SINAI DARI BUMI WAHYU MENUJU PERANG SUCI

30 November 2013

Semenanjung Sinai tidak pernah lepas dari letupan-letupan konflik. Kawasan yang selama puluhan tahun dikuasai oleh berbagai rezim militer, kini kembali menjadi perbincangan hangat di dunia internasional setelah absen dari aksi-aksi kekerasan selama tujuh tahun (antara 1997-2004).[1] Isu-isu terorisme yang mencuat menyusul peristiwa 11 September 2001, ekses kuatnya mulai merambah Sinai sejak 2004. Lengsernya rezim militer pada 2011 dan kudeta militer terhadap pemerintahan Muhammad Mursi pada Juli 2013 juga menyulut meningkatnya ketegangan di semenanjung tandus itu. Letaknya yang sangat strategis mengontrol jalur lalu lintas pelayaran yang menghubungkan Eropa dan Asia dari Laut Mediterania melalui Laut Merah. Ini tentunya sangat berdampak pada pasang-surut konflik Dunia Islam dan Barat.

Berbagai kalangan menilai keberadaan kelompok-kelompok jihadis di Sinai—lengsernya Hosni Mubarak membuat kontrol militer melemah dan menyebabkan Sinai seakan menjadi wilayah ‘tanpa hukum’—telah mengubah wilayah ini menjadi ‘tempat yang sangat menakutkan (land of fear)’. Menurut beberapa literatur, Sinai merupakan bagian tak terpisahkan dari Syam. Maka tak heran jika Sinai memiliki daya tarik tersendiri bagi kaum jihadis, disamping faktor nilai strategisnya dari sisi geopolitik Timur Tengah. Eksistensi kaum jihadis yang mulai mengusung isu jihad global di Sinai, dipandang sebagai ancaman serius yang sudah tiba di depan pintu Israel. Oleh karena itu, menarik untuk mengenal Sinai lebih dekat.

Letak dan Kondisi Geografis

Semenanjung berbentuk segitiga ini dibatasi oleh dua perairan; Laut Mediterania (Laut Tengah) membatasinya di sisi utara dan Laut Merah di sisi selatan. Dua sisi segitiganya yang mengerucut ke selatan membelah bagian utara Laut Merah menjadi dua; Teluk Aqabah menjorok ke sisi tenggara daratan Sinai dan Teluk Suez ke sisi barat daya. Sementara sisi timur Sinai berbatasan darat dengan Israel dan Jalur Gaza (Palestina), dan di bagian barat ada Terusan Suez. Meski terletak di daratan Asia, Sinai adalah bagian dari negara Mesir—yang mayoritas wilayah daratnya berada di benua Afrika. Terusan Suez sepanjang 120 km menjadi pemisah antara daratan Sinai dengan kawasan lembah Nil Mesir. Luas Sinai ±61.000 km2 atau sekitar 6% dari total wilayah Mesir yang mencapai ±1.001.450 km2.[2]

Meskipun kondisinya bergurun, bergunung-gunung batu, dengan sumber air yang sulit hanya mengandalkan air hujan dan lelehan salju yang mengaliri sungai-sungai kering (wadi) dan oase-oase yang bersumber dari sungai bawah tanah, Sinai memiliki arti penting bagi Mesir selama ribuan tahun karena beberapa alasan:

-          Kekayaan sumber daya alamnya yang berupa tembaga, minyak bumi dan batu permata (fairus), sehingga Sinai dikenal pula sebagai the Land of Turquoise (Ardhul Fairûz).

-          Sinai adalah benteng alami yang melindungi Mesir dari berbagai invasi yang datang dari arah utara (seperti dilakukan oleh bangsa Hyksos, Assyrian, Turki, Inggris dan Israel).

-          Gurun Sinai yang gersang dan luas menjamin keamanan dan pertahanan bagi kelancaran aktivitas Terusan Suez yang mulai dibuka tahun 1869.

-          Menguasai Sinai berarti memiliki dominasi militer atas Laut Merah yang memudahkan kontrol terhadap jazirah Arab.

Administrasi

Keputusan Presiden Mesir no. 84 yang dikeluarkan pada 1979 menentukan pembagian wilayah Sinai menjadi dua provinsi dengan luas hampir berimbang: Provinsi (Muhâfazhah) Sinai Utara dengan Al-Arish sebagai ibukotanya dan Sinai Selatan dengan ibukota At-Tur.[3]

Kota-kota penting di Sinai Utara antara lain Al-Arish (ibukota), Syaikh Zuwaid, Bir Al-Abd, Al-Goura dan An-Nakhl. Sementara di Sinai Selatan ada Ras Sudr, At-Tur (ibukota), Sharm Asy-Syaikh, Ras Muhammad, Dahab, Nuwaiba, dan Taba. Meskipun At-Tur adalah ibukotanya, namun kota yang lebih ramai di Sinai Selatan adalah Sharm Asy-Syaikh.

Meskipun secara administratif dibagi menjadi dua provinsi, namun Semenanjung Sinai diperlakukan berbeda karena sejarah panjangnya. Untuk mengontrol keamanan di Sinai, akibat konflik regional yang berkepanjangan dan penguasan rezim-rezim militer di semenanjung ini, secara militer Sinai dibagi menjadi empat zona yang masing-masing membelah Sinai memanjang utara-selatan di tiga zona dan satu zona di wilayah Israel.[4]

Pertama, Zona A: Sinai bagian barat, membentang utara-selatan di sebelah timur Terusan Suez, dimana Mesir menempatkan divisi infanterinya sebanyak 22.000 personel.

Kedua, Zona B: Sinai bagian tengah. Di bagian ini, empat batalion ditempatkan untuk memperkuat polisi Mesir.

Ketiga, Zona C: Sinai bagian timur, membentang utara-selatan di sebelah barat perbatasan Israel dan Rafah (Palestina), dan pantai Teluk Aqabah yang membentang dari Taba hingga Sharm Asy-Syaikh. Zona ini dikontrol oleh polisi Mesir dan MFO (the Multinational Force dan Observers [Pasukan dan Pengamat Multi-nasional]). Di bagian utara, MFO bermarkas di Al-Goura dan di bagian selatan di dekat Sharm Asy-Syaikh.

Keempat, Zona D: zona sempit membentang di sebelah timur sepanjang perbatasan Israel-Mesir. Israel berhak menempatkan empat batalion infanterinya di zona ini, termasuk di perbatasan Gaza (Palestina)-Mesir.[5]

Dengan beragamnya suku-suku Badui yang hidup di Sinai[6], secara informal Sinai terbagi-bagi dalam wilayah kesukuan. Masing-masing wilayah dibatasi hanya oleh tanda-tanda alam, seperti wadi, gunung, batu-batu besar dan kebun-kebun di sekitar oase.[7]

Komposisi Masyarakat

Meskipun Sinai adalah bagian dari Mesir, namun wilayah ini memiliki karakter yang berbeda. Secara garis besar, penduduk Sinai terbentuk dari empat komposisi utama: Arab Badui sebagai mayoritas, orang-orang Palestina, penduduk dari Lembah Nil dan orang-orang Bosnia Al-Arish. Populasi yang mendiami Sinai diperkirakan sekitar 380.500 jiwa.[8]

Dari jumlah total itu, sebanyak 314.00o jiwa tinggal di wilayah utara sementara sisanya yang hanya 66.500 mendiami wilayah selatan. Hal itu menjadikan Sinai Selatan sebagai provinsi paling sedikit jumlah penduduknya dibanding 26 provinsi lainnya yang ada di Mesir.

  1. 1.    Arab Badui

Dengan wilayah yang berada di Asia, yang dipisahkan oleh Terusan Suez dari daratan utamanya di Afrika, Sinai mayoritas dihuni oleh suku-suku Badui yang berasal dari jazirah Arab. Mereka mulai menghuni wilayah itu secara bergelombang sejak fase-fase awal dimulainya penaklukan Islam. Secara kultur, mereka lebih dekat dengan tradisi moyang mereka daripada budaya Mesir. Seringkali, mereka lebih memilih memperkenalkan diri mereka sebagai orang Arab.

