FAJAR DI FALLUJAH IRAK

28 February 2014

Di awal tahun 2014 ini kelompok Jihadi Sunni yang dimotori oleh Daulah Islam Irak dan Syam (Islamic State of Irak and Syam, ISIS) bersama para pejuang suku-suku Sunni berhasil merebut dan mengontrol Fallujah dan sebagian Ramadi dua kota penting di barat Baghdad ibukota Irak. Dua kota tersebut masuk dalam wilayah provinsi Anbar yang merupakan provinsi terbesar yang berbatasan langsung dengan Suriah, Yordania, Arab Saudi dan menjadi basis kaum Sunni di Irak.[1]

Sebagaimana dikabarkan oleh beberapa media pada hari Jum’at 3 Januari 2014, ISIS telah mengibarkan benderanya di Falujjah menandai kontrolnya terhadap kota tersebut."Pada saat ini, tidak ada kehadiran negara Irak di Fallujah," kata seorang wartawan lokal yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena ia takut akan keselamatannya. "Polisi dan tentara telah meninggalkan kota itu, al-Qaeda telah menurunkan semua bendera Irak dan membakarnya, dan telah mengibarkan benderanya sendiri di semua bangunan."[2]

Pada hari Jum’at itu ISIS menyelenggarakan sholat Jum’at di luar masjid yang dihadiri oleh ribuan jamaah.[3] Seorang pejuang ISIS yang bertopeng naik ke podium dan berkotbah di depan jamaah, menyatakan pembentukan sebuah "Emirat Islam" di Fallujah dan menjanjikan untuk membantu warga melawan pemerintahan Perdana Menteri Nouri al-Maliki dan sekutu Iran-nya."Kami tidak ingin menyakiti anda. Kami tidak ingin mengambil harta benda anda", kata pria itu kepada jamaah, menurut wartawan yang hadir dalam sholat tersebut. "Kami ingin anda membuka kembali sekolah-sekolah dan lembaga-lembaga dan kembali ke kehidupan normal anda."[4]

Komentar Barat terhadap kejatuhan Fallujah           

Jatuhnya Fallujah dibawah kendali kelompok perlawanan ini telah mengundang banyak komentar dari Barat khususnya publik Amerika Serikat. Bagi para veteran AS dalam perang Irak peristiwa ini sangat menyakitkan. Berikut ini adalah terjemahan dari sebuah artikel yang menggambarkan perasaan dua orang marinir AS veteran perang Irak terhadap kondisi Fallujah saat ini yang dimuat dalam website roanoke.com.[5]

Dengan direbutnya kembali Fallujah oleh kelompok perlawanan, kenangan gelap menghinggapi Marinir AS

Toby Williamson dan Jack Crandall mengingat bagian mereka dalam salah satu pertempuran paling berdarah dari Perang Irak.

Fallujah adalah tempat pertempuran paling berdarah dari kampanye Amerika di Irak hampir 10 tahun yang lalu. Lebih dari 100 tentara Amerika tewas, dan hampir 600 lainnya terluka, dalam upaya untuk membersihkan kota itu dari kelompok perlawanan yang terkait dengan al-Qaida. Kelompok perlawanan itu masuk kembali pada musim dingin ini untuk merebut kota itu sekali lagi.

"Dengan melihat berita tersebut, dan apa yang terjadi di sana sekarang, adalah menyakitkanmengingatbanyak nyawa yang hilang untuk mencapai tujuan mengambil kota itu kembali," kata Toby Williamson, seorang Marinir yang pernah bertugas di Fallujah. "Sekarang itu sudah hilang, Anda bertanya, 'tentang apakah itu semua?'"

Williamson mengatakan selama tujuh bulan keberadaannya di Fallujah diwarnai oleh serangan konstan dan pertumpahan darah.

"Saya percaya sepertiga dari marinir kami kehilangan nyawa mereka di provinsi Al Anbar, dan banyak diantaranya yang berada di Fallujah," katanya. "Kami diroket dan dimortar setiap hari. Pada saat itu, hal itu merupakan alarm jam kami."

Williamson bertugas selama pertempuran Fallujah pertama, yang dikenal sebagai Operasi Vigilant Resolve. Operasi itu, yang akhirnya dihentikan oleh AS, berlangsung pada bulan April 2004. Berikutnya pada November 2004, pasukan AS menyerang kota itu lagi untuk pertempuran kedua dan terakhir, yang dikenal sebagai OperasiPhantom Fury.

"Pertempuran itu berlangsung selama tiga minggu penuh," kata Jack Crandall, seorang insinyur tempur Korps Marinir yang bertempur di Fallujah. "Anda bisa melakukan perjalanan melalui hampir semua wilayah kota itu, dan disana terjadi kehancuran. Saya membandingkannya dengan suatu kota di barat setelah dihantam tornado."

Diperkirakan 1.700 gerilyawan tewas dalam pertempuran tersebut. Setelah itu, pasukan Amerika mendirikan pangkalan untuk membantu kembalinya warga sipil ke kota yang hancur itu. Pada tahun 2006, pasukan AS mengalihkan kendali atas Fallujah kepada tentara Irak.

Baik Williamson maupun Crandall keduanya mengatakan bahwa berita tentang pengambil-alihan dan jatuhnya kembali Fallujah saat ini menyentuh luka yang dalam bagi banyak tentara yang kehilangan rekan-rekan mereka dalam pertempuran tersebut.

"Ini seperti pisau yang tepat menghujam ke jantung," kata Crandall. "Sungguh mengecewakan untuk melihat bahwa hal itu terjadi setelah begitu banyak nyawa yang melayang."

Operasi Vigilant Resolve

Pada tahun 2003, Williamson membagi waktunya sebagai prajurit cadangan Angkatan Laut dan sebagai mahasiswa ekonomi Universitas Liberty, hingga Amerika Serikat menginvasi Irak. Ia menerima tugas sebagai spesialis urusan mayat dan terbang ke Baghdad untuk mengambil peran mengerikan dalam perang tersebut.

"Tugas saya adalah pergi ke medan pertempuran dan mengambil jasadpasukan kami yang jatuh," katanya.

Setelah tugas pertamanya, Williamson merindukan tugas lain selain mengambil jasad prajurit yang berlumurandarah dan pasir. Dengan latar belakangnya di bidang ekonomi, ia menjadi anggota dari kelompok urusan sipil(CivilianAffairs Group, CAG).

"Saya melakukan semua yang mungkin bisa saya lakukan di Korps Marinir dengan CAG tersebut. Itu adalah pengalaman yang jauh lebih positif."

Korps Williamson dikerahkan ke Fallujah pada Februari 2004. Dengan berbicara melalui penerjemah, ia membantu keluarga-keluarga yang telah kehilangan rumah atau orang-orang terkasih mereka ke tangan al-Qaida.

"Mereka tidak melakukan permusuhan terhadap Korps Marinir. Mereka senang kami berada di sana,"katanya. "Mereka ingin membantu kami, tetapi mereka terlalu takut untuk itu."

Gerilyawan yang menguasai Fallujah mengatakan kepada warga bahwa siapapun yang membantu AS akan dibunuh bersama dengan keluarga mereka.

Williamson juga bertemu secara teratur dengan Gubernur Al Anbar dan walikota Fallujah dengan harapan membangun kembali daerah itu setelah jatuhnya Saddam Hussein.

Gerilyawan Al-Qaida bagaikan menendang sarang lebah pada 31 Maret 2004, ketika mereka membunuh empat kontraktor Amerika yang bekerja untuk Blackwater AS.

"Kami melihat orang Amerika, bahkan bukan personal militer, dibunuh secara brutal dan diseret melalui jalan-jalan. Tubuh mereka dibakar dan digantung di sebuah jembatan. Ada banyak emosi yang munculkarena hal itu. Suatu emosional yang menginginkanuntuk menghancurkan kota itu,"kata Williamson. "Setelah insiden Blackwater itu, ada agresi yang demikian oleh Marinir dan itu dilakukan segera. Seluruh pangkalan sudah siap untuk dimobilisasi."

Militer Amerika menerapkan Operasi Resolve Vigilant pada bulan April 2004 untuk merebut kota itu. Ribuan tentara mengepung Fallujah bersama dukungan udara menghantam dari atas.

"Tank menyerbukemedan pertempuran, artileri menembak dari pangkalan," kata Williamson.

Veteran pertempuran Fallujah membandingkan kota itu denganNew York City karena jalan-jalannya yang rapat dan bangunan yang berdempetan satu sama lain.

"Kondisi di kota itu tampak seperti proyek-proyek di New York," kata Williamson. "Ini adalah sesuatu yang sangat rumit, taktis mimpi buruk untuk pertempuran dari rumah ke rumah."

Williamson dan timnya pergi melalui jalan-jalan, mendorong warga sipil untuk melarikan diri sebelum pertempuran.

"Kami menyebar pamflet dari udara dan membunyikanpengeras suara di atas Humvee kami. Kami membantu meyakinkan banyak orang, tetapi juga karena tragedi, mereka tahu mereka harus pergi,"katanya.

Di hari ulang tahunnya, 4 Juli, Williamson menyaksikan di luar pangkalannyaketika bangunan-bangunan runtuh dalam gumpalan asap dan api.

Hampir 30 tentara AS tewas dalam Operasi Vigilant Resolve, begitu pula hampir 200 gerilyawan. Upaya militer itu juga mengakibatkan kematian sekitar 600 warga sipil, seperti dilaporkan oleh Kementerian Kesehatan Irak.

