AL QAEDA 3.0: MEMENANGKAN HATI DAN PIKIRAN

29 August 2013

Apakah Al Qaeda kini telah kalah? Ataukah mereka lebih kuat dari sebelumnya? Atau justru keduanya?

Para analis terorisme belum bisa sepakat atas jawaban dari pertanyaan di atas. Nasib Al Qaeda banyak diperdebatkan sejak tewasnya Usamah bin Ladin dua tahun yang lalu. Beberapa menganggap jaringan yang dibentuk di Peshawar, Pakistan, pada akhir 1980-an tersebut, sebagai kekuatan yang semakin pudar, namun sebagian percaya bahwa Al Qaeda tetaplah ancaman utama dalam beberapa masa ke depan.

Ancaman serangan dari AQAP, yang mengakibatkan penutupan sejumlah kedutaan besar AS dan Barat di wilayah  Arab dan Asia Selatan beberapa waktu yang lalu, membuat debat ini mengemuka kembali. Wall Street Journal melaporkan bahwa, “barangkali kepemimpinan Al Qaeda pusat berhasil dilemahkan, namun kelompok tersebut berhasil bermetamorfosis menjadi entitas yang lebih kecil dan menyebar, yang membuat ancaman mereka menjadi lebih susah untuk diprediksi dan dilacak,”[1] sedangkan the Telegraph menyebut Al Qaeda “saat ini sedang mengalami kebangkitan” setelah terjadinya aksi penjebolan penjara (prison breaks) di Irak, LIbya dan Pakistan.[2] Ancaman terakhir yang memicu penutupan kedutaan besar di 19 negara merupakan sebuah wake-up call. Peter King, mantan kepada Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat berkata kepada BBC bahwa, “Al Qaeda, dalam banyak hal, sekarang lebih kuat dibanding sebelum 911, karena mereka kini telah bermutasi dan menyebar dalam berbagai arah yang berbeda.”[3]

Di sisi lain, pemerintahan Obama dengan kekeuh mengklaim bahwa kekalahan Al Qaeda sudah diambang pintu. Dua tahun yang lalu, Menteri Pertahanan Amerika Serikat saat itu, Leon Panetta, mengatakan bahwa negaranya saat ini “secara strategis hampir mengalahkan Al Qaeda.”[4] Obama sendiri dalam perayaan satu tahun tewasnya Usamah bin Ladin mengatakan bahwa “tujuan yang telah saya tetapkan—yaitu kekalahan Al Qaeda dan menghalangi kesempatan bagi mereka untuk bangun kembali—saat ini sudah dalam jangkauan kita.”[5]

Pada bulan Oktober 2012 yang lalu, Peter Bergen, Direktur Program Studi Keamanan Nasional pada lembaga New American Foundation dan editor di AfPak Channel berulangkali menegaskan bahwa Al Qaeda sekarang telah kalah—termasuk Al Qaeda di Semenanjung Arab, yang pada akhir bulan Juli 2013 silam ia sebut “sedang kesulitan untuk bisa survive”.[6] Komentar serupa juga diungkapkan oleh Will McCants, peneliti di CNA dan juga pengampu situs jihadica.com. Ia menilai  bahwa kekuatan Al Qaeda di negara dimana ia memiliki basis yang kuat sekalipun—seperti Yaman, Mali, dan Somalia—hanya mampu menguasai wilayah-wilayah yang lemah, dan para sekutu Al Qaeda di tiap negara seringkali dipaksa untuk sembunyi atau melarikan diri.

Namun para ahli dan politisi lainnya berpendapat bahwa laporan akan keruntuhan Al Qaeda terlalu berlebihan. Bruce Hoffman, direktur Pusat Studi Keamanan di Georgetown, menilai bahwa usaha tak kenal henti dalam melakukan serangan drone di Yaman “barangkali membuat kita terlena untuk berpikir bahwa ancaman dari kelompok tersebut telah berlalu.”[7] Mantan anggota senat yang pernah menjabat sebagai wakil ketua komisi 9/11, Lee Hamilton, mengatakan kepada Komite Keamanan Dalam Negeri (Homeland Security Committee) bahwa “Al Qaeda Pusat telah dilemahkan. Namun, meskipun kita yakin bahwa serangan menghancurkan ala 9/11 kemungkinannya agak kecil, ancamannya justru lebih kompleks dan bervariasi dibanding yang terjadi dalam sepuluh tahun terakhir ini.”[8]

Mary Habeck, seorang profesor di bidang studi strategis di John Hopkins University, menyimpulkan hal yang sama dalam tulisannya di Foreign Policy. “Apakah Al Qaeda sekarang lebih baik dibanding sepuluh tahun yang lalu? Jika kita hanya melihat berdasarkan serangan pada Amerika Serikat, warga negaranya, dan sekutunya, kita akan sepakat dengan pandangan mayoritas saat ini tentang Al Qaeda dan akan menjawab ‘tidak’... Namun, kita akan menarik kesimpulan yang berbeda jika kita melihat bagaimana Al Qaeda berjalan di belahan dunia yang lain. Pada 11 September 2001, barangkali Al Qaeda hanya mengontrol separuh lusin kamp di Afghanistan dan hanya memiliki sedikit aliansi dengan kelompok jihad lainnya—yang kebanyakan mempunyai kepentingan lokal. Hari ini, Al Qaeda telah memiliki safe haven yang berlipat (di Pakistan Utara, Somalia, Yaman, kawasan Sahel, dan Suriah); mengontrol banyak cabang di beberapa negara yang mempunyai kepentingan global yang sama dengan Al Qaeda; menguasai wilayah dengan pemerintahan bayangan yang menetapkan syariat Islam ala Al Qaeda; serta berperang dalam berbagai ladang pertempuran (di Afghanistan, Somalia, Yaman, Mali, dll). Secara umum, mereka terlibat di berbagai negara mayoritas Muslim di dunia ini.”[9]

Berdasarkan fakta-fakta di atas, penilaian objektif atas Al Qaeda akan berkesimpulan bahwa, meski mereka gagal melakukan serangan dengan korban massal atas Amerika Serikat sejak 9/11, kelompok tersebut berada dalam kondisi yang jauh lebih baik dalam skala global dibanding dengan kondisi-kondisi sebelumnya.

Canadian Security Intelligence Service (CSIS) pada awal tahun 2013 mengadakan sebuah workshop yang kemudian diterbitkan dalam sebuah laporan berjudul “The Future of Al Qaeda”. Dalam laporannya yang diterbitkan Mei 2013 silam, CSIS menyimpulkan bahwa Al Qaeda sangat mungkin menjadi lebih besar, lebih kuat, lebih tidak bisa diprediksi dalam lima tahun kedepan. Laporan tersebut merupakan hasil dari “proyek tinjauan masa depan” yang dilakukan oleh intelijen Kanada, dengan memberikan pertanyaan kepada para ahli  terkemuka di bidang terorisme: Seperti apakah Al Qaeda pada tahun 2018 nanti?

Dalam laporan tersebut, mereka menguji tentang tiga kemungkinan skenario mengenai masa depan Al Qaeda. Skenario pertama, Al Qaeda akan mengalami penurunan, sebagaimana pendapat yang dikemukakan Departemen Luar Negeri AS, skenario kedua AQ akan melakukan ekspansi dan menyebar, dan ketiga adalah mereka akan bertambah kuat secara cepat.

