KHALIFAH ALI BIN ABI THALIB, Masa Stagnan Foreign Policy

15 December 2016

Dalam kondisi yang begitu sulit pasca terbunuhnya khalifah ketiga Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dengan berat hati menerima jabatan khalifah yang dipercayakan kepadanya. Meski tatkala itu, tidak semua wilayah Islam ikut berbaiat mendukungnya. Akan tetapi, bagi Ali, kekhilafahan adalah simbol kepemimpinan Islam yang tidak mungkin dibiarkan kosong begitu saja dalam waktu yang lama. Oleh itu, mempersatukan kembali umat Islam merupakan tantangan utama khalifah Ali bin Abi Thalib. Di sisi lain, tuntutan untuk segera menyelidiki dan memproses para pembunuh khalifah Utsman bin Affan oleh beberapa segelintir sahabat, terkhusus Muawiyah bin Abi Sufyan cukup kuat. Sayangnya, takdir menentukan  bahwa  niat tulus untuk mempersatukan umat Islam dan tuntutan untuk memproses para pembunuh Utsman tidak menemukan titik temu. Atas provokasi para pembunuh Utsman, terjadilah perang Jamal antara pasukan Ali di satu pihak, dan pasukan Ummul Mukimin Aisyah, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin al-Awwam di pihak yang lain. Dan tanpa diinginkan, juga terjadi perang Shiffin antara pasukan Ali dan pasukan Muawiyah. Perang yang berakhir dengan peristiwa tahkim tersebut menjadi alasan kelompok Khawarij untuk memisahkan diri; baik dari pasukan Ali maupun Muawiyah. Tidak sekedar memisahkan diri, kelompok Khawarij juga bertindak aniaya terhadap umat Islam lain yang tidak sependapat dengan mereka. Hal inilah yang menyebabkan khalifah Ali bin Abi Thalib memeranginya dalam perang Nahrawan. Kekalahan mereka dalam perang tersebutlah di antara penyebab utama mereka merencanakan untuk membunuh Ali bin Abi Thalib.

 

BIOGRAFI AMIRUL MUKMININ

Nasab

Lahir dari keluarga mulia lagi terpandang, Ali bin Abi Thalib bin Abdul Muthallib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin Ka'ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr, itulah nama dan jalur keturunan lengkap Ali bin Abi Thalib. Nama asli Abu Thalib, ayahnya, adalah Abdi Manaf. Meski tidak mengimani keyakinan Nabi Muhammad saw, anak saudara laki-lakinya, Abu Thalib termasuk orang yang serius dan teguh membela Nabi saw di Mekah hingga ia meninggal. Ali bin Abi Thalib adalah anak paman (keponakan) Nabi saw, sekaligus menantu beliau, suami dari Fathimah binti Rasulullah saw. Ali bin Abi Thalib memiliki beberapa saudara laki-laki, yaitu Thalib, Aqil, dan Ja’far yang berumur lebih tua darinya. Sementara ibunya adalah Fathimah binti Asad bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay. Ibunya diberi gelar oleh para sejarawan sebagai wanita pertama Bani Hasyim yang melahirkan putera Bani Hasyim.

          Ali bin Abi Thalib akrab dipanggil dengan Abul Hasan oleh para sahabat lainnya. Hal itu merujuk pada nama anak laki-laki pertama hasil pernikahannya dengan Fathimah, Al-Hasan. Selain Abul Hasan, sapaan akrabnya adalah Abu Turab; suatu panggilan yang diberikan langsung oleh Nabi saw.

Imam Muslim meriwayatkan dari Sahl bin Sa'ad, ia berkisah bahwa suatu saat Ali menemui Fathimah, kemudian keluar menuju masjid dan berbaring di sana. Tak lama berselang, Nabi saw datang menghampiri puterinya Fathimah dan menemukan Ali bin Abi Thalib tidak berada di rumah. Nabi saw lantas bertanya, "Di mana putera pamanmu (Ali)"?. "Di masjid" jawab Fathimah singkat. Nabi saw kemudian bergerak menuju masjid dan menemukan Ali bin Abi Thalib tertidur. Saat itu rida`nya terjatuh dari punggungnya sehingga membuat punggungnya kotor oleh pasir. Nabi saw lalu mengusap pasir tersebut seraya membangunkannya dan berkata sebanyak dua kali, "Duduklah wahai Abu Turab!."[1]

Masuk Islam

          Sebelum Nabi Muhammad saw menerima wahyu, Ali bin Abi Thalib telah tinggal bersama beliau. Nabi saw berusaha meringankan beban paman beliau Abu Thalib tatkala Mekah terkena paceklik dan kelaparan. Nabi saw lalu mengambil Ali bin Abi Thalib untuk tinggal bersama beliau. Setelah Nabi saw mendapat wahyu, Ali bin Abi Thalib kecil termasuk di antara generasi pertama yang menyambut seruan keimanan tersebut, terkhusus dari kalangan anak-anak. Sebagaimana yang disebutkan Muhammad bin Ka'ab Al-Qurazhi, "Wanita pertama yang memeluk Islam adalah Khadijah. Lelaki pertama yang memeluk Islam adalah Abu Bakar dan Ali, hanya saja Abu Bakar menyatakan keislamannya sementara Ali menyembunyikannya[2]."

Ali bin Abi Thalib memeluk Islam saat berusia tujuh tahun. Pendapat lain menyebutkan saat memeluk Islam ia berusia delapan tahun atau sepuluh tahun.

 

Peran Sebelum Menjadi Khalifah

          Para sejarawan Islam tidak banyak menyebut peran Ali bin Abi Thalib selama periode Makkiyah. Perannya pada fase Makkiyah yang cukup terkenal adalah saat menggantikan posisi Nabi saw ditempat tidurnya ketika akan berhijrah ke Madinah bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq. Selain itu, ia diminta oleh Nabi saw untuk mengembalikan semua titipan yang dititipkan bangsa Arab kepada beliau. Setelah amanah tersebut ditunaikan dengan baik, ia pun akhirnya menyusul Nabi saw berhijrah ke Madinah.

          Hampir setiap peristiwa-peristiwa penting bersama Nabi saw, Ali bin Abi Thalib terlibat di sana. Saat terjadi perang Badar tahun 2 H, Ali bin Abi Thalib memiliki peran besar dalam kemenangan pasukan Islam melawan pasukan Quraisy. Ia berhasil menundukkan Walid bin ‘Utbah, salah seorang tokoh Quraisy, dalam perang tanding.[3] Ia juga turut serta dalam perang Uhud tahun 3 H. Saat itu ia bergabung dalam sayap kanan pasukan, yang memegang panji setelah Mush'ab bin 'Umair gugur syahid. Ia juga terlibat dalam perang Khandaq atau Ahzab tahun 5 H. Dalam perang ini, ia berhasil menewaskan jagoan dan pemberani Arab yang sangat popoler, 'Amru bin Abdi Wudd Al-'Amiri.

Ia juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Bai'atur Ridwan tahun 6 H. Ia juga tidak ketinggalan ikut serta dalam perang Khaibar tahun berikutnya. Pada peperangan ini, ia menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan mengagumkan. Tokoh Yahudi yang berhasil ia tundukkan dalam perang ini adalah Mirhab Al-Yahudi. Ali bin Abi Thalib juga terlibat dalam Umrah Qadha yang dilaksanakan setahun setelah peristiwa Hudaibiyah. Ia juga terlibat langsung dalam Fathu Makkah, perang Hunain, dan Thaif.

          Adapun dalam perang Tabuk, perang terakhir yang langsung dipimpin Nabi saw, Ali bin Abi Thalib tidak ikut serta. Ia diangkat Nabi saw menjadi pengganti beliau dalam menjaga dan mengurus keperluan keluarga Nabi saw. Saat itu, Ali bin Abi Thalib mengajukan protes kepada Nabi saw lantaran tidak diizinkan ikut perang Tabuk. Ia berkata kepada Nabi saw, “Wahai Rasulullah! Apakah engkau akan meninggalkanku bersama kaum wanita dan anak-anak?.” Menanggapi hal tersebut, Nabi saw kemudian bersabda seraya menghibur, “Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa. Hanya saja tidak ada nabi setelahku.”

Ali bin Abi Thalib juga pernah diutus sebagai gubernur dan hakim di negeri Yaman bersama dengan Khalib bin Al-Walid. Manakala Nabi saw meninggal dunia, salah seorang yang terlibat langsung memandikan, mengkafani beliau adalah Ali bin Abi Thalib.

          Sepeninggal Nabi saw, umat Islam sepakat untuk mengangkat Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai khalifah, pengganti Nabi saw. Abu Bakar dibaiat pada saat peristiwa Saqifah oleh beberapa orang Muhajirin dan orang-orang Anshar yang hadir pada kejadian itu, yang kemudian dibaiat kembali pada keesokan harinya di masjid Nabawi.

          Dalam pandangan Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Ash-Shiddiq sama seperti para pemimpin dari kalangan sahabat yang lain. Ia menganggap bahwa merupakan suatu kewajiban untuk mendengar dan taat kepada Abu Bakar, dan hal itu merupakan perkara yang paling ia sukai.

Memang terjadi perselisihan antara Abu Bakar dan Fathimah, istrinya, terkait tanah Fadak. Abu Bakar memutuskan bahwa Nabi saw tidak mewariskan tanah itu kepada ahli keluarganya. Fathimah belum mengetahui nash khusus dalam masalah ini bagi para nabi, yaitu mereka tidak mewariskan harta warisan kepada sanak familinya. Saat itu, Ali bin Abi Thalib berusaha mengambil hati istrinya. Baru setelah istrinya wafat enam bulan setelah wafatnya Nabi saw, Ali bin Abi Thalib pun kembali memperbarui baiatnya kepada Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar bin Khaththab memegang jabatan khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib termasuk salah seorang sahabat yang membaiat Umar. Ali selalu bersama Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Disebutkan bahwa Umar memintanya menjadi qadhi (hakim) pada masa kekhalifahannya. Beliau menyertai Umar bersama para tokoh dari kalangan sahabat ke negeri Syam dan menghadiri khutbah Umar di Al-Jabiyah. Ketika Umar ditikam dan beliau menyerahkan urusan musyarawah kepada enam orang sahabat, salah seorang di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib. Lalu mereka menetapkan dua orang calon, yaitu Utsman bin Affan dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman.[4]

 

PENGANGKATAN ALI BIN ABI THALIB SEBAGAI KHALIFAH

          Tatkala Utsman bin Affan dikepung oleh para pemberontak, Ali bin Abi Thalib bersama putranya termasuk orang yang berjaga dan melindungi Utsman bin Affan. Lalu ketika kabar terbunuhnya Utsman bin Affan sampai ke telinganya, Ali bin Abi Thalib lantas menuju kediaman Utsman bin Affan untuk mengkonfirmasi berita itu. Ternyata berita itu benar bahwa Utsman bin Affan telah terbunuh. Ali bin Abi Thalib lalu pulang dan mengunci pintu rumahnya.

