FOREIGN FIGHTERS DI SURIAH: SIAPA TERANCAM?

30 November 2013

Konflik di Suriah yang kini telah memasuki tahun ketiga belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir. Perang sipil oleh masyarakat Muslim Sunni melawan pemerintahan Nusairiyah yang dipimpin presiden Bashar al-Assad telah menjadi magnet yang menarik para foreign fighters (pejuang asing) dari berbagai belahan dunia memasuki kancah peperangan tersebut. Aaron Y. Zelin memperkirakan bahwa sejak munculnya konfliks di Suriah pada awal 2011 sampai pada bulan Maret 2013 ada sekitar 2000 sampai 5500 foreign fighters yang memasuki Suriah dan berjuang di pihak oposisi. Dari jumlah tersebut diperkirakan 135 sampai 590 individu berasal dari Eropa atau sekitar 7 sampai 11 prosen dari jumlah total foreign fighters di Suriah.[1]

Keberadaan foreign fighters di Suriah ini telah menyebabkan kekhawatiran otoritas Barat. Para analis keamanan mengatakan bahwa Muslim Barat yang terradikalisasi di Suriah untuk berjuang bersama kelompok perlawanan terhadap pemerintah mungkin kembali ke Barat dengan sentimen jihadis. Diperkirakan 6000 foreign fighters – 600 dari Eropa, Amerika Utara dan Australia- telah memasuki Suriah untuk membantu menggulingkan Presiden Suriah Bashar Assad, menurut laporan The New York Time.[2]

Pakar terorisme mengatakan bahwa banyak dari mereka yang telah memasuki Suriah pertama kali pergi ke Turki, dimana fasilitator kelompok perlawanan sering menghubungkan mereka dengan kelompok tertentu, termasuk Jabhah Nusroh yang dikendalikan Al Qaeda.

Matthew G. Olsen, direktur Pusat Kontra-terorisme Nasional (the National Counterterrorism Center) dalam konferensi keamanan di Aspen, Colorado mengatakan “Suriah telah menjadi medan pertempuran utama para jihadi di dunia”. Ia menambahkan, “Konsentrasi ke depan dari perspektif ancaman adalah adanya individu-individu yang mendatangi Suriah, menjadi lebih radikal, terlatih dan kemudian kembali sebagai bagian dari gerakan jihadi global ke Eropa Barat, serta berpotensi ke Amerika Serikat.”

Gilles de Kerchove, koordinator Kontra-terorisme Uni Eropa (the European Union's counterterrorism) mengatakan dalam konferensi di Aspen tersebut bahwa “Skala dari hal ini sangat berbeda dengan apa yang telah kita alamai di waktu lampau”. Sejak dimulainya perang sipil di Suriah pada 2011, memang belum ada plot teror yang dihubungkan dengan pejuang Eropa atau negara Barat lainnya yang kembali dari Suriah, namun, Menteri Dalam Negeri Perancis saat ini Manuel Vall menyebut ancaman tersebut sebagai “detakan bom waktu (a ticking time bomb)”. Dalam upaya untuk menghadapi serangan yang mungkin terjadi, badan-badan inteligen Barat bekerja sama untuk memantau orang-orang yang melintasi perbatasan ke Suriah dari Turki.[3]

Ahmed Salah Hashim memberikan analisisnya tentang foreign fighters di Suriah yang dimuat dalam RSIS Commentaries.[4] Dia menjelaskan bahwa salah satu alasan munculnya jihadi karena Suriah adalah tanah 'butik jihad’. Berbeda dengan medan-medan perang yang terpencil dan keras di Afghanistan, Somalia, Mali dan Nigeria utara, Suriah lebih mudah diakses, melalui Irak, Yordania, Lebanon dan Turki. Suriah adalah masyarakat yang maju di jantung Timur Tengah. Bepergian ke Suriah tidak menimbulkan kecurigaan karena calon pelaku jihad bisa masuk Suriah secara tidak langsung melalui Turki. Memasuki Turki tidak memerlukan visa bagi warga negara Uni Eropa atau warga dari berbagai negara Arab. Ada banyak penerbangan ke Turki dari Eropa maupun dunia Arab dan harga tiket sangat murah karena Turki merupakan tujuan wisata yang populer. jihadi dari negara-negara Arab pergi melalui udara ke Turki atau Lebanon dan kemudian melanjutkan perjalanan ke Suriah dengan bantuan perantara. Mereka yang berasal dari negara yang berbatasan dengan Suriah hanya perlu melintasi perbatasan yang sebagian besar tak dijaga. Kota sepi Atmeh di sisi Suriah yang berbatasan dengan Turki sekarang menjadi kota transit yang secara ekonomis dinamis bagi jihadis, dan menyediakan hampir semua kebutuhan mereka.

 Lebih lanjut Ahmed Salah Hashim memberikan analisisnya bahwa para jihadi adalah para laki-laki Muslim Sunni yang berumur muda dari latar belakang kelas pekerja menengah ke bawah atau, secara sosial-ekonomi terpinggirkan baik karena kurangnya pendidikan atau peluang kerja atau identitas budaya dalam masyarakat Barat. Dalam kasus orang-orang dari negara-negara Arab-Muslim, marginalisasi menjadi lebih mendalam secara sosio-ekonomi akibat kemiskinan yang meluas serta stagnasi ekonomi dan juga penindasan politik oleh pemerintah otoriter di Timur Tengah.

Masih menurut Ahmed Salah Hashim bahwa jumlah jihadi dari negara-negara Barat dapat diperdebatkan, berkisar antara 600 sampai 1.000. Badan-badan intelijen Barat khawatir dengan implikasi keamanan dari para jihadi terlatih yang pulang. Menurut pihak berwenang Perancis sekitar 300 warga negara dan penduduk Perancis berjuang di Suriah, beberapa dari mereka berkulit putih. Perancis sekarang melihat para jihadi yang berkembang di rumah-sendiri sebagai ancaman keamanan dalam negeri yang terbesar, sebagaimana hakim kontra-terorisme senior Perancis menyatakan bahwa "terorisme yang sebenarnya akan dimulai segera setelah rezim Assad dikalahkan."

Organisasi keamanan dalam negeri Jerman telah mengklaim bahwa 80-100 orang Jerman berada di Suriah dan 20 jihadi dengan paspor atau izin tinggal di Jerman telah kembali ke Jerman. Inggris adalah negara lain yang telah mengekspor sejumlah besar jihadi untuk Suriah, dan sekitar 100 orang dikatakan telah melakukan perjalanan ke Suriah dan beberapa telah kembali memasuki Inggris. Kepuasan awal yang telah berganti dengan perhatian yang tulus mungkin akan menjadikan mereka sebagai “bom waktu”.

