Demi Allah! Tidak datang kepadaku suatu perkara kalian kemudian perkara itu ditangani oleh seseorang selain aku. Tidak seorang absen dari hadapanku, lalu ia tidak melakukan pembagian dan amanah. Demi Allah! Jika mereka berbuat baik, pasti aku akan berbuat baik kepadanya. Apabila mereka berbuat buruk, niscaya aku akan menjauhinya[24].”

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa pidato perdana Umar bin Khaththab, setelah ia memuji Allah dan menyanjung-Nya, yaitu,

“Bacalah Al-Qur`An, pahami dan amalkanlah, maka engkau akan menjadi ahlinya. Evaluasilah diri kalian sebelum kalian dievaluasi. Berhiaslah untuk pertunjukan yang besar, di hari di mana kalian dihadapkan kepada Allah. Tiada sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah). Sesungguhnya, orang yang memiliki hak tidak dipatuhi jika ia bermaksiat kepada Allah. Ingatlah bahwa aku memosisikan diriku tentang harta Allah seperti posisi seorang wali anak yatim. Jika sudah berkecukupan, aku akan menahan diri. Apabila membutuhkan, aku akan memakan dengan cara yang baik[25].”

Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa setelah dua hari diangkat sebagai khalifah, orang-orang berbicara tentang ketakutan mereka kepada kekerasan Umar bin Khaththab. Umar menyadari bahwa ia sendiri yang harus menjelaskan permasalahan ini. Umar pun berpidato di hadapan mereka. Umar menyebutkan sebagian sikapnya bersama Nabi dan Khalifah Abu Bakar, dan sebagaimana mereka berdua meninggal dunia dalam keadaan ridha kepadanya.

Umar bin Khaththab berkata, “Kemudian aku telah mengurusi masalah kalian, wahai manusia. Ketahuilah bahwa kekerasan itu telah melemahkanku. Ketahuilah bahwa kekerasan itu hanya aku tujukan kepada orang-orang zalim dan melampaui batas. Aku tidak akan membiarkan seseorang berbuat zalim kepada siapa pun, atau melebihi batas, hingga aku meletakkan pipinya di atas tanah dan meletakkan kakiku di atas pipi lainnya, hingga ia mendengarkan kebenaran. Setelah sikap kerasku ini, aku akan meletakkan pipiku pada orang-orang yang memiliki harga diri dan kesucian dan merasa cukup dengan rezeki yang diperolehnya. Aku mempunyai kewajiban untuk berakhlak seperti yang telah aku ucapkan. Tuntunlah aku agar konsekuen terhadap akhlak tersebut. Kewajibanku terhadap kalian, aku tidak akan menggunakan sedikitpun pajak bumi kalian, begitu juga seluruh harta rampasan (fa`i) yang diberikan Allah kepada kalian, kecuali sesuai dengan ketentuan-Nya. Kewajibanku terhadap kalian, jika terjadi sesuatu di hadapanku, ia tidak akan keluar kecuali hak-haknya terpenuhi. Kewajibanku terhadap kalian, aku akan menambah bantuan dan rezeki kalian— insyaallah—dan memenuhi kebutuhan kalian di perbatasan. Kewajibanku terhadap kalian, aku tidak menjerumuskan kalian pada kebinasaan, tidak menempatkan kalian selamanya di perbatasan. Jika kalian sedang dalam ekspedisi pasukan, akulah yang akan menanggung keluarga kalian hingga kalian kembali kepada mereka. Bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah! Bantulah aku untuk menjaga diri kalian dengan cara menahan diri kalian. Bantulah aku untuk menjaga diriku dengan cara beramar makruf dan nahi mungkar, menasihati aku dalam urusan kalian yang diamanatkan kepadaku. Aku mengatakan ucapanku ini dan meminta ampun kepada Allah untuk diriku dan diri kalian[26].”

Dalam riwayat lain disebutkan, “Orang Arab tidak lain seperti unta jinak yang mengikuti penuntunnya. Hendaklah ia melihat penuntunnya ke mana pun ia menuntunnya. Adapun aku, demi Rabb Ka’bah, akan membawa kalian di atas jalan- Nya[27].”

MERUNTUHKAN HEGEMONI DAN EKSISTENSI PERSIA

Setelah menjadi khalifah, foreign policy pertama yang diambil oleh Umar bin Khaththab adalah mengirim pasukan tambahan ke Irak yang saat itu berada di bawah kekuasaan Persia. Pada kesempatan itu, Umar menunjuk Abu Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi sebagai komandan perang, yang didampingi oleh Sa’ad bin Ubaid dan Salith bin Qais.

1. Perang Namariq[28][13 H/634 M]

Sebulan selepas keberangkatannya dari Madinah, Abu Ubaid tiba suatu padang pasir di dekat Namariq. Di sana Mutsanna sudah menunggunya untuk bergabung dengan pasukan Abu Ubaid sebagaimana yang diinstruksikan Umar kepadanya. Setelah istirahat beberap hari beristirahat, Abu Ubaid pun menyerang pasukan Persia yang dipimpin Jaban di Namariq. Mereka berhasil membuat Jaban beserta pasukan terpukul mundur[29].

2. Perang Saqathiya [13 H/634 M]

Abu Ubaid kemudian melanjutkan perjalanannya menuju Kaskas. Kota tersebut dipimpin oleh putra paman Kaisar Persia yang bernama Narsi. Kemudian Narsi menggiring pasukannya untuk melawan Abu Ubaid dan akhirnya bertemu di Saqathiya. Pada perang itu, Abu Ubaid berhasil mengalahkan pasukan Narsi dan mendapatkan ghanimah yang berjumlah besar[30].

3. Perang Barosma [13 H/634 M]

Tidak lama kemudian, pasukan Islam yang dipimpin Abu Ubaid kembali bertemu dengan pasukan Persia di Barosma, suatu tempat yang terletak antara Kaskar dan Saqathiya. Dalam pertempuran ini lagi-lagi pasukan Islam meraih kemenangan atas pasukan Persia[31].

4. Perang Jisr (Jembatan) [13 H/634 M]

Perang ini terjadi di daerah antara Qussannathif[32]  dan Marwahah[33]. Abu Ubaid beserta pasukannya menyeberangi sungai Eufrat dari sebelah timur, Marwahah. Sementara pasukan Persia yang dikomandani Bahman yang ditunjuk oleh Rustum untuk membalas kekalahan Persia tiba dari Qussannathif. Bahman mengirim utusan dengan secarik surat, “Menyeberanglah kepada kami, kami akan membiarkan kalian menyeberang; atau kalian yang membiarkan kami menyeberang.”

Abu Ubaid lalu memutuskan untuk pasukan Islamlah yang menyeberang meski mendapat ketidaksetujuan dari beberapa orang yang bersamanya. Pada perang itu, kuda-kuda pasukan Islam melihat gajah besar Persia yang belum pernah mereka lihat sebelumnya sehingga membuat kuda-kuda itu takut dan tidak mau bergerak maju. Setiap kali pasukan Persia menyerbu dengan pasukan gajah dan genta-genta yang mereka bunyikan, kuda-kuda pasukan Islam tidak bisa dikendalikan dan pasukan mereka pun tidak lagi beraturan. Hal ini membuat pasukan Islam terjepit dan mereka terdesak ke arah jembatan. Sebagian mereka menceburkan diri ke sungai Eufrat untuk menyeberang, sehingga sebagian di antara mereka ada yang selamat dan sebagiannya lagi tenggelam.

Pada perang ini, pasukan Islam mengalami kekalahan. Di antara mereka yang terbunuh, terluka dan tenggelam sekitar 4.000 orang, termasuk Abu Ubaid dan Salith bin Qais; 2.000 orang kabur; dan sisa 3.000 orang lainnya tetap bersama Mutsanna bin Haritsah. Sementara di pihak pasukan Persia terbunuh sekitar 6.000 orang[34].

5. Perang Buwaib [13 H/634 M]

Setelah pasukan Islam terpisah-pisah pasca perang Jisr, Umar kembali mengkonsolidasikan pasukannya di wilayah yang lain untuk bergabung dengan pasukan Mutsanna di Irak, sehingga terkumpul pasukan yang banyak di sana. Kabar ini diketahui oleh panglima Persia, Rustum dan Fairazan, dan mereka pun mempersiapkan pasukannya.

Akhirnya dua pasukan pun saling bertemu. Saat itu terjadi pada bulan Ramadhan. Mutsanna memerintahkan pasukannya untuk berbuka agar tubuh mereka tetap kuat saat menyerang musuh. Mereka pun semuanya berbuka. Pertempuran sengit antara pasukan Islam dan Persia pun tak terelakkan. Pada perang ini pasukan Islam berhasil mengalahkan tentara Persia. Pasukan Persia yang terbunuh sekitar 100.000 personil[35].

