Deklarasi Daulah Islam Iraq Dan Syam

01 June 2013

Pada  hari  Selasa,  28  Jumadil  Ula  1434  H (9/4/2013)  datang  kabar  yang  mengejutkan dunia.  Bemula  dari  posting  user  yang  bernama Abu Abdillah Al-Janubi dalam forum jihad Ansharul  Mujahidin  (www.as-ansar.com) yang  mengunggah  pernyataan  Pemimpin Daulah  Islam  Irak  (ISI)  Amirul  Mukminin  Abu Bakar Al-Baghdadi  Al-Husaini  Al-Qurasyi. Posting tersebut juga dirilis oleh Yayasan Media  Al-Furqan—sayap  media  Daulah  Islam Irak—yang  bekerja  sama  dengan Al-Fajr  Media  Center.  Pesan  audio  berdurasi  21  menit 26 detik itu diberi prolog “Dan  berilah  kabar gembira kaum muslimin” dan memiliki judul besar  “Deklarasi  Daulah  Islamiyah  Irak  dan Syam”.

“Kami  sampaikan  kabar  gembira  kepada umat Islam setelah rentetan peristiwa, di mana  kami  hidup  di  dalamnya.  Saya  katakan, seraya  memohon  pertolongan  kepada  Allah Ta’ala,  sesungguhnya  peningkatan  dari  level bawah menuju ke level atas adalah termasuk bentuk  pemuliaan  Allah  kepada jamaahjamaah  jihad.  Hal  tersebut  menunjukkan keberkahan amal-amal mereka, sebagaimana kemunduran  dan  stagnasi  adalah  bukti keburukan.  Kami  berlindung  kapada  Allah darinya.”

Demikian penuturan Amir Abu Bakar Al-Baghdadi dalam kalimat pembukaannya. Selanjutnya Al-Baghdadi menceritakan kembali secara singkat tentang awal-awal perjuangan mujahidin dan rentetan kronologi jamaah-jamaah jihad di Irak

Dalam ceramah tersebut, Al-Baghdadi menceritakan bahwa pada masa awal perjuangan di Irakmujahidin berkelompok-kelompok.Akhirnyamuncul sosok Abu Mush’ab Az-Zarqawi yang mencoba menyatukan mereka di bawah panji Jama’ah At-Tauhid wa Al-Jihad.

“Kemudian Syekh Abu Mush’ab Az-Zarqawi mengulurkan tangannya kepada jamaah-jamaah yang berada di medan jihad yang berada di atas akidah Ahlussunnah wal Jama’ah. Beliau memberikan syarat kepada mereka untuk bersatu tidak meninggalkan senjata bagaimanapun tekanan pemerintah thaghut sampai Allah menentukan di antara kami, menang atau syahid.”

Jadi,Az-Zarqawi menyeru kepada pemimpin-pemimpin gerakan perlawanan untuk bersatu. Mereka pun bersatu dengan nama baru Majlis Syura Mujahidin dan Al-Qa’idah setempat pun melebur dalam nama tersebut.Kemudian nama itu berubah menjadi Tanzhim Al-Qa’idah fi Bilad Ar-Rafidain setelah Az-Zarqawi membaiat Usamah bin Ladin sebagai bagian dari Tanzhim Al-Qa’idah yang kontrol pusatnya diperkirakan berada di Pakistan dan Afghanistan.

Setelah Abu Mush’ab Az-Zarqawi gugur, komando perjuangan dilanjutkan oleh Abu Umar Al-Husaini Al-Baghdadi dan Abu Hamzah Al-Muhajir Asy-Syamiyang kemudian mendeklarasikan Daulah Islam Irakpada 15 Oktober 2006.

“Sesungguhnya, rambu-rambu yang telah diletakkan oleh Syekh Abu Mush’ab, kini terus dilalui oleh orang-orang sesudahnya. Kami pun atas izin Allah berjalan di atas jejaknya.”

Demikian Abu Bakar Al-Baghdadi melanjutkan. Ia juga menjelaskan bahwa para komandan jihad telah merancang jalan yang akan dilalui para mujahidin setelahnya. Di Irak mereka membangun Daulah Islam Irak, sedangkan di Syam mereka membentuk sel-sel kecil yang membatasi aktivitasnya pada i’dad dan memonitori perkembangan selanjutnya.

Adapun di negeri Syam, mereka telah membentuk sel-sel jihad yang baru sebatas pada operasi i’dad dan bantuan jihad, sambil menunggu-nunggu kesempatan mencapai pendakian lebih tinggi yang harus terus berjalan.”

 

Proyek Jihad di Negeri Syam

Lebih lanjut, Abu Bakar Al-Baghdadi juga menjelaskan hakikat keterkaitan Jabhah An-Nushrah sebagai kepanjangan tangan Daulah Islam Irak.Ia mengatakan:

“Ketika kondisi kaum muslimin di negeri Syam telah sampai pada keadaan penumpahan darah, penodaan kehormatan (oleh rezim Nushairiyah Suriah), penduduk Syam meminta bantuan mereka sementara masyarakat internasional berlepas diri dari mereka, maka tiada pilihan bagi kami kecuali bangkit untuk menolong mereka.

Maka kami mengutus (Abu Muhammad) Al-Jaulani, dan dia adalah salah seorang tentara kami dan bersamanya sejumlah orang dari putra-putra kami. Kami berangkatkan mereka dari Irak menuju Syam untuk bertemu dengan sel-sel jihad kami di negeri Syam.

Kami merumuskan bagi mereka perencanaan-perencanaan dan kami tetapkan untuk mereka pengendalian operasi (siyasat al-’amal), dan kami biayai mereka dari setengah harta baitul mal kaum muslimin (Daulah Islam Irak), dan kami dukung mereka dengan personil-personil yang telah matang di medan-medan jihad dari kalangan Muhajirin dan Anshar.

Maka mereka berjuang dengan sungguh-sungguh bersama-sama para penduduk negeri Syam yang bersemangat membela rakyat dan agamanya. Maka kekuasaan Daulah Islam Irak semakin meluas ke negeri Syam. Pada saat itu kami tidak mengumumkannya karena faktor-faktor keamanan, dan agar rakyat bisa melihat hakikat dari Daulah (Islam Irak), hakikat sebenarnya yang jauh dari pencitraan buruk dan kebohongan oleh media massa.”

“Maka, ketika kondisi di Syam (Suriah) telah mencapai puncak berupa penumpahan darah dan penodaan kehormatan muslimah serta penduduk dunia yang terlambat menolong mereka,maka tidak ada pilihan lain bagi kami melainkan cinta untuk menolong mereka. Kami pun menugaskan Al-Jaulani (Abu Muhammad Al-Jaulani, Amir Jabhah An-Nushrah), dan dia adalah salah seorang prajurit Daulah Islam Irak. Dia bersama sekelompok putra-putrakami.

Kami kirim mereka untuk menemui sel kami di Syam. Kami berikan mereka skema dan juga program kerja. Kami berikan pula mereka bantuan prajurit-prajurit yang cinta medan juang, dari kalangan Muhajirin dan Anshar. Mereka berbaur dengan rakyat Suriah. Jabhah An-Nushrah itu sendiri tidak lain adalah perpanjangan tangan dari Daulah Islam Irak dan (hanya) bagian kecil dari Daulah Islam Irak. Mereka menderita apa yang kami derita.

Oleh karena itu, kami umumkan, seraya bertawakal kepada Allah, penghapusan nama Daulah Islam Irak dan Jabhah An-Nushrah, kemudian berkumpul dalam satu nama, yaitu Daulah Islamiyah di Irak dan Syam.”

Para pemimpin Daulah Islam Irak melalui kajian amir, ulama, dan komandannya memandang sudah saatnya dideklarasikan Daulah Islam di Irak dan Syam. Karena Jabhah An-Nushrah lahir dari “rahim” Daulah Islam Irak, maka Daulah Islam yang menetapkan keputusan tersebut dan Jabhah An-Nushrah “tinggal” sami’na wa atha’na saja. Abu Bakar Al-Baghdadi menyatakan hal tersebut dalam pesan audionya:

Kami telah membulatkan tekad, setelah beristikharah kepada Allah Ta’ala dan bermusyawarah dengan orang-orang yang kami percayai agama dan kebijaksanaan mereka, untuk terus melanjutkan perjalanan menanjak jamaah ini, dan tidak mempedulikan apapun celaan yang akan ditujukan kepada kami, karena sesungguhnya ridha Allah di atas segala-galanya, apapun yang akan menimpa kami karena hal itu.

Maka dengan ini kami meniadakan nama Daulah Islam Irak dan meniadakan nama Jabhah Nushrah, dan kami menggabungkan keduanya dalam satu nama baru: Daulah Islam Irak dan Syam. Demikian pula kami mengumumkan penyatuan bendera, bendera Daulah Islam, bendera Khilafah Islamiyah, insyaallah.

Dengan adanya pengumuman ini, maka nama Daulah Islam Irak dan nama Jabhah An-Nushrah akan menghilang serta tidak muncul lagi dalam interaksi-interaksi kami. Keduanya akan menjadi bagian dari sejarah jihad kami yang penuh berkah, seperti nama-nama lain yang telah mendahuluinya.”

 

Respons Amir Jabhah An-Nushrah Soal Deklarasi Daulah Islam Irak dan Syam

Sehari kemudian, Rabu 29 Jumadil Ula 1434 H (10/4/2013 M), forum jihad Ansharul Mujahidin mengunggah sebuah rekaman audio yang diproduksi oleh Yayasan Media Al-Manarah al-Baidha’—sayap media Jabhah An-Nushrah—yang berisi pesan dari Pemimpin Jabhah An-Nushrah Abu Muhammad Al-Jaulani. Dalam pesan audio berjudul “Seputar Kondisi Medan Syam” dan berdurasi 7 menit 15 detik tersebut, Syaikh Abu Muhammad Al-Jaulani menyampaikan sejumlah klarifikasi. Intinya berupa tanggapan atasDeklarasi Daulah Islam Irak dan Syam oleh Amir Abu Bakar Al-Baghdadi.

Klarifikasi yang hanya berjarak satu hari setelah itu tak kalahmengejutkan. Selain menyatakan tidak adanya “pemberitahuan terlebih dahulu” dan “tidak ada musyawarah dan pemberian perintah” dari amir Daulah Islam Irak dalam perkara pengumuman berdirinya Daulah Islam di Irak dan Syam, Pemimpin Jabhah An-Nushrah justru mengumumkan secara resmi pembaiatan mereka kepada Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri dan Tanzhim Qa’idatul Jihad (Al-Qaidah).

Pada bagian awal pesan audionya, Abu Muhammad Al-Jaulani menegaskan sekaligus membenarkan keterkaitan erat Jabhah An-Nushrah dengan Daulah Islam Irak.

Setelah tersingkap beberapa dokumen bahwa kami turut serta dalam jihad Irak sejak awal dimulai jihad sampai saat kami kembali (ke Suriah) setelah revolusi Suriah, meskipun terjadi keterputusan (komunikasi dengan mujahidin Irak—edt) karena takdir tersebut, namun kami telah mengetahui sebagian besar rincian peristiwa-peristiwa besar dalam perjalanan jihad di Irak dan dari pengalaman jihad di Irak itulah kami merangkum hal-hal yang membahagiakan hati kaum mukminin di negeri Syam di bawah bendera Jabhah An-Nushrah li Ahl Asy-Syam (Front Pertolongan bagi Penduduk Syam).”

Selanjutnya,Amir Jabhah An-Nushrah menegaskan bahwa ia tidak tahu-menahu soal penghapusan nama Jabhah An-Nushrah dan Daulah Islam Irak kemudian diganti dengan Daulah Islam Irak dan Syam.

“Kami beritahukan bahwa Jabhah An-Nushrah, Majelis Syuranya, dan hamba yang fakir ini (Abu Muhammad Al-Jaulani), pemimpin umum Jabhah An-Nushrah, tidak mengetahui deklarasi ini selain dari mendengarkan via media. Jika pidato yang dinisbatkan itu benar maka sesungguhnya kami tidak dimintai konsultasi.”

Al-Jaulani juga mengatakan, ia mempunyai utang kebaikan yang senantiasa melilit lehernya kepada mujahidin Irak yang berakhlak baik.

Allah telah mengetahui bahwa kami tidak melihat dari saudara-saudara kami di Irak selain kebaikan yang besar, berupa kedermawanan, pengorbanan dan menampung kami dengan baik. Kebaikan mereka kepada kami sangat banyak dan tidak bisa dihitung. Hal itu merupakan hutang yang tidak akan pernah bisa berpisah dari pundak kami selama kami masih hidup.”