Negara-negara Eropa yang lebih kecil tidak terbebas dari persoalan ini. Dinas intelijen Belanda memperkirakan sekitar 100 warga Belanda berada di Suriah. Pemerintah Belgia telah menyatakan bahwa 70 anggota kelompok Islam terlarang Syariah4Belgium berjuang di Suriah, sebagian besar dari mereka imigran dari lingkungan miskin. Dinas intelijen Swedia menyatakan  sekitar 30 jihadi Swedia telah melayani di Suriah, 18 di antaranya adalah imigran dari Timur Tengah atau generasi pertama warga Swedia.

Para jihadi asing dari negara-negara Timur Tengah dan Muslim termasuk 700 pejuang dari Yordania, menjadikannya sebagai 'eksportir' jihadi terkemuka ke Suriah. Orang-orang Yordania tersebut berasal dari kota-kota sepi dan secara ekonomi kekurangan dari Jordan Timur. Turki non-Arab telah memberikan pada jihad tersebut sekitar 50-100 militan, terutama di dalam dan sekitar Aleppo.

Orang-orang Palestina telah memasuki kancah ini dalam jumlah yang cukup besar dari kamp-kamp pengungsi di Lebanon, Yordania dan Suriah sendiri di mana ada kamp Palestina mandat PBB. Meskipun pengungsi di Suriah secara tradisional telah cukup sekuler dalam orientasi mereka, para pemuda yang bosan dan terasing dalam kamp tersebut telah bergabung dengan pihak pemerintah karena loyalitas, atau dengan pemberontak jihad akibat da'wah oleh para ulama Islam di kamp-kamp tersebut. Baru-baru ini, lebih dari setengah kamp Palestina jatuh ke tangan pejuang jihadi yang memberlakukan tata-cara Islam dan menanamkan semangat yang lebih religius di kalangan para penghuni kamp.

Orang-orang Chechen, yang merupakan orang-orang Muslim non-Arab tanpa negara merdeka, dengan pengalaman tempurnya, juga memainkan peran penting dalam jihad Suriah. Dari negara tetangga Irak, ketika pemberontakan pecah di Suriah, para pemberontak yang berbasis di Irak - banyak dari mereka orang Suriah - kembali ke negara asal mereka. Mereka bergabung dengan kontingen jihadi Irak militan yang telah berperang melawan Amerika di tempat-tempat seperti Fallujah.

Sejumlah orang Sunni Lebanon telah bergabung dengan jihad ini setelah teradikalkan oleh pertumbuhan ideologi militan dalam populasi Sunni yang signifikan, terutama di bagian utara negara itu. Ulama Salafi di Tripoli telah memainkan peran kunci dalam menasihati orang-orang Sunni untuk pergi melawan rezim Alawiyah Bashar al-Assad. Juga telah ada pejuang-pejuang dari Libya dan masuknya relatif kecil pejuang asing dari tanah Maghreb: Maroko, Aljazair, dan Tunisia.

Paparan diatas menggambarkan kekhawatiran dan perhatian Barat terhadap foreign fighters Muslim Sunni yang ikut berjuang di Suriah berada di fihak kelompok perlawanan terhadap pemerintahan Nusairiyah. Sesungguhnya siapakah yang dimaksud dengan foreign fighters, darimana mereka berasal, bagaimana mereka direkrut dan masih banyak lagi pertanyaan tentang foreign fighters yang perlu dijawab.

Fenomena Foreign Fighters

Penggunaan dan keberadaan foreign fighters bukanlah suatu konsep baru. Kelompok perlawanan bersenjata transnasional ini muncul di berbagai tempat. Mereka tampaknya memainkan peranan yang sangat penting dalam konflik-konflik saat ini. Sejumlah besar pelaku bom bunuh diri bukan berasal dari negara yang berkonflik. Mereka berkomitmen untuk mati syahid. Mereka yang tidak berkomitmen untuk bunuh diri, tetapi berjuang dalam suatu kelompok perlawanan bersenjata, dapat dipanggil dalam pemberontakan-pemberontakan berikutnya di masa depan karena keberhasilan atau pengalaman mereka. Karena itu ada suatu populasi yang dapat dipanggil atau direkrut untuk pemberontakan saat ini dan masa mendatang. Foreign fighters ini berbahaya karena mereka dapat sangat berhasil. “Rekrutan transnasional bertanggung jawab atas tingkat kekerasan yang lebih tinggi daripada gerilyawan lokal, dan pemberontakan yang berhasil merekrut foreign fighters mengalami kesuksesan luar biasa dibandingkan dengan kelompok pemberontak lain”. (Malet 2010). Mereka dapat memperpanjang suatu konflik dan membuatnya menjadi sangat mahal bagi koalisi dan penjaga perdamaian internasional.[5]

Definisi Foreign Fighters

Ide melakukan perjalanan ke tanah asing untuk berjuang dan mungkin meninggal karena suatu tujuan bukanlah sesuatu yang baru. Sejarah menunjukkan bahwa sedikitnya 20% peperangan sipil dalam 200 tahun terakhir menggunakan pejuang non pribumi. “Diantara 331 konflik sipil mulai tahun 1815 sampai 2005, sedikitnya 67 diantaranya menunjukkan keberadaan foreign fighters.” (Malet 2010) Sejumlah istilah yang digunakan untuk menggambarkan kelompok ini: foreign fighters, kelompok perlawanan bersenjata (insurgents) transnasional, kombatan di tanah asing, dan pejuang non-pribumi, semuanya mempunyai implikasi yang sama. Mereka adalah orang-orang yang berjuang untuk suatu tujuan. Mereka bukan bagian dari suatu milisi yang direstui pemerintahan atau bukan mewakili suatu negara yang berdaulat. Sekarang ini, mayoritas foreign fighters termotivasi oleh ideologi, khususnya ekstrimis Islam; walaupun tidak semua kasus demikian.[6]

David Malet mendefinisikan foreign fighter sebagai “bukan penduduk dari negara yang sedang berkonflik yang bergabung dengan kelompok perlawanan bersenjata (insurgencies) selama konflik sipil”. Berdasarkan definisi Malet tersebut Thomas Hegghammer membuat formulasi definisi foreign fighter secara lebih rinci dengan memberikan 4 kriteria.[7] Foreign fighter adalah seorang agen yang:

  1. telah bergabung dan beroperasi dalam ikatan suatu kelompok perlawanan bersenjata (insurgency),
  2. tidak ada hubungan kewarganegaraan dari negara yang berkonflik atau hubungan kekeluargaan dengan faksi-faksi yang berperang,
  3. tidak ada afiliasi dengan seorang pejabat organisasi militer, dan
  4. tidak dibayar.