Foto-foto warga Irak yang terbunuh di jalan-jalan yang bersimbah darah menyebar ke seluruh dunia, memicu sentimen antiperang. Di bawah tekanan, pemerintah AS menghentikan operasi tersebut.

"Kongres menaruh sarung tangan beludru ke atas tangan besi kami," kata Williamson. "Ini benar-benar kesempatan yang terlewatkan. Saya yakin kita mestinya bisa mengambil Fallujah dalam beberapa hari pada saat itu."

Williamson melanjutkan pekerjaannya dengan CAG di Fallujah sampai September. Dia pulang ke Lynchburg dan kemudian mencoba untuk mencari pengiriman ketiga.

"Aku punya sesuatu untuk dilakukan setiap hari. Aku punya rasa tujuan dan nilai,"katanya. "Saya pulang ke Lynchburg, dan tidak ada satu orangpun di sini yang saya kenal. Tiba-tiba, saya merasa tidak memiliki rasa tujuan lagi."

Williamson sekarang bekerja dengan Program Pahlawan Terluka Virginia (Virginia Wounded Warrior Program)untuk membantu tentara lainnya yang kembali saat mereka bertransisi ke kehidupan sipil.

Dia menceritakan beberapa kisah layanannya dengan tersenyum, mengingat seorang anak Irak yang menginginkan tidak lebih dari hanya untuk memakai kacamata hitam Williamson. Williamson membantu keluarga anak itu, setelah gerilyawan al-Qaida membunuh ayahnya.

"Saya tidak mengatakan itu untuk apa-apa. Kami melakukan beberapa hal yang baik,"katanya.

Tetapi denganadanya gerilyawan yang membanjiri jalan-jalan di Fallujah sekali lagi, Williamson enggan untuk melihat tentara dikerahkan ke sana lagi.

"Saya tidak akan menyia-nyiakan kehidupan orang Amerika lain untuk hal itu. Mereka bukan tentara terorganisir. Ini adalah perang melawan terorisme. Ini tidak akan pernah berakhir,"katanya. "Kami tidak mengalahkan atau menghancurkan kekuatan musuh. Itu tidak terjadi. Mereka hanya kembali ke tempat-tempat gelap dan bersembunyi untuk sementara waktu. Ketika kondisi sudah jelas, mereka akan datang kembali."

Operasi Phantom Fury

Crandall mendarat di provinsi Al Anbar Irak pada akhir Agustus 2004. Kesatuannya telah menugaskan kopral muda itu dan unitnya untuk menyapu gudang senjata dan alat peledak improvisasi (improvised explosive devices, IED) di wilayah yang telah diporak-porandakan oleh bom itu.

"Adalah tidak menjadi luar biasa untuk berada di daerah itu yangsetengah jalannya telah dihancurkan oleh IED sebelumnya," katanya. "Kami berada di beberapa daerah yang cukup panas, dan kami tahu itu. Setiap kali kami meninggalkan garis batas, senjata kami harus keluar."

Pada bulan November, Crandall menerima tugas baru - ia dan timnya harus mendukung infanteri selama pertempuranFallujah kedua.

Dalam upaya untuk menghindari korban sipil seperti pada pertempuran pertama, pasukan bekerja untuk mengevakuasi kota itu. Sebelum Marinir menyerang, sekitar 90 persen warga sipil telah melarikan diri, seperti dilaporkan oleh militer AS.

Seiring dengan dibersihkannyawarga sipil, musuh menyiapkan diri untuk pertempuran.

"Anda akan menemukan rumah-rumah dengan ruangan ditumpuk dengan amunisisetinggi kaki. Orang-orang ini sudah membentengi posisi mereka. Mereka tahu apa yang akan terjadi dan sudah waktunya untuk pertunjukan,"ujar Crandall. "Saya pikir mereka sudah cukup menyiapkan diri."

Untuk memperlambat pasukan, gerilyawan menghalangi jalan-jalan dengan mobil yang ditinggalkan, puing-puing dan kawat berduri. Gerilyawan juga menanam IED kedalam pasir, yang dikemas dengan bahan peledak yang cukup untuk menghancurkan sebuah Humvee lapis baja.

Pada tanggal 7 November, pasukan Amerika menunggu di luar kota, saat militer menghajar gerilyawan dengan serangan udara dan artileri.

Keesokan harinya, Crandall dan para prajurit lainnya memasuki kota itu.

"Banyak struktur bangunan yang rusak penuh dengan lubang peluru," katanya. "Bahkan beberapa masjid di kota itu hancur."

Setiap hari, para prajurit pergi dari saturumah ke rumah lainnya untuk mencari gerilyawan.

"Banyak Marinir tewas karena jebakan. Mereka harus masuk, menginjak kabel pemicu, dan karenanya terjadilah hal itu,"kata Crandall.

Dengan detektor logam di tangan, Crandall menemukan banyak IED tersembunyi di jalan-jalan. Ketika menggali dibawah puing-puing, ia menemukan bom yang siap meledak terpasang ke ponsel.

"Yang akan mereka lakukan adalah menghubungkan sinyal. Mereka memasangalat itu di sana untuk kami, dengan kondisi aktif dan siap untuk meledak,"katanya. "Anda ingin merasa takut, tetapi Anda tidak punya waktu. Anda hanya harus bereaksi, menjinakkannya dan berharap bahwa semuanya akan baik-baik saja."

Saat Crandall melaju melalui jalan-jalan dalam suatu konvoi, sebuah IED meledak tepat di belakang Humvee-nya.

"Anda melihat seluruh jalan hanya bisa ditelan puing-puing," katanya.

Dengan kendaraan yang terbalik, para prajuritturun dari kendaraannya mencari siapapun yang memasang bom tersebut.

"Kami tidak pernah menemukan orang yang memicunya," kata Crandall.

Dalam waktu tiga minggu, tentara AS menewaskan hampir 1.500 gerilyawan yang berafiliasidengan al-Qaeda seperti yang dilaporkan oleh militer.

"Tepat setelah pertempuran, Anda akan melihat mayat yang tersebar di seluruh medan pertempuran," kata Crandall.

Dalam catatan harian yang disimpan di pinggulnya, Crandall menulis, "Saya sudah cukup melihat darah, keberanian dan mayat untuk seumur hidup. Aku benci tempat ini."

Pada tanggal 19 November, tim Crandall dan sebuah unit infanteri mencari rumah-rumah pemberontak yang tersisa. Saat dua tentara mendobrak pintu, para pemberontak yang bersembunyi di dalamnyamenembak.

"Tiba-tiba, terjadi kepanikan dan tembakan datang dari segala arah," kata Crandall. "Anda mulai mendengar marinir ini berteriak, 'Tolong! Tolong! Kami perlu dukungan!'"

Dua tentara Amerika naik di atas atap di seberang jalan, penyemburkan peluru ke dalam rumah itu. Dengan berbaring, Crandall dan prajurit lainnya berlindung.

"Sepertinya itu berlangsung selamanya. Dan kemudian, sepertinya semuanya berjalan tenang,"katanya.

Crandall bergerak lebih mendekat untuk memberikanbantuan medis pada seorang Marinir yang terjatuh -Kopral Bradley Arms dari Charlottesville yang berusia 20 tahun, anggota tim Crandall.

Dalam buku hariannya, hari itu Crandall menulis, "Aku menangis,air mataku keluar sepanjang hari. ... Hal ini masih belum bisa menerima adik saya sudah meninggal."

Setelah serangan mendadak, para gerilyawan melarikan diri dari belakang rumah. Seperti yang mereka lakukan, para prajuritmenghujani mereka dengan semburan peluru.

Unit Crandall pulang ke rumah pada tanggal 1 April 2005.

"Anda mencapai apa yang Anda harus capai, tapi anda sedih bahwa Anda tidak bisa membawa semua orang pulang," katanya.

Crandall menyimpan setumpuk bagasi pernak-pernik yang dibawa kembali dari pertempuran, termasuk rambu jalan yang penuh dengan lubang peluru, pecahan peluru dari IED dan bendera Irak yang ditandatangani oleh krunya. Dia memiliki ribuan foto mereka –para laki-laki muda dengan rambut cepak dalam sebuah adegan diselimuti kehancuran.

"Hal ini tidak akan pernah pergi. Kita mungkin memperlambatnya, tapi saya berpikir kita tidak akan pernah melihat akhir terorisme,"kata Crandall. "Anda hanya berharap bahwa hal itu berarti sesuatu."

Banyak media yang menurunkan laporan yang menggambarkan kekecewaan para veteran AS dan keluarga tentara AS yang tewas atas jatuhnya Fallujah ke tangan kelompok Jihadi. The Register-Guard menurunkan laporan editorial pada 11 Januari 2014 yang menyatakan “Jatuhnya kota Fallujah di Irak ke kelompok perlawanan Sunni yang terkait dengan Al-Qaeda telah menyebabkan perasaan sakit mendalam bagi ribuan Marinir AS yang bertempur dalam invasi ke kota tersebut yang dipimpin AS pada tahun 2004.”[6]

Dalam sebuah wawancara telepon, Gary Strader ayah dari salah satu Marinir AS yang tewas dalam pertempuran Fallujah tahun 2004 yang dimuat dalam situs wbir.com mengatakan kepada 10News bahwa ia selalu mempertahankan ikatan emosional dan kepentingan pribadi pada Fallujah sejak kematian anaknya. Kabar terbaru bahwa militan Al Qaeda merebut kendali atas kota yang menyebabkan anaknya meninggal untuk membebaskannya adalah sangat menyulitkan.

