EKSPEDISI JIHAD DEMAK MELAWAN PORTUGIS DI MALAKA: Wajah Muslim Jawa

29 September 2018

Executive Summary

Di antara Kesultanan Islam, Kesultanan Demaklah yang paling gigih dan terus-menerus memerangi penjajah Portugis. Hal itu diakui oleh laporan Portugis sendiri. Selama Portugis menduduki Malaka Demak beberapa kali mengirim tentaranya, berjihad melawan kekuatan superpower dunia saat itu, Portugis di Malaka.

Kedatangan orang-orang Portugis ke Malaka awalnya diterima dengan baik oleh penguasa Malaka pada saat itu, yakni sultan Mahmud Syah. Namun sang tamu yang dimuliakan tersebut justru memerangi dan merebut semua yang dimiliki tuan rumah yang menyambutnya. Demikianlah sikap penjajah Katolik Eropa ini, hal yang sama terjadi di kesultanan Ternate. Saat pertama kali datang di Maluku disambut dengan baik oleh sultan Ternate dan diperlakukan sebagai tamu dan mitra dagang, namun ketika tuan rumah lengah menikam dari belakang.

Pada tahun 1511 M, Malaka diinvasi dan berhasil dikuasai oleh Portugis dibawah jendral Albuquerque. Ekspansi Portugis juga tidak terlepas dari misi untuk memburu orang-orang Moor (Islam), setelah khilafah Bani Umayah di Spanyol runtuh dan berakhir dengan jatuhnya kota muslim Granada pada tahun 1492 ke tangan pasukan Spanyol. Seperti diungkapkan G.R. Elton, Raja Manuel dari Portugis mempunyai dua agenda dalam ekspansinya di kawasan Asia Timur. Pertama, motif ekonomi, menginginkan harta kekayaan yang mengalir dari Asia ke Eropa, dan kedua, ideologi agama (katholik), mencari dan menyerang orang-orang muslim yang umumnya ada di kawasan Timur, lawan mereka pada perang salib yang berlangsung sebelumnya.

Portugis yang begitu kuat, menebarkan "teror" di Samudera Hindia. Satu-satunya kekuatan yang sanggup menghadapinya adalah Kekhilafahan Utsmaniyah (mereka terlibat nyaris di semua pertempuran melawan Portugis pada abad ke16). Dengan keunggulan kapal dan persenjataan Portugis telah menjadi kekuatan superpower dunia saat itu yang hampir tak ada tandingannya.

Sedangkan Turki Utsmani yang menjadi musuh utamanya saat itu mempunyai kelebihan dalam hal jumlah personel militer namun seiring waktu kalah dalam hal senjata dan perkapalan. Utsmaniyah mampu melakukan pengepungan terhadap Portugis dalam berbagai kesempatan selama abad ke-16. Misalnya, jumlah pasukan Utsmaniyah yang mengepung Mazagão (1562) di Maroko sangat banyak: 100.000 prajurit yang didukung oleh 50.000 kavaleri.

Portugis semakin tak tertandingi dengan semakin melemahnya kekhilafahan Turki Utsmani. Salah satu penyebabnya karena kemunduran ekonomi dialami Turki (hal yang sengaja diusahakan oleh Portugis untuk menghancurkan ekonomi Utsmani). Sejarawan India P. Malekandathil mengatakan "Upaya Portugis untuk memonopoli perdagangan di Timur dengan menyalurkan komoditas ke Eropa melalui rute Cape dimulai dengan menghantam Utsmaniyah serta mengurangi aliran kekayaan ke Utsmaniyah.

Sejak berhasil merebut Goa (India) pada 1498, Portugis mulai menghadang kapal-kapal Turki dan armada Arab dari perairan antara Goa dan Madagaskar. Penaklukan Goa oleh Portugis telah membuka pintu baginya menuju Malaka, kemudian ke kepulauan rempah-rempah Maluku.

