NARASI PERLAWANAN MUSLIM BANTEN 1888

28 February 2019

Executive Summary

Abad ke-19 merupakan suatu periode pergolakan sosial karena arus peradaban Barat yang semakin kuat dengan semakin menguatnya kekuasaan penjajah di Jawa dan sekitarnya. Dokumen-dokumen Kementerian Urusan Jajahan Pemerintah Penjajah Hindia Belanda, memuat laporan tentang banyak perlawanan dan percobaan-percobaan perlawanan rakyat yang bermunculan di berbagai daerah di Pulau Jawa. Masyarakat mengalami proses modernisasi perekonomian, sosial dan politik yang semakin dalam dipaksakan oleh penjajah Barat. Seluruh proses peralihan dari tatanan lama ke modernitas menimbulkan konflik-konflik sosial, kerusuhan dan perlawanan tiada henti dan silih berganti, seperti yang terjadi tahun 1888 di Banten.

Perlawanan-perlawanan yang begitu banyak terjadi di Pulau Jawa selama kurun waktu 1840 sampai 1875 telah dicatat oleh de Waal, mantan sekretaris pemerintah Hindia Belanda. Menurut catatan tersebut, hanya pada tahun-tahun 1844, 1847, 1860, 1863, 1871 dan 1874 sajalah tidak terjadi perlawanan. Belum lagi perlawanan yang tidak dicantumkan dalam catatan tersebut, seperti tahun 1864 di Klaten; 1865 di Cirebon, Tegal, Yogyakarta, dan Kedu; serta tahun 1872 di Pekalongan.

Pada masa kejayaannya Banten merupakan kota terbesar di Asia Tenggara yang makmur. Guillot, menyimpulkan bahwa pada tahun 1678, berdasarkan jumlah penduduk dan kemakmurannya, Banten merupakan kota terbesar di Nusantara, dan bahkan termasuk salah satu kota terbesar di dunia pada masa itu. Maka tak heran masyarakat muslim Banten begitu merindukan kembalinya kejayaan Banten di bawah pemerintahan Islam yang telah sukses membawa kemakmuran, ketertiban, keamanan dan keadilan masyarakat Banten.

Di kalangan orang-orang Belanda, orang Banten Utara terkenal fanatik dalam hal agama, bersikap agresif dan mempunyai semangat jihad (perlawanan) yang tinggi. Mereka tidak seperti petani di Jawa Tengah bagian selatan, melainkan merupakan kelompok-kelompok perantau yang cerdas. Dalam unsur-unsur kebudayaan mereka, hampir tak terdapat ciri-ciri peradaban Hindu-Jawa. Justru dalam kenyataannya, pengaruh Islam sangat mendalam dalam masyarakat Banten.

Sepanjang  abad  XIX  Banten  merupakan  gelanggang  perlawanan, sehingga  disebut sebagai tempat persemaian perlawanan. Dalam sejarah Banten Utara menunjukkan bahwa di sana tak ada satu pun distrik yang tidak terkena dampak konflik-konflik sosial. Ada tradisi yang sering disebut para sejarawan Belanda sebagai "tradisi pemberontakan". Setelah kesultanan di Banten dihapuskan oleh penajah, tidak ada tahun yang lewat tanpa perlawanan.

Antara 1810 sampai 1840 saja, telah terjadi sebelas kali perlawan bersenjata melawan penjajah, di antaranya perlawanan Nyai Gumpara pada 1818 untuk mengembalikan kesultanan Banten dan penyerangan ke Anyer dengan kekuatan 500 orang pada 1822.

Perlawanan muslim Cilegon tahun 1888 atau “Geger Cilegon” sering disebut para sejarawan sebagai perlawanan petani (karena mayoritas rakyat Banten adalah petani) hanyalah salah satu contoh pelawanan dari sederet perlawanan lain yang dilakukan oleh muslim Banten yang tanpa henti, terus menerus dilakukan dari masa ke masa. Perang sabil ini umumnya dipimpin oleh para ulama dan haji. Mereka menyebut perlawanan mereka terhadap penjajah sebagai “perang sabil” atau “jihad” melawan penjajah kafir Belanda.

Dengan menanamkan narasi-narasi dalam ajaran agama Islam untuk melawan kezaliman penjajah, para ulama berhasil membangkitkan semangat rakyat muslim Banten utuk melawan pemerintah penjajah kafir Belanda. Narasi-narasi yang mereka gunakan antara lain; (1) narasi jihad, bahwa setiap muslim wajib melawan dan mengusir penjajah kafir dan zalim yang menganeksasi wilayah muslim, (2) narasi  darul Islam (pemerintahan Islam), bahwa tujuan utama berjihad setelah berhasil mengusir penjajah adalah menegakkan kembali sistem (pemerintahan) Islam yang sesuai dengan ajaran Islam, (3) narasi akhir zaman dan Imam Mahdi, bahwa semua tanda-tanda alam yang terjadi di Banten saat itu (seperti kekeringan, gunung meletus, tsunami, wabah penyakit ternak) menunjukkan tanda-tanda akhir zaman dan kedatangan imam mahdi yang akan memimpin kebangkitan dan kejayaan agama Islam di bumi pada akhir zaman.