"Ketika saya melihat berita akhir pekan lalu bahwa Fallujah telah jatuh lagi oleh Al Qaeda, hal itu bagaikan tembakan ke jantung. Kau tahu, hal  itu benar-benar mengganggu. Dengan darah putra dan putri kita ditumpahkan bagi kota itu, Anda akan berharap bahwa akan ada beberapa perkembangan yang terus menerus, bahwa setiap orang bisa dibanggakan,"kata Strader.[7]

Sarah Parrott dalam artikelnya yang dimuat pada situs WebProNews.com pada tanggal 9 Januari 2014 menyatakan bahwa berita tentang jatuhnya kembali Fallujah ke tangan kelompok Jihadi memunculkan perdebatan di pemerintahan AS tentang siapa yang harus disalahkan. Dia menuliskan dalam artikel itu sebagai berikut.

“Militan Al Qaeda merebut berbagai kota utama di Irak selama akhir pekan ini, dan Fallujah merupakan salah satunya. Kembalinya konflik sipil di Irak, dimana pengambil-alihan terhadap kota ini hanya merupakan contoh terbaru, telah melahirkan perdebatan di pemerintahan AS tentang siapa yang harus disalahkan untuk kebangkitan itu, yang datang dihadapan penarikan AS dari pertempuran di daerah tersebut. Senator partai Republik Lindsey Graham dan John McCain (masing-masing dari Carolina Selatan dan Arizona) dengan cepat menyalahkan Presiden Barack Obama, mengatakan dalam sebuah pernyataan, "Ketika Presiden Obama menarik semua pasukan AS [dari Irak] ... banyak dari kita memperkirakan bahwa kekosongan ini akan diisi oleh musuh-musuh Amerika dan akan muncul sebagai ancaman terhadap kepentingan keamanan nasional AS. Sayangnya, kenyataan sekarang lebih jelas dari sebelumnya."[8]

Sejarah Peperangan di Fallujah

Fallujah merupakan salah satu kota penting di Irak yang selalu menjadi incaran oleh orang-orang atau kelompok yang ingin berkuasa di Irak. Kota ini berada sekitar 69 km (43 mil) barat Baghdad di sungai Efrat. Fallujah merupakan salah satu  perhentian di jalan utama melintasi padang pasir barat dari Baghdad. Koordinat geografisnya adalah 33o25'11 "N dan 43o18'45" E. Tempat ini sebagian besar gurun, mengalami musim dingin dengan salju yang kadang-kadang berat dan kering, serta musim panas.[9]

Di Irak, Fallujah dikenal sebagai "kota masjid" karena 200 atau lebih masjid ditemukan di kota itu dan desa-desa sekitarnya.Disamping sebagai tempat ibadah, masjid-mesjid inijuga berfungsisebagai sekolah bahasa, sejarah dan hukum Islam. Ini adalah salah satu tempat paling penting untuk Islam Sunni di wilayah tersebut. Sejak berdirinya negara Irak, banyak orang Fallujah terkemuka telah menjabat sebagai menteri, pemimpin militer dan profesor, dan dua presiden Irak- Abdul Salam Aref dan Abdul Rahman Aref - berasal dari Fallujah.[10]

Sejarah mencatat kota Fallujah sebagai medan pertempuran perebutan kekuasaan sejak ribuan tahun yang lalu. Berikut adalah kutipan tentang sejarah peperangan yang panjang di Falllujah yang ditulis oleh Amir Taheri[11] dalam artikelnya yang dimuat oleh Asharq Al-Awsatpada tanggal 14 Januari 2014.[12]

Fallujah telah menjadi tempat dari banyak pertempuran selama 2.500 tahun terakhir. Dia  diduduki oleh Cyrus Agung pada abad ke-6 SM yang membuka jalan ke Mediterania bagi orang-orang Achaemenid, yang bergerak maju untuk menaklukkan Suriah, gurun Sinai dan Mesir. Dia disebut Hoxt-dezh ("Benteng Jauh") sampai diduduki oleh orang-orang Romawi pada abad ke-3, dan kemudian namanya diubah menjadi Misiche ("Satu Tengah") karena dikelilingi oleh kebun kurma, dan oleh lingkaran Sungai Efrat yang mengubahnya menjadi sebuah semenanjung. Pada satu titik, pasukan Romawi ekspedisi Mark Anthony kehilangan barang bawaannya yang dirampas oleh perampok padang pasir sekitar Fallujah dan karenanya harus mundur dengan segera.

Pada bulan April 244 Masehi,  kota itu sekali lagi berpindah tangan setelah pertempuran sengit di mana Kaisar Romawi Gordian III dibunuh oleh orang Persia di bawah Raja Sassanid Shapur I. Raja Persia itu telah mengabarkan kemenangannya yang terukir dalam tiga bahasa di lereng gunung Naqsh-e-Rostam, dekat Shiraz kini. Dia juga mengganti nama kota itu menjadi Piruz-Shapur ("Kemenangan Shapur") dan dibangun sebagai kota garnisun utama di daerah pertengahan-Efrat, memulai sebuah tradisi peperangan yang sejak itu terus berlanjut.

Selama enam abad setelah itu, Piruz-Shapur selalu menjadi perebutan dalam perang Persia-Romawi. Kaisar Julian mendudukinya sebelum dibunuh dalam pertempuran yang sukses, yang memungkinkan Persia untuk mengembalikan kehadiran mereka di seluruh Syam. Bahram V, Raja Sassanid lainnya, membangun sebuah istana perburuan dekat dengan kota itu dan dihiasi dengan taman yang penuh hewan gurun dan bunga-bunga eksotis berdasarkan bahasa Persia parada'us (asal kata "surga" dan, dalam bahasa Arab, "Firdaws"). Dalam puisi epik besar Nezami The Seven Cupolas, kota itu merupakan istana yang dihuni oleh putri berpakaian serba hijau. Kota ini jatuh ke Romawi segera setelah itu, tapi kembali direbut oleh Khosrow Parviz, raja Sassanid yang penyayang yang adalah seorang kontemporer dari Nabi Muhammad (saw). Di sana, Khosrow Parviz membangun sebuah kuil api, yang sisa-sisanya telah menjadi sebuah situs arkeologi besar di Mesopotamia selama beberapa dekade.

Penaklukan Arab terhadap Mesopotamia pada abad ke-7 menandai dimulainya kemunduran kota itu yang tidak pulih hingga tahun 1940-an. Para penakluk merusak kota, membakar gedung-gedung besar dan pasar-pasar, serta menghancurkan taman-taman dan perkebunan kurma. Secara bertahap, nama Fallujah, yang merujuk pada jenis tertentu dari kurma, mulai digunakan.

Namun karena lokasinya, bagaimanapun, Fallujah segera pulih kembali. Ia adalah tempat peristirahatan yang hampir alami untuk kafilah dari pedalaman padang pasir Arab dalam perjalanan mereka ke pantai Mediterania. Karena ia dialiri air dengan baik, lokasi itu juga dapat menopang suatu tingkat yang relatif tinggi aktivitas-aktivitas pertanian.

Fallujah menarik perhatian Saddam Hussein karena sejumlah alasan. Pertama,  ia terletak dalam apa yang dikenal sebagai Segitiga Sunni, suatu wilayah sempit yang menyediakan sebagian besar elit militer Irak di bawah kekhalifahan Usmaniyah. Saddam,  yang yakin bahwa ia tidak akan pernah mendapatkan dukungan di antara orang-orang Syiah Irak, pergi mengarahkan jalannya ke wilayah Segitiga Sunni.

Fallujah juga merupakan sayap barat sistem pangkalan militer dan kota-kota garnisun yang dikembangkan di bawah kekuasaan Saddam, dengan sayap timur diwakili oleh Baqubah. Terletak hanya 36 mil (58 kilometer) sebelah barat Baghdad, Fallujah merupakan salah satu lengan dari penjepit yang lengan lainnya adalah Baqubah. Selalu khawatir kemungkinan kudeta terhadap dirinya dari dalam Baghdad, Saddam memastikan untuk menjaga kekuatan besar di Fallujah dan Baqubah untuk melawan setiap pemberontakan di ibukota.

Putra Saddam, Uday dan Qusay, mencintai Fallujah karena keindahan alamnya dan kedekatannya dengan sungai Efrat dan gurun. Kedua anak laki-laki tersebut membangun istana di sana, termasuk danau buatan, dengan sebuah pulau buatan di tengahnya, di mana mereka mendirikan sebuah klub perahu, mengorganisir lomba perahu dan berlatih olahraga air. Pada tahun 1995, Saddam Hussein sendiri membangun salah satu dari 22 istana barunya di sana.

Istana-istana keluarga Tikriti tersebut jatuh ke tangan militer Amerika. Istana Qusay menjadi markas dari Satuan Operasi  Psikososial 361 Angkatan Darat Amerika Serikat, yang bertugas untuk memenangkan hati dan pikiran rakyat di kota itu. Istana terakhir Qusay menjadi pusat Camp Orharm, fasilitas Angkatan Darat AS lainnya di daerah pertengahan Efrat.