Dari ketiga skenario di atas, skenario kedua dianggap yang paling memungkinkan. Jika kesimpulan tersebut benar, maka organisasi tersebut tetap akan menjadi ancaman besar dalam jangka waktu yang sangat lama. Al Qaeda telah bermetamorfosis dan menyebar ke kawasan Sahara Afrika dan sebagian Asia Tenggara, mereka tetap ulet di Pakistan dan beberapa negara di Timur Tengah. Para pejuang mereka kini banyak terlibat dalam perang di Suriah, mencoba untuk menggulingkan Bashar Assad dan menggantinya dengan pemerintahan Islam. Selain itu, mereka juga mempunyai sel tidur di negara Barat yang masih tetap mengancam, dimana bukti dari keberadaan mereka adalah penangkapan dari beberapa orang yang diduga ingin meledakkan kereta api di Toronto dan New York.[10]

“Pertumbuhan perlahan secara bertahap dengan perluasan cabang akan merubah ancaman yang diberikan Al Qaeda. Mereka menjadi lebih susah diprediksi, lebih otonom dan oportunis, serta lebih kuat, karena Al Qaeda bisa mendapatkan senjata baru, rekrutan baru, sumber dana baru, serta safe haven baru,” terang laporan tersebut.[11]

Bahkan dalam skenario yang paling optimis sekalipun, Al Qaeda dipandang sedang bergerak menuju strategi serangan yang lebih kecil dan lebih sering, menginspirasi homegrown terrorists di Barat, dan membentuk aliansi regional dengan kelompok lokal.

Al Qaeda akan memanfaatkan memburuknya kekerasan, kemiskinan, ketidakamanan dan keruntuhan rezim untuk mendapatkan kendali negara, dan secara dramatis meningkatkan ancaman terhadap keamanan global.

Laporan tersebut menyimpulkan bahwa prospek yang paling mungkin adalah bahwa Al Qaeda perlahan tapi pasti akan mendapatkan wilayah dengan menjual kekerasan, sentimen anti-Barat, semangat berbasis agama pada penduduk yang frustrasi dan kecewa dengan kegagalan pemerintah mereka. Konflik di Suriah "berpotensi meniupkan kehidupan baru pada Al Qaeda," kata studi tersebut. Para pemuda yang kecewa dan terpinggirkan berpotensi menjadi sasaran rekrutmen baru mereka. Jumlah mereka benar-benar bisa meningkat karena mereka menjadi tidak sabar atas lambatnya reformasi menggulingkan diktator Arab, terutama di Afrika Utara dan Timur Tengah, yang memiliki populasi penduduk berusia dibawah 20 tahun cukup tinggi.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa Al Qaeda di Afrika Barat, Tanduk Afrika dan Semenanjung Sinai, akan mencoba untuk mengeksploitasi keluhan masyarakat setempat. Pertumbuhan ini akan membuat Al Qaeda lebih terdesentralisasi, karena para pemimpin baru akan muncul untuk menggantikan para senior yang tewas dalam operasi kontraterorisme. Kelompok-kelompok bersenjata baru akan berafiliasi dengan jaringan Al Qaeda tersebut.

"Bersama-sama, kekuatan-kekuatan tersebut akan menyebabkan jaringan menjadi kurang kohesif dan lebih susah diprediksi. Al Qaeda akan menjadi ‘datar, longgar tapi efisien’ yang menimbulkan ancaman yang lebih besar.”

Meskipun serangan drone dan berbagai aksi yang begitu gencar dilakukan Amerika Serikat telah menewaskan 34 figur penting Al Qaeda di Pakistan, Yaman, dan beberapa tempat lain, namun jaringan tersebut tetap berjalan. Tewasnya tokoh penting barangkali sempat mengacaukan mereka, namun gerakan tersebut tumbuh dari bawah, dengan datangnya rekrutmen baru dari wilayah yang lemah otoritas pemerintahnya, kondisi ekonomi yang buruk, dan pengaruh Islam radikal sebagaimana yang terjadi di Yaman Pusat, perbatasan Pakistan, Thailand Selatan, Wilayah utara Nigeria, dan wilayah utara Mali.

Menurut laporan tersebut, pimpinan inti Al Qaeda dianggap “telah mampu bertahan dari serangan internasional terbesar dalam sejarah organisasi teroris.”[12] Mereka mampu bertahan selama seperempat abad. Penarikan pasukan Amerika Serikat dari Afghanistan memudahkan mereka untuk beroperasi kembali di sepanjang perbatasan Pakistan, dimana pimpinan kunci mereka tinggal dan bekerja. Chaos di Suriah juga menghadirkan kesempatan baru bagi Al Qaeda untuk bergabung dalam usaha menggulingkan rezim Alawi yang didukung oleh pasukan Syiah Iran dan Hizbullah di Lebanon, yang merupakan musuh jihadis sunni Al Qaeda. Ilmuwan politik Amerika Serikat Philip Bobbit mendeskripsikan peperangan melawan para jihadis ini sebagai “long war”.

Awalnya, Arab Spring dianggap sebagai tanda kematian Al Qaeda. Masyarakat Arab dianggap berhasil melakukan perubahan dengan cara-cara yang demokratis, jauh dari jalan kekerasan yang selama ini identik dengan Al Qaeda. Namun, menurut Thomas Joscelyn, senior editor di Long War Journal, pendapat tersebut tidak benar sama sekali. “Lihatlah Suriah, yang memiliki salah satu cabang Al Qaeda paling subur di planet ini—pejuang di sana lebih banyak daripada jumlah yang bisa dimiliki oleh tempat lain dalam waktu lama. Hanya karena Al Qaeda tidak berada di belakang sebuah revolusi, bukan berarti bahwa mereka tidak cerdas dan tidak tahu cara mengambil keuntungan dari situasi tersebut,” tambahnya.[13]

Beberapa pihak di Amerika Serikat berusaha membedakan antara jihadis inti di Afghanistan-Pakistan dengan cabang mereka di berbagai negara. Menurut Joscelyn lagi, anggapan bahwa tiap cabang memiliki sejarah unik dan perkembangan tersendiri tidaklah tepat, mereka bukanlah gerakan nasionalis lokal yang tidak terhubung menjadi sebuah ancaman global. Dia menegaskan bahwa memang target utama para sekutu Al Qaeda bukanlah memberikan ancaman langsung ke Barat, namun mereka berusaha menguasai suatu wilayah. Dan hal tersebut tidak kalah mengkhawatirkan.

 

AL QAEDA 3.0

Meskipun Barat mengklaim bahwa Al Qaeda sekarang melemah, para pakar kontraterorisme memperingatkan bahwa pasukan jihad tetap sama berbahayanya dengan sebelumnya, karena mereka mengumpulkan kekuatan di seluruh dunia Islam dan mengeksploitasi pergolakan politik di Timur Tengah.

