SAUDARA MUSLIM YANG TERLUPAKAN, Represi Terhadap Muslim di Turkistan Timur (Xinjiang)

21 December 2018

EXECUTIVE SUMMARY

Bulan Ramadhan seharusnya menjadi waktu untuk puasa, memperbanyak amal dan doa bagi Muslim di China. Tetapi di sana, di banyak kota dan desa di Turkistan Timur (Xinjiang), masa itu adalah masa ketakutan, penindasan, dan kekerasan.

Kampanye China atas nama melawan separatisme dan terorisme di wilayah tersebut kini justru menjadi perang habis-habisan terhadap Islam.

Sepanjang bulan Ramadhan, polisi mengintensifkan kampanye pencarian dari rumah ke rumah, mencari buku-buku atau pakaian yang dianggap “mengkhianati” keyakinan China: wanita yang mengenakan kerudung ditahan, dan banyak pemuda yang tanpa delik sedikitpun. Para pelajar dan pegawai negeri dipaksa untuk makan, bukannya berpuasa, dan dipaksa bekerja atau menghadiri kelas-kelas, bukannya menghadiri sholat Jumat.

China menuduh bahwa ide-ide keagamaan asing telah merusak masyarakat Xinjiang, mempromosikan fundamentalisme Islam Wahhabi. Pemerintah China pun memberi label teroris kepada Muslim Xinjiang untuk melegitimasi tindakan represi yang dilakukan.

Presiden Xi Jinping pun bersumpah untuk menangkap mereka “dengan jaring yang menyebar dari bumi ke langit,” dan untuk mengejar mereka “seperti tikus berlarian di seberang jalan, dengan semua orang berteriak, ‘Pukul mereka.’”

“Kampanye Gebuk Keras atau Strike Hard melawan Ekstremisme Kejam” yang dilancarkan Pemerintah Republik Rakyat China dimulai di Xinjiang pada tahun 2014. Tingkat penindasan meningkat secara dramatis setelah Sekretaris Partai Komunis Chen Quanguo pindah dari Daerah Otonomi Tibet  untuk mengambil alih kepemimpinan Xinjiang pada akhir 2016.

Sejak itu, pihak berwenang telah meningkatkan penahanan massal secara sewenang-wenang, termasuk di pusat-pusat penahanan praperadilan dan penjara, yang keduanya merupakan fasilitas resmi, dan di kamp-kamp pendidikan politik, yang tak berdasar di bawah hukum RRC.

Bentuk-bentuk penindasan terhadap Muslim di Tukistan Timur (Xinjiang) antara lain:

1. Melarang memberi nama bayi dengan nama-nama Islami, dengan ancaman tidak akan mendapatkan akses kesehatan dan pendidikan

2. Melarang orangtua Muslim dari menyelenggarakan kegiatan keagamaan untuk anak mereka

3. Melarang anak-anak Muslim Uighur terlibat dalam kegiatan agama

4. Meminta kepada seluruh Muslim Uighur untuk menyerahkan seluruh barangbarang yang bernuansa agama seperti sajadah, mushaf Al-Quran, termasuk juga simbol-simbol seperti bulan dan bintang

5. Menyita mushaf Al-Quran, dengan alasan mengandung konten ekstrem

6. Melarang laki-laki dari memanjangkan jenggot

7. Muslim dipaksa makan babi dan minum alkohol di kamp reedukasi

8. Dipaksa untuk meninggalkan agama dan menyanyikan lagu Partai Komunis

Masjid-masjid di kota Kashgar dan Urumqi kini kosong. Umat Islam di sana menjadi target penahanan pemerintah China. Mereka diminta untuk meninggalkan agamanya, tidak mengakui Tuhan, dan bergabung dengan Partai Komunis China. Shalat, pendidikan agama, dan puasa ramadhan dilarang. Teks-teks Arab juga disingkirkan dari bangunan publik. Islamophobia pun digalakkan oleh otoritas partai penguasa.

Muslim di Turkistan Timur (Xinjiang) diperlakukan sebagai musuh negara hanya karena identitas keagamaan mereka, ditahan tanpa tuduhan dan bahkan seringkali tanpa pengacara. Mereka dimasukkan dalam kamp reedukasi untuk belajar tentang hukum dan aturan. Islam pun dianggap sebagai penyakit ideologi.

Dengan Islam yang berperan sebagai garis hidup spiritual yang menghubungkan orang Uighur dengan tanah mereka, sejarah mereka, dan warga satu sama lain, pemerintah telah memusatkan perhatian pada Islam. Jika bisa menghancurkan Islam, Beijing yakin mereka bisa menghancurkan orang Uighur.

Namun, meski perlakuan China terhadap Muslim Uighur begitu buruk, dunia masih gagal untuk memberikan simpatinya. Jika kondisi seperti itu tidak dilawan, kata para aktivis, kebijakan-kebijakan seperti ini dapat dengan mudah direplikasi oleh negara-negara lain yang ingin menekan atau mengendalikan minoritas. (F. Irawan)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.