Bahkan,Al-Jaulani sempat bertekad hanya akan kembali ke Suriah setelah melihat panji Daulah Islam menjulang tinggi di Negeri Dua Sungai (Irak).

Tidaklah saya ingin keluar dari Irak sebelum saya melihat panji-panji Islam berkibar-kibar tinggi di negeri dua aliran sungai (Irak). Namun peristiwa-peristiwa yang begitu cepat terjadi di negeri Syam menghalangi kami dari apa yang kami inginkan.”

Namun, kondisi Suriah menuntutnya untuk kembali ke sana. Al-Jaulani pun bertemu dengan Al-Baghdadi kemudian bersepakat untuk proyek jihad di sana, dan Daulah Islam Irak akan memberikan support-nya.

Abu Muhammad Al-Jaulani dengan kerendahan hati mengakui “telah mendapat kemuliaan” untuk bergaul dengan banyak ulama, komandan dan tentara Daulah Islam Irak. Beliau menyebutkan mereka sebagai orang-orang saleh dan hampir sebagian besar ulama dan komandan yang ia temui saat ini telah gugur.

Saya telah mendapat kemuliaan untuk bergaul dengan sejumlah orang yang saleh di negeri Irak, kami menyangka demikian terhadap mereka. Dan kami telah berpisah dengan banyak mereka, di mana hampir tidak ada seorang pun yang namanya disebutkan kepadaku kecuali saat ini telah gugur, semoga Allah menerima mereka. Belum lagi puluhan, bahkan ratusan muhajirin dari Syam dan negeri lainnya yang gugur, sebagai tebusan bagi meninggikan kalimat Allah di bawah bendera Daulah Islam Irak.”

Kemungkinan nama-nama yang dimaksud meliputi Abu Mush’ab Az-Zarqawi, Abu Umar Al-Baghdadi, Abu Hamzah Al-Muhajir, Abu Thalhah Al-Anshari, Abu Maisarah Al-Gharib, ataubeberapa nama lainnya. Kemudian Abu Muhammad Al-Jaulani melanjutkan keterangannya:

Kemudian Allah memuliakan saya untuk berkenalan dengan Syaikh (Abu Bakar) al-Baghdadi, ulama yang mulia, yang memenuhi hak (mujahidin) penduduk Syam dan mengembalikan hutang dengan jumlah yang berlipat ganda.

Beliau telah menyetujui sebuah program yang kami usulkan kepada beliau untuk menolong rakyat kami yang tertindas di negeri Syam. Kemudian beliau mengirimkan kepada kami setengah harta Daulah Islam Irak, meskipun mereka sendiri sedang menghadapi masa-masa kesulitan.

Kemudian beliau meletakkan kepercayaannya kepada hamba yang fakir ini, dan memberikan kepada hamba yang fakir ini tugas untuk meletakkan siasat (strategi) dan planning, serta menyertakan sebagian ikhwah untuk membantunya. Meskipun jumlah mereka sedikit, namun Allah memberkahi mereka dan perkumpulan mereka.

Maka Jabhah An-Nushrah mulai menghadapi kesulitan demi kesulitan, sedikit demi sedikit, sampai Allah mengaruniakan kemenangan-kemenangan kepada kami dan meninggikan panji-panji Jabhah An-Nushrah, sehingga hati kaum muslimin dan kaum yang tertindas ikut terangkat naik. Maka Jabhah An-Nushrah menjadi simbol pertempuran umat Islam hari ini di negeri ini dan menjadi gantungan harapan kaum muslimin dari seluruh penjuru dunia.”

Jabhah An-Nushrah sebagai kelompok jihad yang telah bergaul luas dengan seluruh elemen masyarakat muslim Suriah dan berkoordinasi dengan sebagian besar kelompok jihad Islam, kelompok jihad FSA (Free Syria Army), dan kelompok jihad muhajirin dari luar negeri memiliki pandangan lain.Meskipun tujuan Jabhah An-Nushrah untuk menegakkan syariat, pada mulanya mereka tidak ingin terburu-buru mendeklarasikan daulah.

a. Daulah Islam di Syam (Suriah) bukan hanya dideklarasikan oleh Jabhah An-Nushrah semata, atau bahkan atas “keputusan dan perintah” Daulah Islam Irak semata. Daulah Islam di Syam perlu didirikan atas dukungan dan kerja sama dengan semua unsur politik revolusi rakyat (kelompok-kelompok jihad Islam dan kelompok-kelompok jihad FSA) beserta para ulama Ahlussunnah yang jujur dan setia dalam perjuangan menegakkan Islam di Suriah. Para ulama, amir dan komandan kelompok-kelompok jihad di Suriah inilah yang menjadi Ahlul Halli wal ‘Aqddi Suriah.

b. Meskipun Daulah Islam belum dideklarasikan oleh Jabhah An-Nushrah dan kelompok-kelompok jihad lainnya di Suriah, namun mujahidin dan para ulama Ahlussunnah di Suriah telah berhasil menjalankan fungsi-fungsi Daulah Islam di wilayah-wilayah Suriah yang telah mereka bebaskan dari kekuasaan rezim Nushairiyah Suriah. Dalam hal ini, Jabhah An-Nushrah dan kelompok-kelompok jihad lainnya di Suriah memandang substansi dan fungsi Daulah Islam lebih penting di Suriah daripada deklarasi dan nama resminya.Mengingat kondisi Suriah berbeda, dan kelompok-kelompok jihad serta ulama-ulama di sana memiliki perbedaan, demikian pula kaum muslimin.

Sejak awal kami telah mengumumkan untuk mengembalikan kekuasaan Allah di muka bumi, kemudian bangkit bersama umat Islam untuk menerapkan syariat-Nya dan menyebar luaskan manhaj-Nya. Kami tidak akan tergesa-gesa mengumumkan suatu perkara yang menurut kami menuntut kehati-hatian. Sebab tugas-tugas daulah yaitu menerapkan syariat, menyelesaikan perselisihan dan permusuhan, merealisasikan keamanan bagi kaum muslimin dan menjamin penyediaan kebutuhan-kebutuhan pokok hidup mereka telah berjalan di wilayah-wilayah yang telah dibebaskan, meskipun di sana-sini masih ada kekurangan.

Perkara pengumuman (berdirinya daulah Islam) tidak menjadi menjadi perhatian utama dalam kondisi telah teraihnya inti persoalan (terlaksanakannnya sebagian tugas-tugas utama daulah Islam, edt). Kemudian, daulah Islam di Syam dibangun di atas lengan-lengan (peranan) semua pihak tanpa menyingkirkan satu pihak politis manapun yang ikut bersama dengan kami dalam jihad dan peperangan di negeri Syam, yaitu para kelompok-kelompok jihad, para ulama kredibel dari kalangan Ahlussunnah wal Jamaah, dan para saudara kita kaum muhajirin. Apalagi dengan menyingkirkan pimpinan-pimpinan Jabhah An-Nushrah dan majelis syuranya.

Demikian pula, perkara menunda pengumuman keterkaitan (Jabhah An-Nushrah dengan Daulah Islam Irak) bukanlah karena kelemahan dalam menjalankan agama atau kepengecutan para anggota Jabhah An-Nushrah,melainkan untuk sebuah kebijaksanaan yang cemerlang berdasar dasar-dasar syariat, sejarah yang panjang, dan mencurahkan kemampuan untuk memahami siyasah syar’iyah yang sesuai dengan negeri Syam dan disepakati oleh Ahlul Halli wal ‘Aqd di negeri Syam dari kalangan pimpinan Jabhah An-Nushrah dan “santri-santri”nya, lalu para pimpinan kelompok-kelompok jihad lainnya dan “santri-santri” mereka, kemudian orang-orang yang menolong mereka dari kalangan para ulama yang mulia, pemikir, dan orang-orang bijak dari luar negeri Syam.”

Meski Jabhah An-Nushrah tampak berbeda pendapat dengan Daulah Islam Irak dalam hal waktu, proses, dan Ahlul Halli wal ‘Aqd yang berhak mendeklarasikan Daulah Islam di Syam; bukan berarti Jabhah An-Nushrah berkhianat Daulah Islam Irak, melepaskan diri dari kaitan erat dengan kepada Daulah Islam Irak dan tidak menjalin koordinasi jihad dengan Daulah Islam Irak. Al-Jaulani menyatakan tetap memenuhi seruan Abu Bakar Al-Baghdadi untuk meningkatkan diri. Jabhah An-Nushrah juga menegaskan kesetiaan, koordinasi, dan kerja sama dalam jihad dengan Daulah Islam Irak.

Saya memenuhi seruan Syaikh Al-Baghdadi—semoga Allah menjaganya—untuk meraih peningkatkan dari kedudukan yang lebih rendah kepada kedudukan yang lebih tinggi.”

Adapun untuk identitas, panji Jabhah An-Nushrah sementara tetap berkibar dan tidak diubah.

Maka panji Jabhah An-Nushrah akan tetap seperti semula, tidak ada perubahan apapun, meskipun kami juga merasa bangga dengan panji Daulah (Islam Irak), orang yang membawanya, orang yang berkorban dan mempersembahkan darahnya untuknya dari kalangan saudara-saudara kami (mujahidin di Irak) di bawah benderanya.”

Kemudian di akhir pernyataannya, secara mengejutkan Abu Muhammad Al-Jaulani mendeklarasikan baiat Jabhah An-Nushrah kepada Aiman az-Zhawahiri selaku Amir Tanzhim Qa’idatul Jihad alias Al-QaidahPusat. Abu Muhammad Al-Jaulani dan segenapanggota Jabhah An-Nushrah menegaskan baiatnya untuk tetap mendengar dan taat di atas hijrah dan jihad.

Dan saya katakan: Inilah baiat dari putra-putra Jabhah An-Nushrah dan pemimpin umumnya.Kami memperbarui baiat tersebut untuk Syaikhul Jihad, Syekh Aiman Azh-Zhawahiri—semoga Allah menjaganya. Sesungguhnya, kami membaiat beliau untuk mendengar dan menaati, baik dalam kondisi rajin maupun dalam kondisi terpaksa, (juga membaiat beliau untuk) berhijrah, berjihad, dan tidak merampas urusan kepemimpinan dari pemimpin yang sah, kecuali jika kami melihat pada diri pemimpin tersebut kekafiran yang nyata berdasar penjelasan (syariat) Allah.”    

Jabhah An-Nushrah setelah berbaiat dengan Al-Qaidah akan tetap seperti Jabhah An-Nushrah sebelum berbai’at dengan Al-Qaidah. Sebab, mujahidin Al-Qaidah sejatinya adalah satu bagian kecil dari seluruh unsur dalam tubuh kaum muslimin. Bahkan, Al-Qaidah lahir dari rahim umat Islam dan akan senantiasa “berbakti” dan menjadi “pelayan” untuk kemaslahatan umat Islam.

 “Kami menenangkan rakyat kami di negeri Syam bahwa apa yang selama ini telah kalian lihat dari Jabhah An-Nushrah, yaitu pembelaannya terhadap agama kalian, kehormatan kalian, nyawa kalian, dan juga kemuliaan akhlaknya terhadap kalian. Adapun terhadap kelompok-kelompok jihad lainnya akan tetap seperti sedia kala seperti yang selama ini telah kalian kenal. Dan sesungguhnya pengumuman pembaiatan tidak akan mengubah apapun dari siyasah (kebijakan) Jabhah An-Nushrah.

 

Spekulasi tentang Perpecahan ISI & JN

Dua pernyataan yang berbeda tersebut mengesankan telah terjadi perpecahan di kalangan pemimpin jihad. Sebagian kalangan menilai pesan audio amir Daulah Islam Irak dan pimpinan umum Jabhah An-Nushrah itu menunjukkan di kalangan mujahidin terjadi perpecahan dan komunikasi yang buruk, setidaknya komunikasi yang sulit. Akibatnya terjadi dua pernyataan yang berbeda hanya dalam rentang waktu satu hari. Bagaimanakah duduk perkara sebenarnya?

Bila diperhatikan, kata-kata dalam pernyataan Abu Muhammad Al-Jaulani tidak menunjukkan bahwa ia tidak setuju dengan penggabungan tersebut. Ya, ia tidak menganggap buruk langkah itu. Hal ini ditunjukkan Al-Jaulani dalam pernyataannya yang baik, di mana ia memuji Abu Bakar Al-Baghdadi, menyebutkan keutamaannya, serta keutamaan Daulah Islam Irak dibandingkan dengan Jabhah An-Nushrah.

