AL-MAHDI, KHALIFAH YANG DIBAIAT NABI ISA

24 February 2018

Executive Summary

Manusia lebih tertarik untuk mengetahui peristiwa mendatang, termasuk akhir zaman, dibanding ketertarikan mereka akan masa lalu. Islam, melalui Al-Quran dan Sunnah Muhammad Rasulullah, telah menyingkap sedikit rahasia ‘masa depan’ itu. Islam mengabarkan bahwa menjelang akhir zaman kelak, di tengah kegagalan dan kekacauan dominasi tatanan dunia saat itu, akan muncul seorang khalifah yang akan mengatur dunia dengan keadilan. Khalifah itu akan diberi gelar Al-Mahdi.

Al-Mahdi secara bahasa berarti orang yang diberi petunjuk. Ia diberi gelar Al-Mahdi karena Allah sendirilah yang memberinya hidayah dan memperbaiki dirinya yang sebelumnya memang seorang manusia biasa. Allah akan memperbaiki dirinya untuk siap menerima amanah dan tugas berat itu hanya dalam waktu satu malam. Al-Mahdi akan menjadi seorang khalifah yang adil. Karena ia telah dikabarkan oleh Rasulullah, umat Islam selalu menantikan dan siap menyambut kemunculannya untuk menjadi pasukannya kelak. Oleh itu, ia juga disebut Al-Mahdi Al-Muntazhar (Pemimpin yang diberi petunjuk dan senantiasa dinantikan).

Nama lengkap Al-Mahdi adalah Muhammad bin Abdullah, persis sebagaimana nama Rasulullah. Al-Mahdi merupakan keturunan Rasulullah dari putri beliau, Fatimah, hasil pernikahannya dengan Ali bin Abi Thalib. Tepatnya dari keturunan Al-Hasan bin Ali bin Abi Thalib. Terpilihnya Al- Mahdi berasal dari keturunan Al-Hasan, karena Al-Hasan pada saat itu rela menyerahkan posisi kekhilafahan kepada Mu’awiyah bin Abu Sufyan demi menjaga tertumpahnya darah umat Islam, kemudian Allah pun menganugerahkan posisi tersebut kepada keturunannya.

Ciri fisik paling menonjol Al-Mahdi di antaranya yaitu memiliki dahi yang lebar dan hidung yang mancung. Tatkala itu, ciri Al-Mahdi akan semakin jelas bagi para pemuka umat Islam manakala sepasukan dari Syam yang hendak menundukkannya dibinasakan oleh Allah. Ketika itu, Al-Mahdi sedang berlindung ke tanah haram, tepatnya di Ka’bah, Masjidil Haram.

Beberapa ulama meyakini bahwa Al-Mahdi akan muncul dari sebelah Timur (Jazirah Arab). Al-Mahdi muncul di tengah berbagai peristiwa besar dan ujian berat yang menimpa umat Islam; di tengah keputusasaan, sirnanya harapan, maraknya kezaliman, pembunuhan, bencana dan fitnah terhadap agama dan umat Islam, dan di tengah merajalelanya para pemimpin durjana dan diktator menguasai umat Islam, serta di tengah kegagalan dan kekacauan dominasi sistem tatanan dunia saat itu.

Pada masa itu, orang-orang yang menginginkan kebaikan pada umat Islam yakin bahwa tidak ada jalan lain untuk keluar dari krisis tersebut kecuali dengan kemunculannya. Ketika umat Islam melihat ciri dan karakteristik yang ada pada dirinya maka mereka pun bisa mengenalinya, kemudian mereka berbaiat padanya di Ka'bah. Tatkala itu, ia dalam keadaan terpaksa menerima baiat tersebut.

Di masa kekhilafah Al-Mahdi, dunia akan dipenuhi dengan keadilan dan kemakmuran, berbeda dengan masa-masa sebelumnya yang penuh dengan kezaliman dan kejahatan. Di zamannya, harta begitu melimpah, banyak ditumbuhi tanaman dan semakin banyak hewan ternak.

Pada masanya juga, Allah menurunkan Nabi Isa, yang akan turun dari Al- Manarah Al-Baidha’ (Menara Putih) yang terletak di sebelah timur Damaskus. Nabi Isa diturunkan ke dunia pada akhir zaman sebagai seorang utusan Allah yang akan berhukum dengan syariat Nabi Muhammad dan bahkan tunduk kepada khalifah Al-Mahdi. Nabi Isa akan menjadi makmum shalat, sebagaimana umat Islam lainnya, dengan Al-Mahdi sebagai imamnya dalam suatu Shalat Shubuh berjamaah.

Nabi Isa AS turun ke dunia dengan tugas besar yaitu untuk membunuh Dajjal dan membinasakan Ya`juj dan Ma`juj. Sementara tugas terbesar diturunkannya Nabi Isa yaitu memberlakukan syariat Islam dan menumpas ajaran-ajaran sesat dan agama-agama yang diselewengkan. Oleh itu, Nabi Isa hanya akan menerima agama Islam. Untuk itu juga ia mematahkan Salib yang merupakan simbol agama Nasrani yang telah diselewengkan, membunuh babi yang diharamkan Islam, dan menghapuskan jizyah. Nabi Isa tidak mau menerima jizyah dari orang-orang Yahudi dan Nasrani, yang diterima dari mereka hanya keislaman mereka.

Singkatnya, kemunculan Al-Mahdi dapat dikatakan sebagai sebuah reformasi (tajdid) besar terhadap tatanan dan nilai dunia pada umumnya, terkhusus dalam internal umat Islam. Pada masa itulah Islam kembali berada di atas puncak peradaban umat manusia. Al-Islam ya’lu wa laa yu’la ‘alaih.

Hari ini, lebih dari satu miliar umat Islam mempercayai dan meyakini kemunculan Al-Mahdi dan menanti kedatangannya pada suatu masa kelak. Ini juga berarti, disadari atau tidak, lebih dari satu miliar umat Islam telah mempercayai hadirnya sistem kekhilafahan (tatanan dunia) Islam yang akan mendominasi tatanan dunia sekaligus menggantikan tatanan dunia sebelumnya yang terbukti tidak mampu menyejahterakan, memberi keamanan, dan memberi keadilan pada umat manusia. (A. Sadikin)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.