Peran Penting Media dalam Menyuarakan Jihad

31 October 2013

"Di saat Amerika terfokus memerangi mujahidin kita di pegunungan Afghanistan dan jalan-jalan di Irak, media jihad dan pendukungnya berada pada gigi lima (kecepatan tinggi). Ribuan produk media Jihad diproduksi dan tersebar baik melalui internet maupun dunia nyata. Sesuatu yang dihasilkan ribuan meter di atas di pegunungan Afghanistan akan didapati telah didistribusikan di jalan-jalan London dan California. Ide-ide yang disebarluaskan dari bibir pemimpin mujahidin ternyata telah tersebar di Madrid dan Times Square."(Samir Khan, "The Media Conflict", Inspire Magz Vol.VII, Spring 2011)

 

Dalam sebuah artikel yang ditulis di majalah online berbahasa Inggris milik AQAP (Al-Qa’idah in Arabian Penninsula),[1]Samir Khan mengutip kata-kata tersebut. Lebih lengkapnya ia menceritakan:

“Saya teringat akan sebuah nasehat yang sangat berkesan hampir dua tahun yang lalu di saat saya berdiri di depan Amir Al-Qaidah di Jazirah Arab, Syekh Abu Bashir Al-Wuhaisyi. "Ingat," ujarnya sementara di latar belakang nampak para mujahidin lainnya sedang sibuk bekerja di depan komputer mereka,“Pekerjaan media adalah setengah dari jihad. ”

Beliau mengulangi kata-kata Syekh Usamah bin Ladin, kata-kata yang mengingatkan saya akan sebuah dunia yang tak terungkapkan yang telah membentuk kehidupan jutaan orang di seluruh dunia berkat beberapa orang di depan komputer mereka dan orang-orang yang memenuhi janji mereka kepada Allah.

Saya tahu bahwa media jihad sangat penting bagi mujahidin, hanya saja saya belum bisa memastikan seberapa penting ini bagi mereka. Sampai saat seorang ikhwan menjelaskan kepada saya dengan penuh keyakinan,‘Sebuah produk media yang penuh kekuatan itu sama seperti sebuah operasi serangan kepada Amerika’. ”

Sebenarnya, para mujahidin menyadari bahwa mereka dalam posisi underdog pada peperangan media. Namun, kondisinya seperti yang pernah disampaikan mantan PM Inggris Tony Blair. Dengan jelas ia mendeskripsikan hal ini dalam wawancara dengan BBC saat mendiskusikan tentang perang melawan mujahidin,“Kita telah mempelajari bagaimana memeranginya tetapi kita belum dapat menghancurkan ideologinya. ”

Penyebaran ide-ide dan propaganda kontinu dari kelompok jihadi mungkin yang paling mengintimidasi AS. Orang tentu akan mengalami suatu akhir (kematian), tapi ide dan pemikiran itu tahan peluru dan mampu bertahan hidup dalam waktu yang amat lama. Peristiwa 11 September memaksa AS untuk menembak sesuatu yang tidak akan mati—dan inheren dalam tubuh umat Islam—yaitu jihad itu sendiri.

Selanjutnya, Samir Khan menyampaikan, ada tiga hal yang menjadi fokus para mujahidin pada media mereka yaitu : kualitas dan isi produksi, keamanan Internet dan strategi penyebaran media.

Michael Scheuer mantan agen CIA mengomentari film “The Image War”, sebuah film dokumenter tentang Al-Qa’idah yang ditayangkan di stasiun TV Al Jazeera, ia mengatakan, “Propaganda mereka membuat kita terjungkal ke dalam neraka, setiap waktu setiap saat. Kita bahkan tidak sedang bermain di liga yang sama.”

 

Bagaimana AS melancarkan propaganda media pada fase awal

Strategi Pemerintah AS pada fase-fase awal setelah 11 September digambarkan oleh Douglas Kellner, dalam bukunya From 9/11 to Terror War: The Dangers of The Bush Legacy (Rowman & Little field: 2003). Dalam bab “9/11, The Media, and War Fever”, penulis menggambarkan bagaimana Pemerintah AS melakukan propaganda dengan upaya melegitimasi alasannya untuk melancarkan perang, baik di Afghanistan maupun Irak.[2]

Tulisan Douglas Kellner ini mencoba untuk memberikan analisis mengenai peran media dalam mengkonstruksi opini publik Amerika Serikat dalam peristiwa 11 September. Serangan ini menjadi begitu penting dan vital dikarenakan sebagai rangkaian dari berbagai peristiwa seperti pembajakan pesawat, melakukan operasi penabrakan pesawat menyerang infrastruktur yang memiliki arti simbolik yang penting, merepresentasikan kekuatan modal global dan kekuatan militer Amerika Serikat. Serangan 11 September ini juga menyimpan pesan penting kepada publik global bahwa pertahanan Amerika Serikat dapat ditembus oleh kelompok jihadi.[3]

Media juga memiliki peranan dalam meningkatkan intensitas psikologis publik akan peristiwa 11 September, jaringan televisi nasional kemudian menyorot berbagai peristiwa yang akan menggugah simpati publik akan peristiwa 11 September. Rekaman video ketika pesawat menubruk gedung World Trade Center, detik-detik ketika salah satu gedung runtuh dalam kobaran api dan asap, orang-orang yang berusaha lompat keluar gedung untuk menyelamatkan nyawanya, teriakan orang-orang yang histeris dan putus asa melihat tragedi keruntuhan gedung WTC.

Tentu saja memori-memori ini tidak mudah untuk dilupakan dari ingatan publik Amerika Serikat dan bahkan juga publik dunia. Siapapun yang menjadi saksi hidup dari tragedi 11 September akan mendapatkan memori kolektif yang kuat, sangat simbolik dan ironik layaknya peristiwa pembunuhan John F. Kennedy, kematian Lady Diana, foto-foto mengenai kekejaman perang Vietnam, dan akan menjadi memori yang tidak mudah dihapuskan.[4]

Peranan penting yang dilakukan media dalam tragedi ini adalah melakukan framingissue yang kuat bahwa ini merupakan serangan militer dan kemudian harus direspon dengan serangan militer yang lebih besar. Peter Jennings dari ABC News menyatakan, “Respons militer yang harus dilakukan harus massif untuk mendapatkan hasil yang efektif”. Respons lain yang diberikan seperti pernyataan NBC News yang menyarankan tindakan militer seharusnya diambil oleh pemerintah untuk membalas serangan ini. Hal lain yang dilakukan adalah seperti CNN yang memberikan penegasan dalam setiap breakingnews mengenai 11 September dengan caption “Attack On America” atau slogan-slogan agresif yang digunakan dalam setiap beritanya.[5]

Dari sisi rezim pemerintahan Bush kita juga dapat menganalisis berbagai hal yang bisa dilihat sebagai upaya untuk melakukan framingissue dalam 11 September. Penyebutan “evil” kepada kelompok teror Al-Qaidah, dan melakukan penyebutan kata ini berulang kali dalam setiap pernyataan publiknya yang disiarkan melalui jaringan berita televisi. Bush mencoba untuk membingkai konflik ini sebagai peperangan antara kebaikan dan kejahatan dan memosisikan Amerika Serikat sebagai “pahlawan yang akan mengalahkan semua kejahatan di dunia ini”, “mengusir, mengejar orang-orang jahat, orang-orang barbar itu”. Bush juga menggunakan istilah-istilah seperti “Bin Laden Dead Or A live” dan mengampanyekan perang melawan terorisme ini sebagai Perang Salib. (“This war. . . this crusade. . . . “)

Apa yang terjadi di media televisi juga terjadi di pemberitaan radio. Siaran-siaran di radio berubah menjadi sangat propagandis dan meningkatkan histeria dan kemarahan publik. Ditandai dengan adanya siaran yang menyebarkan kebencian terhadap orang Arab dan orang Islam, munculnya tuntutan akan penggunaan senjata nuklir dan peperangan global terhadap Islam. Fenomena ini bahkan juga menyebar pada radio mainstream yang menjadi dramatik dengan pengulangan lagu-lagu nasional Amerika Serikat, slogan-slogan patriotisme, dan berbagai propaganda perang.

Media-media di Amerika Serikat mengalami gejala kecanduan perang pasca peristiwa 11 September ini dan munculnya gejala patriotisme yang berlebihan, sesuatu yang hilang sejak Perang Dunia II. Media kemudian melakukan framing ulang mengenai posisi politik Amerika yang tadinya “America Under Attack” kemudian berubah menjadi “America Arising”, “America Strikes Back” dan “America’s New War”.

Bahkan sebelum adanya keputusan mengenai operasi militer, media telah terlebih dahulu mempropagandakan tindakan perang kepada publik. Rezim pemerintahan Bush juga melakukan sensor dan tekanan kepada pihak-pihak yang mengeluarkan kritik terhadap kebijakan perang yang diambil oleh Bush.

Kolumnis Oregon Daily Courier, Dan Gutherie, mengaku jika dia dipecat dikarenakan tulisannya pada artikel “Hidingin a Nebraska Hole” yang berisi kritik terhadap kebijakan pasca 11 September. Pada kasus lain ada Tom Gutting, editor dari Texas City Sun, yang dipecat karena mengkritik perilaku dan respons Bush pada hari terjadinya serangan 11 September. Dalam dunia akademik, kita menemukan kasus konflik antara Larry Faulkner dari University of Texas dengan aktivis jurnalisme Bob Jensen, dikarenakan kritik Jensen atas kebijakan perang Bush. Belum lagi intervensi yang dilakukan Lynne Cheney, istri dari wakil presiden AS saat itu, yang melakukan serangkaian intervensi kepada aktivis dan akademisi yang mengkritik kebijakan perang rezim Bush.

Dari apa yang dipaparkan oleh Douglas Kellner ini kita dapat melihat bagaimana media memberikan peran penting dalam mendukung satu kebijakan politik yang dikeluarkan oleh suatu rezim pemerintahan. Dalam kasus 11 September ini kita dapat melihat bahwa media di Amerika Serikat dapat melakukan pembentukan opini, framingissue, dan propaganda perang.

