MEMBUNUH HARAPAN, Jejak Intervensi Amerika Serikat di Seluruh Dunia

17 June 2016

"Harus diingat bahwa stabilitas dalam pandangan Amerika memiliki makna yang berbeda. Pada hakikatnya, stabilitas berarti bukan stabilitas, melainkan penerimaan dominasi dan lebih tingginya Amerika dari negara-negara lain."

Noam Chomskyprofesor linguistik dan filsafat dari MIT, dalam wawancaranya dengan kantor berita Shabestan (17/3/2011).


Tidak sedikit orang yang melihat sejarah Amerika Serikat mengakui bahwa mereka adalah bangsa beradab. Peradabannya merupakan peradaban mutakhir di muka bumi sehingga Amerika dipandang sebagai negara maju. Amerika ingin memublikasikan nilai-nilainya, seperti “kebebasan, demokrasi, dan keadilan” dan berusaha menjadikannya sebagai nilai yang universal dalam “Tata Dunia Baru”.

Selanjutnya, Amerika berusaha mengeliminasi setiap paham, tindakan, ataupun nilai-nilai lain yang dipandang sebagai pesaing atau ancaman terhadap nilai-nilai Amerika. Misalnya, pada era Perang Dingin, Amerika memandang komunisme sebagai ancaman yang harus diperangi sehingga mereka melakukan intervensi di berbagai negara untuk memeranginya, baik langsung maupun tidak langsung.

Kini—setelah era 11 September—Amerika melancarkan intervensi dengan dalih melawan terorisme global. Dalih lain yang juga sering digunakan adalah “humanitarian intervention” (intervensi atas nama kemanusiaan), yang sering kali dikritik inkonsisten karena dijalankan atas dasar kepentingan dan selera politik Amerika.

Sebenarnya, fakta mengungkapkan bahwa Amerika memiliki banyak catatan negatif atau rapor buruk terkait kebijakan luar negerinya setelah pecah Perang Dunia II. Hal ini dimulai dengan tragedi berdarah, yaitu dengan menjatuhkan bom atom di Jepang, meskipun Perang Dunia II hampir berakhir dalam waktu dekat dan saat Stalin tidak menghentikan pergerakan pasukannya ke jantung Jerman.

Amerika ingin menyampaikan pesan bahwa mereka memiliki berbagai senjata. Pada saat itu Komandan Militer Amerika Serikat Jenderal George Marshall memerintahkan untuk melaksanakan pemboman terhadap sebuah kota yang luas di Jepang yang padat penduduk. Diterbangkanlah 334 pesawat Amerika untuk menjatuhkan bom untuk menghancurkan area seluas 16 mil persegi. Membunuh dalam hitungan jam sekitar 140 ribu orang (sampai dengan akhir tahun 1945).

Kemudian diakhiri dengan adegan paling berdarah pada era kemanusiaan yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu saat mereka menjatuhkan dua bom nuklir di atas kota Hiroshima dan Nagasaki, yang menyebabkan puluhan ribu jiwa melayang, tanpa perbedaan antara sipil dan militer ataupun seorang pria, wanita, dan anak. Dampaknya sekitar 1 juta orang mengungsi ke Tokyo dan 64 kota di Jepang lainnya.[1]

Setelah itu, Amerika juga tercatat banyak melakukan kejahatan kemanusiaan di berbagai penjuru dunia. Berikut ini adalah catatan-catatan yang pernah dilakukan oleh Amerika, sebagaimana yang didokumtasikan oleh William Blum (2004):[2]

1. China 1945–1949

Turut serta dalam perang saudara di China, dengan berpihak pada Chiang Kai-shek melawan komunis, walaupun komunis adalah sekutu Amerika pada Perang Dunia II. Amerika menggunakan tentara Jepang yang telah dikalahkan olehnya untuk membela Chiang Kai-Shek. Komunis akhirnya mengusir Chiang Kai-Shek hingga mundur ke Taiwan pada tahun 1949.

2. Italia 1947–1948

Menggunakan semua trik dan skill, Amerika turut campur untuk mencegah agar Partai Komunis tidak menang dalam pemilu secara jujur dan adil. Penyalahgunaan demokrasi ini dilakukan dengan dalih “menyelamatkan demokrasi” di Italia.

3. Yunani 1947–1949

Turut campur lagi dalam perang saudara dengan memihak kelompok neo fasis melawan kelompok sosialis, yang sesungguhnya adalah sekutu mereka pada Perang Dunia Ke-2 melawan Jerman. Kelompok Neo Fasis menang dan dan mendirikan rezim yang brutal dimana CIA turut serta membentuk badan intelijen KYP, dimana KYP melakukan pelanggaran HAM dengan menangkap dan menyiksa para oposan.

4. Filipina 1945–1953

Korps Marinir Amerika berperang melawan kelompok sosialis (Huks), walaupun Huks sendiri turut berperang melawan penjajahan Jepang. Setelah mengalahkan Huks, Amerika mendirikan pemerintahan boneka sampai memunculkan Ferdinand Marcos.

5. Korea Selatan, 1945–1953

Setelah Perang Dunia II, terjadi kemelut antara Amerika dan Korea Utara dikarenakan ketakutan Amerika atas penyebaran pengaruh Uni Soviet. Atas hal ini, Amerika masuk ke wilayah Korea. Orang Amerika menekan kelompok progresif yang populer dalam masyarakat dengan memihak pada kelompok konservatif yang dahulu berkolaborasi dengan penjajahan Jepang. Ini mengakibatkan timbulnya rezim pemerintahan yang korup, reaksionis, dan brutal. Diperkirakan Amerika Serikat telah mengobarkan perang berdarah, dan menewaskan 100 ribu orang …. Di provinsi yang kecil, 30.000-40.000 dari mereka tewas selama pemberontakan yang dilakukan para petani.”

6. Albania 1949–1953

Amerika dan Inggris gagal dalam usahanya menggulingkan pemerintahan komunis dan mendirikan rezim yang pro-Barat yang terdiri dari kelompok aristrokat dan konglomerat yang menjadi mitra kelompok Nazi Jerman dan Fasis Italia pada Perang Dunia II.

7. Jerman 1950-an

CIA merancang sabotase, terorisme, dan trik trik kotor terhadap Jerman Timur. Ini juga yang menjadi salah satu penyebab didirikannya Tembok Berlin pada tahun 1961.

8. Iran 1953

Perdana Menteri Mossadegh digulingkan dalam operasi gabungan antara Amerika dan Inggris dengan codename Ajax. Mossadegh terpilih dengan suara mayoritas mutlak dalam parlemen, tapi dia membuat kesalahan fatal, yaitu berusaha untuk menasionalisasi perusahaan minyak milik Inggris; satu-satunya perusahaan minyak yang beroperasi di Iran. Kudeta sukses menggulingkan Mossadegh dan mengangkat Rezim Shah yang menjadi penguasa absolut di Iran dan dimulailah masa penindasan dan kesewenang-wenangan selama 25 tahun. Perusahaan minyak dikembalikan ke penguasaan asing dengan komposisi Amerika dan Inggris masing masing 40% dan sisanya 20% ke negara lain.

9. Guatemala 1953–1990-an

Kudeta yang dirancang CIA menumbangkan pemerintahan yang demokratis dan progresif pimpinan Jacobo Arbenz, yang dengan itu dimulailah 40 tahun masa penyiksaan, pembunuhan massal, penculikan, dan penindasan dengan korban lebih dari 100 ribu jiwa. Termasuk salah satu krisis kemanusiaan terbesar sepanjang abad ke-20.

