PENJAJAHAN PIKIRAN UMAT ISLAM

04 June 2019

Executive Summary

Kita akan sulit memahami dunia hari ini jika kita gagal memperhitungkan dua ratus tahun terakhir sejarah dunia modern, keterikatannya dengan kolonialisme, dan kemudian munculnya negara-bangsa pasca-kolonial.

Seringkali, umat Islam diperintahkan untuk melupakan masa lalu, berhenti mengeluh tentang kolonialisme dan menggunakannya sebagai alasan untuk menjelaskan keadaan saat ini. Logikanya, kolonialisme telah berakhir dan dunia Muslim telah merdeka selama 40-60 tahun terakhir. Argumen tersebut memberikan kesimpulan bahwa dunia Muslim harus bertanggung jawab atas urusannya sendiri atas kegagalan yang mereka alami, daripada terus menyalahkan kolonialisme dan Barat pada umumnya.

Argumen seperti itu, jika diterima, memberi kepercayaan pada kiasan para orientalis yang mendalilkan inferioritas inheren pada dunia Muslim dan ketidakmampuan mereka untuk menangani masalah seriusnya. Tesis ini berpusat pada asumsi bahwa kolonialisme telah berakhir dengan penarikan pasukan kolonial dan pencapaian kemerdekaan di semua bagian dunia Muslim, kecuali di Palestina, Afghanistan, dan Irak.

Asumsi ini berdasar pada pemahaman kolonialisme yang sangat dangkal. Kolonialisme menggunakan pendekatan berlapis-lapis untuk mengendalikan dan mendominasi. Komponen militer hanyalah bagian kecil dari struktur epistemologis yang lebih besar dan rumit yang tujuannya adalah untuk mencapai kontrol dan dominasi total dengan atau tanpa kehadiran pasukan tempur di wilayah yang dikolonisasi.

Struktur kontrol yang paling kasar adalah dengan menggunakan rantai besi untuk memaksa manusia ke dalam kurungan dan membatasi pergerakannya. Namun, struktur yang paling canggih beroperasi pada tingkat mental bawah sadar dan upaya untuk mencapai dominasi total atas pikiran dalam mengonseptualisasikan diri di dunia. Tingkat keberhasilan kolonial dapat diukur dengan tingkat kepatuhan mental masyarakat yang dijajah terhadap struktur kolonial dan produksi intelektualnya yang terus mengulangi dominasi penjajah, meski rantai fisik sudah dilepas.

Dengan demikian, penjajahan dirasionalisasi menjadi persamaan yang sangat sederhana. Bahwa Anda dijajah karena Anda lebih rendah dan rentan terhadap dominasi dan kontrol eksternal. Pandangan seperti itu menjadikan korban sebagai pihak yang paling bertanggungjawab atas penjajahan dirinya. Penjajahan dirasionalisasi dalam jenis struktur Darwin, yang kuat yang bertahan hidup. Lebih daripada itu, argumen ini hanya meneliti bentuk luar dan hasil yang terlihat, bukannya memperhatikan keseluruhan struktur yang memungkinkan proyek kolonial ditransmisikan dari generasi ke generasi. Bahkan ketika satu negara maju di tingkat material, mereka secara struktural masih tunduk pada wacana kolonial karena ukuran keberhasilan masih menganut pada tipografi kolonial, bukan di luarnya.

Aspek kedua yang digunakan untuk merasionalisasi wacana kolonial adalah dengan menawarkan gagasan bahwa Islam yang terbelakang adalah sumber masalah saat ini. Gagasan ini menghasilkan permintaan yang terus dilakukan kolonial, yaitu reformasi Islam. Mereka ingin Islam yang mau atau dapat diubah ke dalam proyek modernitas yang tolak ukurnya dibuat oleh kolonial. Menjadi modern dan reformis berarti menerima inferioritas inheren Islam sebagaimana yang ditetapkan dalam wacana kolonial, dan kemudian memulai mode reformasi terjajah yang menjawab semua pertanyaan yang tidak ditanyakan oleh atau untuk umat Islam.

Struktur kolonial tercetak dalam proyek-proyek pendidikan, pembangunan, dan ‘peradaban’ di seluruh dunia dan dioperasikan untuk mereproduksi dan mengatur inferioritas dengan atau tanpa kehadiran pasukan kolonial di wilayah jajahan. (K. Mustarom)

Untuk membaca naskah lengkap laporan ini silahkan unduh file pdf-nya.