Menurut the Financial Times, “Pembunuhan Usamah bin Ladin menjadi titik batas dalam perjuangan panjang Barat melawan jihad. Dua tahun setelah kematiannya, kesulitan kembali datang, dan babak baru dalam perang melawan ekstrimis Islam sedang berlangsung...  Amerika Serikat dan Eropa memiliki hak untuk khawatir. Saat ini, ancamannya lebih tersebar secara meluas dan lebih kompleks.”[14]

Perdana Menteri Inggris, David Cameron memperingatkan, “Kita menghadapi ancaman teroris yang besar dan eksistensial dari sebuah kelompok yang tersebar di berbagai tempat di dunia, yang ingin melancarkan kerusakan sebesar mungkin pada kepentingan dan jalan hidup kita.”[15]

Nigel Inkster, mantan pejabat senior di Secret Intelligence Service Inggris mengatakan, “Ketika sebagian besar Al Qaeda bersembunyi di tanah tandus Pakistan, Amerika Serikat mempunyai kemampuan untuk berurusan dengan mereka dengan cara yang jauh lebih fokus melalui serangan drone. Namun sekarang, kita menghadapi ancaman yang jauh lebih terpisah, yang tidak satu pun negara memiliki kemampuan untuk mengatasinya."[16]

Bruce Riedel, mantan analis CIA yang sekarang bekerja di Brookings Institution, menyebut generasi baru ini sebagai Al Qaeda 3.0: "Ia adalah organisasi yang adaptif, yang telah memanfaatkan kekacauan dan gejolak perubahan revolusioner untuk menciptakan basis operasional dan benteng baru. Ia adalah musuh yang kompleks dan terdesentralisasi yang memerlukan strategi yang berbeda di setiap cabang. Tidak ada satu jawaban untuk setiap tantangan. Tidak ada 'kekalahan strategis’ Al-Qaeda yang terlihat."[17]

Riedel juga menjelaskan mengenai perubahan generasi dalam Al Qaeda, "Generasi pertama adalah generasi yang menciptakan Al Qaeda, sampai terjadinya serangan 11 September. Generasi kedua lahir sejak jatuhnya negara Taliban di Afghanistan sampai kematian Usamah bin Ladin dan kebangkitan Arab. Sedangkan generasi ketiga adalah apa yang kita hadapi sekarang. Dalam banyak cara, mereka adalah ancaman yang jauh lebih berbahaya dari sebelumnya, karena Al Qaeda—yang sebenarnya tidak menyebabkan terjadinya Arab Spring—telah mengambil keuntungan dari berbagai peristiwa tersebut. Mereka telah mengambil keuntungan dari penciptaan wilayah tak bertuan yang cukup luas di wilayah timur Libya, Mali Utara, semenanjung Sinai dan wilayah yang semakin meluas di Suriah, untuk mendirikan tempat perlindungan baru.

Jadi pada dasarnya, generasi ketiga dari Al Qaeda sekarang memiliki lebih banyak ruang untuk kegiatan operasional, pelatihan, perencanaan, dibanding Al Qaeda yang pernah kita lihat sejak jatuhnya Taliban pada tahun 2001."[18]

Di Afrika Utara, Al Qaeda di Maghrib Islam (AQIM) telah berhasil bekerjasama dengan kelompok lokal di Mali bernama Ansar Dine. Bersama-sama, mereka secara efektif berhasil mengambil kendali dua pertiga wilayah utara Mali. AQIM juga bekerja di Libya, terutama di sekitar Benghazi. Di Mesir, benteng generasi ketiga Al Qaeda berada di padang pasir Semenanjung Sinai. Mereka mulai menyerang instalasi keamanan dan pipa gas Mesir-Israel. Para jihadis di Sinai telah berbaiat kepada Zawahiri, dan Zawahiri juga telah berulang kali mendukung serangan mereka terhadap Israel.

Di Yaman, Al-Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) berhasil mengeksploitasi jatuhnya diktator Ali Abdullah Saleh untuk mengambil alih bagian terpencil di wilayah selatan dan timur negara itu. Mereka memang telah kehilangan kendali atas beberapa kota sebagai dampak dari serangan pemerintah Yaman musim panas 2012 lalu, tapi mereka kini memukul balik dengan serangan mematikan terhadap sasaran keamanan di Sanaa, Aden dan kota-kota besar lainnya. Serangan drone semakin gencar menyerang AQAP di padang pasir Yaman, yang salah satunya menewaskan Anwar Al Awlaki, tetapi kelompok ini tetap tangguh dan ulet.

Cabang Al Qaeda di Irak adalah contoh lain dari keuletan tersebut. Gelombang serangan pada tahun 2007 dianggap berhasil menghancurkan Negara Islam Irak, namun kenyataan ternyata berkata lain. Meskipun berbagai tekanan besar dan pembunuhan para pemimpin senior telah dilakukan, kelompok ini tetap mampu bertahan dan kembali pulih. Dengan mencoba menarik minoritas Sunni yang merasa ditindas oleh pemerintah Syiah Irak, Al Qaeda di Irak telah membangun kembali tempat-tempat perlindungan di beberapa daerah Sunni. Pimpinan mereka, Abu Bakar Al Baghdadi, telah menjanjikan lebih banyak serangan di Irak dan di Amerika Serikat.

Di Pakistan, para pimpinan Al Qaeda generasi lama, yang oleh para jihadis disebut sebagai Al Qaeda al Um atau "Ibu al-Qaeda" telah bangun kembali. Sejak Presiden Barack Obama menjabat sebagai presiden pada tahun 2009, hampir 300 serangan drone dilancarkan di Pakistan, yang mentargetkan operator penting al-Qaeda. Namun, mereka belum mati, dan mereka tidak sendiri. Sekutu Al-Qaeda di Pakistan, seperti Lashkar-e Tayyiba—kelompok yang menyerang Mumbai pada tahun 2008—dan Taliban Afghanistan-Pakistan, telah membantu kapal induk mereka untuk kembali pulih. Zawahiri secara rutin masih mengeluarkan pernyataan yang mendorong kaum Muslimin untuk pergi ke Suriah atau Mali.

Al Qaeda kini telah mengalihkan fokus, dari menyerang target di Amerika Serikat atau Eropa, kini mereka mencoba untuk membangun kekuasaan dan membentuk aliansi dengan kelompok Islam lokal. Menurut Bruce Hoffman, mereka kini lebih perhatian pada masalah-masalah lokal. Namun mereka memiliki cita-cita transnasional dan kemampuan internasional. “Meskipun kelompok tersebut terfokus pada masalah lokal, mereka melihat Amerika Serikat sebagai penghalang tujuan mereka. Mereka mempunyai cita-cita regional dan global. Dan menurut sejarah, jarang sekali kampanye teroris yang terbatas oleh tujuan lokal.”[19]

  

MISI MEMBANGUN NEGARA

Dua tahun setelah kematian pemimpinnya Usamah bin Ladin, organisasi ini semakin dekat dengan tujuan paling mendasar mereka, yaitu pembentukan negara Islam di seluruh dunia Islam. Al Qaeda telah lama gagal dalam hal ini: Sebelum Arab Spring, organisasi ini lebih dikenal memicu kehancuran negara Taliban di Afghanistan, yang menurut para pemimpin Al Qaeda dianggap sebagai satu-satunya daulah Islam di dunia saat itu, dan mereka juga dianggap gagal dalam menciptakan sebuah daulah Islam di Irak. Namun, dengan mengambil keuntungan dari momen kekacauan di dunia Arab dan bergabung dengan pemberontakan di wilayah Tanduk Afrika, Al Qaeda sekali lagi berusaha melancarkan upaya pembangunan negara ala mereka.