Noam Chomsky menggambarkan bagaimana pemerintahnya menginjak-injak “nilai-nilai” demokrasi – ketika demokrasi dirasa menghalangi kepentingan mereka sendiri. Dia berkata, “Revolusi fasis di Kolombia tidak akan mendatangkan kekayaan kecuali sedikit, maka Amerika pun tidak punya alasan untuk ikut campur. Amerika juga tidak tertarik dalam kudeta militer di Venezuela, dan kembalinya kekuatan fasisme di Panama. Namun, kepahitan dan permusuhan yang memanas dalam pemerintah kita ketika Guatemala memiliki sebuah pemerintahan hasil demokrasi untuk pertama kalinya setelah dalam sejarah Guatemala.”[3]

10. Timur Tengah 1956–1958

Doktrin Eisenhower menyatakan bahwa Amerika “selalu siap menggunakan angkatan bersenjatanya untuk “membantu” negara manapun di Timur Tengah yang “meminta bantuan melawan agresi dari negara manapun di dunia yang dikuasai oleh Komunisme Internasional”. Maksudnya adalah tidak boleh ada siapapun yang mendominasi atau memiliki pengaruh yang besar di Timur Tengah dan kilang-kilang minyaknya selain Amerika, dan siapa pun yang mencobanya secara definisi adalah “komunis”. Demi menegakkan kebijakan ini, Amerika telah dua kali berusaha menggulingkan pemerintah Syria, mengirimkan 14 ribu tentara ke Lebanon, dan berkonspirasi untuk menggulingkan atau membunuh Jamal Abdunnashir dari Mesir yang memiliki ide Nasionalisme Arab.

11. Indonesia 1957-1958

Soekarno, sama seperti Abdunnashir, dipandang sebagai pemimpin Dunia Ketiga yang tidak boleh dibiarkan lepas tak terkendali. Dia mendirikan gerakan Non-Blok dan berusaha serius untuk tidak berpihak, dengan berkunjung ke Soviet, China, dan Gedung Putih. Dia menasionalisasi banyak perusahaan Belanda di Indonesia. Dan menolak untuk membubarkan Partai Komunis Indonesia, yang membuat langkah-langkah konkrit dan legal serta memiliki pendukung yang cukup signifikan.

Kebijakan Soekarno ini jelas akan memberikan gambaran yang “salah” pada para pemimpin Negara Dunia Ketiga lainnya bahwa ada alternatif lain selain Kapitalis dan Komunis. CIA mulai turun gunung, dengan turut campur mepengaruhi pemilu, membuat usaha pembunuhan Soekarno, berusaha memerasnya dengan rekaman skandal seks, dan membantu pembangkangan melawan Soekarno dengan memberikan bantuan intelijen dan senjata. Soekarno selamat dari itu semua sampai akhirnya jatuh pada tahun 1965.

12. British Guyana 1953–1964

Selama 11 Tahun, 2 dari Negara Demokrasi tertua di dunia, Inggris dan Amerika, berusaha sekuat tenaga untuk mencegah pemimpin yang terpilih secara demokratis agar bisa menempati kantornya. Cheddi Jagan termasuk dari para pemimpin Negara dunia ketiga yang “nyeleneh” dengan berusaha netral dan independent. Dia terpilih 3 kali, walaupun dia orang ‘kiri’, lebih dari pada Soekarno dan Arbenz, kebijakan-kebijakannya tidaklah revolusioner. Tapi, dia tetap saja jadi sasaran tembak karena dia mewakili apa yang menjadi ketakutan terbesar Washington; membangun masyarakat yang (masih) “mungkin” jadi contoh sukses alternatif terhadap sistem kapitalis. Menggunakan beragam taktik mulai dari disinformasi, terorisme, dan lain-lain, pada akhirnya Amerika dan Inggris sukses menyingkirkan Jagan di tahun 1964.

What happened next? Asalnya negara ini salah satu negara terbaik di kawasannya pada saat pemerintahan Jagan, maka pada tahun 1980-an, Guyana menjadi salah satu negara termiskin, yang ekspor utamanya adalah manusia.

13. Vietnam 1950–1973

Kehancuran dimulai dengan berpihak kepada Prancis, bekas penguasa kolonial melawan Ho Chi Minh dan pengikutnya yang justru berjuang bersama dengan tentara sekutu dan sangat mengagumi Amerika. Tapi lagi lagi Ho Chi Minh memiliki dosa yang tidak terampuni, yaitu “dia semisal komunis”. Ho Chi Minh menulis surat berkali-kali kepada Pesiden Truman dan State Department meminta bantuan Amerika untuk menghadapi Prancis dan memerdekakan Vietnam. Semua permohonannya diabaikan.

Ho Chi Minh membuat deklarasi independen Vietnam dengan mencontoh deklarasi independen Amerika, dengan memulainya “Semua manusia diciptakan setara. Mereka dianugerahi oleh Tuhan dengan…” Tapi, semua ini tidak berarti apa apa buat Washington, toh Ho Chi Minh adalah “komunis”.

Kemudian Amerika menarik mundur pasukannya dari Vietnam. Kebanyakan orang bilang Amerika kalah perang, tapi dengan menghancurkan Vietnam sampai ke sari-sarinya, meracuni tanahnya dan beberapa generasi mendatang, Washington sesungguhnya telah mencapai tujuan utamanya, yaitu mencegah apa yang mungkin (lagi-lagi masih mungkin) tumbuhnya model pemerintahan yang bisa jadi pilihan bagi Asia.

Pada awal Perang Vietnam, perang yang sampai pada pertengahan 1963 tersebut menyebabkan pembunuhan 160 ribu orang, penyiksaan sekitar 700 ribu orang, pemerkosaan terhadap sekitar 31 ribu wanita, pembelahan perut orang yang masih hidup hampir 3000 orang, pembakaran 4000 lainnya sampai mati, menyerang 46 desa dengan zat beracun, menyebabkan penghancuran kota Hanoi pada tahun 1972 yang mencederai lebih 30 ribu anak-anak sehingga menjadi tuli permanen, dan hilangnya 300 ribu keluarga atau salah satu anggotanya.

Selama 23 tahun konflik, jatuh korban lebih dari 1 juta orang saat perang berakhir pada tahun 1975. Inilah angka yang populer. Majalah New York Times (8/10/1997) menerbitkan bahwa jumlah sebenarnya mencapai 3,6 juta orang. Namun, ini tidak cukup untuk memuaskan haus darahnya mereka.[4]

14. Kamboja 1955 – 1973

Pangeran Sihanouk termasuk salah satu (lagi-lagi) pemimpin yang tidak berminat jadi “partner” Amerika. Setelah bertahun-tahun usaha menumbangkan rezim pemerintahannya, Washington berhasil menumbangkan Sihanouk dalam kudeta tahun 1970. Dan kemudian datanglah Pol Pot dengan Khmer Merahnya, 5 tahun kemudian mereka merebut kekuasaan. Tapi 5 tahun pemboman oleh Amerika telah menghancurkan ekonomi Kamboja. Yang lebih parah, Khmer Merah lebih sadis lagi dan untuk menambah ironi. Amerika malah membela Pol Pot secara Militer dan Diplomatik setelah kekalahannya dari Vietnam.

Apa yang terjadi antara tahun 1952 hingga 1973 tidak banyak diekspos, apalagi ketika korban yang meninggal bukan dari kalangan Amerika, Israel maupun Inggris. Padahal, korban dalam rentang waktu di atas sekitar 10 juta orang Cina, Korea, Vietnam, Rusia dan Kamboja.

15. Kongo/Zaire, 1960–1965

Pada bulan Juni tahun 1960, Patrice Lumumba menjadi perdana menteri Kongo pertama setelah merdeka dari Belgia. Tapi Belgia tetap menguasai provinsi kaya mineral di Katanga, dan salah satu tokoh elit Washington memiliki saham juga di sini.

Kemudian Lumumba, pada hari kemerdekaannya menyatakan untuk memerdekan diri selain secara politik juga secara ekonomi seraya menyebutkan daftar ketidakadilan yang dilakukan oleh para pengusaha kulit putih terhadap warga pribumi. Sudah jelas dia pasti orang “komunis”.

11 hari kemudian Propinsi Katanga memisahkan diri, dan di bulan September Lumumba dipecat dari jabatannya sebagai perdana menteri, dan pada bulan Januari 1961, dia dibunuh atas permintaan Dwight D. Eisenhower.

Kemudian timbullah perang saudara selama beberapa tahun, dengan tampilnya Mobutu Sese Seko, seseorang yang bukan orang asing buat CIA. Mobutu kemudian memerintah selama lebih dari 30 tahun, yang kekejaman dan korupsinya bahkan membuat shock CIA. Rakyat Zaire hidup di bawah garis kemiskinan walaupun tanah mereka kaya dengan mineral, sementara Mobutu berlimpah harta.