Dalam hal ini, Al-Baghdadi berpikir bahwa deklarasi Daulah Islam Irak dan Syam sebagai wadah perjuangan perlu dipercepat, khawatir bila buah jihad yang diberkati di Suriah justru dipetik oleh orang lain.Namun, adakalanya pandangan di lapangan berbeda. Dalam hal ini, Al-Jaulani sedang memfokuskan upaya menyatukan para pejuang di Suriah dalam pemahaman Daulah Islam. Karena itulah, ia mengeluarkan pernyataan tersebut.

Penting untuk digaris bawahi bahwa setelah pecahnya revolusi di Suriah, beberapa tokoh di Suriah meminta mujahidin Irak yang berada di bawah kepemimpinan Daulah Islam Irak untuk membantu perjuangan di Suriah.Untuk itu, Abu Bakar Al-Baghdadi, selaku Amir Daulah Islam Irak, memberikan otoritas kepada Abu Muhammad Al-Jaulani untuk pergi ke Suriah dan membentuk sebuah front jihad.Al-Baghdadi menyetujui proyek jihad tersebut dan memberikan dukungan dengan mengirimkan para pejuang terbaik ke Suriah setiap bulannya untuk menyelesaikan tugas tersebut.Dua pemimpin ini membangun visi pembentukan sebuah proyek Islam di Syam yang bermuara pada proklamasi Negara Islam yang diatur dengan hukum Allah, setelah pembebasan dari kekuasaan Basyar Al-Asad dan partainya.

Di lapangan, Al-Jaulani memulai misinya dengan membentuk Jabhah An-Nushrah dan mengumpulkan orang-orang paling berbakat dan mendorong semua lini jihad untuk fokus dalam pembentukan kader-kader mujahid di kalangan generasi Suriah.Jabhah An-Nushrah pun menunjukkan prestasi yang luar biasa.Dengan bantuan saudara-saudara mereka di batalion jihad lainnya mulai mengendalikan kota dan provinsi, bandara, dan kemenangan pun terlihat semakin dekat.Di sini Al-Baghdadi melihat bahwa deklarasi negara yang diidam-idamkan telah mendesak waktunya. Setelah berkonsultasi dengan banyak pihak di jajaran pemimpin Daulah Islam Irak, ia memutuskan untuk mengumumkan negara Islam Irak dan Syam.

Pengumuman Syekh Al-Baghdadi ini mengejutkan Abu Muhammad Al-Jaulani dan mujahidin di bawah kepemimpinannya di Suriah. Karena, pengumuman ini dibuat pada saat Jabhah An-Nushrah sedang mengadakan lobi dan kesepakatan dengan front jihad lainnya terkait proyek mulia ini, tanpa pemberitahuan sebelumnya.Karena itulah, Al-Jaulani melihat perlu memberikan pernyataannya guna meredam suasana sampai terjadi persetujuan dari kelompok-kelompok jihad lainnya. Kalimat-kalimatnya bertujuan untuk mencegah kemungkinan perpecahan di Suriah.

Karena komunikasi dengan Daulah Islam Irak tidak mungkin dilakukan dengan cepat, sedangkan ada kekhawatiran terjadi fitnah (kekacauan), maka Al-Jaulani pun menyampaikan pernyataannya tersebut.Jadi, tampakbahwa dua petinggi mujahidin ini masih berada dalam satu visi untuk menegakkan syariat Islam di bumi Syam.

 

Komentar Jurnalis Pengamat Jihad, Abdul Bari Atwan

Abdul Bari Atwan, jurnalis senior yang pernah tidur dalam gua persembunyian bersama Usamah bin Ladin,menulis sebuah artikel menarik dalam situs pribadinya. Dalam tulisannya, ia memberikan beberapa poin analisis dan pandangan terkait kemajuan yang dialami oleh Jabhah Nushrah. Berikut terjemahan naskahnya :

Hubungan Al-Qaidah dan Al An-Nushrah di Suriah: Sebuah Perkembangan yang Signifikan

Beberapa bulan memasuki permulaan revolusi Suriah, dua orang pemimpin Ikhwanul Muslimin Suriah mengunjungi saya di kantor Al Quds Al Arabiyya London, mengungkapkan kekecewaan mereka pada pernyataan yang saya buat di televisi Inggris tentang aksi bom syahid yang menargetkan dua markas besar keamanan di Damaskus.

Ikhwanul Muslimin menolak pernyataan saya bahwa organisasi Al-Qaidah telah bertanggung jawab atas serangan itu. Saya menyatakan, bahwa Al-Qaidah telah berhasil mencapai Suriah, dan akan memainkan peran kunci dalam konflik itu, berkat pengalaman mereka dalam perang gerilya.

Kedua orang itu pun mengatakan bahwa mereka marah dengan pernyataan saya, dan benar-benar menyangkal keberadaan Al-Qaidah di Suriah. Mereka berpendapat bahwa orang-orang Suriah tidak akan menerima keberadaan al Qaeda, lalu menambahkan bahwa Ikhwanul Muslimin telah menghentikan perjuangan bersenjata sejak terjadinya pembantaian Hama pada tahun 1982.

Kini, Penanggung Jawab Umum Jabhah An-Nushrah, Abu Muhammad al Jawlani, telah menyatakan kesetiaannya kepada sang pemimpin Al-Qaidah, Aiman Azh-Zhawahiri, dimana ini boleh jadi merupakan satu-satunya perkembangan terbesar di tengah-tengah krisis Suriah sejak awal Maret 2011.

Berita itu datang dari Abu Bakar Al-Baghdadi, pemimpin Al-Qaidah di Irak (AQI), yang mengumumkan bahwa Jabhah An-Nushrah adalah perpanjangan AQI di Suriah.

Dalam pernyataannya, Al-Baghdadi menjelaskan bahwa AQI bermaksud untuk menciptakan organisasi baru yang akan membawa keduanya, baik AQI dan An-Nushrah di bawah bendera Daulah Islam Irak dan Syam.

Pemimpin Islam itu mendesak faksi-faksi Islam melawan rezim Suriah Presiden Basyar Al-Asad dengan tujuan akhir menerapkan UU syariat Islam.

Benar adanya bahwa Al-Jaulani berlepas diri dari pernyataan al Baghdadi, namun, ia menyatakan dirinya bangga dengan Daulah Islam Irak dan mereka yang telah berjuang untuk meninggikan panjinya.

Tidaklah berlebihan jika saya katakan bahwa kolaborasi antara Jabhah An-Nushrah dan Al-Qaidah adalah perkembangan terbesar dalam krisis Suriah. Langkah ini telah membingungkan semua pihak yang pernah menyatakan dukungan untuk revolusi Suriah, terutama AS dan sekutunya dari kelompok-kelompok oposisi Suriah (yang berjuang melalui meja diplomasi).

Tentara Pembebasan Suriah (FSA) secara terang-terangan membantah koordinasinya dengan An-Nushrah. Pemimpin Oposisi MuadzAl-Khatib, yang sebelumnya menyerang keputusan Amerika untuk menempatkan An-Nushrah ke dalam daftar organisasi teroris, telah menolak ideologi Al-Qaidah, dan mengklaim bahwa ide-ide kelompok militan tidak sesuai dengan ide-ide yang dimiliki oleh Koalisi Nasional Suriah (SNC).

Kata-kata Al Khatib memperlihatkan bahwa oposisi Suriah telah memutuskan untuk menjauhkan diri dari An-Nushrah.

Sekarang ada dua proyek yang saling bertentangan dalam oposisi bersenjata Suriah.

Yang pertama, berusaha untuk mendirikan negara sipil dan demokratis dengan target merancang konstitusi, sebagaimana yang terjadi di negara-negara pasca-revolusioner lainnya, seperti Tunisia dan Mesir.

Yang kedua, berupaya untuk mendirikan negara Islam, berdasarkan undang-undang syariat, dan membentuk bagian dari kekhalifahan Islam yang lebih luas.

Sungguh luar biasa, pernyataan kesetiaan Jabhah An-Nushrah kepada pemimpin Al-Qaidah, Aiman Azh-Zawahiri.Mereka umumkan sehari sebelum pertemuan antara pemimpin oposisi Suriah dan menteri luar negeri G8 di London, dimana akan berfokus pada pembahasan seputar keputusan Barat mempersenjatai oposisi Suriah. (Dalam artikel sebelumnya, Abdul Bari Atwan menyebutkan, bahwa yang dikehendaki Barat adalah mempersenjatai kelompok yang memiliki nilai-nilai Barat).

Delapan negara yang tergabung dalam G8, dimana Amerika Serikat (AS) menjadi pimpinannya, tidak begitu antusias untuk memberikan senjata pada oposisi Suriah setelah munculnya kabar deklarasi berafiliasinya An-Nushrah pada Al-Qaidah. Kita tidak bisa mengesampingkan bahwa negara-negara itu akan menjawab panggilan untuk mempersenjatai hanya jika oposisi Suriah menggunakannya untuk memerangi Jabhah An-Nushrah, kelompok Islam Suriah yang berafiliasi dengan Al-Qaidah.

Konfrontasi antara FSA dan An-Nushrah bisa dimulai dalam beberapa hari ke depan.Sebagaimana yang diyakini AS, jika krisis Suriah semakin berkepanjangan, maka Al-Qaidah akan semakin meningkatkan pengaruhnya di wilayah Suriah.

Prioritas bagi Barat dan sekutunya di dunia Arab adalah untuk melindungi Israel. Jika Suriah menjadi negara Islam, jelas itu akan menimbulkan ancaman serius bagi Israel.

Adalah fakta bahwa nama pemimpin An-Nushrah adalah Abu Muhammad Al-Jaulani, menunjukkan bahwa ia berasal dari wilayah Dataran Tinggi Golan, dan itu bukanlah suatu kebetulan.

Fakta bahwa AS mengirimkan Menteri Luar Negeri untuk menghidupkan kembali proses perdamaian, sementara Menteri Pertahanan AS mengunjungi Tel Aviv untuk menghidupkan kembali kerjasama militer antara Israel dan Turki, juga bukan suatu kebetulan.

An-Nushrah kini menghadapi dilema yang sulit, tidak hanya dalam krisis Suriah, tapi juga di Timur Tengah selama beberapa tahun ke depan.

Medan perlawanan Irak, yang dipimpin oleh Al-Qaidah, berhasil mengalahkan AS, sedangkan gerakan perlawanan Taliban berhasil mengalahkan tentara NATO di Afghanistan.

Al-Qaidah, secara keseluruhan, mencapai hasil maksimal sejak lengsernya mantan rezim Libia, dan jelas kini mengincar kemungkinan itu di Suriah.

 

Abdel Bari Atwan
Editor In Chief Al Quds Al Arabiyya

 

Tanggapan Persatuan Ormas Islam Suriah

Tanggapan berikutnya muncul dari Asosiasi Ulama dan Dewan Ilmiah Suriah, yang merupakan perhimpunan tar berbagai ormas Islam regional Suriah.

Penjelasan Asosiasi Ulama dan Dewan Ilmiah Islam Suriah

tentang

Daulah Islam Irak-Syam dan Baiat Jabhah An-Nushrah

 

Seluruh pujian hanyalah semata milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurahkan kepada Nabi yang diutus sebagai bagi semesta alam, juga kepada keluarga dan sahabatnya secara keseluruhan.

Amma ba’d,

            Selama beberapa hari lalu, berbagai pendapat dan proyek yang mengundang perdebatan mengenai Daulah Islam Irak-Syam secara berurutan bermunculan. Dimulai dari ajakan Azh-Zhawahiri untuk mendirikan Daulah Islam di Suriah, disusul pengumuman Abu Bakar Al-Baghdadi tentang berdirinya Daulah Islam Irak-Syam, dan diakhiri pernyataantajdid (penegasan) baiat Abu Muhammad Al-Jaulani, Amir Jabhah Nushrah, kepada Syaikhul Jihad Aiman Azh-Zhawahiri.

            Efek dari peristiwa (ajakan, pengumuman, dan pernyataan) yang menjadi buah bibir secara terang-terang tanpa sembunyi-sembunyi tersebut sangat berbahaya sekali, sehingga harus dijelaskan dan didudukkan demi melindungi revolusi, mengawal tujuan-tujuannya, dan sebagai sebuah nasihat bagi umat, karena agama (Din) itu nasihat.

            Tidaklah revolusi penuh berkah tersebut tegak melainkan demi melindungi orang-orang yang lemah, pembelaan terhadap nyawa, kehormatan dan harta, melengserkan rezim yang zalim lagi diktator, serta mendirikan daulahyang hak dan adil, yang sesuai dengan petunjuk agama kita yang hanif (lurus), selaras dengan berbagai sunnatullah akantaghyir (sebab-akibat), dengan berpijak pada siyasah syar’iyah yang tepat, serta dengan musyawarah dan saling menasihati.