Upaya-upaya untuk mendirikan negara – biasa disebut sebagai “daulah” dalam bahasa Al Qaeda—banyak terjadi di wilayah pinggiran dunia Arab. Di Yaman, kelompok Ansar al-Sharia mengontrol beberapa kota dan bergerak bebas di wilayah selatan negara itu. Di kota-kota yang dikuasai oleh Al Qaeda, organisasi tersebut menyediakan layanan dasar dan menerapkan syariat Islam dengan sentuhan yang lebih ringan dibanding dengan yang diterapkan oleh Al Qaeda di Irak. Ditambah lagi, sayap propaganda mereka secara teratur mendistribusikan hasil wawancara dengan penduduk setempat tentang betapa hebatnya segala sesuatu yang sedang berjalan di bawah kepemimpinan mereka.

Di Somalia, kelompok militan As-Shabab, meski berangsur kehilangan wilayahnya karena serangan gencar pasukan Somalia dibantu oleh pasukan internasional, mencoba untuk mencetak poin propaganda dengan menyalurkan bantuan makanan kepada penduduk yang kelaparan.

Sebuah kelompok yang selaras dengan al Qaeda, Ansar al-Din, juga berhasil menguasai wilayah di Mali utara dengan tujuan untuk mendirikan negara Islam di sana. Para anggotanya telah mengibarkan bendera hitam Negara Islam Irak di kota Timbuktu. Berdasarkan laporan media, para anggota Ansar Al-Din cukup keras dalam memberikan hukuman atas pelanggaran hukum Islam di wilayah tersebut dibanding cara yang dilakukan oleh rekan mereka di Yaman. Namun demikian, mereka masih menyediakan layanan dasar, seperti menjaga ketertiban dan layanan medis.

Menurut Will McCants, strategi Al Qaeda ini bukan berarti mereka sudah bergeser dari mentarget musuh yang jauh, Amerika Serikat dan sekutunya, menjadi mentarget rezim lokal. Bagi Al Qaeda, menurut McCants, kedua strategi tersebut tidak eksklusif satu sama lain.[20]

Pendekatan dua gigi tersebut sesuai dengan strategi yang dikemukakan oleh Abu Bakar Naji, seorang ahli strategi Al Qaeda yang identitas aslinya belum diketahui. Buku Naji tahun 2004, Idarat at-Tawahhusy (yang versi Inggrisnya diterjemahkan menjadi Management of Savagery)[21], berpendapat akan keunggulan strategi memaksa negara-negara Barat dan sekutu lokal mereka untuk melampaui batas dalam respon mereka terhadap terorisme. Strategi ini akan menguras sumber daya mereka dan memberikan ladang subur bagi Al Qaeda untuk merekrut anggota baru dan mengumpulkan dana. Pada saat yang sama, Naji juga berpendapat bahwa para pendukung Al-Qaeda harus mengesampingkan perbedaan teologis dengan ummat Sunni mereka dan bekerja sama dengan mereka untuk menguasai wilayah yang mengalami vakum keamanan, memenangkan hati rakyat dengan memberikan pelayanan dasar, dan membangun proto-state yang dapat berhubungan satu sama lain untuk menjadi sebuah daulah dan kemudian akhirnya menjadi khilafah.

Ada bukti bahwa Zawahiri setuju atas strategi Naji tersebut. Pada tahun 2005, ketika pimpinan Al Qaeda di Irak (AQI), Abu Musab Zarqawi, melancarkan perang sektarian terhadap Syiah Irak dan membunuh warga sipil, Zawahiri saat itu mengutip saran Naji dalam sebuah surat kepada Zarqawi. Zawahiri mendesak pemimpin AQI untuk membangun pondasi dukungan politik yang luas sehingga para mujahidin siap bekerja sama dengan elit lokal untuk mendirikan sebuah daulah setelah berhasil mengusir Amerika Serikat dari Irak.[22] Zawahiri tidak mengatakan tentang menyediakan layanan dasar, meskipun ia mendesak Zarqawi untuk memenangkan hati rakyat dengan cara apa pun yang diperbolehkan oleh syariat.

Namun, para pengikut Zarqawi gagal untuk memperhatikan saran Zawahiri. Mereka dengan keras memberlakukan hukum Islam di beberapa wilayah yang mereka kuasai, mencoba untuk memaksa sekutu mereka menekuk lutut, dan mendirikan "Negara Islam Irak," yang menurut beberapa intelektual Al Qaeda tidak benar-benar menjadi sebuah negara.

Blueprint Naji sangat dikenal di daerah di mana Al Qaeda telah berhasil membangun negara. Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP) adalah pihak pertama yang mempublikasikan tulisan Abu Bakar Naji tersebut secara online. Di Somalia, buku Naji tersebut sangat populer di kalangan anggota organisasi militan. Hal ini bukan berarti bahwa Al Qaeda mengikuti game plan Naji secara membabi buta—ide memprovokasi musuh untuk melampaui batas dan menguras energi mereka dalam usaha menguasai sebuah wilayah bukanlah hal yang baru. Namun hal ini mengindikasikan bahwa Al Qaeda dan sekutunya tidak melihat kehancuran musuh dan pembangunan daulah islamiyyah sebagai sebuah proses yang linier. Mereka lebih menekankan pada kesempatan apa yang datang dan bagaimana kemampuan organisasi tersebut untuk mengeksploitasinya.

Namun, menurut McCants lagi, strategi menghasut dan menaklukkan Al Qaeda ini menyisakan dua masalah besar. Pertama adalah masalah yang dulu pernah terjadi pada Daulah Islam Afghanistan pada tahun 2001. “Bagaimana mungkin Anda mampu melindungi sebuah negara jika Anda menghasut kekuatan asing untuk menyerangnya?”, lanjut McCants. Al Qaeda membutuhkan konflik dengan kekuatan Barat untuk mendongkrak reputasi dan sumber daya mereka. Namun hal itu juga bukan sesuatu yang mudah untuk mengatasi reaksi musuh yang gencar dan tak dapat dielakkan.

Problem kedua adalah wilayah yang mampu dikuasai oleh Al Qaeda adalah wilayah di negara yang lemah dan politik kesukuan menempati posisi tertinggi. Mengendalikan wilayah dan mengatur rakyat membutuhkan keterlibatan yang lebih tinggi dalam kancah politik lokal daripada sekadar mengamankan tempat perlindungan. Hal ini membuat As-Shabab dan AQAP rentan terhadap perubahan loyalitas suku. Menanggapi hal ini, Naji mengutip sejarah Rasulullah saw, “Saat kita melihat sebuah suku yang mempunyai solidaritas yang kuat (diantara para anggotanya), sebaiknya kita tidak meminta ditinggalkannya loyalitas tersebut. Lebih baik jika kita mengubah arah solidaritas tersebut ke jalan Allah, hal ini dikarenakan mereka siap untuk berkorban demi prinsip dan kehormatan yang mereka yakini. Kita bisa memulainya dengan mencoba menyatukan para pimpinan diantara mereka dengan uang dan sejenisnya.”

Meski demikian, McCants memberikan sebuah catatan bahwa persekutuan yang dibeli juga bisa dijual kepada pihak lain. Kasus di Irak bisa dijadikan contoh dan pelajaran. Keputusan suku Sunni di Anbar untuk berhenti dari kerjasama dengan Al Qaeda membuat rencana mereka untuk membangun negara terganjal. Untuk itu, Naji menekankan bahwa good governance adalah kunci dari semua itu, dan AQAP sudah berusaha belajar dari kesalahan di Irak dengan mencoba untuk tidak terlalu keras terhadap penduduk lokal.

