MELAWAN ATAU TIDAK? Pesan-Pesan Jihadi untuk Mesir

30 September 2013

Sekitar dua tahun yang lalu, rakyat Mesir berhasil menjatuhkan ‘titik akhir’ pada rezim Husni Mubarak yang telah berkuasa selama 32 tahun melalui revolusi rakyat dan perlawanan secara damai. Setelah menempuh berbagai proses politik dan usaha yang besar, pada akhirnya Dr. Muhammad Mursi—salah seorang pemimpin terkemuka Ikhwanul Muslimin (IM) dan ketua Partai Kebebasan dan Keadilan (Hizb Al-Hurriyyah wa Al-‘Adalah)—sayap politik IM—terpilih sebagai presiden dari hasil pemilihan umum yang relatif bersih dan bebas.

Hanya saja, setahun setelah pengangkatan tersebut, skenario ‘kelompok oposisi’ yang menantangnya secara sengaja, yang berakhir dengan kudeta Junta Militer pada 3 Juli 2013 terhadap presiden terpilih, Dr. Muhammad Mursi. Junta Militer beralasan bahwa kudeta tersebut merupakan respon dari keinginan para demonstran partai-partai kiri dan liberal.

Sejak itu, pergerakan-pergerakan Islam yang mendukung presiden Muhammad Mursi mulai melakukan aksi perlawanan damai dengan turun di jalan-jalan, lapangan-lapangan, dan alun-alun kota secara besar-besaran, yang dimulai pada Jumat (5/7/2013) di seluruh kota-kota besar di Mesir. Akibat dari itu semua, pada awalnya, bentrokan yang terjadi adalah antara para pendukung Mursi dan kelompok oposisi yang dikawal oleh tentara, selain juga terjadi bentrokan antara aktivis Islam pendukung Mursi dengan elemen militer dan kepolisian.

Bentrokan tersebut pada akhirnya menelan korban jiwa. Dimulai dengan penembakan para demonstran oleh militer di lapangan Rabiah Al-Adawiyah yang menyebabkan belasan generasi pergerakan-pergerakan Islam meninggal dunia dan ratusan bahkan ribuan menderita luka-luka. Belum lagi penembakan terhadap jamaah yang melakukan shalat secara berjamaah. Jumlah korban tersebut semakin meningkat pada bentrokan yang terjadi pada akhir-akhir Agustus. Dan tampaknya, bentrokan dan korban pembantaian tersebut akan terus berlangsung dan berjatuhan.

‘Arab Spring II’ Mesir kali ini memang banyak menimbulkan pertanyaan dan ketidakjelasan masa depan Mesir, apalagi setelah Husni Mubarak dibebaskan dari tahanan. Pertanyaan tersebut berkisar mengenai efektivitas demokrasi untuk memperjuangkan Islam; pertanyaan mengenai inspirasi dan aspirasi rakyat sebagai inti demokrasi? Dan apakah selamanya cara damai dengan melakukan demonstrasi dan negoisasi merupakan cara yang terbaik?

Ijtihad Mengambil ‘Cara Damai’ (Silmiyyah) untuk Menumbangkan Kudeta

Hingga Sabtu, 14 September 2013, Dr. Isham Al-Uryan –salah seorang pimpinan terkemuka Hizb Al-Hurriyyah wa Al-‘Adaalah, sayap politik Ikhwanul Muslimin Mesir- menyatakan sikap kukuh Ikhwanul Muslimin dalam mengambil jalan damai untuk menumbangkan kudeta[1] berdarah Junta Militer Mesir dan menyelesaikan konflik politik Mesir. Pada kesempatan tersebut, Al-Uryan kembali menegaskan slogan mereka, “Silmiyyatuna Aqwa Min ar-Rashaash” (Aksi damai kami lebih kuat dari peluru).[2]

Sikap aksi damai ini juga diambil oleh beberapa dai salafi terkenal di Mesir, seperti Dr. Muhammad Hassan, dll.[3] Bedanya, mereka tidak menjadi-kan aksi damai sebagai jalan satu-satunya. Pada awal Agustus lalu misalnya, beberapa dai tersebut telah bertemu dengan perwakilan Pemerintah Interim yang dikuasai militer untuk menuntut agar tindakan pembunuhan terhadap demonstran diakhiri.

Namun, pertemuan tersebut tampaknya menemui jalan buntu. Pemerintah Interim tetap bersikukuh untuk tetap berkuasa yang konsekuensinya demonstrasi-demonstrasi diakhiri. Ketika para demonstran teguh menuntut agar presiden terpilih Dr. Muhammad Mursi dikembalikan pada jabatannya semula, ini akan membawa konsekuensi disudahinya pemerintah interim. Dapat dipahami bahwa sikap beberapa dai salafi terkenal di Mesir tersebut merupakan sikap kecintaan mereka terhadap umat Islam, lantaran jika Mesir menjadi seperti Suriah maka ratusan ribu umat Islam akan terbunuh.

