KARAKTER ORANG-ORANG MUNAFIK

30 November -0001

EXECUTIVE SUMMARY

Nifak merupakan penyimpangan karakter yang sangat berbahaya dalam kehidupan pribadi seseorang dan dalam kehidupan suatu umat. Bahayanya yang besar tersebut sangat kentara lantaran ia bisa masuk dan merusak nilai-nilai paling agung dalam kehidupan, terkhusus kehidupan internal keagamaan umat Islam. Munafik, yaitu orang yang kepribadiannya telah terjangkiti nifak, dapat melakukan operasi penghancuran internal terhadap Islam. Bahkan terkadang pelakunya dalam keadaan aman. Ia tidak dicurigai sedikit pun. Bahkan tidak terlintas dalam pikiran umat Islam bahwa pelakunya tega melakukan makar dan tipudaya untuk menghancurkan Islam.

Berbagai bencana paling merusak yang melanda umat Islam dalam perjalanan sejarahnya, termasuk yang terjadi di era kontemporer ini, hanya terjadi melalui virus nifak dan melalui tangan-tangan orang munafik. Mereka melakukan berbagai tipudaya dalam menjalankan aksinya. Mereka mengenakan ‘baju’ Islam, padahal mereka kufur atau ragu terhadapnya. Dengan demikian, mereka berhasil menipu umat Islam agar mereka bisa hidup dalam komunitas Islam, mendapat kemakmuran dari kemakmuran Islam, ikut terlibat dalam aktivitas kepentingan dan kemaslahatan umat Islam, bahkan terlibat dalam kekuasaan dan pemerintahan atas nama Islam. Lantaran inilah, Allah dalam Al-Quran sangat keras mengingatkan umat Islam agar ekstra berhati-hati terhadap virus nifak dan tipudaya orang-orang munafik.

Secara etimologis, nifak diambil dari nafiqa`u al-yarbu’’(mulut lobang untuk melarikan diri yarbu’, hewan sejenis tikus). Yarbu’ terbiasa menggali lobang kemudian menutup mulut lobang pertama tersebut dengan tanah. Ia lalu kembali menggali tanah untuk tempat ia keluar yang sebenarnya. Tatkala tinggal sedikit lagi lobang tersebut menembus tanah maka ia pun berhenti menggali. Lobang tempat ia pertama menggali ini disebut dengan qashi`a’, sementara lobang tempat ia keluar nanti dinamakan nafiqa`. Manakala Yarbu’ diburu melalui qashi’a` maka ia akan lari menuju nafiqa` kemudian keluar dari sana dan kabur. Hal yang sama terjadi pada diri orang-orang munafik, ia berusaha menampakkan sesuatu yang sebetulnya berbeda dengan yang apa disembunyikannya. Adapun secara terminologis, nifak yaitu menampakkan keislaman seraya menyembunyikan kekufuran. Nifak merupakan terma islami yang sebelumnya tidak dikenal oleh bangsa Arab dengan makna khusus seperti ini, meski asal katanya diambil dari bahasa mereka dan dikenal oleh mereka.

Banyak terdapat teks baik dari Al-Quran maupun hadits yang menjelaskan tentang karaktek orang-orang munafik. Karakter tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga: pertama, karakter ideologi (akidah) dan pemikiran orang-orang munafik; kedua, karakter sosial mereka; dan ketiga, karakter psikologisnya. Karakter ideologi (akidah) dan pemikiran orang-orang munafik di antaranya yaitu: menyembunyikan kekufuran, berhukum kepada thaghut, loyal kepada orang kafir, mengklaim beriman, menghalangi manusia dari jalan Allah, dan enggan berjihad fi sabilillah. Sementara di antara karakter sosial mereka yaitu: berperilaku bodoh, menyebarkan firnah di antara orang-orang beriman, berdusta, menyakiti Rasulullah dan orang-orang beriman, menjauhi dan menjauhkan AlQuran dari manusia, melanggar perjanjian, memata-matai orang-orang beriman, serta menghina dan mengejek orang-orang beriman. Adapun karakter psikologis di antaranya yang paling menonjol yaitu: riya, hasad, penakut dan pengecut, berburuk sangka, menipu dan berkhianat, menyombangkan diri terhadap kebenaran, serta kikir dan bakhil.

Sebagian manusia berpandangan bahwa karakter nifak dan orang-orang munafik telah berakhir seiring berakhirnya masa Rasulullah. Padahal pandangan tersebut jelas salah, baik ditinjau dari sudut pandang teks wahyu (Al-Quran dan hadits) maupun sudut pandang sejarah. Bahkan, seiring semakin menjauhnya waktu dari era Rasulullah, nifak dan orang-orang munafik juga semakin buruk dibanding era-era sebelumnya. Hudzaifah bin Yaman, “Orang-orang munafik pada hari ini jauh lebih buruk dibanding pada zaman Rasulullah. Sebab, dahulu mereka sembunyi-sembunyi (melakukan nifak mereka), namun sekarang mereka justru melakukannya secara terang-terangan.” (A. Sadikin)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.