Musibah dan bencana membuat masyarakat Muslim di Banten sadar akan kesalahan dan dosa-dosanya. Musibah dinilai sebagai peringatan dari Allah atas dosa dan kesalahan mereka. Dengan bencana yang begitu dasyat, mengerikan dan terjadi secara berturut-turut telah membuat banyak orang takut akan azab Allah, ingin bertaubat dan berusaha lebih mendekatkan diri kepada Allah. Dakwah dan seruan para ulama disambut masyarakat dengan antusias setelah bencana terjadi. Kesadaran ini pada gilirannya menggerakkan apa yang banyak disebut oleh para sejarawan sebagai gerakan “kebangkitan agama Islam”.

Para ulama Banten terus-menerus menyuarakan bahwa, membiarkan Banten diperintah oleh penjajah kafir adalah dosa besar, tidak berusaha menegakkan pemerintahan Islam dan memberlakukan hukum Islam adalah dosa besar. Masyarakat muslim Banten menyadari kesalahannya dan ingin bertobat dan mendekatkan diri pada Allah dengan berjihad melawan penjajah kafir Belanda, karena perang sabil adalah puncak dari segala ketundukan dan ibadah pada Allah. Dan setelah itu membentuk pemerintahan Islam dan memberlakukan hukum Islam atas masyarakat muslim Banten, sebagaimana yang selalu disampaikan para haji dalam dakwahnya.

Banyak korban yang berjatuhan, karena besarnya pukulan dan goncangan yang ditimbulkan terhadap penjajah oleh para pejuang muslim Banten tahun 1888. Paling tidak 17 pejabat pemerintah penjajah Hindia Belanda tewas, dimana 7 diantaranya adalah orang Belanda, dan sisanya pribumi, salah satunya Wedana Cilegon, Raden Tjakradiningrat serta seorang Jaksa. Dari pihak pejuang dinyatakan 11 orang gugur, diantaranya Kiyai Haji Wasid, Haji Ismail, Haji Usman, dan kesemuanya merupakan tokoh perlawanan tersebut, selain itu 19 orang gugur dalam perperangan tersebut. Perang terjadi selama tiga minggu, setelah peperangan reda 94 orang pejuang yang tertangkap dibuang oleh para penjajah ke daerah Sumatera, Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara Timur, dan Jawa Timur.

Dalam usaha penjajah untuk pengejaran dan pembersihan terhadap orang yang terkait perlawanan telah terjadi semacam terorisme oleh pemerintah penjajah, setiap informasi yang diberikan oleh setiap agen sudah cukup menjadi alasan penangkapan. Residen Banten membuang sekian banyak orang yang dicurigai sebagai pejuang, yang tidak dapat dijatuhi hukuman oleh pengadilan karena tidak ada bukti.

Meskipun perjuangan kaum perlawanan dapat diredam oleh penjajah, namun semangat perlawanan mereka tak pernah padam. Sampai tahun 1889 pemerintah penjajah belum berhasil sepenuhnya membersihkan Banten dari pengaruh perlawanan yang terjadi pada tahun 1888. Pemerintah penjajah masih disibukkan dengan berbagai berita mengenai adanya rencana perlawanan baru. Mereka berencana akan membunuh semua pejabat penjajah baik pribumi maupun Eropa.

Panjangnya daftar usaha perlawanan muslim Banten menunjukkan tingginya semangat mereka berjihad melawan penjajah kafir Belanda untuk mengembalikan pemerintahan Islam (seperti kesultanan Banten) yang dihapuskan oleh penjajah. Mereka tidak melemah, putus asa atau menjadi takut walaupun usaha mereka gagal dan banyak pemimpin mereka dieksekusi atau dibuang oleh penjajah. Mereka yakin dengan janji-janji Allah seperti yang disampaikan oleh para ulama dan haji yang memimpin perlawanan jihad, bahwa kemenangan kemuliaan agama Islam akhirnya akan berada di tangan mereka.

Dengan berbagai peristiwa perlawanan dan kekerasan yang tak pernah henti di Banten selama Abad ke-19, setelah penghapusan kesultanan Banten, Sartono menyimpulkan bahwa, kekuasaan penjajah Belanda memicu kerusuhan dan perlawanan di Banten pada Abad ke-19. Dampak penjajahan Barat mempercepat disintegrasi masyarakat pribumi dan meningkatkan kerusuhan umum. Akibat penjajahan pula, keamanan, ketertiban, keadilan dan kemakmuran yang pernah dicapai kesultanan Banten musnah tak tersisa lagi. (K. Subroto)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.