Pembentukan opini dalam peristiwa 11 September ditandai dengan adanya slogan-slogan “America Under Attack” “America On War” di mana opini publik dibentuk bahwa negara sedang mengalami serangan, negara sedang dalam kondisi berbahaya. Pembentukan opini juga dilakukan dengan adanya upaya untuk melakukan serangan balasan yang lebih besar, adanya opini akan operasi militer kepada kelompok teror dan negara-negara yang mendukung atau melindungi kelompok teror tersebut.

Framingissue yang terlihat tegas adalah ketika media secara berulang-ulang memperkuat identitas antara AS dengan musuh-musuhnya. Istilah “evil” yang disematkan kepada kelompok teroris dapat dilihat sebagai upaya framingissue yang dikuatkan oleh jaringan media untuk menegaskan framing yang dikeluarkan oleh rezim Bush kepada kelompok teror. Kemudian juga media menjadi alat propaganda perang yang dominan dan digunakan oleh rezim Bush sebagai alat kontrol untuk mempengaruhi persepsi publik AS atas justifikasi kebijakan perang yang diambil. Ketika mulai muncul pertanyaan mengenai korban sipil yang jatuh dalam serangan AS ke Afghanistan dan Irak, media memainkan peranan penting untuk terus menjaga memori korban sipil pada serangan 11 September, sehingga muncul persepsi bahwa jatuhnya korban sipil di Afghanistan dan Irak sebagai balasan atas korban sipil di 11 September.

Dari sini kemudian dapat dinilai bahwa media memainkan peranan penting dalam mendukung kebijakan politik suatu rezim, pada akhirnya media digunakan sebagai ideologi calapparatus, meminjam bahasa Louis Althusser, di mana media hanya dijadikan sebagai alat, sebagai aparat untuk menjaga kepentingan dan stabilitas dari rezim berkuasa. Posisi media pada peristiwa 11 September juga meruntuhkan argumen mengenai prinsip-prinsip impartial, coverbothsides, dan independensi media.

Fakta di atas dengan jelas memperlihatkan bagaimana media diposisikan sebagai kepanjangan tangan dari kepentingan rezim, atau sebuah titik kompromistis antara pemilik modal dengan rezim penguasa.

Evaluasi Media Jihadi

Abu Saad Al-Amili, seorang pengarah (mentor) jihad yang cukup ternama di forum-forum jihad dan aktif di media sosial internet, memberikan arahan tentang bagaimana seharusnya media jihad dikelola. Apa yang ditulisnya dalam artikel “Waqi’ wa Daur Al-I’lam Al Jihadi” (Realitas dan Peran Media Jihadi) menjelaskan pentingnya peran dan fungsi Media Jihadi di tengah-tengah umat.

Dia mengatakan bahwa para administrator dari Media Jihadi harus menyadari bahwa mereka adalah bagian tak terpisahkan dari tentara Ahlul Haq yang siap bertemu musuh, melancarkan Jihad Ofensif (Jihad Thalab) ke tengah-tengah medan pertempuran umat ini dan tidak hanya menerapkan Jihad Defensif (Jihad Difa’i). Kita telah melalui suatu fase defensif dan seluruh perdebatan di sekitar persoalan ini telah menarik perhatian musuh. Mereka menggunakannya untuk melumpuhkan Jihad Ofensif, yang memang merupakan ujung paling tajam dari senjata yang dimiliki umat Islam.

Beliau melanjutkan penjelasannya, bahwa hari ini musuh telah memobilisasi berbagai batalion dari media sihir dengan target mengembangkan citra buruk para mujahidin dan menciptakan fitnah terhadap Jihad mereka yang mulia. Propaganda mereka yang berupa penyesatan telah menghantam dengan keras Jihad yang penuh berkah ini dan menyebabkan terhambatnya atau tertundanya proyek-proyek jihad, sesuai dengan takdir Allah yang mana hanya Dia yang tahu hikmahnya.

Pada akhirnya, Allah menghendaki untuk mengungkap kemunafikan berbagai media tersebut, yaitu wajah jelek mereka terpampang di hadapan umat ini. Semua ini terjadi dengan izin Allah, melalui upaya berbagai Media Jihadi. Musuh tidak bisa lagi secara leluasa menyebarkan fitnah dengan menggunakan media penipu ini, karena para Mujahidin dan para pendukung mereka, melalui Media Jihadi, telah memasuki arena ini dari pintu dan jalan masuk yang berbeda-beda, dengan jumlah yang begitu banyak sehingga musuh tidak dapat membendung mereka.

Selalu ada celah di mana kalimat kebenaran dapat disampaikan, kepalsuan dihancurkan, seluruh gambar dari medan perang dapat dipublikasikan dan kelemahan musuh (yang semua ini untuk sementara telah disembunyikan) bisa tersingkap. Sedemikian besar jumlahnya sehingga musuh semakin bingung dan panik dalam menghadapi gelombang Jihad yang penuh berkah ini.

Menurutnya, kita telah menyaksikan kemampuan mengesankan dari mimbar-mimbar Media Jihadi yang semakin meningkat. Kita dapat mengukur tingkat pengaruhnya dengan mengevaluasi bagaimana musuh menghadapi mereka. Musuh berupaya keras dengan seluruh sumber daya yang bisa mereka kerahkan untuk menghentikan semua Media Jihadi ini, dengan memotong komunikasi mereka (media jihadi) dengan masyarakat umat ini dan masyarakat mereka sendiri.

Syekh Abu Saad Al-Amili juga menyatakan bahwa salah satu kesulitan yang dihadapi Mujahidin selama ini adalah masalah komunikasi; apakah diantara mereka atau dengan para pendukungnya. Beliau kemudian melanjutkan bahwa keberadaan media jihad yang semakin banyak adalah anugerah dari Allah SWT yang dengan keberadaan media jihad tersebut Mujahidin bisa berkomunikasi satu dengan yang lain dalam rangka menolong agama Allah.

 

Keberadaan media jihad, sebagaimana beliau sampaikan, semenjak awal dirintisnya dimaksudkan untuk menyebarluaskan program-program Mujahidin dan perjuangan mereka. Lebih jauh, media jihad berjuang untuk menyebarkan berita yang benar dan realitas yang jujur tentang Jihad, dan melalui media jihad ini juga persiapan, penghimpunan bekal, hingga rekrutmen Mujahid dilakukan melalui usaha media yang terorganisasi, teratur dan aman.

Syekh Anwar Al-Aulaki dalam 44 Cara Mendukung Jihad menjelaskan bahwa kaum Muslimin dapat membantu atau mendukung jihad dengan jalan memantau dan menyebarkan berita tentang jihad para Mujahidin.

Beliau menjelaskan agar kita terus mengikuti informasi-informasi tentang perjuangan para Mujahidin sangat penting bagi kaum Muslimin;

- Agar semangat jihad tetap menyala di hati kaum Muslimin -memperkuat rasa solidaritas pada sesama umat Islam-

- Mendorong kaum Muslimin untuk ikut berjihad ketika kita melihat tindakan para mujahidin yang pemberani-pemberani itu dan mendorong kaum Muslimin untuk rela mati syahid.

- Kaum Muslimin akan melihat kebesaran Allah, bagaimana Allah melindungi hamba-hambanya dan memberi mereka kemenangan.

-  Mendorong kaum Muslim untuk banyak membaca sejarah atau buku-buku Fiqih tentang Jihad. Sehingga memahami bagaimana para mujahidin mempraktekkan jihad berdasarkan petunjuk-petunjuk fiqih.

-  Pemberitaan tentang jihad adalah pemberitaan tentang kebaikan melawan kejahatan, yang sudah ada sejak masa Nabi Adam dan akan terus ada sampai akhir dunia. Ketika kaum Muslimin mengikuti informasi tentang perjuangan jihad para mujahidin, mereka akan menjadi lebih dekat dengan al-Quran dibandingkan dengan mereka yang tinggal di Menara Gading dan tidak peduli dengan berita-berita tentang jihad para mujahidin.

Syekh Al-Awlaki juga mengingatkan agar kaum Muslimin mengikuti informasi tentang perjuangan para mujahidin dari sumber-sumber yang asli. Karena jika kita menyebarkan informasi yang tidak benar, kita sama saja dengan kaum munafik. Allah berfirman dalam Al-Qur’an:

“Dan apabila datang kepada mereka tentang berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya pada rasul dan ulil amri diantara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya akan dapat mengetahuinya dari mereka (rasul dan ulil amri). ” (An-Nisa’: 83)

Pesan untuk Media Jihad

Syekh Abu Sa’ad Al-Amili melanjutkan pesan dan nasihat berharganya kepada media Islam. Secara umum, beliau melihat Media Jihadi membutuhkan improvisasi dan pengembangan tanpa henti melalui segenap para ahli kaum Muslimin di bidang masing-masing. Selain itu, media Islam juga harus lebih meningkatkan koordinasi, profesionalisme, dan menyempurnakan barisannya, agar dapat menunaikan kerja-kerja media yang terorganisasi dengan baik, menepati perencanaan dan jadwal yang terarah, dan di bawah kepemimpinan yang waspada dan berjalan di atas petunjuk kebenaran, sebagaimana amal-amal jihadi di medan perang.

Peran yang dimainkan oleh media jihad sangat jelas, yakni untuk menghimpun dukungan moral, spiritual, dan logistik kepada tentara kita yang tengah berperang. Media jihad juga memberikan kontribusi yang besar dalam operasi dakwah dan i’dad; juga dalam front peperangan psikologi tanpa henti, dengan menebarkan kebingungan di barisan musuh dan menanamkan teror di hati mereka. Apa yang mereka lakukan setaraf atau sepadan dengan yang telah dilakukan segenap Ikhwan Mujahidin di front pertempuran.

Pertama, Syekh menasihati agar media-media Islam meneruskan kerja dengan dedikasi penuh dan keteguhan baja. Jadikan seluruh manusia tahu dan memahami, bahwa kesatuan media jihadi adalah salah satu batalion dari batalion-batalion Jihad, kesatuan tentara dari kumpulan tentara yang sama, salah satu muka dari satu koin Jihad yang sama. Amal yang dilakukan sepadan dengan pertempuran yang dikobarkan di garis depan, karena front terdepan peperangan dengan front media jihadi adalah dua sisi dari koin uang yang sama.