6. Perang Qadisyah [14 H/635 M]

Setelah mengalami beberapa kekalahan, Persia lalu menggalang kekuatan di bawah raja mereka yang baru, Yazdegerd. Ketika Umar mengetahui hal itu, ia pun memerintahkan wajib militer karena kondisinya menuntut hal itu, yaitu dengan memerintahkan Mutsanna melihat kabilah-kabilah yang mampu berperang dan mengikutsertakan mereka, baik suka atau tidak.

Selain itu, Umar juga mengajak kabilah-kabilah lain di Jazirah Arab untuk berjihad ke Irak. Umar lalu menunjuk Sa’ad bin Abi Waqqash sebagai komandan pasukan yang diberangkatkan dari Madinah untuk bergabung dengan Mutsanna di Irak. Pasukan tersebut berjumlah 4.000 personil. Ketika Sa’ad tiba di Zarwad, Mutsanna sedang sakit keras yang berakhir dengan kematiannya. Dengan demikian, Sa’ad pun lantas ditunjuk menjadi panglima perang menggatikan Mutsanna.

Sebelum terjadi pertempuran di Qadisiyah, Sa’ad—atas perintah Umar—sempat mengutus utusan untuk berdialog dengan Kisra dan Rustum. Namun, hal ini ditanggapi tidak baik oleh Kisra. Akhirnya, peperangan antara dua pasukan pun tidak terhindarkan, 120.000 pasukan Persia beradu pedang dengan 39.000 pasukan Islam. Pertempuran sengit yang terjadi selama empat hari ini berakhir dengan kemenangan di pihak pasukan Islam. Persia sendiri menganggap Perang Qadisiyah merupakan perang penentuan. Penentuan apakah mereka akan tetap bertahan sebagai sebuah kerajaan dan imperium atau bubar tanpa negara akibat kekalahan[36].

Setelah kemenangan di Qadisiyah, tidak lama berselang pasukan Islam berhasil membebaskan beberapa kota Persia, seperti: Madain (Shafar 16 H/637 M), Tikrit dan Mosul (Jumadal Ula 16 H/ 637 M), Jalula (Dzulqa’dah 16 H/637 M), Ramhurmuz, Tastar, dan Junday Satur.

7. Perang Nahawand: Puncak Runtuhnya Hegemoni dan Eksistensi Persia [21 H]

Pasukan Islam telah memenangkan pertempuran atas Persia berkali-kali secara berturut-turut, dan mereka masih mengusir sisa-sisa tentara Persia tanpa memberi kesempatan mereka untuk mengambil nafas. Terutama sejak pertempuran di Qadisiyah hingga pertempuran Nahawand yang berjarak sekitar empat tahun. Kekalahan bertubi-tubi tersebut membuat para pemimpin Persia murka dan marah sehingga mereka pun mengirim surat kepada Raja Persia Yazdegerd untuk bangkit kembali memulai peperangan baru. Yazdegerd pun menyambut usulan tersebut dan mulai membangun kembali kekuatan mereka di sisa-sisa benteng mereka.

Sa’ad mengetahui kabar itu dan segera mengirim surat kepada Umar. Lalu Umar bermusyawarah di majlis syuranya dan memutuskan bahwa yang memimpin pasukan-pasukan Islam di Nahawand adalah Nu’man bin Muqarrin dan khalifah meletakkan rencana untuk memobilisasi umat Islam[37].

Lagi-lagi pasukan Persia yang berjumlah sekitar 150.000 personil yang dipimpin oleh Fairazan kembali mengalami kekalahan. Para sejarawan menyebut perang Nahawand dengan fathul futuh (pembebasan penentuan) karena setelah penaklukannya tidak ada lagi peperangan yang berarti dengan Persia, dan setelah peperangan ini bangsa Persia tidak mampu bangkit kembali. Nu’man bin Muqarrin menemui syahid pada perang ini. Ketika berita mengenai penaklukan dan syahidnya Nu’man sampai kepada Umar, ia pun pilu atasnya[38].

MERUNTUHKAN HEGEMONI ROMAWI

Selain berhasil meruntuhkan hegemoni Persia, pasukan Islam pada masa Umar bin Khaththab juga sukses meruntuhkan hegemoni Romawi dalam waktu yang hampir bersamaan. Runtuhnya hegemoni Romawi terjadi setelah mereka mengalami berbagai kekalahan secara berturut- turut, seperti dalam perang Damaskus, Fihl, Baisan, Thabariyah, Homs, dan Al-Quds (Elia).

1. Penaklukan Damaskus [14 H/635 M]

Penaklukan-penaklukan di negeri Syam pada masa Umar bin Khaththab merupakan periode kedua penaklukan pasukan Islam pasca penaklukan pada masa Abu Bakar, yaitu setelah berakhirnya Perang Yarmuk dan kalahnya pasukan Romawi. Kemudian datanglah kabar kepada Abu Ubaidah, panglima perang Yarmuk, bahwa pasukan Romawi telah berkumpul di Fihl, sementara pasukan tambahan juga telah datang dari Homs untuk memperkuat Damaskus.

Abu Ubaidah bigung, apakah menyerang Damaskus dahulu atau menyerbu Fihl, atau negeri lainnya. Untuk itu, ia mengirim utusan kepada Umar. Kemudian Umar pun menginstruksikannya untuk menyerang Damaskus terlebih dahulu karena ia merupakan benteng Syam dan pusat Kekaisaran Romawi. Kemudian baru menaklukkan Fihl, lalu Homs.

Abu Ubaidah berangkat ke Damaskus tanpa menghadapi perlawanan yang berarti karena pasukan Romawi mengandalkan penduduk pribumi di wilayah sebelum masuk kota Damaskus untuk menghadang langkah pasukan Islam. Hanya saja mereka tidak memiliki semangat dan keberanian untuk mengadakan perlawanan. Ketika pasukan Islam tiba di Ghuthah, Damaskus, istana-istana Romawi dan rumah-rumah di sana sudah kosong karena penduduknya mengungsi ke Damaskus.

Lantaran Damaskus merupakan kota yang memang dipersiapkan dalam waktu yang panjang oleh Romawi maka benteng pertahanannya pun cukup kuat. Akhirnya pasukan Islam pun mengepung Damaskus selama lebih dari empat bulan. Dengan menggunakan berbagai strategi akhirnya Damaskus berhasil dibebaskan oleh pasukan Islam pada Dzulqa’dah 14 H. Dalam penaklukan Damaskus, sebagian bentengnya ditaklukkan dengan pertempuran sengit, sementara benteng lainnya dengan perdamaian. Jumlah pasukan Romawi pada perang Damaskus berjumlah sekitar 60.000, sementara pasukan Islam berjumlah 40.000 personil[39].

2. Peperangan di Fihl [13 H/634 M]

Sebagaimana yang diinstruksikan Umar, pasukan Islam pun bergerak ke Fihl setelah penaklukan Damaskus. Di Fihl, pasukan Romawi sudah berkumpul sekitar 100.000 personil yang kebanyakan datang dari Homs dan beberapa wilayah yang sudah dibebaskan oleh pasukan Islam[40].

Abu Ubaidah menunjuk Syurahbil bin Hasanah sebagai pimpinan umum saat Perang Fihl. Pada perang ini, pasukan Romawi kembali menderita kekalahan. Korban pasukan Romawi berjumlah sekitar 80.000, sementara sisa-sisa pasukan lainnya berhasil melarikan diri[41].

3. Penaklukan Baisan dan Thabariyah

Selanjutnya Abu Ubaidah bersama pasukannya lalu berangkat kembali menuju Homs. Ia kemudian mengangkat Syurahbil bin Hasanah untuk memimpin pasukan Islam yang ada di Urdun. Syurahbil bersama Amr bin Al-Ash berangkat mengepung Baisan. Penduduk Baisan keluar mengadakan perlawanan namun berhasil dikalahkan. Akhirnya mereka meminta damai sebagaimana penduduk Damaskus.

Pada saat yang hampir bersamaan dengan pengutusan Syurahbil bin Hasanah, Abu Ubaidah juga mengirim Abu Al-A’war as-Sulami ke Thabariyah. Pada awalnya penduduknya juga mengadakan perlawanan, tetapi akhirnya juga meminta perdamaian sebagaimana penduduk Baisan[42].

4. Pertempuran Qanasrin

Setelah penaklukan Damaskus, Abu Ubaidah menunjuk Khalid bin Walid menuju Qanasrin. Tatkala tiba di sana, penduduknya menyerang bersama sekutu mereka dari orang-orang Nasrani Arab. Khalid pun mengadakan perlawanan sengit. Pasukan Islam mengalami kemenangan. Sementara banyak dari pasukan Romawi yang terbunuh, termasuk komandan mereka, Maynas[43].