Karena perannya sebagai kota garnisun, Fallujah merupakan rumah bagi sejumlah besar keluarga militer. Menurut beberapa perkiraan, setidaknya seperempat dari 300.000 penduduk kota merupakan militer Irak, termasuk Pengawal Republik dan berbagai kekuatan paramiliter yang dibentuk oleh Saddam dan putra-putranya. Jumlah terbesar dari keluarga Angkatan Darat yang terkenal (Al-Haras Al-Qawmi) yang dibentuk oleh orang-orang  Ba'ath pada tahun 1960 juga terletak di sana.

 Dua Pertempurandi Fallujah tahun 2004

Misi AS pada tahun 2004 untuk merebut Fallujah dari kelompok perlawanan barangkali merupakan pertempuran yang paling besar selama perang Irak. Lebih dari 100 marinir dan tentara AS terbunuh dalam pertempuran dari rumah ke rumah; ratusan lebih terluka.[13] Pada tahun itu terjadi dua pertempuran paling berdarah dan mematikan di Fallujah yang dilakukan oleh militer AS melawan kelompok perlawanan. Berikut ini adalah gambaran kedua pertempuran Fallujah tersebut yang dikutip dari Wikipedia.

  1. 1.      Pertempuran Fallujah Pertama[14]

Pertempuran FallujahPertama, yang juga dikenal sebagai OperationVigilant Resolve, merupakan upaya oleh militer AS untuk menduduki kota Fallujah pada April 2004. Katalisator utama operasi tersebut adalah pembunuhan dan mutilasi yang dipublikasikan secara besar-besaran terhadap 4 orang kontraktor militer swasta Blackwater AS, dan pembunuhan terhadap 5 tentara Amerika di Habbaniyah beberapa hari sebelumnya.

Latar Belakang

Fallujah secara umum telah mendapatkan manfaat secara ekonomis di bawah Saddam Hussein, dan banyak warga yang dipekerjakan sebagai karyawan, militer dan perwira intelijen oleh pemerintahannya. Namun, hanya ada sedikit simpati untuknya setelah keruntuhan pemerintahnya, yang oleh wargasetempat dianggap banyak menindas.

Setelah runtuhnya infrastruktur Ba'ath pada awal 2003, warga setempat telah memilih suatu dewan kota yang dipimpin oleh Taha Bidaywi Hamed, yang menjaga kota itu agar tidak jatuh ke dalam kendali para penjarah dan penjahat. Dewan kota tersebut dan Hamed dianggap pro-Amerika, dan pemilihan mereka awalnya dimaksudkan bahwa Amerika Serikat telah memutuskan agar kota itu tidak akan menjadi sarang aktivitas, dan tidak memerlukan kehadiran pasukan dengan segera. Hal ini menyebabkan Amerika Serikat pada awalnya hanya mengirimkan beberapa prajurit ke Fallujah.

Meskipun Fallujah telah menyaksikan serangan udara secara sporadis oleh pasukan Amerika, oposisi publik tidak tergerakkan sampai 700 anggota dari Divisi Airborne ke-82 pertama kali memasuki kota itu pada 23 April 2003, dan sekitar 150 anggota Charlie Company menduduki al- Qa'id primary.Pada tanggal 28 April, kerumunan sekitar 200 orang berkumpul di luar sekolah tersebut setelah jam malam berakhir, menuntut Amerika mengosongkan bangunan tersebut dan memungkinkan untuk membukanya kembali sebagai sekolah.Para pengunjuk rasa menjadi kian memanas, dan penyebaran tabung gas asap gagal dalam upaya untuk membubarkan massa. Protes semakin meningkat saat pria bersenjata dilaporkan menembaki pasukan AS dari kerumunan pengunjuk rasa dan tentara Angkatan Darat AS Batalion ke-1 dari 325 Resimen Infanteri Airbone Divisi Airborne ke-82 membalas tembakan, menewaskan 17 orang dan melukai lebih dari 70 demonstran. Tidak ada korban dari Angkatan Darat AS atau koalisi dalam insiden itu. Pasukan AS mengatakan bahwa penembakan berlangsung selama 30-60 detik, namun sumber-sumber lain mengklaim penembakan itu berlangsung selama setengah jam.

Dua hari kemudian, sebuah unjuk rasa di bekas markas besar partai Ba'ath yang mengutuk penembakan Amerika juga ditembaki oleh pasukan AS, kali ini oleh resimen  kavaleri Armored ke-3 AS, yang mengakibatkan tiga orang tewas lagi. Setelah kedua insiden tersebut, pasukan koalisi menegaskan bahwa mereka tidak menembaki para demonstran sampai mereka ditembaki lebih dulu.

Para prajurit Airborne ke-82 digantikan oleh prajurit dari Resimen Kavaleri Lapis Baja ke-3 dan  Divisi Airborne ke-101, dan pada tanggal 4 Juni, Kavaleri lapis bajake-3 tersebut terpaksa meminta tambahan 1.500 tentara untuk membantu memadamkan perlawanan yang berkembang yang dihadapi di Fallujah dan sekitar al-Habaniyya.

Pada bulan Juni, pasukan Amerika mulai menyita sepeda motor dari warga setempat, mengklaim bahwa itu digunakan dalam serangan hit-and-run pada pasukan koalisi.

Pada tanggal 30 Juni, sebuah ledakan besar terjadi di sebuah masjid di mana sang imam, Sheikh Khalil Laith dan delapan orang lainnya tewas. Sementara penduduk setempat mengklaim bahwa orang Amerikalah yang menembakkan rudal di Masjid tersebut, pasukan AS mengklaim bahwa itu adalah ledakan disengaja oleh gerilyawan menggunakan bom.

Pada tanggal 12 Februari 2004, gerilyawan menyerang sebuah konvoi yang membawa Jenderal John Abizaid, komandan pasukan AS di Timur Tengah, dan Mayor Jenderal Airborne ke-82 CharlesSwannack, menembaki konvoi kendaraan tersebut dari atap terdekat dengan RPG, setelah tampaknya menyusup ke pasukan keamanan Irak.

Sebelas hari kemudian, gerilyawan mengalihkan polisi Irak menujupanggilan keadaan darurat palsu di pinggiran kota, sebelum secara bersamaan menyerang tiga pos polisi, kantor walikota dan basis pertahanan sipil. Sedikitnya 17 anggota polisi tewas, dan sebanyak 87 tahanan dibebaskan.

Selama waktu ini, Airborne ke-82 sering menjalankan "serangan kilat" biasa di dalam kota, di mana konvoi Humvee akan menghancurkan hambatan jalan dan trotoar yang bisa menyembunyikan IED, dan mengawasi rumah dan sekolah, yang sering terlihatsebagai properti rusak, dan menyebabkan menembakan terhadap penduduk setempat.

Pada Maret 2004, Swannack mengalihkan kewenangan atas provinsi Al-Anbar ke Pasukan Ekspedisi Marinir I yang dipimpin oleh Letnan Jenderal Conway.

Pada awal Maret 2004, kota itu mulai jatuh di bawah meningkatnya pengaruh faksi-faksi gerilya. Meningkatnya kekerasan terhadap kehadiran Amerika mengakibatkan penarikan lengkap pasukan dari kota, dengan hanya serangan sesekali yang dicoba untuk mendapatkan dan memperkuat "pijakan di kota". Hal ini ditambah dengan satu atau dua patroli di sekitar batas luar FOB Volturno, bekas tempatistana Qusay dan Uday Hussein.

Kematian Blackwater

Pada 31 Maret 2004 pemberontak Irak di Fallujah menyerang konvoi berisi empat kontraktor militer Amerika swasta dari Blackwater AS yang sedang melakukan pengiriman untuk katering makanan ESS (Eurest Support Services).

Keempat kontraktor bersenjata tersebut, Scott Helvenston, Jerko Zovko, Wesley Batalona dan Michael Teague, tewas oleh tembakan senjata mesin dan sebuah granat yang dilemparkan melalui jendela SUV mereka. Massa kemudian mengambil tubuh mereka yang terbakar, dan mayat-mayat mereka diseret melalui jalan-jalan sebelum digantung di atas jembatan yang melintasi Sungai Efrat.

Foto-fotoperistiwa tersebut dirilis oleh kantor berita di seluruh dunia, menyebabkan banyak kejengkelan dan kemarahan moral di Amerika Serikat, dan mendorong pengumuman untuk "penaklukan" kota itu.

Strategi-strategi Korps Marinir berupa patroli jalan kaki, serangan yang kurang agresif, bantuan kemanusiaan, dan kerjasama yang erat dengan para pemimpin setempat diperintahkansegera dihentikan dan diganti dengan operasi militer untuk membersihkan gerilyawan dari Fallujah.

Kampanye

Pada tanggal 1 April, Brigadir Jenderal Mark Kimmitt, wakil direktur operasi militer AS di Irak, menjanjikan respon yang "luar biasa" atas kematian Blackwater AS, dengan menyatakan "Kami akan mengamankan kota itu."

Pada tanggal 3 April 2004, Pasukan Ekspedisi Marinir ke-1 menerima perintah tertulis dari Satuan Tugas Gabungan, yang memerintahkan operasi penyerangan terhadap Fallujah. Perintah ini bertentangan dengan keinginan Komandan Marinir di lapangan yang ingin melakukan serangan pembedahan dan razia terhadap mereka yang dicurigai terlibat dalam kematian Blackwater.

Pada malam tanggal 4 April 2004, pasukan Amerika melancarkan serangan besar dalam upaya untuk "membangun kembali keamanan di Fallujah" dengan mengepungnya dengan sekitar 2.000 tentara. Setidaknya empat rumah terkena serangan udara, dan ada tembakan sporadis sepanjang malam.