Sikap yang diambil Partai Kebebasan dan Keadilan di atas mendapat kritik keras dari kalangan jihadi. Kritik tersebut mulai dari ‘ijtihad’ mengambil demokrasi sebagai kendaraan memperjuangkan Islam, atau dari demontsasi dan protes damai untuk menuntut syar’iyyah (ditegakkannya legalitas demokrasi). Tokoh jihadis terkemuka yang mengkritisi pengambilan ‘ijtihad’ demokrasi adalah Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri. Azh-Zhawahiri menegaskan bahwa ada 2 (dua) perkara penting yang sering dilupakan oleh para demonstran dan protestor:

(1) karakter ideologi dalam perseteruan (ash-shiraa’). Maksudnya, perseteruan yang terjadi bukanlah perseteruan antara partai-partai politik yang terikat dengan rasa nasionalisme, namun lebih kepada perseteruan antara keimanan dan kekufuran; antara menyerahkan hak menetapkan undang-undang (al-Hakimiyyah) hanya untuk Allah swt semata dan menyerahkannya pada selain-Nya;

(2) karakter realitas perseteruan. Realita perseteruan yang terjadi bukanlah antara partai-partai nasionalis yang saling berlomba, namun perseteruan antara Salibis yang berkolaborasi dengan Zionis dalam satu kubu berhadapan dengan Islam dan umat Islam pada kubu lainnya.[4]

Azh-Zhawahiri mengingatkan bahwa pemerintahan Muhammad Mursi diturunkan bukan karena ia merupakan pemerintahan Ikhwanul Muslimin, namun karena pemerintahan tersebut paling tidak masih memakai atribut keislaman. Meskipun pemerintahan Ikhwanul Muslimin telah sekuat tenaga untuk mencari keridaan Amerika dan Sekularis, namun mereka tetap tidak rida dan tetap tidak percaya terhadap pemerintahan tersebut. Mereka tidak pernah lupa terhadap slogan Ikhwanul Muslimin, ‘Al-Jihadu Sabiiluna wa Al-Mautu fi Sabilillahi Asma Amanina’ (Jihad adalah jalan kami dan mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi), meski Ikhwanul Muslimin sendiri telah merubah slogan tersebut dan menggantinya dengan ‘Al-Islaam Huwa Al-Hall’ (Islam adalah solusi satu-satunya), akan tetapi Salibis dan Sekularis tidak akan pernah melupakan slogan tersebut.[5]

Buktinya, masih menurut Azh-Zhawahiri, meski Ikhwanul Muslimin telah terjun dan masuk dalam keseluruhan pemilu dan referendum serta berhasil menuai hasilnya; baik dalam ranah yudikatif, legislatif, dan eksekutif, namun kalangan Salibis dan Sekuler tetap melucuti dan tidak menerima pemerintahan mereka.

Pun demikian, meski mereka tidak menerapkan syariat Islam dan menerima ideologi kebangsaan, negara nasionalis, nasionalisme, dan rakyat sebagai sumber segalanya; meski mereka menjunjung tinggi peradilan konvensional yang rusak; meski mereka mengakui kedaulatan undang-undang yang merusak; serta meski mereka menghargai perjanjian-perjanjian internasional dan kesepakatan serta perdamaian dengan Israel, juga perjanjian-perjanjian keamanan dengan Amerika; meski mereka melakukan seluruhnya, tetap saja kalangan Salibis dan Sekuler menolak mereka.

Apakah mereka pura-pura lupa bahwa demokrasi merupakan monopoli Barat dan bukan diperuntukkan bagi orang-orang yang berafiliasi untuk program keislaman meski mereka mempertaruhkan segala sesuatunya? Mereka tidak akan pernah memetik hasilnya kecuali dengan satu syarat; yaitu mendjadi budak Barat; baik dari segi pemikiran, aksi, politik, dan ekonominya.[6]

Azh-Zhawahiri juga menambahkan bahwa syar’iyyah (legalitas) tidak didapatkan dari pemilu demokrasi, namun legalitas itu adalah syariat Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, sesuatu yang keluar dari rel syariat, sesungguhnya ia telah keluar dari legalitas; dan ketundukan terhadap hukum syariat merupakan pengejawantahan dan selaras dengan legalitas; serta legalitas yang seharusnya dibela dan dipegang erat-erat adalah kedudukan dan ketinggian syariat Islam sebagai undang-undang yang digunakan untuk memutuskan berbagai permasalahan dibandingkan dengan undang-undang lainnya. Dari situ, legalitas yang sebenarnya bukan sekedar terpilihnya atau meminta dikembalikannya Mursi sebagai presiden bagi Negara Sekuler-Nasionalis.[7]