            Adapun adanya pengumuman dari kelompok mana saja yang tidak menguasai dan tidak memerintah negara dan wilayah tersebut untuk mendirikan negara di wilayah lain yang menjadi bagian darinya, dan mewajibkan penduduknya untuk berbaiat tanpa melalui musyawarah dengan seorangpun dari mereka, terutama para ulama dan mujahid yang terlibat di sana, juga tanpa mempertimbangkan efek-efek dan akibat-akibatnya, adalah suatu yang diingkari secara syar’i dan tertolak secara akal, bentuk kezaliman terhadap seluruh penduduk Syam, serta suatu penyerobotan terhadap kehendak dan nasib mereka.

            Sungguh, rakyat Suriah kita sangat bangga dengan keislamannya tanpa sikap hulu (ekstrem) dan melampaui batas, sebagaimana yang tampak pada revolusi dan jihad mereka. Dengan pertolonganAllah, lalu dengan keahlian dan kemampuan yang mereka miliki, serta dengan metode yang sesuai dengan masyarakat dan realita mereka,mereka akan mampu mendirikan daulah yang sempat hilang. Mereka menolak untuk menanggung kesalahan pemerintah-pemerintah asing, atau diikutsertakannya dalam peperangan-peperangan mereka yang dikendalikan dari sana-sini.

            Di sini kami tujukan tiga surat (risalah) ini kepada:

Surat pertama: Untuk saudara-saudara kami Jabhah An-Nushrah

            Sungguh, jihad kalian di bumi Syam bersama dengan seluruh faksi dan batalion sejak awal revolusi penuh berkah ini adalah suatufakta, dan pengorbanan-pengorbanan kalian juga tidak dipungkiri dan sangat terkenal, serta ungkapan masyarakat di sana bahwa “Kami seluruhnyaJabhah An-Nushrah” merupakan bukti hal itu.

            Namun, kewajiban menasihati menuntun kami—berdasarkan peristiwa yang telah terjadi tersebut—untuk mengingatkan kalian beberapa hal, dalam rangka mengamalkan firman Allah:“… Dan berilah peringatan. Sungguh peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman)”(Adz-Dzariyat: 55), seraya memohon agar Allah melapangkan hati kalian menerimanya.

            Sungguh, pengumuman bahwa Jabhah An-Nushrah sebagai bagian dari Al-Qaidah secara tanzhim dan “baiat terhadap Azh-Zhawahiri” mengandung pelanggaran-pelanggaran syar’i dan bahaya berupa penyeretan negara dan masyarakat pada perang yang tidak mereka perlukan, legitimasi“syar’i” perang terhadap kelompok-kelompok ekstrem sebagaimana klaim mereka, membuka pintu intervensi dalam negeri bagi negara-negara asing yang sedang mengintai, menyediakan legitimasi terhadap apa pun usaha atau kepemimpinan mereka melawan mujahidin, dengan alasan (seperti) memerangi “ekstremisme dan terorisme” atau alasan lain yang pasti diketahui oleh orang berakal.

            Lihatlah Rasulullah; beliau berkeinginan membagi setengah hasil kurma Madinah untuk Bani Ghathafan yang bergabung (dengan pasukan Ahzab) agar sayap sampingnya mendapat keamanan. Ini terjadi ketika beliau melihat bangsa Arab bersatu padu menggempurnya. Apakah kita ingin manusia seluruhnya memusuhi kita?

            Oleh itu, kami mengajak saudara-saudara kami “Jabhah (An-Nushrah)” untuk menarik baiat dan konsekuensinya berupa pertaruhan masa depan berdasarkan ketetapan dan keputusan dari luar,serta berpotensi melemahkan persatuan dan kesatuan internal sesama umat Islam. Kami mengajak mereka untuk memutuskan sesuatu berdasarkan musyawarah dengan ulama dan mujahidin di sana. Inilah jaminan terhindarnya negeri dan masyarakat dari berbagai bencana dan petaka yang tidak diketahui besarnya kecuali oleh Allah.

            Sebagaimana kami mengajak pimpinan dan Dewan Syariah Jabhah An-Nushrah untuk mendetailkan manhaj-nya seputar masalah takfir, bermuamalah dengan kelompok-kelompok dan batalion-batalion yang berseberangan pendapat dengan berbagai ragamnya, serta seputar mendirikan Daulah Islam. Janganlah membiarkan urusan ini untuk (konsumsi) masyarakat luas dan (alat) rekayasa, dengan sambil menyodorkan problem ini untuk dikaji dan didiskusikan bersama ahli ilmu.

           

Surat Kedua: Untuk saudara-saudara kami para revolusioner dan mujahidin

Sungguh kalian telah berpartisipasi dalam revolusi penuh berkah ini demi menolak kehinaan dan kerendahan, juga (menolak) setiap peribadatan kepada selain Allah, menolong orang yang terzalimi, serta menegakkan kebenaran dan keadilan. Kalian telah mencurahkan segala pengorbanan dan persembahan di jalan itu, yang bisa menjadi sesuatu yang dibanggakan, dikagumi, dan semisalnya. Kita dalam urusan ini terlalu tergesa-gesa. Kami ingatkan kalian bahwa perang terbesar kita adalah melawan rezim zalim. Oleh karena itu, seyogianya kita mengarahkan moncong senjata kita hanya pada mereka; tidak pada yang lain. Jika tidak, revolusi akan menyimpang dari jalurnya, dan kekuatan akan tercerai-berai.

            Sebagaimana kami juga menasihati kalian dengan sabda Rasulullah, “Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak menzaliminya dan tidak menyerahkannya (pada musuh).” Seorang Muslim tidak boleh memusuhi saudaranya yang Muslim meski bagaimanapun bentuk perselisihan diantara mujahidin. Bermuamalah sesuai tuntutan persaudaraan Islam berupa: sabar, menasihati, berusaha untuk melakukan islah, dan menolong saudaranya yang terzalimi atau menzalimi, serta meminta bantuan untuk tercapainya hal itu kepada yang memiliki ilmu dan pengalaman merupakan suatu kewajiban.

            Kami berwasiat pada kalian untuk bersungguh-sungguh melakukan tansiq sesama kalian, merapatkan barisan, dan menjauhi perselisihan. Allah berfirman, “… dan janganlah kamu berbantah-bantahan yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu” (Al-Anfal: 46)

            Ketahuilah, musuh tidak menggempur kita dengan senjata saja, namun dengan mengadu domba antara kita, memecah barisan kita, dan menyebarkan perselisihan dan pertikaian kita. Oleh sebab itu, kita hendaknya berhati-hati.

 

Surat ketiga: Untuk seluruh negara-negara internasional

            Revolusi Suriah tegak lantaran pengorbanan putra-putranya; bukan semata oleh bagian dari faksi atau tanzhim mana pun,bahkan betul-betul revolusi sipil. Seluruh lapisan masyarakat ikut bangkit, ketika kezaliman dan kediktatoran membelenggu mereka selama beberapa dekade lalu.

            Rakyat kita tidak mendapati -meski begitu banyak pengorbanan dan luka, serta kezaliman dan pertumpahan darah oleh rezim- selain konspirasi dan persekongkolan internasional melawan revolusi mereka, memberikan bantuan demi bantuan pada rezim, menutup mata terhadap aliran senjata dan bantuan dari negara-negara Sektarian dan Rusia, serta menahan persenjataan dari mujahidin dengan berbagai argumen yang lemah, tuduhan-tuduhan palsu, dan periode transisi yang terbuka.

            Pengambilan tindakan apa pun yang diarahkan pada batalion-batalion mujahidin, atau menambah kesulitan dan embargo pasokan persenjataan kepada rakyat Suriah dengan dalih memerangi terorisme, tidak akan dianggap rakyat Suriah kecuali sebagai suatu pertimbangan konspirasi dan persekongkolan. Tidak ada teror yang melebihi teror rezim Asad yang lalim.

            Terakhir, sebagaimana kami menolak intervensi tanzhim mana pun dalam menentukan nasib Daulah Suriah, kami kembali menekankan penolakan intervensi asing negara-negara dunia mana pun. Baik (intervensi) individual, pemerintahan, atau negoisasi dengan pemerintah-pemerintah lainnya. Masa depan Suriah tidak ditentukan kecuali oleh putra-putranya yang ikhlas.

            Isu rakyat Suriah adalah isu yang adil lagi jelas. Ia berjalan sesuai jalurnya untuk melengserkan rezim -dengan kehendak Allah. Tidak terpengaruh oleh kehinaan orang-orang yang hina, juga tidak persekongkolan para konspirator. “Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahar dengan sebenar-benarnya. Dan Aku pun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.” (Ath-Thariq: 15-16)

            Hanya kepada Allah lah segala urusan—sebelum dan setelahnya—diserahkan. Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam.

Sabtu, 3 Jumadal Akhir 1434 H bertepatan 13 April 2013.

Sumber: http://islamicsham.org/letters/824

 

Tanggapan Al-Qaradhawi: Tinggalkan Baiat kepada Al-Qaidah!

Sosok yang dikenal sebagai ulama senior, Dr. Yusuf Al-Qaradhawi juga mendesak Jabhah An-Nusra untuk tetap setia kepada mainstreamTentara Pembebasan Suriah (FSA), serta menggambarkan janji setia kelompok tersebut kepada Al-Qaidah sebagai “berbahaya”.
"Sumpah setia ini menyebabkan bahaya internal dan eksternal, dan dampaknya terhadap revolusi berbahaya, karena itu akan memecah jajaran mujahidin," kata Al-Qaradhawi.

Meski demikian, Jabhah Al-Nusrahdiakui telah memainkan peran yang efektif dalam memerangi pasukan Basyar Al-Asad.Ia mengatakan, "Jabhah An-Nushrah, yang telah bekerja dengan sangat baik dalam jihad melawan rezim tiran Damaskus, harus ... tetap dalam jajaran Tentara Pembebasan (Suriah), untuk mempertahankan kesatuan," kata Ketua Persatuan Ulama Muslim Internasional yang berbasis di Doha, Qatar tersebut.

Mewakili perhimpunan ulama yang ia pimpin, Al-Qaradhawi mendesak Jabhah An-Nushrah "untuk meninggalkan masalah pemerintahan dan negara di Suriah sampai setelah pembebasan dari rezim Assad, ketika orang-orang bisa bebas memilih sistem Islam atau sistem kekuasaan lainnya." Mereka memperingatkan bahwa sumpah setia kepada Al-Qaidah hanya akan "memperkuat" rezim Al-Asad.

Tanggapan Abu Bashir Ath-Tharthusi

Tanggapan lainnya juga muncul dari Abu Bashir Ath-Tharthusi. Sosok yang dianggap sebagai salah ideologi jihad modern ini juga menunjukkan resistensinya. Sebagai ulama asli Suriah yang cukup berpengaruh di antara kelompok-kelompok perlawanan Suriah, bahkan mujahidin internasional, tanggapannya menarik untuk disimak.

 

Catatan Mengenai Pengumuman Daulah Islam Irak dan Syam

Segala pujian hanyalah bagi Allah. Shalawat dan salam semoga dilimpahkan kepada (Rasul) yang tiada lagi nabi setelahnya. Amma ba’du:

Pada Selasa, 9/4/2013, saya dan lainnya begitu terkejut dengan pengumuman yang diluncurkan oleh Tanzhim “Daulah Islam Irak”yang berisibahwa Jabhah An-Nushrah merupakan perpanjangan tangan (bagian) dari Daulah Islam Irak dan diutus ke Suriah oleh mereka. Pengumuman itu juga mengenalkan sebuah nama baru yang menggabungkan antara Jabhah An-Nushrah dan Daulah Islam Irak, yaitu Daulah Islam Irak-Syam. Alasannya, kedua kelompok tersebut berasal dari satu wadah dan kepemimpinan yang berada di Irak.

