MENAHAN DIRI, ARAHAN BARU AIMAN AZH-ZHAWAHIRI

31 October 2013

Dua belas tahun setelah serangan 11 September, pemimpin Al-Qaidah, Aiman Azh-Zhawahiri mengeluarkan pernyataan yang oleh beberapa media Barat disebut sebagai ‘panduan spesifik pertama tentang jihad’. Bukan hal baru jika Azh-Zhawahiri mengeluarkan video propaganda dengan retorika-retorika anti-Amerika yang memang selama ini sudah sering ia lakukan, namun pernyataan baru tersebut terasa sangat berbeda dibandingkan biasanya. Cara penyampaian dan isinya oleh beberapa pengamat Barat menunjukkan adanya perubahan dalam internal Al-Qaidah secara global. Pimpinan Al-Qaidah tersebut memberikan panduan dan arahan kepada seluruh cabang serta para simpatisan dalam sebuah rilis yang disebarluaskan secara publik, bahkan ia menyerukan agar panduan tersebut terus disebarluaskan.Seperti biasa, tak satu pun pernyataan Azh-Zhawahiri yang tidak lepas dari analisis para pengamat terorisme di Barat. Kali ini, mereka melihat pernyataan yang ‘tidak biasa’ daripernyataan doktor di bidang bedah tersebut.[1]

Pertama, mengenai langkah Azh-Zhawahiri yang lebih memilih untuk memberikan panduan umum yangbersifat terbuka kepada publik dan komunitas jihad internasional. Normalnya, Al-Qaidah menyebarkan visi strategisnya secara publik, namun memberikan arahan, panduan, dan koreksi melalui jalur komunikasi internal yang dirasa aman.

Salah satu contoh dari hal ini adalah sebuah surat yang ditengarai dikirimkan oleh Azh-Zhawahiri kepada Abu Mus’ab Az-Zarqawi pada tahun 2006 yang berisi nasihat atas aksi jihad yang menargetSyiah di Irak, yang dipandang cenderung kontraproduktif saat itu.[2]

Contoh lain adalah dokumen yang menunjukkan komunikasi privat antara Azh-Zhawahiri dan kelompok jihad di Suriah yang megisyaratkanperbedaan pandangan antara Azh-Zhawahiri dan Amir Daulah Islam Irak dan Syam(Islamic State of Iraq and Sham), Abu Bakar Al-Baghdadi. Al-Qaidah, sebagaimana kebanyakan organisasi jihad lainnya, biasanya mengirimkan pesan-pesan semisal secara privat. Ditengarai karena beberapa alasan:

-          Mempertontonkan perselisihan internal kepada khalayak akan mengurangi dukungan publik kepada organisasi dan otoritas beberapa pemimpin.

-          Pesan publik akan membuka strategi yang membuat musuh mempunyai cara untuk mengalahkan organisasi tersebut.

-          Pesan semacam itu, terkadang, bisa mengancam keamanan dan mempengaruhi kesuksesan cabang-cabang Al-Qaidah.

Menanggapi rilis tersebut, sebagian analis Barat menyimpulkan bahwa Azh-Zhawahiri mengeluarkan rilis secara terbuka karena arahannya kini tidak terlalu diikuti. Pesan-pesan Al-QaidahPusat tidak sampai ke cabang atau bisa jadi diabaikan, kata mereka. Kedua skenario tersebut merupakan masalah yang berpotensi terjadi pada organisasi semacam Al-Qaidah.

Kedua, panduan Azh-Zhawahiri berisi tentang visi besar yang menekankan pada tindakan-tindakan yang harus dihindari oleh komunitas jihad internasional. Pesan-pesan sebelumnya, baik dari Usamah bin Ladin, Azh-Zhawahiri, maupun yang lainnya cenderung memberikan arahan secara umum kepada para jihadi seperti ‘berjihad di negara yang kosong dari jihad’ atau ‘melakukan jihad di rumah’. Namun, panduan Azh-Zhawahiri terkini justru memberikan arahan secara lebih spesifik.

Kini, tampaknya Azh-Zhawahiri tidak lagi berbicara kepada gerakan jihad global secara keseluruhan, tapi juga mulai memberikan arahan secara langsung kepada para aktivis jihad di setiap cabang yang berada di Afrika Utara, Timur Tengah, dan tempat-tempat lain. Azh-Zhawahiri juga menyerukan:

“Kami meminta saudara-saudara amir dari cabang Al-Qaidah manapun, dan siapapun yang mendukung dan bersimpati kepada kami untuk menyebarluaskan nasihat-nasihat ini di kalangan internal, baik pemimpin maupun anggota, sebab nasihat tersebut bukan bersifat rahasia, tapi nasihat dan petunjuk umum serta arahan-arahan. Tujuan dari nasihat tersebut tidak lain adalah untuk mewujudkan maslahat syar’i dan menolak mafsadat—cari untung hindari kerugian—pada fase jihad sekarang ini dengan ijtihad yang tidak menyelisihi ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah syar’i.”

Azh-Zhawahiri mengklaim bahwa ini adalah ‘panduan kebijakan umum’ meskipun berisi panduan spesifik di masing-masing negara. Tidak seperti panduan-panduan sebelumnya yang cenderung memberikan arahan tentang ‘apa yang harus dilakukan’, kini panduan tersebut dipandang lebih menekankan kepada ‘apa yang tidak boleh dilakukan’.

Padahal, dokumen visi strategis biasanya lebih mendiskusikan tentang ‘apa yang harus dilakukan secara umum’ dibanding ‘apa yang tidak boleh dilakukan secara spesifik’. Panduan tersebut dipandang mengisyaratkan koreksi kepada para pemimpin cabang Al-Qaidah dan mencoba untuk mengarahkan energi masing-masing cabang dan para pengikutnya untuk berfokus pada menyerang musuh yang jauh (Amerika Serikat dan sekutunya), dan dalam jangka pendek menghindari konflik dengan musuh lokal termasuk kelompok Kristen, Hindu, Sikh, Syiah, Sufi, dan terutama kelompok Sunni lainnya.

