IRAK: AWAL KEJATUHAN JERUSALEM?

24 January 2014

 Persoalan prediksi keruntuhan negara Israel[1] bukanlah suatu perkara yang baru. baik hal itu dilontarkan oleh analis Barat atau Islam. Demikian juga dengan beragam dan berjilid-jilid buku yang ditulis mengenai hal ini.

Diantara buku tersebut adalah Zawaal Israail: Nubuuah Qur`aaniyyah am Shadafah Raqmiyyah (Keruntuhan Israel: Kabar Al-Quran atau Sekedar Angka Kebetulan) yang ditulis oleh Bassam Jarrar –Guru Besar Matematika di Universitas Al-Quds.[2]

Dengan menafsirkan beberapa ayat dalam QS. Al-Isra’ –terkhusus ayat 2 sampai 104- yang dikorelasikan dengan realita sejarah, Bassam berpendapat bahwa janji Allah untuk menghancurkan Bani Israel untuk kedua kalinya terealisasi dengan berdirinya negara Israel pada tahun 1948.[3] Dan berdasarkan nash Al-Quran yang berisi tentang kisah Bani Israel pada surat Al-Isra’, yaitu dari ayat 2 hingga 104, jika dihitung jumlah total hurufnya maka akan ditemukan 1443 huruf. Dan jika angka 1443 diasumsikan sebagai tahun qamariyah maka tahun masehinya adalah tahun 2022.[4]

Menurut Bassam, inilah tahun kehancuran negara Israel, meski dia sendiri mengakui bahwa angka tersebut bukan ‘Kabar dari Al-Quran’ dan tidak mengklaim bahwa hal itu pasti terjadi pada tahun tersebut.[5]

Prediksi hampir sama juga dilontarkan oleh Henry Kissinger – seorang Pengamat dan Arsitek Kebijakan Politik Luar Negeri AS selama beberapa dekade dan Mantan Menteri Luar Negeri AS- sebagaimana yang dilaporkan oleh  Cindy Adams pada kolomnya di New York Post pada 17 September 2012, yaitu jika isolasi yang akhir-akhir ini terjadi pada entitas Israel terus berlangsung maka entitas Zionis akan lenyap dalam 10 tahun ke depan. Cindy Adams menerima laporan bahwa Kissenger mengatakan, “Dalam 10 tahun ke depan, Israel tidak akan ada lagi.” Bahkan hal itu diulanginya dua kali.[6]

Memang sebagian kalangan menyangsikan prediksi Kissinger tersebut, apalagi statemen itu tidak didukung argumentansi yang kuat.[7] Namun Cindy Adams tetap yakin dengan kredibelitas Kissinger, bahkan dia mengatakan, “Jangan membantah terhadap kecakapan Mr. Kissinger. Dia telah tahu bagaimana (hal itu akan terjadi).”[8]

Tanpa bemaksud membenarkan prediksi Bassam dan Kissinger di atas, terdapat laporan analisis dari beberapa badan intilijen AS yang sedikit menjelaskan alasan keruntuhan negara Israel, yaitu adanya kemungkinan boikot terhadap Israel, terkhusus oleh Amerika. Laporan tersebut berjudul ‘Preparing for a Post-Israel Middle East’ (Penyiapan Untuk Berakhirnya Israel Timur Tengah).

Laporan itu ditugaskan oleh Komunitas Intelijen AS (US Intelligence Community, IC) yang terdiri dari 16 badan intelijen Amerika dengan anggaran tahunan lebih dari $ 70 miliar. Komunitas Intelijen ini meliputi Departement of Navy, Army, Air Force, Marine Corps, Coast Guard, Defense Intelligence Agency, Departments of Energy, Homeland Security, State, Treasury, Drug Enforcement Agency, Federal Bureau of Investigation, National Security Agency, National Geospatial Intelligence Agency, National Reconnaissance Agency and the Central Intelligence Agency yang menugaskan penelitian itu.[9]

Beberapa contoh temuan  dari laporan tersebut meliputi:

  • Israel, mengingat pendudukan brutalnya saat ini dan agresi yang tidak dapat diselamatkan melebihi apartheid Afrika Selatan dapat terjadi seperti pada akhir 1987, Israel adalah satu-satunya bangsa «Barat» yang menjaga hubungan diplomatik dengan Afrika Selatan dan merupakan negara terakhir yang bergabung dengan kampanye boikot internasional sebelum rezim itu runtuh;
  • Kepemimpinan Israel, dengan dukungannya yang semakin meningkat terhadap 700.000 pemukim ilegal di Tepi Barat yang diduduki, sedang meningkatkann sentuhan dengan realitas politik, militer dan ekonomi di Timur Tengah;
  • Koalisi pemerintahan Likud dengan partai Buruh sangat terlibat dengan, dan dipengaruhi oleh kekuatan politik dan finansial para pemukim dan akan semakin menghadapi perselisihan sipil dalam negeri yang mana pemerintah AS seharusnya tidak mengasosiasikan diri dengannya atau terlibat dengannya;
  • Arab Springs dan Kebangkitan Islam, untuk tingkat yang besar, telah membebaskan mayoritas dari 1,2 miliar Muslim dan Arab untuk mengikuti apa yang mayoritas yakini bahwa pendudukan Eropa terhadap Palestina dan penduduk asli adalah tidak sah, tak bermoral dan tak boleh dilanjutkan;
  • Simultan dengan, tapi mendahului, berkembang pesatnya kekuatan Arab dan Muslim di wilayah ini yang dibuktikan dengan Arab Springs, Kebangkitan Islam dan pengaruh dari Iran, dengan surutnya kekuatan dan pengaruh Amerika, komitmen AS terhadap Israel sebagai negara yang suka berperang dan menindas, menjadi mustahil untuk mempertahankan atau menjalankannya secara konsisten mengingat adanya kepentingan nasional AS terpenting yang meliputi normalisasi hubungan dengan 57 negara-negara Islam;
  • Interferensi kotor Israel dalam urusan internal Amerika Serikat melalui spionase dan transfer senjata AS ilegal. Hal ini termasuk dukungan lebih dari 60 organisasi depan dan sekitar 7.500 pejabat AS yang melakukan penawaran Israel dan berusaha untuk mendominasi dan mengintimidasi media dan badan-badan pemerintah AS yang seharusnya tidak boleh dimaafkan lagi;
  • Bahwa pemerintah Amerika Serikat tidak lagi memiliki sumber daya keuangan, atau dukungan publik untuk melanjutkan pendanaan Israel. Lebih dari tiga triliun dolar dalam bentuk bantuan langsung dan tidak langsung dari pembayar pajak AS ke Israel sejak tahun 1967 tidak dapat dikembalikan dan semakin banyak keberatan oleh pembayar pajak AS yang menentang melanjutkan keterlibatan militer Amerika di Timur Tengah. Opini publik AS tidak lagi mendukung pendanaan dan pelaksanaannya secara luas dianggap perang ilegal AS atas nama Israel. Pandangan ini semakin banyak dimiliki oleh masyarakat Eropa, Asia dan internasional;
  • Infrastruktur pendudukan pemisahan oleh Israel yang dibuktikan dengan diskriminasi yang disahkan dan sistem peradilan yang semakin terpisah dan tidak merata seharusnya tidak lagi didanai secara langsung atau tidak langsung oleh pembayar pajak AS atau diabaikan oleh pemerintah AS;
  • Israel telah gagal sebagai negara yang diklaim demokratis dan berlanjutnya dukungan keuangan dan politik Amerika tidak akan mengubah peralihan yang berkelanjutan sebagai negara paria internasional;
  • Semakin, merajalelanya kekerasan rasisme yang dipamerkan oleh pemukim Yahudi di Tepi Barat dibiarkan oleh pemerintah Israel sampai pada tingkat bahwa pemerintah Israel telah menjadi pelindung dan mitranya;
  • Meluasnya jurang antara orang-orang Yahudi Amerika yang keberatan dengan Zionisme dan praktek-praktek Israel, termasuk pembunuhan dan kebrutalan terhadap rakyat Palestina di bawah pendudukan Israel, adalah pelanggaran berat hukum Amerika dan internasional dan menimbulkan pertanyaan dalam komunitas Yahudi AS tentang tanggung jawab Amerika untuk melindungi warga sipil tak bersalah di bawah pendudukan;
  • Oposisi internasional terhadap rezim apartheid yang semakin meningkat tidak bisa lagi disinkronkan dengan nilai-nilai kemanusiaan yang diklaim rakyat Amerika atau harapan AS dalam hubungan bilateral dengan 193 anggota PBB.[10]