5. Peperangan Homs [15 H/636 M]

Abu Ubaidah meneruskan pengejaran terhadap Romawi yang melarikan diri ke Homs. Setelah tiba di sana, ia pun berdiam di sekeliling Homs dan mengepungnya. Khalid bin Walid pun menyusul dari Qinasra dan bersama-sama melakukan pengepungan. Saat pengepungan ini terjadi, cuaca di Homs sedang musim dingin. Setelah musim dingin berakhir, pengepungan pun semakin diperketat. Akhirnya penduduk Homs meminta perdamaian sehingga berakhirlah pengepungan Homs.

Abu Ubaidah menurunkan di Homs pasukan yang banyak, bersama para komandan perang. Kemudian Abu Ubaidah mengirim surat kepada Umar mengabarkan bahwa Heraklius telah membendung sungai di sekitarnya sehingga kadang mengalir dan kadang tidak mengalir. Kemudian Umar pun membalasnya dan memerintahkannya untuk menduduki negerinya[44].

6. Pembebasan Al-Quds [15 H/637 M]

Palestina dipimpin oleh seorang panglima Romawi bernama Arthabun. Ia merupakan panglima agung yang mewakili Emperatur Romawi. Ia juga seorang yang cerdik, pandangannya jauh ke depan, namun paling jahat perbuatannya. Ia menempatkan pasukannya yang besar di Ramalla dan Elia (Al-Quds). Panglima pasukan Islam yang ditunjuk oleh Umar pada pembebasan ini adalah Amr bin Al-Ash.

Peperangan di Al-Quds secara praktis telah terkobar sebelum Perang Ajnadain II (15 H) karena Arthabun sudah menempatkan pasukan yang besar di Ramalla dan Elia. Sementara jarak antara dan Elia hanya berjarak 18 mil. Ramalla adalah ibukota Palestina saat itu, sementara Elia adalah kota terbesarnya. Untuk menaklukkan Al-Quds, Umar berusaha memecah konsentrasi Romawi dengan menyerang beberapa sisa-sisa wilayah yang masih dikuasai Romawi di wilayah Syam. Umar memerintahkan Muawiyah bin Abi Sufyan untuk menyerang Qisarya guna menyibukkan penjaganya dari pasukan Amr  bin Al-Ash. Umar juga mengirim Alqamah bin Hakim Al-Farisi dan Masruq bin Fulan Al-Makki untuk memimpin pasukan guna menyibukkan Romawi di Elia. Selain itu, Umar juga mengirim surat kepada Abu Ayyub Al-Maliki untuk memimpin pasukan lain untuk menyibukkan pasukan Romawi di Ramalla[45].

Ath-Thabari menyebutkan bahwa ketika Abu Ubaidah mendatangi Baitul Maqdis, penduduknya meminta damai seperti yang dilakukan kota-kota lain di Syam. Mereka juga meminta hendaknya yang melakukan perjanjian adalah Umar bin Khaththab sendiri. Abu Ubaidah pun menyampaikan hal itu pada Umar. Kemudian berangkatlah Umar dari Madinah dengan menjadikan Ali bin Abi Thalib sebagai pemimpin Madinah[46].

Merupakan kebiasaan Heraklius tatkala hendak meninggalkan Baitul Maqdis ia senantiasa berkata, “Salam untukmu, wahai Suriah. Salam dari orang yang akan berpisah denganmu, tapi sebentar lagi ia akan datang kembali.” Ketika Heraklius sudah bertekad untuk meninggalkan Syam dan sampai di kota ar-Raha, ia meminta keluarganya untuk menemaninya ke Roma. Tetapi, mereka menjawab, “Tinggalnya kami di sini lebih baik bagimu daripada kami pergi ikut bersamamu”, lalu ia pun meninggalkan mereka. Tatkala tiba di Syimsyath, Heraklius naik ke dataran tinggi di sana lalu menghadap ke arah Baitul Maqdis dan berkata, “Salam atasmu, wahai Suriah. Salam yang tidak akan kembali lagi[47].”

Kemudian Heraklius berjalan hingga tiba di Konstantinopel, wilayah kerajaannya. Ia bertanya kepada salah seorang pengikutnya yang pernah ditawan oleh pasukan Islam, “Ceritakanlah kepadaku tentang mereka (pasukan Islam)!” Orang tersebut lalu menjawab, “Saya akan menceritakannya seolah-olah Anda melihatnya. Mereka adalah para prajurit di siang hari, dan pendeta di malam hari. Mereka tidak mengambil dari orang-orang yang ditaklukkannya kecuali dengan membayar harganya (jizyah). Tidak ke suatu negeri kecuali dengan membawa kedamaian. Mereka memerangi musuh-musuh mereka sehingga mereka menaklukkannya.” Mendengar itu, Heraklius lalu berkata, “Jika yang engkau sampaikan benar, sungguh, mereka nanti akan menguasai tempat aku berdiri ini[48].”

BEBERAPA FOREIGN POLICY UMAR BIN KHATHTHAB

Sejak menjabat sebagai khalifah, Umar bin Khaththab telah menggariskan beberapa target dan menjalankan kebijakan politik luar negerinya. Di antara foreign policy terpenting Umar yaitu:

1Menyebarkan Keadilan dan Tidak Memaksa Umat Lain Masuk Islam Sebagai Karakter Penaklukan Islam

Umar bin Khaththab menyadari bahwa hak mendapat keadilan merupakan hak setiap orang, termasuk orang-orang yang ditaklukkan. Bagi Umar, menaklukkan suatu bangsa tidak bertujuan untuk menzalimi penduduknya; sebaliknya untuk menyeru dan menyentuh hati mereka agar tertarik kepada Islam dengan menyebarkan keadilan yang diusung oleh Islam.

Umar sadar bahwa hanya menaklukkan fisik suatu bangsa tanpa berusaha memenangkan hati dan pikiran mereka agar tertarik kepada Islam tidak banyak memberi kemaslahatan bagi Islam.

Karena dengan hanya menaklukkan fisik, justru suatu saat mereka akan berbalik menyerang tatkala kondisi politik umat Islam lemah. Apalagi dengan rencana penaklukan yang besar, Umar sangat memerlukan pasukan tambahan dari bangsa lain yang ditaklukkan lantaran ketertarikan mereka pada Islam.

Sebagian pakar sejarah orientalis berusaha keras untuk memutarbalikkan fakta tentang penaklukan yang dilakukan pasukan Islam pada masa Khulafa` Rasyidin. Mereka menuduh bahwa penaklukan Islam merupakan perang yang berkedok agama. Mereka mengatakan bahwa pasukan Islam memang memiliki ideologi (akidah), akan tetapi mereka berinteraksi dengan fanatisme buta. Menurut mereka, pasukan Islam menyuruh bangsa lain untuk tunduk pada prinsip Islam dengan kekerasan dan pemaksaan. Mereka memperjuangkan prinsip tersebut dengan menumpahkan darah; tanpa belas kasihan. Mereka membawa Al-Qur`An di salah satu tangan mereka dan membawa pedang di tangan lainnya.

Mereka juga berusaha menyudutkan Islam dengan mengatakan bahwa eksistensi Islam dapat dipertahankan dengan meneruskan rencana permusuhan, mengharuskan umat lain masuk Islam secara kaffah di bawah tajamnya pedang, atau paling tidak Islam memperluas kontrol globalnya. Tidak ada satu pun agama yang mendorong para pengikutnya untuk berperang di salah satu tahapan dalam hidupnya, namun beginilah keadaannya dalam Islam. Inti tuduhan para orientalis adalah bahwa Islam disebarkan hanya dengan kekuatan yang dimilikinya. Atau pasukan Islam adalah orang yang paling banyak permusuhannya dibanding agama lain[49].

Akan tetapi, ada beberapa yang juga dari kalangan orientalis yang menjawab tuduhan-tuduhan tersebut. Mereka mendiskripsikan bahwa pembebasan dalam Islam sebagai pembebasan yang ideal dan penuh dengan karakter yang mulia.Mereka dengan jujur mengatakan bahwa pasukan Islam senantiasa menggunakan etika yang mulia saat berperang. Rasul mereka melarang untuk membunuh pendeta, perempuan, anak-anak, dan orang buta, sebagaimana ia melarang pasukan Islam membakar ladang-ladang pertanian, dan memotong pepohonan.