          Para sahabat kemudian mendatanginya. Mereka menyampaikan realitas bahwa Utsman bin Affan telah terbunuh syahid, sementara umat Islam harus segera mempunyai khalifah penggantinya. Mereka berpendapat bahwa tidak ada yang lebih pantas dan berhak menjabat kedudukan itu kecuali Ali bin Abi Thalib.

          Ali bin Abi Thalib pada awalnya menolak usul mereka dan berpandangan bahwa ia lebih suka menjadi wazir bagi umat Islam daripada menjadi khalifah mereka. Namun para sahabat tetap menyakinkan bahwa tidak ada orang lain yang lebih pantas dan berhak dari Ali bin Abi Thalib untuk sebagai khalifah. Akhirnya, Ali bin Abi Thalib menyetujuinya dengan menyaratkan bahwa baiat harus dilakukan secara terbuka, yaitu di dilaksanakan di masjid. Ali bin Abi Thalib beserta para sahabat menuju masjid. Di sana orang-orang ridha berbaiat kepadanya.[5]

          Dari sana jelaslah bahwa Ali bin Abi Thalib sah sebagai khalifah keempat. Pembaiatannya berlangsung atas dasar persetujuan ahlul halli wal aqdi di Madinah. Wilayah-wilayah Islam kemudian turut memberikan bait mereka kepadanya, kecuali penduduk Syam yang menunda baiat hingga dilakukannya qisas terhadap para pembunuh Utsman bin Affan.

          Setelah resmi menjabat khalifah, pidato perdana yang disampaikan  Ali bin Abi Thalib setelah ia memuji Allah swt yaitu,

“Sesungguhnya Allah telah menurunkan kitab yang memberi petunjuk, Allah menjelaskan di dalamnya kebaikan dan keburukan. Lakukanlah perkara-perkara yang baik dan tinggalkanlah perkara-perkara buruk. Sesungguhnya Allah telah menetapkan sejumlah hak, dan Allah mengutamakan hak seorang Muslim daripada hak-hak yang lainnya. Allah mengokohkan hak-hak kaum muslimin dengan ikhlas dan tauhid. Seorang Muslim yaitu yang dapat terhindar Muslim lainnya dari gangguan tangan dan lisannya kecuali karena alasan yang hak. Tidak boleh menyakiti Muslim kecuali dengan alasan yang benar. Segerakanlah urusan orang banyak, dan urusan khusus masing-masing kamu adalah maut. Sesungguhnya di hadapan kamu adalah manusia-manusia, sementara dibelakang kamu adalah hari Kiamat yang akan menggiring kalian. Manusia-manusia itu mati dan kalian menyusul mereka. Sesungguhnya manusia menunggu hari akhirat mereka. Maka bertakwalah kepada Allah terhadap hamba Allah dan negeri mereka. Sesungguhnya kalian akan dimintai pertanggungjawaban hingga atas tanah dan hewan ternak kalian. Taatilah Allah, janganlah durhaka terhadap-Nya. Jika kalian melihat kebaikan, maka ambillah. Dan jika kalian melihat keburukan, maka tinggalkanlah. Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Dan ingatlah (wahai para muhajirin), ketika kamu masih berjumlah sedikit, lagi tertindas di bumi (Mekah), kamu takut orang-orang (Mekah) akan menculik kamu, maka Allah memberi kamu tempat menetap (Medinah) dan dijadikan-Nya kamu kuat dengan pertolonganNya dan diberi-Nya kamu rezki dari yang baik-baik agar kamu bersyukur. Hai orang-orang beriman, janganlah kamu, mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan juga janganlah kamu mengkhia-nati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.’[6]”

 

Amirul Mukminin Mengangkat Amir-Amir Baru di Daerah

          Ali bin Abi Thalib baru menjalankan kekhilafahannya pada tahun 36 H. Persoalan penting yang menurutnya harus segera dilaksanakan agar kekhilafahn yang baru ini berjalan dengan semestinya adalah dengan mengganti dan menunjuk para gubernur di daerah. Mughirah bin Syu’bah, tidak sepakat dengan rencana tersebut. Menurutnya, membiarkan para gubernur di daerah segaimana para masa Utsman bin Affan—terkhusus Muawiyah bin Abi Sufyan (gubernur Syam) dan Abdullah bin Amir (gubernur Bashrah)—adalah suatu yang lebih baik. Ia menyarankan hal ini agar terbentuk kestabilan terlebih dahulu dalam internal umat Islam setelah peristiwa terbunuhnya Utsman bin Affan. Agar para gubernur tersebut beserta pasukan yang berada di bawah mereka berbaiat semuanya kepada beliau. Namun jika dituntut untuk menggantinya, sebaiknya Muawiyah dan Abdullah bin Amir tetap pada posisinya. Akan tetapi, usul ini tidak disetujui oleh Ali bin Abi Thalib.[7]

          Selain Mughirah bin Syu’bah, sahabat yang mengusulkan hal serupa adalah Abdullah bin Abbas. Namun Ali bin Abi Thalib juga tidak menyetujui usulan tersebut. Ali bin Abi Thalib menetapkan bahwa hal terbaik saat itu adalah dengan mengganti gubernur-gubernur tersebut, sebelum baiat dari seluruh penjuru negeri diberikan kepadanya. Dalam pandangan Ali bin Abi Thalib, tetapnya para gubernur tersebut pada posisi mereka akan menimbulkan kritikan terhadap dirinya. Karena itulah, ia tidak sepakat atas usulan Mughirah bin Syu’bah dan Abdullah bin Abbas. Ali bin Abi Thalib enggan untuk memulai masa kekhilafahannya dengan mempertahakan Muawiyah bin Abi Sufyan pada posisinya sebagai gubernur Syam.[8]

          Tidak lama kemudian Ali bin Abi Thalib pun melaksanakan rencananya tersebut. Beliau lalu mengangkat Ubaidullah bin Abbas sebagai amir di Yaman menggantikan Ya’la bin Munyah. Mengangkat Utsman bin Hunaif sebagai amir di Bashrah menggantikan Abdullah bin Amir. Mengangkat Umarah bin Syihab sebagai amir di Kufah menggantikan Abu Musa al-Asy’ari. Mengangkat Qais bin Sa'ad bin Ubadah sebagai amir di Mesir menggantikan Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarh. Dan mengangkat Sahal bin Hunaif sebagai amir di Syam menggantikan Muawiyah.[9]

          Ubaidullah bin Abbas adalah anak paman Nabi saw, Abbas bin Abdul Muthallib. Usianya lebih muda dari Abdullah bin Abbas, saudaranya. Ia termasuk orang yang banyak menghapal hadits Nabi saw. Ia adalah orang yang sangat pemurah dan dermawan. Bahkan ia dijadikan teladan dalam hal kedermawanan. Ia wafat di Madinah pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah. Berbeda dengan Ubaidillah bin Abbas yang merupakan kalangan Muhajirin. Utsman bin Hunaif berasal dari kalangan Anshar dari kabilah Aus. Ia pernah mengikuti perang Uhud dan berbagai peperangan setelahnya. Pada masa kekhilafahan Umar bin Khaththab, ia ditunjuk untuk memerintah beberapa daerah yang cukup luas di Irak.

Adapun Qais bin Sa’ad bin Ubadah yang juga berasal dari kalangan Anshar dari kabilah Khazraj, anak dari pemuka mereka Sa’ad bin Ubadah. Ia adalah seorang yang memiliki ide yang brilian, cakap dalam berbagai strategi perang, seorang pemberani sekaligus gemar memberi pertolongan saudara seislamnya ketika berkecamuknya perang. Sementara Sahl bin Hunaif merupakan saudara laki-laki Utsman bin Hunaif. Ia sudah ikut terlibat dalam perang Badar bahkan tidak pernah ketinggalan dalam setiap perang yang diikuti Rasulullah saw. Ia meninggal di Kufah pada tahun 38 H.[10]

          Para gubernur yang baru saja dilantik tersebut tidak lama kemudian langsung menuju daerah mereka masing-masing. Utsman bin Hunaif, Ubaidillah bin Abbas, dan Qa’qa’ bin Sa’ad diterima oleh penduduk negeri mereka masing-masing. Sementara Umarah bin Syihab dan Sahl bin Hunaif ditolak oleh penduduknya (Kufah dan Syam) dan kembali ke Madinah. Akan tetapi Abu Musa al-Asy’ari yang ketika itu masih menjadi gubernur Kufah mengirim kabar ke Madinah perihal baiat (kesetiaan) penduduk Kufah kepada Ali bin Abi Thalib, selain juga menjelaskan terjadinya perpecahan di internal penduduk Kufah terkait persolan baiat tersebut. Sehingga dengan demikian, penduduk yang sama sekali menunda baiat mereka adalah penduduk Syam.

 

PERANG JAMAL

Penuntutan Terhadap Darah Utsman bin Affan

          Banyak di antara sahabat yang menuntut agar khalifah yang baru, Ali bin Abi Thalib segera mengusut dan menindak tegas para pembunuh Utsman bin Affan. Para sahabat yang turut serta dalam tuntutan ini di antaranya yaitu: Ubadah bin Shamit, Abu Darda', Abu Umamah, Amru bin Abasah, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin al-Awwam, dan lainnya.

Thalhah, Zubair dan beberapa pemuka sahabat datang menemui beliau guna menuntut penegakan hukum dan menegakkan qisas atas kematian Utsman. Namun Ali menyampaikan alasan kepada mereka bahwa kelompok pembangkang itu memiliki kekuatan yang besar. Dan tidak mungkin tuntutan itu dilakukan sekarang.[11]

 

Thalhah, Zubair, dan Aisyah Ummul Mukminin ke Bashrah untuk Mengadakan Ishlah

          Istri-istri nabi, para umahatul mukminin berangkat menunaikan haji pada tahun ke tiga puluh lima hijriyah untuk menghindari fitnah. Setelah melaksanakan haji dan akan kembali ke Madinah, sampailah berita terbunuhnya Utsman bin Affan, mereka lalu kembali lagi ke Makkah dan menetap di sana. Mereka menunggu apa yang akan dilakukan oleh manusia. Akhirnya, dibaiat lah Ali. Namun orang-orang yang paling berpengaruh di sekitar beliau -yaitu karena desakan kondisi dan dominasi mereka; bukan atas keinginan beliau pribadi- adalah para pemimpin-pemimpin Khawarij yang telah membunuh Utsman bin Affan. Padahal Ali bin Abi Thalib sebenarnya sangat membenci mereka. Akan tetapi beliau menunggu kehancuran mereka dan sangat ingin kalau lah berhasil menguasai mereka, beliau akan mengambil hak Allah dari mereka.