Laporan sebanyak 82 halaman tersebut menyimpulkan bahwa kepentingan nasional Amerika pada dasarnya berseberangan dengan Zionis Israel. Para penulisnya menyimpulkan bahwa Israel saat ini merupakan ancaman terbesar bagi kepentingan nasional AS karena sifat dan tindakannya mencegah hubungan normal AS dengan negara-negara Arab dan Muslim dan, pada tingkat yang berkembang, masyarakat internasional yang lebih luas.[11]

Dalam ranah akademik, boikot serupa juga telah diambil oleh sebuah asosiasi cendikiawan AS, ASA (American Studies Association) dengan melalui voting para anggotanya. Dalam voting yang terdiri dari 1252 pemilih tersebut, angka terbesar peserta dalam sejarah organisasi itu,  66,05% pemilih mendukung resolusi boikot, sedangkan 30,5% pemilih memilih tidak, dan 3,43% abstain. [12]

Resolusi boikot itu adalah sebagai solidaritas terhadap cendekiawan dan mahasiswa yang dirampas kebebasan akademik mereka dan bercita-cita untuk memperluas kebebasan itu untuk semua, termasuk rakyat Palestina. Dukungan ASA terhadap boikot akademik tersebut muncul dari konteks: adanya bantuan militer dan dukungan AS lainnya untuk Israel; pelanggaran Israel terhadap hukum internasional dan resolusi PBB; dampak terdokumentasi dari pendudukan Israel pada cendekiawan dan mahasiswa Palestina; sejauh mana institusi-institusi pendidikan tinggi Israel merupakan bagian dari kebijakan negara yang melanggar hak asasi manusia; dan akhirnya, dukungan resolusi tersebut oleh mayoritas anggota ASA.[13]

 Abu Al-Khaththab Al-Maqdisi: Keruntuhan Israel Berawal dari Irak

Prediksi keruntuhan Israel juga dikemukakan oleh salah seorang jihadi, Abu Al-Khaththab Al-Maqdisi dalam sebuah monografnya.[14] Meski sama-sama memprediksikan keruntuhan Israel, namun Abu Al-Khaththab tidak sampai pada tahap perkiraan tahun keruntuhan Israel. Satu hal yang diyakini oleh Abu Al-Khaththab, cepat atau lambat Israel pasti akan runtuh. Justru yang menarik bahwa, menurut analisisnya, Israel tidak diruntuhkan dari Palestina, namun dari pusat pimpinan yang berada di Irak, yaitu Daulah Islam Irak (yang sekarang berubah menjadi ISIS-edt). Kesimpulan Abu Al-Khaththab ini dipahami dari isyarat Al-Qur’an, pengalaman historis, dan realita Palestina hari ini.

 Isyarat Al-Qur’an

Al-Quran, menurut Abu Al-Khaththab, telah mengisyaratkan mengenai keruntuhan Israel, bahkan hal itu merupakan suatu janji Allah untuk orang-orang beriman. Ada dua isyarat yang berhasil ditemukan oleh Abu Al-Khaththab: pertama mengenai penegasian bahwa keruntuhan Israel berawal dari Palestina ( yaitu dengan merujuk pada teks Al-Quran - QS. Al-Maidah: 23 dan QS. Al-A’raf: 175-176); dan kedua affirmasi bahwa Keruntuhan Israel berawal dari Irak (yaitu dengan merujuk pada QS. Al-Isra’: 4-8)

Pertama mengenai penegasian bahwa keruntuhan Israel berawal dari Palestina. Allah berfirman, “Berkatalah dua orang laki-laki diantara mereka yang bertakwa, yang telah diberi nikmat oleh Allah, Serbulah mereka melalui pintu gerbang (negeri) itu. Jika kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan bertawakallah kamu hanya kepada Allah, jika kamu benar-benar orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)