Pasukan Islam selalu menaati perintah Rasul mereka dengan teliti tiada tandingnya. Mereka tidak pernah melanggar kehormatan para wanita, tidak pernah menghanguskan tanaman-tanaman di sekitar medan peperangan. Ketika bangsa Romawi melempari mereka dengan anak panah beracun, pasukan Islam tidak membalas mereka dengan balasan serupa. Pasukan Romawi suka menjarah desa-desa dan selalu membakarnya; baik ketika datang maupun pergi. Sementara ketika pasukan Islam membebaskan sebuah kota, mereka senantiasa menjaga akhlak mereka yang mulia dan tidak mencoba untuk melakukan hal itu sama sekali.

Orientalis jujur lainnya mengatakan bahwa kota-kota Islam berkembang dengan perluasan, yang menyeru kepada akidahnya dengan mendiskusikan tentang gerakan-gerakan pemikiran yang sudah ada. Lebih dari itu, Islam mau berkembang dan menghapus semua sekat pemisah klasik seperti bangsa, bahasa, dan adat istiadat. Kesempatan langka ini terpenuhi untuk seluruh bangsa dan masyarakat sipil untuk memulai kehidupan dengan pemikiran baru berasaskan persamaan mutlak, dan dengan spirit bersaing dan bebas[50].

Fakta sejarah menunjukkan bahwa pasukan Islam tidak pernah memaksa seorang pun untuk memeluk Islam. Ini karena mereka konsisten dengan firman Allah k yang menerangkan bahwa tidak ada paksaan dalam menganut agama Islam[51]. Sedangkan penerimaan masyarakat terhadap Islam disebabkan mereka menyentuh Islam itu sendiri, hakikat bahwa Islam merupakan anugerah yang besar buat mereka.

Ketika mereka berinterkasi dengan pasukan dan umat Islam yang berperilaku dengan akhlak mulai, senantiasa konsisten terhadap hukum, perintah, dan larangan dalam Islam. Mereka juga tersentuh dengan Islam setelah menyaksikan sendiri bagaimana para panglima dan pasukan Islam yang selalu berdakwah dengan perbuatan yang nyata. Sikap-sikap mereka merupakan sikap yang mulia yang dikenal oleh sejarah dunia.

Saat itu, para khalifah dan para panglima pasukan senantiasa memerintahkan pasukannya untuk meminta pertolongan Allah dan bertakwa, lebih mementingkan urusan akhirat daripada dunia, ikhlas dalam berjihad, mengharap keridhaan Allah dalam beramal, dan menjauhi setiap perbuatan dosa. Dalam diri mereka terdapat keinginan kuat untuk membebaskan bangsa dan individu dari menyembah makhluk untuk selanjutnya beribadah kepada Allah Yang Maha Pencipta, memindahkan mereka dari kehidupan dunia yang sempit menuju kehidupan akhirat yang luas.

Para panglima pasukan Islam memimpin pasukan di garda depan dan merasakan berbagai macam hantaman pertama di medan jihad. Banyak di antara mereka yang akhirnya menemui syahid. Sementara saat kondisi aman, para panglima tersebut berjalan di belakang prajuritnya. Mereka menjadi sahabat bagi para prajuritnya ketika pulang dan kembali dari medan perang, serta ikut menanggung beban dan menolong yang lemah. Para panglima Islam tersebut juga merangkap sebagai juru dakwah di barisan pertama. Mereka menerapkan aturan-aturan perang dalam Islam secara sempurna. Sebenarnya, umat Islam senantiasa berpartisipasi dalam perang di jalan Allah, bukan seperti peperangan yang dilakukan oleh bangsa lain.

2. Tepat dalam Memilih Gubernur dan Panglima Perang serta Mengevaluasi Kinerja Mereka

  • Kriteria gubernur dan panglima perang menurut Umar bin Khaththab

Umar bin Khaththab memiliki metode khusus dalam memilih dan menyeleksi panglima perang ketika penaklukan dan pembebasan dilakukan. Di antara syarat-syarat yang harus dipenuhi oleh calon panglima Islam adalah:

a. Panglima perang harus orang bertakwa, wara’, dan mengetahui hukum-hukum Islam

Umar bin Khaththab senantiasa mengulang nasihatnya, “Barang siapa yang mengangkat seorang ahli maksiat dan mengetahui bahwa dia seorang ahli maksiat maka ia juga tak ada ubahnya seperti orang yang ia pilih[52].” Tatkala Umar memilih Sa’id bin Amir untuk memimpin sebagian wilayah Syam, ia menolak amanah itu. Umar lalu berkata kepadanya, “Sekali-kali tidak! Demi Dzat yang jiwaku dalam genggaman Tangan-Nya, janganlah kalian memikulkannya di pundakku, sedangkan kalian duduk-duduk di rumah[53].”

b. Panglima perang harus orang yang berhati-hati dan matang dalam membuat keputusan

Pada saat Umar bin Khaththab memilih Abu Ubaid Ats-Tsaqafi sebagai panglima perang, ia berkata kepadanya, “Tiada yang menghalangiku untuk menjadikan Salith sebagai panglima perang selain karena ketergesa-gesaannya dalam perang. Sesungguhnya ketergesa-gesaan dalam perang menyebabkan kerugian. Demi Allah! Kalau bukan karena ketergesa-gesaannya, pasti aku akan menunjuknya sebagai panglima perang. Peperangan hanya bisa dimenangkan oleh orang yang memiliki tingkat kewaspadaan yang tinggi[54].”

c. Panglima perang harus seorang pemberani dan piawai memanah

Tatkala Umar bin Khaththab ingin mengangkat seorang panglima perang untuk membebaskan kota Nahawand, ia meminta saran kepada para sahabat lain. Mereka pun mengusulkan, “Wahai Amirul Mukminin! Engkau lebih tahu mengenai penduduk Irak. Pasukanmu telah mendatangimu. Engkau telah melihat mereka dan berbicara pada mereka.” Umar lantas menjawab, “Demi Allah! Aku pasti akan memilih seorang lelaki di antara kalian yang mahir memanah dan bisa memanfaatkan kemahirannya itu saat berkecamuk perang.” Para sahabat pun bertanya, “Siapa lelaki itu, Wahai Amirul Mukminin?” Umar lalu menjawab, “Nu’man bin Muqarrin Al-Muzanni.” Mereka pun menyetujui seraya berkata, “Benar. Ia memang memiliki keahlian seperti itu[55].”

d. Panglima perang harus seorang yang cerdik, cerdas, dan berpengalaman dalam pertempuran

Suatu saat, Umar bin Khaththab berkata di hadapan pasukannya, “Kewajibanku atas kalian adalah aku tidak menempatkan kalian dalam bahaya dan tidak menahan kalian di perbatasan.”

Pada suatu kesempatan, Amr bin Al-Ash dan pasukannya bertemu dengan pasukan Romawi pada Perang Anjadain untuk membebaskannya. Masa itu, panglima pasukan Romawi adalah Arthabun, seorang panglima yang cerdik, memiliki, serta menghayati setiap keputusan dan pekerjaannya. Arthabun memilih Elia dan Ramlah untuk menampatkan pasukannya yang besar. Amr bin Al-Ash lalu mengirim surat guna melaporkan situasi medan pertempuran kepada Umar.

Dalam surat belasannya, Umar menulis, “Kita akan memanah Arthabun Romawi dengan Arthabun Arab. Lihatlah celah (kelemahan mereka) yang lebar oleh kalian.” Amr bin Al-Ash lalu berusaha mengumpulkan infomasi mengenai Arthabun dan pasukannya agar bisa menentukan strategi yang akan dijalankan agar bisa mengalahkannya. Untuk itu, ia sendiri yang menyelinap ke perkemahan panglima Romawi tersebut sehingga menyebabkannya hampir terbunuh. Ketika berita itu sampai pada Umar, ia pun berkomentar, “’Amr telah mengalahkannya. Alangkah cerdiknya Amr bin Al-Ash[56].”

e. Panglima perang harus mengetahui politik syar’i, ahli berdiplomasi, terampil, memiliki intuisi dan strategi perang

Tak dipungkiri lagi bahwa di antara kriteria yang seyogianya dimiliki oleh panglima perang adalah memiliki kecerdasan dan kepandaian, berani, mengetahui medan perang, dan bisa memperdaya musuh. Di samping itu, tak kalah pentingnya adalah seorang panglima harus amanah, ramah, dan senantiasa menegur dan mengingatkan pasukannya jika melakukan kesalahan. Oleh karena itu, Umar bin Khaththab memilih Sa’ad bin Abi Waqqash untuk memimpin pembebasan Irak setelah sebelumnya ia meminta saran kepada para sahabat.

f. Panglima perang harus mencintai pekerjaannya

Di antara strategi Umar bin Khaththab yaitu tidak akan memilih seseorang untuk menjadi panglima perang yang tidak senang dengan tugasnya dan tidak qana’ah. Kecuali jika hal itu terpaksa dilakukan agar proses pembebasan bisa dijalankan dengan baik, dan tidak ada orang lain yang lebih cakap dan piawai sebagai panglima perang.

