MITOS KEKERASAN ATAS NAMA AGAMA

10 April 2019

Executive Summary

 Di era modern hari ini, sudah menjadi semacam keyakinan umum bahwa agama adalah penyebab utama konflik paling berdarah di dunia. Keyakinan ini tidak hanya muncul di kalangan yang memandang rendah agama, tapi ia juga tumbuh di kalangan yang mendakwahkan ajaran agama.

Di era di mana tumbuh keyakinan kuat bahwa agama tidak boleh dicampurkan dengan politik, agama menjadi tertuduh utama. Untuk itu negara bangsa dihadirkan, dengan tawaran sebagai pelindung dari kekerasan agama dan menjaga perdamaian.

Asumsi ini sering menjadi dasar bagi kebijakan negara, di dalam maupun luar negeri. Membatasi peran agama dalam rangka menjaga perdamaian dan mempromosikan demokrasi.

Saat konflik terjadi, seketika tokoh agama dikumpulkan, diminta meredam semangat keberagamaan umatnya. Faktor lain diabaikan, seolah semua kekerasan berpangkal dari keberagamaan seseorang.

Saat bicara tentang konflik dan kekacauan di Timur Tengah, agama dianggap sebagai penyebabnya. Saat bicara invasi tentang Amerika Serikat di Irak dan Afghanistan, agama juga dituduh sebagai akar masalahnya. Bahkan, sekalipun umat Islam jadi korban, keberagamaan merekalah yang jadi alasan utama.

Klaim bahwa agama rentan terhadap kekerasan, pada praktiknya, menjadi justifikasi ideologis bagi dilakukannya kekerasan atas nama tatanan sekuler.  Ia menjadi bahan baku utama untuk menguatkan loyalitas masyarakat kepada negara bangsa dan melegitimasi kekerasan yang dilakukan negara.

“Agama sering menyebabkan kekacauan, menjadi penyebab dari semua perang besar dalam sejarah umat manusia.” Ungkapan ini, atau yang sejenisnya, sering kita dengar. Terus diucapkan, seperti sebuah mantra yang seolah tidak boleh dipertanyakan, yang melekat kuat, dari politisi hingga akademisi. Sampai-sampai, kita tidak bisa mengenalinya sebagai sebuah mitos.

Agama dihilangkan kekuatannya. Di kampus-kampus, teori sekularisme diajarkan sebagai fakta yang sudah mapan. Anggapan bahwa agama berbahaya bagi politik sudah menjadi semacam kebenaran umum, menjadi sebuah asumsi tanpa pikiran dari orang-orang yang selama ini menganggap dirinya berpikir.

Mereka yang mengucilkan agama sebenarnya takut akan kebangkitan agama. Mereka mengecam agama, dengan deklarasi bahwa agama bertanggungjawab atas banyak kekerasan saat ini. Beberapa saat kemudian, mereka akan mengatakan dengan semangat penuh dogma bahwa agama sudah mulai luntur oleh modernitas, tidak lagi relevan dengan zaman.

Laporan ini berupaya untuk menjelaskan bahwa mitos kekerasan agama adalah produk dari dongeng di Barat untuk mengalihkan dari kekerasan yang mereka sendiri lakukan.

Mitos ini sampai sekarang masih sangat kuat melekat, karena ia digunakan untuk melegitimasi negara sekuler modern. Mitos ini adalah mitos yang menjadi dasar bagi negara sekuler. Dan sebagaimana layaknya sebuah mitos, ia tidaklah sepenuhnya benar, bahkan berpotensi membuat kita terbutakan oleh kekerasan irasional yang dilakukan oleh negara sekuler. (K. Mustarom)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.