Dalam soal bahasa, mereka juga memiliki dialek tersendiri yang khas, lebih mirip dengan gaya bahasa orang Arab (Arab Saudi dan Yordania) serta Syam (dalam hal ini Palestina dan Lebanon) ketimbang style Mesir.

Kehidupan di Sinai sangat sederhana, dengan barang-barang kepunyaan yang alakadarnya dan harus dihadapi dengan perjuangan keras. Tampaknya hanya orang-orang dengan ‘spesifikasi’ khusus saja yang mampu bertahan hidup di lokasi yang lebih mirip ‘alam liar’ seperti itu. Untuk kelangsungan hidup mereka, suku-suku Badui itu sangat bergantung pada kambing dan domba yang mereka pelihara. Mereka hidup secara nomaden, berpindah-pindah dari satu lokasi ke lokasi lainnya sesuai musim demi mencari lahan yang menyediakan makanan untuk hewan-hewan ternak mereka. Selain itu, mereka juga memiliki pohon-pohon kurma di oase dan terkadang berburu serta memancing. Unta adalah alat transportasi dan simbol utama kehidupan di Sinai. Tanpa unta, tampaknya sulit bertahan hidup di sana. Hampir setiap keluarga pasti memiliki unta. Sulit untuk menentukan jumlah pasti populasi suku Badui karena masih adanya penduduk di pedalaman yang nomaden dan ‘agak sulit diatur’. Tetapi, diperkirakan ada sekitar 200.000 jiwa lebih.

Kehidupan berubah perlahan namun pasti. Hari ini, penduduk Badui sudah banyak juga yang tinggal di rumah-rumah permanen di lingkungan perkotaan. Ada yang berprofesi sebagai sopir truk angkut barang, penyedia layanan sewa unta untuk para wisatawan, pemandu wisata, pemilik hotel di kawasan pariwisata, pedagang, dan bahkan pegawai negeri sipil. Alam modern menuntut mereka untuk beradaptasi dengan kebutuhan-kebutuhan hidup yang semakin berkembang kompleks. Ada anak-anak yang harus bersekolah, biaya kebutuhan komunikasi, berbagai macam pajak yang diterapkan pemerintah dan lain sebagainya. Kini, sudah lahir generasi baru suku Badui yang berpendidikan.[9] Bahkan, istilah Badui itu sendiri tidak lagi identik sebagai masyarakat dengan gaya hidup primitif tertentu—seperti cara hidup nomaden—tetapi lebih sebagai nama suku pada umumnya dimana orang biasa memperkenalkan diri sebagai asal keturunannya.

  1. 2.    Orang-orang Palestina

Orang-orang Palestina di Sinai berjumlah antara 50.000 sampai 70.000 jiwa. Mayoritas tinggal di kota Al-Arish yang terletak dekat perbatasan Rafah, Palestina. Awalnya mereka adalah para pengungsi yang menghindar dari konflik Israel-Palestina.

  1. 3.    Penduduk dari Lembah Nil

Rata-rata penduduk yang pindah dari Lembah Nil, termasuk Delta Nil dan wilayah selatan Mesir, ke Sinai adalah untuk bekerja. Selain itu, sebagai salah satu upaya melancarkan proses integrasi Sinai ke Mesir, pada era Hosni Mubarak digalakkan program ‘transmigrasi’ penduduk dari kawasan Lembah Nil ke Sinai.

  1. 4.    Orang-orang Bosnia Al-Arish

Kategori terakhir—meski minoritas—yang juga penting dicantumkan adalah ‘orang-orang Bosnia’ di Al-Arish. Pada masa kekuasan Khilafah Turki Utsmani, tentara pertahanan dari—kawasan yang sekarang merupakan negara—Bosnia ditempatkan di Al-Arish. Anak-cucu mereka masih eksis di sana dan tetap mengklaim diri sebagai keturunan orang-orang Bosnia tersebut. Mereka sangat berbeda dengan kebanyakan orang Mesir, karena memiliki ciri-ciri fisik ‘Eropa’ yang masih cukup kental: rambut khas Eropa, mata biru, dan kulit putih.

Dengan beragamnya suku yang ada, yang masing-masing memiliki batas-batas teritorial kesukuan, kawasan Sinai tampak mirip dengan kawasan suku (tribal area) di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Apalagi, suku-suku itu pun sejak lama telah merasakan diskriminasi dari pemerintah pusat. Perbedaan-perbedaan yang mencolok secara fisik, ekonomi, politik, sosial dan budaya ini telah mendorong penduduk Sinai untuk hidup ‘merdeka’ lepas dari kekuasaan Mesir.

Kondisi ini kerap kali menjadi penyulut gesekan-gesekan antara rakyat dengan elemen pemerintah di Sinai. Upaya mengintegrasikan Sinai dengan Mesir belum membuahkan hasil memuaskan selama ini. Terus saja ada gejolak dan konflik. Kehadiran militer menambah lengkap perasaan terjajah rakyat Sinai. Dalam sebuah wawancara dengan Crisis Group pada Juni 2006, seorang lulusan perguruan tinggi asal Syaikh Zuwaid mengatakan, “Kami telah merasakan empat periode penjajahan (ihtilal): Inggris, Mesir, Israel selama 30 tahun, dan Mesir lagi. Lihatlah, mereka di sana, adalah kolonialis hari ini.”[10]

Bagi Mesir, Sinai merupakan persoalan kompleks yang saling berkelindan tak kunjung usai dan menjadi tantangan serius bagi pemerintah.

Pertama, tindakan pencegahan terhadap serangan terorisme dinilai belum efektif. Ini menunjukkan kerja intelijen yang masih lemah. Pekerjaan intelijen membutuhkan kerjasama yang baik dengan rakyat. Sementara, komunikasi yang baik tidak akan mungkin terjalin jika rakyat sendiri merasa diperlakukan tidak adil oleh pemerintah.

Kedua, masalah Sinai bukan hanya masalah dalam negeri Mesir. Namun lebih bersifat regional karena melibatkan Israel dan Palestina yang langsung berbatasan dengan wilayah Sinai. Selama konflik Israel-Palestina belum reda, hampir dapat dipastikan, Sinai pun akan tetap terkena imbasnya.

Ketiga, identitas Sinai yang masih ambigu bagi Mesir. Secara demografis dan historis, orang-orang Sinai lebih dominan ‘rasa Arab’-nya ketimbang ‘rasa Mesir’-nya. Ditambah dengan kebijakan-kebijakan pemerintah yang tersentralisasi, semakin mengentalkan klaim indentitas lokal suku-suku Sinai.

Keempat, perkembangan perekonomian di Sinai terkesan diabaikan oleh pemerintah. Ketimpangan yang amat kentara antara wilayah Lembah Nil dengan Sinai membuat penduduk merasa terdiskriminasi. Tampaknya, euforia kembalinya Sinai ke pangkuan Mesir tahun 1982 gagal dimanfaatkan rezim militer yang berkuasa saat itu—dan terus berlanjut hingga kini—untuk memulai menata kembali upaya-upaya penyelesaian persoalan integrasi Sinai.

Sejarah Singkat

Menilik sejarah Sinai secara singkat, akan didapati bahwa Sinai termasuk kawasan persinggungan dari tiga agama: Islam, Kristen dan Yahudi. Itu terjadi sejak zaman Musa ketika melakukan eksodus bersama orang-orang Israel ke Palestina—sekarang—untuk menghindar dari kelaliman Firaun di Mesir. Bibel dan Al-Quran sama-sama menyebutkan kisah ini. Dalam perjalanan itu Musa berjalan melintasi Sinai. Saat sampai di sebuah bukit (Thûrisînîn), Musa berdialog dengan Tuhan. Sulit untuk menentukan lokasi bukit itu secara pasti hari ini. Namun, sebagian kalangan berspekulasi menentukan titik lokasinya berdasarkan data-data penelitian arkeologis yang mereka yakini.

