KEHIDUPAN YAHUDI DAN NASRANI DI BAWAH NAUNGAN KHILAFAH TURKI UTSMANI

16 February 2019

Executive Summary

Turki pernah menjadi pusat kekuasaan Dunia Islam selama kurang lebih delapan abad dan sangat disegani oleh bangsa Eropa. Pada masa pemerintahan Dinasti Utsmani (Ottoman), Turki mencapai puncak masa keemasan. Daulah Utsmaniyah merupakan daulah terbesar dan terkuat dalam sejarah Dunia Islam.

Perjalanan sejarah Turki Utsmani memiliki banyak alasan penting untuk dikaji, di antaranya karena daulah ini dianggap sebagai khilafah islamiah yang terakhir dan terpanjang usia kekuasaannya. Khilafah Utsmaniyah telah melakukan pekerjaan-pekerjaan mulia yang dipersembahkan bagi umat manusia. Bagi umat Islam, Turki Utsmani berjasa dalam menjaga tempat-tempat suci Islam dari rencana-rencana stratejik kolonialis Portugal (dari Laut Merah, Teluk Arab, hingga Aceh), membantu para penduduk Afrika Utara melawan serangan-serangan Imperium Spanyol, dan sebagainya.

Secara internal, Khilafah Utsmaniyah —sejak era Sultan Salim I (1512–1520)— juga berhasil membentuk persatuan Dunia Islam di antara pemerintahan-pemerintahan Arab, menjauhkan serbuan penjajahan dari wilayah-wilayah Syam, Mesir, dan negeri-negeri Islam lainnya, mencegah penyebaran Syiah ke wilayah-wilayah Islam yang berada di bawah kekuasaannya, mencegah Yahudi dari menduduki Palestina, serta peranannya dalam menyebarkan Islam di Eropa.

Adapun bagi kaum non-Muslim, Turki Utsmani memiliki banyak “jasa”, di antaranya:

- Menampung dan mengungsikan kaum Yahudi dari praktik inkuisisi oleh pihak Katolik di Spanyol sejak masa Sultan Bayazid II (1481–1512)

- Membantu Inggris dari blokade laut Spanyol

- Melakukan aliansi stratejik dengan Kekaisaran Prancis

- Membantu Irlandia dari bencana kelaparan

Khilafah Utsmaniyah berhasil menjelma sebagai salah satu superpower dunia sejak era Sultan Sulaiman Al-Qanuni (1520–1566). Bahkan, pada masa pemerintahan Sultan Murad III (1574-1595), Turki Utsmani menguasai seluas sekitar 20 juta km persegi dan meliputi tiga benua.

Konsekuensinya, Turki Utsmani harus mengelola masyarakat yang sangat beragam di wilayahnya yang sangat luas. Bukan hanya kaum Muslimin, tetapi juga non-Muslim, terutama kalangan Yahudi dan Nasrani. Oleh sebab itu, Turki Utsmani menciptakan sebuah tatanan masyarakat yang disebut dengan Sistem Millet.

Sejarawan dan ilmuwan sosial melihat Sistem Millet sebagai contoh sukses otonomi non-teritorial. Para penguasa Turki Utsmani mengakui keragaman komunitas agama dan etnis yang menjadi bagian dari Khilafah Utsmaniyah. Namun, pada saat yang sama, para penguasa Turki Utsmani juga mengerti bahwa keragaman ini tidak bisa dan tidak boleh menjadi bentuk asimilasi total yang berarti “kesamaan”.

Di bawah pengaturan sistem Millet ini, Yahudi, Ortodoks Yunani, dan komunitas Armenia mengatur keberadaan mereka dan mengorganisir serangkaian negosiasi ad-hoc dengan kepala komunitas agama. Jadi, non-Muslim bisa tetap eksis lewat negoisasi yang intens di bawah naungan sistem umum khilafah yang mengedepankan toleransi. (F.Irawan)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.