Empat kriteria ini menjadikan foreign fighter berbeda dengan jenis-jenis pelaku kekerasan lainnya yang melintasi perbatasan negara. Kriteria ke-4 mengeluarkan tentara sewaan yang dibayar dan mengikuti penawar tertinggi. Kriteria ke-3 mengeluarkan tentara yang biasanya digaji dan pergi ke tempat dimana jenderalnya mengirim mereka. Kriteria ke-2 mengeluarkan kembalinya anggota-anggota diaspora atau pemberontak yang terusir, yang mempunyai suatu kepentingan yang sudah ada sebelumnya dalam konflik tersebut. Kriteria ke-1 membedakan foreign fighters dengan teroris internasional yang mengkhususkan dalam area kekerasan untuk melawan bukan kombatan. Pembedaan ini jarang dilakukan; kebanyakan peneliti pada Islamisme militan menggunakan istilah umum seperti “jihadis” atau “salafi jihadis” untuk menggambarkan setiap pelaku kekerasan Islam transnasional, apakah ia melakukan pemboman bunuh diri di suatu kota negara Barat atau serangan mortar di zona perang. Pada kenyataannya, kebanyakan foreign fighters tidak pernah terlibat diluar area operasi, tetapi berjuang di satu zona peperangan pada waktu tertentu.

Suatu kontingen foreign fighter berbeda dengan kontingen foreign fighter yang lain dalam dua hal penting yaitu tingkat dukungan dari suatu negara dan jangkauan perekrutan internasionalnya. Walaupun foreign fighters bukanlah tentara, mereka sering menerima suatu bentuk dukungan negara.  Beberapa pasukan sukarelawan menjadi tentara non-regular efektif yang dibentuk oleh negara yang menginginkan fleksibilitas operasional atau penyangkalan yang masuk akal. Walaupun dukungan negara sifatnya bertingkat-tingkat, tetapi secara umum mobilisasi foreign fighters dapat dibedakan menjadi mobilisasi pribadi dan mobilisasi yang didukung negara. Suatu mobilisasi didefinisikan didukung negara jika suatu badan pemerintahan secara langsung mensuplai foreign fighters dengan sumberdaya material.

Berdasarkan jangkauan geografis mobilisasi foreign fighters secara umum dapat dibedakan menjadi “global” dan “regional”. Mobilisasi kontingen foreign fighter didefinisikan sebagai “regional” jika semua anggota kontingen tersebut datang dari negara-negara yang berbatasan dengan zona konflik tersebut. Jika bukan demikian dikatakan sebagai mobilisasi “global”.

Data Rekaman Sejarah Foriegn Fighter Dunia Muslim

Untuk menilai skala dan distribusi fenomena foreign fighter di dunia Muslim (semua negara yang mempunyai penduduk minimal 50 persen adalah Muslim) didaftar semua pemberontak dan perang antar-negara di dunia Muslim dari tahun 1945 sampai 2009 yang melibatkan foreign fighter. Dari sekitar 70-an konflik bersenjata di dunia Muslim setelah tahun 1945, 18 diantaranya melibatkan kontingen foreign fighter  mobilisasi global pribadi. Secara geografis kasus-kasus tersebut meliputi 3 benua dan sebagian besar terjadi di batas-luar dunia Muslim. Enambelas kontingen dimobilisasi setelah tahun 1980 (satu dalam dekade 80-an, 10 dalam dekade 90-an, dan 5 dalam dekade 2000-an). Sebaliknya hanya 2 kontingen kecil yang dimobilisasi sebelum tahun 1980 dan hanya satu yang terjadi sebelum akhir dekade 60-an. Berdasarkan perkiraan, 5 kasus melibatkan lebih dari 1000 foreign fighters, dan 13 kasus melibatkan kurang dari 300 foreign fighters. Dua kasus (Afghanistan tahun 1980 dan Irak) melibatkan lebih dari 4000 foreign fighters. Dalam semua kasus, foreign fighters hanya membentuk proporsi yang sangat kecil dari jumlah total kombatan. Sampai tahun 2010 barangkali konflik Irak merupakan penyumbang terbesar kontingen foreign fighters, dimana hampir 5% pemberontak adalah orang asing.[8] Dunia Arab secara umum, dan Saudi Arabia secara khusus, adalah yang sangat banyak menyumbang foreign fighters diantara yang lainnya, kecuali pada konflik Afghanistan dekade 1980-an ketika banyak orang Asia yang ikut andil. Meskipun kemungkinan ada bias dalam laporan tentang sumber Arab tersebut, tetapi fenomena foreign fighter Muslim telah secara luas dianggap didominasi oleh orang Arab.[9]

 

Siklus Hidup (Life Cycle) Foreign Fighter

Daniel Kolva yang mengutip dari artikel tulisan Clint Watt, menyebutkan ada tiga fase berbeda dalam siklus hidup yang mengantarkan foreign fighter ke medan peperangan[10]:

  1. perekrutan pada negara sumber atau kota titik-nyala (flashpoint),
  2. pelatihan dan pergerakan melalui jaringan-jaringan safe havens dan perantara,
  3. keterlibatan pada lokasi-lokasi tujuan.

Dalam artikelnya Clint Watts memberikan penjelasan siklus hidup foreign fihter ini dengan bantuan gambar.[11] Seperti ditunjukkan pada gambar, fase 1 bermula di kota-kota flashpoint dalam negara-negara sumber dengan sejumlah besar pemuda beresiko yang usianya antara 16 sampai 28 tahun.  Para pemuda ini siap untuk diradikalisasi karena kondisi-kondisi sosial ekonomi yang meliputi, tetapi tidak terbatas pada, hal-hal berikut: tidak adanya kebebasan sipil dan hak-hak politik, terbatasnya kesempatan lapangan kerja dan mobilitas ekonomi, serta tindakan represif pemerintah terhadap masyarakat. Jaringan sosial dan keluarga dalam kota-kota flashpoint menekankan perekrutan dengan menghubungkan kondisi lokal yang buruk dengan agenda politik yang lebih luas yang difokuskan pada tekanan politik dan ekonomi Barat yang dirasakan, konflik Palestina- Israel, dan berkembangkan budaya Barat yang mereka rasakan sebagai perusak kepercayaan lokal yang mereka miliki. Ideologi ektrimis lokal yang berasal dari ideologi Jihadi Al-Qaeda dan mantan foreign fighters, ditanam dalam jaringan-jaringan agama-keluarga-sosial lokal, memfasilitasi integrasi pemuda terekrut ke dalam konflik-konflik yang ada saat itu. Para pemuda yang mendapati beberapa alternatif terlegitimasi, keluar dari kota-kota flashpoint ini sebagai foreign fighter terekrut (FFR dalam gambar) dan memasuki siklus terorisme. Berdasarkan dokumen Sinjar, lima kota terbesar yang menghasilkan foreign fighters yang memasuki konflik Irak adalah Darnah, Libya; Mekkah, Saudi Arabia; Jawf, Saudi Arabia; Dayr al zur, Suriah; dan Sanaa, Yaman.[12]

Fase kedua dimulai ketika para terekrut keluar dari kotanya. Kebanyakan para pemuda ini akan memasuki lokasi safe haven dalam suatu negara lemah seperti Pakistan, Yaman atau Suriah. Disana FFR ini digabungkan kedalam jaringan AQ yang besar dimana mereka menerima indoktrinasi ideologi tambahan, pelatihan militer, dan panduan dari pemimpin AQ tentang peran mereka (pelaku syahid, petempur, atau lainnya) dan target-target lokasi yang mungkin.