Maka larilah sekelompok Bani Umayyah dan yang lainnya ke Makkah. Kemudian Thalhah dan Zubair meminta izin kepada beliau untuk mengerjakan umrah ke Makkah. Ali bin Abi Thalib mengizinkan mereka berdua, lalu keduanyapun berangkat ke Makkah diikuti oleh banyak orang.

Aisyah Ummul Mukminin mengajak orang-orang agar menuntut balas atas tertumpahnya darah Utsman. Aisyah menyebutkan kelaliman orang-orang yang telah membunuh Utsman di tanah Haram dan di bulan Haram serta tidak mempedulikan kehormatan Rasulullah saw. Orang-orang pun menyambut seruan Aisyah dan bersedia mengikuti apa yang menurut Aisyah baik dan membawa maslahat. Mereka akhirnya mengusulkan untuk berangkat ke Bashrah demi menggalang kekuatan di sana dengan kuda-kuda dan pasukan. Mereka berencana memulai dari sana dengan mencari para pembunuh Utsman. Para umahatul mukminin lainnya menghendaki agar Aisyah ikut bersama mereka pulang ke Madinah. Namun ketika orang-orang sepakat berangkat ke Bashrah para Ummahatul Mukminin tetap pada pendirian mereka untuk kembali ke  Madinah.

Rombongan pun bergerak menuju Bashrah. Yang bertindak menjadi imam shalat atas perintah Aisyah adalah keponakan beliau, Abdullah bin Zubair. Sedang Marwan bin al-Hakam bertindak sebagai muadzin pada waktu-waktu shalat.

Ketika rombongan mendekati Bashrah, ' Aisyah  menulis surat kepada al-Ahnaf bin Qais mengabarkan bahwa ia sudah sampai di Bashrah. Utsman bin Hunaif, gubernur Bashrah yang baru dilantik, mengutus Imran bin Hushain dan Abul Aswad ad-Duali untuk menemui Aisyah guna menanyakan maksud kedatangannya. Ketika kedua utusan itu datang menemui Aisyah, keduanya mengucapkan salam dan menanyakan maksud kedatangan beliau. Aisyah menyampaikan kepada kedua utusan itu bahwa maksud kedatangannya adalah hendak menuntut atas tertumpahnya darah Utsman. Karena beliau dibunuh secara zhalim pada bulan Haram di negeri Haram.

Kedua utusan itupun meninggalkan Aisyah lalu menemui Thalhah dan bertanya mengenai tujuannya ke Bashrah. Thalhah menjawab bahwa tujuannnya adalah menuntut atas tertumpahnya darah Utsman. Lalu keduanya mendatangi Zubair, dan beliaupun mengucapkan seperti itu.

Imran dan Abul Aswad kembali kepada Utsman bin Hunaif lalu menyampaikan kepadanya. Utsman bin Hunaif berkata, "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Demi Rabb pemilik Ka'bah, telah tiba masa berperang dalam Islam. Coba lihat alternatif apakah yang terbaik untuk kita?"

Imran berkata, "Demi Allah, hal itu akan menjebak kalian dalam peperangan yang panjang." Kemudian Utsman bin Hunaif meminta saran kepada Imran bin Hushain. Akhirnya ia pun menyarankan agar  menghindari kemungkinan pertumpahan darah antar sesama Muslim. Tetapi Utsman bin Hunaif berpendapat untuk menghadang mereka hingga Amirul Mukminin datang. la pun menyerukan kepada manusia agar mengambil senjata mereka dan berkumpul di masjid. Mereka pun berkumpul lalu Utsman bin Hunaif menyuruh mereka agar bersiap-siap. Namun saat ia berkhutbah kepada mereka, justru ia malah disoraki. Dari sana, tahulah Utsman bin Hunaif bahwa para pembunuh Utsman memiliki pendukung di Bashrah. Meski demikian, Utsman bin Hunaif tetap mampu mengumpulkan pasukan untuk berjaga-jaga.[12]

 

Perang Antara Pasukan Bashrah dan Pasukan Aisyah Ummul Mukminin

          Ummul Mukminin Aisyah tiba bersama rombongan yang menyertainya mendekati kota Bashrah. Mereka berhenti di tempat bernama Mirbad sebelah atas dekat kota Bashrah. Utsman bin Hunaif pun keluar bersama pasukan dan juga berkumpul di daerah Mirbad. Pada tahap ini, masing-masing pasukan masih mampu menahan diri sehingga tidak terjadi pertempuran.

          Kemudian muncullah Hukaim bin Jabalah yang berada dalam pasukan Utsman bin Hunaif yang memicu pecahnya perang. Hukaim lalu menyerang pasukan Aisyah. Aisyah menyuruh pasukannya agar menghindar ke perkuburan Bani Mazin. Malam memisahkan antara kedua pasukan. Pada hari kedua, masing-masing pasukan keluar dengan tujuan berperang. Mereka pun terlibat dalam pertempuran yang sengit sampai menjelang sore hari. Orang-orang dari pasukan Utsman bin Hunaif banyak yang tewas, dan banyak pula orang yang cedera dan luka-luka dari kedua belah pihak. Setelah letih berperang kedua pasukan pun setuju berdamai.

Hanya saja beberapa orang yang terlibat langsung dalam pembunuhan Utsman bin Affan dan para pendukung mereka telah menyelusup ke dalam pasukan. Jumlah mereka lebih kurang tiga ratus orang. Pemimpin mereka, yaitu Hukaim bin Jabalah, tetap meneruskan berperang. Ia adalah salah seorang yang terlibat langsung dalam pembunuhan Utsman. Hukaim akhirnya tewas dalam pertempuran tersebut bersama tujuh puluh orang yang membunuh Utsman dan para pendukung mereka. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 5 Rabi'ul Akhir tahun 36 H. Peristiwa inidisebut juga dengan perang Jamal Shughra.[13]

 

Kondisi Madinah dan Keberangkatan Amirul Mukminin Meninggalkan Madinah

          Di Madinah sendiri, Ali bin Abi Thalib bersama beberapa sahabat lainnya berusaha mengkondusifkan kondisi Madinah pasca terbunuhnya Utsman bin Affan. Ia menyeru penduduk Madinah untuk ikut serta menstabilkan negara Islam dan memerangi mereka yang menginginkan terjadinya fitnah. Ia merencanakan untuk berangkat ke Syam untuk menemui Muawiyah. Pada masa-masa itulah, Ali bin Abu Thalib mendengar kabar bahwa Ummul Mukmini Aisyah, Thalhah, dan Zubair telah berangkat menuju Bashrah untuk menuntut para pembunuh Utsman bin Affan. Sampai kabar tersebut cukup membuat penduduk Madinah terpukul.

          Ali bin Abi Thalib segera menemui para sahabat senior yang masih tersisa di Madinah. Ali menanyakan tentang kesetiaan mereka kepadanya. Mereka pun menyatakan diri tetap setia kepadanya. Melihat itu, Ali belum merasa puas dengan kesetiaan mereka sehingga kesetiaan itu dibarengi dengan langkah riil untuk memberikan dukungan kepadanya. Ali bin Abi Thalib pun mengumpulkan para pemuka Madinah dan meminta kesanggupan mereka untuk mendukungnya. Setelah mendapatkan sekeompok pasukan Madinah yang berjumlah sekitar 900 orang, Ali bin Abi Thalib yang sebenarnya ingin menuju Syam, terpaksa harus menuju Bashrah setelah mendengar kebarangkatan Ummul Mukminin Aisyah, Thalhah, dan Zubair ke sana. Peristiwa ini terjadi pada akhir Rabi’ul Akhir 36 H[14]

          Ali bin Abi Thalib lalu  berangkat dari Madinah berjalan hingga tiba di Rabadzah[15]. Sebagai wakil di Madinah Ali menunjuk Tammam bin Abbas, sementara wakil di Makkah ditunjuk Qutsam bin Abbas. Setelah mendengar apa yang terjadi di Bashrah, Ali menulis surat kepada penduduk Kufah dan mengutus Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Ja'far ke sana, untuk meminta dukungan penduduk Kufah kepadanya. Kedua utusan inipun berangkat. Lalu Ali mengirim utusan lainnya ke Madinah agar mengambil persenjataan dan kendaraan yang dibutuhkan.

          Ketika di Rabadzah banyak dari pemuka kabilah yang datang menemui Ali bin Abi Thalib serta menyatakan dukungan kepadanya, sehingga bertambahlah pasukan yang ikut serta bersamanya. Pasukan tersebut semakin bertambah dengan adanya dukungan-dukungan lain dari beberapa kabilah dalam perjalanan dari Rabadzah menuju Dzi Qar.

          Ketika pasukan sudah sampai di Dzi Qar[16]  Utsman bin Hunaif, Amir Bashrah, datang menemui beliau dan melaporkan kondisi di sana. Ali kemudian bermukim di Dzi Qar menunggu jawaban surat yang dikirimnya melalui Muhammad bin Abi Bakar dan Muhammad bin Ja'far. Kedua utusan ini membawa surat Ali menemui Abu Musa al-Asy'ari di Kufah. Pada awalnya, Abu Musa al-Asy’ari enggan untuk bergabung bersama pasukan dari Kufah dengan pasukan Ali, namun setelah diutus Hasan bin Ali dan Ammar bin Yasir yang menjelaskan kepada penduduk Kufah bahwa tujuan Amirul Mukminin hanya menghendaki perdamaian antara sesama Muslim akhirnya banyak yang menyambut seruannya. Hasilnya, berangkatlah sembilan ribu personil bersama al-Hasan di darat maupun di sungai Tigris.   Mereka berangkat menemui Amirul Mukminin yang menyambut kedatangan mereka di Dzi Qar bersama sejumlah orang di antaranya adalah Abdullah bin Abbas. Amirul Mukminin menyambut hangat kedatangan mereka dan berkata, "Wahai penduduk Kufah, kalian telah berhadapan dengan raja-raja Ajam dan berhasil menceraiberaikan pasukan mereka. Aku mengajak kalian untuk ikut bersama kami menghadapi saudara-saudara kita dari Bashrah. Jika mereka kembali maka itulah yang kita harapkan. Jika mereka menolak maka akan kita hadapi dengan lemah lembut kecuali bila mereka memulainya secara zhalim. Tidak akan kita lewatkan satu perkara pun yang membawa perdamaian melainkan akan lebih kita prioritas-kan daripada perkara yang membawa kerusakan insya Allah."

 

Kesepakatan Damai Antara Amirul Mukminin dan Thalhah

          Dari Dzi Qar, Ali bin Abi Thalib kemudian mengirim Qa'qa’ sebagai utusan untuk menemui Thalhah dan Zubair di Bashrah mengajak mereka berdua untuk berdamai dan bersatu, serta memperingatkan bahaya berpecah belah dan berselisih.  Qa'qa’ berangkat ke Bashrah dan pertama-tama yang ia temui adalah Ummul Mukminin Aisyah. Qa’qa’ bertanya kepada Aisyah mengenai maksud tujuannya datang ke Bashrah, yang dijawab oleh Aisyah untuk mewujudkan perdamaian antar umat Islam. Lalu Qa'qa' meminta kepadanya agar mengirim seseorang kepada Thalhah dan Zubair agar bisa hadir bersamanya di situ. Singkat cerita keduanya pun hadir.

