Strategi Belanda Menghancurkan Network Diponegoro

08 March 2018

Executive Summary

Perang Diponegoro adalah sebuah perlawanan untuk merebut kekuasaan politik di Kesultanan Yogyakarta yang direncanakan secara cermat, rahasia, dan lama, dengan tujuan membangun balad Islam yang berlandaskan Al Qur'an di tanah Jawa. Sifat agamis perang ini mengandung banyak sisi sebagai perang suci, atau perang sabil (jihad fi sabilillah).

Berkenaan dengan itu, Menteri Kelautan dan Jajahan Belanda, C.Th. Elout (menjabat 1824-1829) mengemukakan dalam suratnya kepada raja Belanda tatkala ia menolak gagasan untuk berdamai dengan Diponegoro dan mengakuinya sebagai raja yang terpisah dari Kesultanan Yogyakarta. Elout beralasan kuatnya pengaruh keagamaan dalam peperangan tersebut. Menurutnya perang itu benar-benar telah mengancam landasan kekuasaan Kristen Eropa di Jawa, karena hanya faktor agamalah yang membedakan dengan perang-perang perebutan takhta sebelumnya.

Dari sudut kemiliteran, perang Diponegoro adalah perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam perang modern. Baik metode perang terbuka (open warfare), maupun metode perang gerilya (guerrilla warfare) yang dilaksanakan melalui taktik hit and run dan penghadangan (Surpressing). Perang ini bukan merupakan sebuah tribal war atau perang suku. Tapi suatu perang modern yang memanfaatkan berbagai siasat yang saat itu belum banyak dikenal. Perang ini juga dilengkapi dengan taktik perang urat syaraf (psy-war) melalui berbagai bujukan dan tekanan-tekanan serta provokasi oleh pihak Belanda terhadap mereka yang terlibat langsung dalam pertempuran; dan kegiatan telik sandi (spionase) di mana kedua belah pihak saling memata-matai dan mencari informasi mengenai kekuatan dan kelemahan lawannya.

Dalam Babad Dipanegara versi Surakarta, disebutkan bahwa "banyak para Tumenggung (bupati), Kliwon, Penewu, Mantri, Pangeran, dan Aria, hampir setiap malam datang ke Tegalrejo dan berjanji setia dan akan mendukung Diponegoro, untuk melakukan perang sabil. Pada awal perang Diponegoro, sebanyak 15 pangeran dari 29 pangeran yang tersisa di Yogyakarta mendukung perjuangan Diponegoro. Para abdi dalem kraton dan anggota pasukan pengawal sultan juga mendukung dan bergabung dengan pasukan Diponegoro. Para Bupati saat itu tak kalah antusias menyambut seruan Diponegoro. Sebanyak 41 bupati dari total 88 bupati di wilayah Yogyakarta telah menyatakan dukungan dan kesetiaannya ikut berjuang bersama pasukan Diponegoro. Tiga orang Bupati Monconegoro timur juga memihak Diponegoro.

Para haji dan para kyai serta orang-orang yang berpengaruh di desa-desa di wilayah Yogyakarta dan surakarta juga menggunakan pengaruh mereka untuk membangkitkan dukungan mneggelorakan perang sabil di desa dan wilayah mereka masing-masing. Menurut penelitian Peter Cerey, ada 131 kyai, 22 haji, 17 syeh atau syarif, 18 pejabat keagamaan (penghulu, khatib, modin) yang mendukung perang sabil Diponegoro.

Sebagian besar rakyat Jawa dengan sukarela mendukung dan bergabung dengan pasukan sabil Diponegoro. Diantara para pendukung Diponegoro yang berasal dari daerah-daerah pedasaan, terdapat sebanyak 78 Demang (pejabat pedesaan) yang berasal dari berbagai wilayah Mataram. Diponegoro benar-benar telah berhasil menyatukan seluruh komponen dan sumberdaya masyarakat Jawa saat itu melawan musuh bersama, kafir Belanda dan Cina yang telah menyengsarakan rakyat.

Sikap tidak terang-terangan dari sebagian besar bangsawan dan kepala-kepala desa (demang dan bekel) yang berpihak kepada Diponegoro membuat tentara penjajah kebingungan karena sulit membedakan antara kawan dan lawan. Kenyataannya mayoritas masyarakat saat itu memandang tentara Belanda sebagai lawan.