Pertanyaan berikutnya muncul;mengapa Azh-Zhawahiri secara publik mulai mencampur antara visi stratejik dengan panduan pelaksanaan aksi?  Menjawab hal ini, Dr. Jacob Saphiro dalam bukunya The Terrorist’s Dilemma memberikan sebuah perspektif bahwa Azh-Zhawahiri dan Al-Qaidah secara global kini mengalami masalah perwakilan(agency problems). Sederhananya, menurutnya, cabang-cabang Al-Qaidah kini tidak bisa padu. Shapiro mencatat bahwa agency problems akan muncul saat ada tiga kondisi:

  1. Seorang pemimpin perlu untuk mendelegasikan aksi atau keputusan tertentu pada sebuah agen
  2. Pemimpin tersebut tidak bisa memonitor aksi tersebut secara sempurna atau tidak bisa menghukum secara pasti jika terjadi pelanggaran
  3. Kecenderungan agen tidak selaras dengan kecenderungan pemimpin tersebut

Sejak Peristiwa 11 September, Al-Qaidah Pusat baik saat berada di bawah kepemimpinan Usamah bin Ladin maupun era Azh-Zhawahiri saat ini banyak menghabiskan energi untuk mempertahankan keamanan mereka, yang akhirnya mengorbankan kontrol operasional mereka atas beberapa cabang. Al-Qaidah Pusat dipandang mendelegasikan hampir seluruh aksi kepada agen mereka yang tersebar di seluruh dunia.

Dengan gugurnya Usamah bin Ladin dan berkurangnya otoritas Al-Qaidah Pusat atas distribusi sumber daya, Al-Qaidah Pusat dinilai kehilangan kemampuan untuk memonitor aksi-aksi cabang mereka dan menghukum mereka yang dianggap keluar garis, sebagaimana yang terjadi pada Al-Qaidah Irak yang sekarang bernama Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS).

Al-Qaidah lokal mempunyai kepentingan tersendiri di Suriah, mempunyai aliran sumber daya sendiri yang terpisah dari Al-Qaidah, sedangkan Azh-Zhawahiri terpisahkan oleh jarak yang sangat jauh dari lapangan. Hal inilah yang memicu terjadinya perbedaan dan masalah perwakilan bagi Azh-Zhawahiri.

Menanggapi hal tersebut, para pengamat terorisme di Barat mencoba melakukan analisis atas apa yang akan dilakukan oleh Azh-Zhawahiri, di saat muncul peluang besar jihad di Suriah dan Mesir.

Pertama, Azh-Zhawahiri akan menguatkan cabang lainnya, yaitu AQAP di Yaman, yang lebih dekat posisinya dengan Suriah dan Mesir, serta meningkatkan otoritas Nashir Al-Wuhaisy, pemimpin AQAP, atas cabang-cabang Al-Qaidah lainnya.

Kedua, Azh-Zhawahiri barangkali akan mendorong jihad di Mesir secara lebih agresif, dengan meningkatnya operasi serangan di Sinai. Opsi ini akan memberikan peluang para jihadi pilihan ladang baru selain Suriah.

Ketiga, Azh-Zhawahiri barangkali akan melakukan serangan spektakuler di luar Suriah untuk mengembalikan kepentingan dan dukungan Al-Qaidah secara global. Pada awalnya, serangan di Westgate Mall Kenya diduga dilakukan oleh As-Shabab yang terinspirasi oleh Al-Qaidah, namun ada beberapa analisis lain yang menduga bahwa serangan tersebut diarahkan langsung oleh Al-Qaidah Pusat/ AQAP. Jika benar, hal ini akan membantu Azh-Zhawahiri menegaskan kembali kemampuannya untuk melakukan serangan besar dan spektakuler.

Keempat, Azh-Zhawahiri dalam panduan terakhirnya seolah-olah melompati para pemimpin lokal dan berbicara langsung dengan para pengikutnya di masing-masing cabang.

Selain itu, menurut Daveed Gartenstein-Ross, seorang analis di Foundation for Defense of Democracies, tema terbesar dari pesan yang disampaikan oleh Aiman Azh-Zhawahiri adalah menahan diri.[3] Menurutnya, banyaknya cabang Al-Qaidah yang menyebar di seluruh dunia dengan sifat otonomnya, membuat Azh-Zhawahiri kesulitan untuk mengontrol aksi-aksi para pejuangnya. Karenanya, ia memberikan panduan jihad global kepada para mujahid untuk menahan diri dari melakukan aksi-aksi yang nantinya justru menjadi bumerang bagi tujuan jangka panjang Al-Qaidah.

Sementara itu, analis lain memandang bahwa panduan tersebut cenderung ‘memperlunak’ gerakan Islam militan. Azh-Zhawahiri menyerukan kepada para pengikutnya untuk menahan diri dari menyerang kelompok Islam lain juga kelompok non-Islam, serta membatasi balasan aksi militer hanya pada target kombatan. Mereka menilai bahwa panduan tersebut dikeluarkan karena Al-Qaidah Pusat menyadari bahwa ‘keganasan’ Al-Qaidah dan menyebarnya paham takfir cukup kontraproduktif dengan usaha untuk memenangkan hati umat Islam.[4]

Azh-Zhawahiri memberikan panduan mengenai strategi perjuangan di masing-masing wilayah dengan pendekatan yang disesuaikan dengan sifat wilayah tersebut, mulai dari Afrika Utara hingga Kaukasus dan Kashmir. Meski militer tetap menjadi alat utama untuk melemahkan Amerika Serikat dan Israel, Azh-Zhawahiri juga menekankan tentang pentingnya dakwah untuk menawarkan gagasan dan pemikiran.

Selain itu, ia juga meminta umat Islam untuk menahan diri dari menyerang kelompok Islam lain dan non-Muslim serta menahan diri dari memulai konflik di negara dimana jihadi bisa mendapatkan tempat perlindungan untuk menyebarluaskan pemikirannya.

