GOYAHNYA TATA DUNIA LIBERAL

14 February 2018

Executive Summary

Dahulu, pada tahun 1990-an, banyak orang percaya bahwa tatanan politik liberal adalah gelombang masa depan dan akan melingkupi sebagian besar dunia. Amerika Serikat dan sekutu-sekutu demokratisnya telah mengalahkan fasisme dan kemudian komunisme, dan membawa manusia menuju "akhir sejarah."

Namun kini, optimisme yang memabukkan pada tahun 1990-an berubah menjadi rasa pesimisme yang semakin meningkat—bahkan kekhawatiran—akan tatanan liberal yang ada saat ini. Kekuatan disintegrasi sedang berlangsung dan dasar-dasar dunia pascaperang sedang bergetar.

Hari ini, tatanan tersebut mendapatkan tantangan, dengan munculnya kekuatan baru yang tidak menjalankan norma-norma liberal Barat, mulai dari kelompok Islam hingga negara seperti China dan Rusia.

Banyak pakar menilai bahwa demokrasi liberal yang mengarah pada kapitalisme telah menjadi juara tatanan dunia. Mereka percaya tidak ada sistem lain yang tepat untuk saat ini kecuali demokrasi liberal. Barat banyak mengeskpor konsep negara bangsa ke seluruh dunia, bersama dengan prinsip-prinsip yang menyertainya, seperti sekularisasi dan demokrasi. Nilai-nilai Barat pun menjadi mata uang intelektual yang menjadi standar kebenaran. Tidak hanya dengan pendekatan lunak, kekerasan dan pemaksaan pun mereka lakukan, demi terpeliharanya tatanan.

Kini, revolusi melawan tatanan internasional liberal yang dibentuk pasca Perang Dunia II mulai berlangsung. Mulai dari kelompok fundamentalis Islam, kelompok etno nasionalis yang melawan Uni Eropa, hingga munculnya demokrasi illiberal di Eropa Timur.

Bagaimana semua itu bisa terjadi? Meningkatnya ketidakadilan, ketimpangan ekonomi, menurunnya kepercayaan pada demokrasi, menguatnya identitas politik dan agama diduga menjadi penyebab.

Dari semua penyebab tersebut, agama memainkan peran besar. Agama menjadi ancaman terbesar tatanan liberal saat ini. Ia memberikan sense of identity kepada pemeluknya. Mengapa orang memerlukan sense of identity? Mereka memerlukannya untuk mengetahui siapa mereka, di mana mereka berada, dan apa tujuan hidup mereka. Sense of identity tersebut lah yang selama ini gagal diberikan oleh dunia liberal hari ini. Mereka juga gagal memperhatikan kepentingan rakyat kecil dan masa depan mereka. Meaningless, begitulah kehidupan di bawah demokrasi liberal. Ada harapan keselamatan abadi yang tidak bisa diberikan oleh demoktrasi liberal. Pada akhirnya, orang membutuhkan lebih dari sekadar kesejahteraan ekonomi.

Banyak orang, dari berbagai latar belakang kelompok, merasa bahwa identitas kelompok mereka saat ini sedang diserang, diabaikan, dan bahkan dihinakan. Mereka mungkin berasal dari orang-orang yang merasakan ketidakadilan, ketimpangan ekonomi, mereka yang mendapatkan tekanan dari imigrasi, dan mereka yang merasa dikhianati oleh para penguasanya yang berselingkuh dengan pihak lain dengan keyakinan yang berbeda. Dan kini, mereka ingin melawan itu semua. (K. Mustarom)

Untuk membaca maskah lengkap laporan ini silahkan undul file pdf-nya.