16. Brazil 1961–1964

Presiden Joao Goulart bersalah karena dosa yang “biasa”, yaitu coba-coba independen dalam kebijakan luar negerinya serta membuka hubungan diplomatik dengan Kuba. Pemerintahannya juga mengesahkan undang-undang yang membatasi keuntungan perusahaan luar negeri (PMA yang beroperasi di Brazil), yang bisa dibawa ke luar negeri. Salah satu anak perusahaan ITT dinasionalisasi, mempromosikan reformasi sosial, sehingga jadilah dia semacam “komunis” di mata Amerika.

Walaupun begitu, sebenarnya ia bukanlah komunis ataupun radikal. Dia adalah tuan tanah kaya-raya dan juga seorang Katolik yang selalu memakai kalung “Virgin Mary”. Tapi, itu semua belum cukup buat menyelamatkan Joao. Pada tahun 1964, dia digulingkan oleh kudeta militer yang di-backup oleh Amerika. Dan jawaban resmi Amerika adalah: “Ya, cukup disayangkan memang pemerintahan demokratis ditumbangkan di Brazil, tapi tetap saja negara itu telah diselamatkan dari cengkeraman Komunisme.”

Dan untuk 15 tahun ke depan, semuanya dirombak. Kongres dibubarkan, oposisi politik dicukur habis, “habeas corpus act”[5] untuk kejahatan politik dibekukan, mengkritik presiden dilarang oleh undang undang, serikat pekerja diambil alih oleh pemerintah dan jadi kaki tangan penguasa. Jika ada yang berdemo, langsung dihadang oleh tentara. Kalau mencoba melawan akan dipukul, dan pemerintah memberi nama programnya dengan “rehabilitasi moral” untuk Brazil.

Washington sangat puas, Brazil memutus hubungan diplomatik dengan Kuba, dan menjadi salah satu sekutu utama Amerika di Amerika Selatan.

17. Republik Dominika 1963–1966

Pada February 1963, Juan Bosch, diangkat sebagai presiden pertama yang terpilih secara demokratis di negara ini semenjak 1924. Disinilah akhirnya model pemerintahan liberal anti komunis yang diidam-idamkan oleh John F. Kennedy akan terwujud, untuk mengcounter bahwa Amerika hanya mendukung pemerintahan diktator militer. Pemerintahan Bosch dicanangkan sebagai model demokrasi untuk negara dunia ketiga. Bosch diberikan perlakuan istimewa oleh Washington sampai sebelum ia dilantik.

Bosch ternyata melakukan apa yang ia janjikan. Dia mencanangkan program “Land Reform”, pembangunan rumah sangat sederhana, nasionalisasi bisnis sewajarnya, dan mengundang investasi asing masuk selama tidak menguasai hajat hidup orang banyak, dan banyak lagi program yang akan dilakukan oleh para pemimpin yang serius ingin membuat perubahan sosial. Dia juga serius dengan kebebasan berpendapat dan berserikat, partai komunis dibiarkan berdiri, kecuali bila mereka melanggar hukum.

Mulailah banyak senator dan anggota Kongres Amerika yang bersuara atas kebijakan Bosch, dan juga sikapnya yang ingin mandiri dan tidak bergantung pada Amerika. Tentu saja “Land Reform” dan Nasionalisasi adalah isu yang sensitif di Washington, sesuatu yang hanya dipikirkan oleh “commies bastard”. Mulailah di media massa Amerika Bosch digambarkan sebagai commies.

Pada bulan September, kudeta militer terjadi dan Bosch digulingkan. Amerika—yang bisa menggagalkan kudeta militer di Amerika Latin hanya dengan mengedipkan mata—diam seribu bahasa. Sembilan belas bulan kemudian, pecah revolusi yang berusaha untuk menaikkan kembali Bosch ke tampuk kekuasaan. Apa yang dilakukan Amerika? Amerika mengirimkan 23 ribu pasukannya untuk menumpas revolusi rakyat.

18. Kuba 1959–sekarang

Fidel Castro naik ke puncak kekuasaan pada awal tahun 1959, dan Amerika sudah berencana untuk menggulingkan pemerinthannya semenjak 10 maret 1959. Dan semenjak itu Kuba dibombardir serangkaian Embargo, Isolasi, Disinformasi, Pemboman, Terorisme, dan sebagainya, karena dosanya yang hanya satu, yaitu menolak untuk tunduk pada Amerika, dan memberikan contoh pada negara negara lain.

19. Indonesia, 1965

Banyak runtutan kejadian yang digambarkan dari mulai usaha kudeta yang gagal, dan konter kudeta. Dengan peran dari CIA yang menyuplai daftar nama nama orang yang diduga “komunis” untuk dieksekusi kepada militer.

Pembunuhan massal yang terjadi dengan jatuhnya Soekarno terhadap komunis, simpatisan komunis, dicurigai komunis, dan dicurigai sebagai simpatisan komunis, diperkirakan yang tewas dalam pembantaian ini berkisar 500 ribu jiwa sampai lebih dari satu juta jiwa.

20. Chili, 1964 – 1973

Salvador Allende adalah pilihan terburuk buat Washington. Apa yang lebih buruk dari penguasa Marxis adalah penguasa Marxis yang dipilih secara demokratis dan populer di mata rakyatnya. Hal ini menggoncang pilar utama dari anti komunisme, yaitu komunis hanya bisa berkuasa kekerasan dan penipuan, dan mereka hanya bisa bertahan dengan meneror rakyatnya serta mencuci otak kaum awam.

Setelah gagal dalam usaha sabotase terhadap pemilu di Chili di tahun 1964 dan 1970, Amerika mencoba segala upaya untuk menumbangkan Allende. Akhirnya pada September 1973 Allende terguling oleh kudeta militer yang disponsori Amerika dan Allende tewas dalam kudeta ini.

Mereka menutup Chili selama satu minggu dari dunia luar dan melakukan eksekusi pada tokoh oposisi. Pada akhirnya, rakyat yang miskin tambah miskin, serta lebih dari 3,000 di eksekusi dan ribuan lainnya disiksa dan menghilang.

21. Yunani, 1964 – 1974

Kudeta militer terjadi pada tahun 1967, hanya 2 hari setelah dimulainya masa kampanye, di mana yang diperkirakan akan memenangkan adalah George Papandreou sebagai Perdana Menteri. Papandreou adalah tokoh pemimpin Liberal. Korban dari kudeta ini diperkirakan mencapai 8,000 jiwa pada bulan pertama saja. Dan ini semua dilakukan kembali dengan dalih menyelamatkan dari pengaruh komunisme.

22. Timor Leste, 1975 – Sekarang

Pada Desember 1975, Indonesia menginvasi Timor Timur, yang baru memproklamirkan kemerdekaannya dari Portugal. Invasi ini dilakukan setelah Presiden Gerald Ford dan Sekretaris Negara Henry Kissinger meninggalkan Indonesia dan memberi izin kepada Soeharto untuk menggunakan persenjataan buatan Amerika, yang menurut undang-undang Amerika, persenjataan mereka tidak boleh digunakan untuk agresi militer.

Amnesty International memperkirakan, pada tahun 1989 bahwa pasukan Indonesia telah membunuh lebih dari 200,000 rakyat Timor Timur dari jumlah populasi sekitar 700,000. Amerika selalu konsisten membela klaim Indonesia atas Timor Timur (tidak seperti Uni Eropa dan PBB).

23. Nikaragua, 1978 – 1989

Ketika kelompok Sandinista menggulingkan diktator Somoza pada tahun 1978, maka menjadi jelas bagi Amerika bahwa mereka bisa jadi ancaman baru setelah Kuba. Pada masa Carter usaha penggulingan adalah dengan usaha Diplomatik dan Ekonomi, sedangkan pada masa Reagan, menggunakan cara cowboy, sehingga kekerasan lebih diutamakan. Selama lebih dari 8 tahun rakyat Nikaragua di dalam bayangan ketakutan diserang oleh pasukan CONTRA yang dimodali dan dikontrol oleh Amerika. Mereka adalah bekas pasukan diktator Somoza. Peperangan yang terjadi dalam skala besar dengan metode-metode yang mengerikan, seperti pembakaran sekolah, gereja, rumah sakit, pemerkosaan, dan penyiksaan. Dan ini adalah “pejuang kemerdekaan” Ronald Reagan.