Ayat di atas berkisah mengenai nasehat dua orang dari Bani Israel yang memiliki kewibawaan dan kedudukan diantara mereka, yaitu Yusya’ bin Nun dan Kalib bin Yofina, untuk tetap memasuki (membebaskan) Ardh Al-Muqaddasah (Negeri yang Disucikan)[15] dari pintu gerbangnya setelah mereka menolak perintah Nabi Musa untuk memasuki (membebaskan)nya dengan alasan bahwa di negeri tersebut terdapat orang-orang yang gagah perkasa. Meski akhirnya nasehat tersebut tidak membuahkan hasil, lantaran mereka tetap bergeming, bahkan menyuruh Nabi Musa berjihad sendirian dengan bantuan Rabb-nya untuk membebaskannya.[16]

Sementara firman Allah, “Dan bacakanlah (Muhammad) kepada mereka, berita orang-orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda), maka jadilah dia termasuk orang yang sesat. Dan sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajatnya) dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, maka jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga).Demikianlah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu agar mereka berfikir.” (QS. Al-A’raf: 175-176)

Dua ayat tersebut bercerita mengenai seseorang yang telah Allah berikan kepada mereka pengetahuan tentang Kitab-Nya, namun dia malah lebih condong pada dunia dan lebih menuruti hawa nafsunya. Orang seperti ini ibarat seekor anjing, jika dihalau maka ia akan menjulurkan lidahnya; dan jika dibiarkan maka ia pun tetap menjulurkan lidahnya.

Menurut sebagian mufassir, orang yang dimaksud dalam ayat ini adalah Bal’am, salah seorang ulama Bani Kan’an yang terkenal dengan kemustajaban doanya. Ketika Nabi Musa bersama tentara Bani Israel tiba di perkampungan Bani Kan’an maka berduyun-duyunlah mereka mendatangi Bal’am memintanya untuk mendoakan kehancuran Nabi Musa bersama pasukannya.

Pada awalnya Bal’am menolak permintaan mereka, namun karena kaumnya terus memelas kepadanya maka akhirnya Bal’am pun memenuhi permintaan mereka. Bal’am lantas memilih puncak Bukit Husban untuk melakukan doanya. Ketika telah tiba di puncak bukit tersebut dan bisa melihat pasukan Nabi Musa dan Bani Israel maka Bal’am pun mulai mendoakan kehancuran pasukan Nabi Musa dan Bani Israel.

Namun setiap kali Bal’am mendoakan kehancuran pasukan Nabi Musa dan Bani Israel maka Allah pelesetkan lidahnya sehingga dia malah mendoakan kehancuran untuk kaumnya. Demikian sebaliknya, setiap kali Bal’am mendoakan kemenangan untuk kaumnya, Allah pelesetkan lidahnya sehingga dia malah mendoakan kemenangan untuk pasukan Nabi Musa dan Bani Israel. Tidak lama kemudian, menjulurlah lidahnya hingga sampai ke dadanya.

Merasa gagal dengan doanya, Bal’am beralih pada makar dan tipu daya untuk menghancurkan pasukan Bani Israel. Untuk tujuan itu, Bal’am memerintahkan Bani Kan’an untuk me-make up para wanita mereka dan memberi mereka barang dagangan untuk berjualan di kamp pasukan Bani Israel.

Selain itu, Bal’am juga menginstruksikan mereka memerintahkan pada wanita tersebut untuk tidak menampik ajakan salah satu pasukan tersebut yang ingin berzina dengan salah seorang dengan mereka, dengan iming-iming bahwa jika salah seorang mereka terbuai melakukan zina maka itu sudah cukup sebagai modal mengalahkan pasukan Bani Israel. Salah seorang wanita mereka yang bernama Kastbi berhasil memikat salah seorang pemuka Bani Israel, Zamri bin Salom. Dia lantas menarik tangan wanita tadi dan membawanya menghadap Nabi Musa seraya berkata, “Saya yakin bahwa Anda akan mengatakan bahwa (wanita) ini adalah haram bagimu dan janganlah mendekatinya.” Nabi Musa menjawab, “Betul. Dia haram bagimu.”

Kemudian Zamri berkata, “Demi Allah! Saya tidak akan mentaatimu dalam urusan ini.” Lantas dia pun membawa wanita tadi ke kemahnya dan melakukan perzinaan. Seketika Allah menurunkan bencana tha’un kepada pasukan Bani Israel. Wabah tha’un ini baru terangkat dari pasukan Bani Israel setelah salah seorang dari mereka, Fanhash bin Al-‘Aizar bin Harun membunuh Zamri dan pasangan zinanya kemudian mengeluarkan mayat keduanya dan mengangkatnya ke arah langit seraya berkata, “Ya Allah! Inilah yang kami lakukan kepada orang yang mendurhakai-Mu.” Pada kasus thaun ini, jumlah pasukan Bani Israel yang meninggal berjumlah 70 ribu orang, dan dalam pendapat lain 20 ribu orang.[17]

Dari dua ayat di atas, tampaknya Abu Al-Khaththab Al-Maqdisi ingin menegaskan bahwa Ardh Al-Muqaddasah dan negeri Kan’an yang berada di Syam –termasuk letak Palestina- bukan dibebaskan oleh penduduknya sendiri, melain melalui pasukan dari luar, yang dalam konteks dua ayat tersebut dari pasukan Bani Israel yang berasal dari luar wilayah tersebut.

 Adapun yang kedua mengenai affirmasi bahwa Keruntuhan Israel berawal dari Irak. Abu Al-Khaththab berargumentasi dengan beberapa ayat Al-Quran, yaitu, “Dan Kami tetapkan terhadap Bani Israel dalam Kitab itu, Kamu pasti akan berbuat kerusakan di bumi ini dua kali, dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar’. Maka apabila saat hukuman bagi (kejahatan) yang pertama dari dua (kejahatan) itu datang, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang perkasa, lalu mereka merajalela di kampung-kampung. Dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka (kerugian kejahatan) itu untuk dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami bangkitkan musuhmu) untuk menyuramkan wajahmu lalu mereka masuk ke dalam masjid (Majidil Aqsa), sebagaimana ketika mereka memasukinya pertama kali dan mereka membinasakan apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Robb kamu melimpahkan rahmat kepadamu; tetapi jika kamu kembali (melakukan kejahatan), niscaya Kami kembali (mengazabmu). Dan Kami jadikan neraka Jahannam penjara bagi orang kafir.” (QS. Al-Isra’: 4-8).