Lantaran pengumuman ini akan menimbulkan efek dan pengaruh berbahaya sertakurang terpujiatas Syam, penduduk Syam, dan revolusi Syam yang penuh berkah, maka saya memberikan beberapa catatan berikut ini:

  1. Pengumuman yang berasal dari Jabhah yang disebutkan di atas ini tanpa melalui musyawarah dengan seorangpun ulama dan syekh di Syam. Begitu juga, tanpa musyawarah dengan faksi-faksi perlawanan jihad yang ikut andil di Syam dengan seluruh faksi-faksi dan nama-namanya. Karena merekalah yang pasti akan menanggung efek-efek dan pengaruh-pengaruh pengumuman seperti ini. Dengan begitu, mereka sebetulnya telah menyelisihi salah satu dasar, rukun, dan prinsip(Ashlan wa Ruknan wa Mabadi`) syariat, yaitu syura. Sebagaimana firman Allah ta’ala, “… sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah diantara mereka” (Asy-Syura: 38).
  2. Pemetik laba terbesar dan peraih keuntungan pertama kalinya dari pengumuman ini adalah thaghut Basyar Al-Asad, rezim kelompoknya yang lalim, serta aliansi-aliansinya dari bangsa Iran. Keberadaan pengumuman ini akan semakin menguatkan argumen dan alibinya di depan perkumpulan internasional, regional dan lokal, selain juga semakin menambah pembenaran atas kejahatan-kejahatan dan kelaliman mereka atas rakyat Suriah dengan argumen bahwa yang mereka perangi dan bunuh adalah para teroris yang bermasalah di seluruh dunia. Oleh itu, penanggung kerugian terbesar dari pengumuman ini adalah rakyat Suriah yang tertindas dan terzalimi, juga revolusi Syam penuh berkah dan tiada duanya.
  3. Pengumuman ini …secara otomatis akan meringankan perlawanan Basyar Al-Asad, kelompoknya, Syabihahnya, dan aliansi-aliansinya yang kemudiandikongsikan kebeberapa faksi perlawanan … Jumlahnya sebanyak faksi-faksi yang menjadikan Tanzhim Daulah Irak sebagai musuh. Peperangan … alangkah banyak terjadinya. Pemahaman ini telah berulang kali saya singgung dan isyaratkan, juga saya ingatkan dalam berbagai tulisan-tulisan dan ceramah-ceramah saya.
  4. Pengumuman ini … maksudnya sudah pasti terhadaprevolusi Syam penuh berkah … akan menyinggung seluruh kesalahan Tanzhim Daulah Irak yang lama, sekarang, dan yang akan datang … Sebagaimana juga bermaksud mengaitkan revolusi Syam dan penduduknya, …masa depannya, … cita-citanya, … dan tujuan-tujuannya, … dengan kepemimpinan Irak yang majhul(tidak dikenal) oleh rakyat Suriah.
  5. Pengumuman ini sangat berbahaya terhadap proyek rakyat Muslim Suriah, yang pada intinya untuk mendirikan daulah Islam yang independen, yang para pendirinya jujur dan adil … Ini memberikan tambahan alasan bagi Amerika dan aliansi-aliansinya (dari negara-negara Barat dan lainnya, termasuk Cina, India, Rusia dan sebagainya) untuk melakukan intervensi mengenai kondisi internal Suriah …(dalam seluruh urusan; baik yang besar maupun yang kecil)... Dan pada akhirnya mereka akan tegak berdiri di depan cemoohan rakyat Suriah ... dengan alasan dan klaim bahwa mereka menargetkan—atau mengincar—Al-Qaidah; person-personnya dan fraksi-fraksinya.

Pengumuman tersebut akan mempermudah mereka (menjalankan) kepentingan ini ... Di sisi lain akan mempersulit rakyat Suriah (menjalankan) kepentingan mereka ... Alangkah memprihatinkan ....

  1. Pengumuman ini akan menghalangi rakyat Suriah yang sedang diuji dan terisolasi dari aliran dukungan solidaritas dan simpati, serta bantuan dan pertolongan kemanusiaan yang begitu banyak … yang datang dari luar … Jika di sana ada bantuan-bantuan militer yang ‘secara malu-malu’ diberikan pada rakyat kita, revolusi kita, dan mujahidin kita lewat kereta-kereta api … maka kereta-kereta ini akan diberhentikan … dengan anggapan bahwa bantuan-bantuan tersebut akan diserahkan dan dikirimkan untuk Tanzhim Al-Qaidah,atau apa yang disebut “Daulah Islam Irak-Syam”, yang selanjutnya harus diusir dan dicegah di setiap titik perbatasan dan perlintasan.
  2. Saya mohon! Sekali lagi, saya mohon! Janganlah sampai pengumuman ini sebagai … pengumuman dan fase awal penumpahan darah yang diharamkan … dengan anggapan bahwa siapa pun yang menentang pengumuman ini, atau berpandangan bahwa itu tidak memberikan maslahat bagi Syam; rakyatnya; dan revolusinya … maka dia adalah bagian dari musuh dan ‘pemberontak’ (ash-shahawat) yang halal darahnya … Berikutnya, bermuamalah dengannya harus menggunakan metode muamalah tanzhim “Daulah Islam Irak” dengan ‘pemberontak’ di Irak ... sehingga dengan itu mereka akan mengulangi kegagalan eksperimen (tajribah) Irak … kejahatan dan kesalahan (Daulah Islam) Irak di bumiSyam.

 

Dari beberapa cacatan di atas tersebut, saya (berani) mengatakan bahwa pengumuman yang dikeluarkan “Daulah Islam Irak” adalah satu kesalahan dan berbahaya dengan seluruh pertimbangannya … tertolak berdasarkan dalil naql (al-Quran dan sunnah) dan akal … Saya berharap kepada teman-teman (ikhwah) mujahidin yang tulus (shaadiqiin) di Jabhah An-Nushrah untuk … meneliti kembali sikap yang akan diambil … dan untuk lebih mengedepankan maslahat Islam … maslahat Syam … rakyat Syam …di atas maslahat kelompok yang picik … di atas (maslahat) nama-nama baru yang menyulut (api) permusuhan; yang tidak dapat dipercepat maupun ditangguhkan. Janganlah sampai mereka—tanpa mereka sadari dan inginkan—menjadi pembantu thaghut yang lalim terhadap Syam dan rakyatnya!

 

Abdul Mun’im Mushtahafa Halimah

Abu Bashir Ath-Thurthusi

9/4/2013

 

Tanggapan Husain bin Mahmud

Husain bin Mahmud adalah seorang pemikir dan analis terkemuka di berbagai mimbar dan forum jihad internasional di dunia maya. Ia juga satu-satunya orang yang pernah menulis biografi pemimpin Taliban Mulla Umar secara lebih mendalam. Berbagai tulisannya menunjukkan kedekatan hubungannya dengan kalangan mujahidin internasional. Yang menarik, tulisannya berisi kritik balik terhadap pihak-pihak yang menyatakan keberatannya terhadap pernyataan Abu Bakar Al-Baghdadi maupun Abu Muhammad Al-Jaulani. Selanjutnya, ia memberikan solusi “jalan tengah” terkait kontroversi seputar deklarasi Daulah Islam Irak dan Syam.

 

Episode Fitnah

Kebanyakan perhatian penolong (anshar) Jihad mungkin akan mengarah pada episode (isu) terakhir yang berawal dengan sanjungan (tazkiyah) Amir Azh-Zhawahiri kepada Amir Al-Baghdadi, ditindaklanjuti deklarasi Al-Baghdadi untuk menggabungkan kedua faksi di Irak dan Syam dalam (wadah) Daulah Islam Irak-Syam, kemudian pengumuman keberatan Amir Al-Julani terhadap penggabungan tersebut, selanjutnya baiat (pernyataan kesetiaan) Jabhah An-Nushrah kepada Amir Azh-Zhawahiri!

Episode ini terjadi dalam beberapa hari dan dengan kata-kata yang menggelitik. Namun ia menampilkan goncangan besar pemikiran yang diadopsi anshaar mujahidin di berbagai tempat,selain juga menampilkan goncangan yang tidak sedikit di kalangan para ulama, dai, penuntut ilmu, dan garda depan penolong mujahidin (khawashul anshari li ahlil jihad).

(Untuk itu), evaluasi pengaruh episode ini terhadap mayoritas pemuda yang tidak mengerti problematika amal islami seperti ini adalah keharusan. Sebagian mereka akan membenturkannya; sebagian lagi mengambil suatu sikap; dan sebagian lainnya bersikap fanatik. Sehingga terjadilah pertengkaran, saling membenci, dan mencurigai. Berikutnya, persatuan akan pudar; hati saling menjauhi; dan sebagian lagi berdiri jauh sambil mengawasi situasi tanpa berusaha berpartisipasi, dengan harapan bahwa mendung tersebut segera berlalu. Begitulah seterusnya . . .

Terkadang isu tersebut begitu besar menurut sebagian kalangan, sedang menurut sebagian lain menganggapnya lebih kecil dari yang kita bayangkan. Mereka yang optimis (mutafa’il) berkomentar“[Itu menunjukkan] buruknya tansiq antar qiyadah”. Adapun mereka yang pesimis (berkomentar), “Isu-isu yang mereka singgung dalam buku-buku, artikel-artikel, dan berbagai pernyataan mereka....” Oleh karena itu, kami berusaha mendiskusikan seberapa pemahaman yang kami percayai masih begitu remang bagi sebagian kalangan. (Pemahaman itu) diistilahkan dalam tema ini sebagai fitnah, karena demikianlah realitanya. Fitnah-fitnah itu diantaranya:

  1. Pemahaman firman Allah, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridaan) Kami, Kami akan tunjukkan pada mereka jalan-jalan Kami ...” [Al-Ankabut: 69]. Ayat ini tidak dipahami oleh sebagian kalangan. Hidayah (menunjukkan) pada ayat ini tidak berarti terbebas dari kekeliruan (ma’shum) dalam setiap kebijakan (yang diambil). Bagaimana pun, mujahidin adalah manusia; pun demikian qiyadah mereka. Mereka bisa melakukan kekeliruan dan tidak ma’shum. Maksud ayat tersebut adalah bahwa mereka lebih dekat kepada hidayah umum dibandingkan dengan kebanyakan Muslim lainnya. Ini lantaran keikhlasan dan kemuliaan amal mereka, serta ibadah mereka yang kontinu.

Sebagian ulama menafsirkan bahwa ayat ini berlaku untuk mereka yang berperang (ahlil qital). Sedang sebagian lagi menafsirkan bahwa ia berlaku untuk setiap orang yang berjihad dengan bentuk jihad apa pun. (Untuk itu), menurut sebagian ahli tafsir, orang yang berjihad terhadap nafsunya atau setan, dan musuh dari dalam atau dari luar, tanpa mengenal lemah, bermalas-malasan dan putus asa termasuk dalam ayat ini. Zahir ayat ini menunjukkan bahwa ia berlaku untuk ahlilqital. Karea ulama berpendapat bahwa jika kata jihad berbentuk mutlak (terlepas dari ikatan makna mana pun) maka maksudnya adalah berperang di jalan Allah, selama tidak ada yang mengalihkan dari makna tersebut.

Tegasnya, hidayah yang dimaksudkan di sini tidak berarti ma’shum. Untuk itu, tidak sepantasnya dengan ayat ini -dengan anggapan bahwa mereka adalah ma’shum- kita gunakan untuk menyerang setiap orang yang menyangkal atau menyelisihi keputusan dan tindakan mujahidin dengan stempel sesat.Khalid bin Walid ra pernah membunuh Bani Jadzimah dan Nabi saw lepas tangan dari tindakannya. Pasukan pemanah di Bukit Uhud yang terdiri dari kalangan shahabat mujahidun pernah turun (dari bukit) yang menyebabkan kekalahan pasukan Islam, dan banyak lagi contohnya.... Terkadang pendapat sebagian mujahidin lebih tepat dari sebagian lainnya, dan terkadang pendapat mereka yang tidak berjihad (qa’iduun) lebih benar dari pendapat mujahidin. Perkara ini suatu yang fleksibel (nisbi); bukan suatu yang tetap (muthlaq).

  1. Berburuk sangka terhadap sesama Muslim ... Ini merupakan masalah penting yang dengannya Allah menurunkan (ayat) Al-Quran untuk dibacakan. Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa ...” [Al-Hujurat: 12] Juga firman-Nya, “... dan sesungguhnyaprasangka itu tidak berfaedah sedikitpun terhadapkebenaran.” [An-Najm: 28].

(Untuk itu), mungkin kita tidak menemukan kata zhann (prasangka) yang berbentuk ma’rifah (berartikel alif-lam) dalam Al-Quran kecuali berkonotasi negatif. Dari sini, mungkin kita bertanya-tanya, “Apa sikap dasar kita terhadap sesama Muslim?” “Mengapa berburuk sangka?” “Dimana gerangan menginterpretasikan pernyataan Muslim pada interpretasi terbaik?” Bukankah berprasangka buruk hanya akan mengakibatkan permusuhan dan dendam!

