NUBUAT PEMBEBASAN ROMA

14 March 2019

Executive Summary

Kota Roma—bersama dengan kota Konstantinopel—telah bergema di kalangan kaum muslimin sejak Rasulullah menyampaikan sabdanya, ketika ditanya kota manakah yang lebih dahulu dibebaskan antara Konstantinopel atau Roma, “Kota Heraklius dibuka lebih dahulu”, yaitu Konstantinopel.

Salah satu kabar dari Rasulullah tersebut terbukti dengan dibebaskannya Konstantinopel setelah lebih tujuh abad  kemudian. Selama masa tersebut, telah terjadi beberapa peristiwa penting sebelum pembebasannya; mulai dari perang Mu’tah dan Tabuk pada masa Rasulullah hingga berhasil dibebaskan pada masa Muhammad Al-Fatih pada 1453. Sementara Roma, hingga kini kabar tersebut belum terealisasikan oleh umat Islam.

Dalam kitab Mu’jam al-Buldan dijelaskan bahwa Rumiyah yang dimaksud pada hadits tentang pembebasan Konstantinopel dan Rumiyah adalah ibukota Italia hari ini, yaitu Roma. Dalam perjalanan sejarah panjangnya, Roma mengalami perubahan bentuk pemerintahan mulai dari monarki, republik, imperium, hingga kini menjadi ibukota negara Itali dan dengan negara Vatikan—sebuah negara eklesiastik atau monarki-sakerdotal—yang berada di dalamnya.

Tidak sebagaimana usaha untuk membebaskan Konstantinopel yang telah beberapa kali dilakukan pengepungan di depan tembok pertahanannya, usaha untuk membebaskan Roma dapat dianggap sangat sedikit sekali, bahkan pasukan Islam tidak pernah sama sekali berada di luar tembok pertahanannya. Salah satu usaha rintisan umat Islam untuk membebaskan Roma—meski tidak sampai menyentuh tembok pertahanannya—yaitu ekspedisi yang dilakukan oleh Muhammad Al-Fatih. Pada tahun 885 H (1480 M) Muhammad Al-Fatih telah berhasil membebaskan wilayah dan pulau-pulau yang berada di antara Yunani dan Roma. Wilayah-wilayah tersebut di antaranya: Zakynthos, Kerkyra (Corfu), Santorini, dan Kefalonia. Bahkan pasukan Muhammad Al-Fatih telah sampai di Otranto, dan sempat mengirimkan sejumlah armada laut untuk membebaskan pulau Rhodes (Yunani: Rodos). Namun usaha ini terhenti dan tidak dilanjutkan lantaran wafatnya Muhammad Al-Fatih pada tahun berikutnya (886 H/ 1481 M).

Ulama Islam berbeda pendapat tentang proses pembebasan kota Roma di akhir zaman kelak. Sebagian berpendapat bahwa Roma akan dibebaskan dengan kekuatan senjata, sementara pendapat lainnya menyebut bahwa Roma akan dibebaskan dengan cara damai, yaitu penduduknya berbondong-bondong memeluk Islam.

Di samping itu, Islam meyakini bahwa kelak pada akhir zaman akan terjadi Malhamah Kubra (Peperangan Terbesar). Malhamah Kubra merupakan perang yang terjadi antara Romawi dan Umat Islam yang terjadi pada akhir zaman kelak.  Meski tidak disebutkan secara pasti siapa pemimpin umat Islam dalam perang ini, namun beberapa ulama berpendapat bahwa dalam perang tersebut dipimpin oleh Al-Mahdi.  Beberapa ulama juga berpendapat bahwa pembebasan kota Roma akan terjadi setelah kembalinya Khilafah Rasyidah.

Karena dalam keyakinan Islam pembebasan kota Roma merupakan perkara masa depan yang termasuk kategori persoalan gaib, maka tidak dimungkinkan untuk menetapkannya secara pasti bagaimana hal itu terjadi. Menyikapai persoalan tersebut, umat Islam dituntut tunduk dan menyerahkan hal itu hanya kepada Allah. Namun, lantaran hal ini sabda Rasulullah, pembebasan Roma merupakan suatu yang pasti terjadi, meski tidak diketahui proses dan waktunya secara pasti. (A. Sadikin) 

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.