Kedua, media jihad diharap selalu mengembangkan metode kerja, dan (tak kalah penting) bagaimana materi-materi media Jihadi dapat tersebar luas dan terdistribusi; di sisi lain meningkatkan keamanan dan metode perlindungan, sehingga dapat meneruskan kerja-kerja, dan pada saat yang sama melindungi serta mengamankan rahasia segenap ‘member’ dan penulis dari intaian para thaghut. Sungguh, nilai dan arti penting mereka terhadap proyek jihadi tidak kalah dengan para prajurit di medan tempur.

Ketiga, lipat gandakan dan konsolidasikan koordinasi dengan segenap mimbar Jihadi dan website yang ada, dengan tujuannya untuk saling berbagi pengalaman; bekerjasama dalam bidang yang ada dan keahlian untuk melayani Jihad dan Mujahidin. Sehingga tidak ada masa kosong terjadi. Jika satu mimbar (karena suatu hal) absen, maka yang lain melanjutkan aktivitasnya sehingga Mujahidin tidak terputus berkomunikasi dengan seluruh pendukungnya.

Selanjutnya, media jihad harus mengokohkan hubungan dengan Mujahidin, meningkatkan berbagai saluran komunikasi yang mungkin; berkomunikasi dengan mereka dan menjaga keamanan dan kerahasiaan. Sehingga dapat segera memublikasikan berbagai hal dari Mujahidin, atau segera mengingatkan Mujahidin tentang berbagai perkembangan terkait masa depan Jihad. Tidak lupa, segenap mimbar dan forum jihadi ini harus melindungi dan menjaga sebaik-baiknya informasi tentang ‘member’ mereka. Jangan lupa, kekuatan dan ketahanan mereka terletak pada keamanan; dan motivasilah seluruh ‘member’ untuk meningkatkan kreatifitas, dan produktifitas yang bermanfaat bagi kebangkitan Jihad ini.

 Menjadi Mujahid Internet

Syekh Anwar Al-Awlaki menambahkan dalam 44 Cara Mendukung Jihad bahwa perlu untuk menyediakan informasi pada para ulama dan imam dengan berita-berita tentang perjuangan para mujahidin.

Hal ini dilakukan, karena ulama atau cendekiawan bukan berarti mereka tahu segalanya. Para imam dan ulama harus disediakan material dan informasi-informasi yang bagus. Mereka juga harus dibekali pengetahuan dan informasi tentang perjuangan para mujahidin. Umat harus sering-sering mengingatkan atau berdiskusi tentang isu-isu terbaru perjuangan para mujahidin dan hindari pertanyaan-pertanyaan kontroversial yang terkesan mengkonfrontasi mereka. Berikan saran pada para imam agar membahas isu-isu terbaru perjuangan para mujahidin dalam khutbah-khutbah mereka.

Bahkan Syekh Al-Awlaki memotivasi agar kaum Muslimin bisa menjadi “mujahidin internet” dengan cara menggunakan media dunia maya untuk menyebarluaskan seruan jihad dan berita-berita tentang perjuangan para mujahidin. Bisa dengan cara membuka forum diskusi, email, membuat situs internet, menulis artikel tentang mujahidin dan perjuangannya, dan lain-lain.

Syekh Abu Sa’ad Al-Amili meyakini bahwa keberadaan media jihad banyak sisi positifnya, yakni bisa memecahkan pengepungan besar yang mengikat umat Islam, menghancurkan belitan gurita media, dan mampu menyampaikan kebenaran kepada putra-putra umat dan mengungkapkan tipu daya musuh, menyingkap rencana mereka, serta kekesalan dan kekalahan mereka dalam medan perang ketika menghadapi Mujahidin.

 Adapun beberapa kendala serta rintangan yang harus diatasi dan disingkirkan agar media jihad dapat membawa manfaat yang lebih besar lagi, adalah :

Kader media dan kapabilitasnya harus dilipatgandakan di barisan Mujahidin, agar perimbangan kekuatan akan semakin memihak Mujahidin dalam bidang media, dan berbagai upaya harus dilakukan untuk menguasai teknologi yang lebih baik, dan agar dapat menciptakan pengaruh psikologis yang lebih kuat, baik kepada para pendukung maupun pada pihak lawan.

Selanjutnya, para pendukung dan putra-putra Ummah harus bermurah hati untuk menyediakan pendanaan yang memadai untuk menutupi kebutuhan dan biaya media Jihad. Kita mengetahui, agar mampu mengimbangi media musuh, segenap media Jihad kita memerlukan teknologi yang lebih maju untuk semakin mengembangkan dirinya, sehingga media kita mampu mengatasi berbagai halangan yang dipasang musuh untuk menyampaikan secara utuh dan sempurna berbagai gambaran tentang agenda kita dan hasil peperangan antara kita dengan musuh. Beliau menyampaikan bahwa kaum Muslimin, khususnya Mujahidin, harus mengantisipasi jika pada suatu saat nanti (Insya Allah) Mujahidin akan memiliki organisasi media sendiri yang independen.

Beliau begitu meyakini bahwa peran media jihad sangat penting, bahkan tidak kalah penting dengan front pertempuran. Untuk itu, beliau menyarankan agar media jihad dapat berkoordinasi dan bekerjasama secara terorganisir di antara organisasi media jihad. Hal ini penting untuk koordinasi dan membagi tugas serta spesialisasi diantara berbagai media jihad.

Beliau mencontohkan Forum Syura Mujahidin yang menghimpun berbagai komandan Jihad, lalu syura tersebut menunjuk seorang amir sebagai pimpinan tertinggi yang menyatukan seluruh front dan kesatuan tentara. Maka segenap media jihad saat ini, seharusnya membangun model koordinasi, syura, dan satu kepemimpinan bersama seperti itu.

Beliau menambahkan, hendaknya Mujahidin (lewat segenap pendukungnya) harus berjuang untuk dapat memiliki channel video milik sendiri yang berperan untuk menjangkau massa yang lebih luas. Salah satu program terpentingnya adalah menyiarkan laporan berita dan berbagai operasi yang dilancarkan Mujahidin, sehingga dapat menyampaikan realitas nyata dari medan pertempuran kita menghadapi musuh. Sebagai tambahan, channelvideo ini juga dapat menyiarkan wawancara dengan segenap pimpinan Jihad dan orang-orang berpengaruh dalam Jihad terkait program-program yang benar yang harus diikuti oleh segenap pemuda dari Ummah ini, bahkan da’wah kepada musuh dan non muslim.

 Butuh SDM Media Jihad Yang Handal

Syekh Abu Sa’ad ‘Al Amili berpendapat bahwa saat ini kader-kader atau SDM media jihad yang handal sangat sedikit bahkan sangat langka, khususnya kalangan mahasiswa. Namun beliau saat ini melihat perkembangan yang sangat kondusif untuk tumbuhnya para kader media jihad, terlebih setelah Mujahidin berhasil mendirikan Imarah Islam-Imarah Islam.

Keberadaan sejumlah Emirat Islam tersebut membuahkan lahirnya organisasi media yang aman dan dapat diandalkan, seperti beberapa contoh media jihad yang beliau sebutkan, seperti : Yayasan As Sahab, Yayasan Al Furqan, Al Fajr, The Global Islamic Media Front (GIMF), Yayasan Al Ansar, Al Mas’ada, Al Malahim, Al Somood, Al AnsarMailing Group, Al Yaqeen Centre, batalion Al Somood, Yayasan Al Andalus, dan berbagai media jihadi lainnya.

Beliau juga menyebutkan beberapa contoh forum-forum jihad, seperti: Asy-Syumukh Network, AtTahadi, Ansar Mujahideen, dan lain-lain, yang menjadi ‘tulang punggung utama’ (primary backbones) untuk menyuarakan berbagai hal dari segenap yayasan dan kantor resmi media jihad.

Beliau mengingatkan bahwa di antara hal penting untuk menjamin keberlangsungan kreativitas ini adalah keamanan dan ketersediaan sumber daya, termasuk perlunya para ulama dan ahlul ilmi untuk berpartisipasi dalam kerja media jihad. Selain itu, media jihad juga harus memperhatikan kondisi realistis yang ada di sekitarnya dan keberadaan media harus menegaskan posisi kebijakannya dalam menghadapi kondisi tersebut.

Media-Media Jihad Terkenal

As-Sahab Media Foundation

 As-Sahab adalah sayap media resmi Al Qaida yang berbasis di Afghanistan dan Pakistan. Media ini memproduksi ceramah-ceramah para senior Al Qaeda seperti SyaikhUsamah bin Ladin dan Dr. Aymanal-Zawahiri, dan juga memproduksi film aksi-aksi Mujahidin Al Qaida. Pemimpin media As-Sahab dipegang oleh Dr. Aymanal-Zawahiri dan mastermind serangan 11 September Khalid Syaikh Muhammad. Beberapa orang penting yang sering muncul dalam video ceramah-ceramah media As-Sahab adalah Shaikh Abu Yahya al-Liby dan Adam Yahya Gadahna. k. a Brother Azzamal-Amriki (Azzam dari Amerika).

 Labayk Media Productions

Labayk Media juga merupakan salah satu media penyampai pesan-pesan Al Qaida dan Taliban, media ini memproduksi wawancara dengan para pemimpin Taliban dan Al Qaeda dan berbagai operasi militer Mujahidin di sepanjang perbatasan Pakistan-Afghanistan. Beberapa tokoh yang ditampilkan di media Labayk ini tidak begitu berbeda dengan para tokoh Mujahidin yang muncul pada video produksi As-Sahab. Pada Juli 2005, empat anggota Al Qaeda kelas tinggi berhasil melarikan diri dari penjara Amerika yang dijaga sangat ketat di pangkalan udara Baghram dekat Kabul, Afghanistan. Tiga bulan kemudian pada 19 Oktober 2005 , salah satu dari keempat anggota Al Qaeda tersebut- Abu Nasir al-Qahtani warga Saudi, muncul dalam video yang diproduksi Labayk Media Foundation untuk menceritakan pengalamannya.