  1. Merujuk pada Kitab Allah Ta’ala, kita akan menemukan bahwa Allah Ta’ala telah menyebutkan larangan yang keras sebelum ayat (mengenai) prasangka dalam surat Al-Hujurat. Allah subhaanahu berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka yang (yang mengolok-olok), dan jangan pula perempuan-perempuan (mengolok-olok) perempuan lain,(karena) bisa jadi perempuan (yang perolok-olokkan) lebih baik dari perempuan (yang mengolok-olok). Janganlah kamu saling mencela satu sama lain, dan janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk (fasik) setelah beriman. Dan barang siapa tidak bertobat maka mereka itulah orang-orang yang zalim.” [Al-Hujurat: 11].

Sungguh kita telah menyaksikan bagaimana prasangka buruk telah menjembatani para ikhwah untuk saling mengumpat, saling memberi gelar-gelar yang buruk, dan saling olok-mengolok. Kita telah mendengar ucapan yang penuh dengan celaan, pelaknatan, kekejian dan keburukan! Maka, di mana adab-adab Islam? Apakah kita anshar isu-isu Islam atau isu-isu pasaran? Dimana kita jika (ditimbang) dengan sabda Nabi saw, “Bukanlah seorang Mukmin orang yang suka mencela, melaknat, berkata buruk, dan keji” [HR At-Tirmidzi dan dishahihkan Al-Albani]. Apakah ada yang beryakinan bahwa kemenangan akan diraih dengan menafikan keimanan?

  1. Sebagian kalangan telah berpartisipasi memecah-belah dan mencerai-beraikan mujahidin tanpa mereka sadari. Sebagian kalangan fanatik pada pendapat seorang tokoh, dan lainnya fanatik pada pendapat tokoh yang lain. Sehingga kita menjadi dua kelompok dengan dua pendapat, padahal sebelumnya kita berada pada satu faksi dan di bawah satu kepemimpinan. Sungguh Allah Ta’ala telah menjelaskan hal ini dengan penjelasan yang sangat jelas; yang tidak memberikan celah untuk menginterpretasikannya sedikit pun. Allah berfirman, “Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berselisih, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan kekuatanmu hilang dan bersabarlah. Sungguh, Allah bersama orang-orang yang sabar.”[Al-Anfal: 46].

Hakikat ini tidak diperdebatkan. Perselisihan akan berujung pada sifat gentar dan hilangnya kekuatan, serta bertentangan dengan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya yang disebutkan pada awal ayat. Untuk itu, wajib bersabar dan mengarahkan sebagian urusanmenuju satu kesepakatan, sehingga terealisasilah kebersamaan Allah (ma’iyyatullah) dan dengan karunia-Nyatercapailah kemenangan.

Siapa yang menadaburi ayat ini dengan baik, dia akan mengetahui hal ini dengan penuh keyakinan. Kita semuanya hapal firman Allah, “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” [Ash-Shaff: 4]. Pertanyaannya, jika Allah mencintai hal ini, apakah Dia (juga) mencintai hal yang sebaliknya? Apakah kita akan meraih kemenangan dengan sesuatu yang tidak dicintai-Nya?

  1. Apakah kita diperbolehkan menyelisihi pendapat qadah (pemimpin) kita? Menurut sebagian (mujahidin) ini merupakan suatu dilema, sedangkan menurut sebagian lainnya hal ini adalah suatu yang tabu. Untuk itu, dilema ini harus diterangkan secara gamblang ... Ada perbedaan antara menyelisihipendapatqadah dan menyelisihiperintah mereka yang bukan dalam kemaksiatan. Seseorang tidak sepantasnya menyia-nyiakan akalnya dan mempertaruhkannya untuk orang lain.

Para sahabat dahulu sering kali mereview sebagian keputusan-keputusan Nabi saw dan mendiskusikannya. Nabi tidak melarang mereka bahkan mengajak mereka bermusyawarah, padahal beliau adalah orang yang paling tidak membutuhkannya. Maka, sudah tentu selain beliau lebih pantas (mengajak orang lain bermusyawarah). Qadah jihad bukanlah para diktator (thaghut). Diktator adalah orang yang menolak siapa pun menyelisihi pendapatnya. Oleh itu, Anda akan menemukan beribu-ribu ‘penjara’ pemikiran di negara-negara diktatoris.

Jika qadah jihad menginstruksikan sesuatu, para pasukan harus tunduk dan taat selama tidak dalam kemaksiatan. Meski terkadang beberapa pasukan tidak sependapat dan tidak puas dengan pendapat qadah, namun dia harus tunduk dan taat. Dia tidak berdosa karena menganggap pendapat tersebut tidak tepat. Namun, terkadang dia berdosa jika memberontak qadah dan menampakkan ketidaksetujuannya terhadap pendapat qadah dalam beberapa keputusan yang tidak mengandung interpretasi. Seperti qadah mengumumkan sesuatu pada saat perang berkecamuk, atau saat kondisi barisan pasukan Islam bercerai-berai atau lemah. Saat kondisi seperti itu, diam adalah suatu keharusan ...

Terkadang seseorang tidak setuju dengan deklarasi Al-Baghdadi mengenai “Daulah Islam Irak-Syam”, atau dengan keberatan Al-Jaulani untuk bergabung dengan daulah tersebut. Atau (ungkapan), “Pendapat sayalah yang paling benar”, “Ini adalah hak asasi dan syar’i yang dianugerahkan pada saya untuk mengeluarkan pendapat.” Namun, apakah ada maslahat menyampaikan pendapat tersebut terang-terangan di khalayak ramai? Apakah suatu yangbijak fanatik terhadap suatu pendapat dan phobi terhadap pendapat yang menyelisihinya, serta melontarkan berbagai tuduhan terhadapnya pada waktu dan kondisi seperti ini?

  1. Ada perbedaan antara nasihat dan tasyaffi (melampiaskan kemarahan). Terdapat adab-adab dan ketentuan-ketentuan dalam (memberi) nasihat. Ia sangat dianjurkan dan disukai oleh mereka yang bijaksana. Ia terjadi diantara suadara yang saling mencintai (ahibbah)... Adapun tasyaffi merupakan kekesalan-kekesalan di hati yang terlampiaskan pada saat orang yang dikesali sedang mendapat cobaan. Itu merupakan indikasi tidakridha terhadap suatu perkara yang terjadi sebelumnya, kemurkaan, dan kebencian internal. Itu suatu yang tercela jika terjadi pada sesama ikhwah.
  2. Senantiasa waspada terhadap wazaghat (provokator), yaitu setan dari kalangan manusia yang meniup setiap percikan dan bara api untuk mendapatkan dan menyalakan api guna membakar umat Islam ... Rasulullah telah memerintahkan kita untuk membunuh para provokator karena merekalah yang menyalakan api untuk membakar Nabi Ibrahim. Seyogianya kita mempelajari benda menjijikkan ini supaya kita tahu bahwa tempatnya ialah di bawah telapak kaki ... Oleh itu, setiap orang yang berupaya memecah-belah barisan kita,menanam (benih) permusuhan dan kebencian sesama kita, serta memanfaatkan setiap kesempatan untuk menghasut sesama kita, maka dia adalahprovokator.
  3. Sebagian (mujahidin) telah melupakan firman Allah, “... maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum kerena kebodohan (kecerobohan ...” [Al-Hujurat: 6]. Perintah ‘telitilah’ di sini bukan suatu opsi, namun suatu kewajiban. Orang yang bijaksana tidak mungkin menerima begitu saja setiap apa yang dia dengar dan baca, dia semestinya meneliti isu-isu tersebut. Kita adalah umat yang senantiasa meneliti suatu isu (ummatut tatsabbut). Kita tidak akan menerima suatu hadits dari orang manapun sehingga kita mengetahui kualitas rawi dan sanadnya, serta kita betul-betul yakin bahwa hadits tersebut selaras dengan dasar-dasar agama yang universal (al-Ushul al-‘Ammah). Keistimewaan ini tidak akan ditemukan pada umat yang lain.
  4. Ada satu kaidah -layak kita namakan ‘kaidah emas’- yang tepat untuk kondisi pada saat ini. Diriwayatkan bahwa sebagian salaf pernah berkata, “Setiap yang rasional itu tidak semuanya tepat diucapkan. Dan setiap yang tepat diucapkan tidak semuanya tepat momennya. Setiap yang tepat momennya belum tentu audiensnya bersedia.”[1] Pemahaman kaidah ini tidak akan diketahui kecuali oleh mereka yang arif-bijaksana, mempunyai pengalaman dan pengetahuan yang mendalam. Dan hanya dapat dimengerti oleh orang yang bijak, telaten (tekun), sabar, dan berakal. Kaidah itu dapat kita terapkan dalam isu ini supaya kita dapat menimba pelajaran praktis berharga berupa penyikapan terhadap berbagai pendapat.

Setiap yang rasional tidak semuanya tepat diucapkan”.Terkadang saya mengetahui beberapa informasi atau rahasia, atau mengetahui beberapa perkara yang hanya diketahui oleh segelintir orang, maka apakah termasuk bijaksana jika saya menyampaikan seluruh yang saya ketahui? Jika saya memiliki beberapa informasi dan rahasia mujahidin, apakah pantas saya menyampaikan pada semua orang? Atau saya akan mengatakannya jika saya tahu bahwa hal itu bermanfaat bagi umat Islam dan tidak membahayakan mereka, dan membiarkannya untuk konsumsi pribadi saya saja terkhusus jika pengumuman itu membahayakan Islam dan umat Islam.

Dan setiap yang tepat diucapkan tidak semuanya tepat momennya.” Kaidah ini sangat penting pada masa sekarang ini, lantaran menyebarnya jejaring sosial, keberadaan internet, dan media-media informasi. Sebagian (mujahidin) terkadang mengekspos beberapa isu yang sebenarnya tidak layak dikonsumsi khalayak umum. Sehingga jika khalayak umum mengaksesnya, akan timbullah kebingungan, kesimpang-siuran, dan fitnah yang besar disebabkan khalayak umum menginterpretasikan isu tersebut tidak pada tempatnya, atau karena ketidaktahuan mereka mengenai isu yang sesungguhnya, atau akibat-akibat lain yang muncul lantaran menampilkan beberapa isu khusus untuk konsumsi khalayak umum. Perkara ini sangat berbahaya sekali. Seyogianya hal itu dimusyawarahkan dengan beberapa ulama (terlebih dahulu) dan tidak mengumumkan isu-isu khusus untuk khalayak umum. Nabi tidak bermusyawarah dengan seluruhsahabat dalam setiap perkara. Beliau hanya memiliki satu majelis syura kecil yang dipelopori Abu Bakar dan Umar bin Al-Khaththab. Majlis syura Umar pun hanya terdiri dari beberapa sahabat senior dan yunior (kibarush shahabati wa shigharuhum). Ucapan yang tidak mampu dinalar akal terkadang menjadi fitnah bagi sebagian kalangan. Dan terkadang Allah dan Rasul-Nya didustakan lantaran akal tidak mampu menalar penjelasannya.

Orang yang bijaksana tidak pantas mengutarakan apa yang diketahuinya pada setiap kondisi dan orang, bahkan seyogianya dia menyeleksi apa yang hendak diutarakannya pada waktu yang tepat, lalu dia mengutarakan hal tersebut pada orang yang betul-betul mengerti persoalan, berpengalaman, bijaksana dan amanah. Inilah hikmah …

  1. Dasar interaksi dengan sesama Muslim adalah saling mencintai, mengasihi, lemah lembut, dan merendahkan diri. Allah berfirman:

Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dengan dia bersikap keras trehadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesame mereka” [Al-Fath: 29]

Maka, berkat rahmat Allah, engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu …” [Ali ‘Imran: 159]

Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang beriman yang mengikutimu.” [Asy-Syu’araa: 215].

Sementara Nabi bersabda, “Perumpamaan orang-orang beriman dalam perasaan saling mencintai, mengasihi, dan simpati sesama mereka adalah ibarat satu tubuh, jika satu anggota tubuh merasakan sakit, anggota lainnya akan ikut tidak bisa lena dan demam.” [HR Muslim].

Sebagian muslim malah membolak-balik ini, mereka bersikap keras dan berhati kasar terhadap sesama Muslim, dan bersikap nista dalam permusuhan—dan saya berlindung kepada Allah. Sikap ini bertentangan dengan dasar (syariat) dan merupakan bentuk kemaksiatan.

