PERILAKU SETAN YANG MENYESATKAN MANUSIA

30 August 2018

Executive Summary

Kejahatan (syarr) -lawan dari kebaikan (khair) dan sebagai tindakan yang dilakukan oleh manusia- masuk dalam diskusi ketika membicarakan perbuatan manusia secara individu dan kolektif. Kejahatan sering dipersonifikasi oleh Al-Quran sebagai iblis atau setan. Al-Quran menggambarkan setan sebagai sosok yang mendurhakai perintah Allah, lebih sebagai musuh manusia daripada sebagai musuh Allah.

Ide paling menonjol dari Al-Quran menyangkut setan adalah bahwa semua perbuatan setan meliputi seluruh wilayah menusia sehingga manusia harus selalu waspada dan hati-hati. Begitu lengah, manusia dapat masuk ke dalam perangkap setan. Tipu daya setan sendiri sebetulnya tidaklah kuat. Hanya kelemahan, karapuhan moral, dan kelengahan manusia yang membuat setan tampak sangat kuat.

Iblis dan setan tampaknya lebih berwatak licik dan licin daripada kuat; lebih menipu dan bersekongkol daripada menantang secara terbuka; lebih menghasut, curang dan “menghadang” daripada berperang berhadap-hadapan. Inilah mengapa setan membela diri di Hari Perhitungan kepada mereka yang menuduhnya menipu. Oleh itu, muncullah keyakinan kuat Al-Quran bahwa keburukan dan kejahatan pasti bisa dikalahkan oleh kebenaran dan kebaikan.

Lantaran setan menggunakan tipu daya yang licik dan melepaskan diri dari tanggung jawab -karena usaha setan yang putus asa tersebut bersifat kontra-produktif- manusia sering diseru oleh Al-Quran untuk tidak “mengikuti langkah-langkah setan”. Ide bahwa manusia bisa betul-betul mengikuti “langkah-langkah” setan memiliki dua aspek.

Pertama, setan tidak pernah memaksa, dan memang tidak akan pernah bisa memaksa, siapa pun untuk berbuat kejahatan, tetapi ia berusaha mengajak atau menggoda manusia sebagai sasarannya. Kedua, “langkah-langkah setan” ini membawa kehancuran bagi korbannya. Sungguh penting bagi manusia untuk mengenali langkah-langkah setan; jika tidak, amatlah sulit, jika bukan mustahil, bagi manusia untuk menyelamatkan diri dari bencana.

Dalam menyesatkan manusia, ada enam tahapan yang dilakukan setan: (1) mengajak pada kekafiran, kesyirikan, serta memusuhi Allah dan Rasul-Nya; (2) mengajak melakukan bid’ah; (3) mengaajak mengerjakan dosa besar (al-kabair); (4) mengajak mengerjakan dosa kecil (ash-shaghair); (5) menyibukkan pada perkara mubah; (6) menyibukkan dalam amalan yang kurang afdhal, padahal ada amalan yang lebih afdhal.

Efek dosa yang dilakukan manusia dapat berdampak baik pada individu pelakunya maupun pada komunistas di wilayah tersebut jika mereka tidak berusaha mencegah dan mengingatkan pelakunya. Efek dosa terhadap individu di antaranya yaitu: terhalangi dari ilmu, memperpendek umur, dapat memancing dosa yang lain, melumpuhkan keinginan berbuat baik, dan sejenisnya. Adapun efek dosa terhadap komunitas yaitu dapat menimbulkan kerusakan di bumi dan berbagai bencana.

Meski manusia memang tidak mungkin terbebas dari kesalahan (dosa-dosa kecil), yang berarti pada suatu kesempatan manusia juga terbujuk oleh godaan setan sehingga melakukan dosa, namun manusia bisa menjauhi seluruh dosa-dosa besar. Tetapi, dalam Islam, pintu tobat senantiasa terbuka bagi mereka yang melakukan dosa. Menariknya, dalam pandangan Islam, bukan persoalan dosa besar atau dosa kecilkah yang dilakukan manusia, namun persoalan mendasar adalah kepada siapa manusia sebenarnya melakukan dosa tersebut, yaitu kepada Allah, Rabb semesta alam. (A. Sadikin)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.