Selain itu, Azh-Zhawahiri mengajak umat Islam; terkhusus yang berada di Mesir, untuk menyatukan kalimat mereka dalam tauhid; membuang setiap sarana dan jalan yang menegasikan hakimiyyah syariat; menyatukan langkah dalam gerakan dakwah masal yang bersifat dukungan untuk menjadikan syariat sebagai penguasa, bukan yang dikuasai; sebagai pemerintah, bukan yang diperintah; dan sebagai pemimpin, bukan yang dipimpin. Umat seharusnya menolak perjanjian-perjanjian perdamaian dan implementasinya dengan Israel dan perjanjian-perjanjian keamanan dengan Amerika, serta menolak setiap bentuk penyimpangan dari Islam dan bentuk pengekoran terhadap musuh-musuh umat. Secara khusus, Azh-Zhawahiri juga mengajak kepada tentara-tentara Al-Quran (Junuud Al-Mushhaf) untuk terjun ke medan pertempuran Al-Quran (Ma’rakah Al-Mushhaf) sebagaimana yang diserukan oleh Imam Hasan Al-Banna Rahimahullah.[8]

Demikian halnya dengan Imarah Islam Afghanistan, melalui juru bicara resminya, Al-Qari Muhammad Yusuf Ahmadi, ketika menanggapi pembantaian yang terjadi di Mesir. Al-Qari menyatakan bahwa apa yang dinamakan dengan “pemilu, tuntunan rakyat, keadilan, kebebasan, keamanan, dan kedamaian”—yang menjadi slogan dan jargon demokrasi—pada praktiknya lebih banyak menjadi slogan-slogan kosong lagi palsu yang digunakan Barat dan kalangan sekuler-liberal untuk menipu umat, demi merealisasikan kepentingan mereka.

Dengan demikian, jika kepentingan dan tujuan mereka berseberangan dengan tuntutan rakyat, keadilan, kebebasan, keamanan, dan kedamaian, maka mereka tidak canggung-canggung untuk menumpahkan rakyat mereka, menodai keadilan dan kebebasan, serta mengganggu keamanan dan kedamaian dengan kerusakan. Mungkin dilengserkannya pemerintahan-pemerintahan yang terpilih melalui kotak-kotak suara di Turki dan Aljazair merupakan contoh paling jelas.[9]

Untuk menyelesaikan konflik tersebut, Imarah Islam Afghanistan menyerukan kepada Dunia Internasional, Negera-negara Islam, PBB, OKI, dan sejenisnya untuk menyelesaikan konflik Mesir berdasarkan undang-undang yang sesuai dengan keinginan dan tuntutan rakyat Mesir, membantu menolong orang-orang yang terzalimi, menghentikan tindak kekerasan dan kezaliman, serta mengambil langkah-langkah yang seharusnya untuk menyelesaikan masalah itu.[10]

Pernyataan Imarah Islam Afghanistan ini bukan berarti mendukung undang-undang positif dan ‘kebaikan’ negara-negara Barat dan organisasi dan badan milik mereka. Imarah Islam Afghanistan hanya berbicara berdasarkan kapasitasnya sebagai sebuah negara yang saling memiliki keterkaitan dengan negara-negara lainnya.

Hal serupa juga sering diingatkan oleh dua ulama jihadis terkemuka; Abu Saad Al-Amili[11] dan Abu Muhammad Al-Maqdis.[12] Al-Amili bahkan menggunakan istilah kufur terhadap “demokrasi” ketika menyeru kepada rakyat Mesir yang menjadi para dai dan hamba demokrasi untuk mengingkari dan meruntuhkan demokrasi tersebut untuk selamanya, lalu kembali kepada Din Islam.[13]

Pun demikian dengan Al-Maqdisi. Dalam tulisannya Al-Washaaya Al-Ghaaliyah li Anshaar Asy-Syarii’ah Al-‘Aaliyah, Al-Maqdisi memasukkan hal ini pada nasehatnya yang pertama dan kedua. Nasihat mengenai keniscayaan untuk berpegang dan berada di atas kebenaran, yaitu Islam, dan tidak meremahkan dan berpaling darinya ke sistem demokrasi, konsep negara sipil, dan konsep-konsep lainnya yang bertentangan dengan Islam.

Al-Maqdisi juga mengingatkan untuk tetap berpegang teguh pada prinsip ini meski saat ini banyak jama’ah atau organisasi yang menisbatkan diri pada Islam yang menggeser nilai-nilai yang sudah final (tsawabit) dan melepaskan banyak sekali nilai-nilai Islam yang fundamental (‘Ura Al-Islam Al-Ashliyyah); baik lantaran takut terhadap manusia, kekhawatiran terhadap tekanan mereka dan usaha untuk menjaga kerelaan mereka, bahkan hingga pada tahap ikut bergabung dengan kebatilan mereka dan menyingkir dari jalan kebenaran yang sebelumnya mereka pikul tersebut. Bahkan meski mereka mengistilahkannya dengan modernitas (Al-I’tidal wa Al-Wasathiyyah).[14]

Sementara itu, di antara jihadi yang mengkritik jalan damai hanya melalui demonstrasi dan protes tersebut adalah Abu Muhammad Al-Adnani, juru bicara resmi Daulah Islamiyah Irak dan Syam. Kritik tersebut termuat dalam sebuah pesan audio berjudul As-Silmiyyah, Din Man?, yaitu saat Al-Adnani menanggapi aksi rakyat Mesir pada “Jumat Kemarahan” pada 30 Agustus 2013 yang lalu.[15] Al-Adnani menyatakan bahwa tidak mungkin selamanya orang kafir berdamai dengan orang-orang yang beriman; demikian juga tidak mungkin orang-orang beriman yang tanpa bersenjata serta melakukan aksi damai untuk berdiri di hadapan orang-orang kafir yang sedang siap dengan senjata mereka. Kemudian ia pun menyebutkan beberapa ayat yang mendukung hal tersebut.