Islam Awazi Information Center

Islam Awazi adalah sayap media resmi milik "Partai Islam Turkistan", kelompok pejuang Islam yang beranggotakan etnis Uigur Muslim, aslinya berasal dari barat propinsi Xinjiang China. Pada bulan Juli 2008 TIP mulai merilis video melalui media Islam Awazi, dalam video tersebut TIP mengklaim pemboman bus di Shanghai dan Kunming dan mengancam akan mengacaukan Olimpiade Beijing. Dalam video ancaman tersebut "Komandan Sayfullah" mengatakan bahwa "kami akan melakukan serangan terhadap semua yang berkaitan dengan Olimpiade termasuk kota-kota utama di China".

Islamic Emirate of Afghanistan Media

Media ini merupakan media resmi Imarah Islam Afghanistan (Taliban), masih jarang mengeluarkan video. Video yang dirilis merupakan pernyataan-pernyataan politik. Media ini juga mengeluarkan majalah "Al Somood" (saat ini sudah tiga edisi yang diterbitkan). Materi-materi yang diterbitkan media ini menggunakan dua bahasa, yaitu Arab dan Inggris. Publikasi media ini juga menggunakan salah satu forum di internet yang dimiliki Islamic Army inIraq (IAI).

  Jundullah Media

 Jundullah Media adalah sayap media resmi yang dimiliki Gerakan Islam Uzbekistan (IMU). IMU sudah dinyatakan Amerika sebagai organisasi teroris luar negeri. IMU telah berpartisipasi dalam serangan terhadap tentara Amerika dan tentara koalisi di Afghanistan dan merencanakan serangan terhadap fasilitas diplomat Amerika di Asia Tengah . Pada September 2008, Jundullah Media merilis video tentang mujahid asal Jerman di Afghanistan termasuk video pernyataan seorang mujahid yang melakukan serangan bom syahid di kedutaan besar Denmark di Islamabad Pakistan, dalam video itu dikatakan jika "serangan ini bukan yang terakhir". IMU (Islamic Movement of Uzbekistan) beranggotakan para mujahid dan mujahidah yang telah siap mengorbankan nyawa mereka.

Umat Studios

 Umat Studios adalah organisasi media pro-Taliban di Pakistan yang memproduksi video seruan jihad dan operasi militer Taliban di Pakistan dan beberapa operasi di Afghanistan. Video yang dirilis Umat Studios berfokus pada aktivitas Taliban Pakistan di wilayah Waziristan termasuk menampilkan video camp pelatihan militer lokal milik Taliban . Pada Mei 2008, UmatStudios merilis video berjudul "Na Pak Fouj" yang menampilkan para anggota baru Taliban di sebuah camp di Waziristan ambil menyanyikan nasid, "Hai orang-orang kafir di barat dan timur, kami telah merencanakan sesuatu untuk kalian. Kami semua harus mati, hidup terlalu singkat. Hai kalian para Muslim, kalian harus beraksi sekarang, kami telah tertindas. Ya tentara Islam, datanglah kemari untuk berjihad. . . . datanglah kemari untuk berjihad".

Badrat-Tawheed Media

Badrat-Tawheed adalah sayap media resmi Islamic Jihad Union (IJU) yang berada di Uzbekistan. Didirikan pada bulan Maret 2002 di Wilayah Kesukuan Pakistan. Pada 25 Mei 2005 Amerika mengumumkan kelompok ini sebagai bagian dari kelompok teroris global . IJU bertanggungjawab pada pemboman kedutaan besar Amerika dan Israel di Ibukota Uzbekistan Tashkent bulan Juli 2004. Menurut statemen resmi Departemen Luar Negeri Amerika, Islamic Jihad Union merupakan ancaman berbahaya bagi fasilitas dan kepentingan Amerika yang berada di luar negeri.

Manbaal-Jihad Media

 Media ini merupakan media penyampai Jihad yang relativ baru. Manbaal-Jihad yang berarti "Sumber Jihad" telah merilis beberapa video serangan Taliban terhadap tentara koalisi di wilayah tenggara Afghanistan tahun 2008 dan 2009. Serangan-serangan itu berupa peluncuran roket, peledakan menggunakan bom kendali jarak jauh dan aksi bom syahid. Manbaal-Jihad juga pernah merilis video lama yang menampilkan salah satu komandan mujahidin Afghanistan jaman dahulu Jalaluddin Haqqani. JalaludinHaqqani dan anaknya Sirajuddin Haqqani saat ini dikabarkan berada di suatu daerah terpencil di Pakistan yang berbatasan dengan Waziristan. Namun sifat hubungan pasti antara Manbaal-Jihad Media dan Taliban tidak diketahui.

Masih banyak media jihad lainnya.

 Wasiat Terakhir Abu Yahya Al-Libi bagi Pejuang Media

Segala puji bagi Allah swt, dengan sebenar-benarnya pujian. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi-Nya dan Hamba-Nya, keluarganya, para sahabatnya dan siapa saja yang berjalan di atas petunjuknya.

Amma ba’du,

Saudara-saudaraku singa media jihad, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Saya merasa dimuliakan saat bisa menulis dan berdialog dengan kalian. Kalian telah dipilih oleh Allah swt untuk melaksanakan sebuah tugas mulia yang pernah diemban oleh Nabi Muhammad, yaitu tahridh (mengobarkan semangat) untuk berperang di jalan Allah.

Allah berfirman,

Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mukmin (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya). ” (An-Nisa’:84)

Hai Nabi, kobarkanlah semangat para mukmin itu untuk berperang. ” (Al-Anfal:65).

Adapun makna tahridh qital menurut para ulama adalah mengobarkan semangat jihad, menghasung umat untuk melaksanakan jihad, memotivasi mereka untuk mengemban amanah jihad, menjelaskan keutamaan dan kebaikan jihad, membuat musuh-musuh menjadi kecil di hadapan mereka, menguatkan jiwa mereka untuk melawan musuh-musuhnya, dan menumbuhkan keberanian umat Islam untuk berperang melawan musuh-musuh mereka. Dan beberapa lagi yang terkait tentang ajakan untuk jihad dan bersungguh-sungguh menghasung jihad dan upaya menjauhkan umat dari sifat kepengecutan, kelemahan dan berat hati memikul ibadah jihad.

Hal ini sebagaimana diungkapkan oleh Syekh Abdurrahman Assa’di Rahimahullah, “Ini (tahridh) mencakup segala perkara yang mengarah kepada motivasi orang beriman untuk berjihad dan menguatkan jiwa mereka. Diantaranya dengan menyebarkan kelemahan musuh dan kekacauan dalam barisan mereka. Juga mengabarkan keindahan apa saja yang Allah janjikan bagi hamba-hambaNya yang berjihad, juga ancaman dan hukuman terhadap mereka yang meninggalkan jihad. Yang demikian ini, dan yang sejenisnya adalah bentuk mentahridh untuk berperang. ”

Dari penjelasan Assa’di ini, dapat kita pahami tentang begitu besar dan beratnya tugas ini, dan bahwa menghasung umat Islam untuk menyambut jihad harus berkesinambungan dan terus-menerus. Tidak boleh berhenti.

Tidak etis bila seorang muharridh mengatakan, ‘Saya telah melakukan tahriddh dengan cara ini dan itu, namun tidak ada yang menyambutnya. Tidak ada manfaat sama sekali tahridh selama ini. ’ Karena ini adalah perangkap setan, lewat ini, setan menjebak seseorang agar terhalang dari jalan Allah ﷻ.

Justeru tahridh adalah kewajiban syar’ie yang harus dilakukan dengan berbagai jalan syar’ie dengan cara apa saja yang memungkinkan untuk itu, dan memodifikasi berbagai methode. Bisa dengan; mengkaji kecendrungan manusia, dan jalan yang memugkinkan mereka untuk memahami dan melaksanakan kewajiban ini, berupaya untuk menghilangkan segala penghalang mereka di jalan ini, mengkikis segala beban psikologi mereka yang menghalanginya dari jalan ini, bisa jadi dengan beberapa nasehat, kalimat, qashidah, kisah, cerita tentang sebuah kejadian, atau menafsirkan sebuah ayat.

Atau jalan apa saja, selain di atas, yang melalui usaha kalian, Allah membukakan hati hamba-hambaNya untuk ini dan jiwanya bisa bangkit, memantik ruh iman dan akidah mereka, menyadarkan kelalaian mereka selama ini. Sehingga mereka bangkit dan terhentak, seperti bangkitnya singa yang marah.

Akhirnya, jika di barisan jihad terdapat pemimpin yang handal, prajurit yang ksatria, ahli-ahli yang ulung, dan seorang wali shaleh, maka kalian di media jihad akan mendapatkan pahalanya, sementara kalian tetap ditengah istri dan anak-anak kalian. Orang yang menunjuk kepada perbuatan baik, seperti orang yang melakukannya. Oleh karena itu, setelah ayat tahridh ini, Allah melanjutkan,

Barang siapa yang memberikan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bahagian (pahala) daripadanya. Dan barang siapa yang memberi syafa'at yang buruk, niscaya ia akan memikul bahagian (dosa) daripadanya. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (An-Nisa’: 85)

Mufassir Ibnu ‘Asyurrhm berkata, “Diantara keumuman ayat ini adalah bahwa tahridh untuk berperang di jalan Allahﷻ adalah syafa’ah hasanah. Dan bahwa usaha orang-orang yang mempropokasi seseorang dari jalan Allah ﷻ adalah syafa’ah yang buruk. ”

Kita sadari bahwa umat… tentang apa yang sebenarnya yang terjadi hari ini, hal lahir dari kelesuan, kebekuan, dan ke… dalam waktu yang sangat panjang. Ini adalah buah konspirasi musuh yang sangat panjang, musuh telah berusaha memandulkan pemikirannya, mengkerdilkan semangatnya, memadamkan fanatisme keislaman dalam dada generasi Islam. Musuh membuat generasinya tergila-gila dengan Barat dan budayanya yang rusak. Demikian juga musuh telah memenuhi hati generasi Islam dengan rasa takut dan pengecut untuk menantang para penjahat, musuh pun telah mempersempit ruang gerak bagi generasi Islam untuk bersama dengan umat dalam menghancurkan para penjahat.

Permasalahan-permasalahan besar dan berat ini ibarat gunung kokoh yang menjulang, dibutuhkan kesungguhan yang sangat, keseriusan yang kontinyu, kesabaran yang luar biasa dan kebijakan serta ketelitian untuk menuntaskannya.

