MEMBAJAK ISLAM, MENJINAKKAN MUSLIM

13 December 2018

EXECUTIVE SUMMARY

“Singkatnya, kita harus memecah belah Islam… melemahkan Islam, membuatnya gelisah, mematikannya, dan menjadikannya tidak mampu bangkit selamanya.”

 —Bernard Carra de Vaux, Orientalis Prancis—

 Pada tahun 1901, Edmond Fazy, editor majalah kolonial Prancis, Questions diplomatiques et coloniales, bertanya kepada sejumlah orientalis dan pejabat kolonial Eropa tentang masa depan Islam di abad berikutnya. Interview tersebut mengungkapkan banyak hal tentang pola pikir di Eropa waktu itu, dan juga bagaimana mereka berpikir tentang Islam hari ini.

Para orientalis yang menjawab pertanyaan Fazy tentang masa depan Islam diantaranya adalah Ignac Goldziher dari Hungaria, orientalis Jerman Martin Hartmann, dan Edmond Douttée, seorang Prancis keturunan Arab. Dalam pernyataannya, masing-masing dari mereka menegaskan premis dasar Orientalisme klasik dan desain kolonial Eropa abad ke-19, bahwa Islam adalah tradisi yang sudah mati, peradaban yang membusuk dan dunia politik-budaya yang kacau yang membutuhkan “misi peradaban” melalui intervensi Barat secara langsung.

Di antara mereka yang menjawab, Bernard Carra de Vaux, seorang sarjana filsafat Islam dari Perancis, menyajikan analisisnya secara hitam-putih. Prediksi Carra de Vaux disajikan dengan perspektif kolonialis. Ia mengusulkan cara untuk menggagalkan potensi ancaman pan-Islamisme, yang didukung oleh Sultan Abdülhamid II dan sejumlah ulama pada saat itu, untuk melawan dominasi Eropa. Carra de Vaux mengakui bahwa Islam dapat direkonsiliasikan dengan nilai-nilai demokrasi dan liberalisme Eropa Barat. Dia berpendapat bahwa liberalisme, “dapat mengendalikan Islam, dan sudah sering dilakukan sebelumnya, dalam bentuk toleransi.”

Perhatian utama Carra de Vaux bukan untuk mengembangkan teori liberalisme Islam atau Islam liberal, tetapi lebih untuk menunjukkan cara-cara untuk mempertahankan dan menguatkan dominasi Barat atas umat Islam dalam pengertian politik dan budaya. Kolonisasi membutuhkan waktu, kesabaran dan penataan ulang obyek yang dijajah. Jika Barat ingin berhasil dalam penjajahan totalnya atas dunia Islam, Carra de Vaux menyarankan bahwa “kita harus memecah belah dunia Muhammadan, dan menghancurkan persatuan moral mereka, mengambil keuntungan dari perpecahan politik dan etnis yang sudah ada di dalamnya.”

Dia percaya bahwa perbedaan politik, etnis dan sektarian harus ditekankan, dengan “meningkatkan sentimen nasionalistik dan mengurangi komunitarianisme agama.”

Carra de Vaux menyimpulkan bahwa hanya dengan menghancurkan kesatuan inti Islam, kolonialisme Eropa dapat mencapai tujuannya untuk mencapai dominasi total. Dengan semangat ini, ia membuat proposal resmi: “Singkatnya, kita harus memotong-motong Islam. Kemudian kita bisa memanfaatkan kesesatan dan persaudaraan [Sufi].” Jika bisa diimplementasikan dengan hati-hati, kebijakankebijakan ini akan “melemahkan Islam, membuatnya gelisah, mematikannya, dan menjadikannya tidak mampu bangkit selamanya.”

Untuk itu, mereka mencitrakan Barat sebagai rumah bagi nilai-nilai liberal: toleransi, menghargai hak wanita, penuh empati dan kasih sayang dalam iklim demokratis. Sedangkan Islam diposisikan sebagai lawan dari itu semua: intoleran, menindas perempuan, dan brutal. Joseph Massad dalam bukunya yang berjudul Islam in Liberalism berpendapat bahwa semua elemen tadi “diproyeksikan kepada Islam, dan hanya dengan proyeksi semacam inilah Eropa bisa muncul sebagai [bangsa] yang demokratis, toleran, dan menghormati wanita. Pendeknya, bebas dari Islam.”

Makalah ini akan membahas bagaimana Islam dikonstruksi sebagai ancaman utama dunia, dengan sekian mitos yang digambarkan, untuk melayani kepentingan penjajahan. Dengan mitos tersebut, mereka menciptakan rasa takut dan kebencian pada Islam, yang berujung pada upaya untuk memodifikasi dan membajak Islam, serta menjinakkan Muslim.

Sejak perang Salib upaya ini didesain, untuk kepentingan politik gereja, merebut Spanyol dan Yerusalem demi menancapkan otoritasnya di Eropa. Kemudian dilanjutkan oleh para orientalis untuk melegitimasi penjajahan di dunia Islam dalam sebuah upaya sistematis yang bersembunyi dibalik baju akademis. Kini, jubah tersebut beralih kepada Amerika. Dengan lensa yang sama, mereka mengupdate strateginya di abad ke-21 untuk kepentingan politik dan ekonomi imperialis Amerika. (K. Mustarom)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.