Dalam fase ketiga,  foreign fighters yang terlatih (TFF dalam gambar) menuju ke target-target serangan. Saat ini (artikel Clint Watt ini diterbitkan pada 2009) target-target foreign fighters secara urut adalah 1) Afghanistan, 2) Irak, 3) Target Barat di Negara-negara Timur Tengah dan Afrika Utara, 4)Target Barat di negara-negara Barat. Foreign fighters yang terlatih ini beraksi seperti pejuang konvensional dan pelaku bom bunuh diri. Banyak dari mereka yang terkonsumsi (terbunuh atau tertangkap) di lokasi target ini. Para fighter yang tidak terbunuh di medan perang di import kembali kedalam negara-negara sumber sebagai mantan foreign fighter (FFF dalam gambar) dan kemudian melakukan radikalisasi terhadap foreign fighter terekrut baru dan/atau membangun sel teroris lokal yang berafiliasi dengan AQ.

Beberapa pakar dan peneliti lain menambahkan fase keempat dalam siklus hidup foreign fighter yang digagas oleh Clint Watts ini yaitu tujuan diluar aliran (outflow destinations).[13] Para veteran foreign fighters yang tidak terbunuh atau tertangkap di lokasi-lokasi target umumnya akan: (1) kembali ke negara sumber mereka, (2) pergi ke tempat aman (safe haven), atau (3) pergi ke suatu zona konflik saat ini atau mendatang.

 

 

Gambar Aliran Roreign Fighter Global[14]

 

Sementara itu seorang peneliti lain yaitu Stephanie Kaplan sebagaimana dikutip oleh Tally Helfont, secara ringkas menggambarkan siklus hidup foreign fighters terdiri atas fase sebelum perang, fase perang dan fase pasca perang.[15] Kajian pada fase pertama diharapkan dapat menjawab teka-teki tentang motivasi sukarelawan tesebut. Foreign fighters tampaknya dibangkitkan secara ideologi, sedangkan distribusinya ke medan-medan jihad adalah acak. Fase pertama ini juga meliputi faktor-faktor pemfasilitas yang dapat mengubah seorang simpatisan menjadi seorang foreign fighter yang sesungguhnya.[16]

Pertanyaan terkait fase kedua meliputi (tetapi tidak terbatas pada) bagaimana para sukarelawan diserap dalam zona konflik, pelatihan mereka, tugas operasional, dan afiliasi dengan tokoh-tokoh perjuangan. Pertanyaan lainnya adalah pengaruh mereka dalam perang.

Sementara pertanyaan pada fase ketiga adalah apa yang terjadi terhadap  sukarelawan tersebut setelah mereka keluar, khususnya bagaimana awal-awal fase membentuk jalan/lintasan sukarelawan tersebut dimasa datang. Sementara beberapa foreign fighters kembali kerumah dan bergabung lagi ke masyarakat, namun banyak yang tidak. Banyak temuan yang menyatakan sulit bagi mereka untuk kembali pada kehidupan sehari-hari mereka. Mereka mencari kumpulan orang seperti mereka, dan dalam banyak tempat reputasi mereka dalam masyarakatnya dikaitkan dengan identitas mereka sebagai pejuang. Dalam beberapa kasus meskipun ketika seorang mantan foreign fighter mencoba untuk meninggalkan kehidupannya dimasa lalu, negaranya masih terus mengidentifikasinya sebagai sebuah ancaman, sehingga mendorongnya kembali ke kehidupan bawah tanah dan kedalam rangkulan kawannya yang menghadapi persoalan yang sama. Beberapa dari individu ini pergi untuk membentuk infrastruktur bagi generasi foreign faighters berikutnya.[17]

 

Bagaimana Foreign Fighters direkrut?

Menurut David Malet perekrutan foreign fighters terjadi ketika kelompok perlawanan bersenjata lokal yang selalu memulai konflik sebagai faksi yang lemah karena mereka tidak dapat mengontrol instrumen-instrumen negara, berupaya untuk memperluas wilayah konflik sedemikian sehingga dapat meningkatkan sumberdaya dan memaksimalkan kesempatan untuk menang. Namun karena sangat kekurangan sumberdaya, biasanya mereka harus memotivasi fihak luar untuk bergabung dengan mereka dengan alasan lain daripada perolehan materi. Perekrut, karena itu, mengemas kemenangan dalam konflik sebagai keperluan bagi kepentingan fihak luar yang dengannya mereka berbagi koneksi dan siapa saja yang mungkin dapat diyakinkan dengan klaim ini.[18] Ionisnya ketika pasukan AS terlibat dengan kelompok perlawanan bersenjata di Irak untuk “memerangi mereka disana, sehingga kita tidak harus memerangi mereka di rumah,” lawan mereka memberikan argumen yang sama persis.[19]

Selanjutnya David Malet menggambarkan upaya-upaya perekrutan yang biasanya mengikuti model berikut ini[20]:

  1. Kelompok perlawanan bersenjata, yang awalnya adalah faksi lemah dalam konflik sipil, berupaya untuk menguatkan pasukannya dengan mendapatkan dukungan luar, meliputi kekuatan personal dan para spesialis.
  2. Mereka mentargetkan kelompok-kelompok luar yang diharapkan memihak terhadap alasan mereka karena suatu hubungan tertentu dengan kelompok perlawanan tersebut. Kadang-kadang mereka berhasil mendapatkan bantuan dari pemerintahan asing; pada saat yang lain mereka mencari bantuan dari kelompok non-negara yang berbagi ikatan etnik, agama, atau ideologi.
  3. Diantara kelompok-kelompok transnasional ini, audiens yang paling menanggapi adalah individu-individu yang sangat aktif dalam institusi-institusi yang sekomunitas dan memihak kepadanya secara dekat, tetapi cenderung terpinggirkan dalam negara mereka sendiri sabagai bagian dari kelompok minoritas. Karenanya, ikatan-ikatan sosial ini memberikan baik tujuan maupun dasar pemikiran untuk berpartisipasi.
  4. Perekrut memberitahu calon terekrut bahwa kelompok bersama mereka keberadaannya terancam dan karenanya partisipasi mereka diperlukan untuk mempertahankannya.