 

SEKILAS PROFIL AIMAN AZH-ZHAWAHIRI

Nama lengkapnya adalah Aiman Muhammad Rabi’a Azh-Zhawahiri. Lahir pada tanggal 19 Juni 1951 di Maadi, Mesir. Tumbuh dan berkembang di tengah-tengah keluarga yang cukup terpandang. Ayahnya, Muhammad Rabi’ Azh-Zhawahiri, adalah seorang profesor di bidang farmasi di Universitas Ain Asy-Syams.

Kakeknya dari pihak ayah adalah salah seorang ulama senior di Al-Azhar yang dulu berjuang melawan penjajahan Inggris. Adapun kakeknya dari pihak ibu, Abdurrahman Basha Azzam, adalah Sekjen Liga Arab yang pertama. Salah seorang pamannya, Salim Azzam, adalah Direktur Islamic Council of Europe, sebuah organisasi yang berdiri pada tahun 1973 dan berpusat di London. Paman lainnya, Mahfuzh Azzam, adalah wakil ketua partai islamiHizb Al-Amal Mesir, yang aktivitasnya kemudian dibekukan pada tahun 2000.

Aiman muda adalah seorang remaja yang taat dan pintar. Ia rajin pergi ke Masjid Husain Shidqi di Maadi. Dia juga sering ikut dalam kajian tafsir yang diadakan di masjid tersebut. Salah seorang temannya mendeskripsikan dirinya sebagai sosok yang cenderung tertutup, matang, dan tidak suka bermain game. Ia lebih tertarik untuk membaca berbagai macam buku, termasuk puisi, dan terutama buku-buku Islam.  Ia juga dideskripsikan sebagai seorang yang rendah hati, namun teguh pendirian dalam diskusi.

Saat berusia 14 tahun, Aiman bergabung dengan Ikhwanul Muslimin dan banyak terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran Sayyid Quthub. Setelah Sayyid Quthub dieksekusi pada tahun 1966 oleh rezim Jamal Abdunnashir, Aiman dan sejumah pelajar lainnya membentuk sel rahasia (1966-1967) dengan tujuan untuk menggulingkan pemerintahan Mesir dan mendirikan pemerintahan Islam. Dia termotivasi untuk membentuk sel tersebut setelah melihat berbagai penangkapan yang dilakukan oleh Pemerintah Mesir atas ribuan anggota Ikhwanul Muslimin pada tahun 1965.

Pada tahun 1968, Aiman mulai kuliah di Universitas Kairo dan mengambil jurusan Kedokteran. Dia lulus secara cum laude pada tahun 1974, kemudian mengambil spesialis di bidang bedah dan lulus pada tahun 1978. Setelah itu, ia melanjutkan studinya di sebuah universitas di Pakistan dan meraih gelar Ph.D di bidang bedah serta lulus dengan predikatcum laude.[5]

Pada tahun 1979, Aiman bergabung dengan kafilah jihad dan pergi ke Afghanistan untuk berperang melawan penjajahan Uni Soviet. Di sanalah ia bertemu dengan Usamah bin Ladin, yang kelak menjadi pemimpin Al-Qaidah. Pada tahun 1996, Azh-Zhawahiri dituduh sebagai teroris oleh Amerika Serikat dan sempat dipenjara selama enam bulan oleh pihak Rusia setelah ia mencoba untuk merekrut aktivis jihad di Chechnya. Setahun berikutnya, ia dituduh bertanggung jawab atas tewasnya 62 turis di Mesir dan dihukum mati secara in absentia.

Pada tahun 1998, Azh-Zhawahiri bersama kelompoknya, Jamaah Jihad Islam Mesir, melakukan merger dengan Al-Qaidah. Pascaperistiwa 11 September 2001, Azh-Zhawahiri menjadi salah satu buronan paling dicari Amerika Serikat. Keberadaannya saat ini tidak diketahui, meski banyak yang menduga ia kini berada di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Semenjak gugurnya Usamah bin Ladin pada bulan Mei 2011, Azh-Zhawahiri menjadiamir atau pemimpin tertinggi Al-Qaidah.

Berikut ini adalah panduan jihad umum yang disampaikan oleh Aiman Azh-Zhawahiri secara lebih lengkap:

PETUNJUK UMUM PELAKSANAAN JIHAD

AIMAN AZH-ZHAWAHIRI

1434 H

Dengan Nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang

PETUNJUK UMUM PELAKSANAAN JIHAD

 

Pendahuluan

1-      Sebagaimana yang Anda ketahui, bidang kerja kita saat ini ada dua; pertama: militer dan kedua: dakwah.

2-      Aktivitas militer dengan target; pertama: biang kekufuran internasional, Amerika dan anteknya, Israel, dankedua: antek-antek lokal mereka yang saat ini menjadi pemimpin negara kita.

  1. Menjadikan Amerika sebagai target utama, tujuannya adalah untuk menguras habis energi dan kekuatan mereka, supaya nasib mereka berakhir seperti Uni Soviet, dan menelan berbagai kerugian dari sisi militer, SDM, dan ekonomi, sehingga kedepan cengkeraman mereka terhadap negara kita semakin melemah, dan selanjutnya satu persatu, antek-anteknya akan berguguran.

Realitas yang terjadi pada Revolusi Arab merupakan bukti degradasi hegemoni Amerika. Akibat berbagai serangan yang di lancarkan mujahidin baik di Irak maupun di Afghanistan serta ancaman stabilitas keamanan mulai 11 September, Amerika sedikit lebih memberikan ruang gerak bagi rakyat setempat, sehingga akhirnya meledak-ledak di hadapan para agen mereka. Pada fase yang akan datang, insyaallah hegemoni Amerika akan semakin bertambah lemah dan lumpuh. Dan selanjutnya akan berguncanglah kekuatan antek-anteknya.

  1. Adapun menargetkan sekutu-sekutu Amerika yang bersifat lokal, maka ceritanya bisa berbeda antara satu tempat dengan yang lainnya, tapi seharusnya tidak perlu mengadakan konflik dengan mereka kecuali di wilayah-wilayah yang memang memaksa adanya konflik.