 

SURAT NASHIR AL WUHAISHI (AQAP) KEPADA ABU MUSH’AB ABDUL WADUD (AQIM)

Satu tahun sebelum percakapannya dengan Aiman Zawahiri disadap yang mengakibatkan ditutupnya sejumlah kedutaan besar AS di beberapa negara, pemimpin Al Qaeda di Semenanjung Arab (AQAP), Nashir Al-Wuhaishi  telah menyiapkan sebuah blue print bagaimana melakukan jihad, melalui sebuah surat yang ia kirimkan kepada pemimpin Al Qaeda di kawasan Maghribi (AQIM), Abu Mush’ab Abdul Wadud.[23] Surat tersebut ditemukan dan diterjemahkan oleh the Associated Press setelah markas AQIM di Mali Utara berhasil direbut oleh pasukan Prancis pada awal 2013 silam. Dalam surat tersebut, Al Wuhaishi menjelaskan tentang hal-hal yang berhasil dan yang tidak berhasil selama perjalanan jihad mereka di Yaman. Yang menarik dan berbeda dari yang selama ini kita ketahui, Al Wuhaishi—yang oleh Barat disebut-sebut sebagai General Manager Al Qaeda—jarang sekali menyebutkan metode ekstrimis yang selama ini telah mampu merubah AQAP sebagai cabang Al Qaeda paling berbahaya di dunia ini.

Sebaliknya, ia menyarankan kepada mujahidin di Afrika untuk memastikan bahwa wilayah yang mereka kontrol harus tersedia listrik dan aliran air. Selain itu, dia juga memberikan tips untuk mengelola sampah secara lebih efisien.

“Wahai Syaikh, umat sekarang telah lalai dari agamanya. Generasi umat saat ini hidup tanpa tahu prinsip agamanya. Mereka telah ditekan oleh kebutuhan hidup dan kerasnya kehidupan. Mereka telah dipimpin oleh orang-orang yang berusaha menjauhkan mereka dari agama mereka. Namun Allah mengirimkan Anda untuk membimbing mereka ke jalan yang benar. Anda harus berbaik hati kepada mereka dan memberikan ruangan pada kasih sayang dan kemurahan hati. Cobalah untuk merebut hati mereka dengan memberikan kehidupan yang layak dan mempedulikan kebutuhan harian mereka seperti makanan, listrik, dan air. Menyediakan kebutuhan tersebut akan memberikan pengaruh yang sangat hebat pada rakyat, dan membuat mereka bersimpati kepada kita dan merasa bahwa nasib mereka tergantung kepada kita.”

Pendekatan hati dan pikiran yang dinasihatkan oleh Wuhaishi, yang pernah menjadi sekretaris pribadi Usamah bin Ladin ini, adalah sebuah tanda pergeseran yang lebih luas di kalangan Al Qaeda. Setelah kegagalan di Irak, mereka menyadari bahwa menguasai wilayah saja tidaklah cukup, mereka harus belajar untuk  memerintah jika mereka berharap bisa mempertahankan wilayah tersebut.

Menurut Gregory Johnsen dari Princeton University, “Banyak pihak di Barat memandang Al Qaeda hanya sebagai organisasi teroris saja... namun kelompok tersebut sejatinya lebih luas daripada itu. Mereka memandang diri mereka sebagai sebuah organisasi yang bisa menjadi pemerintah.”[24]

Dalam surat tersebut Al Wuhaishi juga mengatakan kepada rekannya di AQIM untuk tidak terlalu keras dalam penerapan syariat Islam.

“Anda harus mengambil pendekatan bertahap pada mereka dalam hal praktik keagamaan. Anda tidak bisa memukul orang yang minum alkohol jika mereka saja tidak tahu bagaimana cara shalat. Pertama, kita harus menghentikan dulu dosa-dosa besar, kemudian secara bertahap bergeser ke dosa-dosa yang lebih kecil. Saat Anda mendapati seseorang melakukan sebuah dosa, kita harus menyelesaikan masalah tersebut dengan membuat panggilan yang benar, dengan pertama kali memberikan nasihat yang lembut, kemudian teguran keras, dan kemudian dengan kekuatan. Pertama kali kita harus membuat mereka bertauhid, memerangi kemusyrikan dan perdukunan, kemudian setelah itu memberikan hukuman pada dosa-dosa besar.

Menerapkan hukum Islam pada masa perang adalah sesuatu yang pernah dilakukan oleh para pendahulu kita dan ia perlu diterapkan melalui pengadilan yang baik. Saran kami pada masa awal adalah untuk menunda persoalan tersebut. Hanya jika tauhid telah tertanam dalam hati masyarakat, kita bisa mulai bisa menerapkan hukuman. Aturan syariat bukan berarti pemaksaan hukuman, sebagaimana yang diyakini oleh sebagian orang atau mereka dibuat untuk meyakininya. Kita harus mengoreksi kesalahpahaman ini demi masyarakat itu sendiri. Cobalah semaksimal mungkin untuk menghindari pemaksaan hukuman, kecuali jika Anda terpaksa melakukannya. Jarang sekali masyarakat yang terbebas dari segala hal tersebut (dosa). Kami menerapkan hal tersebut pada rakyat kami dan kami mendapatkan hasil yang baik atasnya. Bahkan jika Anda hanya mampu menerapkan cinta dan benci karena Allah, prinsip tauhid, maka hal itu tidaklah masalah. Cukup jika masyarakat bebas dari dosa-dosa besar. Sedangkan untuk dosa yang lebih kecil, mereka harus ditegur secara bertahap, dengan kesabaran, kemurahan hati dan kebijaksanaan.“

Pemerintahan Al Qaeda di Yaman bermula pada pagi hari 28 Februari 2011, ketika masyarakat di kota Jaar bangun dan menemukan bendera hitam khas Al Qaeda bekibar di setiap pojok kota. Awalnya masyarakat khawatir, namun mereka akhirnya mendapati bahwa tenyata Al Qaeda disana juga perhatian pada proyek-proyek pekerjaan umum, dibanding sekadar perang.

“Terdapat sekitar 200 orang diantara mereka. Mereka memakai pakaian Afghan, jubah hitam yang menjulur sampai ke lutut, dengan sebuah sabuk,” tutur Nabil Al-Amoudi, seorang pengacara di Jaar. “Mereka mulai memperpanjang jaringan perairan... mereka memasang pipa. Mereka berhasil membawa listrik di daerah yang sebelumnya tidak ada energi sama sekali.”

Dalam surat keduanya, Al Wuhaishi banyak menekankan tentang pentingnya media. Al Wuhaishi menyarankan kepada Abu Mush’ab Abdul Wadud, pemimpin AQIM, untuk sering melakukan komunikasi publik, memanfaatkan media untuk merubah persepsi masyarakat atas brand teror yang selama ini melekat pada Al Qaeda.

“Dunia saat ini menunggu apa yang selanjutnya akan Anda lakukan dan bagaimana cara Anda mengatur urusan negara Anda. Musuh Anda ingin melihat Anda gagal, mereka melemparkan rintangan untuk membuktikan kepada masyarakat bahwa Anda hanya pandai bertempur dan berperang, tidak mampu untuk menjalankan negara dan mengatur urusan masyarakat.