Sehingga semangat yang sudah mati bisa dibangkitkan. Dan penyesatan, perusakan dan penipuan yang menjadi sebab kelemahan umat ini bisa dihilangkan. Kalain, wahai mujahid media, dan orang yang memiliki ketinggian semangat, dan kejujuran tekad seperti kalianlah yang layak mengemban tugas ini.

Siapapun yang mengamati sejauh mana peran jihad dalam membangkitkan umat dan kemampuan jihad untuk mengalirkan darah perjuangan di leher-leher umat Islam, dan mengembalikan mereka ke jalan yang lurus, maka ia akan menyadari bahwa media jihad adalah alat yang paling purna untuk ini.

Ia pun tahu bahwa pada diri umat Islam terpendam potensi-potensi kebaikan yang sangat banyak. Maka, harus ada orang yang mampu menggali, menggali dan mengarahkan potensi mereka ini ke jalan yang benar, sehingga kelak hasilnya kembali kepada umat Islam, untuk kebaikan mereka.

Sesungguhnya jihad adalah kehidupan sejati. Menggelorakan semangat jihad dan menyeru kepada jihad merupakan ajakan menuju kehidupan sejati. Allah ﷻ berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu.” (Al-Anfal: 24)

Imam Al-Wahidi Rahimahullah berkata, “al-Jihad, karena dengan jihad semua urusan umat Islam menjadi lebih hidup dan kokoh. Jihad adalah sebab mati syahid, sedangkan para syuhada’ adalah manusia-manusia yang hidup di sisi Allah. Dan jihad adalah sebab untuk bisa hidup kekal di surge. ”

Imam Ibnu Al-Qayyim Al-Jauziyah Rahimahullah berkata, “Al-Wahidi dan mayoritas para ulama mengatakan, bahwa makna ‘suatu yang memberi kehidupan kepada kamu’ adalah jihad. Ini juga merupakan pendapat Ibnu Ishaq dan dipilih oleh kebanyakan ahluilmi.

Al-Farra’ Rahimahullah berkata, “(Maksudnya), jika Allah ﷻ menyeru kalian untuk menghidupkan semua urusan kalian lewat berjihad melawan musuh-musuh kalian. Allah hendak menjelaskan, bahwa kalian akan kuat dengan jihad dan perang. Jika mereka meninggalkan jihad, maka urusan mereka akan tercerai berai, lemah dan musuh-musuhnya akan lancang kepada mereka. ’

Aku (Ibnul Qayyim) berpendapat, ‘Sungguh jihad adalah sebab utama kehidupan umat Islam menjadi baik di dunia, barzakh maupun kelak di hari kiamat; Di dunia, jihad menjadi sebab kewibawaan mereka di hadapan musuh-musuh mereka. Di Barzakh, adalah sebagaimana firman Allah ﷻ:

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ قُتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتًا بَلْ أَحْيَاءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُونَ

sedangkan di alam akherat, maka sesungguhnya pahala dan kenikmatan yang dijanjikan oleh Allah ﷻ kepada para mujahidin lebih besar dan banyak pahala bagi selain mereka. Oleh karena itu, Ibnu Qutaibah mengatakan, ‘Sesuatu yang membuat kalian hidup adalah mati syahid.”

Pun para thaghut yang melampui batas terkadang memanfaatkan kata ‘jihad’ untuk merebut simpati massa Islam, agar umat Islam mendukung, membela syahwat dan bendera mereka. Pasalnya, mereka sadar sekali, bahwa jihad merupakan jalan terbaik untuk memunculkan simpati orang yang lembut jiwanya, untuk membangkitkan pengorbanan dan sikap ksatria, kata jihad akan melahirkan rasa rindu akan kemulian dan kemerdekaan. Maka jangan orang-orang durhaka itu lebih cerdas memahami dan memanfaatkan umat Islam daripada kita.

Jika para thaghut itu menggunakan syi’ar jihad untuk membangkitkan rasa fanatisme dan pembelaan terhadap kepentingan mereka dari umat Islam, maka hendaklak kalian wahai mujahid media, bersungguh-sungguh menjadikan jihad sebagai pemantik semangat mereka, jadikanlah ini sebagai ibadah dan bentuk ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ.

Jadikanlah jihad sebagai ruang dakwah kalian untuk menunjuki umat ke jalan yang lurus, dan bukti kejujuran kalian untuk mendakwahi umat kepada kebaikan dunia maupun akherat. Sungguh, Allah menunjuki seseorang lewat perantaraan kamu, itu lebih baik dari unta merah.

Betapa sering kita melihat seorang pemuda yang tenggelam dalam kelalaian, larut dalam kubangan syahwat, tidak tahu apa itu iman dan shalat, ia hidup di tengah umat dengan hati yang mati dan jasad yang tidak menentu, tidak memiliki cita-cita dan, semangat apalagi idealisme yang benar, seakan-akan mereka bukan manusia lagi. Ada juga diantara pemuda itu, hidup terombang ambing dalam kehinaan syahwat, menjadi candu narkoba, menghabiskan waktunya di depan internet, membuka situs-situs yang membahayakan pikiran dan fithrah mereka.

Ada di antara mereka yang tidak pernah beribadah, tidak mengharapkan apapun dari Allah ﷻ, tidak menunaikan hak-hak kedua orang tua, bahkan sebagian pemuda Islam ada yang suka rela menjadi penjaga dan pelindung para thaghut, ia tidak segan-segan mengorbankan darah dan kehormatannya demi membela para thaghut tersebut.

Keadaan pemuda-pemuda di atas terkadang bisa berubah drastis, mereka kembali kepada kebenaran, dan menjadi pembela kebenaran hanya dengan melihat senyuman yang terpancar dari wajah seorang syahid, atau karena berita yang terpercaya dari media jihad, atau karena mendengar sekilas motivasi jihad, atau karena sekedar duduk sesaat bersama seorang mujahid yang memberinya nasehat, atau karena sekedar membaca kepahlawanan dan keberanian seorang mujahid.

Dengan peristiwa-peristiwa ini ia mendapatkan hidayah, keluar dari kebathilan menuju kebenaran, ia menjadi betul-betul hidup, bahkan menjadi salah satu singa Islam, pahlawan sejati, ahli ibadah, senatiasa melaksanakan puasa di siang hari, shalat di malam hari, orang yang mudah menangis karena takut kepada Allah ﷻ, lisannya selalu basah dengan dzikir, sehingga hampir-hampir semua orang ingin sekali dekat dengannya, dalam hati mereka akan tumbuh rasa suka dan hormat kepada pemuda yang bertaubat ini, wajahnya memancarkan cahaya keimanan, melihatnya bisa menjadi sebab bertambahnya iman dan membuat seseorang semakin baik. Ia memikul harapan umat Islam dengan kata dan perbuatan, tanda sujud terpancar dari wajahnya.

Terkadang pemuda-pemuda yang bertaubat ini tidak hidup kecuali sebentar, karena mendadak namanya sudah terpampang di barisan mujahid yang siap melakukan isytisyhad (Operasi mati syahid) atau di daftar inghimas (operasi jihad dengan terjun di tengah barisan musuh), ia menjadi orang tegar menghadapi kematian di jalan Allah. Berada di shaf yang paling depan dalam mencari mati syahid. Mereka menjadi orang yang paling cepat menthalak dunia untuk meminang mati syahid di jalan Allah ﷻ.

Mereka meninggalkan para ikhwan mujahidin dengan sejuta kenangan manis dan uswah yang baik. Sehingga para mujahidin selalu menyebut-nyebut kenangan manis dan akhlak mulianya. Semoga Allah ﷻ merahmati pemuda-pemuda seperti ini, dan orang-orang yang menjadi sebab ia mendapat hidayah.

Dari sini kita jadi paham, bahwa menyeru umat untuk jihad serta mendalami tata cara untuk mengobarkan semangat jihad di kalangan umat adalah salah satu pintu dakwah yang strategis, jalan menuju hidayah yang sangat bermanfaat dan mudah. Tidak seperti perkiraan sebagian orang, bahwa dakwah harus melalui beberapa tahap dan tahapan-tahapan itu harus dituntaskan satu-persatu, sehingga kelak ia layak menyandang gelar ‘mustaqimin’ atau ‘multazimin’. Tetapi, terkadang ada sebagian orang yang sedikit amalnya tetapi pahalanya besar, seperti orang yang baru Islam kemudian berperang.

Apa yang sampaikan di atas bukan sebuah khayalan yang dari realitas, bukan juga suara hati yang tertuang dalam goresan pena. Tetapi itu semua adalah kenyataan yang saya alami, saya telah menyaksikan orang-orang ini dan yang semisal mereka di medan jihad dan pertempuran. Ini adalah mutiara umat Islam yang terpendam, dimana mereka tidak bangkit kecuali setelah mendengar seruan jihad. Bahkan, di Irak ada sekitar 4000 pemuda yang melakukan operasi mati syahid di jalan Allah ﷻ pada kurun tiga atau empat tahun. Yang syahid di medan tempur belum terhitung. Apalagi jika jumlah ini ditambahkan dari berbagai macam operasi Istisyhadiyah di beberapa bumi jihad; Afghanistan, Somalia, al-Jazair, Pakistan dan Chechnya.

Jika Anda mengkaji perjalanan hidup mereka, maka anda akan mendapatkan bahwa mayoritas pemuda-pemuda ini dulunya jauh dari hidayah, dan sebab yang membuat mereka mendapatkan hidayah adalah satu, yaitu jihad. Jika memang demikian sudah seharusnya kita mencurahkan perhatian dan kesungguhan kita untuk membuka pintu jihad, bahkan bukan sekedar pintu jihad tetapi pintu taubat manusia ke jalan yang haq.

