Al-Kahfi dan Dajjal: Pertarungan Iman dan Materialism

16 May 2018

EXECUTIVE SUMMARY

 Surah Al-Kahfi dan Dajal, keduanya secara sekilas tidak saling berhubungan. Tetapi Rasulullah SAW menghubungkan hal itu dalam sabdanya, “Siapa yang menemuinya (Dajal) hendaklah ia membaca awal surah Al-Kahfi.”

Secara etimologi Dajal berarti pemalsu, pendusta, dan penipu. Secara terminologi, Dajal merupakan makhluk yang dipergunakan Allah untuk menguji hamba-hamba-Nya, dan diberi-Nya beberapa kekuasaan yang luar biasa kelak menjelang hari kiamat. Kekuasaan itu terjadi atas kehendak dan izin Allah. Dajal akhirnya dibunuh oleh Nabi Isa AS, dan akhirnya Allah meneguhkan orang-orang yang beriman.

Agar orang Mukmin mengenal Dajal dan menjauhi fitnahnya, Rasulullah SAW telah banyak menginformasikan sifat dan tanda-tandanya agar orang Mukmin pada masa kemunculannya dapat mengenalinya dengan baik, mampu menghadapinya, dan tidak tertipu serta terperdaya dengan kebatilannya.

Dajal merupakan seorang “laki-laki berbadan besar, berkulit kemerahan, berambut keriting, buta sebelah, matanya seperti sebutir anggur yang menonjol”.

Tanda lainnya adalah tulisan kaf-fa’-ra’ (kafir) yang tertera di antara kedua matanya, yang dapat dibaca oleh setiap Mukmin; baik yang bisa membaca maupun yang tidak bisa membaca.

Dajal mengklaim dirinya sebagai Tuhan dan mendemonstrasikan hal-hal luar biasa yang menyebabkan fitnah terhadap manusia. Dia membawa sesuatu yang menyerupai surga dan neraka atau sesuatu yang menyerupai sungai air dan sungai api. Dajal juga memperdaya manusia dengan pertolongan setan untuk menghidupkan orang yang telah meninggal.

Selain itu, dia dapat memerintahkan langit menurunkan hujan, memerintahkan bumi menumbuhkan tanaman, memanggil hewan untuk mengikutinya, serta memerintahkan puing-puing reruntuhan untuk mengeluarkan kekayaan-kekayaannya yang terpendam. Dajal nanti bisa menghidupkan kembali orang yang telah dibunuhnya.

Meski sedemikian besar fitnah Dajal yang harus dihadapi oleh umat Islam, Allah telah memberikan beberapa resep mujarab agar terhindar dari fitnah yang sangat luar biasa tersebut. Di antaranya yaitu dengan membaca surah Al-Kahfi.

Surah Al-Kahfi termasuk surah Makkiyah (diturunkan setelah Hijrah). Unsur yang paling dominan dalam surat Al-Kahfi yaitu cerita tentang beberapa kisah. Pada bagian awalnya diceritakan tentang kisah Ashabul Kahfi, lalu diceritakan tentang kisah pemilik Jannatain (Dua Kebun). Di bagian tengahnya dibawakan kisah pertualangan Nabi Musa AS bersama hamba yang saleh.

Kemudian pada bagian akhirnya disebutkan kisah Dzulqarnain. Kisah-kisah tersebut menempati sebagian besar surat Al-Kahfi, yaitu terhimpun dalam 71 ayat dari total 110 ayat.

Tema sentral surat Al-Kahfi yang menghubungkan tema-tema kecil dan besarnya yaitu koreksi atas akidah, koreksi manhaj analisis dan berfikir, dan koreksi atas segala norma dengan menjadikan akidah sebagai barometer. Jika dikerucutkan lagi, tema utama surah Al-Kahfi adalah pergulatan antara iman dan materialisme.

Ashabul Kahfi merupakan kisah yang menawarkan keteladanan tentang iman dalam jiwa setiap Mukmin, bagaimana ia dapat menenangkannya, memengaruhinya untuk tidak tunduk kepada materialisme yang berupa perhiasan dan kenikmatan dunia. Juga mengarahkan mereka ke dalam gua ketika mereka kesulitan hidup bersama iman itu di tengah kaumnya.