Clinton Watts menjelaskan pada saat ini terdapat perdebatan diantara para peneliti tentang dua model perekrutan foreign fighter Muslim. Model pertama adalah perekrutan atas-bawah (top-down recruitment) dimana Al-Qaeda merekrut para pemuda dan mengkoordinasikan perjalanan mereka ke medan operasional. Model kedua menggambarkan kebalikannya (bottom-up recruitment) dimana para pemuda merekrut diri mereka sendiri dan mencari jalan untuk membuka medan konflik bergabung dengan gerakan Jihadi global yang terinspirasi tetapi tidak selalu harus dipimpin oleh Al-Qaeda.[21]

Kedua model ini memungkinkan adanya peranan Internet dalam prosesnya. Model pertama (top-down) menyatakan bahwa propaganda militan di Internet membuat para pemuda mudah terkena bujukan perekrut. Model kedua (bottom-up) menyatakan bahwa Internet tidak hanya meradikalkan para pemuda, tetapi juga membantu mereka mencari cara untuk menuju medan konflik terbuka. Namun berdasarkan penelitian dan kajiannya terhadap rekaman Sinjar[22], Clinton Watts menghasilkan temuan-temuan berikut:

  1. Perekrutan foreign fighter  banyak yang tidak melalui internet. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa perekrutan melalui internet hanya 3.4%.
  2. Perekrutan foreign fighter tidak sejalan dengan model pertama (top-down), dan model kedua (bottom-up).
  3. Perekrut terbaik bagi seorang foreign fighter adalah mantan foreign fighter.

Pada kesempatan lain Watts sebagaimana dikutip oleh Tally Helfont  menggambarkan bahwa model perekrutan foreign fighter lebih dekat untuk disamakan dengan “bagaimana koloni semut terbentuk untuk mencari sumber makanan” sebagai lawan dari model hirarki yang kaku. Menurut logika ini, foreign fighters akan mencari target-targetnya menggunakan metode yang bervariasi. Setelah suatu target ditemukan oleh seseorang/individu, sinyal akan dikirimkan ke koloni – atau sel dalam kasus ini- untuk mengorganisir disekitar target.[23]

 

Fakta foreign fighter di Suriah

Menurut Aaron Y. Zelin, jumlah orang Eropa yang bergabung dengan jihad Suriah tidaklah sebesar yang ditakutkan, tetapi pengaruhnya pada perang tersebut dan potensi ancaman setelah pulang kembali bisa menjadi besar. Menurut perkiraannya (pada Maret 2013)  berdasarkan pada lebih dari 450 sumber media Barat dan Arab, maupun kesaksian pelaku operasi syahid yang telah diposting dalam forum-forum jihad online, antara 2000 sampai 5500 foreign fighters telah pergi ke Suriah sejak awal 2011 untuk berjuang bersama kekuatan oposisi. Dari jumlah tersebut 135 sampai 590 adalah orang Eropa yang membentuk proporsi 7-11% dari jumlah total foreign fighters.[24]

Berdasarkan asal negaranya jumlah keseluruhan (meliputi yang masih dimedan, yang sudah terbunuh atau tertangkap dan yang sudah kembali) foreign fighters Eropa adalah sebagai berikut[25]:

  • Albania: 1
  • Austria: 1
  • Belgia: 14 – 85
  • Inggris: 28 - 134
  • Bulgaria: 1
  • Denmark: 3 – 78
  • Finlandia : 13
  • Perancis: 30 – 92
  • Jerman: 3 – 40
  • Irlandia: 26
  • Kosovo: 1
  • Belanda: 5 – 107
  • Spanyol: 6
  • Swedia: 5

 

Berdasarkan pada konflik total, diperkirakan 70 – 441 orang Eropa masih berada di Suriah. Hal ini menggambarkan sebagian besar orang Eropa yang mengadakan perjalanan ke Suriah untuk ikut berjuang, sekarang ini masih berada di medan tempur. Gambaran jumlah tersebut untuk masing-masing negara asal adalah sebagai berikut[26]:

  • Belgia: 4 -75
  • Inggris: 17 – 77
  • Denmark: 3 – 48
  • Finlandia: 12
  • Perancis: 9 – 59
  • Jerman: 1 – 37
  • Irlandia: 15 – 25
  • Belanda: 4 – 104
  • Spanyol: 1
  • Swedia: 3

 

Kekuatan kelompok perlawanan di Suriah dapat dibagi menjadi 3 kelompok: unit-unit lokal yang independen; yang dikendalikan oleh Free Syrian Army (FSA); yang disebut jihadi yang ideologinya terkait dengan Al Qaeda. Jumlah yang meninggal dalam kategori ketiga –jihadis- dapat diperoleh dari kesaksian pelaku operasi syahid dalam forum-forum online. Diantara 249 kesaksian pelaku operasi syahid oleh foreign fighter, telah teridentifikasi 8 dari negara-negara Eropa masing-masing 1 orang sebagai beikut[27]:

  • Albania
  • Inggris
  • Bulgaria
  • Denmark
  • Perancis
  • Kosovo
  • Spanyol
  • Swedia

 

Jumlah sebenarnya bisa lebih besar karena tidak adanya kesaksian atau adanya kematian yang tidak terlaporkan.

Pemerintah Suriah telah –dalam banyak kesempatan dan untuk alasan yang berbeda- mengklaim bahwa banyak pejuang yang terlibat dalam konflik saat ini adalah orang asing. Tetapi penghitungan yang dilakukan oleh Aaron Y. Zelin diatas tidak mendukung penilaian tersebut. Jumlah perkiraan teratas foreign fighters dalam konflik Suriah (5.500) dibandingkan dengan jumlah kekuatan kelompok perlawanan saat ini (60.000), menyatakan bahwa foreign fighters kurang dari 10%. Gambaran yang sesungguhnya bisa jadi lebih kecil lagi[28].

Namun demikian, dampak foreign fighter dan nilai militernya mungkin cukup besar tidak proporsional jika dibandingkan dengan kekuatan yang direkrut secara lokal. Hal ini karena foreign fighter kebanyakan telah terlibat dalam konflik-konflik seperti di Libya dan Irak, sehingga membawa pengalaman dan ketrampilan yang tidak dimiliki oleh pejuang lokal.

 

Motivasi Foreign Fighter Berjuang di Suriah

Banyak media dan para analis yang menganggap semua foreign fighters sebagai teroris atau dikendalikan oleh Al Qaeda. Kondisi yang sesungguhnya adalah lebih rumit. Seperti telah disebutkan bahwa tidak semua kekuatan kelompok perlawanan di Suriah berorientasi jihadis, dan tidak semua kelompok jihadi dikendalikan oleh Al-Qaeda. Lebih jauh lagi, tidak setiap orang yang telah bergabung dengan suatu kelompok jihadi termotivasi oleh pandangan dunia jihadi yang terbentuk.[29]

Alasan yang paling sering dikutip untuk bergabung dengan pasukan kelompok perlawanan adalah gambaran mengerikan tentang konflik Suriah, kisah-kisah tentang kekejaman yang dilakukan oleh pasukan pemerintah, dan dukungan yang dirasa kurang dari negara-negara Barat dan Arab. Dalam banyak kasus individu-individu ini sepenuhnya mengadopsi doktrin dan ideologi jihadi  hanya ketika mereka telah di lapangan dan dalam kontak dengan pejuang-pejuang yang militan.[30]

Adanya fatwa ulama yang menyerukan untuk berjihad ke Suriah baik secara personal maupun atas nama pendapat/sikap suatu lembaga juga merupakan faktor yang menggerakkan  foreign fighters Muslim terlibat dalam konflik Suriah.