Selanjutnya, jauh ke depan, di era Khilafah Islamiah, Sinai memegang peranan penting. Selama Perang Salib, saat Mesir berada di bawah kekuasaan Dinasti Ayyubiyah dan Mamluk, nilai penting Semenanjung Sinai bertambah besar. Banyak benteng dan istana dibangun di abad-abad itu. Arti penting Sinai juga tidak surut di masa Turki Utsmani. Sinai menjadi pintu masuk tentara Utsmani saat penaklukan Mesir. Para penduduk Badui Sinai membantu tentara Utsmani menunjukkan letak sumur-sumur dan sumber air, serta menunjukkan jalan terdekat ke Kairo.

Apalagi, setelah Terusan Suez dibuka pada 1869, Sinai menjadi semakin penting di kancah perpolitikan dunia. Kekuatan-kekuatan Barat mulai bermanuver di wilayah ini untuk mengontrol jalur perdagangan antara Laut Mediterania dan Laut Merah. Inggris mulai menguasai Mesir tahun 1882. Sejak 1906, Sinai berada di bawah kontrol militer Inggris, menyusul upaya penyatuan semenanjung ini ke wilayah Mesir dan penentuan perbatasan dengan Palestina.

Antara tahun 1949-1967, Sinai dan Jalur Gaza dikontrol oleh militer Mesir. Sinai juga menyeret Mesir dan Israel ke dalam konflik. Terhitung, Mesir dan Israel telah berperang tiga kali di wilayah ini (1956, 1967 dan 1973). Setelah kekalahan Mesir dalam perang enam hari Arab-Israel pada 1967, Sinai berhasil direbut Israel.

Kemudian diadakan perjanjian Camp David—ditandatangani oleh Anwar Sadat (Presiden Mesir) dan Menachem Begin (Perdana Menteri Israel) dengan Jimmy Carter (Presiden AS) sebagai fasilitatornya—pada September 1978.[11] Perjanjian ini adalah salah satu upaya untuk memulihkan hubungan Mesir-Israel dan fokus pada persoalan Sinai. Hasilnya, Israel harus keluar dari Sinai. Kemudian, Sinai diserahkan kepada Multinational Force and Observers (MFO)[12] yang aktif bekerja mulai tanggal 25 April 1982, bersamaan dengan ditarikmundurnya pasukan Israel dari Sinai. Hingga kini, lembaga yang berkantor pusat di Roma ini beranggotakan 1.600 personel dari kalangan militer dan sipil. Sebanyak 700 orang diantaranya adalah personel dari AS.[13]

Bagian dari Syam?

Selain lokasinya yang strategis, ada faktor lainnya yang membuat para Jihadis membidik Sinai sebagai tempat penting untuk aktivitas mereka. Tampaknya, hal itu disebabkan karena Sinai ternyata adalah bagian tak terpisahkan dari bumi Syam. Seakan ada ikatan emosional-religius yang erat dengan wilayah ini.

Dalam Surat At-Tîn disebutkan kata-kata THÛRISÎNÎN yang merupakan gabungan dari dua kata: ‘thûr’ yang berarti ‘bukit yang ditumbuhi pepohonan’ dan ‘sînîn’ yang merupakan nama sebuah tempat yang secara harafiah berarti ‘yang diberkati’. Kata ‘sînîn’ pada bagian Al-Quran lainnya (Al-Mu`minûn [23]: 20) disebut dengan lafazh ‘saina`’. Lokasi Bukit Sinai ini, menurut Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Al-Qur`an letaknya berada di Semenanjung Sinai modern. Namun Abu Khalil tidak menunjukkan titik tepat lokasinya dalam peta yang ia tampilkan.[14]

Bukit Sinai adalah tempat di mana Musa menerima wahyu dari Allah. Dalam literatur Yahudi dan Kristen hal ini juga dinyatakan. Hanya saja, belum dapat dipastikan secara meyakinkan dimana lokasi persisnya. Sementara itu, ada sebagian kalangan yang meyakini bahwa Bukit Sinai atau Jabal Musa (28032’23”LU 33058’24”) yang ada di Sinai Selatan hari ini adalah lokasi bertemunya Musa dengan Tuhan. Di kaki bukit itu dibangun sebuah biara yang diklaim sebagai biara tertua di dunia: St. Catherine’s Monastery.[15] Baik Islam, Yahudi, maupun Kristen, memandang bahwa Sinai adalah ‘tempat suci’ terkait peristiwa Musa menerima wahyu dan eksodusnya bersama Bani Israil dari Mesir ke Baitul Maqdis di Palestina.

Ibnu Katsir—mengutip pendapat sebagian ahli tafsir—mengatakan bahwa dalam sumpah Allah pada surat At-Tîn ayat 1-3 [Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun. Dan demi bukit Sinai. Dan demi negeri yang aman (Mekah)] disebutkan tiga ‘tempat suci’ dimana di masing-masing lokasi tersebut Allah mengangkat seorang nabi sekaligus rasul yang termasuk golongan ulul azmi. Pertama, tanah tempat tumbuhnya buah Tin dan Zaitun yaitu Baitul Maqdis di Palestina, tempat diutusnya Isa bin Maryam. Kedua, bukit Sinai sebagai lokasi terjadinya dialog antara Musa bin Imran dengan Allah saat menerima wahyu. Ketiga, Mekah sebagai lokasi diutusnya Muhammad Saw.

Tiga lokasi ini disebutkan dalam surat At-Tîn secara berurutan menurut waktu kejadiannya. Sehingga, sumpah Allah di atas dimulai dengan menyebutkan tempat mulia, kemudian lebih mulia dari yang pertama, dan diakhiri dengan tempat yang lebih mulia dari kedua-duanya.[16]

Terkait bahwa Semenanjung Sinai adalah bagian dari Syam, Dr. Muhammad bin Luthfi Ash-Shabagh[17] menjelaskan bahwa Sinai bukan bagian dari Mesir. Namun bagian dari Syam. Begitu pula, secara otomatis, Bukit Sinai. Ash-Shabagh juga mengatakan, para ulama tafsir menetapkan bahwa Sinai adalah bagian dari Syam. Lebih lanjut, Ash-Shabagh menerangkan, orang-orang Barat yang pernah menguasai Syam—dalam hal ini diwakili oleh Sykes-Picot (saat menjadi Menlu Perancis dan Inggris)—membagi-bagi wilayah Syam menjadi empat negara. Yaitu Syria, Libanon, Palestina (yang kemudian dicaplok oleh Zionis Israel) dan Yordania. Kemudian sebagiannya lagi masuk wilayah Turki dan sebagian masuk wilayah Mesir.