Dengan dukungan perang sabil yang begitu kuat dari seluruh rakyat Jawa membuat penjajah Belanda khawatir, cemas dan kuwalahan menghadapi perlawanan. Di awal-awal perang Belanda kocar-kacir menghadapi perlawanan rakyat. Setelah tahap-tahap akhir Belanda baru mereka menemukan formula untuk mengakhiri perang.

Akhir tahun 1826 situasi mulai berbalik, pasukan Diponegoro mulai kewalahan dengan strategi baru penjajah. Strategi baru itu adalah gabungan antara strategi benteng darurat (benteng stelsel) dan pada saat yang sama melipatgandakan pasukan gerak cepat. Pada saat dimulai strategi benteng hanya ada 8 kolone pasukan gerak cepat, tetapi saat akhir perang berlipat ganda menjadi 14 kolone. Daerah operasi mereka terentang dari dari Banyumas di Sebelah Barat sampai ke Boyolali di Sebelah Timur.

Di samping strategi militer, dilakukan juga strategi politik dan psikologis serta pendekatan personal dengan menawarkan uang, jabatan, hadiah dan berbagai fasilitas menarik bagi para pemimpin dan komandan perang sabil yang mau membelot atau menyerah pada penjajah Belanda.

Sejak 1827, pimpinan operasi diambil alih oleh Jenderal de Kock, dari tangan Mayor Jenderal van Geen. Jenderal de Kock kemudian menetap di Markas Besar di Magelang. Pada tahun ini Jenderal de Kock merintis perundingan dengan tokoh-tokoh perlawanan. Oktober 1828, Belanda memulai berusaha melobi Kyai Mojo, karena Kyai Mojo memiliki prajurit 2000 - 3000 orang. Sekalipun belum membuahkan hasil, yang terpenting adalah peristiwa ini memberikan efek psikologis para pengikutnya.

Bagaimana pun bentuk operasi taktisnya, Jenderal de Kock tetap berpegang pada strategi besarnya, merebut kembali wilayah Kesultanan Yogyakarta dengan melipatgandakan pasukan gerak cepat dan sistem benteng serta melalui indirect approach dengan mengejar center of gravity atau to capture whatever they prize most pihak lawan.

Sebagai bagian dari operasi militer, de Kock juga mengutus P.P. Roorda van Eysinga, Kepala Urusan Pribumi dan seorang ahli tentang orang Jawa (Javanicusi) untuk datang ke Rembang menemui Kepala Penghulu, Notorojo untuk mengadakan tukar pikiran tentang orang Jawa. Notorojo memberikan rekomendasi atas empat hal, agar orang Jawa tidak memberontak. Menurut sejarawan Inggris, Peter Cerey, kegagalan Belanda menghancurkan perang sabil yang dilancarkan Diponegoro dengan cepat, dan berlarutnya pertempuran dalam perang Jawa disebabkan karena ketiadaan seorang penasehat strategi militer seperti Snouck Hurgronje.

Sultan Ngabdulkhamid, -nama yang dipakai Diponegoro sampai akhir hayatnya-, telah mempunyai keberanian dan tekad yang kuat untuk melawan kekuatan militer yang belum pernah terkalahkan di Jawa saat itu, berani melawan kezaliman dan hegemoni penjajah Belanda dan berusaha merubah masyarakat jahiliyah menjadi masyarakat Islami. Ia telah berusaha sekuat tenaga mencurahkan segala potensi yang ia miliki untuk mengerjakan perintah Allah dalam Al Qur’an, memuliakan agama Islam di tanah Jawa.

Ngabdulkhamid telah mengorbankan segala yang ia punya bahkan yang paling berharga yaitu diri dan nyawanya untuk menegakkan agama Islam di tanah Jawa. Allah yang akan menilai seluruh perjuangan dan pengorbanannya untuk memuliakan dan membebaskan wong Jowo dari penindasan, kezaliman dan penjajahan. Ia telah menyiapkan dengan persiapan yang matang perang sabil yang ia kobarkan. Namun Yang Maha Kuasa belum mengabulkan keinginannya, dan ia menerima dengan sabar segala ketentuan yang menimpanya. Apa yang dilakukan benar-benar telah memberi pelajaran yang sangat berharga bagi generasi penerusnya dalam menjalankan kewajibannya sebagai hamba Allah; ikhtiar (berusaha sekuat tenaga), tawakkal (menyerahkan hasilnya pada Allah) dan qonaah (menerima segala ketentuan Allah apapun hasilnya). (K. Subroto)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini, silahkan unduh file pdf-nya.