Qa'qa' juga menanyakan kepada Thalhah dan Zubair tentang maksud tujuannya ke Bashrah, yang juga dijawab oleh keduanya untuk menginginkan perdamaian. Qa'qa' lalu meminta kepada keduanya untuk menjelaskan bentuk perdamaian tersebut dan atas dasar apa. Thalhah dan Zubair menjelaskan bahwa jika para pembunuh Utsman dibiarkan berarti umat Islam telah meninggalkan al-Qur'an.

Qa'qa kemudian menerangkan kepada keduanya bahwa membunuh para pembunuh Utsman memang sebuah maslahat. Akan tetapi akan menimbulkan mafsadat (kerusakan) yang lebih besar. Sebagaimana halnya keduanya tidak mampu menuntut balas atas darah Utsman dari Hurqush bin Zuhair karena enam ribu orang membelanya dan menghalangi orang yang hendak membunuhnya. Tentu alasan Ali membiarkan para pembunuh Utsman untuk sementara lebih berhak diterima. Karena beliau menunda penuntutan balas atas darah Utsman ra. sampai beliau dapat menguasai mereka. Karena tiap-tiap daerah masih berselisih dalam menentukan sikap. Kemudian Qa'qa mengabarkan kepada mereka bahwa sejumlah pasukan dari Rabi'ah dan Mudhar telah bersatu untuk memerangi mereka disebabkan persoalan yang telah terjadi ini. Qa'qa' kemudian mengusulkan untuk meredakan ketegangan yang telah terjadi. Jika keadaan sudah tenang barulah para pembunuh Utsman dapat diringkus. Akhirnya, Ummul Mukminin Aisyah, Thalhah dan Zubair pun sepakat atas usul tersebut. Akhirnya, Qa'qa' pun kembali kepada Ali dan mengabarkan apa yang terjadi. Ali takjub mendengarnya.

 

Makar Para Pembunuh Utsman bin Affan

          Ketika para sahabat sepakat berdamai, orang-orang yang terlibat dalam pembunuhan Utsman bin Affan justru merasa khawatir atas keselamatan diri mereka. Maka berkumpullah sejumlah tokoh mereka , diantaranya Asytar an-Nakhai, Syuraih bin Aufa, Abdullah bin Saba’, Salim bin Tsa'labah, Alba' bin al-Haitsam dan Iain-lain bersama dua ribu lima ratus pendukung mereka. Tidak ada seorang-pun dari mereka yang berasal dari sahabat nabi. Mereka berunding untuk membuat makar agar diri mereka selamat.

          Asytar mengusulkan untuk membunuh Ali sebagaimana mereka membunuh Utsman. Tetapi usul itu ditolak mentah-mentah oleh Abdullah bin Saba’. Alba’ lalu mengusulkan untuk berpencar di berbagai negeri dan berlindung di sana. Lagi-lagi usul tersebut ditolak oleh Abdullah bin Saba’. Akhirnya Kemudian Abdullah bin Saba’ pun mengusulkan untuk menyalakan api peperangan antara pasukan Ali bin Abi Thalib dan pasukan Thalhah, serta tidak membiarkan mereka berdamai. Mereka pun sepakat dengan ide tersebut lalu membubarkan diri sementara orang-orang tidak mengetahui makar busuk ini.

          Keesokan paginya, Ali bin Abi Thalib berangkat menuju Bashrah. Di tengah perjalanan, beberapa kabilah menemuinya untuk bergabung bersama pasukannya. Di lain pihak, Thalhah dan Zubair beserta para pendukungnya juga bergerak untuk me-nyambut Ali. Lalu mereka berkumpul di istana Ubaidullah bin Ziyad[17]. Kedua belah pihak mengambil posisi masing-masing. Saling mengirim utusan pun terjadi antara Ali dan Thalhah, yang berakhir dengan kesepakatan bahwa keduanya siap untuk berdamai. Orang-orang pun merasa tenang jiwanya dan lega. Tiap-tiap orang bergabung bersama  pasukannya.

Malam itu kedua pihak bermalam dalam keadaan baik-baik. Akan tetapi para pembunuh Utsman bin Affan melalui malam itu dengan persiapan merencanakan makar. Mereka berunding dan sepakat untuk mengobarkan peperangan pada pagi buta esok hari. Mereka bangun sebelum terbit fajar, jumlah mereka sekitar dua ribu orang. Masing-masing kelompok bergabung bersama pasukannya lalu menyerang mereka dengan pedang. Setiap golongan bergegas menuju kaumnya untuk melindungi mereka. Orang-orang bangun dari tidurnya dan langsung mengambil senjata. Mereka berkata, "Penduduk Kufah menyerbu kami pada malam hari, mereka mengkhianati kita.” Hal yang sama juga mereka lakukan terhadap pasukan Ali bin Abi Thalib.

 

Pecahnya Perang Jamal

          Peperangan pun tidak dapat dielakkan; pasukan kuda saling berhadapan, para pejuang saling menyerang, api pertempuran semakin memuncak. Kedua pasukan saling berhadapan, pasukan Ali berjumlah dua puluh ribu personil dan di sekeliling Aisyah dan orang-orang yang bersamanya berkumpul tiga puluh ribu orang. Sementara Saba'iyah pengikut Abdullah bin Saba’ tidak henti-hentinya mengobarkan api peperangan. Penyeru yang ditugaskan Ali terus berseru, "Hentikan! Hentikan!" Namun sayang tidak ada seorang pun yang mendengarkannya.

Lalu Ka'ab bin Suur, Qadhi Bashrah, memberi usul kepada Aisyah, "Wahai Ummul Mukminin, temuilah orang-orang! Barangkali Allah mendamaikan mereka melalui dirimu." Maka Aisyah pun duduk di atas sedekupnya di atas unta dan mereka melindungi sedekup tersebut dengan pelindung. Aisyah lalu maju dan berhenti di suatu tempat yang ia dapat leluasa melihat pasukan yang tengah bertempur.

la memberi Mushaf kepada Ka'ab bin Suur Qadhi Bashrah dan berkata," Ajaklah mereka kepada Kitabullah!" Ka'ab bin Suur pun maju ke depan dengan membawa Mushaf dan mengajak mereka kepadanya. la disambut oleh bagian depan pasukan Kufah.

Pada saat yang bersamaan Abdullah bin Saba' dan para pengikutnya, yang berada di depan

 Pasukan, membunuh siapa saja dari pasukan Bashrah yang dapat mereka bunuh. Ketika mereka melihat Ka'ab bin Suur mengangkat mushaf mereka menghujaninya dengan anak panah hingga tewas. Kemudian anak panah mulai menghujani sekedup Aisyah.  Aisyah berteriak seraya menyebut nama Allah dan mengingatkan terhadap hari hisab kelak, serta mengangkat tangannya dan melaknat para pembu-nuh Utsman bin Affan.

Orang-orang pun bergemuruh bersamanya dalam doa, hingga gemuruh tersebut sampai telinga Ali. Ia berkata, "Suara apa itu?" Mereka berkata, "Ummul Mukminin melaknat para pembunuh Utsman dan pendukungnya!" Ali pun ikut berdoa, "Ya Allah laknatlah para pembunuh Utsman!"

Mereka terus menghujani sekedup Aisyah dengan anak panah sehingga bentuk sekedup itu tak ubahnya seperti seekor landak. Aisyah terus memotivasi pasukan untuk mempertahankan diri dan menghentikan serangan mereka. Pasukan Abdullah bin Saba’ terus mendesak hingga medan per-tempuran sampai ke tempat Ali bin Abi Thalib.

Pada awalnya, tali kekang unta pada saat itu ada di tangan Umairah bin Yatsribi, yang termasuk salah seorang jagoan kesohor. la tetap mempertahankan tali kekang unta itu hingga tewas terbunuh. Setelah itu, panji dan tali kekang unta hanya dipegang oleh prajurit lain yang terkenal keberaniannya. Ia membunuh sia-pa saja yang mendekat ke unta lalu akhirnya terbunuh. Begitulah seterusnya hingga kemudian seorang lelaki menebas kaki unta. Akhirnya, unta itu terbunuh roboh di atas tanah. Ada yang mengatakan bahwa yang mengisyaratkan agar membunuh unta itu adalah Ali bin Abi Thalib. Pendapat lain mengatakan Qa'qa' bin Amru. Tujuannya agar Ummul Mukminin tidak terkena lemparan panah, karena saat itu ia menjadi sasaran tembak oleh para pemanah. Dan agar ia dapat keluar dari medan pertempuran.

Ketika unta tersebut roboh ke tanah, orang-orang yang berada di dekatnya mundur. Lalu sekedup yang bentuknya sudah seperti duri-duri landak Aisyah dibawa. Salah seorang penyeru ditugaskan Ali untuk mengumumkan, "Jangan kejar orang yang melarikan diri, jangan dibantai orang yang terluka dan jangan masuk ke dalam rumah-rumah." Kemudian Ali memerintahkan beberapa orang agar membawa sekedup tersebut keluar dari tumpukan korban-korban yang bergelimpangan. Ali kemudian memerintahkan Muhammad bin Abi Bakar dan Ammar supaya mendirikan kemah untuk Aisyah. Pada malam harinya, Aisyah memasuki kota Bashrah didampingi saudara lelakinya, Muhammad bin Abi Bakar. Mereka singgah di rumah Abdullah bin Khalaf al-Khuza'i, rumah yang paling besar di Bashrah.

 

Terbunuhnya Thalhah dan Zubair

Saat berkecamuknya perang, Ali bin Abi Thalib juga sempat bertatap muka dengan Zubair. Pada kesempatan itu, Ali mengingatkan Zubair akan nubuwat Rasulullah saw bahwa Zubair akan memerangi Ali sementara ia berada pada pihak yang zalim. Zubair pun teringat akan sabda Rasulullah saw tersebut. Ia lantas mencoba menghindar dari pertempuran tersebut dengan mengendarai tunggangannya sambil membelah barisan pasukan. Menyaksikan itu, Abdullah bin Zubair, puteranya, lantas menanyakan penyebab bapaknya melakukan demikian. Zubair lalu memberi tahu puteranya bahwa ia telah diingatkan oleh Ali tentang sabda Rasulullah saw. Pendapat lain menyebutkan bahwa Zubair menghindar dari pertempuran ketika melihat Ammar bin Yasir berada di pihak Ali. Perihal Ammar, Rasulullah saw pernah mengabarkan nubuwat bahwa ia akan dibunuh oleh kelompok pembangkang. [18]

Ketika Zubair meninggalkan medan pertempuran pada peperangan Jamal dan singgah di salah satu oase bernama Siba’, ia diikuti oleh seorang lelaki bernama Amru bin Jarmuz. Ia menyergap Zubair tatkala sedang tidur lalu membunuhnya. Adapun Thalhah, pada saat pertempuran berlangsung ia terkena panah pada kakinya hingga tembus sampai mengenai kudanya. Kuda itu lari tiada  terkendali, Thalhah berteriak, "Hai hamba Allah tolonglah aku, hai hamba Allah tolonglah aku!" Salah seorang budaknya mengejar kuda tersebut dan menangkapnya. Thalhah berkata kepadanya, "Cepat bawa aku ke rumah!" Sementara khuff[19]nya. penuh darah. la berkata kepada budaknya, "Naiklah di belakangku!" Hal itu karena darah terus mengalir dan kondisinya sudah lemah! Budak itu membonceng di belakangnya lalu membawanya ke sebuah rumah di Bashrah lalu beliau wafat di sana. Pendapat lain mengatakan bahwa beliau gugur di medan perang. Ali menghampiri jenazah beliau dan sangat terpukul menyaksikannya.