Mungkin sebagian kita menanti ‘kata pemutus’ mengenai isu yang sedang bergulir ini. Tujuan penyebutan beberapa kaidah dan diskusi mengenai beberapa pemahaman tersebut adalah agar menjadi dasar pijakan bagi saudara-saudara tercinta sekalian pada masa sekarang dan akan datang. Sebagaimana perkataan Barat, “Jangan berikan aku ikan. Ajarkanlah aku cara menangkapnya.” … Hikmah adalah benda berharga Mukmin yang hilang … Namun, setelah penulisan kaidah-kaidah ini, saya berharap pada sebagian ikhwah untuk menasihati ikhwah lainnya. Juga bukan suatu dosa memberikan nasihat yang wajib bagi kita kepada qadah kita, ikhwah mujahidin, dan anshar mereka.

Saya katakan kepada mujahidin, “Ketahuilah—semoga Allah merahmati kalian—bahwa kalian telah keluar di jalan Allah dalam upaya mencari keridaan-Nya; kalian tidak keluar untuk mengangkat bendera suatu partai atau kelompok. Orang yang demikian ini sudah tentu tidak akan bersikap fanatik terhadap pendapat seorang qadah atau jamaah manapun. Allah adalah tujuan akhir kalian, dan apa yang ada di sisi-Nya adalah suatu yang kalian harapkan.

Terkadang muncul beberapa problem, sehingga terjadi kesimpang-siuran. Namun, tidak sepantasnya hal itu mengeruhkan kemurnian keikhlasan dan niat ‘Barang siapa yang berperang agar kalimat Allah menjulang tinggi maka dia berada di jalan Allah’, bukan meninggikan bendera personal atau jamaah manapun. Terkadang dalam satu pasukan terdapat para syuhada dan korban perang, Allah akan melihat niat di hati mereka, Dia-lah Maha Mengetahui perkara yang gaib…

Namun, ini tidak berarti (membolehkan) memisahkan diri dari jamaah. Bahkan, diantara prasyarat keikhlasan adalah konsisten untuk taat dan komitmen terhadap jamaah karena itu merupakan perintah Allah Ta’ala… Ikhlaskanlah niat kalian karena Allah, konsistenlah untuk taat, komitmenlah pada jamaah, bersabarlah dan berusahalah untuk bersabar, serta bergembiralah dengan pertolongan dari Allah yang sebentar lagi akan tiba.”

Sebagian (mujahidin) yang meminta kami untuk memberikan nasihat pada beberapa personal Jabhah An-Nushrah di Syam.Untuk itu, saya katakan, “Al-Baghdadi berpendapat bahwa sebaiknya qiyadah (kepemimpinan) itu terpusat agar mujahidin bisa saling menguatkan, dan meminta (Al-Julani) agar mencontohkan pembatalan perbatasan-perbatasan antara negeri-negeri Islam dan maslahat-maslahat lainnya. Sedang Al-Julani berpendapat bahwa sebaiknya qiyadah tidak terpusat untuk masa sekarang ini, lantaran keistimewaan fraksi-fraksi di Syam dan perjanjian-perjanjian yang berlaku di sana. Kedua tokoh tersebut berbeda pendapat, namun memiliki tujuan yang satu; yaitu untuk menolong agama ini.

Bagaimanapun kondisinya, fase perbedaan pendapat seperti ini tidak pantas mengeruhkan ketulusan hati, dan tidak memecahkan persatuan, karena perbedaan pendapat antara tokoh adalah suatu yang lumrah … Tidak boleh!

Saya katakan, “Pecahnya barisan seperti ini tidak boleh secara syar’i. Seyogianya urusan ini tetap pada kondisi semula, yaitu konsisten untuk menaati Amir Al-Julani. Siapa yang menyelisihi perintahnya, dia telah bermaksiat pada Allah dan Rasul-Nya serta berupaya melemahkan kekuatan umat Islam. Demi Allah! Demi Allah! Masa depan Islam ada di tangan kalian. Perang masih berkecamuk dan musuh yang hina senantiasa mengintai kalian. Siapa yang mencontohkan perpecahan maka dia menanggung dosanya dan dosa yang mengikutinya serta memikul tanggung jawab atas tumpahnya darah dan robeknya kehormatan umat Islam. Dan siapa yang menggunakan akalnya dan berkomitmen pada jamaah maka dia mendapat pahala dan pahala orang yang mengikutinya serta pahala terangkatnya Islam di bumi Syam sampai hari kiamat kelak.”

Kepada para qadah, saya menasihati, “Bertakwalah kalian pada Allah dalam mengurusi umat Islam. Ketahuilah, kepemimpinan adalah suatu amanat, dan tujuan kalian adalah menolong agama ini. Bermusyawarahlah kalian. Tuntaskanlah urusan-urusan kalian dengan penuh kerahasiaan (kitman). Ketahuilah, genderang perang baru saja ditabuh, totalitas kesungguhan semua fraksi begitu dibutuhkan. Mungkin qiyaadah yang tidak terpusat adalah opsi terbaik pada saat ini lantaran jarak antara fraksi yang saling berjauhan, juga karena beberapa isu ini belum begitu jelas. Qadah Jabhah (An-Nushrah) lebih memahami realitas dan maslahat di lapangan. Setiap fraksi tersibukkan dengan fraksi lainnya. Fraksi yang telah menyelesaikan problem internalnya baru akan beralih ke fraksi lain; bukan malah sebaliknya.

Hendaklah kalian bersabar dan terus bersabar karena sungguh Allah bersama orang-orang yang sabar. Jangan tergesa-gesa memetik buah dari pohon yang masih belum kokoh dahannya. Kalian jangan turun dari bukit pemanah sebelum peperangan usai sehingga musuh bisa menyerang kalian dari belakang. Janganlah kalian bermaksiat pada Allah dengan berselisih dan berpecah-belah sehingga kalian menjadi gentar serta lenyaplah kekuatan kalian. Jadilah hamba Allah yang saling bersaudara.

Tunduklah pada Allah. Rendahkanlah diri pada saudara-saudara kalian, semoga dengannya Allah meninggikan kemulian kalian. Carilah apa yang ada di sisi Allah saja. Ketahuilah, jika niat kalian ikhlas, kalian akan mampu meruntuhkan gunung sebelum kalian meruntuhkannya dengan bom kalian. Allah akan menolong hamba yang menolong (agama)Nya. Dia-lah Mahakuasa lagi Maha Perkasa.”

Untuk anshaar (jihad), saya nasehatkan, “Bertakwalah kalian pada Allah mengenai darah umat Islam dan terkhusus darah mujahidin. Jadikanlah kaidah-kaidah Islam dan manhajnya sebagai barometer dalam setiap isu. Ketahuilah, kalian akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan dan ucapan kalian di hadapan Allah. Isu seperti ini tidak pantas diberikan porsi yang lebih besar atau menyebabkan perselisihan diantara kalian, berikutnya menyebabkan perselisihan mujahidin di berbagai fraksi.” Berikut saya sebutkan beberapa kaidah untuk sekedar mengingatkan:

  1. Tidak ada seorang pun yang ma’shum setelah Nabi saw
  2. Meneliti setiap pendapat adalah suatu kewajiban.
  3. Berprasangka baik sesama Muslim adalah dasar (muamalah dengan Muslim)
  4. Konsisten dengan dasar-dasar diskusi yang syar’i adalah suatu kewajiban
  5. Menyia-nyiakan akal dan mempertaruhkannya pada orang lain merupakan suatu yang tidak pantas
  6. Hendaknya mengetahui perbedaan antara berbeda pendapat dan menyelisihi perintah (qadah)
  7. Perbedaan pendapat merupakan suatu yang lumrah dan harus disikapi dengan cara yang bijaksana.
  8. Fanatik dan membela mati-matian seseorang atau sebuah Jamaah Islam dan tidak (bersikap demikian) terhadap selain mereka merupakan suatu yang tidak pantas
  9. Diantara ajaran agama terpenting adalah berpegang teguh pada Din, bersatu padu, dan merapatkan barisan
  10. Penyebab kegagalan yang paling dominan adalah terjadinya pertikaian
  11. Mengatakan apa saja pada setiap waktu dan ditujukan untuk setiap orang adalah sikap yang tidak bijaksana
  12. Orang-orang beriman pada dasarnya bersikap keras pada orang kafir dan saling mengasihi sesama mereka
  13. Waspada terhadap para provokator adalah sebuah keniscayaan
  14.  Pertolongan Allah pada umat Islam tergadaikan dengan mereka menolong agama mereka, bukan dengan bermaksiat pada Allah.

Apa yang ditulis oleh sebagian anshar (jihad) tidak terlepas dari sikap fanatik terhadap seorang qaid atau sebuah jamaah, sehingga bentuk pembelaan pribadi dan dukungan terhadapnya terkandung dalam pernyataan mereka. Sebagian juga bersikukuh tidak mengakui kesalahannya sehingga dia mati-matian mempertahankannya. Sikap ini seluruhnya telah keluar dari rel keikhlasan terhadap isu sentral, yaitu menolong agama ini.

Untuk itu, mengembalikan urusan pada Allah, memurnikan keikhlasan, meluruskan niat, bertaubat dan memohon ampunan (pada-Nya) merupakan suatu kewajiban untuk saat ini. Janganlah sebagian (kita) termasuk orang yang dimaksudkan Allah dalam firman-Nya, “Dan apabila dikatakan kepadanya: "Bertakwalah kepada Allah", bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. [Al-Baqarah: 206].

Orang pandir akan menyangka bahwa dia tidak pernah melakukan kesalahan. Sedang Nabi saw bersabda, “Setiap anak cucu Adam berbuat kesalahan-kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat” [HR Ibnu Majah dan dishahihkan oleh al-Albani].

Orang yang cerdik bukanlah orang yang tidak pernah berbuat salah. Namun, orang cerdik adalah mereka yang mengakui kesalahannya dan tidak terus-menerus melakukan kesalahan yang sama.

Sungguh mengherankan!

Seseorang akan terheran-heran saat menyaksikan sebagian (ansharul jihad) yang berkeyakinan bahwa mencela Al-Qaidah merupakan suatu keharusan demi menolong problematika umat Islam! Saya telah membaca berbagai statemen dan analisa yang mengkritik baiat (janji kesetiaan) Al-Jaulani kepada Azh-Zhawari, seakan-akan Al-Jaulani telah melakukan suatu dosa besar! Hampir seluruhnya menyayangkan (peristiwa tersebut) atas (masa depan) jihad, dan menstempel baiat itu sebagai bentuk intervensi asing, serta membangun bangunan rapuh di atasnya kemudian menghancurkan (bangunan tersebut) demi kepentingan orang-orang kafir. Semoga Allah menolong (kita terhindar dari hal itu).

Jika kami boleh bertanya, “Perubahan apa yang terjadi setelah adanya bai’at yang kalian sayangkan itu?” Apakah berbagai bantuan Barat-Salibis kepada umat Islam di Suriah yang hanya iming-iming tersebut telah terhenti? Apakah Barat-Salibis menarik kembali keterlibatannya yang secara sembunyi-sembunyi itu? Apakah dengan baiat tersebut Barat-Salibis berhenti melancarkan tipu daya terhadap umat Islam? Apakah lantaran baiat ini ‘mesin pembunuh’ Nushairiyah-Rafidhah akan kembali beraksi setelah sebelumnya sempat terhenti? Jadi, apa yang berubah?

Sebagian yang lain berkomentar bahwa mujahidin telah memberi peluang pada Barat-Salibis untuk melakukan intervensi. Sebagian lagi berkomentar bahwa mereka telah menutup peluang Barat untuk melakukan intervensi. Dan sebagian ikut berkomentar bahwa mujahidin telah memberikan kesempatan bagi Nushairiyah-Kafir untuk melakukan pembunuhan! Alangkah mengenaskannya fakta bahwa sebagian umat Islam yang telah terjerumus pada level pemikiran yang begitu picik dan hina tersebut!

Sejak sebelum maupun sesudah baiat, Nasrani dan Yahudi akan senantiasa melancarkan tipu daya dan permusuhan pada umat Islam. Barat-Salibis akan selalu menghalang-halangi mujahidin untuk mendapatkan persenjataan, baik sebelum baiat atau sesudahnya. Barat-Salibis juga senantiasa melakukan intervensi di Suriah denganbarbagai tipu daya dan makar, baik sebelum baiat maupun setelahnya. Serta Rafidhah-Nushairiyah yang kafir senantiasa membunuh umat Islam, baik sebelum baiat ataupun setelahnya. Jadi, apanya yang berubah, wahai kaumku?