Ayat-ayat tersebut bercerita mengenai ketetapan Allah bahwa Bani Israel akan melakukan kerusakan di muka bumi ini sebanyak dua kali dan bersikap angkuh yang melampaui batas. Pada saat itulah, Allah kemudian mengutus beberapa hamba-Nya yang memiliki kekuatan yang besar lalu menguasai dan menghancurkan mereka.

Kemudian Allah memberikan kemenangan kembali kepada Bani Israel. Namun ketika Bani Israel kembali melakukan kejahatan dan kezaliman maka Allah kembali mengutus suatu kaum yang kembali menguasai dan menghancurkan mereka sebagaimana saat pertama kalinya.

Mufassirin saling berbeda pendapat mengenai kaum yang berhasil menguasai dan menghancurkan mereka. Menurut Ibnu Abbas dan Qatadah, yang menguasai dan menghancurkan mereka pertama kalinya adalah kaum yang dipimpin oleh Jalut Al-Jazari. Kemudian Bani Israel terlepas dari bencana ini setelah Jalut berhasil dibunuh oleh Nabi Daud. Sementara menurut Sa’id bin Jubair, mereka adalah Raja Mosul, Sanharib, dan bala tentaranya. Sedangkan pendapat lainya, yaitu Nebukadnezar, Raja Babilonia.

Dari beberapa ayat dari QS. Al-Isra’ tersebut, Abu Al-Khathtab berhasil menemukan beberapa kesimpulan. Diantaranya:

  1. Orang yang menguasai dan menghancurkan Bani Israel tidak disyaratkan harus dari golongan orang-orang yang beriman (muwahhidin).
  2. Keruntuhan Negara Yahudi untuk pertama dan kedua kalinya dihancurkan oleh bangsa yang berasal dari Irak, yaitu Bangsa Asiria dan Bangsa Babilonia.
  3. Jika mereka kembali melakukan kerusakan di negeri yang diberkahi tersebut maka Allah akan kembali meruntuhkan mereka dengan perantaran bangsa yang berasal dari Irak, sebagaimana pada keruntuhan pertama dan kedua mereka.
  4. Pembebasan Palestina pada masa Sahabat dimulai dengan membebaskan Irak. Dari Irak inilah kemudian para Sahabat kemudian berhasil menaklukkan Syam.
  5. Jihad melawan ekspansi Salibis pada era Perang Salib juga berasal dari Irak yang dipimpin oleh Sultan Imaduddin Zanki. Dia berhasil menyatukan negeri-negeri kecil yang ada di Syam dan berhasil membebaskan Roha. Tidak lama berselang, dia berhasil dibunuh oleh salah seorang Syi’ah Rafidhah. Dia kemudian digantikan oleh putranya, Nuruddin Mahmud yang berhasil menyatukan total negeri-negeri yang ada di Syam, selain juga sukses meruntuhkan negara Syi’ah Rafidhah di Mesir yang dahulunya menjadi penyebab terlepasnya negeri-negeri yang ada di Syam dari tangan umat Islam.
  6. Keruntuhan negara Syi’ah Rafidhah di Mesir tersebut dikomandoi oleh muridnya, Shalahuddin Yusuf Al-Kurdi Al-‘Iraqi. Tidak berhenti di sini, Shalahuddin kemudian berhasil menyatukan Hijaz sehingga kembalilah Irak, Syam, Mesir dan Hijaz di bawah naungan Daulah Islam yang satu. Setelah itulah, Shalahuddin kemudian berhasil membebaskan Baitul Maqdis, sebagaimana yang dicatat oleh para sejarawan.
  7. Dalam catatan historis, keruntuhan negera Israel pada pertama dan kedua kalinya berasal dari bangsa yang eksis di Irak. Pun demikian, pembebasan Baitul Maqdis oleh umat Islam sebanyak tiga kali juga berawal dari Irak. Pertama, yang dipimpin oleh Yusya’ bin Nun yang berhasil mengalahkan bangsa bertubuh raksasa. Kedua, yang dipimpin oleh Khalid bin Al-Walid dan ‘Amru bin Al-‘Ash yang berhasil menaklukkan bangsa Romawi. Dan ketiga, di bawah pimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi yang berhasil mengusir tentara Salibis. Sunnatullah tidak akan berubah dan sejarah akan terulang dengan sendirinya.[18]

 Pengalaman Historis

Menurut Abu Al-Khaththab dengan berpijak catatan historis, tidak pernah sekalipun Palestina dibebaskan sendiri oleh penduduknya. Bahkan ketika tentara Yahudi memasuki Palestina, penduduknya tidak mampu untuk mempertahankannya dan mengusir bangsa Yahudi setelah mereka berhasil menjajah selama beberapa dekade.

Diantara beberapa catatan historis mengenai bukti bahwa sepanjang masa Palestina hanya dibebaskan melalui Irak, yaitu:

  • Penghancuran Negara Israel Utara melalui orang-orang Asiria dibawah pimpinan Salmaneser V pada tahun 722 SM.
  • Penghancuran Negara Yahudza Selatan melalui orang-orang Babilonia yang dipimpin oleh Nebukadnezar II pada tahun 586 SM.
  • Penaklukan Palestina pada masa Sahabat di mulai dengan menaklukkan Irak kemudian merambah ke Syam yang termasuk di dalamnya Palestina.
  • Saat Shalahuddin Al-Ayyubi menaklukkan Syam dan Palestina, pusat Daulah Az-Zankiyah berada di Irak. Dari sanalah keluar instruksi kepada Shalahuddin Al-Ayyubi untuk membebaskan Palestina.[19]

Dari penjelasan keterangan tersebut di atas –menurut Abu Al-Khaththab- maka jelaslah beberapa hal berikut:

  1. Zaman dahulu, Negara Yahudi pernah tegak berdiri sebanyak dua kali, sementara yang menguasai dan menghancurkan mereka adalah bangsa yang berasal dari Irak.
  2. Pembebasan Palestina pada masa Sahabat dimulai dengan membebaskan Irak. Dari Irak inilah para Sahabat kemudian berhasil menaklukkan Syam.
  3. Saat pembebasan Baitul Maqdis dari tangan tentara Romawi pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi, pusat kepemimpinan dan komando berasal dari Irak.
  4. Kemudian berdirilah Negara Yahudi untuk ketiga kalinya, dan sejarah –sebagaimana kita ketahui- akan terulang kembali bahwa Palestina tidak akan dibebaskan kecuali dengan berkumpulnya kekuatan umat Islam di bawah kepemimpinan dan komando dari Irak, sebagaimana peristiwa-peristiwa sejarah yang disebutkan sebelumnya.[20]