Al-Adnani juga menambahkan bahwa sekiranya keimanan yang tanpa senjata dan dakwah damai mampu berdiri berhadapan dengan orang-orang kafir yang bersenjata niscaya Nabi tidak akan menghunuskan senjatanya dan membebankan hal itu pada umatnya. Padahal beliau adalah manusia yang sangat pengasih lagi penyantun. Demikian juga, jika seandainya dakwah damai bisa menyatakan sesuatu kebenaran sebagai kebenaran dan suatu kebatilan sebagai kebatilan serta mampu mengubah suatu kemungkaran, niscaya Nabi saw tidak akan menumpahkan setetes darah pun, padahal beliau adalah orang yang paling tahu, paling bertakwa, paling penyantun dan paling pengasih.[16]

Sikap yang sama juga datang dari Dr. Thariq Abdul Halim, salah seorang peneliti di Al-Maqreze Institute yang dipimpin oleh Dr. Hani As-Siba’i yang berpusat di London, Inggris. Thariq berpendapat bahwa demon-strasi tersebut tidak akan mengubah sesuatu apapun, kecuali bagi orang yang bermimpi yang hanya meng-harap keajaiban. Alasannya, peralatan-peralatan militer tidak akan pernah gentar menghadapi sedemikian banyak demonstran tersebut. Demonstrasi seperti ini tidak menimbulkan bahaya sedikit pun bagi mereka.[17]

Untuk memahami hakikat yang terjadi di Mesir antara rakyatnya dan militernya, Thariq menyebutkan beberapa hal yang harus diperhatikan:

  • Pimpinan Militer tidak mungkin untuk tunduk pada keinginan demonstran tersebut karena mereka mengerti bahwa hal itu sama saja dengan meletakkan tali melingkar di leher mereka. Dengan demikian, hal itu merupakan peperangan hidup atau mati bagi mereka.
  • Aksi buas militer tidak akan mungkin segan-segan untuk menumpahkan darah rakyatnya meski mengorbankan puluhan ribu jiwa, merobohkan dan menghancurkan rumah-rumah beserta penghuninya di setiap pelosok Mesir. Aksi militer Suriah terhadap rakyatnya adalah bukti yang paling konkret.
  • Pimpinan Militer tidak terlalu memedulikan apa yang disebut dengan ‘Lapangan Internasional’ karena mereka mengerti bahwa kepentingan Barat dan Israel tetap menginginkan keberadaan dan keberlangsungan pemerintahan mereka. Sebagaimana kita saksikan bahwa masyarakat internasional tidak lain hanyalah bagian dari konspirasi terhadap umat Islam sejak berakhirnya PD I dan runtuhnya Khilafah.
  • Demonstrasi Damai tidak akan pernah memiliki taring dan tidak memberikan ancaman pada pimpinan militer sedikit pun. Ia hanyalah sejumlah orang yang keluar dari mereka dan berteriak yang kemudian di antara mereka ada yang terbunuh. Setelah itu mereka akan kembali ke rumah-rumah mereka kemudian mengulangi hal yang sama pada kesempatan berikutnya.
  • Demonstrasi terencana yang dilakukan pada hari tertentu kemudian berakhir pada sorenya tidak akan mengubah kenyataan sedikit pun. Demonstrasi tidak harus dilaksanakan pada hari Jumat yang kemudian setelah orator menyelesaikan orasinya, dunia kembali pada keadaannya semula, dan kembali bertemu pada Jumat berikutnya. Cara seperti ini tidak akan pernah mencapai kemenangan meski dilakukan selama seribu tahun.
  • Demonstran yang mengacungkan tangan-tangan mereka seraya meneriakkan ‘Damai, Damai’ di depan tentara thaghut seperti orang yang menjerumuskan dirinya ke dalam kehancuran. Mereka tidak mengambil sebab-sebab yang diperintahkan oleh Allah untuk mengambilnya, yaitu i’dad (persiapan tempur) dan menebar ancaman kepada mereka. Mereka itu lebih dekat kepada orang-orang Sufi yang mengatakan, “Kami menempuh padang pasir tanpa perbekalan atau air. Kami hanya bersandar pada Allah. Dia-lah Yang Maha Pemberi Rezeki dan Dia akan memberikannya pada kami,” Para demonstran itu ibarat membusungkan dada-dada mereka untuk ditembusi timah-timah panas. Mereka hanya beranggapan bahwa yel-yel ‘Damai, Damai’ semakin mengganggu mereka, atau jumlah korban yang jatuh dari mereka akan membuat Sisi bersedih dan trenyuh lalu memerintahkan para jagalnya menghentikan penyembelihan.
  • Slogan ‘Dada kami lebih kuat dari timah-timah panas’ adalah slogan yang tidak benar secara syar’i dan akal, meski slogan tersebut menggambarkan keikhlasan dalam perlawanan dan enak terdengar di telinga.[18]