Kita telah jemu dengan pemikiran-pemikiran destruktif dan mental-mental pecundang ini. Hampir seluruhnya berteriak, “Barat akan melakukan ini ... Barat tidak akan melakukan itu ...” Sedang ada persoalan yang terlupakan, diremehkan, dan semakin hilang gaungnya, yaitu (persoalan) “Apa peran kita?”, “Dimana senjata-senjata kita?”, “Mengapa kita tidak menyuplai mujahidin dengan persenjataan?”, “Mengapa kita tidak bangkit memerangi Nushairiyah?”, “Mengapa kita tidak melancarkan konspirasi pada Barat sebagaimana yang telah dilakukan mereka pada kita?”, “Apakah kita sudah berada pada perimbangan (kekuatan) ini?”, “Apakah kita berkeyakinan bahwa Barat-Salibis akan mendukung umat Islam dan (menyelesaikan) problematika-problematika mereka?”, “Apakah kita berpikir bahwa Barat-Salibis akan menghentikan konspirasi mereka pada kita meski hanya sebentar?”, “Apakah terlintas di benak kita bahwa Rafidhah dan Nushairiyah akan menghentikan permusuhan mereka pada kita meski hanya sesaat? Dan mereka akan menghargai tiap tetes darah kita jika mereka menguasai kita?”

Saya tegaskan secara jelas dan gamblang kepada para ulama, dai, dan cendekiawan, “Baiat ini bukanlah ‘pelampung penyelamat’ buat Barat dan Nushairah, namun merupakan ‘pelampung penyelamat’ untuk kita. Pantaskah hal itu mengerutkan kita untuk menolong umat Islam dan orang-orang lemah di Syam dengan jiwa kita, dan memalingkan kita untuk berhadapan dengan pemerintah-pemerintah yang telah mengekang dan merongrong kita sehingga membuat kita lemah?

Lantas saat tiba sesuatu yang kita anggap ‘titik terang, kita –benar-benar lupa diri- kemudian melontarkan cemoohan pada orang-orang yang bergegas berjihad fi sabilillah dan menyambut seruan Allah.” Kehormatan apa yang masih tersisa di wajah-wajah kita? Rasa malu apa yang masih kita miliki? Di satu sisi, firman Allah mengingatkan bahwa kita adalah orang-orang yang kerdil, tidak ikut berjihad, pembangkang, reda dengan kehinaan, serta terancam dengan azab yang pedih. Sedang di sisi lain, (firman Allah juga) memberitahukan kita bahwa mereka yang berjihad adalah orang-orang yang mulia, mendapat pertolongan, diberikan petunjuk, serta dijanjikan dengan kenikmatan yang abadi ...

Kita tidak berusaha memperkuat posisi mereka. Kita tidak mempunyai rasa malu saat mencela mereka. Kita juga tidak terdiam ketika kita reda berada bersama orang-orang yang tidak berangkat ke medan perang. Padahal kita adalah orang yang dikenai kewajiban dan diperintahkan untuk menolong orang yang telah menolong kita ... Lantas, dari dua kelompok tersebut, kelompok mana yang lebih berhak mendapat celaan jika kalian memang orang yang bijaksana?

Al-Qaidah telah ada di Syam sebelum Revolusi Suriah terjadi. Mereka telah ikut menyingsingkan lengan sejak dari awal (revolusi). Mereka tidak berada di luar kerangka Islam. Mereka hanya keluar dari traktat perbatasan Sykes-Picot. Siapa yang berkata bahwa hal itu termasuk ‘intervensi asing’, berarti dia tidak memahami definisi umat Islam secara syar’i. Intervensi asing adalah intervensi oleh selain umat Islam–seperti Barat-Salibis, Arab yang murtad, dan non-Muslim. Adapun jika mereka umat Islam, maka ini adalah kepentingan dan problematika mereka, serta merekalah yang berhak atas demikian itu berdasarkan nash Al-Qur’an ...

Orang yang meminta Barat-Salibis agar melakukan intervensi lebih utama disematkan padanya ‘gelar’ (intervensi asing) tersebut. Adapun umat Islam—terkhusus mujahidin—ini merupakan kepentingan internal khusus mereka dan mereka memang diperintahkan Allah Azza wa Jalla untuk melakukan intervensi dan menolong umat Islam. Siapa yang tidak memahami masalah ini, hendaknya dia kembali mendalami akidahnya juga (mendalami) Al-Qur’an dan Sunnah Nabi-Nya Shallahu ‘alaihi wa sallam.

Ini sangat mengherankan! Bagaimana mungkin Anda bisa mengatakan pada Al-Qaidah, “Jangan melakukan intervensi! Ini bukan urusan kalian. Mengapa kalian ikut intervensi dalam urusan yang tidak ada kaitannya dengan kalian?” Jika hal itu berkaitan dengan kepentingan kalian maka mereka lebih lagi berkepentingan, karena ini adalah jihad sedang kalian bukanlah mujahidin. Dan jika kalian tidak berkepentingan maka sudahlah. Anda dapat meminta orang-orang kafir untuk mengintervensi urusan umat Islam dan Anda bisa katakan pada mujahidin, “Janganlah kalian mengintervensi!” Ini tidak masalah. Masalah sesungguhnya adalah bahwa sebagian masyarakat begitu mengapresiasi ungkapan tersebut. Celakanya, sebagian masyarakat cukup puas dengan (ungkapan tersebut). Sungguh, si pandir akan begitu melelahkan orang yang berusaha mengobatinya.

Suatu yang menyedihkan kami bahwa umat Islam di Suriah tidak pernah mengambil pelajaran dari konspirasi dan makar ini. Sungguh, debu-debu penindasan itulah yang menguji pengalaman Khalifah mereka, Mu’awiyah bin Abu Sufyan. Di antara reruntuhan itulah kecerdikan Gubernur mereka, Amr bin Al-Ash bersinar. Juga pada gemuruh irama meriam-meriam itulah keberanian Kakek mereka, Khalid bin Al-Walid mencuat. Semoga Allah meridhai mereka semua.

Segala pujian hanyalah milik Allah yang telah menggagalkan tipu muslihat setan terhadap bumi Syam. Setan lari terbirit-birit saat melihat para malaikat melindungi setiap sudut-sudut negeri ini dengan sayap-sayapnya. Sungguh, Allah ‘Azza wa Jalla yang melindungi negeri ini beserta penduduknya.

Renungan…

Seorang wartawan, Abdul Bari bin Athwan dalam artikelnya yang berjudul ‘Bom Jabhah An-Nushrah Membingungkan Oposisi’ menulis,

“Dari dua proyek fraksi-fraksi oposisi bersenjata menghadapi rezim Suriah yang saling kontradiksi ini, kita diberikan dua pilihan:

Pertama, proyek demokrasi yang menghendaki berdirinya negara sipil (demokrasi) yang diatur berdasarkan undang-undang dan kotak-kotak suara serta undang-undang konvensional sebagaimana yang diterapkan di negara-negara demokrasi lain seperti Turki -bahkan Suriah sekarang ini- ditambah dengan beberapa formalitas syariat Islam seperti yang terjadi di Mesir.

Kedua, proyek Islam yang menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai dasar undang-undang negara. Syariat dan hukum-hukum Islam merupakan undang-undang dan rujukan pemerintahnya. Juga negara Islam Suriah ini akan menjadi bagian dari Daulah Khilafah Islamiyah.”

Orang ini bukan dari Al-Qaidah, bukan anggota Jabhah An-Nushrah, juga bukan termasuk fundamentalis sebagaimana yang sering distempel masyarakat awam saat ini. Bahkan dia hanya seorang wartawan Palestina yang menetap di Inggris. Analisa tersebut lahir setelah dia mengamati dan meneliti kondisi Suriah … Analisisnya memberikan suatu pelajaran berharga bagi umat Islam secara umum, dan bagi pejuang yangada di Suriah secara khusus. Hal ini mengingatkan kita akan firman Allah dalam Kitab-Nya:

Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut…” [An-Nisa: 76]

Dan perangilah mereka itu sampai tidak ada lagi ‘fitnah’ dan agama hanya bagi Allah…” [Al-Baqarah: 193].

Fitnah yang dimaksud di sini adalah kekufuran. Dalam salah satu hadits shahih, Nabi saw berkata pada Abdullah bin Amr bin Al-Ash, “Jika engkau berperang dengan penuh kesabaran dan mengharap rida Allah, Allah akan membangkitkanmu (bersama) orang-orang yang sabar dan mengharap rida-Nya. Dan jika engkau berperang karena riya’ dan ingin memperbanyak harta, Allah akan membangkitkanmu (bersama) orang-orang yang riya dan memperbanyak harta. Wahai Abdullah bin ‘Amr! Apa pun niatmu ketika berperang atau terbunuh, Allah akan membangkitkanmu sesuai dengan niatmu tersebut.” [HR Abu Dawud].

Berpijak dari sini, kami menasihati:

Wahai pejuang di Suriah! Jika Anda berperang atas nama demokrasi, negara demokrasi, dan undang-undang konvensional-liberal, Allah akan membangkitkan Anda sesuai dengan niat Anda. Dan jika Anda berperang demi Al-Qur’an, syariat Islam, daulah Islam, dan demi menghidupkan kembali khilafah, Allah akan membangkitkan Anda sesuai dengan niat Anda. Perang yang kedua berada di jalan Allah, dan perang yang pertama berada di jalan taghut.

Hidup di dunia ini hanya sekali, kemudian disusul kehidupan abadi di akhirat. Pilihlah jalan hidup Anda sendiri—dan(Allah) hanya memberikan suatu bebansesuai dengan kemampuan Anda: yaitu terbunuh atau mati syahid. Nabi saw bersabda, “Siapa yang berperang di bawah panji kesesatan, mengajak dan membela mati-matian fanatisme, maka terbunuhnya seperti keadaan orang jahiliyah.” [HR Muslim dan An-Nasa’i].

Demokrasi, negara sipil, dan undang-undang konvensional merupakan panji-panji kesesatan yang tidak berpedoman dengan ajaran Islam. Sedang kebangsaan, kedaerahan, kesukuan, dan nasionalisme adalah bentuk-bentuk fanatisme jahiliah. Jika Anda berperang dan terbunuh demi membela bentuk-bentuk fanatisme ini maka terbunuhnya Anda seperti keadaan orang-orang jahiliah. Namun jika Anda berperang demi meninggikan kalimatullah, mengusir Nushairiyah, dan menjalankan syariat Islam di negeri tersebut maka Anda berada di jalan Allah.

Demi saling menasihati dan rasa kasih sayangku, saya katakan pada ikhwah pejuang di negeri Syam, “Jabhah An-Nushrah dan aliansi-aliansinya berperang demi dien. Sedang sebagian kelompok yang lain berperang demi bangsa, pemerintahan, dan negera sipil thaghut yang tidak berhukum dengan syariat Allah.” Allah Ta’ala berfirman, “Orang-orang yang beriman, mereka berperang di jalan Allah, dan orang-orang kafir berperang di jalan thaghut …” [An-Nisaa’: 76].

Siapa yang ingin termasuk ‘orang-orang beriman’ maka bergabunglah bersama mereka (Jabhah An-Nushrah dan aliasni-aliansinya). Dan siapa yang ingin termasuk ‘orang-orang kafir’ maka bergabunglah dengan kelompok yang lain. Pilihan seseorang di dunia akan dia petik di akhirat kelak, “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya.” [Al-Muddatstsir: 38]

Wallahu a’lam. Semoga Allah mencurahkan shalawat dan kesejahteraan kepada Nabi kita, Muhammad, kepada pengikut-pengikutnya, serta sahabat-sahabatnya ..

Ditulis oleh

Husain bin Mahmud

17 Jumadal Akhirah 1434 H

 

Catatan Penutup

Perlu dipahami bahwa perbedaan pendapat dan keputusan antara para pemimpin umat bukanlah perkara baru. Para sahabat dahulu berbeda pendapat ketika memilih seorang pengganti dalam kepemimpinan umat. Ketika Nabi saw wafat, Umar bin Khaththab tidak sepakat dengan Abu Bakar yang memutuskan untuk memerangi orang-orang murtad. Para sahabat juga berbeda pendapat ketika Utsman terbunuh. Dan ini tidak mengurangi hak mereka sebagai sahabat.

Poin yang perlu dicatat dalam benak kita adalah bila perbedaan pendapat bisa terjadi di kalangan manusia-manusia terbaik sepeninggal Nabi, maka terjadinya perbedaan pendapat di kalangan pemimpin setelah mereka adalah perkara yang bisa terjadi pula. Apalagi bila perbedaan itu masih dalam konteks ikhtilaf yang bisa diterima. Itulah sebabnya, umat Islam tidak sepantasnya terhasut oleh para pihak yang ingin memancing di air keruh dan menyebarkan persangkaan-persangkaan yang tidak berdasar.Wallahu a’lam.