TALIBAN SEBAGAI PEMERINTAHAN ISLAM: Kebangkitan Emirat Islam Afghanistan Setelah Tujuh Belas Tahun Invasi AS

17 August 2018

EXECUTIVE SUMMARY

Tulisan ini lebih fokus kepada pengalaman setelah dekade kedua Taliban (>2014) untuk menunjukkan apa peran Taliban dan kemungkinan pencapaiannya dalam satu dekade berikutnya (2024). Laporan internasional menggambarkan kemampuan Taliban dalam menyelenggarakan “sistem pemerintahan paralel yang canggih”, dengan komisi untuk setiap bidang layanan, seperti kesehatan, peradilan dan keuangan. Kelompok tersebut mampu beroperasi di berbagai distrik yang sepenuhnya atau sebagian dikendalikannya.

Dalam perkembangan terkini, rakyat Afghanistan tampak memberikan dukungan kepada Taliban, dan percaya terhadap kekuatan perjuangan Islam dan pembelaan terhadap tanah air yang diusung. Taliban menetapkan aturan “luas” di wilayah Afghanistan dan jauh lebih peduli dengan kepentingan rakyat. Bergeser dari keterpaksaan menjadi “kesadaran” atas rakyat Afghanistan melalui layanan dan kegiatan negara, sering menjadi bagian dari “tatanan sosial” lokal, dan ia memandang dirinya sebagai pemerintahan negara, bukan hanya untuk berpartisipasi dalam kehidupan politik ketika konflik berakhir.

Pasukan Amerika Serikat tidak bisa berbuat banyak di bumi para pejuang bersorban tersebut. Kini AS dan sekutunya dihadapkan kepada pilihan untuk mematahkan perlawanan dengan memusnahkan seluruh negara dengan kekerasan yang tidak pandang bulu dan kuat. Dalam perang terpanjang dalam sejarah Amerika, data dan fakta di lapangan mengisyaratkan bahwa militer AS telah gagal memenangkan Afghanistan—seperti halnya Imperium Inggris yang kuat melakukannya tiga kali di abad ke-19 dan awal abad ke-20 dan negara adikuasa Soviet baru-baru ini pada tahun 1980-an. Sekali lagi, kekuatan luar gagal menang di Afghanistan sejak Cyrus dari Persia melakukannya pada zaman kuno.

Ada banyak faktor yang menyebabkan Amerika Serikat gagal menang dan mampu bertahan. Laporan internasional memperingatkan bahwa tanpa kontribusi donor, pemerintah Afghanistan tidak akan dapat memenuhi sebagian besar pengeluaran operasi atau perkembangannya. Laporan internasional juga menyebutkan, AS tidak memiliki strategi antikorupsi yang komprehensif. Lebih lanjut, militer AS akan mengalami kesulitan untuk menjual kebijakan bangkrut moral semacam itu, yang berarti "menghancurkan sebuah negara untuk menyelamatkannya," di sebuah republik.

Sebaliknya, ada banyak faktor yang menunjang kemampuan Taliban untuk bertahan dan berkembang. Ketika Taliban mampu menjalankan fungsi pemerintahan bayangan dan pelayanan publik, kekuatan militernya dalam kondisi tidak melemah, justru meningkat tiga kali lipat. Hal ini dibuktikan lewat statistik serangan reguler dan operasi khusus.

Taliban juga memiliki kemampuan dalam memainkan diplomasi internasional. Kelompok tersebut mampu mempertahankan posisi tawar di dalam negeri. Kelompok tersebut mendapat dukungan langsung dari kelompok-kelompok di luar Afghanistan, seperti TTP dan kelompok jihadi Asia Tengah (Uzbekistan, Xinjiang).

Taliban memiliki kemampuan dalam menyelenggarakan pelayanan publik terbatas, seperti arbitrase penyelesaian sengketa masyarakat. Misalnya pula, ketika Taliban mempersilakan lembaga Internasional untuk melakukan pelayanan kesehatan, di antaranya vaksinasi. Selain itu, Taliban mampu mengontrol perdagangan opium sebagai penggerak ekonomi masyarakat Afghanistan. Kemampuan terkini di dalam menggunakan teknologi yang menunjang strategi informasi ke dalam maupun ke luar. (F.Irawan)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.