Total korban yang gugur pada peperangan Jamal dari kedua belah pihak berjumlah sepuluh ribu jiwa. Ada yang berpendapat bahwa jumlah tersebut terlalu berlebihan, khususnya apabila kita ketahui motif pertempuran dalam peperangan tersebut. Demikian pula arahan dari khalifah agar membiarkan orang yang lari dan tidak membunuh orang yang terluka. Demikian pula pendeknya masa pertempuran yaitu mulai setelah Zhuhur sampai terbenam matahari. Khalifah bin Khayyath dalam kitab Tarikhnya, mencantumkan nama-nama korban yang gugur pada peperangan Jamal. Jumlah korban sekitar seratus orang. Jika kita perkirakan seratus atau dua ratus korban lain tidak tercatat maka secara keseluruhan jumlah korban berkisar tiga ratus orang.[20]

Lantaran banyaknya korban yang berjatuhan di kedua belah pihak, Ali bin Abi Thalib bahkan sempat berkata kepada puteranya, Hasan bin Ali, “Wahai Hasan! Alangkah baik sekiranya ayahmu meninggal dua puluh tahun sebelum peristiwa hari ini.” Karena ia tidak menyangka bahwa apa yang terjadi akan seperti hari itu.

 

Sikap Amirul Mukminin Terhadap Harta yang Didapatkan Dari Perang Jamal

Ali bin Abi Thalib memerintahkan untuk menshalatkan korban yang gugur dari kedua belah pihak. Kemudian beliau mengumpulkan barang-barang yang dirampas dari pasukan Aisyah di markas dan memerintahkan agar dibawa ke Masjid Bashrah. Bagi yang mengenali barangnya ia boleh mengambilnya kembali. Kecuali senjata berlambang khaifah yang terdapat di gudang. 

Beberapa orang meminta Ali agar membagi-bagikan harta rampasan yang mereka peroleh dari pasukan Thalhah dan Zubair. Namun Ali menolaknya. Sebagian pengikut as-Sakziyyah mencela beliau. Mereka berkata, "Bagaimana mungkin engkau halalkan kepada kami darah mereka namun tidak engkau halalkan bagi kami harta-harta mereka?" Sampailah perkataan mereka itu kepada Ali. Beliau kemudian berkata, "Siapakah di antara kalian yang bersedia Ummul Mukminin masuk ke dalam bagiannya?" Maka diamlah mereka mendengar ucapan beliau tersebut.

 

Baiat Penduduk Bashrah kepada Amirul Mukminin dan Sikapnya terhadap Ummul Mukiminin Aisyah

Ali bin Abi Thalib memasuki kota Bashrah pada pertengahan Jumadil Akhir tahun 36 H. Penduduk Bashrah membai'at beliau. Sampai-sampai orang-orang yang terluka dan orang-orang yang meminta perlindungan juga membai'at beliau.

Kemudian Ali mendatangi rumah tempat Ummul Mukminin Aisyah singgah. Ali meminta izin kepadanya lalu masuk sembari mengucapkan salam kepadanya, dan Aisyah menyambutnya dengan ucapan selamat. Lalu Aisyah bertanya tentang pasukannya yang terbunuh dan pasukan Ali yang terbunuh. Setiap kali disebutkan nama orang-orang yang terbunuh dari kedua belah pihak Aisyah mendoakan rahmat dan kebaikan untuk mereka.

Ketika Ummul Mukminin Aisyah hendak meninggalkan kota Bashrah, Ali mengirim segala sesuatu yang diperlukan untuknya, mulai dari kendaraan, perbekalan, barang-barang dan lainnya. Dan beliau mengizinkan pasukan Aisyah yang selamat untuk kembali bersamanya atau jika mau mereka boleh tetap tinggal di Bashrah. Beliau mengirim saudara lelaki Aisyah, Muhammad bin Abi Bakar,  ,untuk menyertainya. Pada hari keberangkatan, Ali mendatangi rumah tempat Aisyah menginap, beliau berdiri di depan pintu bersama orang-orang. Kemudian Aisyah keluar dari rumah dalam sedekupnya. Ia mengucapkan selamat tirtggal kepada mereka dan mendoakan kebaikan untuk mereka. Aisyah berkata, "Wahai bunayya, janganlah saling mencela di antara kalian. Demi Allah sesungguhnya apa yang telah terjadi antara aku dan Ali hanyalah masalah yang biasa terjadi antara seorang wanita dengan ipar-iparnya. Sesungguhnya, meski aku dahulu mencelanya namun sesungguhnya ia adalah seorang hamba yang terpilih."

Menganggapi hal itu, Ali pun berujar, "Ia benar, demi Allah tidak ada masalah yang terjadi antara kami berdua kecuali seperti yang telah disebutkan. Sesungguhnya ia adalah istri nabi kalian di dunia dan di akhirat." Kemudian Ali berjalan mengiringinya sampai beberapa mil sembari mengucapkan selamat jalan kepadanya. Peristiwa itu terjadi pada awal Rajab tahun 36 H. Aisyah dan rombongan berangkat menuju Makkah. Ia menetap di sana hingga musim haji. Pada tahun itu juga kemudian ia   kembali ke Madinah.

 

PERANG SHIFFIN

Amirul Mukminin Mengutus Jarir bin Abdullah kepada Muawiyah

Sebagaiman disebutkan sebelumnya bahwa penduduk Syam menunda baiat mereka kepada Ali bin Abi Thalib sampai para pembunuh Utsman bin Affan diqisas. Kondisi ini terus berlanjut selama beberapa bulan setelah Ali bin Abi Thalib menjalankan roda kekhilafannya. Disebutkan bahwa rentang waktu antara kekhilafahan Ali bin Abi Thalib dan Perang Jamal adalah lima bulan dua puluh hari. Lalu rentang waktu antara Perang Jamal dan tibanya beliau di Kufah adalah satu bulan. Kemudian jarak dari tibanya beliau di Kufah dan Perang Shiffin adalah enam bulan, atau dalam riwayat lain, antara dua sampai tiga bulan.[21]

Di Kufah, Ali bin Abi Thalib mengutus beberapa utusan ke beberapa wilayah sekitar untuk menegaskan baiat mereka kepada beliau. Penduduk sekitar Kufah pun menyatakan baiat mereka kepada Ali, termasuk wilayah Hamdan yang berada di bawah tanggung jawab Jarir bin Abdullah al-Bajali. Saat Ali hendak mengirim utusan kepada Muawiyah untuk tujuan yang sama, Jarir bin Abdullah pun menawarkan diri sebagai utusan lantaran kedekatannya dengan Muawiyah. Ali pun mengabulkan penawarannya tersebut.

Diutuslah Jarir dengan membawa surat kepada Muawiyah, yang isinya berupa pemberitahuan tentang kesepakatan kaum Muhajirin dan Anshar membai'at beliau. Kemudian menceritakan kepadanya tentang peristiwa peperangan Jamal serta mengajaknya bergabung bersama kaum muslimin lainnya.

Ketika Jarir sampai di hadapan Muawiyah, ia menyerahkan surat Ali kepadanya. Muawiyah memanggil Amru bin 'Ash dan tokoh-tokoh negeri Syam untuk bermusyawarah. Hasilnya, mereka menolak berbai'at kepada Ali hingga para pembunuh Utsman diqisas  atau Ali menyerahkan kepada mereka para pembunuh Utsman. Jika ia tidak memenuhi permintaan ini maka mereka akan memerangi beliau dan menolak berbai'at kepada beliau hingga mereka berhasil menghabisi seluruh pembunuh Utsman tanpa sisa. Maka Jarir pun pulang menemui Ali dan menceritakan hasil keputusan penduduk Syam."

 

Amirul Mukminin Bergerak Menuju Syam

Ali bin Abi Thalib pun berangkat dari Kufah bertujuan menduduki Syam. Beliau mempersiapkan pasukan di Nukhailah[22] Beliau menunjuk Abu Mas'ud Uqbah bin Amru al-Badri al-Anshari sebagai amir sementara di Kufah

Manakala berita bahwa Ali telah keluar bersama pasukan menuju Syam kepada Muawiyah, ia segera bermusyawarah dengan Amru bin al-'Ash. Ia pun mengusulkan agar ia keluar juga bersama pasukan. Muawiyah lalu menulis pesan kepada seluruh pasukan di Syam. Dalam waktu singkat mereka sudah berkumpul dan mengangkat panji-panji bagi amir masing-masing. Pasukan Syam telah bersiap-siap berangkat! Mereka bergerak menuju Eufrat dari arah Shiffin. Sementara di lain pihak, Ali bersama pasukan bergerak dari Nukhailah menuju tanah Syam. Akhirnya, pada awal bulan Dzulhijjah tahun 36 H, kedua pasukan saling berhadapan di tempat yang bernama Shiffin  yang berada dekat sungai Eufrat sebelah timur wilayah Syam.

Ali berhenti dan mengambil tempat bermalam bagi pasukannya. Akan tetapi Muawiyah bersama pasukannya telah lebih dahulu mengambil tempat. Mereka mengambil tempat di sumber air, tempat yang paling strategis dan luas. Lalu pasukan Ali datang untuk mengambil air. Namun pasukan Muawiyah menghalanginya. Lalu terjadilah pertempuran kecil disebabkan masalah air tersebut. Masing-masing pasukan meminta bantuan kepada rekannya. Kemudian kedua belah pihak sepakat berdamai dalam masalah air ini. Sehingga mereka berdesak-desakan di sumber mata air tersebut, mereka tidak saling bicara dan tidak saling mengganggu satu sama lain.

Setelah berada selama dua hari di tempat itu, Ali tanpa mengirim sepucuk surat pun kepada Muawiyah dan Muawiyah juga tidak mengirim sepucuk surat pun kepada beliau. Kemudian Ali mengirim seorang utusan kepada Muawiyah namun kesepakatan belum juga tercapai. Muawiyah tetap bersikeras menuntut darah Utsman yang telah dibunuh secara zalim. Karena kebuntuan tersebut pecahlah pertempuran antara kedua belah pihak.