Dari realitas tersebut, menurut Thariq, untuk menghadapi hal seperti ini harus ditebus dengan harga yang mahal, dan dibayar dengar total; tak kurang sedikit pun. Thariq menambahkan bahwa jika memang cara ini yang dipilih maka untuk meraih kemenangan harus memenuhi lima syarat:

  1. Mampu mengumpulkan massa dalam jumlah yang belum terjadi sebelumnya, yaitu paling tidak 20 juta massa.
  2. Demonstrasi tersebut terus berlangsung; tidak berhenti dan tidak berselang, baik pada waktu siang dan malam, atau pagi dan sore, yang dilakukan di seluruh jalan-jalan utama dan lapangan-lapangan Mesir hingga pemerintah militer tersebut runtuh.
  3. Demonstrasi tersebut harus memiliki taring dan kuku, yaitu dengan menguasai markas-markas kepolisian, gedung-gedung pemerintahan, parlemen, kota, dan media mereka. Demonstran ini sebisa mungkin untuk berbekal dengan sesuatu yang memungkinkan; berteriak lalu menyalakan api; dan memukul lalu melarikan diri, sampai berhasil menduduki tempat tersebut. Dan tentu saja, pertempuran ini akan mengorbankan ratusan syuhada, namun langkah ini harus dilakukan demi meraih kemenangan.
  4. Meniatkan demonstrasi itu ikhlas hanya untuk Allah semata dan untuk menolong Din-Nya; bukan untuk menolong proyek undang-undang, nasionalisme, atau kebebasan.
  5. Bertekad untuk memurnikan tauhid hanya untuk Allah. Merealisasikan loyalitas (Al-Wala’) kepada-Nya; tidak pada selain-Nya. Kemudian bertaubat dari segala dosa akibat penyelewengan terhadap tauhid dan terhadap realisasi loyalitas tersebut. Bisa jadi, tertangguhnya kemenangan tersebut lantaran dosa-dosa yang telah dilakukan.[19]

 

Islam = Silmiyyah + Jihad

Dari penolakan Al-‘Adnani dan Dr. Thariq Abdul Halim sebelumnya, lantas mencuat sebuah pertanyaan, ‘Apakah jalan damai (As-Silmiyyah) tidak ada dalam Islam?’

Pertanyaan ini dijawab oleh Abu Bashir Ath-Tharthusi, seorang ulama dan ideologi jihad yang disegani, dalam artikelnya yang berjudul Inkar Al-Munkar As-Siyasi bi Al-Wasa`il As-Silmiyyah. Menurut Abu Bashir, pada intinya Islam mengakui dua cara dalam mencegah kemungkaran –termasuk dalam kemungkaran politik, yaitu melalui jalan damai ‘As-Silmiyyah’ dan jalan kekerasan ‘Al-‘Askariyyah’, sesuai dengan tuntutan-tuntutan kondisi dan terealisasinya syarat-syarat masing-masing kedua cara tersebut. Sehingga, pada hakikatnya kedua cara tersebut tidak kontradiktif, bahkan saling melengkapi antara yang satu dengan lainnya.[20]

Abu Bashir mencatat bahwa di antara argumentasi syar’i mengenai bolehnya mengingkari kemungkaran dengan cara damai jika terpenuhi tuntutan-tuntutannya dan terealisasi syarat-syaratnya, diantaranya:

  • Sabda Rasulullah, “Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran maka hendaknya dia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Dan jika tidak mampu, maka dengan hatinya. Demikian itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).

Mengubah kemungkaran dengan lisan termasuk kategori menggunakan cara damai.

  • Sabda Rasulullah, “Penghulu syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seorang yang berdiri di hadapan pemimpin yang zalim lalu dia memerintahkannya (yang makruf) dan melarangnya (dari kemungkaran) kemudian (pemimpin zalim) itu membunuhnya.” (HR Al-Hakim dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah)
  • Sabda Rasulullah: “Jihad paling utama adalah mengatakan kalimah yang benar di hadapan pemimpin yang zalim” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah. Dishahihkan oleh Al-Albani dalam As-Silsilah Ash-Shahihah).

Kalimat yang hak yang diucapkan di hadapan pemimpin yang lalim; demikian juga dengan memerintahkannya yang makruf dan melarangnya dari perbuatan mungkar termasuk dalam kategori cara yang damai. Kemudian jika dia terbunuh saat melakukan hal itu, maka dia termasuk mati syahid, bahkan dia bersama dengan penghulu para syuhada, Hamzah bin Abdul Muthallib.

  • Juga sabda beliau: “Sesungguhnya Allah mencintai kelembutan (ar-rifq) dan memberikan pada kelembutan sesuatu yang tidak diberikan-Nya pada kekerasan (al-‘unf), dan sesuatu yang tidak diberikan-Nya kepada selainnya.” (HR Muslim).