24. Grenada, 1979 – 1984

Apa sebenarnya yang menjadi motivasi dari negara superpower nomor satu di dunia untuk menyerang negara dengan populasi yang hanya 110,000 orang? Maurice Bishop dan pengikutnya melakukan kudeta pada tahun 1979, dan dianggap Amerika bakal jadi model buat negara lain, setelah gagal menggulingkan dengan cara cara sabotase. Akhirnya Amerika menginvasi Grenada tahun 1983, dengan jumlah korban 400 orang dari pihak Grenada dan 135 dari pihak Amerika yang tewas atau terluka.

25. Libya, 1981 – 1989

Libya menolak untuk tunduk pada Amerika. Amerika menembak jatuh 2 pesawat terbang Libya dan juga membom Libya, yang mengakibatkan tewasnya paling tidak 40 korban jiwa termasuk putri dari Qadzafi.

26. Panama, 1989

Pesawat pembom Wahington kembali beraksi. Pada Desember 1989, Panama City dibom besar-besaran, lebih dari 15.000 jiwa kehilangan tempat tinggal. Lalu setelah beberapa perang darat melawan pasukan Panama mengakibatkan tewasnya ribuan jiwa.

Pertanyaan dari wartawan : “Apakah pantas untuk membunuh demi mendapatkan Noriega?”.

George Bush Senior : “Setiap nyawa adalah berharga, tapi bila saya harus menjawab, maka saya akan menjawab memang pantas.”

Manuel Noriega sesungguhnya adalah sekutu Amerika yang sudah tidak terpakai lagi, alias sudah kadaluarsa. Tapi, menangkap Noriega bukanlah motif utama invasi Amerika ini, melainkan adalah untuk menunjukkan kepada rakyat Nikaragua jangan sampai salah memilih dalam pemilu mereka yang akan dilangsungkan bulan berikutnya kalau nasibnya tidak mau sama seperti ini. Lalu juga sebagai usaha dari Presiden Bush meminta dana dari Kongres buat anggaran militer agar jangan dipotong, tetapi ditambah, walaupun Uni Soviet baru aja bubar, tapi musuh selalu ada.

Alasan resmi Amerika adalah untuk mengadili penyelundupan narkoba Noriega, yang sebenarnya sudah diketahui oleh Washington selama bertahun-tahun, tapi tidak pernah dipedulikan.

27. Irak I, 1990an

Pemboman siang dan malam selama 40 hari berturut turut, 177 juta kilo bom dijatuhkan di Irak, terbesar sepanjang sejarah peradaban umat manusia, depleted uranium digunakan untuk menembak manusia, mengakibatkan kanker. Selanjutnya embargo besar besaran yang mengakibatkan tewasnya ratusan ribu bayi karena kekurangan obat obatan.

28. Afghanistan I, 1979 – 1992

Pada awalnya Amerika berusaha menumbangkan pemerintahan Afghanistan yang pro pada Soviet dengan membiarkan kaum muslimin berjihad melawan pemerintahan yang pro komunis. Pada akhirnya Amerika merasa “menang”, dengan rakyat Afghanistan ada di pihak yang kalah, dengan korban jiwa lebih dari 1 juta, dan lebih dari 3 juta cacat, serta lebih dari 5 juta pengungsi; totalnya setengah dari populasi.

29. Afghanistan II, 2001 – Sekarang

Invasi Amerika ke Afganistan (2001-sekarang) dimulai pada Oktober 2001. Setelah serangan WTC 11 September, Amerika Serikat memulai kampanye Perang Melawan Terorisme mereka di Afganistan, dengan tujuan menggulingkan kekuasaan Taliban, yang dituduh melindungi Al-Qaeda, serta untuk menangkap Osama bin Laden. Aliansi Utara Afghanistan menyediakan mayoritas pasukan, dengan dukungan dari Amerika Serikat dan negara-negara NATO, antara lain Britania Raya, Prancis, Belanda, dan Australia. Nama kode yang diberikan oleh Amerika Serikat untuk konflik ini adalah Operasi Kebebasan Abadi (Operation Enduring Freedom). Ribuan sipil menjadi korban dalam invasi ini.

30. Irak, 2003 - Sekarang

Invasi Irak 2003 dengan kode "Operasi Pembebasan Irak" secara resmi dimulai pada tanggal 19 Maret 2003. Tujuan resmi yang ditetapkan Amerika Serikat adalah untuk "melucuti senjata pemusnah massal Irak, mengakhiri dukungan Saddam Hussein kepada “terorisme”, dan memerdekakan rakyat Irak". Sebagai persiapan, pada 18 Februari 100.000 tentara Amerika Serikat dimobilisasikan di Kuwait. Amerika Serikat menyediakan mayoritas pasukan untuk invasi ini, dengan dukungan dari pasukan koalisi yang terdiri dari lebih dari 20 negara dan suku Kurdi di utara Irak. Invasi Irak 2003 inilah yang menjadi pembuka Perang Irak.

Sedikitnya 125.000 warga sipil tewas sejak intervensi pimpinan Amerika Serikat. Jumlah ini diduga jauh di bawah angka yang sebenarnya. Perang masih belum usai: korban warga sipil masih berjatuhan dalam jumlah besar.

Jumlah tiga puluh di atas belum semua yang ditulis Blum. Tapi, setidaknya cukup memberikan gambaran tentang betapa sering Amerika melakukan intervensi di negara lain. Selanjutnya, tambahan data intervensi  dari Blum bisa dicantumkan dalam “catatan kecil” berikut:

1. AS adalah negara satu-satunya yang telah menggunakan bom atom dan senjata pemusnah massal yang kontra dengan HAM.

2. AS melakukan intervensi terhadap Yunani pada tahun 1949.

3. AS ikut campur tangan dalam konflik di Korea pada tahun 1950-1953 hingga terbagi menjadi dua bagian: Utara dan Selatan. Dan sampai saat ini Amerika masih ikut campur bahkan juga menebar ancaman hingga sekarang.

4. AS melakukan campur tangan di Iran pada tahun 1953 untuk menggulingkan pemerintahan Mushadeq demi Shah thaghut (Muhammad Reza Pahlevi).

5. AS melakukan intervensi di Guatemala pada tahun 1954 dan menebar kekacauan.

6. AS melakukan intervensi di Lebanon pada tahun 1958 dan 1982. Menghancurkan dengan mengebom kota-kota serta masih melakukan intervensi hingga sekarang.

7. AS melakukan intervensi di Kuba pada tahun 1951, 1952 dan 1961 dengan mengirimkan pasukan ke Teluk Babi serta masih berlangsung hingga sekarang.

8. AS melakukan intervensi di Kongo serta membunuh presiden Lumumba pada tahun 1960.
9. AS melakukan intervensi di Panama dan mendudukinya pada tahun 1964.

10. AS melakukan intervensi di Laos pada tahun 1964 dan 1973.

11. AS melancarkan agresi militer di Vietnam pada tahun 1960-1970 dengan menewaskan 300 juta jiwa dan tujuh juta jiwa mengungsi.

12. AS melakukan intervensi di Dominika pada tahun 1965.

13. AS melakukan intervensi di Kamboja pada tahun 1973.

14. AS melakukan intervensi di Chile pada tahun 1973.

15. AS ikut campur tangan di Iran pada tahun 1980.

16. AS melakukan intervensi di Nikaragua pada tahun 1979.

17. AS melakukan intervensi di El Salvador pada tahun 1981.

18. AS melakukan intervensi di Libya dan membombardirnya dengan serangan udara pada tahun 1986 dan embargo pada tahun 1998.

19. AS melakukan intervensi di Chad pada tahun 1983.

20. AS melakukan intervensi di Haiyana pada tahun 1983.

21. AS melakukan intervensi di Kepulauan Alishel pada tahun 1983.

22. AS melakukan intervensi di Grenada dan mendudukinya pada tahun 1983.

23. AS melakukan campur tangan dalam konflik di Teluk dengan menghancurkan Irak bekerja sama dengan sekutunya dalam satu wadah perkumpulan orang-orang kafir dan para teroris. Mereka juga melakukan embargo hingga menewaskan satu juta anak kecil.

