PEMUDA TAUHID MELAWAN TIRAN, Kisah Pemuda Beriman Dan Raja

31 December 2018

EXECUTIVE SUMMARY

Teguh (tsabat) berada di atas din Allah merupakan tuntutan dasar bagi setiap Muslim yang jujur yang ingin meniti jalan yang lurus (shirathal mustaqim) dengan penuh tekad dan kesadaran. Di antara sarana terbesar untuk meraih keteguhan tersebut yaitu penerimaan dan ketundukan terhadap Al-Quran dan Hadits, selain juga mentadaburi dan merenungi kisah-kisah yang terdapat dalam keduanya, mengkaji kisah tersebut, serta meneladani dan mengamalkannya. Kisah memiliki keistimewaan tersendiri dalam mengajarkan suatu nilai dalam jiwa yang terkadang melebihi teorinya sendiri.

Salah satu kisah yang bisa menyuntikkan motivasi, menyisipkan pembelajaran, serta menggugah kesadaran yaitu kisah keteguhan seorang pemuda beriman. Pemuda yang pada awalnya tumbuh dalam asuhan keimanan di satu sisi, dan juga kesyirikan (sihir) dalam sisi yang lain, namun pada akhirnya lebih memilih keimanan, teguh berada di atasnya, serta rela berkorban demi kemaslahatannya.

Kisah tentang pemuda beriman (ghulam) disinggung secara tersirat di dalam Al-Quran dan disebutkan secara detail dalam beberapa kitab hadits. Dalam Al-Quran kisah pemuda beriman dan raja ini dikenal dengan kisah Ashhabul Ukhdud (Orang-orang yang membuat parit) yang tercantum dalam surat Al-Buruj (Gugusan Bintang). Adapun dalam hadits, kisah tersebut disebutkan secara detail di antaranya dalam kitab hadits yang dihimpun oleh Imam Muslim, Ahmad, An-Nasa`i dan At-Tirmidzi.

Kisah pemuda beriman dan raja berawal dari seorang tukang sihir raja yang sudah sangat tua, yang meminta raja mencari seorang pemuda cerdas untuk dididiknya sebagai penerusnya kelak. Dalam perjalanannya, pemuda tersebut selain terpengaruh oleh ajaran tukang sihir juga terpengaruh oleh ajaran seorang rahib yang ditemuinya dalam perjalannya menuju ke kediaman tukang sihir.

Si pemuda akhirnya lebih memilih beriman dibanding menjadi seorang tukang sihir setelah ia mengalami sendiri tanda kekuasaan Allah yang diperlihatkan kepadanya, yaitu membunuh hewan besar hanya dengan sekali lemparan batu. Pemuda tersebut kemudian dikarunia oleh Allah kemampuan untuk menyembuhkan berbagai penyakit dan diselamatkan oleh Allah setiap kali raja ingin membunuhnya.

Ia lalu memberitahu raja agar bisa membunuhnya, yaitu dengan mengucapkan, “Dengan nama Allah; Rabb si pemuda” dan disaksikan oleh orang banyak. Kematian si pemuda beriman tersebut justru membuat banyak di antara mereka yang menyaksikannya beriman kepada Allah. Akhirnya raja pun membuat parit dan menyalakan api di dalamnya kemudian melemparkan siapa pun yang tetap teguh dalam keimanan mereka kepada Allah.

Meski kisah si pemuda beriman merupakan fakta realitas yang terjadi pada zaman dahulu, tetapi nilai dan spirit kisah tersebut tetap abadi sepanjang zaman. Tidak lekang oleh panas. Tidak lapuk oleh hujan. Kisah si pemuda beriman juga merupakan suatu deskripsi pada zaman dahulu yang akan selalu dihadapi oleh setiap pemuda beriman pada setiap generasi.

Sebagaimana kisah si pemuda di atas, para pemuda beriman di setiap masa senantiasa menghadapi persoalan dilematis antara teguh berpegang teguh pada agamanya, atau bersikap pragmatis dan tunduk pada realitas kerusakan dan kebobrokan yang terjadi pada zamannya. Pilihan yang ada di hadapan si pemuda memang hanya dua, tetapi memiliki konsekuensi yang saling bertentangan; menjadi pemuda beriman atau menjadi pemuda penyihir.

Pilihan menjadi pemuda penyihir memang tampak menggiurkan dan sangat menjanjikan masa depan di dunia. Jika ia memilih pemuda penyihir, harta, tahta, dan wanita telah berjibun menantinya. Tetapi pilihan menjadi beriman terasa begitu dekat dengan fitrahnya, selain juga logis dan rasional. Jika memilih menjadi pemuda beriman, ia merasa menjadi orang yang sangat merdeka; tidak menjadi budak bagi hawa nafsu, syahwat, dan siapa pun; ketundukannya hanya ia berikan kepada Rabbnya yang telah menciptakannya. Pada akhirnya, menjadi pemuda berimanlah yang ditempuhnya.

Tentu saja kisah si pemuda bukanlah dongeng penghantar tidur, apalagi sebuah fiksi yang menghibur pembaca. Namun kisah si pemuda merupakan kisah pergulatan antara keimanan dan kekufuran, keteguhan berada di atas keimanan, lantang menyerukannya, rela berkorban deminya. Selain juga pilihan yang sangat menentukan kisah akhir perjalanan seseorang. (A. Sadikin)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.