Secara kelembagaan, di antaranya terdapat fatwa yang dipublikasikan pada tanggal 9 Rajab 1434 H oleh organisasi RabithatuUlama’il Muslimin (Asosiasi Ulama Muslimin). Lembaga ulama internasional ini mengeluarkan fatwa mengenai wajibnya jihad dan membantu para mujahidin dan rakyat Suriah yang dipublikasikan melalui situs resminya yang dirilis pada Selasa, 28 Mei 2013.

Sebelumnya fatwa serupa juga dikeluarkan oleh sejumlah ulama Mesir pada tanggal 26 Mei 2013. Tak kurang dari 21 ulama membubuhkan tanda tangannya. Fatwa tersebut diberi tajuk Nushratun liAhlina filQushair (Pertolongan bagi Keluarga Kita di Qushair). Pada bagian akhir, fatwa tersebut merekomendasikan dua hal: (1) Ahlussunnah di setiap tempat hendaknya berjihad guna mendukung dan membantu umat Islam di Syam untuk menghentikan permusuhan terhadap mereka, karena tidak ada satu pun ‘udzur bagi seseorang untuk tidak berjihad; (2) Jamaah-jamaah yang berjihad di Syam dan jamaah yang berdiri di atas akidah yang benar dan jelas yang menghendaki implimentasi syariat Allah—bukan sekularisme atau demokrasi—untuk bersatu dan menyingkirkan perselisihan, perpecahan, dan persengketaan sesama mereka, juga untuk menyatukan kekuatan mereka hingga buah jihad mereka tidak bisa dipetik oleh mereka yang tidak berhak.

Terdapat pula fatwa dukungan yang dikeluarkan oleh para imam dan syekh secara personal. Di Libanon misalnya, dua ulama terkenal sekaligus imam masjid, yaitu Syekh Ahmad al-Asir yang menjadi imam Masjid Bilal bin Rabbah dan Syekh Salim ar-Rafi’i yang menjadi imam Masjid At-Taqwa telah menfatwakan mengenai wajibnya jihad di Suriah. Tidak hanya itu, beberapa media Arab turut mengekspos beberapa gambar Syekh Ahmad al-Asir yang sedang memanggul senjata dan diduga diambil di daerah Quseir.

Mungkin yang sangat berpengaruh adalah fatwa yang dikeluarkan oleh DR. Yusuf Al-Qaradhawi. Pada Sabtu malam tanggal 31 Mei 2013, dalam acara Festival Solidaritas Rakyat Suriah (Maharjaan Tadhaamuni Ma’a sy-Sya’bi s-Suuri) di Qatar, Al-Qaradhawi mengajak kepada umat Islam siapa saja yang mampu berjihad dan berperang untuk bergerak ke Suriah untuk bergabung di barisan rakyat Suriah yang terzalimi dan selama dua tahun telah dibunuh oleh rezim Asad dan pada saat sekarang ini oleh milisi Hizbullah yang beliau sebut sebagai ‘Tentara Setan’ (Hizbusy-Syaithan).

 

Seberapa besar bahaya keberadaan foreign fighter dalam konflik Suriah?

Untuk menjawab pertanyaan diatas Aaron Y. Zelin memberikan penilaian sebagai berikut. Bahwa tidak semua orang yang bergabung dengan kelompok perlawanan di Suriah adalah Al-Qaeda, dan hanya sejumlah kecil mungkin terlibat dalam terorisme setelah kembali ke Eropa. Namun adalah salah jika disimpulkan bahwa individu-individu yang telah dilatih dan/atau berjuang di Suriah tersebut tidak menampilkan potensi ancaman. Sejumlah kajian menunjukkan bahwa individu-individu dengan pengalaman pelatihan dan/atau perjuangan di tanah asing tersebut telah mencirikan secara jelas plot-plot teroris di Eropa.[31]

Thomas Hegghammer dalam kajiannya yang berjudul “Should I Stay or Should I Go? Explaining Variation in Western Jihadist’ Choice between Domestic and Foreign Fighting[32] mencoba untuk menjawab beberapa pertanyaan: Mengapa beberapa jihadi Barat melakukan serangan di negeri sendiri sementara yang lain berjuang di luar negeri? Lebih dari itu, jika jihadi begitu gigih untuk menyerang Barat, mengapa beberapa diantaranya malah meninggalkannya, padahal mereka telah berada “dibelakang garis musuh”? Dan seberapa mengkhawatirkan tentang prospek foreign fighter yang pulang untuk melakukan serangan-serangan teroris? Dari kajian tersebut Thomas Hegghammer memberikan 5 temuan utamanya sebagaimana yang dimuat oleh Joshua Tucker[33] sebagai berikut:

  1. Berjuang di tanah asing merupakan aktivitas yang paling umum. Perbandingan antara foreign fighters dengan pelaku serangan domestik setidaknya 3:1 ( lebih dari 900 vs 300 individu dalam 20 tahun).
  2. Jihadis Barat tampaknya memilih untuk berjuang di tanah asing karena alasan-alasan normatif. Mereka mengindahkan ulama-ulama yang menyarankan bahwa berjuang di zona perang lebih mendapat legitimasi daripada membunuh sipil di kota-kota Barat.
  3. Sebagian besar foreign fighters pergi meninggalkan rumah bukan bermaksud untuk berlatih bagi operasi domestik. Namun demikian, sejumlah kecil dari mereka mendapatkan motivasi ini setelah kepergiannya.
  4. Sebagian besar foreign fighters  yang kembali/pulang tidak untuk melakukan serangan domestik. Data menunjukkan paling banyak 1 dari 9 foreign fighters yang pulang untuk melakukan serangan.
  5. Foreign  fighters yang kembali secara signifikan beroperasi lebih efektif daripada non-veteran. Mereka bertindak seperti interpreneurs dan menyusun plot yang dua kali lebih mungkin untuk membunuh.

Thomas Hegghammer menyarankan bagi para pembuat kebijakan, untuk mengambil ide utama dari artikelnya bahwa foreign fighters sebagai kelompok, kurang menimbulkan ancaman teroris bagi Barat daripada yang sering diasumsikan. Pandangan yang tersebar luas bahwa foreign fighters sangat berbahaya didasarkan pada peran mereka dalam beberapa plot teroris yang serius yang terdokumentasikan dalam dekade terakhir. Namun, pemikiran ini hanya memilih pada variabel dependen, karena hanya mempertimbangkan sebagian kecil dari foreign fighters yang kembali untuk menyerang, dan mengabaikan mayoritas yang tidak pernah terdengar lagi. Asumsi lain yang terkait, tetapi juga cacat adalah bahwa semua foreign fighters pergi untuk melakukan pelatihan, sebagai bagian dari strategi licik untuk "datang kembali dan memukul kita lebih keras ". Fakta bahwa beberapa foreign fighters terlatih dan kembali tidak berarti bahwa semua foreign fighters berangkat dengan niat itu. Ternyata tidak, bahkan mereka yang melakukan pelatihan dan kembali mengatakan bahwa mereka tidak merencanakannya dari awal. Berdasarkan hal ini, pendekatan pemerintah yang memperlakukan semua foreign fighters sebagai pembuat teror domestik berisiko pemborosan sumber daya, karena begitu sedikit foreign fighters, menurut statistik, akan pergi untuk menyerang di Barat.