Ash-Shabagh juga mengutip tulisan Yaqut Al-Hamawi dalam Mu’jam Al-Buldân. Dalam ensiklopedinya yang cukup terkenal itu, Al-Hamawi mengatakan bahwa, “Sainâ` (سيناء)—bisa dibaca dengan meng-kasrah-kan huruf sîn atau mem-fathah-kannya—adalah nama sebuah lokasi di Syam. Kata Ath-Thûr disambungkan didepannya menjadi Thûr Sainâ`, yaitu bukit dimana Allah berdialog dengan Musa…”[18]

Pasca-peristiwa 9/11

Serangan terhadap World Trade Center pada 11 September 2001 telah merubah peta perpolitikan dan pertikaian dunia secara drastis. Dampaknya merembet dan menyentuh hampir seluruh jengkal bumi. Sinai pun turut bergolak. Itu ditandai oleh serangan bom terhadap Hotel Hilton di kota Taba dan kamp Israel di Ras Syaitan yang terjadi pada 7 Oktober 2004. Disusul kemudian dengan serangkaian serangan-serangan berikutnya yang rata-rata menargetkan lokasi-lokasi pariwisata yang banyak dikunjungi wisatawan asing. Kamp Utara MFO—yang merupakan instalasi dan kantor pusat kontingen MFO terluas—pun tidak luput dari serangan pada pertengahan September 2012 lalu.[19]

Peledakan juga diarahkan oleh berbagai organisasi jihadis terhadap jalur pipa gas[20] yang mendistribusikan energi dari Mesir ke Israel dan Yordania.[21] Serangan-serangan ini mengoyak kerja penjagaan perdamaian yang dilakukan MFO selama tiga dekade. Berbagai kalangan menengarai serangan-serangan itu didalangi oleh kelompok-kelompok jihadis yang berkolaborasi dengan penduduk Badui lokal.

Gejolak politik yang mengiringi lengsernya diktator Mesir, Hosni Mubarak, melalui revolusi rakyat sebagai rentetan ‘Arab Springs’ dan dilantiknya tokoh Ikhwanul Muslimin, Dr. Muhammad Mursi, sebagai presiden telah menjadikan kawasan Sinai semakin ‘tak berhukum’. Sinai sekarang dianggap sebagai wilayah yang kosong dari penjagaan keamanan (security vacuum). Kondisi ini sangat mendukung bagi menjamurnya aksi-aksi kekerasan dan aktivitas penyelundupan senjata melalui terowongan-terowongan ke Jalur Gaza. Sinai juga dijadikan sebagai ajang transit bagi jalur penyelundupan obat-obatan terlarang dan perdagangan manusia (human trafficking)—terutama perdagangan wanita-wanita dari Eropa sebagai pelacur—sebelum masuk ke Israel.

Penggulingan Muhammad Mursi oleh militer ketika kepemimpinannya baru berjalan satu tahun membuat iklim politik Mesir semakin kacau. Tampaknya, situasi ini dimanfaatkan pula oleh kelompok-kelompok jihadis yang telah bermain di Sinai untuk meningkatkan aktivitas mereka. Tempat ini telah menjadi saksi kebangkitan gerakan-gerakan jihad Islam. Sel-sel Al-Qaidah juga disinyalir sudah masuk Sinai dan bahkan berperan sebagai leading group yang tentunya akan menularkan visi jihad globalnya.

Sejak lahirnya gerakan Salafi Jihadis transnasional di Afghanistan pada dekade 1980-an, pemimpin-pemimpin mereka telah membesut sebuah strategi berdasarkan ‘swarming’[22]. Kaum jihadis yang terikat atau terinspirasi oleh Al-Qaidah mencari lokasi-lokasi konflik dimana penduduk setempat tengah berperang melawan rezim represif dan tidak cakap memimpin, terutama rezim yang dianggap sebagai ‘kekuatan luar’ lagi kafir. Para jihadis itu kemudian berduyun-duyun terjun ke medan konflik bergabung dengan pejuang lokal. Mereka berusaha menggiring pejuang-pejuang lokal agar berubah menjadi style salafi yang terafiliasi kepada Al-Qaidah. Dan, jika memungkinkan, mereka akan ambil alih kendali perlawanan. Tujuan utama mereka adalah mendirikan emirat yang berdaulat untuk menginspirasi kaum jihadis lainnya agar melakukan hal yang sama, dan pada akhirnya, mendirikan kembali Kekhilafahan Islam seperti dahulu kala.

Kaum salafi-jihadis telah menguji coba strategi ini di Irak, Libia, Mali, dan yang terbaru di Syria. Kini, mereka sedang bergerak menuju Sinai Utara. Sebuah lokasi yang mana perseteruan panjang antara penduduk Badui lokal dan pemerintah pusat Mesir tengah mengubahnya berangsur menjadi medan pertempuran baru yang cukup signifikan bagi kaum jihadis.[23]

Kairo merespon eskalasi aktivitas kaum jihadis ini. Jenderal Abdul Fattah As-Sisi, Menteri Pertahanan junta militer—sosok yang berperan besar dalam penggulingan Morsi—pada tanggal 20 Agustus 2013 mengeluarkan perintah untuk menetapkan Sinai sebagai zona militer tertutup menyusul pembunuhan terhadap 25 polisi Mesir di dekat perbatasan Rafah dua hari sebelumnya.[24]

Militer Mesir bergerak melawan koalisi Al-Qaidah dan kelompok-kelompok Muslim militan lainnya yang berkumpul di gurun Sinai. Sinai telah berubah cepat. Dari kawasan wisata alam yang menghasilkan sepertiga devisa negara dari total sektor pariwisata Mesir menjadi destinasi ‘jihad tourism’ yang menarik perhatian mujahidin dari berbagai penjuru dunia (foreign fighters). Sejauh ini, upaya militer Mesir belum cukup mampu membendung arus deras perkembangan aktivitas kaum jihadis di Sinai.

Munculnya rekaman video dari amir Al-Qaidah, Aiman Azh-Zhawahiri, pada 5 Juli 2013, sehari setelah drama penggulingan Morsi, tampaknya semakin menggairahkan aktivitas para jihadis di Sinai. Azh-Zhawahiri mengatakan bahwa “setiap orang mengerti bahwa perang di Mesir adalah perang antara minoritas sekuler, yang telah beraliansi dengan gereja, dengan bergantung pada dukungan militer—buatan Amerika—dan Umat Muslim, yang menghendaki penerapan syariat Islam dan membebaskan diri dari hegemoni Amerika. Ini adalah perang yang sesungguhnya. Musuh-musuh Islam memiliki kekuasaan militer, pasukan keamanan, dan uang untuk membeli pers dan media”.

Lebih lanjut, Azh-Zhawahiri menegaskan, “Perang di Mesir belumlah berakhir; ini baru permulaan. Gerakan revolusi harus berlanjut. Umat Muslim harus mempersembahkan para syuhadanya sampai umat ini berhasil mencapai tujuan dan menyingkirkan penguasa bobrok yang memerintah Mesir, dan mengukuhkan diri sekali lagi sebagai kubu pertahanan solidaritas dan Islam.”[25]

Aroma Al-Qaidah

Terjadi simpang siur apakah Al-Qaidah, sebagai lokomotif jihad global sudah hadir di Sinai atau belum. Para pengamat berkesimpulan bahwa sejauh ini, di Mesir ada dua tipe pergerakan jihad yang kedua-duanya berbasis di Sinai, namun aktivitasnya menjangkau seluruh wilayah Mesir. Yaitu, Jamaah At-Takfir wal Hijrah sebagai satu arus dan salafi-jihadis sebagai arus lainnya. Kedua arus ini memiliki titik pertemuan pada cita-cita mendirikan kembali khilafah Islam.

Meski demikian, mereka yakin bahwa secara pemikiran dan ide sangat sulit untuk dikatakan tidak terpengaruh oleh style Al-Qaidah. Seorang ahli militer, Mohamed Kadry Said, mengatakan kepada Ahram Centre for Political and Strategic Studies, “Seringnya, kita tidak tahu nama kelompok-kelompok jihadis, jadi kita mengelompokkannya di bawah payung ‘Al-Qaidah’ untuk memudahkannya.”

Jamaah At-Takfir wal Hijrah adalah kelompok yang didirikan oleh Syukri Musthafa di tahun 1960-an. Kelompok ini memiliki pemikiran yang sangat ekstrim; mudah mengkafirkan orang Islam lainnya. Bahkan, terkadang hanya karena tidak berpemikiran yang sama dengan kelompok mereka, orang lain bisa divonis kafir.