Suatu ketika Umar menyeru dan mendorong umat Islam untuk memerangi Persia di Irak. Namun, tidak ada satu pun yang menyambut seruan itu. Begitu juga di hari kedua dan ketiga, dan begitulah selama tiga hari berturut-turut. Pada hari keempat, barulah Abu Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi menyambut seruan itu dan mengajak umat Islam lain untuk memerangi Persia yang kemudian disambut oleh umat Islam yang lain. Umar lantas memilih Abu Ubaid meski ia bukan seorang yang pernah melihat dan menemani Nabi n untuk menjadi panglima perang pada fase pertama pembebasan Irak.

Salah seorang sahabat protes atas keputusan Umar tersebut, “Mengapa Anda tidak memilih panglima perang dari kalangan sahabat?” Umar menjawab, “Sesungguhnya, aku memilih seseorang yang memenuhi seruanku[57].” Sifat-sifat ini juga telah bersemanyam dalam diri Sa’ad bin Abi Waqqash, Abu Ubaidah bin Al-Jarrah, Amr bin Al-Ash, dan panglima lainnya[58].

  • Evaluasi kinerja gubernur

Setelah memilih panglima perang dan gubernur terbaik dalam pandangannya, Umar bin Khaththab tidak berlepas tangan begitu saja atas orang dan kinerja sosok yang ditunjuknya. Umar juga ikut terlibat dalam pengawasan dan evaluasi kinerja para panglima perang dan gubernur tersebut. Bahkan Umar tidak segan untuk memberi dan menjatuhkan hukuman jika mereka terbukti melakukan kesalahan.

Saat dirinya menjabat sebagai Gubernur Mesir, ada beberapa aduan tentang diri Amr bin Al-Ash yang sampai kepada Umar, baik yang diajukan oleh umat Islam maupun oleh orang-orang Qibthi. Hal ini yang menyebabkan Amr sering dipanggil oleh Umar. Amr sering mendapat teguran keras dari Umar kerena kebijakan yang dikeluarkannya, termasuk kasus ketika Amr membuat mimbar yang tingginya melebihi leher umat Islam.

Di antara aduan tersebut adalah aduan salah seorang penduduk Mesir yang mengajukan dakwaan karena anak laki-laki Amr memukulnya dengan cambuk. Umar lalu memanggil Amr beserta anak sekaligus untuk menghadapnya di Madinah. Setelah terbukti bahwa anak Amr bersalah, Umar lantas menyuruh orang Mesir tersebut untuk membalas mencambuk anaknya. Setelah itu, Umar melirik Amr dan berkata, “Sejak kapan kamu memperbudak manusia padahal mereka dilahirkan oleh ibu mereka dalam keadaan merdeka[59].”

Amr juga pernah diadukan oleh salah seorang prajuritnya kepada Umar karena telah menuduhnya sebagai seorang munafik. Umar lantas mengirim surat yang dibawa prajurit yang melaporkan tadi kepada Amr. Surat itu berisi agar Amr secara terbuka mengadili prajurit tadi di muka rakyatnya dan mencambuk prajurit tadi jika terbukti sebagai seorang munafik dengan mendatangkan saksi-saksi. Ternyata tuduhan Amr tidak berhasil dibuktikan sehingga—sesuai hukum Islam—prajurit tadi pun mencambuk Amr disebabkan tuduhannya tersebut.

Sebagian orang menghalanginya dan mengusulkan agar Amr menebusnya dengan tanah. Amr menolak usulan tersebut. Saat pukulan akan mengenai kepala Amr, prajurit itu lalu bertanya kepadanya, “Apakah ada yang akan menghalangiku untuk mencambukmu?” Amr menjawab, “Tidak ada. Lakukan saja apa yang telah diperintahkan (Umar) kepadamu.” Prajurit tadi pun kemudian berkata, “(Jika begitu) aku memaafkanmu[60].”

Tidak sekedar memberi hukuman, Umar bin Khaththab juga tidak segan memecat para pejabatnya yang menghina rakyatnya tanpa alasan yang diperbolehkan syariat. Qais bin Abi Hazim pernah menuturkan, “Umar pernah mengangkat seorang Anshar (sebagai salah seorang pejabatnya). Ia lalu berkunjung ke rumah pembesar Hirah yang bernama Amr bin Hayyan bin Baqilah. Dia (Amr) kemudian menyuguhkan makanan dan minuman yang diminta. Tiba-tiba pejabat Anshar tadi menghentikan candaan dan memanggilnya (Amr) lalu menarik jenggotnya.

Dia (Amr) lantas mengendarai kudanya menghadap Umar dan berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin! Engkau mengangkat seorang raja atau kaisar? Apa yang dia (pejabatmu) lakukan kepadaku tidak seperti apa yang engkau lakukan di kerajaanmu.’ Dengan tenang Umar lalu bertanya, ‘Apa yang terjadi?’ Ia menjelaskan, ‘Salah seorang pejabatmu singgah di rumahku, lalu kami menyuguhkan makanan dan minuman yang ia inginkan. Tiba-tiba ia menghentikan candaan dan memanggilku, lalu menarik jenggotku.’

Umar kemudian menulis surat kepada pejabat tersebut. Di antara isinya berbunyai, ‘Bagaimana mungkin (bisa engkau lakukan). Ia telah memberimu makanan dan minuman yang telah kau minta namun engkau malah menarik jenggotnya? Demi Allah! Sekiranya jenggot itu bukan sunah, niscaya aku akan mencabut jenggotmu. Tetapi pergilah dan jangan pernah menjabat lagi selamanya[61].”

  • Menggariskan kewajiban dan hak dari setiap panglima perang dan pasukannya

Umar bin Khaththab menyadari bahwa suatu pasukan tidak akan berhasil menjalankan misinya kecuali terjalin sinergi dan sinkronisasi antara panglima dan pasukannya. Untuk itu, Umar menggariskan kewajiban dan hak masing-masing dari setiap panglima perang dan pasukannya dalam nasihat dan surat-suratnya.

Hak panglima perang[62]

Hak-hak panglima perang, yang merupakan kewajiban setiap prajurit perang, yang digariskan Umar di antaranya:

a. Ditaati

Ketika Umar mengutus Abu Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi untuk menjadi panglima perang ke Irak, ia juga mengirim Salamah bin Salam Al-Khazraji dan Salith bin Qais Al-Anshari sebagai pendamping Abu Ubaid. Umar memerintahkan Abu Ubaid untuk selalu bermusyawarah dengan mereka berdua ketika ingin memutuskan sebuah perkara, dan memberitahunya bahwa Salith dan Salamah adalah veteran perang Badar. Pada perang di Jisr menghadapi Persia, Abu Ubaid memutuskan agar pasukan Islam tidak menyeberangi jembatan. Sementara Salith justru mengusulkan untuk menyeberanginya. Namun Abu Ubaid tetap pada pendiriannya. Hal inilah di antara sebab kekalahan pasukan Islam pada perang tersebut. Mengomentari perbedaan pendapat tersebut Salith berkata, “Kalau saja aku tidak benci melanggar ketaatan, niscaya aku bersama orang-orang akan meninggalkan peperangan ini. Tapi aku mendengar dan taat meskipun engkau telah melakukan sebuah kesalahan. Dan Umar mengikutsertakanku bersamamu.”

b. Mengambil dan menetapkan keputusan

Disebutkan pada surat An-Nisa’: 83 bahwa Allah menghendaki rakyat menyerahkan semua urusan di tangan para pemimpinnya agar menjadi sebab diraihnya suatu kemaslahatan dan keputusan yang tepat. Jika terdapat suatu persoalan yang masih ambigu, mereka bisa menjelaskan dan menujukannya pada para pemimpin. Oleh karena itu, dianjurkan untuk bermusyawarah supaya memperoleh kebenaran.

Umar menetapkan bahwa dalam setiap kelompok pasukan terdapat seorang pemimpin. Mereka harus mempercayakan semua urusan pendapat dan pengaturan kepada pemimpin mereka, sehingga tidak terjadi perbedaan pendapat di antara mereka yang mengakibatkan perselisihan.

Pada tahun ketika Umar mengirimkan pasukan Islam ke Nahawand untuk berkumpul di sana, pasukan tersebut terdiri dari penduduk Madinah yang berasal dari Muhajirin dan Anshar. Di antara mereka ada Abdullah bin Umar bin Khaththab, Abu Musa Al-Asy’ari yang memimpin penduduk Bashrah, dan Hudzaifah bin Al-Yaman yang memimpin penduduk Kufah. Ketika mereka sudah berkumpul di Nahawand, Umar menulis surat kepada mereka yang di antaranya berbunyi, “Jika kalian sudah bertemu, pemimpin perang kalian adalah Nu’man bin Muqarrin Al-Muzanni.”