Pada perempat terakhir abad ke-15, setelah menguasai Mesir, armada perdagangan Turki dan pedagang-pedagang Muslim Arab serta Gujarat bersama para pedagang Melayu, Cina dan Asia Tenggara mulai melayari kepulauan rempah-rempah. Mereka secara bersama-sama berhasil mengembangkan Pelabuhan Malaka menjadi menjadi bandar transit bagi perdagangan rempah-rempah di Asia Tenggara. Pala dan fili dari Banda, cengkih dan kayu manis dari Maluku, lada dari Banten dan Sumatera, serta rempah-rempah lain dari Kalimantan dan beras dari Jawa, sutera dan porselen dari Cina, hasil-hasil tekstil dari India, Jepang, serta lainnya, cukup tersedia di Bandar Malaka.

Selat Malaka begitu ramai dengan banyaknya kapal-kapal yang berlayar. Selat Malaka merupakan jalur pelayaran dan perdagangan yang menghubungkan Eropa dan Asia Tengah ke kawasan Cina dan Asia Tenggara. Malaka juga merupakan kota dagang yang ramai disinggahi kapal-kapal asing yang mencari barang dagangan untuk dijual ke Eropa.

Penguasaan Portugis atas Malaka membuat kekacauan sistem perdagangan di Asia, karena tidak adanya pelabuhan sebagai pusat untuk melakukan transaksi kekayaan yang ada di Asia, selain itu menimbulkan tidak adanya negara Malayu yang menjaga ketertiban di Selat Malaka serta keamanan untuk jalur perdagangan.

Agresi portugis dan monopoli perdagangan yang dilakukannya di Malaka menimbulkan kebencian dan menyulut api kemarahan para saudagar Islam. Para saudagar Islam tidak mau lagi melakukan perdagangan ke Malaka. Jalur perdagangan diganti atau dialihkan ke pantai pesisir utara Jawa, mencakup Madura, Ampel Denta (Surabaya), Gresik, Tuban, Jepara Demak, Cirebon, Sunda Kelapa, Banten, Palembang, Aceh dan Pasai. Hikmahnya dakwah Islam semakin menyebar di seluruh kawasan pesisir Asia Tenggara.

Keberadaan Portugis di Malaka sangat menggangu aktifitas perdagangan dan pelayaran pedagang-pedagang Islam, termasuk Demak, lebih-lebih karena ekspansi Portugis selain didorong oleh motif ekonomi komersial juga didorong oleh misi agama yaitu meneruskan Perang Salib melawan orang-orang Islam.

Penguasaan Portugis atas Selat Malaka yang kemudian memonopoli perdagangan dan menyebarkan agama Kristen menyebabkan kepentingan banyak Kesultanan Islam terganggu, termasuk Kesultanan Demak, yang menjadi kekuatan dominan yang menguasai Jawa saat itu. Setelah mendapat mandat dari ayahnya, yakni Sultan Fatah, dalam waktu setahun Pati Unus mempersiapkan armadaarmadanya untuk diberangkatkan ke Malaka untuk mengusir penjajah Portugis.

Monopoli Portugis sebenarnya tidak didukung modal yang besar, tetapi dibangun dengan intrik-intrik politik dan kekuatan Militer. Intrik politik yang dilakukan bahkan kadang terlalu kasar dan kotor. Portugis memainkan intrik-intrik politik dengan membodohi dan menipu para sultan dan pemimpin lokal di daerah-daerah yang di kuasai. Dengan monopoli, Portugis bisa membeli barang dagangan dengan harga murah, bahkan kadang diambil paksa dan tidak dibayar sama sekali.

Perlawanan Pati Unus terhadap Portugis yang pertama ini dilakukan sebelum ia menjadi Sultan di Demak, melainkan ketika ia masih menjabat sebagai Adipati di Jepara. Karena Pati Unus tidak menetap di Demak, melainkan di Jepara, maka Tome Pires mengira Adipati Unus bukanlah Putra Mahkota atau bukan anak kandung dari Sultan Fattah.

Tome Pires juga memujinya sebagai Raja Jawa yang paling terkenal karena kekuatanya dan pergaulannya yang baik dengan rakyatnya. Bahkan Tome Pires menyebut Pati Unus hampir sebesar Raja Demak, sekalipun Jepara berada di bawah Demak, yang mempunyai lebih banyak penduduk.