Untuk arus kedua, model salafi-jihadis, secara pemikiran sangat diwarnai oleh style Al-Qaidah. Dimana, secara umum, tujuan utama mereka adalah pembebasan Palestina dan mendirikan emirat Islam di Sinai—yang pada akhirnya akan melebur dalam khilafah Islam.

Hal ini tampak, salah satu contohnya, dari pernyataan seorang pemuda salafi-jihadis dalam sebuah wawancara dengan Ahram Centre. Dia megatakan, “Kami mengikuti strategi Al-Qaidah untuk mendirikan Khilafah Islam tahun 2020 yang dirancang oleh Osama bin Laden.”[26]

Tampaknya, kehadiran Al-Qaidah di Semenanjung Sinai memang fakta yang tak mungkin dibantah. Selain yang telah disampaikan di atas, masih ada banyak lagi clue yang memperlihatkan eksistensi Al-Qaidah di Sinai. Diantaranya laporan yang mengatakan bahwa orang-orang yang tertangkap dalam operasi militer terkait aksi-aksi pemboman di Sinai memiliki kaitan dengan Ramzi Mowafi, mantan ‘dokter Osama bin Laden’.

Media-media Mesir memberitakan bahwa kelompok Mowafi bertanggung jawab atas sejumlah serangan di Sinai dalam dua tahun terakhir ini. Di antara pelaku yang tertangkap baru-baru ini adalah seorang berkebangsaan Yaman dan seorang Palestina. Pada Agustus 2011, petugas keamanan Mesir mengatakan kepada CNN bahwa Mowafi, yang juga disinyalir adalah seorang ahli bahan peledak, sempat muncul di Sinai. Saat itu, pria kelahiran Mesir 1952 ini diberitakan tengah dalam misi memberikan pelatihan militer kepada sejumlah orang di Sinai.

Mowafi, yang diyakini telah menyelesaikan proyek pembuatan senjata kimia untuk Al-Qaidah, terlibat dalam kasus pembobolan penjara yang mana saat itu mantan presiden Muhammad Morsi berhasil melarikan diri dari penjara bersama sejumlah pemimpin senior Ikhwanul Muslimin.

Hanya ada sedikit informasi publik yang tersiar mengenai Mowafi. Namun, ada satu laporan dari pers Mesir yang mencatat bahwa di tahun 1990 Mowafi dikabarkan pergi ke Mekah, dimana ia bertemu dengan beberapa orang Mesir yang mengatakan kepada Mowafi bahwa mereka tengah membutuhkan dokter untuk bekerja di Afghanistan. Menurut Mowafi, ia bertemu dengan Osama bin Laden di Jedah, Arab Saudi, tak lama setelah itu dan akhirnya tiba di Peshawar, Pakistan.

Pada satu waktu, Mowafi diberitakan sampai di Afghanistan, sebagaimana seorang pejabat Mesir menudingnya “telah membangun laboratorium [bahan peledak]-nya di Tora Bora bersama Bin Laden”.

Identifikasi keberadaan Mowafi di Sinai tahun 2011 perlu mendapat perhatian. Sebab, di waktu yang hampir bersamaan, berbagai laporan muncul terkait beredarnya selebaran-selebaran dengan identitas nama “Al-Qaidah di Semenanjung Sinai” di masjid-masjid di kawasan itu. Menurut laporan BBC berbahasa Arab, Mowafi disinyalir merupakan “Amir Al-Qaidah di Semenanjung Sinai”.

Bulan Desember 2011, Anshar Al-Jihad di Semenanjung Sinai, yang diduga adalah sayap militer Al-Qaidah di Semenanjung Sinai, mendeklarasikan berdirinya gerakan ini dalam sebuah statemen yang dirilis dalam forum-forum jihadis.

“Melalui risalah ini kami menyampaikan kabar gembira kepada kalian semua tentang berdirinya kelompok ‘Anshar Al-Jihad di Semenanjung Sinai’, dan kami bersumpah kepada Allah Yang Maha Besar lagi Maha Kuasa untuk berusaha semaksimal mungkin memerangi rezim bobrok beserta antek-anteknya di tengah-tengah bangsa Yahudi, Amerika dan orang-orang yang ada di sekitar mereka,” demikian bunyi statemen tersebut. Di bagian lain dari statemen tersebut, kelompok itu mengatakan bahwa mereka bersumpah setia (baiat), “untuk memenuhi sumpah Syahidul Ummah, syaikh kami Osama bin Laden.”

Satu bulan setelah deklarasi tersebut, Anshar Al-Jihad di Semenanjung Sinai berbaiat kepada amir Al-Qaidah, Aiman Azh-Zhawahiri. Dalam pernyataan itu, kelompok tersebut mempersilakan Azh-Zhawahiri untuk “memerintahkan kami ke mana pun Anda kehendaki…Kami tidak akan pernah berhenti atau menyerah hingga tetes darah terakhir kami tertumpah di Jalan Allah dan sampai Islam berkuasa, dengan pertolongan Allah Yang Maha Kuasa.”

Pejabat intelijen AS sebelumnya telah menginformasikan kepada The Long War Journal bahwa kelompok tersebut telah berusaha mengkoordinasi berbagai operasi serangan dengan kelompok-kelompok salafi-jihadis lainnya di Jalur Gaza. Menurut the Wall Street Journal, Anshar Al-Jihad di Semenanjung Sinai-lah yang telah membuat AS meningkatkan pantauannya terhadap aktivitas kelompok-kelompok salafi-jihadis di Sinai.[27]

Sebuah pengadilan Mesir pada Juni 2013 menyebut Ramzi Mowafi sebagai “Sekretaris Jenderal Al-Qaidah di Sinai”. Itu terkait peran Mowafi sebagai hub yang mengkoordinasikan berbagai kelompok jihadis di Sinai yang sekaligus memposisikan dirinya sebagai the most wanted man di Sinai.

Beberapa organisasi jihad diberitakan berada di bawah koordinasi Ramzi Mowafi. Hicham Murad dalam artikelnya Genesis of the Sinai Crisis[28] menyebutkan lima organisasi jihad yang dikoordinasi oleh Mowafi: Jamaah At-Tauhid wal Jihad, Majlis Syura Al-Mujahidin fi Aknafi Baitil Maqdis, Anshar Asy-Syariah, Anshar Bait Al-Maqdis dan Al-Furqan. Dua di antara kelompok-kelompok tersebut—Jamaah At-Tauhid wal Jihad dan Majlis Syura Al-Mujahidin fi Aknafi Baitil Maqdis—digelari oleh Mordechai Kedar[29] sebagai kelompok paling utama yang beroperasi di Sinai.

Sementara itu, menurut Ali Bakr, seorang pemerhati isu-isu pergerakan Islam[30], Al-Qaidah sekarang tidak bisa lagi dipahami dengan konteks lama seperti saat awal-awal terbentuknya dahulu. Hal itu karena brand Al-Qaidah yang ada di berbagai negara saat ini tidak dikendalikan oleh satu komando atau qiyadah. Akan tetapi, Al-Qaidah sekarang terbagi menjadi tiga kategori.

PertamaAl-Qa’idah Al-Umm (Al-Markaziyyah/ Al-Qaidah Pusat). Yaitu struktur organisasi Al-Qaidah asli yang dibentuk dengan nama Al-Jabhah Al-Islamiyyah Al-‘Alamiyyah li-Jihad Al-Yahud wa Ash-Shalibiyyin (Front Jihad Islam Global untuk Melawan Yahudi dan Kaum Salibis) di bawah pimpinan Osama bin Laden, yang kemudian digantikan oleh Aiman Azh-Zhawiri.

KeduaFuru’ Al-Qa’idah (Cabang-cabang Al-Qaidah). Yaitu, dimana ada perintah langsung dari Osama bin Laden untuk memdirikannya. Contohnya adalah Tanzhim Al-Qa’idah fi Jazirah Al-‘Arab (Al-Qaidah di Jazirah Arab) yang berpusat di Yaman. Cabang Al-Qaidah ini dianggap sebagai kepanjangan Al-Qaidah Pusat baik secara pemikiran maupun ideologi.