Setiap hari Ali mengirim seorang amir pasukan untuk maju bertempur. Demikian pula Muawiyah, setiap hari ia mengirim seorang amir untuk maju bertempur. Kadang kala dalam satu hari kedua belah pihak terlibat dua kali pertempuran. Peristiwa itu terjadi sebulan penuh pada bulan Dzulhijjah. Melewati bulan Dzulhijjah dan masuk bulan Muharram pada tahun 37 H, kedua belah pihak meminta agar perang dihentikan, dengan harapan semoga Allah mendamaikan mereka di atas satu kesepakatan yang dapat menghentikan pertumpahan darah di antara mereka.

Kemudian juru runding terus bolak balik menemui Ali dan Muawiyah sementara kedua belah pihak menahan diri dari pertempuran. Demikianlah kondisinya hingga berakhir bulan Muharram tahun itu tanpa tercapai satupun kesepakatan. Ali bin Abi Thalib kemudian menyuruh Martsad bin Harits al-Jasymi untuk mengumumkan kepada pasukan Syam saat terbenam matahari, "Ketahuilah, sesungguhnya Amirul Mukminin mengumumkan kepada kalian, 'Sesungguhnya aku telah bersabar menunggu kalian kembali kepada kebe-naran. Dan aku telah menegakkan hujjah atas kalian namun kalian tidak menyambutnya. Dan sesungguhnya aku telah memberi udzur kepada kalian dan telah memperlakukan kalian dengan adil. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat."

Mendengar pengumuman pasukan Syam segera menemui para amir mereka dan menyampaikan pengumuman yang mereka dengar tadi. Maka bangkitlah Muawiyah dan Amru, keduanya segera menyiapkan pasukan di sayap kanan dan di sayap kiri. Demikian pula Ali ia menyiapkan pasukan pada malam itu. Ali maju menghadap pasukan dan menyerukan supaya jangan seorang pun memulai pertempuran hingga merekalah yang memulainya dan menyerang kalian, jangan membunuh orang yang terluka, jangan mengejar orang yang melarikan diri, jangan menyingkap tirai kaum wanita dan jangan melakukan pelecehan terhadap kaum wanita, meskipun kaum wanita itu mencaci maki pemimpin dan orang-orang shalih mereka!"

Pada suatu Rabu di bulan Shafar tahun 37 H, kedua pasukan pun mulai terlibat dalam pertempuran yang sangat sengit. Kedua pasukan baru menarik diri pada sore harinya. Pertempuran pada hari itu berlangsung seimbang. Pada keesokan harinya -yakni hari Kamis-, panglima perang pasukan Ali pada hari itu adalah Hasyim bin Utbah dan panglima perang pasukan Muawiyah adalah Abul A'war as-Sulami. Pada hari itu kedua pasukan terlibat lagi dalam pertempuran yang sangat sengit. Pasukan berkuda bertempur dengan pasukan berkuda dan pasukan infantri bertempur dengan pasukan infantri. Pada petang hari kedua belah pihak menarik diri dari medan pertempuran. Kedua pasukan sama-sama bertahan dan pertempuran antara keduanya berimbang.

Kemudian pada hari ketiga -yakni pada hari Jum'at- Ammar bin Yasir memimpin pasukan Ali sementara Amru bin al-'Ash memimpin pasukan Muawiyah. Selanjutnya kedua pasukan terlibat dalam pertempuran yang sangat sengit. Amar menyerang Amru bin al-'Ash beserta pasukannya hingga mereka terpukul mundur. Demikianlah peperangan terus berlanjut dengan kondisi seperti itu selama tujuh hari. Sore hari kedua belah pihak menarik diri dari medan pertempuran. Kedua belah pihak sama-sama bertahan selama tujuh hari ini, tidak ada yang menang dan tidak ada yang kalah.

 

Ammar bin Yasir Gugur

Dalam perang Shiffin ini, Amar bin Yasir, salah seorang sahabat Rasulullah saw gugur dalam pertempuran. Sebagaimana diketahui bahwa Ammar bin Yasir berperang di pihak Ali. Beliau dibunuh oleh pasukan Muawiyah. Dengan demikian nyata dan terbuktilah apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw. bahwa Ammar akan dibunuh oleh kelompok pembangkang[23]. Dan terbuktilah bahwa Ali berada di pihak yang benar dan Muawiyah membangkang terhadapnya. Semua itu merupakan bukti kebenaran nubuwat Rasulullah saw.

Kematian Ammar bin Yasir dan dalam barisan mana terbunuhnya merupakan di antara petunjuk yang dijadikan beberapa sahabat dalam menyikapi fitnah tersebut. Khuzaimah bin Tsabit adalah seorang sahabat yang bersikap seperti itu. Ia memang ikut serta berangkat ke Shiffan. Akan tetapi ia tidak berada dan menghunuskan pedangnya kepada barisan mana pun. Namun saat ia mengetahui bahwa Ammar terbunuh dalam barisan Ali, ia pun segera menghunus pedangnya dan menyerang pasukan Muawiyah. Ia tetap berperang dalam barisan Ali sampai akhirnya gugur.[24]

Kabar gugurnya Ammar yang bergabung dengan pasukan Ali juga berpengaruh besar terhadap pasukan Muawiyah. Adalah Abdullah bin Amru  yang merupakan putera Amru bin al-‘Ash, berkata kepada ayahnya, "Wahai Ayahanda! Tidakkah engkau mendengar Rasulullah saw. berkata kepada Ammar, "Engkau akan dibunuh oleh kelompok pembangkang."

Amru pun lalu berkata kepada Muawiyah, "Tidakkah engkau dengar perkataannya?" Muawiyah berkata, "Ia selalu membawa masalah buat kita, apakah kita yang membunuh Ammar? Sesungguhnya yang membunuhnya adalah orang-orang yang membawanya."[25]

Berdasarkan hadits tersebut, Ibnu Katsir berpendapat bahwa pihak yang lebih mendekati kebenaran pada perang tersebut adalah pihak Ali beserta pasukannya. Pasukan Muawiyah lah yang termasuk pembangkang dalam perang tersebut.[26]

Ketika Ammar terbunuh, Ali maju menyerang dan ikut menyerang juga sejumlah anggota pasukan beliau bersama beliau. Tidak tersisa satupun barisan pasukan Syam melainkan tercerai berai. Pada perang ini, banyak sekali korban yang berjatuhan pada kedua belah pihak. Sejumlah ulama sejarah menyebutkan bahwa mereka berperang dengan tombak hingga tombak-tombak itu pecah, dengan panah hingga anak panah habis, dengan pedang hingga pedang-pedang itu hancur, kemudian kedua belah pihak terlibat baku hantam dengan tangan dan saling melempar batu.

 

TAHKIM (PERUNDINGAN)

Pasukan Muawiyah Mengangkat Mushaf dan Mengajak Bertahkim

Saat kemenangan hampir berada di tangan pasukan Ali atas pasukan Muawiyah, pasukan Muawiyah lalu mengangkat mushaf al-Qur'an. Mereka berkata, "Ini hakim antara kami dan kalian, sudah terlalu banyak korban yang jatuh, siapakah lagi yang akan menjaga perbatasan wilayah Islam? Siapakah lagi yang akan berjihad melawan kaum musyrikin dan kaum kafir?"

Amru bin al-Ash kemudian mengusulkan kepada Muawiyahuntuk mengirim mushaf al-Qur'an kepada Ali dan mengajak nya bertahkim kepada Kitabulla. Lalu datanglah seorang lelaki kepada Ali dan berkata, 'Kitabullah menjadi hakim di antara kita. Ia lalu membacakan firman Allah swt, “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang telah diberi bahagian yaitu al-Kitab (Taurat), mereka diseru kepada kitab Allah supaya kitab itu menetapkan hukum di antara mereka; kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran)[27].” Ali kemudian menanggapainya dengan berkata, "Benar, aku lebih berhak untuk itu, Kitabullah menjadi hakim di antara kita." Akhirnya, pasukan Ali pun menerima usulan tahkim tersebut.

Mayoritas pasukan Iraq dan pasukan Syam menyambut gembira rencana perdamaian ini. Mereka berharap akan diperoleh kesepakatan yang dapat menghentikan pertumpahan darah di antara kaum muslimin. Karena sudah banyak sekali korban yang jatuh dalam pertempuran ini. Khususnya dalam tiga hari terkahir dan sebagai puncaknya pertempuran pada malam Jum'at yang disebut sebagai malam Jum'at kelabu.

 

Kesepakatan Untuk Bertahkim

Kemudian kedua pihak sepakat bertahkim setelah melewati dialog panjang. Yaitu masing-masing amir -yakni Ali dan Muawiyah- mengangkat seorang hakim dari pihaknya. Kemudian kedua juru runding tersebut membuat kesepakatan yang membawa maslahat bagi kaum muslimin. Muawiyah menunjuk Amru bin al-'Ash sebagai wakilnya. Sementara Ali ingin menunjuk Abu Musa al-Asy'ari. Aebenarnya Ali ingin menunjuk Abdullah bin Abbas sebagai wakilnya, namun para Qurra' (kaum Khawarij) menolaknya dan mengusulkan Abu Musa al-Asy’ari.

Kemudian kedua juru runding yang diangkat mengambil perjanjian dari Ali dan Mua'wiyah serta dari kedua pasukan bahwasanya. Mereka berdua beserta keluarga mereka aman dan umat menjadi pembela mereka atas apa yang mereka putuskan dan mereka sepakati dalam tahkim ini. Dan bagi seluruh kaum mukminin dan muslimin dari kedua belah pihak hendaklah menghormati perjanjian Allah ini, bahwa mereka harus mendukung apa yang dihasilkan dalam lembaran perjanjian ini.  Kedua juru runding sepakat menunda tahkim sampai bulan Ramadhan. Jika keduanya setuju bisa saja ditunda sampai batas waktu yang disepakati oleh keduanya. Kesepakatan ini ditulis pada hari Rabu tanggal tiga belas Shafar tahun 37 H. Ali dan Muawiyah menyetujui tempat pelaksanaan perundingan yaitu di Daumatul Jandal pada bulan Ramadhan. Masing-masing juru runding dari kedua belah pihak dibolehkan membawa empat ratus orang dari kelompoknya. Jika perundingan tidak terlaksana pada tahun ini, maka disepakati kedua belah pihak bertemu di Adzruh pada tahun depan.

Sebagaimana disepakati sebelumnya, bertemulah kedua wakil tersebut di Daumatul Jandal pada Ramadhan 37 H. Kedua juru runding tersebut sepakat mewujudkan maslahat bagi kaum muslimin setelah melihat dan meneliti persoalan. Kemudian keduanya sepakat mencopot Ali dan Muawiyah kemudian menyerahkan masalah in kepada kaum muslimin untuk memilih amir yang paling cocok buat mereka dari salah satu dari keduanya atau dari yang lainnya.