Saat penaklukan kota Ablah[63]  panglima perang membagikan ghanimah kepada seluruh pasukannya. Ketika pembagian sudah selesai dilakukan, bagian salah satu prajurit adalah satu periuk tembaga. Ketika prajurit itu memegang periuk tersebut, ternyata berisi emas. Prajurit itu pun diadukan kepada panglimanya. Panglima perang saat itu lantas mengirim surat kepada Umar mengani masalah itu.

Kemudian Umar menulis surat balasan yang berisi, “Segera ambil sumpah darinya bahwa ia tidak tahu kalau periuk itu berisi emas, kecuali setelah periuk itu berada di tangannya. Jika ia sudah bersumpah berikan periuk itu (beserta isinya) kepadanya. Namun jika ia menolak, bagikan periuk berisi emas itu kepada pasukan Islam.” Prajurit tersebut pun bersumpah bahwa tidak mengetahuinya kecuali setelah berada di tangannya, lalu panglima perang tersebut pun menyerahkannya kepadanya.

c. Disegerakan pelaksanaan perintahnya

Pada masa kekhilafahnnya, tugas pertama yang dilakukan Umar bin Khaththab adalah menyeru umat Islam Madinah untuk berperang melawan Persia. Umar mengajak mereka selama tiga hari berturut-turut, tetapi tidak ada seorang pun yang menjawab seruan itu. Pada hari keempat, Abu Ubaid bin Mas’ud Ats-Tsaqafi menanggapi seruan tersebut. Hal inilah yang mendorong Umar untuk mengangkat Abu Ubadi sebagai panglima perang, meski masih ada para sahabat Rasulullah n. Itu karena Abu Ubaid adalah orang pertama yang menjawab seruan Umar.

Pada saat Umar mengutus Utbah bin Ghazwan ke Basrah, ia memberi nasihat kepadanya, “Bertakwalah kepada Allah atas kepemimpinanmu. Jangan sampai jiwamu menyeretmu ke dalam kesombongan yang bisa menyebabkan kerusakan hubungan antara kamu dan saudara-saudaramu. Engkau telah menyertai Rasulullah dan engkau menjadi mulia setelah kehinaan menimpamu. Engkau menjadi kuat karenanya setelah kamu lemah sehingga sekarang engkau menjadi pemimpin yang berkuasa dan raja yang ditaati. Engkau memerintahkan seluruh perintahmu kepada rakyatmu. Betapa besar nikmat ini. Jika nikmat itu tidak mengangkatmu lebih dari kemampuanmu, ia akan merendahkanmu lebih rendah dari orang-orang yang di bawahmu.”

Hak prajurit perang[64]

Sementara hak-hak setiap prajurit, yang merupakan kewajiban panglima perang, yang ditetapkan Umar, di antaranya yaitu:

a. Diperhatikan kondisi mereka

Umar bin Khaththab memberikan panji-panji perang kepada para panglima perangnya. Sebelum mereka berangkat menuju medan perang, Umar mengecek perlengkapan mereka dan memberi nasihat kepada mereka. Ia berkata, “Pakailah sarung perang, baju perang, dan alas kaki kalian. Panahlah sasaran kalian, jinakkan tunggangan kalian, kemudian meloncatlah ke atas kuda kalian. Pakailah pakaian keseharian kalian atau pakaian orang Arab. Tinggalkanlah hidup mewah dan pakaian bangsa non-Arab. Kekuatan kalian tidak akan melemah selama kalian melompat ke atas kuda kalian, naik di atas punggung kuda kalian, dan menggunakan pakaian yang keras.”

Ini menunjukkan bahwa Umar sangat perhatian dalam mempersiapkan pasukannya, menunjukkan kekuatan, meluruskan para panglima perang dalam barisan, inspeksi militer, dan menampakkan kekuatan besar pada musuh, baik ketika peperangan berlangsung maupun ketika bersiap-siap untuk melaksanakan peperangan.

Tatkala bertemu Mu’awiyah saat berkunjung ke Syam, Umar melihat keagungan seorang raja, pakaiannya yang banyak, dan perkakasnya. Umar pun mengingkari hal itu. Umar berkata kepada Mu’awiyah, “Apakah engkau Kisra, wahai Mu’awiyah?” Mu’awiyah pun menjawab, “Wahai Amirul Mukminin! Sungguh kami berada di wilayah perbatasan menghadapi musuh. Kami membanggakan diri dengan pakaian perang, sedangkan jihad adalah sebuah kebutuhan.” Umar lantas terdiam. Ia tidak menyalahkan Mua’wiyah dan menyetujui maksud dari hal itu karena tujuannya demi kebenaran dan agama.

Umar juga senantiasa memantau keadaan pasukannya ketika perjalanan menuju medan perang. Umar pernah memerintahkan Sa’ad bin Abi Waqqash untuk selalu memenuhi permintaan musuh yang datang kepada pasukan Islam dan meminta perlindungan serta tidak berkhianat kepada mereka. Umar menjelaskan bahwa pengkhianatan bisa menyebabkan kebinasaan dan kelemahan bagi pasukan Islam itu sendiri.

Perhatian Umar terhadap kondisi perbekalan dan tunggangan prajurit juga tampat dari keputusannya yang mengirimkan ransum berupa kambing dan daging unta untuk pasukan Islam di Irak dari Madinah, An-Naqi’ dan ar-Rabdzah yang diangkut dengan unta. Umar juga mempersiapkan kuda-kuda yang berasal dari baitul mal dan ditambatkan di beberapa kota sesuai dengan kebutuhan. Ketika Umar datang ke negeri Syam untuk mengadakan perjanjian damai dengan penduduk Baitul Maqdis, ia membangun kantor urusan logistik makanan pasukan yang dikenal dengan nama Al-Ahra’.

b. Diperlakukan dengan ramah dan belas kasih

Umar bin Khaththab pernah menulis surat kepada salah seorang panglima perangnya, Sa’ad bin Abi Waqqash. Surat itu di antaranya berisi, “Bersikap ramahlah terhadap prajuritmu ketika engkau dalam perjalanan menuju medan perang. Jangan engkau merepotkan mereka dengan perjalanan yang melelahkan. Janganlah terlalu sebentar-sebentar singgah di suatu persinggahan saat engkau menemani mereka, sehingga mereka sampai di hadapan musuh mereka dalam kondisi kekuatan mereka berkurang akibat perjalanan itu. Sungguh, mereka berjalan mendatangi musuh yang bermukim, yang menjaga diri mereka dan kuda-kuda mereka.

Bermukimlah pada hari Jumat sehari semalam, sehingga mereka bisa beristirahat dan jiwa mereka kembali bersemangat, supaya mereka bisa melemparkan panah-panah mereka dan membawa perbekalan mereka. Arahkanlah tempat persinggahan mereka ke desa-desa orang-orang yang sedang melakukan perjanjian damai.”

c. Diperlakukan adil jika terjadi perselisihan atau pertikaian

Di antara nasihat Umar bin Khaththab kepada para gubernur dan panglima perang adalah janganlah panglima perang ataupun pimpinan detasemen mencambuk seorang prajurit tanpa sebab yang dibenarkan syariat Islam. Dalam kasus lain, Umar mengutus Salman bin Rabi’ah Al-Bahili sebagai panglima perang bersama dengan Amr bin Ma’dikarib dan Thulaihah bin Khuwailid Al-Asadi.

Suatu ketika terjadi perselisihan antara Amr bin Ma’dikarib dan Salman bin Rabi’ah. Kabar tersebut sampai ke telinga Umar. Umar pun mengirim surat kepada Salman yang berisi, “Amma ba’du. Telah sampai kepadaku tentang sesuatu yang engkau perbuat kepada Amr. Engkau melakukan perbuatan yang tidak baik. Sekarang, jika kamu berada di negeri musuh maka perhatikanlah Amr dan Thulaihah. Dekatilah mereka, dengarkanlah perkataan yang mereka ucapkan, karena sesungguhnya mereka memiliki ilmu dan pengalaman dalam berperang. Apabila kamu telah sampai di negeri sendiri maka tempatkanlah mereka pada posisi yang sesuai, dan dekatilah ahli fikih dan ahli Qur`An.”