Ketiga, Namadzij Al-Qa’idah (Prototype Al-Qaidah). Yaitu, kategori ketiga Al-Qaidah yang mana Anshar Al-Jihad masuk dalam kategori ini. Masuk dalam kategori ini semua kelompok yang sehaluan dengan Al-Qaidah yang tersebar di negeri-negeri Islam. Kelompok-kelompok tersebut menganggap Osama bin Laden sebagai pemimpin spiritual mereka, akan tetapi tidak ada perintah langsung dari Osama bin Laden untuk mendirikannya dan tidak pula memiliki keterkaitan secara struktural dengan Al-Qaidah Pusat. Contoh untuk kategori ketiga ini adalah Al-Qa’idah fi Bilad Al-Maghrib Al-Islamy (Al-Qaidah di Negeri Islam Maghribi).

Berikut ini adalah beberapa kelompok di antara belasan kelompok jihadi yang menjalankan aktivitasnya di Sinai, baik yang disinyalir terkait dengan Al-Qaidah maupun yang tidak terkait.

  1. 1.      Jamaah At-Tauhid wal Jihad

Kelompok ini adalah gerakan jihad dari Gaza yang beroperasi di Sinai. Kelompok ini terlibat dalam serangkaian aksi serangan di Sinai Selatan yang menargetkan lokasi-lokasi pariwisata selama sepuluh tahun terakhir, termasuk pemboman di Sharm Ash-Shaikh yang menewaskan 88 orang. Kelompok ini menjadikan Gaza dan daerah pegunungan di Sinai Utara sebagai markasnya.

Jamaah At-Tauhid wal Jihad melancarkan berbagai aksi pemboman, serangan bersenjata dan penculikan. Sasarannya terutama adalah para turis dan pekerja Israel dan Barat, bahkan juga terhadap pasukan keamanan Mesir.

Diperkirakan, kelompok ini memiliki anggota sekitar 1.200 orang yang menyebar ke dalam beberapa organisasi di seluruh Sinai.

  1. 2.      Majlis Syura Mujahidin fi Aknafi Baitil Maqdis

Kelompok ini pertama kali diketahui munculnya setelah mengirimkan sebuah video kepada Reuters pada 19 Juni 2012. Video tersebut berisi klaim bahwa kelompok tersebut bertanggung jawab atas serangan terhadap beberapa target Israel di perbatasan Sinai beberapa hari sebelumnya. Kelompok ini ditengarai memiliki hubungan dengan Al-Qaidah. Namun belum bisa dipastikan apakah merupakan jaringan resmi Al-Qaidah atau bukan. Yang jelas, mereka menyebut serangan-serangan Juni 2012 itu masih terkait dengan meninggalnya Osama bin Laden. Mereka menyebutnya sebagai hadiah bagi “Saudara-saudara Qaidah Al-Jihad dan Syaikh Aiman Azh-Zhawahiri”. Sedangkan, anggota-anggota kelompok ini diduga berasal dari Mesir dan Arab Saudi.

Pada Syawal 1434 H atau Agustus 2013 M lalu, kelompok ini juga mengeluarkan pernyataan berkabung atas gugurnya beberapa orang anggota Jamaah Ansar Baitul Maqdis serta serangan-serangan yang dilancarkan terhadap kaum Muslim Sinai. Mereka mengatakan bahwa serangan-serangan terhadap rakyat Sinai belakangan ini adalah momen untuk membangkitkan semangat jihad kaum Muslim untuk melawan Yahudi Israel dan antek-anteknya.

  1. 3.      Anshar Asy-Syariah

Kelompok ini terbilang baru di kalangan gerakan jihad Mesir. Mereka bercita-cita menerapkan syariat Islam di Mesir dan banyak mengkritik langkah-langkah Al-Ikhwan Al-Muslimun yang dinilai kurang agresif mengupayakan tegaknya syariat Islam. Mendirikan negara Islam di Mesir, bagi mereka, adalah agenda utama pasca-Arab Springs.

Salah seorang pendiri kelmompok ini, Ahmad Asyusy, mantan anggota Jihad Islam Mesir, mengatakan bahwa dirinya merasa bangga menjadi perpanjangan tangan Al-Qaidah. Beberapa kalangan menyebut bahwa Ahmad Asyusy dan Muhammad Azh-Zhawahiri—adik Aiman Azh-Zhawahiri—yang juga mantan anggota Jihad Islam telah aktif bergerak di Sinai.

  1. 4.      Anshar Baitul Maqdis

Kelompok ini dikenal juga dengan nama Anshar Jerusalem. The Jerusalem Post mengatakan bahwa kelompok ini dianggap sebagai kelompok teroris yang paling aktif di Sinai. Basis utamanya di Sinai dan anggotanya terutama terdiri dari suku-suku Badui lokal. Meski demikian, mereka juga merekrut anggota dari seluruh kawasan Timur Tengah, dan Afrika Utara.

Kelompok ini bertanggung jawab atas berbagai serangan terhadap Israel, termasuk serangan roket dan mortar terhadap jalur pipa gas di Sinai yang menyuplai energi ke Israel. Pada September 2012, Anshar Baitul Maqdis membubunuh seorang tentara Israel yang berpatroli di perbatasan Israel.

Pada tanggal 15 September 2013 Anshar Jerusalem mengeluarkan pernyataan kedua mereka melalui Fursan Al-Balagh Media menyusul serangan militer Mesir terhadap kaum Muslim Sinai yang tak berdosa. Salah satu isinya, mereka menyatakan bahwa Anshar Jerusalem bersama segenap mujahidin di Sinai menegaskan kembali bahwa darah kaum Muslim Sinai yang tak berdosa tak boleh tertumpah sia-sia. Mereka mengancam, balasan terhadap kejahatan militer tersebut akan berbuah menyakitkan. Dan, mereka telah memulai serangan dengan menghancurkan tank-tank yang digunakan oleh militer Mesir untuk menyerang penduduk sipil Sinai.

  1. 5.      Al-Furqan

Pada 31 Agustus 2013 dua orang militan menembakkan rocket-propelled grenade (RPG) ke arah kapal kargo China yang melintasi terusan Suez. Kataib Al-Furqan, yang juga disinyalir berafiliasi dengan Al-Qaidah mengaku bertanggung jawab atas serangan itu. Meskipun tidak menghasilkan kerusakan berarti, namun kelompok ini berjanji akan meneruskan aksi-aksi serupa.

Terusan Suez memang fasilitas yang sangat vital bagi kapal-kapal dagang dunia. aktivitas di Suez adalah pilar ekonomi ke-tiga bagi Mesir yang mampu menyumbang 5 miliar dolar per tahun. Terusan sepanjang 120 km ini adalah sasaran empuk bagi para militan. Kataib Al-Furqan berkomitmen untuk terus menargetkan kapal-kapal yang mengangkut pasokan logistik untuk “pesawat-pesawat penjajah Salibis yang menyerang kaum Muslim” dan berperan sebagai “urat nadi perdagangan bagi negara-negara kafir”.

Selama keamanan di Sinai dan Lembah Nil tidak terkendali, maka bisa dipastikan pemulihan ekonomi dan stabilitas politik—bersama dengan pelayaran Terusan Suez—akan tetap mengalami ancaman.

  1. 6.      Jaisyul Islam

Jaisyul Islam adalah salah satu organisasi salafi-jihadis yang beroperasi di Jalur Gaza. Kelompok ini dinilai cukup mendominasi gerakan Islam di Gaza, memiliki kemampuan operasional paling mumpuni dibanding kelompok lainnya di Gaza. Kelompok ini berdiri tahun 2006 di bawah pimpinan Mumtaz Dughmush, seorang keturunan sebuah klan kuat di lingkungan Sabra di Gaza City.