Di Afghanistan, konflik yang terjadi antara mujahidin dengan antek Amerika hanyalah ekses saja. dan masih bersambung dengan konflik melawan Amerika.

Di wilayah Pakistan, konflik yang terjadi merupakan bagian dari konflik melawan Amerika yang bertujuan untuk kemerdekaan Afghanistan, serta menciptakan wilayah aman bagi mujahidin di Pakistan, kemudian merintis berdirinya negara islam dari wilayah tersebut.

Di Irak, konflik yang terjadi antara mujahidin dengan mereka bertujuan untuk membebaskan wilayah-wilayah Sunni dari cengkeraman antek-antek Amerika dari kalangan Safawi (Iran).

Di Aljazair, jumlah tentara Amerika sangat minim dan jarang diperhitungkan, konflik yang terjadi antara mujahidin dengan penguasa setempat bertujuan untuk melumpuhkan negara, dan menebar hegemoni jihad di wilayah barat dan wilayah pesisir barat Afrika, serta wilayah bagian selatan gurun sahara. Di wilayah-wilayah tersebut sudah mulai terjadi konfrontasi dengan Amerika dan sekutu-sekutu lokalnya.

Di Jazirah Arab juga terjadi konflik dengan Amerika, melihat bahwa mereka adalah agen-agen Amerika.

Di Somalia, konflik yang terjadi dengan mereka juga terjadi, mengingat mereka adalah tentara salibis-imperialis.

Di Syam, konflik juga terjadi dengan mereka. Mengingat bahwa Amerika tidak mungkin memberikan izin bagi yang berbau Islam, terlebih jihad. Sejarah berdarah mereka dalam membabat habis Islam begitu jelas.

Di sekitar Baitul Maqdis, konfrontasi fisik terjadi antara mujahidin dengan Yahudi, dan usaha menggiring para penguasa lokal untuk menelan pil pahit dan komitmen dengan Perjanjian Oslo sebisa mungkin.

3-      Adapun aktivitas dakwah, tujuan yang digariskan adalah menyadarkan umat tentang bahaya Perang Salib serta menjelaskan nilai-nilai tauhid, seperti hukum adalah otoritas Allah, serta merealisasikan solidaritas ukhuwah islamiyah dan kesatuan negara-negara Islam, sebagai langkah awal menuju berdirinya Al-Khilafah ‘ala Minhaj An-Nubuwwah dengan izin Allah.

Konsentrasi utama pada fase dakwah adalah pada dua aspek:

  1. Penyadaran dan pendidikan generasi mujahid, yang siap untuk mengemban atau akan mengemban—insyaallah—pejuangan melawan tentara salibis dan sekutu-sekutu mereka hingga berdiri khilafah islamiyah.
  2. Penyadaran umat, pemompaan semangat, serta usaha untuk menggerakkannya untuk melakukan revolusi, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Islam dan para aktivis islam.

 

Petunjuk-petunjuk penting

Berdasarkan hal-hal di atas, maka kami meyarankan beberapa petunjuk manajerial islami yang berorientasi pada kaidah “cari untung hindari rugi (jalb mashalih wa dar’ mafasid)” terkait pelaksanaan jihad.

1-      Berkonsentrasi untuk menyebarkan kesadaran untuk level rakyat supaya bisa di gerakkan, dan untuk level generasi mujahid supaya bisa menyusun kekuatan yang berbasis jihad dan akidah, terorganisir, dan solid; yang berakidah islami, komitmen dengan syariat, merealisasikan Al-Wala’waAl-Bara’,serta berusaha secepat mungkin untuk menelurkan berbagai kemampuan ilmiah dan dakwah, juga berdakwah kepada umat Islam dari barisan gerakan Jihad.

2-      Berkonsentrasi dalam aktivitas militer untuk menguras energi biang kekafiran internasional, sehingga benar-benar habis secara militer, ekonomi, dan SDM. Dengan harapan kelak mereka akan mundur dan gulung tikar, yang—insyaallah—akan terjadi sebentar lagi.

Untuk para mujahid, hendaklah mereka menjadikan agenda memukul berbagai kepentingan antek-antek barat, zionis, dan salibis di berbagai tempat sebagai tugas pokok, dan hendaknya berusaha merealisasikan hal tersebut sebisa mungkin.

Selain itu, hendaknya mereka mengerahkan seluruh tenaga untuk membebaskan para tawanan dengan berbagai cara, seperti menyerang penjara mereka, atau menculik orang-orang penting di negara sekutu mereka untuk kemudian ditukar dengan tawanan kaum muslimin.

Berkonsentrasi melawan biang kekafiran internasional bukan berarti tidak memenuhi hak bela terhadap masyarakat muslim yang sedang melawan orang-orang zalim di negeri mereka dengan perkataan, tangan, dan senjata. Bagi saudara yang di Kaukasus, mereka punya kewajiban untuk berjihad melawan penjajah Rusia dan para pendukungnya, saudara yang di Kasmir, mereka punya kewajiban untuk berjihad melawan penjahat Hindu, saudara-saudara yang ada di Turkistan Timur, mereka punya kewajiban untuk berjihad melawan penjahat-penjahat Cina, saudara-saudara yang ada di Filipina, Burma, dan negara-negara lain yang muslimnya ditindas punya kewajiban untuk berjihad melawan para penjahat.

3-      Tidak melakukan konfrontasi fisik dengan pemerintah kecuali terpaksa, seperti misalkan pemerintah setempat merupakan representasi dari kepentingan Amerika, sebagaimana yang terjadi di Afghanistan, atau mereka memang mewakili Amerika dalam memerangi mujahidin sebagaimana yang terjadi di Somalia dan Jazirah Arab, atau mereka menolak keberadaan mujahidin sebagaimana yang terjadi di Maroko, Syam, dan Irak.