Pasukan kami mencoba tangan mereka dalam pemerintahan dan perang. Kami mendapatkan banyak pengalaman baru. Pada setiap tahap, kami mampu melakukan beberapa hal dengan baik, dan kami mendapatkan berkah dari Allah yang tak terhitung jumlahnya. Salah satu hasil yang paling penting adalah runtuhnya kerajaan media palsu, karena masyarakat mulai menyadari sejauh mana kebohongan dan rekayasa mereka. Mereka juga telah melihat sejumlah intimidasi dan ketakutan yang disebarkan oleh media tersebut.

Namun setelah itu, Barat dan Timur berkumpul melawan kami, dan memerangi kami dengan satu tangan. Pasukan kami mampu bertahan dalam pertempuran bagaikan gunung yang kokoh, dalam cara yang paling berani dan tak terlukiskan, yang kata-kata tak mampu mengungkapkannya.

Setelah empat bulan bertempur, kami terpaksa mundur. Serangan mereka begitu keras dan susah dihentikan sebelum mereka mencapai seluruh target mereka. Seluruh dunia melawan kami setelah kemenangan yang berhasil kami amankan. Masyarakat menjadi semakin familiar dengan kami, model Islam kami diterima dengan baik di wilayah yang berada dalam pengendalian kami. Karenanya, serangan begitu sengit, dan kami bertekad untuk melawannya. Serangan tersebut akan memakan waktu lama dan akan menguras kami baik dalam hal jumlah korban maupun dana. Kami bersyukur kepada Allah karena kami mampu menarik diri dengan sukses dan tepat waktu untuk mencegah usaha mereka membunuh para pimpinan kami. Pengendalian wilayah tersebut selama satu tahun telah membuat kami harus membayar dengan 500 syuhada’, 700 korban luka, 10 kasus amputasi tangan atau kaki, dan dana hampir $20 juta.

Posisi kami saat ini jauh lebih baik. Perang melawan kami dilakukan oleh semua pihak, namun kini mereka bertikai satu sama lain, yang memberikan kesempatan kepada kami untuk melancarkan perang gerilya. Kami melakukannya segera setelah kami menarik diri. Kami berhasil membunuh pimpinan operasi tersebut, dan sisanya akan mengikuti. Kami berdoa kepada Allah untuk menolong kami.

Kami bersyukur kepada Allah, sebagian besar biaya perang, jika tidak semuanya, dibayar melalui harta rampasan perang. Dimana hampir separuhnya berasal dari sandera. Penculikan sandera adalah harta rampasan yang paling mudah, yang saya deskripsikan sebagai perniagaan yang menguntungkan dan harta yang berharga.

Senjata musuh yang paling efektif adalah ‘Komite Populer’ yang terdiri dari para prajurit upahan yang hidup dengan merampas dan merampok, beberapa dari kalangan Sufi, Ikhwanul Muslimin, Sururi, dan Salafi. Mereka adalah kelompok yang digalang oleh musuh untuk menjadi tentara de facto di wilayah tersebut. Senjata kedua mereka yang paling efektif adalah media, yang menyebarkan kebohongan dan ketakutan. Kampanye media yang mereka lakukan tidak kalah dari operasi militer mereka, bahkan lebih kuat.

Mereka juga menggunakan mata-mata dan mencoba untuk menginfiltrasi mujahidin. Dengan cara ini, mereka mampu mentarget para pimpinan kami dengan menggunakan serangan drone. Karenanya, kader dan para pimpinan kita harus sangat hati-hati dalam melakukan rekrutmen baru.

Wahai Syaikh yang mulia, senjata kita yang paling penting adalah media. Anda diminta untuk menempatkan orang yang tepat, yang dapat mengekspresikan diri dengan baik dan menyampaikan pesan kita. Mereka harus mengetahui berbagai tahapan jihad, sehingga dapat menjelaskan setiap tahapan kepada orang lain. Tidak setiap pejuang dan komandan diperbolehkan untuk berbicara kepada media. Anda harus tetap menjaga setiap pesan berada di bawah kontrol, mencerminkan situasi nyata Anda, dan bukan apa yang Anda impikan. Kami membatasi pernyataan dan penampilan saudara dan pimpinan kami, hanya memperbolehkan mereka yang kami anggap cocok, dan mereka hanya diizinkan untuk berbicara sesuai dengan spesialisasi mereka masing-masing.

Segera setelah kami menguasai sebuah daerah, kami disarankan oleh Komando Umum di sini untuk tidak mendeklarasikan berdirinya sebuah negara Islam dengan sejumlah alasan: Kami tidak akan mampu melayani rakyat sebagai sebuah negara karena kami tidak akan mampu menyediakan semua kebutuhan mereka, terutama karena negara kita masih rapuh. Kedua: Takut akan kegagalan, dalam hal bahwa dunia bersekongkol melawan kita. Jika hal ini terjadi, rakyat mungkin akan mulai putus asa dan percaya bahwa jihad adalah sia-sia. Untuk alasan ini dan lainnya, kami menganggap bahwa nasihat mereka bijaksana, dan kami memutuskan untuk tidak mendeklarasikan negara. Selain itu, saudara kami di Somalia juga belum mendeklarasikan negara meskipun mereka telah mengendalikan sebagian besar wilayah negara.

Amir kami yang mulia, kami telah banyak terkuras dalam banyak pertempurandan front. Meskipun manfaatnya tidak bisa dipungkiri, mereka telah banyak menguras dana, pasukan dan senjata. Kami telah merampas senjata yang kami pikir akan cukup untuk bertahun-tahun, tapi segera setelah kami menarik diri, kami mendapati bahwa kami harus membeli senjata. Oleh karena itu, kami menyarankan Anda untuk tidak terseret ke dalam perang berkepanjangan. Berpeganglah pada basis Anda sebelumnya di pegunungan, hutan dan padang pasir dan siapkan tempat perlindungan lainnya untuk skenario terburuk. Ini adalah apa yang kita sadari setelah penarikan diri kami.”

Menanggapi surat Al Wuhaishi tersebut, mantan duta besar Amerika Serikat untuk Yaman, Stephen Seche, mengatakan bahwa “Mereka sekarang tidak lagi sekadar menyerang target Barat. Mereka juga berusaha mengembangkan diri sebagai sebuah pemerintahan alternatif.”