Pada abad XVI Demak merupakan kerajaan Islam terkuat di pulau Jawa dan memegang hegemoni di antara kota-kota pantai Utara Jawa. Pengaruh politik kerajaan Demak dalam hubungan dengan berbagai bangsa sangat besar. Kerajaan Demak merupakan juru bicara di kawasan Asia Tenggara yang sangat disegani. Sebagai Negara Adidaya di kawasan Asia Tenggara Demak menempatkan duta besar kerajaannya di berbagai Negara seperti Johor, Pasai, Gujarat, Turki, Parsi, Arab dan Mesir.

Sebagai bentuk kepedulian antar kerajaan Islam, Sultan Fattah memerintahkan Adipati Unus untuk memerangi Portugis dengan membawa 100 kapal Jung dengan mengangkut pasukan perang sebanyak 12.000 tentara. Dalam upaya melakukan penyerangan ini Adipati Yunus ditunjuk sebagai panglima perang, Pati Unus membawahi armada gabungan dari Jawa (Demak, Cirebon dan Banten), selain itu juga pasukan tambahan dari Palembang.

Penggalangan pun berhasil dilakukan. Palembang, Jepara, Cirebon, dan Johor bersedia membantu Pati Unus untuk menyerang Malaka. Puluhan telik sandi (intelijen) juga dikirim ke Malaka yang kemudian dapat memobilisir pedagang-pedagang Jawa di sana. Pada Januari 1513 M Pati Unus mencoba memberikan kejutan berupa serangan dadakan kepada orang-orang Portugis di perairan kerajaan Islam Malaka. Pati Unus membawa 5000 pasukan kemudian ditambah pasukan bantuan dari Palembang hingga jumlahnya menjadi kurang lebih 12.000 pasukan.

Namun sayang, seluruh strategi Pati Unus dapat diketahui dengan jelas oleh Portugis. Seorang Tome Pires, yang awalnya merupakan juru catat Alfonso d’Albuquerque menjelma menjadi intelijen yang tangguh dan menguasai seluruh data musuh. Serangan pertama berhasil dihadang musuh. Serangan kedua Demak terjadi pada tahun 1521. Serangan kedua ini juga dipinpin Adipati Unus yang telah menjadi Sultan Demak. Namun serangan kedua ini juga berhasil ditangkis penjajah Portugis. Bahkan sang Sultan dan panglima perang, Adipati Yunus gugur di medan juang melawan penjajah Portugis.

Ratu Kalimanyat dari Jepara juga meneruskan perjuangan pendahulunya, memimpin pasukan Islam guna menghancurkan kedudukan Portugis di Malaka. Selama memimpin Jepara, yang kala itu merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Kesultanan Demak, setidaknya dua kali Ratu Kalinyamat mengirimkan pasukan dan armada tempur dalam jumlah besar ke Malaka untuk mengusir Portugis. Yang pertama adalah bala bantuan untuk Kesultanan Johor, dan yang kedua atas permohonan Sultan Aceh Darussalam.

Saat itu posisi Portugis di Asia Tenggara mulai melemah karena serangan dari beberapa kerajaan Islam terhadap kekuatan Portugis di Malaka dan Maluku. Portugis di Malaka menghadapi serangan dari Kerajaan Johor, Aceh dan Jepara (Ratu Kalinyamat). Pada tahun 1550 Ratu Kalinyamat mengirim 4.000 tentara Jepara dalam 40 buah kapal memenuhi permintaan Sultan Johor untuk membebaskan Malaka dari kekuasaan bangsa Eropa. Pasukan Jepara itu kemudian bergabung dengan pasukan Persekutuan Melayu hingga mencapai 200 kapal perang.

Pada tahun 1573, Sultan Aceh juga meminta bantuan Ratu Kalinyamat untuk menyerang Malaka kembali. Ratu mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara. Kesultanan Ternate juga membantu Aceh dan Demak menyerang Portugis di Malaka. Armada tempur Ternate cukup besar, salah satunya berkat bantuan persenjataan dari Turki Usmani. (K.Subroto)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.