Kelembutan lebih dekat kepada cara damai dibandingkan dengan cara lainnya.[21]

Sementara argumentasi syar’i mengenai bolehnya mengingkari kemungkaran dengan cara kekuatan dan kekerasan jika terpenuhi tuntutan-tuntutannya dan terealisasi syarat-syaratnya, jumlahnya begitu banyak sekali, yaitu setiap ayat Al-Quran dan hadits Nabi yang memerintahkan dan menyeru untuk melakukan i’dad, jihad, dan mengubah kemungkaran dengan tangan.[22]

Pertanyaannya sekarang: Kapan memilih cara damai atau dengan cara kekerasan? Kapan salah satunya lebih didahulukan dibanding dengan lainnya? Apa kaidah atau ketentuan dalam menentukan hal itu? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, menurut Abu Bashir, ada beberapa aspek yang seharusnya diperhatikan, di antaranya:

  • Berhadapan dengan musuh dari dalam yang merupakan bagian dan bercampur baur dengan masyarakat merupakan suatu yang lebih sulit dibanding dengan berhadapan dengan musuh dari luar; musuh yang jelas perbedaannya dan jelas permusuhannya. Selanjutnya, agar batas tuntutan untuk berhadapan dengan musuh dari dalam terealisasi maka diperlukan fikih yang lebih mendalam; diperlukan penjelasan, amal, dan i’dad yang lebih, yang semuanya itu tidak dibutuhkan tatkala berhadapan dengan musuh dari luar. Tergesa-gesa dalam kondisi seperti ini akan mewariskan kerugian dan penyesalan.
  • Pilihan menggunakan kekuatan militer untuk berhadapan dengan kemungkaran politik dalam negeri semestinya tidak digunakan kecuali setelah melakukan perbaikan, pelurusan dan perubahan dengan menggunakan sarana-sarana damai. Selanjutnya, sarana-sarana damai tersebut seharusnya diberikan hak dan kesempatannya dalam beraksi dan melakukan perubahan –selama hal itu masih membuahkan hasil-hasil yang diharapkan- sebelum beralih pada kekuatan militer. Ini dalam rangka memberikan peringatan dan mengusahakan agar bahayanya adalah yang paling kecil.
  • Menggunakan atau memilih sarana-sarana militer dan kekerasan semestinya tidak diterapkan pada lingkungan dan medan yang di sana diterapkan sarana-sarana damai, atau pada lingkungan di mana sarana-sarana damai belum diberikan kadar dan porsinya yang seharusnya. Demikian sebaliknya, sarana-sarana damai tidak bisa diterapkan pada lingkungan atau medan yang di sana terjadi kegiatan yang menggunakan sarana-sarana militer, atau di sana ditetapkan untuk menggunakan sarana-sarana militer.
  • Ketika menggunakan sarana-sarana militer dan beralih pada pilihan menggunakan kekuatan, semestinya telah dilakukan pengamatan yang mendalam terhadap tabiat musuh dari dalam yang hendak dihadapi. Diamati, apakah sarana-sarana damai dapat bermanfaat atau tidak? Juga penelitian, apakah menggunakan pilihan militer atau kekerasan memberikan pengaruh pada pemerintahan thaghut tersebut atau tidak? Dari poin inilah kemudian sekelompok yang berperan sebagai Ahlul Halli wal ‘Aqd menentukan pilihan yang paling tepat; baik jatuh pada pilihan menggunakan kekuatan atau cukup dengan cara damai.
  • Ketika menentukan salah satu pilihan di antara dua pilihan atau dua metode tersebut untuk berhadapan dengan kemungkaran politik dalam negeri, maka hendaknya dilakukan tarjih yang cermat, dan pendalaman fikih antara maslahat dan mafsadat. Jika cara damai lebih memberikan maslahat, maka cara tersebutlah yang dijalankan. Sebaliknya, jika cara kekerasan lebih menjauhkan dari mafsadat, maka cara tersebutlah yang diterapkan.

Untuk itu, jika kemungkaran tersebut bisa ditangani dengan cara damai, maka merupakan suatu kesalahan pada kondisi tersebut menggunakan cara kekerasan. Pun demikian, jika kemungkaran tersebut hanya bisa diatasi dengan cara kekerasan, maka adalah suatu kesalahan pada kondisi tersebut menggunakan cara damai.