MENJALANKAN NEGARA

Selain surat dari Al Wuhayshi kepada Abu Mush’ab Abdul Wadud, dokumen yang oleh the Associated Press diberi judul “Al Qaeda Papers How to Run a State” tersebut juga berisi artikel yang menjelaskan tentang keuntungan dan manfaat yang didapat oleh Ansar Al-Shariah selama mengendalikan sebagian wilayah Abyan dan Shabwa dengan menerapkan syariat Islam. Artikel tersebut ditulis oleh Syaikh Adil Al-‘Abab yang diantaranya bercerita tentang cara Ansar Al-Shariah mengelola wilayah tersebut:

1.    Menghancurkan kekufuran sekularisme, demokrasi, pendapat-pendapat jahiliyyah, dan kemusyrikan.

Ansar Al-Sharia mengibarkan bendera tauhid dan menghilangkan serta memerangi sekularisme dan para pendukungnya. Bendera sekularisme telah lama dipaksakan di tengah-tengah umat, bahkan beberapa ulama memandangnya sebagai salah satu solusi dari problematika umat Islam. Namun, di saat-saat kritis, saat bukti-bukti syariat diberi kesempatan untuk masuk dalam permainan demokrasi, mereka bahkan mengklaim bahwa sekularisme tidak bertentangan dengan Islam. Jadi, mereka yang sebelumnya melarang demokrasi dan menganggapnya sebagai kekufuran, berubah menjadi memperbolehkannya. Namun Ansar Al-Shariah tidak tergiur atasnya. Yang sebenarnya terlihat bukanlah demokrasi, tapi kediktatoran. Jika umat Islam memperoleh kesuksesan di dalamnya, maka mereka akan menggulingkannya jika mereka tidak suka. Kini adalah masa-masa kritis bagi Ansar Al-Shariah untuk menghancurkan sekularisme, demokrasi, pendapat-pendapat jahiliyah, dan membuktikan tentang keadilan dan keamanan di bawah bendera tauhid di wilayah-wilayah mereka kuasai. Penerapan ini tidak hanya mempengaruhi umat Islam, namun juga para ulama di Yaman dan di luar negeri. Beberapa diantara mereka akhirnya menolak demokrasi setelah sebelumnya memperbolehkan perjuangan melaluinya. Salah satunya adalah Syaikh Awad Ba’najar, yang dalam salah satu khotbahnya di Masjid Al-Jami’ di kota Waqar mengatakan, ”Saya adalah mantan pembuat undang-undang selain Allah, berseteru dengan Hukum Allah di parlemen. Hal ini adalah sebuah kekufuran, dan saya bertobat pada Allah atas apa yang telah saya lakukan.” Setelah beliau melihat syariat diterapkan tanpa melalui permainan demokrasi, beliau menyerukan dengan kuat untuk mendukung Syariat Allah, berdiri di depan Ansar Al-Shariah. Jika sebagian besar wilayah diatur dengan Syariat Allah, maka mereka yang sebelumnya memperbolehkan sistem demokrasi akan merubah pendapatnya. Penerapan Syariat Allah akan menyadarkan mereka tentang imajinasi yang digelontorkan Amerika Serikat tersebut, untuk membuat putra-putra Islam mengikuti kotoran demokrasi, melalui fatwa-fatwa ulama mereka.

 2.    Menyebarkan tauhid dan mengajarkannya pada anak-anak Muslim.

Ansar Al-Shariah berusaha menyebarkan tauhid melalui ceramah, khotbah di masjid, pertemuan-pertemuan umum dan khusus di tengah masyarakat, poster, video, audio, dan presentasi melalui alat-alat yang modern. Pengaruh dari tauhid ini terlihat saat Amerika Serikat dan orang-orang sekuler melakukan serangan, dimana banyak pemuda-pemuda Islam di kota terjun bertempur bersama mujahidin. Banyak dari mereka yang syahid, banyak juga dari mereka yang menderita. Tidak ada yang membuat mereka keluar kecuali pemahaman yang benar tentang tauhid.

Hal inilah yang membuat Amerika Serikat khawatir, karena mereka yang mengetahui tauhid dan keimanan secara otomatis akan memerangi kemusyrikan, kekufuran, orang-orangnya dan para pendukungnya. Karena itulah Obama berungkali menyatakan kekhawatirannya atas pertumbuhan Al Qaeda di Semenanjung Arab.

 3.    Menerapkan Syariat Islam

Ansar Al-Shariah berhasil mengatur wilayah yang dikuasainya dengan Syariat Allah, satu hal yang telah lama absen dari kehidupan umat Islam. Sebelum mereka menerapkan Syariat, mereka memulainya dengan menyampaikan lebih dari 3.000 ceramah di berbagai masjid, dengan cara yang bervariasi.

 4.    Mengajarkan ilmu dan menyebarkan dakwah sesuai dengan Al Quran dan As Sunnah.

Menyebarkan ilmu dan dakwah adalah manfaat lain yang didapatkan oleh Ansar Al-Shariah. Mereka  mengadakan sesi menghafalkan Al Quran, As-Sunnah, dan mengajarkan ilmu. Banyak dari kalangan umat Islam awam yang belajar membaca Al Quran dengan benar, bahkan ada yang tidak bisa membaca Al Fatihah dengan tepat. Mereka belajar aqidah, tata cara beribadah. Banyak dari mereka yang mendapatkan manfaat dari da’wah, pekan da’wah, dan festival kebudayaan yang telah diadakan.

 5.    Mengatur administrasi wilayah sesuai dengan syariat Islam

Banyak pihak yang meragukan kemampuan mujahidin untuk mengatur wilayah yang berhasil dikuasai. Mereka menganggap bahwa mujahidin hanya tahu bahasa bom dan kerusakan, itu adalah image yang tertanam pada mujahidin. Namun keraguan tersebut mulai memudar setelah mujahidin berhasil mengatur administrasi di wilayah tersebut. Mereka berhasil mengatur lebih dari satu aspek administrasi, selain melaksanakan operasi militer yang terus berlangsung. Administrasi tersebut antara lain:

  A.   Menempatkan pejabat di setiap lokasi yang dikuasai, dimana pejabat tersebut bertanggungjawab atas urusan administrasi seluruh aspek di wilayah tersebut.

  B.    Membagi tugas administrasi sebagai berikut:

  • Mengatur keamanan wilayah dengan membentuk pos polisi.

Pos polisi ini adalah badan yang antara lain bertugas menerima keluhan dari masyarakat, mendamaikan orang-orang yang sedang konflik, dan jika masalah mereka tak terselesaikan di pos polisi, kasus tersebut akan dibawa ke pengadilan untuk diputuskan berdasarkan Al Quran dan As Sunnah.

 

. Mengatur dan memberikan keamanan wilayah dengan membentuk komite keamanan.

Mereka akan berpatroli siang malam dan mengamankan kehidupan masyarakat dan barang-barang mereka. Selain itu, dibangun juga pos keamanan di tempat  keluar masuk kota serta di jalan-jalan umum di kota Waqar sampai Shaqara, Al-Mahfid, Qarn As-Sawda, dan Azzan, yang jaraknya hampir enam jam dengan menggunakan mobil. Umat Islam merasa aman melakukan perjalanan sejauh jarak tersebut, begitu juga para pembawa barang dagangan, bus, dan transportasi publik. Banyak mobil dan truk pengangkut barang yang mengalihkan rutenya melalui wilayah-wilayah yang dikuasai oleh Ansar Al-Shariah. Mereka mencari keamanan yang hilang setelah Ansar Al-Shariah pergi.

 

  • Mengatur dakwah dan media

Ansar Al-Shariah membentuk komite dakwah yang bertanggung jawab atas dakwah masyarakat, mendidik dan mengajar mereka dengan mengaktifkan peran masjid, membuka kantor media dakwah yang bertanggung jawab mendistribusikan poster dakwah kultural dan mendistribusikan materi-materi informasi yang menjelaskan tentang tauhid dan realitas konflik antara tauhid dan kemusyrikan, iman dan kekufuran, melalui alat-alat modern, bluetooth, USB, CD, DVD, festival, proyektor, dan sarana-sarana lain.