Di dalamnya juga diperlihatkan bagaimana Allah menjaga jiwa-jiwa orang Mukmin ini, melindunginya dari segala fitnah dan ujian, serta meliputinya dengan rahmat dan kasih sayang. Kisah Ashabul Kahfi berakhir dengan kemenangan iman atas materialisme; kemenangan orang yang menyandarkan diri mereka kepada Allah—yang menciptakan sebab-akibat—atas orang yang hanya berpatokan pada sebab-akibat, materialisme.

Kisah Jannatain menjelaskan tentang dua contoh golongan manusia, yaitu satu golongan yang berbangga dengan perhiasan hidup duniawi, sementara yang lainnya berbangga dengan iman kepada Allah. Pemilik dua kebun merupakan perumpamaan bagi orang kaya yang dilalaikan oleh harta bendanya, dan disombongkan oleh berbagai kenikmatan. Sehingga, dia melupakan kekuatan terbesar yang menguasai kemampuan-kemampuan manusia dan kehidupan.

Dia menyangka bahwa kenikmatan yang dirasakannya sebagai suatu yang abadi dan tidak akan musnah, sehingga dia merasa tidak akan pernah dihinakan oleh kekuatan apa pun. Sedangkan temannya merupakan gambaran perumpamaan untuk orang-orang yang berbangga dengan keimanannya. Dia memandang bahwa setiap kenikmatan menunjukkan adanya Zat Pemberinya, yang mengharuskannya untuk memuji-Nya dengan bersyukur; bukan justru menentang-Nya dan tidak mensyukuri-Nya.

Kisah tentang Nabi Musa AS dan hamba yang saleh mengandung sebuah kritik terhadap pandang materialis bahwa kehidupan ini adalah hanya yang bisa dipahami oleh manusia; dan bahwa alam yang tampak inilah ilmu satu-satunya, sementara suatu yang tidak terjangkau oleh mata bukanlah suatu realita yang bisa dijadikan pegangan.

Kisah ini juga menegaskan bahwa di balik berbagai ilmu dan penemuan yang diperoleh manusia lewat panca indera mereka serta di balik kehidupan ini, banyak hal yang masih belum mereka ketahui. Persoalan yang tidak diketahui manusia jauh lebih banyak dari apa yang mereka ketahui.

Adapun kisah Dzulqarnain merupakan figur pemimpin saleh yang diberi kekuasaan di muka bumi dan diberi kemudahan dalam segala sarana sehingga berhasil menaklukkan Timur dan Barat. Tetapi, dia tidak lantas sombong, takabur, zalim, dan melampaui batas. Dia tidak mengambil keuntungan dari penaklukannya dengan mengumpulkan harta rampasan dan mengekspolarasi individu, masyarakat dan negeri.

Dia tidak memperlakukan negeri yang ditaklukkan sebagai jajahan dan perbudakan, dan tidak juga menghina martabat penduduknya demi ambisi dan nafsunya. Justru dia selalu menyebarkan keadilan dalam setiap tempat yang didudukinya; membantu masyarakat terbelakang; membebaskan mereka dari segala ancaman tanpa imbalan; memperdayakan segala kekuatan yang dianugerahkan Allah untuk pembangunan dan perbaikan serta pertahanan dari ancaman permusuhan dan merealisasikan kebenaran. Kemudian dia menyerahkan kepada Allah segala karya yang diwujudkannya.

Dia sama sekali tidak lupa diri dan lalai bahwa kekuatan dan kedigdayaan Allah di atas kekuatannya, dan dia yakin sekali bahwa dia pasti kembali kepada-Nya.

Surah Al-Kahfi turun sebagai anti-thesis dari materialisme. Keempat kisah yang disajikan di dalamnya menghasung satu tema, kritik terhadap materialisme sekaligus mematahkannya.

Oleh karena itu, surah Al-Kahfi dapat dikatakan merupakan kisah pertarungan (shira’) antara dua pandangan, ideologi, dan konsep yang secara diametri saling bertentangan antara satu dengan lainnya. Yaitu kepercayaan pada materialisme dan turunannya pada satu sisi, dengan keimananan kepada Allah dan kepada yang gaib pada sisi yang lain. (A. Sadikin)


Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.