Akan tetapi kalau bisa hendaknya menghindari konfrontasi langsung dengan mereka sebisa mungkin, kalau seandainya keadaan memaksa maka kita harus tunjukkan bahwa peperangan yang kita lakukan adalah salah satu bagian dari pembelaan kita terhadap umat islam dalam menghadang penjajah salibis.

Apabila kita punya kesempatan untuk menghentikan konflik dengan pemerintah lokal kemudian memanfaatkannya untuk dakwah, provokasi, mobilisasi, inventarisasi harta dan pendukung, maka harus kita memanfaatkannya sebisa mungkin. Sebab peperangan yang kita lakukan sangat panjang, dan jihad sangat membutuhkan adanya qa’idah aminah (homebaseyang aman), serta pasokan SDM, keuangan, dan kompetensi yang non-stop.

Meski demikian bukan berarti kita tidak menunjukkan pada agen-agen salibis bahwa kita bukanlah mangsa empuk. Setiap aksi ada reaksi yang tepat, meskipun kapan waktunya, setiap front lebih tahu sikap yang tepat menurut kondisi yang ada.

4-      Tidak melakukan peperangan dengan kelompok-kelompok sesat semisal Rafidhah, Ismailiyah, Ahmadiyah, dan Sufi selama mereka tidak memerangi Ahlussunnah. Apabila mereka memerangi Ahlussunnah, maka yang perlawanan hendaknya hanya ditujukan kepada pihak yang terlibat saja, serta memberikan penjelasan bahwa kita sekedar membela diri. Dan sebisa mungkin menghindari anggota kelompok yang tidak terlibat dalam konfrontasi, dibarengi dengan membongkar kebatilan dan penyelewengan mereka dalam bidang akidah dan akhlak.

Adapun di wilayah yang sudah dikuasai oleh mujahidin, maka kelompok-kelompok sesat tersebut diperlakukan secara bijak setelah dilakukan dakwah, menyingkap syubhat, usaha penyadaran, amar makruf nahi mungkar tanpa menimbulkan efek negatif yang lebih besar, seperti diusirnya para mujahid dari wilayah tersebut, atau memancing masa untuk melawan para mujahidin, atau memicu konflik yang akan dimanfaatkan oleh musuh untuk intervensi dan menjajah wilayah tersebut.

5-      Menghindari konflik dengan penganut agama Kristen, Sikh, dan Hindu yang berada di negara kaum muslimin, kalau mereka melakukan tindak kekerasan maka cukup dilawan seperlunya saja, dengan disertai penjelasan bahwa kita tidak ingin memulai konflik dengan mereka, sebab kita sedang sibuk melawan biang kekafiran internasional, selain itu kita sangat menginginkan hidup berdampingan dengan mereka dengan damai, tentram, dan penuh toleransi jika kelak berdiri Negara Islam sebentar lagi, insyaallah.

6-      Lebih luas lagi, hendaknya menghindari peperangan, konflik, atau serangan terhadap siapapun yang tidak menodongkan senjata kepada kita atau menjadi pendukungnya, serta fokus dalam melawan asosiasi salibis internasional yang secara otomatis juga kepada agen-agen mereka di sana.

7-      Menghindari pembunuhan dan perang saudara, bahkan sekalipun mereka adalah saudara dari orang yang memerangi kita sekalipun kalau memang bisa.

8-      Menghindari dari melukai umat Islam dengan bom bunuh diri, pembunuhan, penculikan, merusak harta, atau aset-aset mereka.

9-      Tidak menargetkan musuh yang berada di tempat-tempat umum semisal masjid, pasar, atau gedung-gedung pertemuan yang menjadi tempat tumpah ruang antara muslim dengan nonmuslim, atau siapa saja yang tidak memerangi kita.

10-   Berusaha sebisa mungkin untuk menghormati para ulama, dan membela kehormatan mereka, sebab mereka adalah pewaris nabi dan pemimpin umat, hal tersebut semakin wajib apabila ulama tersebut secara terang-terangan menyuarakan kebenaran dan rela berkorban demi kebenaran, perlawanan kita terhadap para ulama jahat (su’) cukup hanya dengan menampilkan kebatilan mereka saja, dan menyebarluaskan berbagai dalil yang meyakinkan kepada para pengikut mereka, dan jangan sampai di perangi atau di bunuh kecuali jika mereka terlibat dalam aktivitas memerangi umat islam dan para mujahidin.

11-   Sikap terhadap jamaah-jamaah islamiyah lain

  1. Tolong menolong dalam hal-hal yang sepaham, dan saling nasihat menasihati dalam hal-hal yang tidak sepaham.
  2. Prioritas dalam melakukan perlawanan terhadap musuh-musuh islam, karena itu tidak selayaknya perbedaan yang terjadi antara kita dengan gerakan-gerakan jihad lainnya menyebabkan kita menghentikan perlawanan terhadap musuh-musuh Islam baik secara militer, dakwah, wacana, maupun politik.
  3. Kita mendukung mereka, dan berterima kasih kepada mereka atas segala perkataan dan perbuatan yang mereka lakukan, dan kita menasihati mereka ketika mereka salah, jika bersifat rahasia maka secara rahasia, jika terang-terangan maka nasihatnya juga secara blak-blakan. Dengan tetap berusaha sekuat tenaga untuk meluruskannya dengan menjelaskan dalil-dalil dengan metodologi yang tepat, jauh dari subjektivitas dan stigma, sebab kekuatan terletak pada dalil bukan pada stigma.
  4. Apabila sebuah jamaah yang mengaku Islam mengalami dilema dan terlibat dalam pusaran konflik melawan orang kafir, maka hendaknya dibantu untuk meringankan derita mereka, demi menghindari perpecahan di tubuh umat Islam, atau supaya tidak berimbas negatif terhadap orang-orang yang tidak ikut dalam barisan musuh.