Pada pagi hari tanggal 5 April 2004, dengan dipimpin oleh Pasukan Ekspedisi Marinir ke-1, unit-unit Amerika telah mengepung kota dengan tujuan untuk merebut kembali kota itu. Pasukan Amerika memblokade jalan menuju ke kota dengan Humvee dan kawat berduri. Mereka juga mengambil alih stasiun radio lokal dan membagi-bagikan selebaran yang mendesak warga untuk tetap di dalam rumah mereka dan membantu pasukan Amerika mengidentifikasi gerilyawan dan setiap orang Fallujah yang terlibat dalam kematian Blackwater.

Diperkirakan ada 12-24 kelompok gerilyawan"hardcore" terpisah, bersenjatakan RPG, senapan mesin, mortir dan senjata anti-pesawat, beberapa di antaranya dipasok oleh Kepolisian Irak. Pada tanggal 6 April 2004, sumber-sumber militer AS mengatakan bahwa "Marinir tidak mencoba untuk mengontrol pusat kota".

Pada hari-hari pembukaan, dilaporkan bahwa sampai sepertiga dari penduduk sipil telah meninggalkan kota tersebut.

Penyerangan itu memaksa penutupan dua rumah sakit utama di Fallujah, Rumah Sakit Umum Fallujah dan Rumah Sakit Yordania, dan kembali dibuka pada saat gencatan senjata pada tanggal 9 April 2004.Juga pada tanggal tersebut, kunjungan ke pelabuhan Jebel Ali oleh kapal induk USS George Washington (CVN-73) dibatalkan, dan kelompok penyerang yang dibawa kapal induk George Washington itu dan Carrier Air Wing Sevenyang dinaikinya diperintahkan untuk tetap berada pada pangkalannya di Teluk Persia pada saat pertempuran intensif antara Pasukan Koalisi dan pemberontak Irak sekitar Fallujah.

Keterlibatan yang dihasilkan akibat pertempuran yang meluas di seluruh Irak Tengah dan di sepanjang sungai Efrat, dengan berbagai elemen pemberontakan Irak mengambil keuntungan dari situasi itu dan memulai operasi simultan melawan pasukan koalisi. Hal ini ditandai dengan munculnya Tentara Mahdi, milisi ulama Syiah Muqtada al-Sadr, sebagai faksi bersenjata besar yang pada waktu itu, secara aktif berpartisipasi dalam operasi anti-Koalisi. Kejadian tersebut juga diselingi oleh gelombang pemberontakan Sunni di kota Ramadi. Selama periode ini, sejumlah orang asing ditangkap oleh kelompok-kelompok pemberontak. Beberapa langsung dibunuh, sedangkan yang lain ditahan sebagai sandera dalam upaya untuk pertukarandengan konsesi politik atau militer. Beberapa elemen dari polisi Irak dan Korps Pertahanan Sipil Irak juga berpaling dari Pasukan koalisi atau bahkan meninggalkan jabatan mereka.

Pemberontakan di Fallujah dilaksanakan karena orang Amerika berusaha untuk mengetatkan kendali mereka di kota tersebut. Bombardir udara menghujani posisi pemberontak di seluruh kota, pesawat tempur Lockheed AC-130 menyerang target dengan senjata mesin dan meriam mereka beberapa kali. Penembak jitu menjadi elemen inti dari strategi Marinir, menyebabkan 31 terbunuh dalam pertempuran tersebut, sementara Tim Operasi Taktis Psikologi PSYOP dari Tactical Psychological Operasi Detasemen 910 mencoba untuk memancing warga Irak keluar ke tempat terbuka bagipenembak jitu dengan membaca skrip yang ditujukan untuk kemarahan para pejuang pemberontak dan dengan menggelegarkan musik dari kelompok AC/DC bersama dengan Metallica dan kelompok musik rock lain melalui pengeras suara mereka.

Setelah tiga hari pertempuran, diperkirakan Amerika Serikat telah memegang kendali lebih dari 25% dari wilayah kota, dan menggambarkan bahwa pemberontak telah kehilangan sejumlah posisi pertahanan kunci.

Karena kenyataan bahwa serangan Amerika menyebabkan korban warga sipil maupun pemberontak Irak, pasukan koalisi menghadapi kritik yang muncul dari dalam Dewan Pemerintahan Irak, di mana Adnan Pachachi mengatakan, "operasi  oleh Amerika ini tidak dapat diterima dan ilegal."

Reporter Al-Jazeera Ahmed Mansur, dan juru kamera Laith Mushtaq, merupakan dua wartawan non-tertanam yang meliput konflik sejak 3 April 2004, melaporkan bahwa sumber yang tidak diketahui menyatakan bahwa Amerika Serikat bersikeras bahwa wartawan harus ditarik dari kota, sebagai pra-syarat untuk gencatan senjata.

Pada tengah hari tanggal 9 April 2004 di bawah tekanan dari Dewan Pemerintahan, Paul Bremer mengumumkan bahwa pasukan AS akan mengadakan gencatan senjata secara sepihak yang menyatakan bahwa mereka ingin memfasilitasi negosiasi antara Dewan Pemerintahan Irak, pemberontak dan juru bicara kota, dan untuk memungkinkan pasokan bantuan dari pemerintah untuk disampaikan kepada warga.

Akibatnya, bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan yang disebabkan oleh pertempuran dan blokade akhirnya berhasil memasuki kota, terutama konvoi besar yang diselenggarakan oleh kalangan swasta, pengusaha dan ulama dari Baghdad sebagai upaya bersama Syiah-Sunni. Beberapa pasukan AS menggunakan waktu ini untuk menduduki dan mengais-ngais rumah yang ditinggalkan dan mengubahnya menjadi bunker, sementara sejumlah pemberontak melakukan hal yang sama.

Pada saat itu, diperkirakan 600 warga Irak telah tewas, setidaknya setengah dari mereka adalah non-kombatan. Meskipun ratusan gerilyawan telah tewas dalam serangan itu, kota tetap kuat dalam kendali mereka. Pasukan Amerika saat itu hanya berhasil mendapatkan pijakan di distrik industri di selatan kota. Akhir operasi besar untuk saat ini menyebabkan negosiasi antara berbagai elemen Irak dan pasukan koalisi, dan diselingi oleh tembak-menembak sesekali.

Pada tanggal 13 April 2004, Marinir AS mendapat serangan dari gerilyawan yang berada di dalam sebuah masjid. Sebuah serangan udara menghancurkan masjid itu, yang mendorong kemarahan publik.

Pada tanggal 15 April 2004, sebuahpesawat tempur F-16 Amerika menjatuhkan 2.000 pon (910 kg) bom yang dipandu GPS JDAM diatas distrik utara Fallujah.

Pada tanggal 19 April 2004, gencatan senjata tampaknya dikonsolidasikan dengan rencana untuk memperkenalkan kembali patroli bersama AS/Irak di kota itu. Seiring waktu pengaturan ini rusak dan kota tetap menjadi pusat utama dari oposisi kepada Pemerintah Interim Irak yang ditunjuk AS. Selain itu, komposisi kelompok bersenjata di Fallujah berubah selama bulan-bulan berikutnya, bergeser dari dominasi oleh kelompok sekuler, nasionalis dan mantan orang-orang Ba'athmenuju pengaruh yang nyata dari panglima perang yang memiliki hubungan dengan kejahatan terorganisir dan kelompok-kelompokyang mengikutipemahaman Wahhabi radikal.

Pada tanggal 27 April 2004, gerilyawan menyerang posisi pertahanan AS, yang memaksa Amerika untuk memanggil dukungan udara. Sebagai tanggapan, pada tanggal 28 April 2004, kapal induk George Washington meluncurkan skuadron VFA-136, VFA-131, VF-11, dan VF-143 untuk memberikan serangan udara mendadak terhadap pemberontak di Fallujah. Selama operasi ini, pesawat dari Carrier Air Wing Sevenmenjatuhkan 13 bom yang dipandu laser GBU-12 Paveway II pada posisi pemberontak dan juga memberikan dukungan udara tempur kepadaPasukan Ekspedisi Marinir ke-1.

Penarikan AS

Pada tanggal 1 Mei 2004, Amerika Serikat menarik diri dari Fallujah, sebagaimana diumumkan oleh Letnan Jenderal James Conway bahwa ia telah secara sepihak memutuskan untuk menyerahkan operasi yang tersisa keFallujah Brigade yang baru dibentuk, yang akan dilengkapi dengan senjata dan peralatan AS di bawah komando Jenderal Angkatan Darat mantan orang Ba'ath Jasim Mohammed Saleh. Beberapa hari kemudian, ketika menjadi jelas bahwa Saleh telah terlibat dalam aksi militer terhadap Syiah di bawah Saddam Hussein, pasukan AS mengumumkan bahwa Muhammad Latif malah akan memimpin brigade itu. Namun demikian, kelompok itu dibubarkan dan telah menyerahkan semua senjata AS ke pemberontakan pada bulan September, mendorong Pertempuran Kedua Fallujah pada bulan November, yang berhasil menduduki kota itu.

Selama periode sementara antara dua pertempuran tersebut, pasukan AS mempertahankan keberadaannya di Camp Baharia, beberapa mil di luar batas kota.