Tujuan saya menyebutkan ini semua, agar kalian menyadari begitu besarnya nikmat dari Allah ﷻ yang Allah anugerahkan kepada kalian, yaitu kenikmatan berupa kemudahan untuk mentahridh dan dakwah. Agar semangat kalian berlipat ganda, agar cita-cita kalian semakin membumbung tinggi ke langit, agar kalian senantiasa mengikhlaskan niat untuk Allah , agar kalian yakin bahwa apa yang kalian usahakan, yang kalian lazimi adalah ketaatan yang sangat agung dan taqarrub yang sangat besar nilainya. Sudah selayaknya kalian bersyukur atas kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada kalian ini. Dan bentuk syukur yang paling utama adalah memaksimalkan apa saja yang Allah anugerahkan kepada kalian dalam ketaatan kepada Allah .

Sehingga kita saling membantu dalam menuntaskan kewajiban dakwah dan tahridh ini. Inilah yang hendak saya sampaikan. Catatan ini bukan untuk mengajarkan sesuatu yang belum kalian ketahui. Tidak. Tetapi, ia hanya sebuah bentuk partisipasi dari kami untuk bersama kalian dalam proyek dakwah yang baik ini. Sehingga dakwah dan tahridh ini betul-betul maksimal dan hasilnya memuaskan, berlipat ganda. Sehingga terus berkesinambungan, tidak memunculkan rasa bosan apalagi putus asa. Semoga kita termasuk orang-orang mukmin yang beruntung, yang saling menasehati dalam kebaikan dan kesabaran.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran. ” (Qs. al-Ashr: 1-3)

Medan pertempuran yang kita hadapi sekarang masih dan terus membutuhkan keseriusan yang kontinyu, pengorbanan yang terus menerus, tenaga yang kuat, gotong royong, dan tidak ada yang mampu melakikan hal itu semua kecuali orang-orang yang memiliki semangat baja dan cita-cita yang tinggi. Yaitu orang-orang yang tidak sekedar mencita-citakan perjalanan yang pendek, jarak tempuh yang singkat, kepayahann dan kesusahan di medan juang tidak menyebabkan mereka mundur ke belakang. Karena mereka yakin, bahwa apa yang disis Allah lebih baik dan lebih kekal. Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan pahala perbuatan baik.

Permasalahan pertama: Wahai tentara yang tersembunyi, tentara yang tidak diketahui nama maupun tempatnya, tidak memiliki foto pribadi yang dikenal, dan tidak memiliki gelar yang popular, dimana manusia hanya mengatahuinya lewat panah (tulisan-tulisannya & uploadnya) yang tajam , yang mampu menggugah emosi. Saya sampaikan kepada kalian wahai saudaraku, hendaklah kalian mengikhlaskan niat kepada Allah . Dimana kalian memikul beban dakwah media ini, yang penuh dengan resiko; penculikan atau pembunuhan, hanya untuk Allah .

Sesungguhnya Allah tidak menerima sebuah amal kecuali dikerjakan dengan ikhlas, hanya mencari ridha-Nya. Allah tidak rela disekutukan dengan siapa saja. Siapa yang menyekutukan Allah , maka Allah akan meninggalkannya bersama sekutuannya tersebut.

Hadirkanlah selalu keikhlasan, kapanpun dan dimanapun Anda berada. Baik saat Anda duduk di kursi untuk mengolah sebuah produk berita, saat menulis makalah, menyebarkan buku, membantah syubhat, mengkaji sebuah peristiwa, mengumpulkan berita, mengirim surat atau menyusun kaset video. Maka, ingatlah, saat itu Anda bekerja untuk Allah, yang Anda harapkan adalah pahala dari Allah , tujuan Anda adalah untuk menegakkan kalimatullah. Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah :

“Berjihadlah kalian melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa dan lisan-lisan kalian. ” (HR. Amad, Abu Dawud, Ibnu Hibban,) Ibnu Hibban memasukkan hadits ini di Bab: Beberapa riwayat yang menghasung untuk jihad dan berperang melawan musuh-musuh dari kalangan orang-orang kafir. ”

Ketahuilah saudaraku, bahwa keikhlasan akan menjadikan sebuah aktifitas berbarokah. Diantara barokahnya, Allah akan membukakan bagimu pintu-pintu kebaikan, taufik dan hidayah. Sebagaimana firman Allah

Dan orang-orang yang mendapat petunjuk Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan kepada mereka (balasan) ketakwaannya.” (Muhammad: 17)

Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.” (Maryam: 76)

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan Kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (Al-‘Ankabut: 69)

Dalam ayat lain:

Dan kalau demikian, pasti Kami berikan kepada mereka pahala yang besar dari sisi Kami, dan pasti Kami tunjuki mereka kepada jalan yang lurus. Dan barang siapa yang menaati Allah dan Rasul (Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. ” (An-Nisa’: 67-69).

Di ayat lain Allah menyebutkan hak para mujahidin yang berperang di jalan-Nya, yaitu berupa hidayah dan jaminan kebaikan bagi mereka,

Dan orang-orang yang gugur pada jalan Allah, Allah tidak akan menyia-nyiakan amal mereka. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka dan memperbaiki keadaan mereka.” (Muhammad: 4-5).

Mayoritas ulama ini membaca dengan ‘Qaataluu,’ Ibnu Jarir Rahimahullah berkata, “Allah Yang Maha Tinggi akan memberi taufik kepada mujahid itu untuk menempuh apa yang Allah ridhoi dan cintai, mereka adalah orang-orang yang berperang di jalan Allah . Dan Allah akan memperbaiki keadan mereka di dunia dan akherat. ”

Dan hendaklah kalian saling mengingatkan dan menasehati perkara ikhlas diantara kalian, bahwa kalian dalam rangkaian ibadah kepada Allah , ibadah ini sangat agung, hanya sedikit mereka yang tegar di atasnya dan rela menanggung bebannya. Mintalah bantuan kepada Allah , banyak-banyaklah membaca

Ya, Allah bantulah kami untuk selalu berdzikirkepadaMu, bersyukutkepadaMu dan agar selalu beribadah dengan baik kepadaMu. ” Ibadah yang baik adalah melaksanakannya dalam bentuk yang diridhoi oleh Allah , yaitu dengan sempurna dan keikhlasan. Ini semua tidak akan tercapai kecuali dengan bantuan dari Allah. "

Perkara Kedua: Hendaklah kalian tegas kepada orang-orang kafir dan lembut terhadap orang-orang beriman. Inilah sifat nabi Muhammad dan para sahabatnya. Sebagaimana firman Allah ,

Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. ” (Al-Fath: 29).

Tentang sifat generasi handal yang menggantikan orang-orang yang murtad ke arah belakang, (tidak mau berkorban di jalan Allah swt),

Hai orang-orang yang beriman, barang siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir.” (Al-Maidah: 54)

Dan Allah berfirman,

Hai Nabi, berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu, dan bersikap keraslah terhadap mereka. Tempat mereka ialah neraka Jahanam. Dan itulah tempat kembali yang seburuk-buruknya.” (At-Taubah: 73)

Terhadap orang-orang kafir yang menentang Allah dan rasul-Nya, memusuhi wali-wali Allah , menghalang-menghalangi manusia dari jalan Allah, maka seranglah mereka seganas-ganasnya. Dengan cara, menjelaskan aib-aibnya, menyingkap rahasia dan kedok-kedoknya, membongkar makar, dan kedustaan klaim mereka. Juga dengan menampakkan kejahatan dan keburukan mereka dalam bentuk yang sangat menjijikan.

Juga menjelaskan kepada mereka tentang tujuan mereka yang hanya mengarah kepada penyembahan nafsu binatang yang bercokol pada diri mereka. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Al-Qur’an, dimana Allah menyifati mereka dengan sifat-sifat yang sangat buruk dan menjijikan. Allah menyingkap cita-cita mereka yang busuk dan kedengkian mereka terhadap umat Islam, dan kebathilan yang mereka pendam dalam hatinya dibongkar oleh Allah .

Allah berfirman,

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya orang-orang yang musyrik itu najis. ” (At-Taubah: 28)

Tentang orang-orang munafik Allah berfirman

Maka berpalinglah dari mereka, karena sesungguhnya mereka itu adalah najis.” (At-Taubah: 95)

Ayat-ayat yang terkait ini sangat banyak (QS. 8:22&55, 25:44, 2:12&254, 55:43, 77:46). Semuanya terkait tentang keburukan orang-orang kafir dan kenajisan mereka. Sebab, mereka dosa yang mereka perbuat, yaitu dosa syirik. Walau mereka berusaha membersihkan diri mereka dengan slogan-slogan kosong, seperti; perdamaian, kebebasan, persamaan, persahabatan, kebudayaan, kemajuan dan moderinisasi dan sebagainya, tetaplah najis, bangkai dan menjijikan. Tidak akan bisa disucikan kecuali dengan bertauhid. Dan Allah tidak akan menerima amal seseorang yang tanpa tauhid. Allah ﷻ berfirman:

“Dan sekiranya orang-orang yang lalim mempunyai apa yang ada di bumi semuanya dan (ada pula) sebanyak itu besertanya, niscaya mereka akan menebus dirinya dengan itu dari siksa yang buruk pada hari kiamat. Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan. (Az-Zumar: 47)

Wajah orang kafir tetap menghitam, bekas-bekas dosa dan kekufuran menyisakan noda-noda hitam diwajah mereka, sehingga terlihat gelap, walau mereka selalu bermake-up untuk membersihkan noda itu. Allah ﷻ berfirman:

Dan orang-orang yang mengerjakan kejahatan (mendapat) balasan yang setimpal dan mereka ditutupi kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan muka mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. ” (Yunus: 27)

Diantara tugas media jihad hari ini adalah menyingkap tabir yang menutupi kebusukan mereka di hadapan masyarakat. Penyingkapannya harus betul-betul mampu membuat masyarakat merasa jijik dan tidak simpatik terhadap mereka. Sebagaimana alQur’an menyingkap hal ini. Demikian juga menyingkap kebathilan istilah kemanusiaan yang mereka dengung-dengungkan, dengan menyebut pelanggaran dan kejahatan mereka terhadap kemanusiaan, bahwa kemanusiaan adalah istulah palsu yang mereka gunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadi dan nafsu mereka sendiri yang egois. Justeru kemanusiaan adalah korban kejahatan pertama mereka.