12-   Sikap terhadap revolusi kaum tertindas terhadap para penindas; mendukung-terlibat-memberipengarahan

  1. Mendukung: sebab mendukung orang yang dizalimi untuk melawan orang yang zalim merupakan kewajiban, baik yang dizalimi muslim ataupun nonmuslim
  2. Ikut Terlibat: sebab hal tersebut termasuk amar makruf nahi mungkar yang hukumnya adalah wajib.
  3. Memberi pengarahan: dengan cara mengingatkan bahwa tujuan dari setiap amal kita adalah untuk merealisasikan tauhid, dengan tetap berkomitmen dengan syariat, berhukum dengan syariatnya, dan berusaha mendirikan pemerintahan dan negara yang islami.

13-   Mendukung penuh siapa saja yang mendukung hak-hak umat Islam yang terlantarkan, dan berusaha melawan siapapun yang berbuat jahat terhadap umat Islam, baik dengan perkataan, sumbangan pemikiran, maupun amal riil. Serta menghindari menyerang mereka baik dengan tangan atau dengan stigma, selama mereka mendukung umat Islam dan tidak memusuhi umat Islam.

14-   Menjaga hak-hak umat Islam dan menghormati mereka di manapun mereka berada.

15-   Membantu siapa saja yang lemah dan tertindas, baik umat Islam maupun non-Islam untuk melakukan perlawanan, serta mendukung sepenuhnya siapa saja yang membantu mereka meskipun bukan orang Islam.

16-   Setiap tuduhan dusta yang dipandang oleh para mujahidin telah dihinggapi kepalsuan dan kebohongan, hendaknya mereka berusaha sekuat tenaga untuk menepisnya dan menjelaskan masalah yang sebenarnya.Setiap kesalahan yang dilakukan oleh mujahid hendaknya segera diikuti dengan istigfar dan berlepas diri dari kesalahan pelakunya, serta berusaha untuk mengganti pihak-pihak yang di rugikan secara syar’i sebisa mungkin.

17-   Kami meminta saudara-saudara amir dari cabang Al-Qaidahdi manapun, dan siapapun yang mendukung dan simpati kepada kami untuk menyebarluaskan nasihat-nasihat ini di kalangan internal, baik pimpinan maupun anggota. Sebab,nasihat tersebut bukan bersifat rahasia, tapi nasihat dan petunjuk umum serta arahan-arahan, tujuan dari nasihat tersebut tidak lain adalah untuk mewujudkan maslahatsyar’i dan menolak mafsadat (cari untung hindari kerugian) pada fase jihad sekarang ini, dengan ijtihad yang tidak menyelisihi ketentuan-ketentuan dan kaidah-kaidah syar’i.

Allah berada di balik segala yang kami rencanakan, dia yang menunjukkan jalan, mudah-mudahan shalawat tercurahkan bagi Nabi Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.

 

Ditulis karena Mencari Ridha Allah

Saudara kalian,

Aiman Azh-Zhawahiri

 

PANDUAN JIHAD UNTUK BERBAGAI WILAYAH

  1. A.        Suriah

Menurut Aiman Azh-Zhawahiri, Suriah merupakan satu dari dua tempat yang menjadi pintu utama dalam misi pembebasan Palestina. Dalam satu tahun terakhir, frekuensi penyebutan Palestina dalam setiap rilis Aiman Azh-Zhawahiri meningkat secara tajam. Tren ini, oleh Barat, dianggap merefleksikan keinginan kuat Azh-Zhawahiri untuk menempatkan Palestina sebagai pusat pembicaraan para jihadi, dan untuk memfokuskan usaha para jihadi menuju wilayah Israel.

       Pada tanggal 6 Juni 2013, As-Sahab merilis video Aiman Azh-Zhawahiri yang berjudul “65 Tahun Eksistensi Negara Penjajah Israel”. Dalam rilis tersebut, Azh-Zhawahiri menilai  bahwa dua pintu utama menuju pembebasan Baitul Maqdis dari penjajahan Israel adalah melalui Suriah dan Mesir.

Azh-Zhawahiri mengingatkan kepada para mujahid di Suriah yang ia sebut sebagai ‘Singa Syam’ akan pentingnya persatuan di bawah bendera ‘La Ilaha illallah’, yang dengannya mampu mengantarkan Shalahuddin Al-Ayyubi menuju pembebasan Baitul Maqdis. Ia juga mengingatkan fakta sejarah bahwa keberhasilan  Shalahudin membebaskan Quds dimulai dengan keberhasilan Nuruddin Zanki membebaskan Damaskus dan keberhasilan Shalahudin membebaskan Kairo sebelumnya.[6]

Suriah, menurut Zhawahiri, bisa menjadi launching pad(landasan luncur) bagi jihadi untuk melakukan serangan ke Israel. Azh-Zhawahiri menilai bahwa Suriah memiliki nilai strategis karena alasan sebagai berikut:

-          Pembebasan Palestina bergantung pada keberlangsungan jihad di Suriah. Dengan kata lain, Suriah adalah kunci dalam pembebasan Palestina.

-          Berdirinya kembali Khilafah Islam bergantung pada kedatangan umat Islam di Suriah.

-          Partisipasi jihad di Suriah sangat diperlukan untuk menggulingkan rezim Alawi.

-          Suriah bisa menjadi ladang pertempuran yang baru melawan Amerika Serikat.

-          Jihad di Suriah juga bisa menjadi cara untuk menggagalkan usaha ekspansi Syiah Iran.

Azh-Zhawahiri memandang jihad di Suriah sebagai peluang bagi jihadi untuk mengembangkan basis operasi jihad melawan Israel. Saat rezim Assad berhasil digulingkan, kata Azh-Zhawahiri, kondisi akan jadi optimal untuk ditegakkannya negara Islam di Suriah, yang nantinya akan menjadi magnet bagi umat Islam dari penjuru dunia untuk berpartisipasi dalam jihad melawan Israel. Selain itu, negara Islam yang didirikan di Suriah juga akan dengan mudah mendapatkan bantuan logistik, finansial, dan militer dari Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS).

Azh-Zhawahiri juga memperingatkan bahwa Amerika Serikat dan sekutunya akan berusaha untuk mendirikan pemerintahan baru di Suriah jika Basyar Al-Asad terguling -sebuah pemerintahan yang nantinya akan loyal pada Barat, bisa melakukan penjagaan atas keamanan Israel, serta berusaha untuk mencegah diterapkannya Syariat Islam di Suriah.