24. AS membombardir Afghanistan pada tahun 1998.

25. AS melakukan intervensi di Sudan dan membombardir dengan rudal serta menghancurkan sebuah pabrik farmasi Sudan.

26. AS menghancurkan pesawat Mesir di atas Samudra Atlantik yang membawa seorang ilmuwan nuklir dan 30 jenderal pada tahun 1999.

27. AS menyempurnakan penghancuran Irak dengan ikut dalam persekutuan poros kejahatan yang diwakili aliansi, negara sekutu baik Zionis maupun Protestan pada tahun 2003.

28. AS memberikan donasi sebesar $300 M untuk mendukung entitas Zionis dan penjarahan hak-hak muslim di Palestina.

29. AS menyalah gunakan hak vetonya terhadap masalah hak umat Islam di Palestina sebanyak 57 kali.
30. AS memberi bantuan Air Berat (Air yang digunakan untuk mendinginkan reaktor nuklir) kepada India agar India memiliki bom nuklir melawan Pakistan yang notabene mayoritas muslim.

31. AS mengancam berupa sanksi kepada siapa pun yang mencoba memberi pasokan senjata kepada negara Arab untuk melawan Israel.

32. AS mengancam siapa saja yang mencoba untuk membicarakan kejahatan Yahudi.

33. AS menduduki negara-negara Teluk.

Kemudian, berikut ini adalah sekedar data-data yang mungkin tidak terlalu primer, sebagaimana yang ditulis Arief Ryanto dalam blognya:[6]

1. Konvensi senjata kimia dan biologi tahun 1972 diratifikasi oleh 144 negara termasuk Amerika. Pada Juli 2001, Amerika walk out dari konvensi di London untuk membicarakan protokol 1994, yang akan memperkuat konvensi ini dengan menyediakan pemeriksaan lapangan. Di Jenewa, pada bulan November 2001, Asisten Menlu AS John Bolton menyatakan “The Protocol is dead”, dan pada saat yang sama menuduh Irak, Iran, Korea Utara, Libya, Sudan, dan Syria, melanggar konvensi tanpa tuduhan yang jelas ataupun bukti pendukung.

2. Pada Desember 2001, Amerika secara resmi menarik diri dari perjanjian Rudal Anti Balistik tahun 1972, dan dengan gagah berani untuk pertama kalinya semenjak era Senjata Nuklir Amerika mencanangkan kebijakan produksi senjata.

3. Pada Juli 2001, PBB berencana mengeluarkan resolusi untuk menghalangi penjualan senjata ringan ilegal (maksudnya mungkin tanpa prosedur resmi), dan satu-satunya negara yang menentang adalah Amerika!

4. April 2001, Amerika tidak terpilih kembali untuk tergabung dalam Komisi Hak Asasi Manusia PBB (UNHRC) setelah menunggak iuran bertahun-tahun. Di komisi hak asasi manusia, Amerika kembali menjadi satu satunya negara yang menentang resolusi untuk mendapatkan obat HIV/AIDS yang lebih murah, mengakui hak asasi manusia untuk mendapatkan makanan yang cukup, dan upaya untuk memberikan pemakaman bagi mereka yang terkena hukuman mati.

5. Perjanjian Pengadilan Kriminal International (ICC), yang sedianya dilaksanakan di Den Haag, untuk mengadili para pemimpin politik dan perwira militer yang dituntut atas kejahatan untuk kemanusian dan kejahatan perang. Perjanjian ini ditanda-tangani di Roma pada Juli 1998, disetujui oleh 120 negara dengan 7 negara menentang, termasuk Amerika!

6. Perjanjian Ranjau Darat, melarang penggunaan ranjau darat, ditanda tangani di Ottawa pada Desember 1997 oleh 122 negara. Amerika kembali menolak untuk menandatangani, bersama sama dengan Rusia, China, India, Pakistan Iran, Irak, Vietnam, Mesir, dan Turki. Presiden Clinton menolak perjanjian itu dengan alasan bahwa ranjau darat diperlukan untuk melindungi Korea Selatan dari ‘ancaman’ militer Korea Utara. Dia menyatakan bahwa nanti Amerika, kelak, suatu saat nanti, akan menyetujui perjanjian ini, di sekitar tahun 2006, tapi hal ini dibantah oleh Presiden Bush pada bulan Agustus 2001.

7. Protokol Kyoto tahun 1997, yang bertujuan untuk mengontrol pemanasan global yang berasal dari hasil polusi industri negara maju, dinyatakan telah mati oleh Mr. Bush pada bulan Maret 2001.

8. Pada bulan Mei 2001, Amerika menolak untuk berunding dengan perwakilan negara-negara Eropa, bahkan untuk level terendah, berkenaan dengan hak pribadi dan spionase serta penyadapan telepon, email, dan faksimili (“Echelon Program”).

9. Menolak untuk berpartisipasi dalam organisasi ekonomi (OECD) di Paris pada bulan Mei 2001, yang bertujuan untuk menghalangi praktik praktik penyelundupan dan pencucian uang.

10. Menolak bergabung dengan 123 negara lainnya untuk menghentikan penggunaan dan produksi bom dan ranjau anti personel (senjata yang ditujukan untuk menghabisi personel lawan, seperti cluster bomb atau napalm bomb) pada bulan Februari 2001.

11. Pada bulan September 2001, mengundurkan diri dari konferensi internasional menentang praktek rasisme, diikuti oleh 163 negara di Durban, Afrika Selatan.

12. Pada Juli 2001, negara G8 (USA, Kanada, Jepang, Rusia, Perancis, Italia, Inggris, Jerman) merencanakan untuk penggunaan sumber energi yang lebih bersih, dan USA lagi lagi satu satunya negara yang menentang.

13. Melakukan kebijakan boikot ilegal kepada Kuba, dan sekarang semakin ditingkatkan. Pada bulan Oktober 2001, Majelis PBB mengeluarkan resolusi yang berturut turut selama 10 tahun terakhir, agar Amerika menyetop embargonya, dengan jumlah voting 167 melawan 3.

14. Perjanjian pelarangan uji coba senjata nuklir. Ditanda tangani oleh 164 negara dan kemudian diratifikasi oleh 89 negara termasuk Prancis, Inggris, dan Rusia. Ditandatangani oleh Presiden Clinton pada tahun 1996, tapi kemudian ditolak oleh Senat pada tahun 1999.

15. Pada tahun 1986, Pengadilan Internasional Den Haag menjatuhkan vonis bahwa USA telah melanggar hukum Internasional atas dasar “penggunaan kekuatan yang bertentangan dengan hukum” di Nikaragua.

16. Pada tahun 1984, Amerika keluar dari UNESCO (Badan PBB yang bertugas untuk pendidikan dan kebudayaan) dan menyetop semua tunggakannya atas projek NWICO, projek yang dicanangkan oleh UNESCO untuk mengurangi ketergantungan agen berita dunia kepada 4 besar (AP, UPI, AFP, dan Reuters). Amerika menuduh UNESCO telah dengan sengaja membatasi kebebasan pers, walaupun voting di PBB menunjukkan angka 148 melawan 1 untuk kemenangan NWICO, dan siapa lagi yang 1 itu kalau bukan Amerika. Pada tahun 1989, UNESCO memberhentikan proyek NWICO, tapi tetap saja Amerika tidak mau balik lagi. Tahun 1995 pemerintahan Clinton berniat untuk masuk lagi, tapi ditolak oleh Kongres.

17. Pada tahun 1979, PBB menyelenggarakan konvensi untuk meghapus segala bentuk diskriminasi terhadap wanita. Dari 4 Negara yang hanya menandatangani, tapi tidak meratifikasi adalah Amerika, dan Afghanistan.

18. Konvensi PBB tahun 1989 untuk hak anak anak, yang melindungi hak ekonomi dan sosial anak anak hanya ditanda tangani tapi tidak diratifikasi oleh Amerika. Satu satunya negara lain selain Amerika yang tidak meratifikasi ini adalah Somalia, yang memang pemerintahannya tidak berfungsi.

