PERANG KESABARAN DI AFGHANISTAN: Kemenangan Imarah Islam Afghanistan atas Amerika

06 February 2019

EXECUTIVE SUMMARY

 

“Kalian memang punya jam tangan, tapi kami punya waktu. Batere jam kalian akan habis, namun waktu kami dalam perjuangan ini tidak akan pernah berakhir. Dan kami akan menang.”

Mujahid Rahman, Pejuang Imarah Afghanistan

 

Kata-kata di atas terus menghantui Amerika. Dan kata-kata tersebut sangat mewakili bagaimana Amerika dan Taliban menyikapi perang di Afghanistan saat ini. Para pejuang Taliban sangat yakin bahwa Allah bersama mereka. Mereka menjalani perjuangan dengan penuh kesabaran. Waktu bersama mereka, detail-detail yang lain pun seolah tidak lagi relevan: sudah berapa lama perang berlangsung, kapan akan berakhir, bagaimana garis waktunya, beban ekonomi, keuangan, dan politik yang sehari-hari terus menguras tenaga dan pikiran pembuat kebijakan Amerika. Para pejuang Taliban tidak terlalu tertarik dengan angka dan statistik. Mereka hanya fokus pada kemenangan yang mereka yakini akan mereka capai.

Taliban yakin, bahwa Amerika lah yang pertama kali akan keluar dari peperangan. “Ketika pasukan Amerika datang ke sini, mereka mulai menyalakan stopwatch. Menghitung setiap detik, menit, dan jam hingga mereka pulang kembali ke rumah,” tutur mantan menteri Imarah Islam Afghanistan.

Tidak seperti tentara Amerika, Taliban muda memiliki tidak terlalu rindu dengan kenyamanan hidup. "Pejuang muda kami memiliki kehidupan yang ideal hanya dengan sepeda motor, AK-47, RPG, rambut panjang, dan tujuan suci untuk diperjuangkan," katanya. "Mereka tidak memikirkan waktu dan konsekuensi, hanya perjuangan tanpa akhir untuk meraih kemenangan."

Tujuh belas tahun sejak perang dideklarasikan, Amerika semakin kesulitan untuk menjalani perang di Afghanistan. Sumpah Bush untuk menumpas Taliban dan Al Qaeda, misi utama saat mendeklarasikan Perang Global Melawan Teror, semakin jauh dari kenyataan. Hampir semua taktik dan strategi sudah pernah dicoba, mulai dari serangan masif bergelombang dengan ratusan ribu pasukan sekutu, hingga pendekatan lunak nation building. Dana yang sudah dikeluarkan juga tidak sedikit, hingga triliunan dollar. Belum lagi biaya psikologis dan beban para veteran.

Harga dari invasi dan penjajahan tersebut adalah 50 jurnalis terbunuh, 400 pekerja kemanusiaan terbunuh, 38.000 warga sipil Afghanistan terbunuh, 59.000 pasukan Afghanistan terbunuh, 4.000 pasukan bayaran Amerika terbunuh, 2.400 pasukan Amerika tewas, dan 20.000 pasukan Amerika terluka. Untuk inikah Amerika berperang?

Triliunan dollar pajak rakyat Amerika dihabiskan untuk mengebom, merampas, dan menyiksa rakyat Afghanistan. Triliunan dollar lainnya harus dikeluarkan untuk merawat para vetaran yang terluka.

Namun, para pakar di Amerika sendiri merasa mereka sedang menuju kekalahan, atau paling tidak masih sangat kesulitan untuk menang, melawan pejuang Imarah Islam Afghanistan. Dengan biaya yang begitu besar, baik dari segi ekonomi, psikologis, hingga jiwa manusia, mereka belum juga mampu membawa hasil yang diharapkan. Dalam perang generasi keempat, tidak menangnya pasukan yang jauh lebih kuat adalah sebuah kekalahan.

Tak hanya itu, Afghanistan juga menunjukkan bagaimana Amerika kehilangan posisi moralnya di hadapan dunia. Anda tidak akan bisa menampilkan diri sebagai bangsa yang beradab disaat Anda menginvasi negara miskin, menculik rakyatnya, menyiksanya dalam sebuah kamp kematian, serta memanjakan bandit-bandit lokal.

Kini, mereka harus memelas. Memohon pada Imarah Islam Afghanistan untuk bernegosiasi. Satu hal yang tidak pernah terbersit di benak Amerika Serikat saat mengawali serangan ke Afghanistan. Afghanistan, bumi yang selama ini menjadi kuburan para imperium, perlahan mengancam nasib Amerika. Kekhawatiran ini diungkapkan oleh mantan pejabat militer Amerika, Letkol Scott Mann, “Jika kita tidak membuat perubahan signifikan dari pendekatan yang dilakukan selama ini, Amerika kan menjadi batu nisan berikutnya dari kuburan imperium di Afghanistan.”

Jadi, mengapa Amerika kalah di Afghanistan? Menurut Ted Ral, terlalu gampang menjawabnya: Afghanistan adalah kuburan imperium. Kekalahan Amerika sudah terjadi bahkan sebelum perang dimulai. (K. Mustarom)

Untuk membaca naskah lengkap laoran ini silahkan unduh file pdf-nya.