Organisasi ini secara ideologis terinspirasi oleh Al-Qaidah dan jaringan jihad global. Mereka menjadikan jihad sebagai jalan perjuangan membebaskan Palestina. Kedekatannya dengan Hamas membuat Jaisyul Islam leluasa bergerak baik di wilayah Gaza maupun wilayah Mesir, di Sinai terutama. Berbeda dengan Hamas, kelompok ini menuntut islamisasi secara cepat di Gaza. Sementara Hamas lebih memilih proses islamisasi secara perlahan dan bertahap.

  1. 7.      Anshar Al-Jihad di Semenanjung Sinai

Tentang kelompok ini, telah disinggung di muka. Satu hal menarik adalah bahwa tampaknya Anshar Al-Jihad kini menjadi representasi terkuat Al-Qaidah di Sinai menyusul baiat mereka kepada Aiman Azh-Zhawahiri sebagai amir Al-Qaidah Pusat.

Tha’un’ bagi Israel

Dengan terjadinya Arab Springs, banyak pihak menilai bahwa revolusi rakyat yang menggurita di negara-negara Arab ini adalah awal dari kehancuran Al-Qaidah. Al-Qaidah dipandang sedang berjalan menuju lubang kematiannya. Sebab, gerakan revolusi damai (ats-tsaurah as-silmiyyah) yang tengah merebak tersebut dinilai telah mengeliminasi arus pemikiran jihadi yang diusung Al-Qaidah sekaligus menandai kegagalannya. Dimana, dalam waktu singkat, revolusi damai mampu merealisasikan cita-cita yang diperjuangkan oleh Al-Qaidah dalam rentang waktu tiga dekade terakhir.

Asumsi ini dikuatkan lagi oleh adanya polemik pemikiran yang menerpa Al-Qaidah sebelum terjadinya revolusi Arab, berupa fenomena taraju’ (meninggalkan pemikiran jihadi) dari banyak tokoh jihadi di kawasan Arab. Dimulai dari Mesir, yang terjadi pada Jamaah Islamiah, kemudian merembet kepada organisasi Jihad Mesir dan terus merambah ke beberapa negara lainnya.

Namun yang terjadi justeru sebaliknya. Aktivitas Al-Qaidah meningkat pesat setelah meletusnya Arab Springs. Ini seperti yang terlihat di kawasan Afrika Utara pada tanzhim Al-Qaidah di Negeri Islam Maghribi (Al-Qaidah in the Islamic Maghrib [AQIM]). Lalu diikuti oleh kemunculan Al-Qaidah di Sinai yang mengatasnamakan diri sebagai Jamaah Anshar Al-Jihad di Semenanjung Sinai. Dimana, kemunculannya meninggalkan kekhawatiran yang cukup serius akan kembalinya gerakan Islam bersenjata. Begitu juga dikhawatirkan akan menggairahkan kembali aksi-aksi terorisme yang akan mengguncang Mesir setelah meredup beberapa tahun lamanya.

Ali Bakr[31] mencatat, kemunculan Al-Qaidah di Sinai diprediksikan akan membawa beberapa pengaruh, diantaranya:

  1. Permusuhan sengit Al-Qaidah yang ditujukan kepada Al-Ikhwan Al-Muslimun. Yang akan terjadi adalah perseteruan antara kelompok yang memiliki kekuatan politik terbesar di Mesir sekaligus yang mendominasi parlemen, penganut Islam moderat dan kelompok penganut Islam jihadi yang selalu diperangi dan diburu oleh rezim berkuasa sebelumnya. Ringkasnya, akan terjadi pertentangan antara Islam moderat dengan Islam jihadi.
  2. Eksistensi Al-Qaidah di negara manapun selalu membawa tantangan tersendiri bagi pemerintah setempat. Sebab, selama ini Al-Qaidah menjadikan orang-orang Barat sebagai target operasi mereka. Hal ini akan berdampak pada travel warning yang pasti akan dikeluarkan oleh negara-negara Barat atas warganya untuk tidak bepergian ke Mesir. Secara otomatis akan mengganggu perekonomian Mesir, mengingat Sinai merupakan lumbung pendapatan Mesir dari sektor pariwisata.
  3. Sikap dan pandangan tanzhim Anshar Al-Jihad dari segi urusan dalam negeri Mesir menimbulkan problem yang tidak kalah peliknya dengan segi eksternal terkait Al-Qaidah. Hal ini terutama berkaitan dengan soal hubungan antar elemen bangsa Mesir, khususnya antara kaum Muslim dengan Kristen Koptik. Pilihan sikap Anshar Al-Jihad berseberangan dengan Al-Ikhwan Al-Muslimun, bahkan dengan kalangan Salafiyun. Dimana, dalam website mereka, Anshar Al-Jihad mewajibkan kaum Kristen Koptik untuk membayar jizyah kepada pemerintah kaum Muslimin dalam konteks Daulah Islamiah Mesir.
  4. Tanzhim ini, dari segi pemikiran, tidak menerima arus pemikiran lain di luar frame pemikiran jihadi, meski yang masih bersifat Islami sekali pun, seperti pemikiran Al-Ikhwan dan Salafiyun. Lalu bagaimana dengan pemikiran yang tidak islami, seperti liberalisme, nasionalisme dan sebagainya? Jelas, mereka tidak akan menerima keberadaannya sama sekali. Ini bisa dipahami dari pernyataan mereka bahwa orang-orang yang mengatakan “kami tidak menginginkan Mesir menjadi Negara Agama…” tidak faham bahwa sebenarnya dengan pernyataan itu mereka telah mengakui bahwa negara mereka adalah negara sekuler, berarti negara kafir yang keluar dari aturan Allah.
  5. Yang paling parah dari dampak eksistensi Anshar Al-Jihad, sebagai prototype Al-Qaidah adalah bahwa jamaah ini akan menjadikan Sinai sebagai basis untuk melancarkan serangan-serangan mereka terhadap Israel. Satu hal yang akan menjadi media bagi Israel untuk masuk lebih dalam lagi ke Sinai dengan alasan untuk menumpas kelompok ini dan demi menjaga perbatasannya karena menganggap pasukan keamanan Mesir ‘mundur’, tidak mampu mengatasi persoalan tersebut. Diperparah lagi dengan problem-problem dalam negeri dan gejolak politik yang belum pernah terjadi sebelumnya. Faktor-faktor ini tidak menutup kemungkinan akan menyeret Mesir ke ranah konflik dengan Israel di tengah kondisi yang amat sulit yang sedang dihadapi oleh Mesir.

Meningkatnya aktivitas kaum jihadi di Sinai dan Mesir secara umum tidak terlepas dari seruan-seruan para ulama jihadi melalui pernyataan mereka yang dirilis baik melalui pesan video—seperti yang dilakukan oleh Syaikh Aiman Azh-Zhaawahiri—, akun-akun media sosial, atau tulisan-tulisan mereka.