Adapun isi perundingan yang disepakati oleh kedua juru runding tersebut, yang terpenting di antaranya yaitu.

  • Ini adalah perjanjian yang ditandatangani oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan beserta kedua pendukungnya. Keduanya ridha untuk berhukum dengan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya saw
  • Ali mewakili penduduk Iraq; baik yang hadir di sana atau yang tidak hadir. Dan Muawiyah mewakili penduduk Syam; baik yang hadir di sana atau yang tidak hadir.
  • Kami sepakat berhukum kepada apa yang ditetapkan al-Quran; dari awal hingga akhirnya. Kami menjunjung tinggi apa yang dijunjung tinggi oleh al-Quran dan merendahkan apa yang direndahkannya. Atasnya lah (hukum al-Quran) kami memutuskan perkara dan kami ridha.
  • Ali dan pendukungnya ridha menjadikan Abdullah bin Qais (Abu Musa al-Asy’ari) sebagai juru runding. Sementara Muawiyah ridha terhadap Amru bin al-‘Ash sebagai juru runding.
  • Ali dan Muawiyah harus mengambil sumpah atas Abdullah bin Qais dan Amru bin al-Ash atas nama perjanjian Allah, mitsaq-Nya. dzimmah-Nya, dan dzimmah Rasul-Nya. Agar keduanya menjanji untuk menjadikan al-Quran sebagai pedoman da tidak beralih pada selainnya dalam menetapkan keputusan jika keduanya mendapatkannya tersurat dalam al-Quran. Jika keduanya tidak mendapatkannya dalam al-Quran, maka dikembalikan pada Sunnah Rasulullah yang komprehensif. Keduanya tidak boleh sengaja berselisih, dan tidak mengharapkan terjadinya syubhat.
  • Abdullah bin Qais dan Amru bin al-‘Ash mengambil sumpah Ali dan Muawiyah atas nama perjnajian Allah, dan mitsaw-Nya untuk ridha terhadap apa yang diputuskan keduanya berdasarkan apa yang terdapat dalam Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. Keduanya tidak boleh membatalkan dan menyelesihinya.
  • Abdullah bin Qais dan Amru bin al-‘Ash  terjamin keamanannya—baik darah, harta, kabilah, keluarga dan anak-anak mereka—saat menjadi juru damai, selama keduanya tidak menyelisihi kebenaran; meski ada yang rela atau yang membenci. Umat merupakan pendukung keduanya atas keputusan mereka yang benar yang sesuai dengan apa terdapat dalam Kitabullah.
  • Jika salah seorang di antara keduanya wafat, sebelum berakhir masa tugasnya sebagai juru runding selesai, maka kelompok dan pendukungnya hendaknya memilih pengganti yang adil dan kompeten. Dengan tetap menjadi perjanjian dan kesepakatan yang dilakukan pendahulunya.
  • Jika salah seorang amir wafat sebelum habisnya waktu yang ditetapkan dalam persoalan tersebut, maka kelompoknya hendaknya memilih seorang pengganti yang mereka ridhai.
  • Persoalan dan perundingan telah terlaksana dari kedua belah pihak dan tercapai genjatan senjata.
  • Penduduk (dari kedua kelompok) berada dalam keadaan aman hingga berakhirnya masa penjanjian.
  • Kedua juru damai hendaknya bersikap bijaksana dan adil terhadap penduduk Irak dan Syam.
  • Batas akhir waktu perdamaian adalah berakhirnya Ramadhan. Namun jika juru damai berpendapat untuk mempercepat atau menundanya, maka bisa dipercepat atau ditunda.
  • Jika kedua juru damai tersebut jika memutuskan berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya hingga berakhirnya waktu yang ditentukan, maka kedua kelompok tetap pada kondisi awal mereka yaitu perang.[28]

Munurut Ash-Shallabi, adapun jika yang cukup terkenal terkait peristiwa tahkim yang di antara isinya usaha kedua juru damai tersebut untuk menunjuk khalifah; Abu Musa al-Asy’ari memakzulkan Ali dan Muawiyah, lantas Amru bin al-‘Ash setuju memakzulkan Ali lalu menetapkan Mu;’awiyah pada posisnya, adalah riwayat yang lemah. Ini mengingat bahwa Muawiyah memang mengakui keutamaan Ali atas dirinya, dan Ali lebih berhak untuk menjadi khalifah. Perbedaan antara keduanya adalah persoalan para pembunuh Utsman. Muawiyah menginginkan para pembunuh Utsman diqisas atau diserahkan padanya, sementara Ali—lantaran kondisi yang tidak memungkinkan—menunda hal itu, dan meminta Muawiyah untuk tunduk padanya terlebih dahulu.[29]

 

KEMUNCULAN KHAWARIJ DAN SIKAP AMIRUL MUKMININ TERHADAP MEREKA

Setelah peristiwa tahkim, kedua kelompok tersebut berpencar ke daerah masing-masing. Muawiyah kembali ke Damaskus, sementara Ali kembali ke Kufah. Sewaktu mendekati kota Kufah sekitar dua belas ribu anggota pasukannya memisahkan diri. Merekalah cikal bakal Khawarij. Mereka tidak mau tinggal bersama Ali di Kufah. Mereka bermukim di satu tempat bernama Harura'. Mereka mengingkari beberapa perkara atas Ali yang mereka anggap Ali telah melakukannya. Ali mengirim Abdullah bin Abbas kepada mereka untuk berdialog. Banyak dari mereka kembali kepada jalan yang benar dan sisanya tetap bertahan.

Disebutkan bahwa Ali pergi menemui mereka dan berdialog dengan mereka tentang perkara yang mereka ingkari atas beliau. Ali berhasil mengeluarkan mereka dari masalah yang mereka persoalkan. Mereka bersedia masuk kota Kufah bersama beliau. Kemudian mereka melanggar perjanjian yang telah mereka sepakati. Mereka menggalang persatuan dan kesepakatan di antara mereka untuk menegakkan amar ma'ruf nahi mungkar dan untuk menegakkan kebenaran (menurut versi mereka). Mereka kembali memisahkan diri di tempat yang bernama Nahrawan. Di tempat itulah Ali memerangi mereka.

Perang Nahrawan

Mereka yang keluar dari kelompok Ali bin Abi Thalib tersebut lalu mengangkat Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi sebagai pemimpin mereka. Mereka pun mengirim pesan umum kepada orang-orang yang sejalan dengan mereka di Bashrah dan daerah lainnya. Agar mereka menjadi satu barisan dalam menghadapi musuh. Kemudian mereka pun keluar secara berangsur satu demi satu supaya orang lain tidak mengetahui rencana mereka sehingga melarang mereka keluar. Seluruh kaum Khawarij berkumpul di Nahrawan. Akhirnya mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan. Mereka menggalang pasukan independen. Dengan interpretasi yang keliru terhadap teks-teks syariat, mereka pun mulai menimbulkan kerusakan; membunuh orang yang terjaga darahnya, dan mengambil harga orang tan[a alasan yang dibernarkan syariat.

Ketika Ali mendengar bahwa mereka menumpahkan darah, menyabot jalan dan menghalalkan perkara-perkara yang diharamkan. Termasuk di antaranya adalah Abdullah bin Khabbab,  salah seorang sahabat Nabi saw, yang mereka bunuh. Bahkan mereka membunuh istrinya yang dalam keadaan hamil serta membelah perutnya. Lalu sebagian orang menyarankan kepada Ali agar terlebih dulu menumpas mereka. Saran ini pun disepakati. Kaum khawarij tidak akan membiarkan anak-anak maupun orang dewasa, laki-laki ataupun perempuan. Karena dalam pandangan kaum Khawarij semua orang telah berbuat kerusakan dan tidak ada yang dapat memperbaiki mereka kecuali dihabisi seluruhnya.

Ali mengutus Harits bin Murrah al-Abdi kepada mereka untuk mengklarifikasi informasi tentang keadaan mereka. Ketika Harits datang menemui mereka, mereka langsung membunuhnya tanpa basa-basi lagi. Ketika berita itu sampai kepada Ali, beliau langsung mengerahkan pasukan untuk menghadapi mereka, meski harus  menunda keberangkatan beliau bersama pasukan ke Syam yang sebenarnya sudah beliau rencanakan.

Kemudian Ali  mengirim seorang utusan kepada kaum Khawarij untuk menyerahkan para pembunuh kaum muslimin kepadanya untuk diqisas. Tidak lupa beliau juga mengingatkan mereka untuk kembali kepada kebenaran.  Lalu mereka mengirim utusan kepada Ali untuk menyampaikan, bahwa mereka mengakui hal itu semua, karena beranggapan bahwa darah orang-orang yang mereka bunuh adalah halal; termasuk Ali dan pasukannya. Mereka pun bersiap mengatur barisan untuk berperang dan bersiap menghadapi pertempuran.

Kedua pasukan akhirnya bertemu di Nahrawan. Sebelum berlangsung perang, Ali memerintahkan Abu Ayyub al-Anshari mengibarkan bendera menawarkan keamanan bagi pasukan Khawarij. Ali menawarkan kepada mereka, "Barangsiapa bernaung di bawah bendera ini maka ia aman, barangsiapa kembali ke Kufah dan ke al Madain maka ia aman, kami tidak ingin menumpahkan darah kalian kecuali orang orang yang telah membunuh rekan kami." Sebagian besar dari mereka memilih kembali, jumlah mereka sekitar empat ribu orang. Hanya tersisa seribu orang saja atau kurang dari itu bersama Abdullah bin Wahhab ar-Rasibi.

Pasukan khawarij maju menyerbu ke arah pasukan Ali. Ali memerintahkan pasukannya untuk bersiap siaga. Beliau juga memerintahkan kepada pasukan untuk menahan diri sehingga merekalah yang memulainya. Pasukan Khawarij maju seraya meneriakkan kata-kata, "Tidak ada hukum melainkan milik Allah swt. Marilah bersegera menuju surga!.” Terjadilah peperangan yang sengit antara kedua pasukan. Dengan pasukan dan strategi yang rapi, pasukan Ali berhasil mengalahkan pasukan Khawarij sehingga korban yang gugur, termasuk pemimpin mereka Abdullah bin Wahab, dan para tokoh mereka seperti, Hurqush bin Zuhair, Syuraih bin Aufa dan Abdullah bin Syajarah as-Sulami. Sementara dari pasukan Ali hanya terbunuh tujuh orang saja.

Kemudian Ali memerintahkan untuk mengumpulkan orang-orang yang terluka dari mereka, ternyata jumlahnya empat ratus orang. Ali menyerahkan mereka kepada kabilah-kabilah mereka untuk diobati. Lalu membagikan senjata dan barang yang dirampas kepada mereka. Menyaksikan sikap Ali bin Abi Thalib kepada Khawarij, salah seorang lalu bertanya, “Lalu bagaimanakah kedudukan mereka wahai Amirul Mukminin?.” Ali menjawab, “Mereka adalah saudara-saudara kita yang membangkang terhadap kita. Kita memerangi mereka karena pembangkangan mereka itu.”