Ini dan yang semisalnya adalah korban kejahatan mereka. Terutama Amerika, ialah yang terdepan dalam menghadang umat Islam. Ia menjadi gembong musuh umat Islam, menjadi sebab kesengsaraan bangsa-bangsa di dunia, terkhusus muslimin hari ini. Tidak perlu berpikir serius dan berletih-letih dalam membantah akidan dan pemikiran mereka. Cukup dengan menampakkan realitas kejahatan kemanusiaan sepanjang sejarah dan kejahatan-kejahatan merekadi tiap hari di medan jihad.

Jangan lupa sebutkan juga kejahatan kemanusiaan Yahudi bersama Amerika. Bahwa kedua Negara ini telah mengumunkan saling bahu membahu untuk menegakkan Negara Yahudi siang dan malam. Sehingga semua manusia menyadari bahwa Israel adalah Amerika dan Amerika adalah Israel yang sama-sama layak dihukum atas kejahatan kemanusiaan yang mereka lakukan.

Untuk membongkar kejahatan mereka ini, kita tidak perlu capek-capek berstigma atau beropini atas kejahatan mereka, tetapi kejahatan mereka yang tampak di depan manusia, jika didokementasi dan dikelola dengan baik oleh media, itu sudah cukup untuk meyakinkan masyarakat dunia bahwa keduanya memang penjahat kemanusiaan dan layak dihukum atas kejahatan itu. Nah siapakah media itu selain kalian?

Dalam masalah ini hendaklah kalian mencontoh Rasulullah ﷺ. Hendaklah kalian mengikuti beliau, yang dengan contoh ini kalian bisa mempecundangi orang-orang kafir dengan lisan-lisan kalian, tulisan-tulisan kalian mampu menyetir orang kafir, kalian bisa melakukan banyak cara dalam membongkar kejahatan-kejahatan mereka dan menyebarkan di berbagai belahan bumi, sungguh yang demikian lebih menyakitkan bagi mereka dari anak panah yang menancap di tubuh mereka.

Sehingga walau mereka menolak itu semua, namun engkau akan melihat dampak buruk bagi mereka dari usaha kalian dari masa ke masa. Kenyataan pahit ini akan terungkap lewat lisan-lisan para pimpinan kafir maupun para politikusnya. Usaha untuk menutup web-web kalian, adalah bukti rasa sakit mendalam yang terpendam itu.

Dari ‘Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah ﷺ bersabda, “Cela-lah Quraisy (lewat Syair) karena itu lebih menyakitkan bagi mereka dari pada tancapan panah. Lalu Rasulullah ﷺ mengutus utusan ke Ibnu Rawahah, beliau memerintahkannya, ‘Cela-lah mereka,’ Lalu Ibnu Rawahah mencela Quraisy, tetapi belum berkenan di hati beliau ﷺ. Beliaupun mengutus utusan ke Ka’ab bin Malik dan seorang utusan ke Hassan bin Tsabit. Maka ketika utusan itu masuk menemui Hassan, Hassan RA berkata, “Sungguh telah tiba masanya engkau mengutus singa yang mengibas-ngibaskan ekornya. Menjulur dan menggerak-gerakkan lidahnya. Demi Dzat yang telah mengutus engkau dengan kebenaran, saya akan menyayat hati kaum kafir Quraiys dengan sya’ir saya ini, seperti sayatan kulit. ” (HR. Muslim)

Rasulullah ﷺ bersabda, “Seranglah dengan Sya’ir, sesungguhnya seorang mukmin itu berjihad dengan diri, harta dan demi Dzat yang jiwa Muhammad ﷺ di Tangan-Nya, berjihadlah dengan tangan kalian. Sya’ir itu seperti serangan dengan panah. ” (HR. Ahmad)

Imam Ahmad juga meriwayatkan, Ammar RA berkata, “Ketika orang-orang musyrikun menyindir kami (dengan sya’ir), kami melaporkan hal itu kepada Rasulullah ﷺ. Maka Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Katakanlah seperti apa yang mereka katakan!’ Ammar berkata, ‘Sungguh kalian melihat kami mengajarkan (bersya’ir) para budak wanita di Madinah. ” Al-Haitsami berkata, ‘hadits ini diriwayatkan oleh imam Ahmad, al-Bazzar juga meriwayatkan yang semakna, Thabrani, rijalnya tsiqqoh. Namun Syaikhal-Arna’uth mendha’ifkannya.

Dan hadits semakna dengan hadits di atas masih banyak. Walaupun hadits-hadits tersebut berbicara tentang sya’ir, namun intisarinya adalah membuat marah dan merontokkan moral orang-orang kafir –wallahuA’lam- tujuan dari ini adalah melemahkan dan meluluh lantahkan semangat orang-orang kafir, membuat hati mereka kecut. Dan sarananya tidak terbatas pada sya’ir. Namun, apa saja, terutama perang media yang kalian jalani, karena hal ini lebih menyakitkan dan lebih mempengaruhi mental orang-orang kafir, dari pada sebuah anak panah yang menancap di raga mereka .

Selain itu, apa yang menjadi tugas kalian di media yang berupa; menguatkan hati umat Islam, menaikkan semangat umat Islam dan mujahidin, menghasung umat untuk menegakkan panji jihad, menyemangati mereka untuk meraih ganjaran kebaikan di sisi Allah, membangkitkan harapan kemenangan selama perjalanan panjang. Semuanya ini akan ditulis pahala di sisi Allah ﷻ -insya Allah.

Bahkan sebagian ulama menyebutkan salah satu hikmah dari sabda Nabi Muhammad ﷺ bahwa sahabat Amir bin al-Akwa’ mendapatkan dua pahala. Bahwa kedua pahala tersebut adalah; (1) Pahala pertama karena mati syahid di jalan Allah ﷻ, (2) Usahanya (syair) yang mampu menguatkan hati pasukan Islam dan membongkar semangat mereka.

Ibnu Bathalrhm berkata, “(Yang dimaksud dua pahala) adalah pertama pahala mati syahid di jalan Allah ﷻ, kedua pahalanya yang menguatkan semangat umat Islam dengan sya’ir dan do’a-do’anya, saat menghadapi musuh di medan jihad. Sya’ir dan do’anya itu mengobarkan semangat kaum muslimin dan menguatkan jiwa mereka. Hadits yang semakna telah diriwayatkan dari Rasulullah ﷺ . . dari Abdurrahman bin Ka’b bin Malik, dari bapaknya, bahwa bapaknya pernah berkata kepada Rasulullah ﷺ, “Sesungguhnya Allah menurunkan apa yang ada di sya’ir apa yang Allah telah turunkan. ’ Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya mukmin itu berjihad dengan jiwa dan lisannya. Demi Allah, (dengan sya’ir) seakan-akan kalian telah menembakkan anak panah ke arah mereka. ”

Maka hendaklak program-program kalian di media teratur dan terorganisir dengan baik. Ada pola hubungan yang baik antara web, yayasan media, dan usaha-usaha pribadi. Seperti, ada rencana yang matang antara kalian yang berjangka waktu tertentu. Bisa jadi dengan meramaikan atau menghidupkan kembali peristiwa atau perkara yang sudah disingkirkan oleh media-media orang kafir dari pikiran manusia. Atau apa saja yang sesuai kondisi dan waktu. Kalian buat film documenter, makalah, sya’ir maupun analisa. Jika kalian istiqomah dan mencurahkan kesungguhan dalam hal ini, maka sungguh perkara ini akan lebih terasa di jiwa mereka dan moral mereka. Namun sebelum ini semua, hendaklah keikhlasan, beristi’anah dan bertawakkal kepada Allah senantiasa kalian jaga.

Perkara Ketiga: fokuskan target pemberitaan pada segmen masyarakat awam. Hindari menghabiskan sumber daya untuk membuka wacana dan beradu argumentasi dengan bagian masyarakat yang disebut dengan kelompok elit.

Tipe kelompok ini tidak banyak memberi kontribusi kepada jihad melebihi apa yang diberikan oleh masyarakat awam. Umumnya, fitrah orang awam masih streril. Peluang mereka untuk menerima kebenaran terbuka lebar. Meskipun kehidupannya bergelimang maksiat dan dosa. Baik dosa kecil maupun besar.

Permikiran orang awam masih belum rusak dan terkena virus pemikiran sesat. Lebih dari itu, orang awam bukan tipe orang jahil murakkab, yaitu kondisi di mana si jahil tidak sadar ia tidak tahu. Lebih parah dari itu, orang bodoh yang menyangka memiliki ilmu dan wawasan luas yang perlu dibagi ke masyarakat. Orang tipe ini bersikap seolah ia memiliki kedudukan tinggi yang dengan mudah menyampaikan hoax. Fenomena ini bisa ditemukan di kalangan orang yang disebut para pemikir atau elit.

Untuk mereka, seorang sastrawan menggubah bait:

Kala kamu bodoh, kamu tak tau jika kamu tak tau

Sungguh, kebodohan itu sebuah penyakit komplikasi

Jika anda mengamati medan-medan jihad yang ada. Jika ingin melihat siapa yang menyambut seruan itu tanpa banyak ulah, mereka adalah generasi muda yang belum tersentuh pemikiran-pemikiran menyimpang. Karena itu, biasanya mereka mudah meninggalkan maksiat dan dosa. Mereka juga gampang untuk bertobat dan kembali ke jalan kebenaran.

Sedangkan orang yang teracuni pemikiran syubhat pemikiran menganggap ideologinya sangat positif. Karena itu, tak banyak manfaat dalam dialog dan memberi mereka peringatan. Mereka menganggap jihad sebagai aksi kekerasan. Sedangkan sikap diam nan pengecut mereka namakan intelektualitas. Di mata mereka, perang di jalan Allah adalah tindakan bodoh dan anarkis. Tapi, meletakkan senjata sambil sibuk menyelesaikan urusan duniawi dianggap sebagai sikap bijaksana dan sikap toleran. Menumpahkan darah orang kafir dalam perjuangan jihad fi sabilillah dikatakan sebagai tindakan tidak berperi kemanusiaan. Sedangkan menjalin kasih sayang dan merendahkan diri kembali dianggap sebagai tindakan bijak dan berwawasan. Dan masih banyak lagi pemahaman terbalik. Setiap kali anda berusaha masuk lewat sebuah pintu, mereka akan berupaya memalang pintu tersebut.