Adapun kepada Amr bin Ma’dikarib, Umar menulis, “Amma ba’du. Telah sampai kepadaku berita tentang pembangkanganmu terhadap pimpinanmu dan cacianmu atasnya. Sesungguhnya engkau memiliki pedang yang engkau namakan ash-Shamshamah, dan aku juga memiliki pedang yang kenamai Al-Mushammam. Demi Allah! Aku bersumpah kalau saja aku meletakkan pedangku di atas kepalamu, niscaya aku tidak akan mengangkat pedang itu sampai aku memotong kepalamu dengannya.” Ketika surat itu sampai ke tangannya, Amr bergumam, “Demi Allah! Jika ia (Umar) mau niscaya ia akan melakukannya.”

Dari kedua teks surat di atas jelas mengungkapkan bahwa seorang pemimpin harus menghindari perselisihan dengan prajuritnya di medan perang dengan mempersatukan antara hati mereka, khususnya ketika mereka berada di hadapan musuh. Seorang pemimpin hendaknya berkonsultasi dengan orang-orang yang memiliki pengalaman dalam berperang. Surat itu tidak dimaksudkan untuk memutuskan hubungan kasih sayang di antara mereka berdua, ketika mereka kembali ke negeri mereka sendiri.

d. Mendapat teguran jika lalai atau melakukan kesalahan

Umar senantiasa mengingatkan dan menegur setiap pasukannya, terkhusus panglima perangnya yang lalai. Dalam pandangan Umar, justru teguran itu adalah kewajibannya sebagai pemimpin dan hak pasukannya. Oleh karena itu, Umar memerintahkan para panglima perang untuk selalu berhati-hati pada musuh, terkhusus terhadap serangan musuh pada malam hari dan serangan musuh saat pasukan Islam lengah. Umar juga meminta mereka untuk selalu berjaga- jaga di markas dan di setiap perjalanan. Umar pernah berkata kepada Sa’ad bin Abi Waqqash, “Gerakkanlah para pengawasmu pada pasukan dan waspadalah terhadap serangan musuh yang mengintaimu.”

Umar bin Khaththab juga memberi wasiat kepada para panglima perangnya untuk membuat mata-mata dan menyebar intelijen ketika tiba di negeri musuh. Hal itu dilakukan agar mereka mengetahui keadaan dan strategi musuh. Pada suatu kesempatan, Umar berkirim surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash yang berisi, “Jika engkau telah menginjakkan kaki di negeri musuh gerakkanlah mata-mata di antara kalian dan mereka. Jangan sampai keadaan mereka tidak kamu ketahui. Hendaknya orang Arab atau orang yang engkau percaya berada di sekitarmu, sehingga engkau merasa tenang dengan nasihat dan kejujurannya. Ini karena kabar berita pembohong besar tidak bermanfaat bagimu, meskipun engkau mempercayai sebagian berita itu. Sementara seorang licik akan memata-mataimu dan tidaklah memberi informasi padamu.

Ketika engkau mendekati negeri musuh, hendaklah engkau memperbanyak mata-mata dan memperbanyak detasemen sehingga detasemen itu akan memutus bala bantuan dan prasarana untuk mereka. Mata-mata itu akan mengintai kelemahan musuh. Pilihlah dari kalangan pasukanmu orang-orang yang pandai dan kuat untuk menjadi mata-mata. Pilihlah di antara mereka yang pandai menunggang kuda, karena jika mereka bertemu musuh, pertama kali yang engkau dapatkan dari mereka adalah pendapatmu yang kuat.”

e. Ditempatkan pada posisi yang tepat saat berperang

Umar bin Khaththab juga pernah memberi wasiat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash agar tidak menyerang musuh sebelum mengenali situasi dan kondisi medan perang; baik internal ataupun eksternal, ketersediaan air dan rumput yang melimpah, dan lain sebagainya.

Sebelum Perang Qadisiyah, Umar juga menulis surat kepada Sa’ad bin Abi Waqqash agar berada di batu yang paling dekat dengan negeri mereka, karena mereka akan lebih tahu dengan jalur-jalur mereka dibanding musuh, sehingga ketika—misalnya—kalah, ia bisa mundur bersama pasukannya sehingga mereka bisa terhindar dari terbunuh. Musuh tidak akan bisa mengejar mereka karena pengecut dan tidak tahu jalur-jalurnya.

3. Memperhatikan Batas-Batas Wilayah Kekuasaan Islam

Lantaran kekhawatiran Umar bin Khaththab atas keselamatan umat Islam, serta kebenciannya terhadap Romawi saat berperang dengan mereka, maka tatkala disebut Romawi, Umar akan berujar, “Demi Allah! Saya sangat ingin sekali jika sekiranya di antara kita dan Romawi ini ada jalan yang dipenuhi dengan bara api, sehingga semakin jelas mana wilayah kita dan mana wilayah mereka[65].”

Umar juga pernah mengatakan perkataan yang serupa mengenai bangsa Persia tentang batas-batas wilayah Islam, “Demi Allah! Jika sekiranya di antara kampung dan gunung terdapat batas, mereka tidak menerobos pada kita dan kita tidak menerobos pada mereka, cukuplah kampung itu bagi kita. Aku sangat mementingkan keselamatan umat Islam daripada harta rampasan perang (anfal)[66].”

Umar memerintahkan agar mendirikan basis-basis militer Islam yang memiliki beberapa tugas dan misi yang selain untuk tujuan militer juga untuk menjaga keselamatan umat Islam. Ditambah lagi bahwa basis-basis militer itu menjadi pusat militer di tempat-tempat strtegis yang terletak pada batas-batas antara basis militer itu dengan negeri-negeri yang telah dibebaskan. Di antara fungsi basis militer itu adalah menangkis serangan musuh dari luar dan sebagai pusat konsentrasi pasukan dan penyebaran Islam.

Saat itu Islam sudah menguasai Basrah dan Kufah yang bersebelahan dengan Persia dan Fustat di Mesir dan kota-kota pelabuhan berikut pantainya, serta pantai-pantai di Syam untuk menangkal serangan Romawi dari laut dan menempatkan empat pasukan setelah itu. Empat pasukan itu adalah pasukan Homs, pasukan Damaskus, pasukan Yordania, dan pasukan Palestina. Ini di samping kamp-kamp militer, benteng-benteng yang berada di pelabuhan, yang pasukan Islam telah berhasil mengusir musuh dari sana dan menguasainya, serta menjadikannya sebagai basis militer mereka, selain juga menempatkan pasukan mereka di sana untuk menjaga batas-batas wilayah Islam[67].

Tatkala pasukan Islam maju untuk melakukan pembebasan, pada akhir perluasan wilayah, mereka selalu mendirikan kota untuk menjaga perbatasan, membiayai pasukan penjaga dan dipimpin oleh panglima yang paling mumpuni. Di antara prosedur paling penting yang dibuat Umar bin Khaththab di wilayah Irak dan Masyriq adalah gudang senjata yang dibangun di tengah-tengah pasukan Islam dan Persia. Umar juga pernah berpesan kepada Sa’ad bin Abi Waqqash sebelum perang Qadisiyah, “Jika engkau sudah usai Perang Qadisiyah, hendaknya gudang senjata kalian berada di wilayah tersebut[68].”

4. Membangun Pola Hubungan dengan Penguasa Persia dan Romawi

Hubungan Umar bin Khaththab dengan raja Persia adalah hubungan peperangan. Raja Persia dan pasukannya hancur binasa ketika ia menghalau pasukan Islam yang berhasil menyerang negerinya serta menundukkan kekuasaannya. Adapun mengenai hubungan Umar dengan Kaisar Romawi adalah hubungan perdamaian. Terjadi perdamaian antara dua negara semenjak Syam dan Jazirah Arab berhasil dibebaskan pada masa Umar. Terjadi korespondensi antara kedua pihak.

Ahli sejarah Arab mengatakan bahwa surat menyurat itu sudah terjalin dengan Kaisar Heraklius. Tetapi mereka tidak bisa memastikan apakah itu dengan Heraklius I. Ini karena mereka tidak mampu memastikan apakah dibebaskannya Syam oleh pasukan Islam terjadi pada masa Heraklius I, atau pada masa anaknya Heraklius II yang dikenal dengan Heraklius Konstantinopel. Suatu yang dapat dipastikan oleh ahli sejarah Arab adalah adanya kurir yang pulang pergi untuk melakukan korespondensi antara keduanya[69].

Disebutkan dalam sejarah bahwa Ummu Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, istri Umar, suatu ketika mengirimkan utusan ke kota tempat Kaisar Romawi tinggal dengan membawa hadiah dari Madinah kepada permaisuri Kaisar Romawi. Kemudian permaisuri Kaisar Romawi mengirimkan sebuah kalung berharga sebagai balasannya. Kemudian Umar mengambil kalung tersebut dan menyerahkannya ke baitul mal. Disebutkan dalam buku sejarah bahwa Ummu Kultsum mengirim hadiah itu melalui kurir Umar[70].

