Melucuti Keprajuritan Orang Jawa

31 May 2018

Executive Summary

Orang Jawa termasuk bangsa atau suku yang terkenal dalam keterampilan perangnya di seluruh Nusantara sejak dahulu kala. Jawa yang terus bergolak sejak abad ke 6 M dalam konflik politik, perang perluasan pengaruh, perang pertahanan wilayah dan konfrontasi dengan Belanda, membuktikan kuatnya jiwa keprajuritan (kemiliteran) orang-orang Jawa.

Prajurit Demak yang terdiri dari prajurit tetap dan prajurit sukarelawan (milisi wajib militer) terkenal dengan keberaniannya dan keberhasilannya dalam berbagai peperangan. Masa sebelumnya, masa Majapahit di masa puncak kejayaannya juga dikenal memiliki militer yang kuat dan tangguh.

Prajurit Demak dan Majapahit berhasil menyatukan Jawa dengan tekanan militer dan peperangan. Angkatan laut Demak dan Jepara juga sangat diperhitungkan di kawasan ini saat itu, yang mana Demak dan Jepara beberapa kali mengerahkan ribuan tentaranya dengan puluhan kapal untuk menghancurkan penjajah Portugis yang menganeksasi kesultanan dan pelabuhan Islam Malaka. Menurut para ahli sejarah, Malaka saat itu menjadi pelabuhan dan pusat perdagangan rempah-rempah terbesar di Asia Tenggara.

Orang Jawa juga membuktikan kedigdayaannya pada masa kejayaan Mataram di bawah kepemimpinan Sultan Agung. Sultan Agung saat itu berhasil membentuk kekuatan militer terkuat dan terbesar di Jawa. Hampir seluruh Jawa dapat dikuasainya, bahkan sebagian Kalimantan dan Sumatera menjadi bagian dari wilayah kekuasaannya. Menurut sumber Belanda, saat meninggal, jumlah tentara warisan Sultan Agung begitu besar, yaitu hampir 900.000 termasuk 115.000 orang bersenjata senapan, belum terhitung armada lautnya.

Sepeninggal Sultan Agung, kedigdayaan dan kewibawaan orang Jawa khususnya prajuritnya mulai merosot. Amangkurat I tidak mewarisi idiologi, keyakinan dan jiwa kemiliteran ayahnya. Ia bahkan mulai bekerjasama dan minta bantuan pada penjajah Belanda, musuh bebuyutan ayahnya. Kebijakan politiknya tersebut memicu perpecahan dan pemberontakan yang semakin membuat Mataram lemah dan terpuruk dalam jebakan penjajah Belanda.

Pada masa-masa berikutnya semakin dalam terperosok dalam kendali Belanda, hal yang membuat banyak orang Jawa tidak suka dan menimbulkan saling permusuhan diantara orang Jawa sendiri. Rakyat menanti-nanti munculnya seorang kesatria yang bisa memimpin orang Jawa untuk bangkit dari keterpurukan. Munculnya Surapati yang gagah berani melawan penjajah Belanda seakan menjadi obat yang selama ini dinanti-nantikan.

Kemenangan Surapati atas Kompeni disambut hangat oleh rakyat Mataram dan dianggap sebagai kemenangan tentara Jawa. Obsesi bangsa Jawa atas tentaranya sedikit terobati dan kepercayaan diri mulai bangkit kembali.

Namun kebangkitan kepercayaan diri itu tidak berhasil mengembalikan kewibawaan dan kharisma keprajuritan Jawa. Hal itu terjadi karena kekuatan Jawa kembali terpecah dengan konflik politik dan saling bunuh karena perang takhta. Konflik tersebut secara tidak langsung kembali menguntungkan penjajah karena dijadikan pintu masuk untuk terlibat dengan alasan membantu menyelesaikan konflik.

Hasilnya Mataram pecah menjadi dua dan bertambah besarnya pengaruh Kompeni atas kerajaan, yang berarti juga makin kuatnya cengkeraman penjajah membuat kebencian terhadap kekuasaan asing makin meluas. Di saat-saat demikian, maka obsesi terhadap ksatria Jawapun muncul kembali.

Harapan rakyat Jawa kali ini terpenuhi ketika Pangeran Mangkubumi dan Raden Mas Said (Pangeran Sambernyawa) mengangkat senjata berontak melawan penjajah. Secara politis, kemenangan Mangkubumi dan Raden Mas Said sangat merugikan Mataram karena kerajaan terpecah menjadi tiga bagian akibat Perjanjian Giyanti (1755) dan Perjanjian Salatiga (1757). Namun dari segi militer kemenangan itu begitu besar nilainya. Citra prajurit Jawa yang nyaris tenggelam dan kehilangan identitas, bangkit kembali. Kepercayaan dan kebanggaan bangsa Jawa pada tentaranya pulih kembali.

Masa-masa seusai peperangan Mangkubumi dan Sambernyawa (tahun 1755 dan 1757) hingga menjelang pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830), tanah Jawa mengalami “masa damai yang panjang”. Situasi yang berlangsung hampir tiga perempat abad ini membuat pandangan masyarakat terhadap masalah kemiliteran berubah. Peran kaum militer menyurut dan masyarakat beralih ke ide dan sikap hidup kepriyayian.

Setelah hampir tiga perempat abad dunia keprajuritan Jawa terlena, tiba-tiba pada tahun 1825 tanah Jawa kembali diguncang peristiwa besar dengan pecahnya Perang Diponegoro (1825-1830). Perang ini dapat dianggap sebagai fase terakhir keterlibatan tentara Jawa dalam perang besar, walaupun sebenarnya hanya sedikit tentara keraton yang terlibat di dalamnya.

Sebaliknya hampir semua elemen masyarakat Jawa terlibat dalam perang tersebut secara langsung maupun tidak langsung. Maka perang Jawa sering disebut sebagai perang antara Belanda melawan seluruh masyarakat Jawa. Belanda kalang kabut dan kuwalahan menghadapi perlawanan ini selama 5 tahun dan hampir saja meruntuhkan kekuasaan Belanda di Jawa walaupun akhirnya dengan tipu muslihat perlawanan dapat di atasi oleh penjajah.

Seusai Perang Diponegoro, terjadilah perubahan besar dunia keprajuritan Jawa. Ketakutan, kekuatiran dan fobia terhadap munculnya jiwa keprajuritan bangsa Jawa membuat pemerintah penjajah Hindia Belanda mengeluarkan strategi baru. Untuk melemahkan kekuatan Jawa, selain diadakan Tanam Paksa, maka pasukan kraton didemobilisasikan.

Bangsawan Kraton dipisahkan dari rakyat dengan cara menghapus tanah lungguh bagi para bangsawan dan pejabat kraton, juga perampasan tanah-tanah mancanegara. Dengan dihapusnya tanah lungguh, berarti para bangsawan tidak lagi memiliki basis masa di pedesaan. Akibat lebih jauh tradisi dan potensi militer kerajaan menjadi lumpuh. Semangat, kemampuan dan ketrampilan prajurit terus merosot. Terlebih lagi dengan dihapusnya tradisi Watangan atau Seton (tradisi latihan perang setiap hari Sabtu) pada masa pemerintahan Pakubuwono VII (18301858) di Surakarta. (K.Subroto)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.