Selanjutnya Thomas Hegghammer memberikan saran 2 langkah menuju strategi kontra-terorisme yang lebih efisien.[34] Langkah pertama adalah untuk membedakan antara foreign fighters yang pergi dan yang datang, dan memfokuskan sumber daya pada yang datang. Beberapa negara mungkin akan mempertimbangkan sedikit lebih banyak pada foreign fighters yang keluar. Pemerintah AS saat ini menghabiskan sumber daya yang cukup untuk investigasi, penuntutan, dan memenjarakan Muslim yang hanya mencoba untuk bergabung dengan zona konflik seperti  di Somalia. Sementara harus ada sanksi yang jelas di tempat untuk mencegah foreign fighting, upaya pencegahan bisa dikalibrasi lebih baik terhadap ancaman yang terdokumentasikan. Sebaliknya, orang-orang Islam yang kembali dari zona konflik atau negara-negara tetangga harus diawasi sangat hati-hati. Hal ini hampir tidak menjadi berita bagi badan intelijen Barat, tetapi fakta bahwa dua serangan besar terakhir di Barat, pemboman Boston dan pembunuhan Woolwich, melibatkan pendatang yang tak-terawasi – masing-masing dari Dagestan dan Kenya/Somalia – menyarankan perlu adanya upaya yang lebih besar.

Langkah kedua adalah untuk membedakan antara himpunan-himpunan bagian dari foreign fighters menurut suatu tingkat yang mana mereka "menghasilkan" penyerang domestik. Masalah ini tidak dibahas dalam artikel Thomas Hegghammer dan akan memerlukan penelitian dan analisis baru untuk menyawab mengapa beberapa foreign fighters dan bukan orang lain beralih ke operasi domestik; mengapa beberapa negara tujuan menghasilkan penyerang domestik lebih banyak daripada yang lain. Wilayah AfPak, misalnya, telah menghasilkan puluhan foreign fighters yang berubah menjadi penyerang domestik, sementara Somalia hampir tidak menghasilkan apapun.

Memahami "penentu perbedaan produksi para pendatang" ini akan menjadi kunci untuk mengelola ancaman masa depan dari para foreign fighters di Suriah, sebuah tantangan yang tidak bisa dianggap enteng. Meskipun baru dua tahun memasuki peperangan, mungkin ada lebih dari 500 Muslim Barat yang berjuang di Suriah, lebih besar daripada setiap tujuan foreign fighters  Islam yang telah ada sebelumnya, termasuk jihad Afghanistan pada 1980-an. Sebagian besar dari orang-orang ini tidak mungkin untuk menimbulkan ancaman, namun sebagian yang lain mungkin akan menimbulkan ancaman. Karena itu, harus mulai segera dipikirkan tentang siapa mereka dan kapan bisa mengharapkan mereka.

Indikator yang paling penting untuk dilihat mungkin adalah  strategi intens yang diyatakan oleh suatu organisasi jihad di Suriah. Jika sebuah kelompok seperti Jabhah Nushrah harus memutuskan untuk secara sistematis menargetkan Barat, maka ancaman foreign fighters dari Suriah akan meningkat secara substansial, seperti halnya ancaman dari Afghanistan ketika Al-Qaeda "mengglobal" pada 1990-an . Sementara itu, ada temuan yang  memberikan kenyamanan bahwa sebagian besar jihadi memilih berjuang sebagai foreign fighters karena mereka tidak ingin menjadi teroris.[35]

 

Penutup

Fenomena berbondong-bondongnya para pejuang asing ke Suriah memang menarik perhatian. Bukan saja bagi pihak Barat, namun juga bagi kalangan internal umat Islam. Yang jelas, kedudukan jihad sebagai salah satu bentuk ibadah yang disyariatkan di dalam Islam.

Layak dipertanyakan ada motif apa di balik pengopinian bahwa keberadaan foreign fighters di Suriah bisa menimbulkan bahaya laten bagi negara asal mereka. Haruskah pembelaan terhadap warga sipil yang di Suriah dianggap sebagai suatu kejahatan? Apalagi pada saat dunia internasional lebih banyak diam dengan fenomena terzaliminya umat Islam, sementara PBB dan banyak negara sebenarnya mampu berbuat lebih untuk mencegah krisis kemanusiaan yang timbul.

Di sisi lain, sebenarnya ada sisi “positif” keberadaan foreign fighters dalam mengurangi potensi masalah antara “negara” dan “pejuang Islam”. Para “pejuang Islam” (baca: mujahidin) lebih memilih untuk melakukan operasi jihadnya di wilayah konflik Suriah yang lebih memiliki legitimasi berdasarkan hukum Islam daripada melakukan operasi di Barat—yang sering dianggap sebagai aksi terorisme. Hasil riset menemukan bahwa kebanyakan jihadi memilih berjuang sebagai foreign fighters karena mereka tidak ingin menjadi teroris. Ini perlu diapresiasi.

Berdasarkan tinjauan ajaran Islam, keberadaan foreign fighters muslim di Suriah sudah sesuai dengan “aturan main” di dalam Islam. Mereka telah memenuhi seruan para ulama yang memfatwakan agar umat Islam berjihad di Suriah untuk menolong saudaranya yang dizalimi oleh rezim Bashar Assad (baca: laporan Syamina edisi Juni 2013).

Dengan demikian, sudah seharusnya Barat tidak perlu merasa terancam. Apalagi riset juga menunjukkan hanya 1 dari 9 foreign fighters yang melakukan aksi di negara asal setelah mereka pulang. Jadi, yang selayaknya merasa terancam adalah Bashar Assad, karena keberadaan foreign fighter di Suriah adalah untuk melawannya.