Kesimpulan

Adalah sebuah fakta bahwa khalifah Umar bin Khaththab telah berhasil meruntuhkan hegemoni Persia dan Romawi di Syam, Irak, Mesir, Jazirah Arab, serta negeri-negeri sekitarnya. Hegemoni Persia berakhir dengan kekalahan mereka di Perang Nahawand, sementara hegemoni Romawi mulai pudar tatkala Al-Quds diserahkan kepada umat Islam dan kembalinya kaisar Romawi ke negeri asalnya. Yang cukup mencengangkan adalah hal itu hanya berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, kurang dari sepuluh tahun.

Keberhasilan Umar meruntuhkan hegemoni Persia dan Romawi tidak terlepas dari foreign policy yang diambilnya, yaitu dengan membangun karakter pembebasan Islam yang kokoh, memilih para panglima dan gubernur yang tepat dan mengevaluasi kinerja mereka, sangat memperhatikan keamanan perbatasan-perbatasan negeri Islam, dan membangun pola interaksi dengan penguasa Persia dan Romawi.

Tentu saja, keberhasilan Umar bin Khaththab dalam meruntuhkan hegemoni Persia dan Romawi bukan sekedar lantaran kecerdasan dan kebrilianannya sebagai pemimpin. Seluruh tindakan yang ia lakukan, dapat dibilang, muncul dari keyakinannya kepada Islam. Dari keyakinan itulah muncul suatu kerakter mulia, dan dari karakter mulia muncul tindakan dan sikap yang juga mulia.

Di sisi lain, keberhasilan foreign policy Umar bin Khaththab tentu tidak terlepas dari keberhasilannya dalam mengelola berbagai aspek internal dalam pemerintahannya, terkhusus masalah ekonomi. Bagaimanapun, foreign policy yang terwujud dalam bentuk jihad tentu membutuhkan biaya dan sumberdaya manusia yang tidak sedikit. Umar bin Khaththab berhasil mengimbangi foreign policy-nya dengan manajemen ekonomi yang baik. Selain dari zakat, fa’i, ghanimah, jizyah dan kharaj yang sudah ada sejak masa Rasulullah n dan Abu Bakar, Umar juga berusaha menambah pemasukan negara dengan menetapkan ‘usyur. ‘Usyur adalah sejenis pajak atau bea cukai yang diambil dari pedagang non-Muslim yang melintas atau berdagang di wilayah Islam.

Walhasil, perkataan Mahmud Syit Khathahb atas jasa Umar bin Khaththab terhadap Islam mungkin merupakan gambaran tepat. Ia menuturkan, “Jika penyebab kemenangan Islam sangatlah banyak, maka penyebab utama dari berbagai sebab tersebut adalah karakter akhlak dan kepemimpinan yang tiada bandingnya dari Umar bin Khaththab. Anugerah itu tidak terulang kembali pada orang lain seiring berjalannya masa, kecuali hanya sedikit.” [Ali Sadikin]



[1] As-Suyuthi, Tarikh Al-Khulafa’, Maktabah Nizar Mushthafa Al-Baz, 2004, hal. 89.

[2] Muhammad Husain Heikal, Umar bin Khaththab, terj Ali Audah, Litera Antar Nusa, Bogor, 2002, hal. 8.

[3] Inilah pendapat yang benar mengenai nama dan nasab ibu Umar bin Khaththab. Lihat Muhammad bin Shamil as-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khalafa`ur Rasyidin, terj Abu Ihsan Al-Atsari, Darul Haq, 2004, hal. 168.

[4] Ali Muhammad Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab fi Sirah Ibn Al-Khaththab Amir Al-Mukminin ‘Umar bin Al-Khaththab: Syakhshiyyatuhu wa ‘Ashruhu, Maktabah Shahabah, 2002, hal. 16.

[5] Muhammad Husain Heikal, Umar bin Khaththab, hal. 11.

[6] Ibid, hal. 9.

[7] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 18.

[8] Ibid, 19.

[9] Perkataan Umar bin Khaththab ini disebutkan oleh Ibnu Taimiyyah dalap Majmu’ Al-Fatawanya, jilid. 10, hal. 301.

[10] Muhammad Shamil, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khalafa`ur Rasyidin, hal. 170.

[11] Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, hal. 93.

[12] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 28.

[13] Doa Rasulullah ini diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad-nya, no hadits. 5696.

[14] Shafiyyurahman Al-Mubarakfuri, Ar-Rahiq Al-Makhtum, hal. 93-94.

[15] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 28-31.

[16] Mengenai proses pengangkatan Umar bin Khaththab sebagai pengganti Abu Bakar, lihat Ibnu Atsir, Al-Kamil fi at-Tarikh, Darul Kutub Al-‘Arabi, Beirut, 1997, jilid. 2, hal. 226.

[17] Ibnu Atsir, Al-Kamil fi at-Tarikh, jilid. 2, hal. 266-267.

[18] Adz-Dzahabi, Tarikh Al-Islam, Maktabah at-Taufiqiyyah, jilid. 3, hal. 11.

[19] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 92.

[20] Ibnu Sa’ad, Ath-Thabaqat Al-Kubra, Dar Shadir, Beirut, 1968, jilid. 3, hal. 199.

[21] Ibnul Jauzi, Shifah ash-Shafwah, Darul Hadits, Kairo, 2000, jilid. 1, hal. 100.

[22] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 93

[23] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, Dar Hajr, 2003, jilid. 9, hal. 574.

[24] Ibnu Sa’ad, Ath-Thabaqat Al-Kubra, jilid. 3, hal. 275.

[25] Muttaqi Hindi, Kanz Al-‘Ummal fi Sunan Al-Aqwal wa Al-Af’al, Muassasah Risalah, 1981, jilid. 16, hal. 166.

[26] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 102. Dinukil dari Al-Idarah Al- ‘Asykariyyah fi ‘Ahd Al-Faruq, hal. 101.

[27] Ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk, jilid. 3, hal. 433

[28] Namarik merupakan suatu daerah di Kufah

[29] Muhammad Ridha, Umar bin Khaththab, terj. Imtihan Syafi’i, Al-Qawam, Solo, 2013, hal. 115-116.

[30] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 432.

[31] Ibid, hal. 433-444

[32] Nama suatu wilayah di dekat Kufah, di tepi Timur sungai Eufrat

[33] Marwahah berada di tepi Barat sungai Eufrat.

[34] Muhammad Ridha, Umar bin Khaththab, hal. 119-120.

[35] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 439-441

[36] Muhammad Ridha, Umar bin Khaththab, hal. 159-220.

[37] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 521

[38] Muhammad Ridha, Umar bin Khaththab, hal. 385

[39] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 547-555

[40] Ibid

[41] Muhammad Ridha, Umar bin Khaththab, hal. 155

[42] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 557

[43] Ibid, hal. 558-559.

[44] Ibid, hal. 558.

[45] Ibid, hal. 559-560.

[46] Ath-Thabari, Tarikh ar-Rasul wa Al-Muluk, jilid. 4, hal. 64-66.

[47] Ibid, jilid. 3, hal. 603.

[48] Ibid, jilid. 3, hal. 602-603

[49] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 599.

[50] Ibid, hal. 599-600

[51] QS. Al-Baqarah: 256

[52] Muttaqi Hindi, Kanz Al-‘Ummal ..., jilid. 5, hal. 761

[53] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 601

[54] Ibnu Atsir, Al-Kamil fi at-Tarikh, 2, hal. 273.

[55] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid. 10, hal. 116

[56] Ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk, jilid. 3, hal. 605-607

[57] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa An-Nihayah, jilid. 9, hal. 591.

[58] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 602

[59] Ibid, hal. 409-410.

[60] Ibid.

[61] Ibid, hal. 112-113.

[62] Mengenai hak-hak panglima perang, lihat lengkap Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 387-390.

[63] Ablah adalah sebuah negeri yang berada di pinggiran sungai Tigris, tepatnya di ujung teluk.

[64] Terkait persoalan ini, lihat Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 391-399.

[65] Ash-Shallabi, Fashl Al-Khitab ..., hal. 612. Dinukil dari Tatikh Al-Ya’qubi, jilid.2, hal. 155.

[66] Ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk, jilid. 4, hal. 28

[67] Ash-Shallabi, Fash Al-Khitab ..., hal. 612-613

[68] Ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk, jilid. 3, hal. 491

[69] Ash-Shallabi, Fash Al-Khitab ..., hal. 617.

[70] Ath-Thabari, Tarikh ar-Rusul wa Al-Muluk, jilid 4, hal. 260.