Lalu setelah semua yang telah terungkap dan terucap di sini masihkah ada yang mengatakan, “Toh Amerika juga ada baiknya dan tidak kalah dari buruknya dengan bantuan bantuan mereka seperti sumbangan, pinjaman, dan bea siswa, serta bantuan bantuan lainnya!“

Sedikit info tambahan, dari tiga besar pemberi bantuan dari negara-negara maju (negara donor), yang diukur berdasarkan rasio antara bantuan dengan Produk Domestik Bruto, urutannya adalah Denmark (1.01%), Norwegia (0.91%), dan Belanda (0.76%), dan yang terburuk dalam membantu adalah USA (0.10%), Inggris (0.23%), Australia (0.26%).

 

Intervensi Amerika atas Nama Global War On Terror

Amerika Serikat sebagai negara adidaya selalu mempengaruhi gejolak politik yang terjadi di kancah internasional, satunya seperti yang sedang terjadi di kawasan negara timur tengah yang berlangsung sangat panjang. Konflik yang berlangsung disanalah tidak lepas dari pengaruh campur tangan Amerika Serikat sebagai pembuktian eksistensi sebagai negara adikuasa.

Oleh karena itu, Amerika Serikat selalu melibatkan dirinya dalam mencampuri urusan politik internasional baik itu sifatnya positif (menguntungkan) bagi negara-negara yang terlibat maupun bersifat negatif (merugikan) yang mengedepankan kepentingan satu keberpihakan negara bahkan sampai menimbulkan konflik antar negara.

Kebijakan politik secara global yang dilakukan Amerika Serikat di antaranya berupa intervensi langsung terhadap negara-negara Muslim di Timur Tengah dan Asia. Salah satu latar belakangnya adalah adanya kekosongan kekuasaan pasca runtuhnya Uni Soviet di beberapa wilayah yang sebelumnya merupakan sekutu Uni Soviet termasuk negara-negara Timur Tengah yang memiliki kekayaan alam—salah satunya ialah minyak bumi dan gas alam—seperti yang dimiliki oleh Irak dan Afghanistan.

Dalam salah satu pertemuan tingkat dunia, Mantan Jaksa Agung Amerika Serikat Ramsey Clark pernah menyerukan komunitas internasional untuk bangkit melawan kebijakan intervensi pemerintah AS. Meskipun demikian, ia juga menegaskan bahwa Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) merupakan satu-satunya badan pemelihara perdamaian di dunia. "PBB adalah satu-satunya penjaga perdamaian di dunia, PBB melibatkan suara semua orang. Semua intervensi kami telah menjadi kegagalan bagi rakyat di negara-negara yang kami intervensi."[7]

"Intervensi AS adalah untuk tujuan yang salah dan tak bisa dibiarkan dan harus dilawan," imbuhnya. Hal tersebut disampaikan saat Clark menghadiri sebuah konferensi di Beirut, Libanon guna menunjukkan dukungannya bagi rakyat Suriah dan penolakannya atas intervensi militer AS di Suriah. Konferensi tersebut digelar di tengah ketegangan politik di wilayah Timur Tengah, yang dihadiri para pemimpin agama, politikus dan aktivis dari berbagai belahan dunia. Tujuannya, untuk menyampaikan penolakan atas intervensi militer AS di Suriah.Selain mengecam kemungkinan aksi militer AS di Suriah, Clark juga menentang intervensi militer AS di negara-negara lain.

 

Intervensi Amerika Serikat di Afghanistan (2001)

Pada tahun 2001 Amerika Serikat menyerang Afghanistan dengan slogan perwujudan keamanan dan apa yang mereka istilahkan dengan “pemberantasan terorisme”. Langkah tersebut didukung oleh banyak negara sekutu AS khususnya Inggris. Menurut klaim pihak Amerika Serikat, perang Afghanistan merupakan perang terpanjang AS di luar negeri. Akan tetapi hasil dari 13 tahun pendudukan Afghanistan bukan hanya tidak mewujudkan keamanan dan perdamaian, bahkan juga melanjutkan perang di dalam negeri serta lonjakan angka kemiskinan, instabilitas dan produksi narkotika.

Amerika Serikat dan Inggris sedang mengosongkan pangkalan militer mereka di Helmand pada saat yang sama provinsi tersebut menjadi wilayah paling bergejolak di Afghanistan. Keluarnya pasukan Amerika Serikat dan Inggris ditandai dengan penyerahan pangkalan militer di Helmand kepada militer Afghanistan pada tahun 2014.

Menteri Pertahanan Inggris, Michael Fallon, dalam salah satu wawancara dengan BBC mengakui kekeliruan Barat dalam menginvasi Afghanistan dan menekankan bahwa kekeliruan tersebut secara politik dan militer. Oleh karena itu, Inggris menyatakan bahwa penarikan pasukan dari Helmand telah mengakhiri misi militernya selama 13 tahun di Afghanistan akan tetapi pasukan Inggris tetap dipertahankan di Afghanistan untuk melatih dan mendukung militer pemerintah Kabul, yang dijadikan justifikasi berlanjutnya kehadiran militer Inggris di negara pendudukannya.

Foreign Policy dalam laporan bertajuk “Faktor Real Kegagalan AS di Afghanistan”[8] menulis bahwa Barat berusaha mengesankan keberhasilannya dalam perang di Afghanistan. Akan tetapi, pada kenyataannya, harus diperhatikan bahwa faktanya sangat memalukan dan mengungkap kekalahan. Kemenangan dalam perang Afghanistan telah didefinisikan dengan pengalahan Taliban dan perwujudan pemerintahan efektif di Kabul. Akan tetapi yang ada sekarang adalah berlanjutnya aktivitas Taliban yang semakin kuat.

Menurut Foreign Policy, warga Pakistan banyak yang mendukung Taliban dan bahkan wilayahnya menjadi wilayah subur untuk aktivitas para anasir Taliban. Ketika para anggota Taliban tersudut, mereka selalu dapat berlindung di Pakistan dan membangun kekuatan baru. Meski demikian, Washington tidak pernah menunjukkan keinginan untuk menggunakan pengaruhnya menekan Pakistan agar menghentikan dukungannya terhadap Taliban. Dan sekarang tidak jelas apakah Amerika Serikat dapat memberantas Taliban tanpa harus terlibat perang dengan Pakistan atau tidak.

Para pengamat di Foreign Policy berpendapat bahwa mengingat ketidakcocokan dalam kepentingan, tujuan dan sumber-sumber, maka konyol untuk menyebut Amerika Serikat “kemenangan di medan perang Afghanistan” dan karena poin-poin tersebut dapat disebut sebagai faktor perang berkepanjangan di Afghanistan hingga detik ini, yaitu perang dengan akhir yang tidak menyenangkan bagi AS dan rakyatnya. Sementara korban dan kerugian terbesar adalah rakyat Afghanistan. 

Kegagalan Amerika dan Inggris di Afghanistan dapat ditelusuri dalam pernyataan kelompok Taliban mereaksi pengosongan pangkalan terakhir dua pasukan pendudukan itu dari Helmand yang menyatakan, “Tidak diragukan lagi bahwa serangan berdarah para mujahidin selama 13 tahun terakhir telah memaksa pasukan penjajah lari.”

 

Intervensi Amerika Serikat di Irak (2003)

Salah satu alternatif untuk menguasai kekayaan alam tersebut, Amerika Serikat menggunakan strategi peperangan terhadap Irak sehingga akan memberi peluang luas bagi berjalannya agenda Israel dalam menghadapi konflik dengan Palestina. Hal ini sejalan dengan kebijakan politik standar ganda Amerika Serikat yang selain melindungi kepentingannya juga sangat mendukung Israel.

Selain itu, Amerika memiliki strategi dalam menghambat perkembangan ideologi Islam di negara Timur Tengah setelah meletusnya aksi intifadhah di Palestina. Amerika Serikat berupaya melakukan demokratisasi di negara-negara Timur Tengah untuk meminimalisir sikap kontra masyarakat di wilayah tersebut terhadap kebijakannya. Perang terhadap Irak yang di tempuh Amerika Serikat sangat bernuansa ideologis dan jauh dari perang yang benar.