  • Dampak bahaya-bahaya yang menurut prediksi kuat akan timbul –meski sedemikian besar- ketika beralih pada cara kekuatan atau sarana-sarana militer, harus lebih kecil dampak bahayanya dari kemungkaran politik yang hendak dihilangkan atau diubah; lebih kecil bahayanya dibandingkan dengan bahaya tetapnya kerusakan, kezaliman, dan kekufuran kemungkaran politik sebagai pemimpin dan penguasa atas negara dan rakyat.
  • Siapa yang merasa dirinya ketika beramal dan berjihad dengan sarana-sarana damai lebih banyak memberikan manfaat dan kontribusi dibanding ketika dia beramal dan berjihad dengan sarana-sarana militer, maka hendaknya dia tidak mencela orang yang berjihad melalui sarana-sarana militer. Demikian sebaliknya, siapa yang merasa dirinya ketika beramal dan berjihad dengan sarana-sarana militer lebih banyak memberikan manfaat dan kontribusi dibandingkan ketika dia beramal dengan pilihan-pilihan atau sarana-sarana damai, maka hendaknya dia tidak mencela saudara-saudaranya yang beraktivitas dan beramal demi dien dan umat mereka melalui sarana-sarana damai. Dengan catatan selama sarana-sarana ini disyariatkan dan diperbolehkan, selain juga memberikan hasil-hasilnya.[23]

Pada akhirnya, Abu Bashir menyimpulkan bahwa—jika tuntutan-tuntutan dan syarat-syarat tersebut terpenuhi—kedua kelompok tersebut berada dalam kebaikan; keduanya saling melengkapi; dan umat memerlukan keduanya secara bersamaan.[24]

 

Epilog: Merencanakan Kemenangan

Dalam setiap pertempuran antara keimanan dan kekufuran, merupakan suatu yang wajar dan pantas jika pembela keimanan mengharapkan kemenangan dari musuh-musuh mereka. Namun masalahnya, kemenangan tersebut tidak dianugerahkan Allah secara percuma. Pembela keimanan harus mengusahakan semaksimal mungkin dua aspek kemenangan sekaligus, yaitu aspek Al-Madi (material) dan aspek Al-Ma’nawi (spiritual). Aspek Al-Madi, yaitu dengan mengusahakan seluruh usaha yang mampu dilakukan oleh manusia untuk meraih kemenangan. Sementara aspek Al-Ma’nawi adalah dengan mendekatkan diri kepada Allah, yang terealisasikan dalam setiap bentuk ibadah kepada-Nya; baik dengan ibadah hati (ikhlas, khauf, raja’, mahabbah, dll), dengan ibadah anggota badan (shalat, shaum, zakat, haji, dll), dan dengan ibadah lisan (dzikir, qira`atul Quran, doa, dll).

Realitasnya, ada di antara kelompok pergerakan Islam—kalau tidak bisa disebut banyak—yang melupakan, meremehkan, dan melalaikan mengusahakan semaksimal mungkin aspek Al-Madi. Tetapi, di sisi lain senantiasa dan tiada henti-hentinya berdoa mengharapkan kemenangan. Ini bukan berarti tidak boleh atau dilarang. Namun, apakah pantas kita melantunkan doa mengharapkan kemenangan, sementara kita sendiri tidak semaksimal mungkin mengusahakan faktor kemenangan tersebut?

Inilah pesan yang disampaikan oleh Dr. Iyad Qunaibi dalam salah satu artikelnya ‘Hal Nahnu Qaribuun min An-Nashr fi Mishr au Suriya?’[25] (Apakah Kita Dekat dengan Kemenangan di Mesir atau Suriah?)

Dalam artikel tersebut, setidaknya ada enam (6) faktor kemenangan penting yang disebutkan oleh Qunaibi. Keenam faktor tersebut adalah: [1] salamatul manhaj (metode pergerakan yang lurus), [2] a’malul qulub(ikhlas, tawakal, tadharru’, dll), [3] ijtima’ul kalimah (persatuan dan kesatuan barisan), [4] husnul idarah wa at-takhthith (manajemen dan strategi yang baik), [5] husnul khuluq (akhlak yang baik), dan [6] sabar dalam mengusahakan faktor-faktor kemenangan madiyyah (material).

Dari keenam faktor kemenangan penting tersebut, yang mendapat perhatian lebih dari Qunaibi adalah point salamatul manhaj dan ijtima’ul kalimah. Mengomentari poin salamatul manhaj, Qunaibi mengklasifikasikan umat Islam hari ini menjadi tiga kelompok:

[1] kelompok yang meremehkan manhaj dan kerangka kerja berpikirnya dibangun di atas bid’ah dari jalan yang ditempuh Rasulullah demi meraih kemenangan dan kekuasaan meski hal itu berbenturan dengan nash-nash syar’i;

[2] kelompok yang berpegang teguh pada manhaj, perhatian pada pemurnian tauhid, mencampakkan demokrasi, serta berpegang teguh pada Al-Hakimiyyah (syariat), namun mereka menganggap point ini seolah-olah segalanya, dan mengira bahwa salamatul manhaj adalah penambal dari setiap lubang, dan pelengkap dari setiap kekurangan, sehingga mereka tidak perhatian pada faktor-faktor kemenangan lainnya yang masih begitu banyak serta tidak memberikan faktor-faktor kemenangan tersebut sesuai dengan porsinya;

[3] kelompok yang tidak peduli sama sekali terhadap manhaj, dan kelompok ini merupakan mayoritas umat Islam. Sebagian mereka menghabiskan umurnya selama 14 tahun (TK, SD, SMP, dan SMA) di bangku sekolah, bahkan mungkin dilanjutkan di perguruan tinggi selama 10 tahun hingga meraih gelar doktor.