Seorang tokoh pergerakan Islam asal Mauritania, Syaikh Abul Mundzir Asy-Syanithi, dalam tulisan beliau yang berjudul Yâ Ahla Mishr…As-Silâh (Wahai Rakyat Mesir…Senjata), mengemukakan beberapa alasan mengapa ia menyebut tentara-tentara Mesir sebagai tentara kafir yang harus dilawan dengan senjata sama seperti tentara Amerika, Israel dan juga Bashar Al-Asad. Alasannya antara lain karena tentara Mesir membunuhi orang-orang Islam dalam rangka menjaga keutuhan hukum positif thaghut Mesir. Mereka juga bersengkongkol dengan kaum salibis dalam memerangi kaum Muslim di Irak dan Afghanistan. Hingga kini, mereka juga terus turut mendukung Yahudi dengan turut mengamankan perbatasan Israel. Tentara Mesir juga telah menginjak-injak kesucian rumah-rumah Allah dengan merusaknya dan melaran orang beribadah di dalamnya. Mereka juga dinilai kafir karena berpaling dari jalan dakwah Islam kepada dakwah syaitan. Disamping itu, mereka membenci, mencela dan menghalangi tegaknya syariat Allah. Kesemua  alasan itu, menurut Abul Mundzir Asy-Syanqithi, seharusnya membuat kaum Muslim untuk tidak lagi ragu memerangi tentara Mesir karena telah murtad dari agama Islam. Bahkan, ia menyebut hal itu sebagai kebutuhan yang amat darurat untuk dilaksanakan.[32]

Eksistensi Al-Qaidah dan berbagai gerakan jihad di Sinai pastinya akan menambah kuat posisi kekuatan jihad global yang dipandang sebagai ‘tha’un’ ganas yang siap mengepung musuh utama Islam, Israel, dari segala sisi. Akankah Al-Qaidah benar-benar menjawab kekhawatiran publik dengan menjadikan bumi wahyu itu sebagai basecamp untuk melancarkan aksi-aksi jihad terhadap Israel dan kepentingan-kepenitngan Barat di kawasan Timur Tengah atau bahkan akan menjadikannya battle ground baru? Wallahu a’lam bish-shawab. (Hafidz)



[1] Lihat International Crisis Group,  Egypt’s Sinai Question, 30 Januari 2007 (http://www.crisisgroup.org/~/media/Files/Middle%20East%20North%20Africa/North%20Africa/Egypt/61_egypts_sinai_question.pdf).
[2]http://en.wikipedia.org/wiki/Sinai_Peninsula dan https://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CCgQFjAA&url=http%3A%2F%2Funi-nke.hu%2Fdownloads%2Fkutatas%2Ffolyoiratok%2Fhadtudomanyi_szemle%2Fszamok%2F2013%2F2013_3%2F2013_3_hm_galgoczii.pdf&ei=tAhzUqCTGsX9rAe17IBY&usg=AFQjCNH3E4tsQqMYRNlJ24XNJ1hlqudMqw&bvm=bv.55819444,d.bmk.
[3] Lihat: http://www.northsinai.gov.eg.
[4] Lihat: International Crisis Group,  Egypt’s Sinai Question, 30 Januari 2007 (http://www.crisisgroup.org/~/media/Files/Middle%20East%20North%20Africa/North%20Africa/Egypt/61_egypts_sinai_question.pdf).
[5] Lihat Peta pada Lampiran.
[6] Terdapat lebih dari 20 suku di Sinai (berdasarkan peta konfigurasi suku Badui yang dicantumkan oleh Ehud Yaari dalam Sinai: A New Front, laporan The Washington Institute for Near East Policy, No. 9, Januari 2012 [www.washingtoninstitute.org]). Peta pada Lampiran.
[7] Peta pada Lampiran.
[8] Sementara http://en.wikipedia.org/wiki/Sinai_Peninsula menulis angka 500.000 jiwa.
[9]The Sinai Bedouin: a photographic journey oleh Zoltan Matrahazi (www.discoversinai.net).
[10] Lihat: International Crisis Group, Egypt’s Sinai Question, 30 Januari 2007 (http://www.crisisgroup.org/~/media/Files/Middle%20East%20North%20Africa/North%20Africa/Egypt/61_egypts_sinai_question.pdf).
[11] Lihat: global.britannica.com/EBchecked/topic/91061/Camp-David-Accords.
[12] MFO adalah sebuah organisasi internasional gabungan dari 10 negara (Amerika Serikat, Fiji, Kolombia, Uruguai, Kanada, Australia, Selandia Baru, Norwegia, Prancis, dan Italia) yang bertugas menjaga perdamaian. Dibentuk 1982 menyusul perjanjian Camp David antara Mesir dan Israel tahun 1978 (http://www.globalsecurity.org/military/ops/mfo.htm).
[13]http://www.americanthinker.com/2013/06/islamist_terrorists_threaten_sinai.html.
[14] Syauqi Abu Khalil, Athlas Al-Qur`ân; Amâkin Aqwâm A’lâm, 2003, Dâr Al-Fikr, Damaskus, hlm. 166-168.
[15] Lihat: id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Sinai.

[16] Lihat: Tafsîr Al-Qur`ân Al-‘Azhîm oleh Ibu Katsir, tafsir surat At-Tîn ayat 1-3.

[17]Pengajar ‘Ulumul Qur’an dan Hadits di Universitas Malik Sa’ud, Riyadh.

[18] Lihat: (فضل بلاد الشام)/ [fadhl bilâd asy-syâm] oleh Dr. Muhammad Luthfi Ash-Shabagh, 11/4/2013 (http://www.alukah.net/Web/sabagh/0/52945/).

[19]http://www.timesofisrael.com/gunmen-attack-sinai-headquarters-of-mfo-peacekeeping-force-several-reported-killed/.

[20] Gambar pada Lampiran.

[21] Dr. Mordechai Kedar, The Curse of Sinai, 18 Agustus 2013 (www.jewishpress.com/indepth/analysis/dr-mordechai-kedar/the-curse-of-sinai/2013/08/18/0/?print).

[22]Serangan serentak dari berbagai arah.
[23] Steven Metz, Sinai is the Next Jihadist Battle, 07 Agustus 2013 (www.worldpoliticsreview.com/articles/print/13146).
[24] Ilana Freedman, Sinai Peninsula Has Become the Latest Terrorist Playground; Egypt Declares It a Closed Military Zone, 19 Agustus 2013 (gerarddirect.com/2013/08/19/sinai-has-become-latest-terrorist-playground-and-training-camp/).
[25] Video Aiman Azh-Zhawahiri tersebut ditampilkan di sebuah halaman facebook. Lihat: https://www.facebook.com/yosrikatiba.
[26] Lihat: Sarah El-Rashidi, Ahmed Eliba dan Bel Threw, Sinai on the brink: Arms trafficking and the rise of Egypt’s Jihadist groups, 7 Agustus 2012 (http://english.ahram.org.eg/News/49807.aspx).
[27] David Barnett, Former bin Laden doctor reportedly heads al Qaeda in the Sinai Peninsula, Juli 2013 (www.longwarjournal.org/archives/2013/07/former_bin_laden_doc.php).
[28] Hicham Murad, Genesis of the Sinai Crisis, 27 September 2013 (http://english.ahram.org.eg/News/82529.aspx).
[29]http://www.jewishpress.com/indepth/analysis/dr-mordechai-kedar/the-curse-of-sinai/2013/08/18/0/.
[30] Ali Bakr, “Al-Qâ’idah” Al-Mishriyyah: At-Ta`tsîrât Al-Muhtamalah li-Zhuhûr Tanzhîm “Anshâr Al-Jihâd” fî Sainâ` (“Al-Qaidah” Mesir: Potensi Pengaruhnya dengan Kemunculan Tanzhim “Anshar Al-Jihad” di Sinai), 5 Agustus 2012 (http://www.siyassa.org.eg/NewsContent/2/107/2288/تحليلات/مصر/%20القاعدة%20-المصرية.aspx).
[31] Ali Bakr, “Al-Qâ’idah” Al-Mishriyyah: At-Ta`tsîrât Al-Muhtamalah li-Zhuhûr Tanzhîm “Anshâr Al-Jihâd” fî Sainâ` (“Al-Qaidah” Mesir: Potensi Pengaruhnya dengan Kemunculan Tanzhim “Anshar Al-Jihad” di Sinai), 5 Agustus 2012 (http://www.siyassa.org.eg/NewsContent/2/107/2288/تحليلات/مصر/%20القاعدة%20-المصرية.aspx).
[32] Lihat: Wahai Rakyat Mesir…Senjata (يا أهل مصر...السلاح), Abul Mundzir Asy-Syanqithi (http://tawhed.ws/a?a=shanqeet).