Perundingan Damai Kembali Antara Amirul Mukminin Dengan Muawiyah

Setelah naskah tahkim di Daumatul Jandal pada Ramadhan 37 H  sepakati oleh Ali bin Abi Thalib dan Muawiyah bin Abi Sufyan, tidak lama kemudian, di beberapa wilayah seperti Mesir, Bashrah, Hijaz dan Yaman, masih perjadi perebutan pengaruh antara pasukan Ali dan Muawiyah. Untuk itu, beberapa tahun berselang terjadilah perundingan damai kembali antara Ali dan Muawiyah.

Ibnu Jarir mencatat bahwa tahun 40 H, terjadilah perundingan antara Ali dan Muawiyah, setelah melewati dialog dan surat menyurat yang panjang. Perundingan itu menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan peperangan di antara kedua belah pihak. Kekuasaan di Iraq berada di tangan Ali dan kekuasaan di Syam berada di tangan Muawiyah. Kedua belah pihak tidak boleh memasuki daerah yang bukan kekuasaannya, tidak boleh mengirim pasukan dan tidak boleh melakukan peperangan dan penyerangan ke daerah yang bukan kekuasaannya.

 

STAGNANASI FOREIGN POLICY PADA MASA AMIRUL MUKMININ

Khalifah Rasyidin  yang keempat, Ali bin Abi Thalib menghadapi masalah-masalah berat dan kondisi dalam negeri yang labil. Situasi pada masa kekhalifahan beliau sangat tidak kondusif. Pecah perang di antara kaum muslimin, munculnya kaum Khawarij, sehingga Khalifah sibuk mengurus masalah-masalah dalam negeri dan memadamkan api fitnah yang marak pasca terbunuhnya Khalifah Utsman bin Affan secara zhalim. Salah satu kerugian akibat fitnah-fitnah ini dan ekses negatifnya adalah terhambatnya foreign policy berupa gerakan jihad dan perluasan wilayah Islam yang merupakan perkara yang sangat menonjol pada masa kekhalifahan sebelumnya.

Buku-buku sejarah tidak mencatat penaklukan-penaklukan wilayah baru pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib. Akan tetapi meskipun menghadapi berbagai masalah dalam negeri yang pedih namun beliau mampu mempertahankan wilayah-wilayah yang sudah ditaklukan. Para amir di wilayah wilayah taklukan sangat serius menghadapi serangan musuh-musuh dari luar. Para prajurit yang berjaga-jaga di tapal batas benar-benar melaksanakan kewajiban mereka dengan baik dalam menjaga dan mengamankan wilayah Islam.[30]

 

TERBUNUHNYA ALI BIN ABI THALIB

Setelah kekalahan telak pada perang Nahrawan, tiga orang Khawarij pun berkumpul, yaitu Abdurrahman bin Amru al-Himyari al-Kindi —yang lebih dikenal dengan Ibnu Muljam, al-Burak bin Abdillah at-Tamimi dan Amru bin Bakr at-Tamimi. Dalam pertemuan itu, ketiga sepakat untuk membunuh tokoh kunci yang dianggap mereka sebagai penyebab fitnah, yaitu Ali bin Abi Thalib, Muawiyah bin Abi Sufyan, dan Amru bin al-‘Ash. Ibnu Muljam bertugas membunuh Ali; Burak bin Abdillah membunuh Muawiyah, dan Amru bin Bakr membunuh Amru bin al-‘Ash. Mereka pun berikrar dan mengikat perjanjian untuk tidak mundur dari niat semula hingga masing-masing berhasil membunuh targetnya atau terbunuh. Mereka sepakat melakukannya serempak pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H.

Ibnu Muljam kemudian berangkat ke Kufah. Setibanya di sana ia menyembunyikan identitas, bahkan terhadap teman-temannya dari kalangan Khawarij yang dahulu bersamanya. Di Kufah ia tertarik pada seorang wanita bernama Qatham binti Asy-Syijnah, yang ayah dan saudara laki-lakinya terbunuh dalam perang Nahrawan. Ia lantas meminang wanita itu. Qatham mensyaratkan mahar tiga ribu dirham, seorang khadim, budak wanita dan membunuh Ali bin Abi Thalib untuk dirinya. Ibnu Muljam pun menyetujuinya lalu menikahinya. Apalagi kedatangannya ke Kufah tidak lain kecuali untuk membunuh Ali.

Pada waktu yang mereka janjikan, yaitu 17 Ramadhan, berangkatlah Ibnu Muljam bersama dua orang lainnya, yaitu  Wardan dan Syabib bin Bajrah al-Asyja’I untuk membunuh Ali. Pada waktu Shubuh, mereka bertiga sudah siap mengintai Ali di pintu yang biasanya Ali lalui saat hendak melaksankan shalat Shubuh. Tatkala Ali keluar dari pintu itu untuk membangunkan orang-orang untuk melaksanakan shalat, saat itulah Syabib mengayunkan pedangnya ke arah Ali dan melukainya. Setelah terjatuh, Ibnu Muljam pun menebaskan pedangnya pada kepala Ali sehingga membuatnya terluka parah.

Ali sempat berteriak sehingga banyak orang yang sudah terbangun segera menangkap para pelaku. Pada kesempatan itu, Wardan dan Syabib berhasil melolaskan diri, namun Ibnu Muljam berhasil diringkus. Akibat luka serius yang dideritanya, pada 21 Ramadhan, Ali pun wafat. Sebelum meninggal Ali sempat berwasiat untuk tidak memutilasi orang yang membunuhnya. Ali menjabat sebagai khalifah selama empat tahun lebih tiga hari sembilan bulan.[31]

Setelah Ali wafat, kedua puteranya yakni Hasan dan Husein memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdullah bin Ja'far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putera tertua beliau, yakni Hasan. Menurut pendapat yang masyhur, jenazah beliau dimakamkan di Darul Imarah di Kufah, karena kekhawatiran kaum Khawarij akan membongkar makam beliau.

 

KESIMPULAN

Sunah kauniyah akan menimpa siapa pun termasuk generasi terbaik umat Islam, para sahabat pendamping Rasulullah saw. Saat unsur-unsur kemenangan dan kejayaan mulai sedikit demi sedikit—namun pasti—terlepas dari suatu generasi, maka sejauh itu juga generasi tersebut menuju kekalahan dan keruntuhan. Lantaran berbagai faktor pasca terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan, terjadilah konflik internal dalam tubuh umat Islam berupa perang saudara antar mereka. Sehingga pada masa Ali bin Abi Thalib terjadi stagnasi foreign policy berupa terhentinya gerakan jihad yang menyebabkan umat tersibukkan mengurus internal selama beberapa tahun lamanya. Meski akhirnya umat kembali bersatu setelah itu, akan tetapi pengaruh peristiwa tersebut masih terasa hingga hari ini. Ibarat luka yang sudah mengering dan sembuh, namun ia tetap meninggalkan bekas di tubuh. Walau demikian, hal itu tidak menggeser posisi mereka sebagai generasi terbaik umat ini.

Namun, perselisihan yang terjadi menjadi pelajaran berharga bagi generasi setelahnya saat mereka bertikai. Islam tetap sebagai acuan. Al-Qur`an dan Sunnah tetap menjadi pegangan. Juga ibrah untuk berusaha menjauhi setiap faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya konflik, dan menanggulanginya dengan tepat saat hal itu terjadi. Serta mengusahakan faktor-faktor yang menyebabkan persatuan dan berusaha mempertahankannya. [Ali Sadikin]



[1] Lihat Shahih Muslim, no hadits. 2409.
[2] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, Darul Fikr, 1986, vol. 3, hal. 26.
[3] Shafiyyurahman al-Mubarakfuri, Ar-Rahiqul Makhtum, Darul Wafa`, Manshurah-Mesir, 2005,  hal. 200.
[4] Muhammad Shamil As-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khulafaur Rasyidin, (ter. Abu Ihsan Al-Atsari), Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, hal. 415-419.
[5] Muhammad Ridha, Ali bin Abi Thalib, (ter. Amir Ghazali), Al-Qawam, Solo, 2013, hal. 99-100.
[6] QS. Al-Anfal: 26-27
[7] Muhammad Ridha, Ali bin Abi Thalib, h. 107.
[8] Ibid, h. 108-109.
[9] Muhammad Shamil As-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khulafaur Rasyidin, h. 451-452.
[10] Muhammad Ridha, Ali bin Abi Thalib, h. 111-112.
[11] Muhammad Shamil As-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khulafaur Rasyidin, h. 453.
[12] Ibid, hal. 453-359.
[13] Muhammad Shamil As-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khulafaur Rasyidin, h. 458.
[14] Muhammad Ridha, Ali bin Abi Thalib, h. 107.
[15] Salah satu tempat persinggahan bagi para jama'ah haji dari Iraq. Lokasinya terletak di sebelah timur Madinah sekitar seratus mil.
[16] Dzii Qar adalah mata air milik Bakar bin Wail, di mata air ini terukir kisah yang sangat populer antara Bakar dan orang-orang Arab yang mengikutinya melawan orang-orang Persia. Dalam pertempuran itu orang-orang Arab memperoleh kemenangan.
[17] Suatu tempat di Bashrah yang kemudian dibangun di situ istana Ibnu Ziyad pada masa pemerintahannya pada masa kekhalifahan Bani Umayyah..
[18] Menurut Ibnu Katsir, pendapat kedua inilah yang menyebabkan Zubair meninggalkan pertempuran.
[19] Sejenis sepatu dari kulit
[20] Muhammad Shamil As-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khulafaur Rasyidin, h. 575.
[21] Ali ash-Shalabi, Asmal Mathalib fi Sirati Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib, h. 628.
[22] Sebuah nama tempat di dekat Kufah ke arah Syam
[23] Hadits tentang terbunuhnya Ammar oleh kelompok pembangkang diriwayatkan Muslim, no hadits. 2916.
[24] Ali ash-Shalabi, Asmal Mathalib fi Sirati Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib, h. 644.
[25] HR. Ahmad dalam Musnadnya, jld. 2, h. 206.
[26] Ibnu Katsir, Al-Bidayah wan Nihayah, jld. 6, h. 220.
[27] QS. Ali Imran: 23.
[28] Ali ash-Shalabi, Asmal Mathalib fi Sirati Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib, h. 679-681.
[29] ibid, h. 685-686.
[30] Muhammad Shamil As-Sulami, Al-Bidayah wan Nihayah: Masa Khulafaur Rasyidin, h. 529.
[31] Ali ash-Shalabi, Asmal Mathalib fi Sirati Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib, h. 1036.