 

Realita Internal Palestina

  1. Penegasian Pembebasan Palestina berasal dari dalam Palestina[21]

-Hilangnya Legitimasi Rilijius terhadap Kepemimpinan Palestina; baik dari kalangan Liberalis (Fatah) maupun Ikhwanul Muslimin

  1. Liberalis
  • Cacat akidah yang terwujud dengan mengadopsi akidah (paham-paham) liberal sebagai dasar pergerakan. Sebagaimana perkataan Shalah Khalaf dalam bukunya Filishtiini bilaa Hawiyyah, “Barang siapa yang ingin berperang di barisan Fatah maka hendaknya dia melepaskan keyakinanannya di pintu (masuk)nya.”
  • Penyelewengan manhaj yang terwujud dengan slogan mereka ‘Kesatuan Nasional, Dewan Kebangsaan’. Artinya, Palestina merupakan problematika bangsa Arab dan tidak berkaitan dengan akidah (keyakinan). Sedangkan maksud dari ‘nasional’ adalah problematika mereka yang kedua orang tuanya merupakan penduduk Palestina.
  • Kebobrokan organisasi yang terwujud dengan:
    • Menjadikan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) sebagai satu-satunya dewan legislatif bagi Palestina. Padahal PLO didirikan oleh Gamal Abdul Naser sebagai pengganti dari pemerintahan umum bangsa Palestina  yang dipimpin oleh Syaikh Amin Al-Husaini dengan menetapkan Gaza sebagai pusatnya.
    • Dibangun di atas dasar ‘Senapan orang lain adalah sentuhan yang mampu memutus jalan’ sehingga dengan itu PLO melepaskan seluruh senjata mereka.
    • Berbagai kegagalan berulang-ulang gerakan Liberalis yang dimulai pada Sepetember 1970 di Yordania, diikuti di Selatan Libanon pada 1982 –dengan berkuasanya Syiah Rafidhah-, dan berakhir di Oslo dengan adanya MoU antara PLO dan Israel sebagai negara yang memiliki batasan negara sebagaimana pada tahun 68-an.
  1. Ikhwanul Muslimin
  • Cacat akidah yang terwujud dengan mengadopsi pragmatisme pergerakan dalam bentuk:
    • Dengan Ahli Kitab, yaitu dengan mengadakan dialog antar agama (Hiwaar Al-Adyaan); tidak menganggap bahwa itu merupakan konflik akidah. Mereka sendiri telah mengumumkan bahwa perseteruan mereka dengan Yahudi hanya sekedar perseteruan mengenai tanah dan perbatasan-perbatasan; bukan perseteruan akidah dan eksistensi.
    • Dengan Ahli Bid’ah, yaitu dengan mengadakan pendekatan antara Sunni dan Syiah. Berdasarkan anggapan bahwa perbedaan antara Sunni dan Syiah hanya sekedar perbedaan fikih; bukan perbedaan akidah.
    • Dengan Liberalis, yaitu dengan mengakui bahwa pemilu dan demokrasi sebagai pengganti jihad, sehingga berubahlah slogan mereka dari Al-Jihaad Sabiiluna (Jihad adalah jalan kami) menjadi Al-Islaam Huwa Al-Hall (Islam adalah solusi satu-satunya).
  • Cacat manhaj yaitu dengan mengadopsi sikap pragmatisme atau Al-Nifaaq Al-Manhaji (Kemunafikan dalam berhanhaj). Ini tampak jelas dalam interaksi mereka dengan tiga pusat poros konflik yang didukung oleh Yahudi, yaitu Ahli Kitab, Ahli Bid’ah dan Liberalis, sebagaimana yang disebutkan sebelumnya.
  • Kebobrokan organisasi, yaitu dengan beralih dari: jihad, melakukan perlawanan, menolak eksistensi Yahudi, penggalian dana pribadi, mengafirkan Syiah, dan mencela pergerakan jihad disebabkan hubungan mereka dengan Iran dan Syiah; kepada demokrasi, kotak-kotak pemilu, dan menjadi pembela Iran.

Letak Geografi yang tidak Strategis

Hal ini dapat dibuktikan dengan sempitnya garis pantai untuk Gaza yang hanya 45 km panjangnya dan lebar 4 hingga 15 km. Selain itu juga disebabkan keberhasilan Israel menguasai kota Dhifah melalui pangkalan-pangkalan militer mereka dan juga menguasai perkampungan-perkampungan yang berada di puncak perbukitan dan poros-poros utama yang disebabkan kekosongan tempat antara perbukitan tersebut.

Sebagaimana dimaklumi secara militer bahwa merupakan suatu keharusan akan adanya pusat komando aman yang berada di perbukitan atau kota-kota yang kokoh ketika perlawanan berada pada titik terlemahnya, yaitu dengan melakukan perang gerilya. Hal ini tidak mungkin terwujud baik di Dhifah ataupun di Gaza, ditambah dengan ketidakmampuan ekonomi. Untuk itu, Gaza tidak tepat untuk dijadikan pusat komando perlawanan disebabkan tidak adanya kemampuan ekonomi dan militer, serta tidak adanya benteng-benteng untuk perang yang kokoh.

 Faktor Internal Penduduk Palestina

Sementara ditinjau dari internal penduduk Palestina, terkhusus Gaza, mereka terkenal sepanjang sejarah sebagai orang yang plin-plan (pragmatis) dan munafik. Dalam buku ‘Ittihaaf Al-A’izzah fi Taariikh Ghazzah’ disebutkan bahwa tatkala Iskandar Al-Maqdumi mengepung Gaza selama empat bulan dan mendapat perlawanan sengit dari mereka, maka ketika dia berhasil menaklukkannya, banyak diantara penduduk Gaza yang bergabung dengan pasukannya sebagai tentara. Selain itu, lembaga bantuan internasional juga memiliki peran penting dalam merubah penduduk Gaza sebagai orang-orang yang berpangku tangan dan pemalas yang hanya menyandarkan pada bantuan-bantuan, meski mereka tidak berhak mendapatkannya. Pun demikian dengan organisasi-organisasi liberal dan Ikhwanul Muslimin yang berusaha mendapatkan loyalitas-loyalitas pribadi melalui kartu-kartu kupon (money politic). Hal ini tampak dengan banyaknya peserta yang mengikuti long march bersama Hamas yang juga ikut terlibat dalam long march yang diadakan Fatah.