Pesan yang ingin saya sampaikan adalah, tidak usah menghabiskan konsentrasi dan sumberdaya untuk menangani kelompok tersebut. Karena manfaat mereka untuk jihad sangat sedikit, kecuali bagi orang yang dikehendaki Allah. Untuk itu, langkah yang wajib kita tempuh yaitu menjalin komunikasi yang baik dengan masyarakat awam dan golongan pemuda. Gunakan bahasa yang menyentuh emosi, membangkitkan solidaritas dan membakar semangat. Tentu saja secara bertahap dan perlahan. Setelah itu, anda akan melihat mereka menyambut seruan kembali kepada Allah.

Faktor emosi dan solidaritas adalah pintu masuk yang lebar. Jangan pernah anda remehkan atau menafikannya. Seperti yang telah saya sampaikan di atas, ini termasuk dalam proses tahridh yang termaktub dalam ayat Al-Quran:

Mengapakah kamu tidak memerangi orang-orang yang merusak sumpah (janjinya), padahal mereka telah keras kemauannya untuk mengusir Rasul dan merekalah yang pertama mulai memerangi kamu? Mengapakah kamu takut kepada mereka padahal Allah-lah yang berhak untuk kamu takuti, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (At-Taubah: 13)

Sambutan positif kelompok masyarakat awam dengan stimulasi unsur emosional dan solidaritas jauh lebih baik dari pada upaya memahamkan mereka dengan argumen logis atau diskusi ilmiah. Tipikal orang aman membutuhkan sesuatu yang sederhana dan ringan. Sehingga untuk menyampaikan pesan kepada mereka harus dengan uslub atau gaya komunikasi yang bisa mereka tangkap dan pahami. Untungnya, permasalahan besar umat Islam hari ini sangat mudah disampaikan kepada mereka karena sangat jelas dan gamblang.

Salah satu contohnya adalah pemimpin organisasi Islam dan sebagian ulama di Pakistan yang berupaya membela fatwa memerangi tentara militer Pakistan. Mereka memberi legitimasi fatwa dengan menukil dari kitab-kitab dan memberi jawaban dengan gaya bahasa yang rumit bagi orang awam.

Padahal, orang awam yang berasal dari suku-suku di wilayah pakistan cukup dipahamkan dengan melihat jet tempur militer yang mengebom masjid. Al-Quran yang ada didalamnya turut hancur seiring runtuhnya masjid. Nah, setelah bukti-bukti itu terpapar, seharusnya para ulama bersuara lantang, “Para tentara tersebut lebih kafir daripada orang yahudi dan nasrani. ”

Karena itu, untuk apa membebani orang awam yang fitrah mereka masih lurus dengan argumentasi yang berat dan dalam. Padahal untuk menyingkapnya cukup dengan mengajak mereka membuka mata menyaksikan realita. Seperti inilah seharusnya permasalahan umat disampaikan.

Apa yang saya sampaikan ini bukan berarti meremehkan upaya menguatkan pemahaman Islam serta upaya memerangi syubhat dan penyimpangan. Maksud kami ialah bahwa kerja keras media seharusnya langsung berhadapan dengan masyarakat muslim yang masih awam. Media Islam harus terjun sesuai dengan tingkat pehamanan kelompok masyarakat itu. Sebisa mungkin memaparkan isu-isu keumatan dengan bahasa yang ringan agar mereka mudah memahaminya.

Allah berfirman kepada Rasulullah SAW:

Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas.” (Al-Kahf: 28)

Para aktivis media perlu memahami faktor apa saja yang membawa dan menjauhkan orang dari hidayah dan istiqamah di atasnya. Seperti yang saya sebutkan di atas, jalan utama untuk menyelamatkan masyarakat dari kesesatan adalah jihad fi sabilillah. Isu jihad bisa menjadi senjata utama bagi orang yang tahu cara memanfaatkannya dan menguasainya dengan baik. Jihad adalah alat dakwah dan hidayah yang selama ini dilupakan.

Namun, untuk memanfaatkannya butuh upaya ekstra lebih dari yang lain. Bisa jadi ini seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW:

إِذَا تَبَايَعْتُمْ بِالْعِيْنَةِ وَأَخَذْتُمْ أَذْنَابَ الْبَقَرِ. وَرَضِيْتَمْ بِالزَّرْعِ وَتَرَكْتُمُ الْجِهَادَ سَلَّطَ اللهُ عَلَيْكُمْ ذُلاًّ لاَيَنْزِعُهُ حَتَّى تَرْجِعُوْا إِلَى دِيْنِكُمْ

Apabila kalian berjual beli dengan sistem Al-‘Inah (salah satu bentuk riba), mengikuti ekor-ekor sapi, ridha dengan pertanian (terlena dengan kehidupan dunia) dan meninggalkan jihad, maka Allah akan menurunkan kehinaan kepada kalian. Dia tidak akan mengangkat kehinaan tersebut sehingga kalian kembali ke agama kalian.” (HR Abu Dawud)

Dari hadits di atas bisa dipahami bahwa kembali ke jalan jihad berarti kembali ke jalan agama. Sebaliknya, meninggalkan jihad berarti meninggalkan agama.

Anda pasti tahu jika orang awam tidak bisa memahami debat ilmiah, manuver-manuver politik dan saling serang argumen. Mereka hanya bisa digerakkan dengan menyentuk sisi emosionalnya. Bisa jadi, satu bait lirik dari lagu perjuangan lebih dapat menggerakkan mereka. Bisa jadi pula satu foto orang miskin dan korban kekerasan mendorong para hartawan mendermakan harta.

Hasil serupa tidak didapat dengan menulis buku dan mencetaknya dengan kertas paling mahal. Orang-orang tersebut malah tidak tersentuh sama sekali. Sekali lagi, apa yang saya sampaikan ini tidak menafikan hal tersebut. Untuk urusan ini, sudah ada pakar dan segmennya marketnya sendiri. Yang ingin saya sampaikan, hendaknya dakwah disampaikan secara umum. Dakwah itu berupaya menyentuh hati dan fitrah manuysia yang masih lurus lewat pintu yang sesuai dengan kondisi masyarakat.

Di lain sisi, sikap solider dan emosional tercela. Kadang dua hal itulah yang membuat seseorang sempurna. Justu orang yang tak bergairah setelah melihat apa yang menimpa umat ini, bercerminlah. Apakah nuraninya masih ada atau sudah hilang?

Kesimpulan paragraf ini ialah; tingkatkan upaya kalian dengan fokus menggarap masyarakat Islam yang awam. Manfaat besar masih terpendam dalam kelompok itu. Jangan habiskan sumber daya media untuk kalangan ‘elit’.

Masyarakat umum menyimpan banyak potensi untuk kepentingan jihad. Dalam masyarakat awam terdapat tenaga medis, pengusaha, insinyur, tenaga ahli dan lain sebagainya. Setiap orang dari mereka memiliki peran khusus dan sesuai yang bisa diberikan dalam medan jihad.

Inilah yang ingin saya rangkai dalam tulisan ini. Sebarkan ide ini sebagai ibadah dan kebaikan bagi kalian. Semoga kami berkesempatan menjabarkan tulisan ini dalam kesempatan yang lain. Saya mohon kepada Allah agar memberi pertolongan serta meluruskan langkah kalian. Agar kalian dapat memberi sumbangan dan peran bagi agama dan ummat ini. Semoga Allah memudahkan kalian menjadi para mujahid dan murabith. Yaitu para pembela syariat Islam yang tegas terhadap musuh-musuh Islam. Sungguh Allah maha mendengar lagi maha dekat.

Wassalamualaikum warahmatullah wabarakatuh

Saudara seiman,

Abu Yahya Al-Libi

Senin, 13 Rabiul Akhir 1431 H

 Penutup

Kelompok jihadi telah menyadari pentingnya media sebagai sayap utama—bukan sampingan—dari program jihad semesta. Karena mereka tidak mendapatkan cukup ruang di media mainstream, pilihan utama mereka jatuh pada media online (internet). Bentuknya pun beragam; bukan sekadar website yang berisi tulisan para ideologi jihad, namun mulai berkembang dalam bentuk-bentuk lain semisal forum-forum jihad, channel video YouTube, akun jejaring sosial di Twitter dan Facebook, hingga “kantor-kantor berita” yang memiliki reporter lapangan.

Hari ini internet telah menjadi alat taktis paling penting dalam perlawanan. Jika jutaan manusia menggunakan internet setiap hari untuk membaca berita, mengecek cuaca, atau membeli buku secara online, maka pemimpin kelompok jihadi telah menggunakan internet sebagai media utama untuk menyebarluaskan ideologi dan gagasan serta laporan terkini dari kegiatan jihad mereka.

Mereka yang telah mengidentikkan dan mengeneralisasi jihad sebagai “terorisme” -yang dianggap musuh bersama umat manusia- tampaknya tidak tinggal diam dan membiarkan kelompok jihadi memperoleh ruang publik yang lebih luas untuk menyampaikan aspirasinya.

Terbukti, mantan Menlu AS Hillary Clinton mengatakan bahwa dia telah menciptakan unit baru pemerintah untuk membuat kontra propaganda jihadis di jejaring sosial. Dia mengatakan, “Jika Al Qaeda mengupload sebuah video yang mengatakan betapa buruknya Amerika, maka unit tersebut akan membalas dengan video yang menjelaskan betapa buruknya Al Qaeda.” Clinton mengatakan bahwa pemerintah Amerika telah meninggalkan radio dan televisi. Celah ini akhirnya diisi oleh propaganda para jihadis. [6] (Ferry Irawan & M. Faisal/Diolah dari berbagai sumber)

 



[1] Inspire Magazine Vol. VII/Spring 2011.
[2] http://anwibisono.blogspot.com/2013/03/911-media-and-war-fever.html
[3] Douglas Kellner, “9/11, The Media, and War Fever” dalam “From 9/11 to Terror War : The Dangers of The Bush Legacy”, (Rowman & Littlefield : 2003), h. 53.
[4] Ibid, h. 54.
[5] Ibid, h. 57.
[6] By John Eggerton -Broadcasting &Cable, 1/23/2013 5:21:27 PM. http://www.broadcastingcable.com/article/491481-Clinton_Government_Has_Left_Media_Message_Void_That_Jihadists_Filled. php