Karenanya, Azh-Zhawahiri menyerukan kepada para mujahidin di Suriah untuk merapatkan barisan dan tidak meletakkan senjata sampai Suriah menjadi negara Islam yang akan membantu terwujudnya kembali khilafah Islamiyah, menerapkan keadilan, memerangi korupsi, dan membebaskan Palestina.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Azh-Zhawahiri menyerukan kepada seluruh umat Islam untuk membantu jihad Suriah, baik dengan datang langsung berjihad di sana atau dengan mengirimkan bantuan finansial. Dukungan tersebut, kata Azh-Zhawahiri, bersifat fardhu ‘ain,dimana hal tersebut tidak bisa diserahkan begitu saja kepada pemerintah, atau masjid, atau siapa pun, tapi sesuatu yang wajib dilakukan atau mendapatkan hukuman dari Allah jika menolak.

Menanggapi pernyataan Azh-Zhawahiri tersebut, beberapa analis Barat menanggapi bahwa Aiman Azh-Zhawahiri bersama dengan Al-Qaidah-nya sepertinya menjadikan Suriah sebagai prioritas utama jihad di dunia saat ini. Seruan dan tekanan yang sama tidak diberikan untuk Aljazair, Somalia, Mali, Afghanistan, Irak, Yaman, dll.[7]

  1. B.        Palestina

Aiman Azh-Zhawahiri memandang bahwa tidak ada solusi bagi Palestina kecuali dengan jihad. Ia menyerukan kepada umat Islam di Palestina untuk bersatu menerapkan Syariat Islam di sana, menjadikannya hukum di atas hukum yang lain, dan membebaskan Quds untuk kemudian mendirikan Negara Islam, meskipun Barat membencinya dan menuduhnya sebagai bentuk terorisme dan ekstremisme.

  1. C.        Mesir

Dalam pernyataan yang dirilis pada bulan Agustus 2013 silam, Aiman Azh-Zhawahiri memberikan tanggapan terkait dengan kudeta yang terjadi di Mesir. Ia menyerukan kepada Ikhwanul Muslimin untuk meninggalkan demokrasi dan berjhad dalam rangka menegakkan Islam di negeri tersebut.

       Azh-Zhawahiri menegaskan bahwa ada 2 (dua) perkara penting yang sering dilupakan oleh para demonstran dan pemrotes:

       (1) Karakter ideologi dalam perseteruan. Maksudnya, perseteruan yang terjadi bukanlah perseteruan antara partai-partai politik yang terikat dengan rasa nasionalisme, namun lebih kepada perseteruan antara keimanan dan kekufuran; antara menyerahkan hak menetapkan undang-undang (Al-Hakimiyyah) hanya untuk Allah semata dan menyerahkannya kepada selain-Nya;

       (2) Karakter realitas perseteruan. Realitas perseteruan yang terjadi bukanlah antara partai-partai nasionalis yang saling berlomba, namun perseteruan antara Salibis yang berkolaborasi dengan Zionis dalam satu kubu berhadapan dengan Islam dan umat Islam pada kubu lainnya.[8]

       Azh-Zhawahiri mengingatkan bahwa pemerintahan Muhammad Mursi diturunkan bukan karena ia merupakan pemerintahan Ikhwanul Muslimin, namun karena pemerintahan tersebut paling tidak masih memakai atribut keislaman. Meskipun pemerintahan Ikhwanul Muslimin telah sekuat tenaga untuk mencari kerelaan Amerika dan kalangan sekuler, namun mereka tetap tidak rida dan tetap tidak percaya terhadap pemerintahan tersebut.

       Mereka tidak pernah lupa terhadap slogan Ikhwanul Muslimin: Al-Jihadu Sabiluna wa Al-Mautu fi Sabilillahi Asma Amanina (Jihad adalah jalan kami dan mati di jalan Allah adalah cita-cita kami tertinggi), meski Ikhwanul Muslimin sendiri telah mengubah slogan tersebut dan menggantinya dengan Al-Islam Huwa Al-Hall(Islam adalah solusi satu-satunya), tetapi kalangan salibis dan sekuler tidak akan pernah melupakan slogan tersebut.[9]

       Buktinya, masih menurut Azh-Zhawahiri, meski Ikhwanul Muslimin telah terjun dan masuk dalam keseluruhan pemilu dan referendum serta berhasil menuai hasilnya; baik dalam ranah yudikatif, legislatif, dan eksekutif, namun kalangan salibis dan sekuler tetap melucuti dan tidak menerima pemerintahan mereka.

       Pun demikian, meski mereka tidak menerapkan syariat Islam dan menerima ideologi kebangsaan, negara nasionalis, nasionalisme, dan rakyat sebagai sumber segalanya; meski mereka menjunjung tinggi peradilan konvensional yang rusak; meski mereka mengakui kedaulatan undang-undang yang merusak; serta meski mereka menghargai berbagai perjanjian internasional, kesepakatan, serta perdamaian dengan Israel, juga perjanjian-perjanjian keamanan dengan Amerika; meski mereka melakukan seluruhnya, tetap saja kalangan salibis dan sekuler menolak mereka.

       Apakah mereka pura-pura lupa bahwa demokrasi merupakan monopoli Barat dan bukan diperuntukkan bagi orang-orang yang berafiliasi untuk program keislaman meski mereka mempertaruhkan segala sesuatunya? Mereka tidak akan pernah memetik hasilnya kecuali dengan satu syarat; yaitu menjadi budak Barat; baik dari segi pemikiran, aksi, politik, dan ekonominya.[10]

       Azh-Zhawahiri juga menambahkan bahwa syar’iyyah (legalitas) tidak didapatkan dari pemilu demokrasi, namun legalitas itu adalah syariat Islam itu sendiri. Oleh sebab itu, sesuatu yang keluar dari rel syariat, sesungguhnya ia telah keluar dari legalitas; dan tunduk terhadap hukum syariat merupakan pengejawantahan dan selaras dengan legalitas; serta legalitas yang seharusnya dibela dan dipegang erat-erat adalah kedudukan dan ketinggian syariat Islam sebagai undang-undang yang digunakan untuk memutuskan berbagai permasalahan dibandingkan dengan undang-undang lainnya.