 Amerika Serikat menggunakan isu-isu internasional untuk mendukung dan melegitimasi aksinya. Dengan isu-isu terorisme, Amerika Serikat mempunyai alasan yang tepat untuk melakukan intervensi seperti apa yang telah dilakukannya terhadap Afganistan. Intervensi ini kemudian dilanjutkan ke Irak sebagai sasaran selanjutnya. Irak merupakan sasaran selanjutnya karena Presiden Irak Saddam Hussein dianggap sebagai presiden yang diktator.

Presiden Saddam Hussein merupakan seorang diktator yang telah memerintah Irak dengan tangan besi. Tidak sedikit warga Irak baik yang ada pada strata bawah, tengah maupun atas yang telah menjadi korban otoritarianismenya. Dalam pandangan suku Kurdi dan sebagian warga Syiah atau masyarakat Irak lainnya Saddam Hussein dianggap sebagai penindas.

Hal itulah yang dianggap oleh Amerika Serikat sebagai salah satu motivasinya menyerang Irak dan menggulingkan rezim Saddam Hussein. Pemerintah Saddam juga dianggap sebagai pemerintah yang tidak demokratis dan menghalangi proses demokrasi di Timur Tengah. Amerika Serikat juga menggunakan isu-isu terorisme dan kepemilikan senjata pemusnah massal untuk melegalkan aksinya menyerang Irak.

 

Intervensi Amerika Serikat di Libya (2011)

Konflik senjata yang terjadi di Libya berawal dari keinginan masyarakat untuk menurunkan rezim kekuasaan Khadafi yang telah berlangsung selama kurang lebih 30 tahun. Banyaknya korban terutama dari warga sipil menimbulkan simpati masyarakat internasional yang meningkat secara signifikan sehingga membuat Dewan keamanan PBB tidak tinggal diam. DK PBB melalui NATO pada akhirnya mengambil tindakan dan ikut turun tangan dalam membantu menurukan rezim Khadafi di Libya.

Adanya serangan pemerintah terhadap warga sipil yang tidak bersenjata merupakan sebuah kejahatan atas kemanusiaan sehingga turun Amerika Serikat dengan menggunakan dalih resolusi PBB 1970 dan 1973 mengenai kejahatan perang dan perlindungan terhadap rakyat sipil pada 31 Maret 2011. Berdasarkan resolusi tersebut, NATO—sebagai sekutu Amerika Serikat—juga turun tangan dalam “menjaga perdamaian dan demokrasi”. Negara Eropa seperti Italia, Inggris dan Prancis “hanya” pemeran kedua yang menjalankan “sisa pekerjaan” Amerika.

PBB sebagai organisasi internasional menerapkan resolusi 1973 DK PBB yang mengizinkan DK PPB melalui NATO untuk menjalankan langkah apa pun untuk melindungi warga sipil di libya dari kekerasan pasukan muamar khadafi. Salah satu bentuk campur tangan  NATO terhadap Libya dilakukan atas dasar kebijakan Humanitarian Intervention.

Kebijakan ini dikritik karena dipandang kental dengan kepentingan negara-negara NATO. Salah satu kepentingan tersebut yakni keinginan negara-negara tersebut untuk memiliki sumber minyak, mengingat Libya merupakan negara yang kaya akan minyak. Kebijakan humanitarian intervention ini pula yang dijadikan justifikasi oleh Amerika Serikat untuk mencapai kepentingannya.

Presiden Barack Obama telah menyusun strategi sedemikian rupa; menggunakan kekuatan militer sebagai last resort, strategi militer dengan prospek yang bagus, menggunakan cara-cara dan alat-alat yang proporsional, berkoalisi dengan pihak yang lebih luas dan mendapat legitimasi dari Dewan Keamanan PBB. Hasilnya cukup memuaskan bagi Amerika Serikat, yaitu tujuan jangka pendek untuk menghentikan kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh Muammar Kaddafi dan tujuan jangka panjangnya untuk melengserkan Kaddafi dari kepemimpinan di Libya; keduanya tercapai. Kebijakan humanitarian intervention yang dilakukan oleh Amerika Serikat dilaksanakan tanpa menghabiskan biaya yang banyak, tanpa tentara Amerika Serikat terjun langsung ke Libya dan tanpa korban jiwa dari pihak Amerika Serikat.

Humanitarian intervention yang dilakukan oleh Amerika Serikat di Libya menekankan norma Responsibility to Protect (RtoP). Alasan untuk menerapkan norma RtoP ini dianggap sangat tepat mengingat pelanggaran HAM dan kejahatan-kejahatan yang telah terjadi semasa kepemimpinan Muammar Kaddafi. Kaddafi sendiri berkata “have no mercy and pity.” Logikanya, bila humanitarian intervention yang didasarkan pada RtoP ini tidak dilaksanakan maka kejahatan-kejahatan Kaddafi akan terus berlangsung di Libya.

 

Hitungan yang Naif Mengenahi Jumlah Korban Sipil?

Pada awal tahun 2016, anggota Council of Foreign Relations (CFR) Micah Zenko mencoba untuk mengkalkulasi berapa banyak bom yang sudah dijatuhkan Amerika Serikat ke negara-negara lain. Hasilnya cukup mencengangkan karena jumlahnya di luar dugaan banyak pihak. Zenko mencatat, sejak 1 Januari 2015, Amerika sudah menjatuhkan sekitar 23.144 bom ke Iraq, Suriah, Afghanistan, Pakistan, dan Somalia, di mana negara-negara tersebut berpenduduk mayoritas Muslim.[9]

Bagan di bawah ini dibuat oleh lembaga think tank yang dekat dengan Departemen Luar Negeri Amerika di atas dalam konteks untuk mengetahui seberapa besar tingkat kerusakan yang disebabkan oleh Amerika di negara-negara lain. Terlepas apakah pemboman tersebut dianggap “sah” ataupun tidak, gambaran umum di bawah ini bisa menjadi ilustrasi tingkat kerusakan yang dilakukan oleh Amerika di Dunia Islam:

 

Sumber: http://www.alternet.org/news-amp-politics/us-dropped-23144-bombs-muslim-majority-countries-2015

Bom-bom yang dijatuhkan Amerika nampaknya tidak memberi efek seperti yang diinginkan. Sebagai contoh, dalam kasus Afghanistan, meskipun faktanya AS sudah menjatuhkan sebanyak 947 bom di Afghanistan selama tahun 2015, sejumlah analis majalah Foreign Policy justru menemukan bahwa Mujahidin Taliban berhasil menguasai banyak wilayah lebih luas dari yang pernah ada selama ini sejak tahun 2011.[10]

Saat ini (2016) Amerika sudah memasuki tahun ke-15 perang di Afghanistan, padahal sudah berkali-kali pemerintah Obama berjanji akan menarik pasukan. Pada bulan Oktober 2015, Obama menarik kembali ucapannya tersebut dan memutuskan akan tetap menempatkan pasukan Amerika hingga akhir 2017.[11]

Dunia hari ini sungguh terbalik, peraih “Nobel Perdamaian” Barrack Obama adalah Presiden Amerika ke-4 yang membom Iraq dan negara-negara Muslim lainnya, termasuk misi bombardemen yang baru-baru ini dilancarkan melalui serangan udara sejak 7 Agustus 2014. Perang “melawan ISIS” pada awalnya dinyatakan sebagai perang “terbatas” dan diklaim sebagai intervensi “kemanusiaan”. Setelah itu, mantan Menteri Pertahanan Leon Panetta dengan tegas mengatakan perang saat ini akan berlangsung selama “30 tahun”.[12] Setali tiga uang, Gedung Putih kemudian juga menyatakan perang di Iraq dan Suriah sebagai bagian dari “upaya jangka panjang”.[13]

Hasil hitungan lainnya oleh Zenko adalah semakin sedikitnya berdasarkan angka laporan resmi jumlah korban sipil yang tewas oleh 23.144 bom tersebut. Hebatnya lagi, mereka mengklaim bahwa di antara 25.000 pejuang yang tewas hanya terdapat “6 warga sipil” yang “kemungkinan” juga tewas selama bombardemen yang berlangsung selama 17 bulan.[14] Padahal, pada bulan Oktober 2015 saja dilaporkan 30 warga sipil tewas akibat pemboman Amerika di sebuah rumah sakit di Kunduz, Afghanistan.[15]

Sebetulnya angka 25.000 pejuang yang tewas juga merupakan “angka laporan resmi” yang cenderung sepihak. Pada saat yang sama, para pejabat Washington mengakui secara keseluruhan jumlah pejuang jihadis yang secara umum “disebut ISIS”, tidak banyak berubah.