  1. 2.        Pertempuran Fallujah Kedua[15]

Pertempuran FallujahKedua dengan kode nama Operasi Al-Fajr (Arab, الفجر "fajar") dan Operasi Phantom Furyadalah serangan gabungan Amerika, Irak, dan Inggris pada bulan November dan Desember 2004, yang dianggap sebagai titik konfliktertinggi di Fallujah selama Perang Irak. Operasi ini dipimpin oleh Korps Marinir AS melawan kubu pemberontak Irak di kota Fallujah dan diberi wewenang oleh Pemerintah Interim Irak yang ditunjuk AS. Militer AS menyebutnya "suatupertempuran kota terberat yang telah melibatkan Marinir AS sejak Pertempuran kota Huế di Vietnam pada tahun 1968."

Operasi ini adalah operasi besar kedua di Fallujah. Sebelumnya, pada bulan April 2004, pasukan koalisi berperang dalam Pertempuran Fallujah pertama untuk menangkap atau membunuh unsur-unsur pemberontak yang dianggap bertanggung jawab atas kematian tim keamanan Blackwater.Ketika pasukan koalisi (yang kebanyakan Marinir AS) bertempur ke pusat kota itu, pemerintah Irak meminta agar kontrol kota itu dipindahkan ke pasukan keamanan setempat yang dijalankan oleh orang-orang Irak, yang kemudian mulai menimbun senjata dan membangun pertahanan yang kompleks di seluruh kota sampai pertengahan 2004. Pertempuran kedua ini adalah pertempuran paling berdarah dari seluruh Perang Irak, dan terkenal karena merupakan pertempuran besar pertama dalam Perang Irak yang semata-mata melawan pemberontak bukannya kekuatan mantan pemerintah Irak Ba'ath, yang digulingkan pada tahun 2003.

Latar Belakang

Pada bulan Februari 2004, kontrol Fallujah dan daerah sekitar

nya di provinsi Al-Anbar dipindahkan dari Divisi Airborne ke-82 AS kepada Divisi Marinir ke-1. Tak lama kemudian, pada 31 Maret 2004, empat kontraktor militer swasta Amerika dari Blackwater AS disergap dan dibunuh di kota ini. Gambar tubuh mereka yang dimutilasi disiarkan di seluruh dunia.

Dalam beberapa hari kemudian, pasukan Korps Marinir AS melancarkan Operasi Vigilant Resolve (4 April 2004) untuk mengambil kembali kendali kota tersebut dari pasukan pemberontak. Pada tanggal 28 April 2004, Operasi Vigilant Resolve diakhiri dengan kesepakatan bahwa penduduk setempat diperintahkan untuk menjaga agar para pemberontak keluar dari kota itu.Brigade Fallujah, yang terdiri dari orang-orang Irak lokal di bawah komando Muhammad Latif, seorang mantan jenderal Ba'ath, diizinkan untuk melewati jalur koalisi dan mengambil alih kota.

Kekuatan dan kontrol pemberontak mulai tumbuh sampai sedemikian luas sehingga pada 24 September 2004, seorang pejabat senior AS mengatakan kepada ABC News bahwa penangkapan Abu Musab Al-Zarqawi, yang dikatakan berada di Fallujah, sekarang merupakan "prioritas tertinggi", dan diperkirakan pasukannya sekitar 5.000 laki-laki, sebagian besar adalah non-Irak.

Kronologi

  • 7 November 2004: Marinir AS bersiap di utara Fallujah. Kota ini berada di bawah kendali pemberontak penuh tanpa kehadiran Amerika sejak April, dan ada sejumlah besar jebakan dan IED dipasang di tempat. Selain itu, sniper dari ketinggian dan posisi pertahanan berbenteng telah diciptakan dalam persiapan untuk serangan besar. UAV Amerika mengamati pemberontak melakukan latihan tembakan sungguhan di kota itu sebagai persiapan terhadap serangan yang datang.
  • 8 November 2004: OperasiPhantom Furydimulai.
  • 16 November 2004: juru bicara Amerika menjelaskan pertempuran di kota itu sebagai penyapuan kantong-kantong perlawanan yang terisolasi.
  • 23 Desember 2004: kantong perlawanan terakhir dinetralkan. Tiga marinir AS tewas dalam pertempuran terakhir, juga 24 gerilyawan. Operasi phantom Fury adalah pertempuran paling berdarah dari Perang Irak.

 

Persiapan

Pasukan Koalisi

Sebelum memulai serangan mereka, pasukan AS dan Irak telah mendirikan pos pemeriksaan di sekitar kota untuk mencegah siapapun memasuki kota, dan untuk mencegat pemberontak berusaha untuk melarikan diri.

Selain itu, pencitraan di atas kepala digunakan untuk mempersiapkan peta kota yang digunakan oleh para penyerang. Unit Amerika ditambah dengan penerjemah Irak untuk membantu mereka dalam pertarungan yang direncanakan. Setelah berminggu-minggu menahan serangan udara dan pembomanartileri, para militan yang bersembunyi di kota tampaknya rentan terhadap serangan langsung.

Pasukan AS, Irak dan Inggris berjumlah sekitar 13.500. AS telah mengumpulkan sekitar 6.500 Marinir dan 1.500 prajurit Angkatan Darat yang akan mengambil bagian dalam serangan dengan sekitar 2.500 personel Angkatan Laut dalam peran pendukung. Tentara AS dikelompokkan dalam dua tim: Tim Tempur Resimen 1 danTim Tempur Resimen 7. Sekitar 2.000 tentara Irak diperbantukandalam serangan itu.  Semua itu didukung oleh pesawat dan Marinir AS dan batalion artileri Angkatan Darat AS.

 Pasukan Pemberontak

Pada bulan April, Fallujah dipertahankan oleh sekitar 500 pemberontak "hardcore" dan 2.000 lebih pemberontak "paruh waktu". Pada bulan November diperkirakan bahwa jumlah tersebut telah menjadi dua kali lipat. Perkiraan lain menyebutkan bahwa jumlah pemberontak adalah 3.000;namun sejumlah pemimpin pemberontak telah melarikan diri sebelum serangan tersebut. Pada saat serangan di Fallujah pada bulan November 2004, jumlah pemberontak di kota itu diperkirakan sekitar 3.000 hingga 4.000.

Para pemberontak Irak dan mujahidin asing yang berada di kota itu menyiapkan benteng pertahanan untukmengantisipasi serangan yang akan datang. Mereka menggali terowongan, parit, menyiapkan lubang laba-laba, dan membuat dan menyembunyikan berbagai jenis IED. Di beberapa lokasi mereka mengisi interior rumah yang tersembunyi dengan sejumlah besar botol propana, drum-drum bensin, dan persenjataan, semuanyatersambung kabel dengan pemicu remote yang bisa diaktifkan oleh seorang pemberontak ketika pasukan memasuki bangunan tersebut. Mereka memblokir jalan-jalan dengan hambatan Jersey dan bahkan menempatkannya di dalam rumah untuk membuat titik-titik yang kuat di belakang yangmana mereka bisa menyerang pasukan yang diduga akan memasuki bangunan tersebut. Pemberontak dilengkapi dengan berbagai senjata ringan yang canggih, dan telah menggunakan berbagai persenjataan AS, termasuk M14, M16, pelindung tubuh, seragam dan helm.

Mereka memasang jebakan pada bangunan dan kendaraan, termasuk menghubungkan pintu dan jendela dengan granat dan persenjataan lainnya. Mengantisipasi taktik AS untuk merebut atap bangunan tinggi, mereka memasang tangga yang menghubungkan atap banyak bangunan, untuk membuat jalan masuk ke medan tembak yang disiapkan yang mereka harapkan pasukan koalisi akan memasukinya.

Briefing intelijen yang diberikan sebelum pertempuran melaporkan bahwa pasukan koalisi akan menghadapi kombatan dari Chechnya, Filipina, Arab, Iran, Libya, dan Suriah, serta asli Irak.

 Keberadaan Rakyat Sipil

Sementara itu, sebagian besar penduduk sipil Fallujah meninggalkan kota itu, sehingga sangat mengurangi potensi korban non-kombatan. Para pejabat militer AS memperkirakan bahwa 70-90% dari 300.000 warga sipil di kota itu mengungsi sebelum serangan tersebut.

Jalannya Pertempuran

Operasi darat dimulai pada malam tanggal 7 November 2004. Menyerang dari barat dan selatan, Batalion Komandoke-36  Irak dengan dibantu beberapa satuan pasukan AS, menduduki Rumah Sakit Umum Fallujah dan desa-desa di seberang Sungai Efrat di sepanjang tepi barat Fallujah.Pasukan dari Batalion 1, Marinir  ke-3 menembakkan mortar 81mm dalam sebuah operasi di Fallujah selatan. Unit yang sama, yang beroperasi di bawah komando Korp Angkatan Darat AS III, kemudian pindah ke bagian barat mendekat ke kota dan mengamankan jembatan Jurf Kas Sukr. Serangan-serangan awal ini, bagaimanapun, adalah operasi yang dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dan membingungkan pemberontak yang menduduki kota.