B.  Affirmasi Pembebasan Palestina Berawal dari Irak[22]

-Legitimasi Rilijius terhadap Pimpinan Daulah Islam Irak (ISIS sekarang) yang didirikan sebagai pengganti Al-Qaidah Irak yang diprakarsai oleh Syaikh Abu Mush’ab Az-Zarqawi yang pernah berkata, “Kami memang berperang di Irak namun mata kami tertuju ke Baitul Maqdis yang tidak akan mungkin diperoleh kembali kecuali dengan menjadikan Al-Quran sebagai petunjuk dan pedang sebagai pembelanya.” Affirmasi rilijius ini disebabkan beberapa faktor, diantaranya:

  • Keteguhan akidah yang terealisasi dalam bentuk konsistensi pimpinan umum mujahidin yang ada di Afghanistan –Al-Qaidah dan Taliban- serta para pimpinan wilayah seperti yang berada di Irak, Chechnya, Somalia dan tempat lainnya terhadap akidah Sunni dengan menjadikan Al-Quran dan Sunnah sebagai rujukan utama yang dipahami sesuai dengan pemahaman generasi salaf.
  • Keteguhan manhaj yang terealisasi dengan mengadopsi jihad sebagai strategi pilihan bagi umat Islam. Mujahidin adalah para kesatria yang dimiliki umat, benteng bertahanan mereka, serta detonator revolusi mereka. Perang mereka merupakan perang bagi umat, bukan sekedar perseteruan orang-orang pilihan.
  • Kesolidan organisasi yang terealisasi dengan detailnya persiapan, kemantapan dalam memilih jalan jihad dan fase-fasenya. Dimulai dengan manaj perang gerilya sebagai sebuah gerakan perlawanan, lalu diikuti dengan meraih kekuasaan sebagai suatu pemerintahan (daulah sementara yang berhukum dengan syariat Islam, lalu menegakkan khilafah). Selain juga dalam bentuk konsistensi untuk mempertahankan prinsip syariah dan tidak sedikitpun berpaling darinya meski hal itu menyebabkan runtuhnya daulah, sebagaimana yang terjadi pada daulah Taliban di Afghanistan saat menolak untuk menyerahkan Syaikh Usamah bin Laden.

 Strategis Wilayah Georgafi

Wilayah Irak diuntungkan dengan geografis yang luas ditambah dengan adanya beberapa tempat strategis. Luasnya –berdasarkan pembagian Sykes-Picot- sekitar 500.000 km persegi, yang berbatasan dengan Persia (Iran) disebelah timur, Najed (Saudi Arabia) di sebelah selatan, Syam (Suriah, Libanon, dan Yordania) di sebelah timur, dan Anadol (Turki) di sebelah utara. Selain keuntungan geografis, Irak juga diuntungkan dengan kekayaan alam –terutama minyak- dan pertanian –terutama kurma.

 

Faktor Internal Penduduk Irak

Penduduk Irak mencapai 30 juta jiwa, yang 10 juta diantaranya Syiah. Di sekitar Irak dikelilingi sekitar 100 juta Sunni yang berada di negera-negara Timur Tengah. Jumlah yang demikian besar ini berpotensi sebagai pasukan bantuan terhadap kepemimpinan yang ada di Irak dalam perang suci nan panjang mereka menghadapi bangsa Romawi dan Yahudi.

 

Abdullah bin Muhammad: Keruntuhan Negara Adidaya = Keruntuhan Israel

Selain Abu Al-Khaththab Al-Maqddisi, tokoh jihadi yang juga menulis analisanya mengenai keruntuhan Israel adalah Abdullah bin Muhammad yang dituangkan dalam akun twitternya dengan judul Istiraatijiyyah Al-Qaa’idah li Tahriir Filishtiin (Strategi Al-Qaidah Membebaskan Palestina).[23] Jika Abu Al-Khaththab hanya sekedar memberikan gambaran umum mengenai keruntuhan negara Israel lantaran monograf tersebut ditulis pada tahun 2011, maka analisa Abdullah bin Muhammd lebih masuk kepada masalah teknis. Ini mengingat bahwa analisanya ditulis setelah revolusi Suriah meledak lebih dari dua tahun, plus gejolak yang terjadi di Semenanjung Sinai. Berikut terjemahan analisa tersebut dengan gaya khas twitter:

  1. Gerakan Jihad telah melewati berbagai fase dan ekprimen yang pada akhirnya mengkristal pada proyek Al-Qaeda yang digulirkan oleh Usamah bin Laden pada pertengahan 90-an.
  2. Saat khilafah runtuh pada tahun 1923 dan  Sykes dan Picot memetak-metakkan negara-negara (Islam), sehingga dari sana, terdapat batas-batas negara yang menghalangi umat Islam untuk saling menolong.
  3. Untuk itu, dimulailah fase jihad dalam frame ‘afawi (spontanitas; tanpa terencana dan terorgansir) yang terjadi di dalam negeri-negeri itu (masing-masing). Ini dikenal dengan fase Jihad Kebangsaan (al-Jihad al-Qathri) pada tahun 70-an dan setelahnya, seperti yang terjadi di Suriah, Aljazair dan Mesir.
  4. Tatkala dimulai Perang Rusia di Afghanistan, dan Barat merestui untuk men-support jihad regional (Al-Jihad al-Iqlimi), maka dari sini, mulailah jama’ah-jama’ah jihad saling mengenal sesama mereka.
  5. Disebabkan pengaruh positif eksperimen jihad regional pada jihad Afghanistan, eksperimen itu sukses diulangi oleh jama’ah-jama’ah jihad dalam perang Bosnia dan Chechnya.
  6. Setelah melewati dua fase ini, dilontarkan beberapa pemikiran-pemikiran strategis (yang diantaranya) seperti pemikiran Prof. Mushtafa Rifa’i, bahwa problem (sesungguhnya) itu ada pada resim-rezim internasional (an-Nizhaam ad-Dauli) yang terus menghalangi runtuhnya (pemetak-metakan) negera-negara (Islam) yang dilakukan Sykes-Picot.
  7. Seluruh pemerintah-pemerintahan Islam yang berhasil didirikan setelah melalui jihad yang penuh pengorbanan, telah berhasil diaborsi melalui tangan rezim-rezim internasional. Ini semakin menguatkan mengenai urgensi/arti penting melemahkan rezim-rezim tersebut di atas segala-galanya.
  8. Rezim-rezim internasional itulah yang mengaborsi eksperimen pemerintahan Islam, seperti yang terjadi pada pemerintahan Chechnya pada 1996, Imarah Taliban pada 2001, dan pemerintahan Mahakim Islamiyah di Somalia tahun 2005.
  9. Pada akhir-akhir 90-an Syaikh Usamah bin Laden mengusulkan/menggulirkan proyek melemahkan rezim-rezim internasional dengan cara menyerang pusatnya yang terpresentasi di Amerika dan menariknya dalam perang instinzaaf (yang menguras kuangan mereka habis-habisan) yang panjang sebagaimana yang terjadi pada Rusia di Afghanistan.
  10. Keuntungan pertama dari strategi ini terefleksikan dengan berubahnya pandangan dunia Islam terhadap Amerika, setelah peperangan berhasil menyingkap kepalsuan alasan-alasan utama perang mereka, sebagaimana yang tampak pada aksi kebengisan mereka di penjara Abu Ghuraib dan Guantanamo.
  11. Buah pertama strategi ini terwujud dengan ditariknya duta-duta AS di dunia setelah goyahnya wibawa dan lemahnya ekonomi AS akibat perang yang terus berlanjut sehingga menyebabkan berakhirnya era Satu Poros (kekuatan satu-satunya).
  12. Kalaulah bukan lantaran kelemahan yang menggerogoti AS setelah perang Afghanistan dan Irak niscaya Rusia tidak akan mampu kembali berperan dalam dunia internasional sehingga mengulangi perhitungan-perhitungan (kekuatan) pada perang dingin.
  13. Lemahnya AS dalam satu sisi, dan meletusnya revolusi-revolusi Arab dari sisi lain, akan menyebabkan kemerosatan skala keamanan yang dapat menimbulkan bahaya pada tapal batas Sykes-Picot.
  14. Akibat kemerosotan keamanan yang terus berlangsung ini, akan memungkinkan bagi Al-Qaidah untuk tampil ke permukaan di beberapa wilayah seperti: Yaman, Utara Mali, Libya dan Suriah.
  15. Gonjang-ganjingnya keamanan akibat revolusi-revolusi Arab yang bersamaan dengan kelemahan dan ketidakberdayaan AS untuk melakukan intervensi militer di wilayah konflik, akan menyebabkan Israel mulai merasa dalam bahaya.
  16. Kecilnya wilayah Israel dan keberadaannya di tengah-tengah area konflik akan menyeretnya memasuki mata rantai perang tahun 1948, 1956, 1967, 1973, dan 1982, untuk menjinakkan negara-negara tetangganya.
  17. Teori Keamanan Bangsa Israel yang mengandalkan negara-negara adidaya untuk menjaga keamanan Israel (tidak akan lagi berfungsi). Dan inilah yang menjadikan Israel beralih mengandalkan negara-negara tetangga yang telah dijinakkan untuk menjaga perbatasannya.
  18. Terperangkapnya rezim negara-negara adidaya dengan terjun dalam konflik Suriah, Libanon, dan Mesir, akan menarik Israel keluar dari persembunyiannya. Dari sini, perang akan dimulai sesuai dengan rencana-rencana Al-Qaidah, sebagaimana yang mereka lakukan terhadap Amerika.
  19. Israel memungkinkan untuk menekuklulutkan tentara-tentara di sekitar wilayah tersebut dengan mengandalkan kekuatan serangan udaranya yang terbukti mampu melumpuhkan pangkalan-pangkalan udara Suriah, Yordania, dan Mesir hanya dalam waktu enam hari.
  20. Berhadapan dengan Al-Qaidah, Israel tidak memungkinkan meraih keuntungan dengan kecanggihan teknologi mereka secara maksimal, karena Al-Qaidah mengandalkan perang gerilya dan pengurasan ekonomi secara tidak langsung.
  21. Melalui strategi pengurasan ekonomi, Al-Qaidah bersama sekutu-sekutunya berhasil mengalahkan AS di Irak dan Afghanistan, sedangkan kekuatan Amerika jauh di atas Israel.
  22. Orang-orang Cina bertutur, “Janganlah kalian memerangi Barat kecuali pada kondisi ketika kecanggihan teknologi mereka sangat sedikit manfaatnya.” Jurus inilah yang berusaha Al-Qaidah terapkan dengan memancing Israel pada arena dan panggung yang mereka inginkan.
  23. Kehancuran Hizbullata di Suriah akan mengendorkan cengkeramannya atas Libanon dan bagian selatannya. Hal ini akan memudahkan tibanya Al-Qaidah di Selatan Libanon sekaligus memudahkan mereka tiba di dataran tinggi Golan lantaran lemahnya tentara Suriah.
  24. Serangan roket selama beberapa kesempatan ke Utara Israel akan menggiring orang-orang Yahudi untuk pindah dari wilayah tersebut, sebagaimana yang terjadi pada perang Juli. Saat itulah pasukan Israel akan bergerak ke wilayah tersebut untuk menghentikan serangan roket. Inilah jebakan sesungguhnya.
  25. Hizbullata mengabdikan dirinya di Selatan Libanon untuk kepentingan proyek Iran, sementara Al-Qaidah akan mendedikasikan dirinya di sana untuk meruntuhkan Israel, sebagai pintu gerbang membebaskan Palestina.
  26. Al-Qaidah berawal di Afghanistan dan dalam rentang waktu 12 tahun ia telah tersebar di Irak, Aljazair, Yaman, Somalia, Mali dan Suriah guna mempersiapkan arena internasional dan regional untuk perang  Palestina.
  27. Shalahuddin Al-Ayyubi telah mengandalkan dan mengembangkan suatu strategi selama 17 tahun untuk  mempersiapkan arena yang tepat untuk perang membebaskan Palestina.