Pada tahun 2014, CIA memperkirakan jumlah pejuang ISIS antara 20.000 hingga 30.000 orang.[16] Sementara pada awal 2016, Andrew Warren—mantan agen CIA—mengestimasi jumlah militan jihadis masih pada angka 30.000.[17] Berarti, menurut rumus kalkulasi pemboman (bukan rumus matematika yang asli) terhadap ISIS: 30.000–25.000 = 30.000 (?!). Ironisnya, angka-angka ini mudah diterima begitu saja oleh media-media mainstream yang jarang mempertanyakan siapa yang sebenarnya dijadikan target serangan udara di Iraq dan Suriah.


Amerika: Pemeran Utama Diplomasi Kekerasan

Pemerintahan Obama sangat menekankan dan mendorong RtoP sebagai norma global yang vital. Sebagai tindak lanjut berikutnya, pemerintahan Obama mengeluarkan Presidential Study Directive on Mass Atrocities (PSD-10) pada 4 Agustus 2011. PSD-10 mendefinisikan mass atrocities sebagai inti kepentingan akan keamanan nasional dan inti tanggung jawab moral dari Amerika Serikat. PSD-10 ini mencakup beberapa tindakan dalam menghadapi mass atrocities seperti tidak bertindak sama sekali, diplomasi preventif, sanksi ekonomi dan finansial, embargo senjata dan tindakan pemaksaan.

Tampak bahwa diplomasi kekerasan (coercive diplomacy) menjadi senjata utama yang diterapkan oleh pihak asing yang mengintervensi Libya dengan dalih menerapkan demokrasi dan penegakkan Hak Asasi Manusia, di mana penyerangan terhadap warga sipil tak bersenjata menjadi alasan utama. Pihak asing tersebut yaitu NATO, AS dan negara-negara Eropa berusaha menjadi “polisi” dalam penegakkan demokrasi. Embargo senjata karena penggunaan tentara bayaran (seperti yang dilakukan oleh Qadzafi di Libya), penyerangan, dan ancaman terhadap warga sipil, hingga menerapkan wilayah larangan terbang (no-fly zone) menjadi “hukuman” yang diberikan berdasarkan resolusi PBB.

Sekarang Amerika Serikat telah bercokol di sekitar separuh dunia, baik secara terbuka maupun rahasia. Militer Amerika Serikat ditempatkan di lebih dari 150 negara di dunia. 172.966 personel dari total 1.372.522 menjadi personel aktif yang bekerja di luar Amerika Serikat dan teritori-teritorinya.[18]

Di luar perbatasannya, AS memiliki 445 pangkalan AL dan 1.983 pangkalan AU yang tersebar dari Australia ke timur hingga Amerika Latin, ke barat berada di Australia, Selandia Baru, Filipina, Jepang, Korsel, Palestina, Saudi, Bahrain, Qatar, Kuwait, Oman, Yordania, Irak, Mesir, Turki, Maroko, Yunani, Kenya, Somalia, Afrika Tengah, Afrika Barat, Jerman, Inggris, Spanyol, Italia, Belgia, Belanda, Siprus, Bosnia, Makedonia, Kanada, Bermuda, Panama, Guatemala, Grenada, El Salvador, Nortoko, Guantanamo di Kuba dan sebagian besar negara Eropa Timur pasca runtuhnya Uni Soviet. Dalam pangkalan tersebut terdapat lebih dari 650.000 pasukan, 7000 tank, 4.000 meriam, 3.800 pesawat, 1.900 hulu ledak nuklir, 7.000 gudang senjata dan amunisi, 2.500 repositori untuk senjata nuklir dan memiliki beberapa armada laut yang biasanya untuk memerangi pembajakan di laut, termasuk: Armada Kelima di Teluk Persia, Armada Keenam di Laut Mediterania, Armada Ketujuh di Samudra Pasifik, dan Armada Kedelapan di Samudra Hindia.[19]

Kebanyakan personel militer Amerika Serikat luar negeri diterjunkan ke zona konflik di Timur Tengah sebagai bagian Perang Melawan Teror. Misalnya, mereka yang menjalani pertempuran aktif di Afghanistan. Sebagian lainnya menjalani misi penjaga perdamaian, atase militer, atau bagian dari kedutaan besar dan keamanan konsulat. Sebagian sisanya ditempatkan di instalasi-instalasi yang diaktifkan semasa Perang Dingin. Saat itu pemerintah A.S. berusaha melawan Uni Soviet pasca-Perang Dunia II.

Amerika ikut campur tangan di negara-negara seluruh dunia dan menjadikan PBB ibarat lap yang digunakan untuk menghapus atau menutupi kejahatan yang tidak dapat tertutupi sehingga semua kejahatan itu menjadi diacuhkan. (F. Irawan)



[1] Keterangan ini didasarkan pada pernyataan Obama ketika berpidato di Hiroshima (23/5/2016)yang menuai kritik karena menolak meminta maaf atas jatuhnya korban. Lihat: 
http://www.theguardian.com/us-news/2016/may/22/obama-japan-hiroshima-interview-no-apology
[2] William Blum, Killing Hope: U.S. Military and CIA Interventions Since World War II, London: Zedbooks, 2004.
[3] Lihat: http://id.shabestan.ir/detail/News/9634
[4] Lihat: Rummel, R. J. 1997. "Statistics of Vietnamese Democide", Lines 777–785, http://www.hawaii.edu/powerkills/SOD.TAB6.1B.GIF. Diakses 24 November 2014.
[5] “Habeas corpus act” adalah sebuah statuta yang mengizinkan, dalam kasus tertentu, seseorang untuk mempertahankan kedudukannya, ketika akan dihukum penjara, di dalam sebuah sidang yang mewajibkan orang tersebut untuk hadir dalam keadaan seutuhnya, dalam waktu yang telah ditentukan, dan dengan sebab penahanan yang jelas agar keputusan dapat diangkat dan diambil.
[6] http://www.acehloensayang.com/2012/01/daftar-catatan-kejahatan-amerika.html
[7] Wawancara dengan media yang diliput Press TV, Selasa (17/9/2013).
[8] http://foreignpolicy.com/2013/03/15/the-real-reason-the-u-s-failed-in-afghanistan/
[9] http://blogs.cfr.org/zenko/2016/01/07/how-many-bombs-did-the-united-states-drop-in-2015/
[10] http://foreignpolicy.com/2016/01/04/mapped-the-taliban-surged-in-2015-but-isis-is-moving-in-on-its-turf/
[11] http://www.nytimes.com/2015/10/16/world/asia/obama-troop-withdrawal-afghanistan.html
[12] http://www.usatoday.com/story/news/politics/2014/10/06/leon-panetta-memoir-worthy-fights/16737615/
[13] http://foreignpolicy.com/2015/08/27/is-the-u-s-ready-for-an-endless-war-against-the-islamic-state/
[14] http://foreignpolicy.com/2015/11/25/the-u-s-air-campaign-in-syria-is-suspiciously-impressive-at-not-killing-civilians/
[15] http://www.usatoday.com/story/news/world/2015/10/25/afghan-hospital-death-toll-rises/74580386/
[16] http://www.cnn.com/2014/09/11/world/meast/isis-syria-iraq/
[17] http://www.defense.gov/Video?videoid=445185
[18] "Total Military Personnel and Dependent End Strength By Service, Regional Area, and Country". United States Department of Defense (DoD). December 31, 2012. http://siadapp.dmdc.osd.mil/personnel/MILITARY/history/SIAD_309_Report_P1212.xlsx
[19] Lynn E. Davis; Stacie L. Pettyjohn; Melanie W. Sisson; Stephen M. Worman; Michael J. McNerney (2012). "U.S. Overseas Military Presence: What Are the Strategic Choices?". Project Air Force. RAND Corporation.