Gelar yang bukan termasuk—tanpa meremehkan baktinya pada diin—sebab yang memasukkannya ke surga dan menyelamatkannya dari neraka. Hampir seperempat abad umurnya hanya digunakan untuk meraih dunia. Meski meraih gelar tersebut, namun pada saat diminta untuk membaca atau mendengar tema yang bisa menjelaskan padanya manhaj yang lurus yang bisa mengantarkannya pada keridaan Allah dan surga-Nya, dia hanya bermalas-malasan dan beranggapan bahwa niat tulusnya saja sudah cukup sebagai bekal untuk bertemu dengan Rabbnya.

Setelah itu, dia merasa cukup dengan gaya hidup sentimentil secara umum dari personal-personal, jamaah-jamaah dan manhaj-manhaj tertentu yang terbentuk hanya dari beberapa tatapan sekilas dan dari berita-berita yang tercecer yang dia dengar dari sana-sini. Walau demikian, dia akan mati-matian membela gaya hidupnya tersebut dan bangkitlah kesombongannya terhadap dosa tersebut jika dikatakan kepadanya bahwa dia keliru dalam hal itu.

Adapun ketika mengomentari poin ijtima’ul kalimah, Qunaibi mengingatkan bahwa kasus yang sering terjadi adalah kelompok pergerakan Islam acapkali menjadikan salamatul manhaj sebagai sebab perselisihan di antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya, yang kesalahan mereka tersebut tidak sampai mengeluarkan mereka dari Islam. Meskipun kelompok tersebut sebenarnya diberikan keluasan untuk menoleransi kesalahan mereka demi menjadi kesatuan dan kesolidan barisan tanpa harus meleburkan manhaj.

Terkadang kelompok tersebut juga tidak sadar bahwa dengan memutuskan hubungan mereka dengan kelompok pergerakan lainnya dengan dalih menjelaskan kebatilan, sebenarnya mereka telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya. Kapan? Yaitu, saat mereka mencegah kemungkaran dengan cara yang tidak sesuai dengan sunnah sehingga berakibat kegagalan dan hilangnya kewibawaan mereka.

Ada satu episode sejarah menarik yang dicatat Qunaibi saat memberikan contoh pada poin ini. Episode sejarah tersebut adalah peperangan antara Bangsa Tatar dan umat Islam. Ketika Bangsa Tatar menghancurkan Kesultanan Muhammad bin Khawarizm, sebenarnya tentara Islam yang di antaranya adalah tentara Jalaluddin bin Muhammad bin Khawarizm dan tentara Saifuddin Baghraq At-Turki serta tentara lainnya telah melakukan konsolidasi. Banyak yang tidak mengetahui bahwa tentara Islam tersebut telah berhasil memukul telak Tatar di Ghaznah dan Kabul, Afghanistan.

Meski demikian, kita tidak pernah mendengar kabar kemenangan tersebut, sebaliknya, kita hanya mengetahui bahwa Tatar telah berhasil menghancurkan dunia Islam, membunuh jutaan umat Islam, dan membumihanguskan kota-kotanya. Ini karena setelah memperoleh kemenangan di dua tempat tersebut (Ghaznah dan Kabul), tentara-tentara tersebut berselisih mengenai pembagian ghanimah, hingga pada tahap mereka saling menyerang, sehingga menyebabkan kemunduran kekuatan bangsa Turki di bawah pimpinan Baghraq, yang berakhir dengan kegagalan dan hilangnya kewibawaan keseluruhan tentara tersebut.

Lantas, bagaimana jika pertanyaan Qunaibi tersebut dilontarkan kepada kita ‘Hal Nahnu Qaribun min An-Nahsr?’(Apakah Kita Semakin Dekat dengan Kemenangan?).

Jawabannya bisa dua kemungkinan; TIDAK dan YA. TIDAK, bahkan mungkin sangat jauh dari kemenangan jika kita tidak mengusahakan faktor-faktor kemenangan tersebut sebagaimana porsinya dan membangkang terhadap sunnatullah dalam meraih kemenangan. Juga, YA, bahkan kita sangat dekat dengan kemenangan, karena kita memiliki tali kekang untuk segera menuju kebaikan; karena kita mampu—dengan taufik Allah—mengusahakan seluruh faktor kemenangan tersebut; dan karena kekuatan kekufuran tidak akan pernah mampu—pada saat itu—untuk melumpuhkan tekad kita, sebagaimana ketidakberdayaan mereka untuk mencabut keimanan dalam hati kita. Pada saat itulah Allah akan memberkahi sedikit usaha yang mampu kita lakukan dan kerjakan, lalu menampakkan ‘keajaiban-keajaiban’-Nya kepada kita.

Singkatnya, kemenangan dari Allah itu sangat dekat. Ya, sangat dekat sekali. Tinggal kitalah yang mau mendekati kemenangan tersebut, atau malah menjauhinya. Wallahu A’lam. (Ali Sadikin)