Setelah Navy Seabees dari NMCB 23 di gardu yang terletak tepat sebelah timur laut dari kota mematikan daya listrik ke kota, dua Tim Tempur Resimen Marinir, yaitu Resimen Combat Team 1 (RCT-1) dan Resimen Combat Team 7 (RCT-7) meluncurkan serangan di sepanjang sisi utara kota. Mereka dibantu oleh dua unit batalion berukuran besar Angkatan Darat AS, Batalion ke-2, Resimen Kavaleri 7, dan Batalion 2, Resimen Infanteri ke-2 (Mekanik).Kedua batalion diikuti oleh empat batalion infantri yang bertugas membersihkan bangunan yang tersisa. Angkatan Darat mekanik Brigade Kedua, Divisi Kavaleri Pertama, ditambah dengan kedua Batalion Reconnaissance Marinir dan, selama beberapa hari, Batalion 1, Resimen Infanteri ke-5, ditugaskan untuk mengepung kota. Batalion 1 Angkatan Darat Inggris, Black Watch berpatroli di jalan raya utama ke timur. RCT itu telah ditambah dengan tiga 6-man SEAL Sniper Tim dari Naval Special Warfare Task Group-Tengah dan satu peleton dari Recon 1 memberikan penyelidikan lanjutan dan pengawasan seluruh operasi.

Keenam batalion Angkatan Darat, Mariner and pasukan Irak, bergerak di bawah lindungan kegelapan, memulai serangan pada dini hari tanggal 8 November 2004 yang telah disiapkan oleh serangan artileri intens dan serangn udara. Hal ini diikuti oleh serangan terhadap stasiun kereta api utama yang kemudian digunakan sebagai titik pementasan untuk pasukan bertindak. Pada sore itu, di bawah perlindungan serangan udara intens, Marinir memasuki distrik Hay Naib al-Dubat dan al-Naziza. Marinir diikuti oleh Angkatan Laut Seabees dari NMCB 4 dan NMCB 23 membuldoser jalan-jalan untuk membersihkan puing-puing dari pemboman pagi itu. Tak lama setelah malam tiba pada 9 November 2004, Marinir dilaporkan telah mencapai Tahap Jalur Fran di Highway 10 di pusat kota.

Batalion Marinir menderita 19 tewas dalam tugas, salah satu meninggal karena luka pada tahun 2012 dan, 245 terluka dalam operasi itu.

Sementara sebagian besar pertempuran mereda pada 13 November 2004, Marinir AS terus menghadapi perlawanan terisolasi dari pemberontak yang bersembunyi di seluruh kota. Pada 16 November 2004, setelah sembilan hari pertempuran, komando Marinir menjelaskan aksi tersebut sebagai pembersihan kantong-kantong perlawanan. Pertempuran sporadis berlanjut sampai dengan 23 Desember 2004.

Meskipun sukses, pertempuran itu bukan tanpa kontroversi. Pada tanggal 16 November 2004, NBC News menayangkan rekaman yang menunjukkan Marinir AS, menewaskan seorang pejuang Irak yang terluka. Dalam video ini, Marinir terdengar mengklaim bahwa orang Irak itu "bermain possum". Penyelidik Angkatan Laut AS NCIS kemudian menetapkan bahwa Marinir bertindak untuk membela diri.

Pada akhir Januari 2005, laporan berita mengindikasikan unit tempur AS meninggalkan daerah itu, dan membantu penduduk setempat untuk kembali ke kota yang sekarang rusak berat.

Pandangan tentang kemenangan AS di Irak

Jatuhnya Fallujah ke kelompok perlawanan Sunni kembali memunculkan pertanyaan apakah AS telah memenangkan perang Irak? Publik Amerika sendiri juga menanyakan hal tersebut. Fred Kaplanmenulis sebuah artikel yang diberi judul “Did We Win the Irak War?” (Apakah Kita Memenangkan Perang Irak?).[16] Dalam artikel tersebut Kaplan menuliskan “Saat pasukan terakhir Amerika meninggalkan Irak (sebuah frase yang luar biasa, banyak sekali yang meragukan akan pernah diucapkan), dua pertanyaan muncul dalam pikiran: Apakah perang ini layak? Dan apakah kita, dalam arti apapun, menangkannya?”

Dua pertanyaan itu, tentu saja, terkait. Yang pertama menyangkut biaya, yang kedua tentang manfaatnya. Tapi bagaimanapun dilakukan perhitungan atasnya, jelas bahwa keputusan untuk menyerang Irak adalah kesalahan strategis utama dan bahwa kebijakan yang ditempuh pada bulan-bulan awal pendudukan berujung blunder yang menjadi bencana.[17]

Chris Hable Gray dalam artikelnya menyatakan bahwa Amerika tidak memenangkan perang Irak karena telah kalah dalam 5 hal.[18] Kelima hal tersebut adalah sebagai berikut.

  1. Kekalahan pertama: Senjata pemusnah massal

Senjata pemusnah massal itu ternyata tidak ditemukan. Saddam telah menipu AS.Peluncuran doktrin yang mengijinkan perang, bahwa AS dapat menyerang seseorang jika "mengetahui" mereka adalah ancaman, telah terungkap sebagai kekeliruan total.Meskipun AS memiliki anggaran militer yang sama dengan annggaran seluruh dunia digabungkan, hal itu tidak bisa menaklukkan dan menduduki negara-negara seperti Irak dengan mudah, jika tidak sama sekali.

  1. Kekalahan kedua: Al-Qaeda

Satu-satunya Kehadiran Al Qaeda yang signifikan di Irak sebelum invasi AS a dalahdi zona Kurdi yang dilindungi AS. Saddam dan Al Qaeda adalah sama-sama musuh. Serangan AS tidak hanya menyebabkan ekspansi yang luar biasa dari Al Qaeda di Irak tetapi juga memberi energi Al Qaeda dan pendukungnya di seluruh dunia. Mengontrol Irak, dengan penduduk yang mayoritas Syiah, tidak pernah menjadi tujuan utama Al Qaeda. Perang Irak telah menjadi momen yang baik untuk merekrut, sangat baik untuk membunuh orang Amerika (lebih dari 4.000), sangat baik untuk menyakiti dukungan dan simpati bagi AS di kalangan orang Arab dan dunia, dan fantastis untuk mengalihkan perhatian AS dari Afghanistan dan Pakistan, yang merupakan  target utama Al Qaeda.

  1. Kekalahan ketiga: Irak sebagai basis politik-minyak

Hal ini mungkin merupakan alasan yang nyata bagi invasi AS, tetapi setiap mimpi sukses disini telah meninggal beberapa tahun yang lalu, meskipun kekuatan invasi terus membangun "pangkalan permanen". Setelah semua itu, masih ada miliaran yang akan dibuat di dalam negera itu. Tapi pertempuran tidak akan berhenti sampai AS meninggalkan bahkan jika Doktrin Carter menyatakan AS memiliki hak untuk menyita minyak Timur Tengah,pengambilan khusus ini tidak akan terjadi. Mimpi McCain bahwa pasukan AS di sana selama 100 tahun, pencanangan nasib Irak sebagai negara klien, tidak akan terwujud.

  1. Kekalahan keempat: Mengisolasi Iran

Iran adalah pemenang besar kedua, setelah Al Qaeda, dalam "Perang Melawan Teror" AS, khususnya invasi ke Irak. Musuh utama Iran, Saddam, telah digantikan dengan rezim yang didominasi Syiah yang sangat dekat dengan Iran. Perang yang sedang berlangsung di Afghanistan dan ketidakstabilan di Pakistan membuat Iran menjadi negara yang dominan di wilayah tersebut dan akan tetap seperti itu di masa mendatang.

  1. Kekalahan Kelima Hadiah demokrasi ke Irak

Anda tidak bisa memberikan demokrasi kepada siapa pun. menghentikan pemberontakan Sunni (alasan utama dalam serangan ini adalah suatu suatu "kesuksesan") adalah strategi yang baik untuk mencapai stabilitas sementara, tetapi jangan dianggapsebagai kemenangan. Irak juga dapat mencapai demokrasi yang berfungsi akhirnya, tetapi hanya setelah AS meninggalkannya. Bahwa mayoritas rakyat Irak menginginkan AS keluar.

Kemenangan kelompok Jihadi di Fallujah saat ini

Bagaimana kelompok Jihadi yang dimotori oleh ISIS setidaknya untuk sementara mendapatkan kemenagan di Fallujah saat ini, sementara AS mengklaim telah memenangkan perang di Irak dan kemudian menarik pasukan pada tahun 2011? Untuk menjawab pertanyaan ini menarik untuk dicermati Perspektif CTC yang ditulis oleh Brian Fishman dan dipublikasikan pada tanggal 10 Januari 2014.[19] Dalam artikel tersebut Brian memberikan analisis tentang 3 faktor kunci yang meyebabkan ISIS dapat menguasai Fallujah.

Pertama, al-Qa`ida di Irak tidak selemah seperti yang sering digambarkan menyusul  serangan AS dan Kebangkitan Sunni (Gerakan Sahwa) pada tahun 2007, sehingga gaungnya tidak sedramatis dengan apa yang cenderung media gambarkan. Kedua, keberhasilan ISIS tetap sangat tergantung pada dukungan atau persetujuan suku-suku terhadap aktivitasnya, sehingga kebangkitan tersebut adalah lebih banyak tentang konteks politik Irak daripada tentang kelompok itu sendiri. Ketiga, ekspansi ISIS di Suriah -yang hal itu didasarkan pada ketahanan organisasi itu sendiri di Irak menyusul serangan tersebut- telah memberikan platform yang luar biasa untuk merekrut, melatih, dan menggalang dana dengan cara yang memposisikan kelompok itu  baik untuk mengisi maupun untuk mengeksploitasi ketegangan sektarian di Irak.[20] Lebih lanjut Brian memberikan analisisnya sebagai berikut.