 

  • Mengatur pekerjaan Hisbah (Amar Ma’ruf Nahi Munkar)

Ansar Al-Shariah mengatur kerja hisbah secara bertahap, mulai dari menyerukan tauhid, menegakkan shalat dan ibadah lainnya, serta membantu masyarakat untuk menegakkan shalat dengan menjaga toko mereka dan menyerukan pada mereka untuk menutup toko mereka pada waktu shalat. Bagi mereka yang tidak merespon akan diurus sesuai dengan prosedur tertentu, seperti janji dan komitmen yang membuat mereka yakin untuk menutup toko mereka selama waktu shalat. Alhamdulillah, masyarakat merespon dengan baik dan mau menutup toko mereka. Jalan-jalan mulai lengang begitu suara adzan terdengar.

Tim Hisbah bekerja untuk mendidik masyarakat, memperingatkan mereka dari hal-hal tercela dan membantu mereka untuk meninggalkannya, serta mencari alternatifnya dalam Islam, terutama dalam hal pernikahan. Masyarakat sangat bahagia atas peran Tim Hisbah dalam menyelamatkan mereka dari kekufuran, kemusyrikan, dan dosa, serta mengarahkan mereka kepada keimanan, tauhid, dan hal-hal yang halal.

 

  • Mengatur dan Mengarahkan pendidikan

Ansar Al-Shariah membentuk sebuah komite yang bertanggung jawab untuk mengarahkan pendidikan, dengan mensetting kondisi untuk menyesuaikan tingkat pendidikan, dan terutama yang paling penting adalah memastikan bahwa pengajaran tersebut tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam, guru yang mengajar harus yang paling layak dalam ilmu dan kecakapan, serta  mempraktikkan pekerjaannya. Ansar Al-Shariah juga melakukan pelatihan guru, mengajar para siswa, menyediakan tempat belajar mengajar, dan mengawasi pendistribusian tas, kertas, serta alat tulis menulis kepada para siswa. Selain itu, mereka juga membuka pusat pendidikan untuk wanita yang disebut sebagai ‘wanita melek huruf’ yang dijalankan oleh sebuah tim wanita terpadu. Komite tersebut juga berkoordinasi dengan Komite Dakwah di masjid untuk membuka sesi pengajaran Al Quran dan Tauhid. Ini merupakan tahapan pendidikan pertama yang dilakukan oleh Ansar Al-Shariah dalam sebuah kondisi yang tidak stabil. Tahap berikutnya adalah membuka pendidikan umum secara lebih luas dan gratis dengan membuka pusat-pusat dan lembaga ilmu pengetahuan, kursus medis yang profesional serta yang lainnya. Namun serangan yang tak kenal henti dari musuh menjadi hambatan tersendiri bagi jalannya program dan sistem pendidikan. Dan aksi btutal mereka tersebut dilakukan hanya karena mereka tidak ingin model Islam yang indah dalam pemerintahan, pendidikan, dan administrasi tersebut terulang kembali.

 

  • Mengatur layanan masyarakat

Ansar Al-Shariah membentuk sebuah Komite Sosial yang terutama bertanggungjawab mengenai urusan masyarakat, mengatur pasar mereka, menyediakan layanan untuk mereka secara gratis. Pekerjaan mereka termasuk juga mendistribusikan bantuan makanan. Sebagian besar anggota Komite Sosial adalah penduduk lokal yang berpengalaman dan ahli di bidang pekerjaannya.

Komite ini terdiri dari Sub Komite:

-          Komite yang bertanggungjawab untuk mengurusi proyek perairan, menyediakan air dan menyalurkannya ke rumah-rumah dengan cara mengaktifkan proyek pembangunan pondasi, memperbaiki sumur dan menjalankannya, memotivasi para pekerja, mencari solusi dari masalah perairan saat proyek dan layanan berhenti, serta mencari alternatifnya. Alternatif pertama yang diberikan saat terjadi masalah dalam aliran air adalah dengan membentuk tangki penyimpanan air dan mendistribusikannya kepada masyarakat sekitar.

Namun saat musuh kehilangan pikiran kemanusiaannya, mereka mencoba menyerang tangki-tangki air dan menaburkan racun ke dalamnya melalui sebuah roket yang mengandung bahan beracun, sebagaimana yang pernah dilakukan di Khanfar oleh pesawat udara Arab Saudi.  Namun, zat tersebut berhasil dikenali setelah bekerjasama dengan para pakar dalam Komite.

-          Komite yang mengatur penyediaan listrik dan memperbaiki kerusakan yang terjadi dengan bekerjasama dengan perusahaan listrik. Komite tersebut juga berusaha mengatasi kelicikan musuh yang berulangkali mencoba mematikan listrik. Ansar Al-Shariah juga berhasil memperluas jaringan listrik sampai ke daerah yang sama sekali belum pernah ada aliran listrik sebelumnya.

-          Komite pengaturan sampah dan kotoran yang bertanggungjawab atas kebersihan kota. Program ini merupakan sesuatu yang baru di kota tersebut, karena di masa rezim Ali Saleh belum pernah dilakukan sebelumnya. Karena rahmat Allah, program ini berhasil menghilangkan penyakit yang disebabkan oleh gunungan akumulasi sampah hingga dua tahun lebih.

 

  • Mengatur pasar

Ansar Al-Shariah membentuk komite yang mengatur pasar, mengelola lalu lintas dan taksi, secara gratis dan tanpa menarik pajak, karena pajak dalam syariat Islam adalah dilarang. Prinsip ini tidak diubah kecuali jika ada fatwa khusus tentangnya sesuai kebutuhan. Para pemilik bisnis, bahkan toko kecil sekalipun, sebelum kedatangan Ansar Al-Shariah sering dijadikan sasaran pemerasan kadang dengan dalih pajak, kadang dengan dalih kebersihan, kadang atas nama dewan lokal, atau kadang dengan menggunakan ancaman senjata.

Selain itu, Komite tersebut juga melakukan penelusuran atas barang-barang kadaluwarsa yang sebelumnya banyak tersebar di pasar-pasar Yaman. Ansar Al-Shariah berpikir juga untuk menciptakan lapangan pekerjaan bagi para penduduk kota Waqar, membantu mereka dalam pertanian dan irigasinya, membantu mengirimkan ikan ke rumah-rumah dengan harga yang lebih murah dan sesuai dengan kondisi kehidupan masyarakat.

Kedepan, Ansar Al-Shariah berencana untuk mengeksploitasi sumber daya alam, terutama emas, serta mendistribusikannya dengan baik.

 

  • Komite Pendistribusian Bahan Makanan

Komite tersusun dari para penduduk setempat yang bertanggungjawab untuk mengumpulkan bantuan dan bahan makanan, kemudian mendistribusikannya kepada masyarakat. Ansar Al-Shariah juga sering membeli bahan makanan dalam besar kemudian didistribusikan kepada penduduk lokal dan para pengungsi.

Para penduduk setempat banyak mendapat manfaat dari program amal yang dilakukan oleh Ansar Al-Shariah yang kurang lebih telah mencapai $ 3 juta (kurang lebih Rp 30 Milyar). Selain itu, terdapat juga bantuan dari lembaga kemanusiaan lain seperti Palang Merah Internasional yang diawasi secara ketat. Ansar Al-Shariah berusaha keras untuk mencari alternatif lain dari lembaga yang mencurigakan semacam itu. Salah satu alternatifnya adalah dengan mengumpulkan zakat dan sedekah melalui Baitul Mal, namun mereka merasa tidak mempunyai cukup waktu untuk mengimplementasikannya secara baik dalam skala luas. (K. Mustarom)