ZAMAN KEEMASAN ISLAM DI MALI

07 May 2019

Executive Summary

Saat ini, Mali dikenal sebagai salah satu negara termiskin di dunia. Harapan hidup dan angka melek huruf pun sangat rendah. Kekerasan yang dilakukan oleh pemberontak dari suku Tauregs di wilayah utara Mali mengancam negara miskin itu ter-disintegrasi menjadi dua wilayah. Hal ini yang menjadikan Mali kian disorot akhir-akhir ini. Namun, Mali memiliki perjalanan sejarah yang tidak selalu negatif dan menyedihkan. Dahulu, Mali adalah contoh konkret dari kesuksesan sebuah kerajaan Islam. Hal itu membuat iri masyarakat dunia. Di sana ada harta karun, sebuah tambang emas di padang gurun.

Mali terletak di sebelah selatan Gurun Sahara. Ada sebuah batas garis yang mencolok di sana; di sebelah Utara terdapat sebuah padang pasir yang gersang dan tandus berbatasan dengan hutan hujan di sebelah selatan, yang dikenal sebagai Sahel (Pesisir).

Mali sangat minim akan wilayah subur. Penduduk setempat lebih memilih memanfaatkan tanah sebagai lahan tambang barang yang bernilai. Emas dan garam telah menjadi komoditi yang menggeliatkan perekonomian masyarakat Mali selama ratusan tahun. Jalur perdagangan yang saat itu terbentang dari Mali ke pantai Afrika Utara meberikan berkah bagi mereka. Para pedagang di pantai Afrika Utara akan membayar mahal emas dan garam hasil bumi Mali yang kemudian diekspor ke Eropa dan ke Asia Barat atau Timur Tengah. Jalur perdagangan ini sangat menguntungkan dan membuat etnis Mandinka (etnis utama di Afrika Barat) menjadi orang-orang kaya.

Di jalur-jalur perdagangan, transaksi tidak hanya pada barang-barang dagangan saja. Pedagang muslim juga membawa Islam selain membawa barang dagangan mereka. Sambil bertransaksi emas dan garam, dakwah Islam juga gencar dilakukan. Dari tahun 700-an dan seterusnya, Islam perlahan mulai memiliki basis di Sahel Afrika Barat. Awalnya negara-negara  non muslim dari Afrika Barat mencoba menghambat penyebaran Islam. Mereka mengupayakan agar Islam tidak masuk di komunitaskomunitas besar dengan cara memisahkan umat Islam dengan komunitas tersebut. Namun upaya itu tidak berarti banyak, Islam semakin diterima masyarakat dan negara-negara muslim pun mulai bermunculan.

Kerajaan islami pertama di Mali yang terkenal didirikan oleh seseorang yang bernama Sundiata Keita. Ia merupakan seorang tokoh di masanya dan legenda bagi orang-orang setelahnya. Kisah tentangnya terus bergulir dalam kurun abad sejarah masyarakat Mali. Masa yang lama dan daya ingat yang lemah membawa cerita tentang dirinya menjadi kabur dan rancu bahkan cenderung diada-ada. Ada yang mengisahkan bahwa ia memiliki kemampuan luar biasa, bisa mencabut pohon besar seakar-akarnya, kemudian ditanam lagi di halaman rumah ibunya. Namun satu hal yang disepakati, dialah pendiri Kerajaan Mali dan memiliki peranan yang penting dalam pertumbuhan populasi umat Islam di Afrika Barat, khususnya sejak tahun 1230. (F. Irawan)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.