Serangan AS di Irak mulai tahun 2003 berbarengan dengan Kebangkitan Sunni (gerakan Sahwa) sangat merusak apa yang kemudian disebut sebagai Negara Islam Irak (ISI). Pejuang-pejuang suku yang telah bekerja sama dengan kelompok itu berbalik dan tampaknya ingin membangun akomodasi dengan pemerintah Irak yang dipimpin syiah. Pasukan Operasi Khusus AS mengacaukan komunikasi ISI dan kepemimpinannya. Pasukan AS dan Irak menetap di kota-kota untuk menyediakan keamanan yang diperlukan untuk membangun kembali kepercayaan dan sedikit kehidupan normal.

ISI beradaptasi dengan mengeser operasi keluar dari jantung Sunni Irak dan mencari patron lokal yang akan mentolerir kelompok itu dan sikap ekstremisme-nya. Kebanyakan patron yang demikian sedang menghadapi suatu konflik sosial yang ada, dan menghitung bahwa merangkul ISI merupakan keterlibatan timbak-balik yang layak. Strategi ISI ini adalah yang paling sukses di dalam dan sekitar Mosul, di mana konflik antara Kurdi dan Sunni Arab memburuk setelah kekerasan surut di Provinsi Anbar. ISI mampu menggunakan kondisi itu untuk membenarkan diri sendiri.

ISI selalu sangat menyatu dengan kelompok-kelompok suku di Provinsi Anbar, yang sebagian membuatnya begitu rentan terhadap Kebangkitan Anbar. Konteks sosial dan politik di sekitar Mosul memberikan persembunyian yang aman bagi ISI setelah kemunduran mereka. Konteks sosio-politik ini adalah kunci untuk memahami kembalinya ISIS ke Fallujah.

Di Anbar, frustasi suku-suku terhadap pemerintah Irak bukanlah sesuatu yang baru. Apapun niatnya, Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki belum secara efektif mengintegrasikan kelompok suku Sunni ke dalam pemerintah Irak. Hal yang baru sejak 2013 adalah bahwa beberapa dari suku-suku itu sekarang menghitung bahwa kehadiran lagi al-Qa`ida dan momok kekerasan meningkatkan kepentingan mereka berhadapan dengan negara Irak. Suku-suku itu mungkin tidak sepenuhnya menerima ideologi al-Qa`ida, tetapi mereka memahami politik Machiavellian pada kulit  terluarnya.

Hal itu berbeda karena ia menunjukkan bahwa jika angin politik bergeser, posisi ISIS mungkin lebih berbahaya daripada yang ditunjukkan berita-berita utama. Tetapi hal itu tetap merupakan "Pakistanisasi" politik Irak, di mana aktor politik yang seolah-olah sah memanipulasi militan yang menguntungkan posisi politik mereka dengan pihak ketiga. Suku-suku Anbari tentu bukan kelompok pertama, bahkan di Irak, untuk membuat perhitungan seperti itu, pemimpin politik syiah Moqtada al-Sadr memainkan politik yang serupa pada 2004-2008. Namun strategi ini sering menjadi bumerang -seringkali karena memberdayakan aktor militan tak terkendali - dan hampir pasti menjadi bumerang dalam kasus ini juga.[21]

 

Penutup

Kemenangan ISIS di Falujjah saat ini bisa menjadi titik awal untuk meluaskan kemenangan di seluruh Irak. Meskipun pasukan pemerintah Syiah Irak yang mendapat bantuan persenjataan dari AS berusaha berebut kembali Fallujah, tampaknya masih kesulitan untuk mendapatkan kontrol atas kota itu kembali. Bahkan beberapa operasi yang diperkirakan dilakukan oleh ISIS sudah menyentuh  Baghdad dan kota-kota sekitarnya sebagaimana diberitakan oleh media.Sindonews.com menuliskan berita sebagai berikut.

Sedikitnya tujuh orang tewas dan 30 lainnya terluka dalam tiga serangan bom mobil di dan sekitar ibukota Irak, Baghdad, Senin (3/2/2014). Demikian diungkapkan sumber kepolisian pada kantor berita Xinhua.

Serangan paling mematikan terjadi di tiga kota Mahmoudiyah, sekitar 30 km selatan Baghdad. Serangan itu dilakukan seorang pembom bunuh diri yang meledakkan mobil berisi bahan peledak di dekat pasar. Serangan ini menewaskan sedikitnya empat orang dan melukai 15 lainnya.

Bom mobil lain meledak di Distrik Baladiyat, di bagian timur Baghdad. Serangan ini menyebabkan dua orang tewas dan sembilan lainnya luka-luka. Bom mobil ketiga meledak di Distrik Hurriyah, sebelah utara Baghdad. Serangan ini menewaskan seorang warga sipil dan melukai enam orang lainnya.

Diperkirakan, jumlah korban tewas akan meningkat, mengingat banyaknya korban yang menderita luka parah akibat serangan ini. Irak telah menyaksikan kekerasan terburuk dalam beberapa tahun terakhir.[22]

Akankah kemenangan ISIS di Fallujah ini bagaikan fajar menyingsing yang menghantarkan bagi kemenangan di seluruh Irak ataukah akan tertutup mendung lagi? Biarlah waktu yang akan menjawabnya. (Rudi Azzam)



[1]LaporanBBC, Is Irak losing control of its biggest province?,lihathttp://www.bbc.co.uk/news/world-middle-east-25588623
[2]Laporan The Washington Post, Al-Qaeda-linked force capturesFallujah amid rise in violence in Irak,Lihat http://www.washingtonpost.com/world/al-qaeda-force-captures-fallujah-amid-rise-in-violence-in irak/2014/01/03/8abaeb2a-74aa-11e3-8def-a33011492df2_story.html

[3] Ibid

[4] Ibid

[5][5] Lihat halaman website pada alamat : http://www.roanoke.com/news/virginia/article_b44bb06e-ccc1-5202-8c09-f2564e3b26f7.html ,diakses pada 17 Februari 2014.

[6]Laporan editorial The Register-Guard, The fall of Fallujah, Al-Qaeda’s victory is painful for U.S. veterans, 11 Januari 2014, dimuat di website: http://www.registerguard.com/rg/opinion/30981476-78/fallujah-marines-irak-war-fall.html.csp, diakses pada tanggal 18 Februari 2014.

[7]Fall of Fallujah painful for family of killed US Marine, dimuat tanggal 10 Januari 2014 pada website: http://www.wbir.com/story/news/local/2014/01/10/marine-fallujah-morgan-strader/4422681/, diakses pada tanggal 18 Februari 2014.

[8] Sarah Parrott, Fall of Fallujah Spawns Febate Over Who Is To Blame, dimuat tanggal 9 januari 2014 pada website: http://www.webpronews.com/fall-of-fallujah-spawns-debate-over-who-is-to-blame-2014-01, diakses pada tanggal 18 Februari 2014.

[9] Wikipedia, Fallujah, http://en.wikipedia.org/wiki/Fallujah, diakses pada tanggal 19 Februari 2014.

[10]Naji Haraj,The US Treatment of Fallujah: the Fallujan View, May 2005.

[11]Amir Taheri adalah editor eksekutif harian Kayhan di Iran pada 1972-1979. Dia telah menulis untuk banyak publikasi yang berbeda, menerbitkan sebelas buku, dan telah menjadi kolumnis untuk Asharq Al-Awsat sejak tahun 1987. Pada tahun 2012 ia dinobatkan sebagai International Journalist of the Year oleh British Society of Editor dan Foreign Press Association di penghargaan Media Inggris tahunan.

[12] Amir Taheri, Fallujah: 2,500 years of WarsFrom Roman emperors and Sassanid kings to Al-Qaeda and ISIS, the city of Fallujah is no stranger to violence, http://www.aawsat.net/2014/01/article55327231, diakses pada tanggal 18 Februari 2014.

[13]Laporan editorial The Register-Guard, The fall of Fallujah, Al-Qaeda’s victory is painful for U.S. veterans, 11 Januari 2014, dimuat di website: http://www.registerguard.com/rg/opinion/30981476-78/fallujah-marines-irak-war-fall.html.csp, diakses pada tanggal 18 Februari 2014.

[14] Wikipedia, First Battle of Fallujah, http://en.wikipedia.org/wiki/First_Battle_of_Fallujah diakses pada 18 Februari 2014.

[15] Wikipedia, Second Battle of Fallujah, http://en.wikipedia.org/wiki/Second_Battle_of_Fallujah, diakses pada tanggal 18 Februari 2014.

[16]Fred Kaplan, Did We Win the Irak War?, dipublikasi tanggal 15 Desember 2011 pada alamat http://www.slate.com/articles/news_and_politics/war_stories/2011/12/irak_war_ends_did_the_u_s_win_.html, diakses pada 22 Februari 2014.

[17] Ibid

[18]Chris Hable Gray, Why The U.S. Can’t Win In Irak?, lihat pada alamat http://www.chrishablesgray.org/papers/LosingIrak.html, diakses pada tanggal 22 Februari 2014

[19]Brian Fishman, Perspective CTC: The Islamic State Returns to Fallujah, http://www.ctc.usma.edu/posts/ctc-perspective-the-islamic-state-returns-to-fallujah, diakses pada tanggal 24 Februari 2014.

[20] Ibid

[21] Ibid

[22]Sindonews.com,7 tewas, 30 terluka akibat serangan bom mobil di Baghdad, 3 Februari 2014, http://international.sindonews.com/read/2014/02/03/43/832523/7-tewas-30-terluka-akibat-serangan-bom-mobil-di-baghdad, diakses pada 24 Februari 2014.