Menutup analisa tersebut, Abdullah bin Muhammad menukil pernyataan Usamah bin Laden, “AS tidak akan pernah memimpikan keamanan dan rasa aman sampai kami (umat Islam) hidup dengan penuh keamanan dan rasa aman lebih dahulu di Palestina”

 

Epilog

Tatkala QS. Ar-Ruum diturunkan kepada Rasulullah yang berisi berita kemenangan Imperium Romawi beberapa tahun ke depan, saat itu, Sabur –Raja Persia- sedang berada di puncak kejayaannya. Dia berhasil merebut negeri Syam dan sebagian Jazirah Arab dari tangan Imperium Romawi, bahkan berhasil mendesak Hireklius hingga melarikan diri ke Konstantin, ibu kota Imperium Romawi Timur.  Banyak orang-orang Quraisy yang mencibir wahyu ini lantaran sangat jauh dari realita yang ada. Meski begitu, karena ini wahyu dan wahyu pasti benar adanya, Abu Bakar berani bersuara menyatakan kebenaran berita tersebut, bahkan berani bertaruh dengan mereka.

Demikian juga dengan keruntuhan negara Israel dan kekalahan Yahudi, terdapat beberapa teks Al-Quran dan hadits Nabi yang mengisyaratkan akan hal ini, meski tidak dijelaskan secara difinitif kapan hal itu terjadi sebagaimana pada berita kemenangan Imperium Romawi atas Imperium Persia.

Bisa jadi hal itu terjadi di tahun 2022 –sebagaimana prediksi Bassam dan Kissinger- atau lebih dari itu, bahkan mungkin malah lebih cepat dari yang diprekdisikan keduanya, apalagi dengan melihat perkembangan Arab Springs di Suriah dan Mesir (Sinai). Yang jelas, seorang Muslim tidak mengandalkan angka-angka tersebut, namun dengan mengusahakan semaksimal mungkin kemampuan yang mereka miliki sesuai dengan perintah syariat.

Mungkin di sinilah hikmah ilahiyah agar Allah menampakkan kepada hamba-hamba-Nya yang lain, siapa saja diantaranya hamba-Nya yang bersungguh-sungguh membela dan mempertahankan dien-Nya dan siapa saja yang hanya bersenda gurau dan main-main. “... Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran), dan agar Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan agar sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) Syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.” (QS. Ali Imran: 140)

Wallahu A’lam. (Ali Sadikin)



[1] Menurut Abu Al-Khaththab Al-Maqdisi, pendefinisian Yahudi dapat ditinjau dari tiga aspek, yaitu: agama, keturunan, dan politik. Berdasarkan definisi keagaaman, Yahudi adalah orang yang senantiasa menanti kedatangan Mesias semenjak ribuan tahun yang lalu. Sementara berdasarkan aspek keturunan, Yahudi didefinisikan sebagai orang yang lahir dari ibu seorang Yahudi tanpa memperhitungkan faktor keyakinan dan agamanya. Definisi inilah yang ditetapkan negara Israel untuk orang yang berhak mendapat kewarganegaraan Israel. Sedangkan dari aspek politik, orang bisa disebut Yahudi jika secara politik mengabdi pada negara Israel meskipun mereka bukan keturunan Yahudi. Lihat Ad-Dalaail Al-Watstaq ‘ala Anna Zawaal Daulah Al-Yahuud min AL-Iraaq, hal. 10.

[2] Buku tersebut pertama kali terbit pada tahun 1992 dan terbit terakhir tahun 2002 diberi tambahan dengan Zawaal Israail 2022: Nubuuah am Shuduf  Raqmiyyah (Keruntahan Israel tahun 2022: Kabar Kenabian atau Sekedar Angka-angka Kebetulan).

[3] Lihat Bassam Jarrar, Zawaal Israail 2022: Nubuuah am Shuduf  Raqmiyyah, (2002), hal. 18-19.

[4] Ibid, hal. 51

[5] Ibid, hal. 47.

[6] Lihat http://pagesix.com/2012/09/18/no-more-israel/ (19/12/2013)

[7] Muhammad bin Said Al-Fathisi misalnya, ketika mengomentari statemen Kissinger tersebut, mengatakan bahwa statemen Kisingger tidak lebih dari ramalan laki-laki tua renta yang berusaha menerawang melalui perbintangan dalam hal fase usia Israel yang sudah tua.

[8] Of. Cit.

[9] Lihat http://www.informationclearinghouse.info/article32304.htm 

[10] Ibid.

[11]Ibid.

[12]  Lihat http://www.theasa.net/from_the_editors/item/asa_members_vote_to_endorse_academic_boycott/.

[13] Ibid.

[14] Baca Abu Al-Khaththab Al-Maqdisi, Ad-Dalaail Al-Watstaq ‘ala Anna Zawaal Daulah Al-Yahuud min AL-Iraaq.

[15] Para Muafassirin berbeda pendapat mengenai maksudnya. Ath-Thabari menukil beberapa pendapat mufassir mengenai maksud dari Ardh Al-Muqaddasah, yaitu: (1) Bukit Tursina dan sekitarnya [pendapat ini dirajihkan oleh Ibnu Katsir], (2) Syam, (3) Ariha, (4) Damaskus, Palestina, dan sebagian Yordania, dan (5) suatu negeri yang disucikan dan diberkati. Mengomentari berbagai pendapat ini, Ath-Thabari mengatakan bahwa, Ardh Al-Muqaddasah adalah suatu negeri yang tidak dimungkin bisa diketahui secara pasti kecuali dengan melalui nash yang terpercaya, namun sayangnya nash yang menegaskannya secara definitif tidak ada. Meski demikian, ada semacam ijma’ para mufassir bahwa negeri tersebut terletak antara sungai Furat dan ‘Arisy (salah satu wilayah Mesir). Lihat Tafsir Ath-Thabari, Muassasah Ar-Risalah, Tahqiq: Ahmad Muhammad Syakir, vol. 10, hal. 167-168.

[16] Ibid, 20.

[17] Ibid, 21-22.

[18] Ibid, hal. 25.

[19] Ibid, hal. 26.

[20] Ibid, hal. 26-27.

[21] Ibid, 27-31

[22] Ibid, 31-32.

[23] Lihat Sumber: https://twitter.com/Strategyaffairs , 22 Agustus 2013