Foreign fighters yang banyak berjuang di Suriah hari ini bisa dilihat sebagai freedom fighters di lihat dari tujuan jihad mereka yang hendak membebaskan umat dari penindasan rezim Bashar Assad.Sayangnya, mereka sering kali dicitrakan sebagai aktor terorisme sehingga mengaburkan makna dan perbedaan di antara keduanya. Referensi istilah standar di Barat sendiri sebenarnya telah memandang freedom fighters dalam konotasi positif. Menurut The Oxford English Dictionary menyebutkan bahwa freedom fighter sebagai ‘seseorang yang mengambil bagian dalam perjuangan revolusioner untuk mencapai tujuan politik, khususnya dalam menggulingkan pemerintahan’.[36] Selanjutnya Macmillan Dictionary mendefinisikan freedom fighter sebagai, ‘seseorang yang melakukan perlawanan atas pemerintahan yang tidak adil dan kejam dengan melakukan perlawanan bersenjata, biasanya sebagian bagian dari kelompok yang terorganisir’.[37]Kemudian Merriem Webster Dictionary menjelaskannya sebagai, ‘seseorang yang mengambil bagian dalam gerakan perlawanan atas penindasan politik atau institusi sosial tertentu’.[38]

Perbedaan persepsi mengenai “freedom fighter” di satu sisi ataupun “teroris” di sisi lain bisa dijelaskan dari sisi mana persepsi itu dilihat. Bagi masyarakat Gaza, Hamas akan dilihat sebagai “freedom fighter” yang berjuang untuk membebaskan Palestina dari penjajahan Israel, sedangkan bagi pemerintahan Israel, kelompok radikal Hamas tentu saja akan dilihat sebagai kelompok teroris. Begitu juga bagi masyarakat Basque di Spanyol, mereka akan memiliki kecendrungan untuk melihat kelompok radikal ETA sebagai “freedom fighter” yang berjuang untuk membebaskan wilayah Basque dari Spanyol, sedangkan bagi pemerintah Spanyol akan berlaku cara pandang yang sebaliknya, di mana kelompok ETA akan dilihat sebagai kelompok teroris.

Penjelasan mengenai definisi ini kemudian ditegaskan oleh Zagros Madjid-Sadjadi dan Danial Vencill dalam pernyataan berikut, “freedom fighter menggunakan cara-cara militer yang sah untuk menyerang target politik yang sah. Tindakan itu dapat dilegitimasi ketika mereka memiliki kemungkinan untuk memenangkan konflik, ini suatu kondisi yang di mana teroris sulit untuk mendapatkan legitimasi tersebut”.[39] (Rudi Azzam)



[1] Aaron Y. Zelin, European Foreign Fighters in Syiria, ICSR Insight, 2 April 2013.
[2] Eric Schmitt, Worries Mount as Syria Lures West’s Muslims, The New York Times, 27 Juli 2013, http://www.nytimes.com/2013/07/28/world/middleeast/worries-mount-as-syria-lures-wests-muslims.html?_r=0 [3] United Press International, Western Authorities worried about foreign fighters in Syiria, 28 Juli 2013, http://www.upi.com/Top_News/World-News/2013/07/28/Western-authorities-worried-about-foreign-fighters-in-Syria/UPI-66121375045114/#ixzz2l6pBRLEV, diakses pada 19 November 2013.
[4] Ahmed Salah Hashim, Land of the ‘Boutique Jihad’: The Foreign Fighters in Syria, RSIS Commentaries, no 183/2013 tanggal 3 Oktober 2013.
[5] Daniel Kolva, Foreign Fighter Interdiction: Stability Operations as Countermeasures, PKSOI, 1 April 2011, hal 1.
[6] Ibid, hal 1-2.
[7] Thomas Hegghammer, The Rise of Muslim Foreign Fighters, Internatoinal Security, Vol 35, No 3, November 2010, hal 57-58.
[8] Cordesman, Iraq’s Evolving Insurgency, hal 129
[9] Reuven Paz, Middle East Islamism in the European Arena, Middle East Review of International Affairs, Vol.6, No.3, September 2002, hal 70.
[10] Daniel Kolva, Foreign Fighter Interdiction: Stability Operations as Countermeasures, PKSOI, 1 April 2011, hal 4
[11] Clint Watt, Countering Terrorism from the Second Foreign Fighter Glut, Small Wars Journal, 2009 hal 2.
[12] Clinton Watts, Beyond Iraq and Afghanistan: What Foreign Fighter Data Reveals About the Future of Terrorism, Small Wars Journal, 2008.
[13] Michael P. Noonan, Disrupting The Foreign Fighter Flow, Foreign Policy Research Institute, Oktobr 2009 hal 73.
[14] Clint Watt, Countering Terrorism from the Second Foreign Fighter Glut, Small Wars Journal, 2009 hal 2.
[15] Tally Helfont, The Foreign Fighter Problem: Recent Trends and Case Studies, Foreign Policy Research Institute, Novemver 2010 hal 3.
[16] Barak Mendelsohn, Foreign Fighters-Recent Trends,  Foreign Policy Research Institute, 2011, hal 15.
[17] Ibid.
[18] David Malet, Why Foreign Fighters? Historical Perspectives and Solutions, Foreign Policy Research Institute, Januari 2010, hal 10.
[19] Ibid
[20] Ibid
[21] Clinton Watts, Foreign Fighters: How Are They Being Recruited? Two Imperfect Recruitment Models, Samll Wars Journal, 2008, hal 1.
[22] Dokumen ini diperoleh oleh pasukan koalisi pada Oktober 2007 dalam suatu penggerebekan di dekat Sinjar, perbatasan Irak dengan Suriah. Rekaman ini berisi koleksi lebih dari 600 rekaman personal foreign fighters yang dikumpulkan oleh Al-Qaeda di Irak.  Dokumen ini tersedia secara publik melalui The Combating Terrorism Center at West Point: www.ctc.usma.edu/harmony/FF-Bios-Trans.pdf.
[23] Tally Helfont, The Foreign Fighter Problem: Recent Trends and Case Studies, Foreign Policy Research Institute, Novemver 2010 hal 4.
[24] Aaron Y. Zelin, European Foreign Fighters in Syria, ICSR Insight, 2 April 2013
[25] Ibid
[26] Ibid
[27] Ibid
[28] Ibid
[29] Ibid
[30] Ibid
[31] Aaron Y. Zelin, European Foreign Fighters in Syiria, ICSR Insight, 2 April 2013.
[32] Thomas Hegghammer, Should I Stay or Should I Go? Explaining Variation in Western Jihadist’ Choice between Domestic and Foreign Fighting, American Political Science Review, Vol. 107, No 1, Februari 2013.
[33] Joshua Tucker, Jihadi Foreign Fighter: How Dangerous?, 31 Mei 2013.
[34] Ibid
[35] Ibid
[36] Oxford Dictionaries Online, http://oxforddictionaries.com/definition/english/freedom fighter , diakses pada 1 April 2013.
[37] Macmillan Dictionary Online, http://www.macmillandictionary.com/dictionary/british/freedom-fighter , diakses pada 1 April 2013.
[38] Merriam Webster Online, http://www.merriam-webster.com/dictionary/freedom fighter , diakses pada 1 April 2013.
[39] Mareike Oldemeinen, ‘One Person’s Terrorist, Another Person’s Freedom Fighter?’, http://www.e-ir.info/2010/01/13/one-person’ s-terrorist-another-person’ s-freedom-fighter/ , diakses pada 1 April 2013.