       Dari situ, legalitas yang sebenarnya bukan sekedar terpilihnya atau meminta dikembalikannya Mursi sebagai presiden bagi Negara Sekuler-Nasionalis.[11]

       Selain itu, Azh-Zhawahiri mengajak umat Islam; terkhusus yang berada di Mesir, untuk menyatukan kalimat mereka dalam tauhid; membuang setiap sarana dan jalan yang menegasikan hakimiyyah syariat; menyatukan langkah dalam gerakan dakwah massal yang bersifat dukungan untuk menjadikan syariat sebagai penguasa, bukan yang dikuasai; sebagai pemerintah, bukan yang diperintah; dan sebagai pemimpin, bukan yang dipimpin.

       Umat seharusnya menolak perjanjian-perjanjian perdamaian dan implementasinya dengan Israel dan perjanjian-perjanjian keamanan dengan Amerika, serta menolak setiap bentuk penyimpangan dari Islam dan bentuk pengekoran terhadap musuh-musuh umat.

       Secara khusus, Azh-Zhawahiri juga mengajak kepada para tentara Al-Quran (Junud Al-Mushhaf) untuk terjun ke medan pertempuran Al-Quran (Ma’rakah Al-Mushhaf), sebagaimana yang diserukan oleh Imam Hasan Al-Banna Rahimahullah.[12]

  1. D.        Tunisia

Aiman Azh-Zhawahiri mengeluarkan pernyataan terkait dengan Tunisia dalam sebuah rilis pada tanggal 10 Juni 2012. Ia menyerukan kepada bangsa Tunisia untuk mendukung penegakan Syariat Islam dan berhukum dengan hukum Allah. Azh-Zhawahiri juga memberi tanggapan atas sikap Partai An-Nahdhah, partai Islam yang dianggap moderat, yang saat ini mendominasipolitik Tunisia dan diduga berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, yangmana An-Nahdhahmemutuskan untuk tidak menerapkan Syariat Islam sebagai sumber hukum demi tercapainya rekonsiliasi di negeri tersebut.

       Azh-Zhawahiri menyebut keputusan tersebut seperti rumah sakit yang tidak mau merawat pasien, atau perusahaan farmasi yang tidak mau menjual obat, atau tentara yang tidak mau berperang, atau partai komunis yang tidak mau menyebarkan paham-paham komunisme, atau kelompok sekuler yang bertekad untuk tidak akan menerapkan ideologi mereka. “Kalian tidak akan pernah lihat hal itu,” kata Azh-Zhawahiri, “dan yang paling ajaib adalah melihat pemimpin sebuah kelompok yang menyatakan diri sebagai kelompok Islam namun tidak menganjurkan untuk diatur dengan aturan Islam.”

       Terakhir, Azh-Zhawahiri berkomentar,“Para pemimpin An-Nahdhah menyebut diri mereka sebagai Islam moderat dan tercerahkan. Mereka mencoba menciptakan ‘Islam’ yang menyenangkan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat, Uni Eropa, dan ulama-ulama rezim Teluk. ‘Islam’ yang berdasarkan permintaan: mengizinkan klub judi, bank ribawi, undang-undang sekuler, ketundukan pada hukum internasional. ‘Islam’ yang tanpa jihad,tanpa menyerukan kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. ‘Islam’ yang tanpa loyalitas pada orang-orang beriman dan permusuhan pada orang-orang kafir.”

(K. Mustarom)



[1] Clint Watts, “Zawahiri’s Latest Message: Please Listen To Me Jihadis, Stop Bickering”, Foreign Policy Research Institute, 14 Oktober 2013, http://www.fpri.org/geopoliticus/2013/10/zawahiris-latest-message-please-listen-me-jihadis-stop-bickering (diakses 21 Oktober 2013)

[2]Lihat http://www.ctc.usma.edu/posts/zawahiris-letter-to-zarqawi-english-translation-2

[3]“Al Qaeda leader urges restraint in first 'guidelines for jihad”, reuters, 16 September 2013, http://www.reuters.com/article/2013/09/16/us-security-qaeda-idUSBRE98F0I920130916 (diakses 23 Oktober 2013)

[4]“The doctor’s advice: Zawahiri issues  jihad guidelines”, dawn.com, 19 September 2013, http://dawn.com/news/1043956/the-doctors-advice-zawahiri-issues-jihad-guidelines (diakses 23 Oktober 2013)

[5]Montasser Al-Zayat,”Ayman al-Zawahiri As I Knew Him”, 2006, h.29

[6]Nuruddin Zanki (1118-1174) berhasil menyatukan Damaskus ke dalam wilayah kepemimpinannya pada tahun 1154. Proses penyatuan Damaskus berlangsung cukup lama, yaitu sejak tahun 1149, ketika Mu’inuddin Unur wafat. Pengambilalihan kota ini dilakukan oleh Nuruddin karena penguasa kota ini tidak mau membantunya berjihad dan malah menjalin kerjasama dengan kekuatan salibis yang menguasai Yerusalem waktu itu.

[7]Aaron Lund, “Ayman al-Zawahiri Rants about Syria,” www.Joshualandis.com, 6 Juni 2013, http://www.joshualandis.com/blog/ayman-al-zawahiri-rants-about-syria/ (diakses 8 Oktober 2013)

[8]Lihat transkrip pesan audio Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri yang berjudul ‘Shanam Al-‘Ajwah Ad-Dimuqraathi’, hal. 6. http://www.gulfup.com/?5TCSZe

[9]Ibid, hal. 5.

[10]Ibid, hal. 5-6.

[11]Ibid, hal. 5.

[12]Ibid, hal. 6.