AWAN GELAP DI ALEPPO

28 February 2014

Jihad Suriah telah memasuki fasenya yang baru, sebagaimana fase jihad yang pernah berlangsung di negara-negara lain sebelumnya, di Afghanistan era 90-an dan di Irak era 2006-an. Jika aksi damai rakyat Suriah, yang umumnya lantaran protes terhadap kasus anak-anak usia SD yang menuliskan kata-kata revolusi yang sering mereka saksikan dilakukan oleh anak-anak seusia mereka di negara Arab, lalu ditanggapi dengan timah panas dapat dianggap sebagai fase awal pra-jihad atau persiapan jihad. Kemudian diikuti dengan aksi-aksi jihad melawan rezim Syiah Nushairiyah yang dilakukan hampir oleh sebagian besar rakyat Suriah, dari lapisan rakyat biasa hingga para pejabat dan petinggi militernya, dan juga dari kalangan aktifis Islam yang memang sudah lama menantikan ‘kemerdekaan’ hingga kelompok nasionalis, bahkan liberalis, sebagai fase kedua. Maka saat ini, fase baru, fase yang ketiga, merupakan fase bentrokan antara sesama pejuang. Mereka yang dahulu seluruhnya sepakat untuk hanya mengarahkan moncong senjata mereka kepada rezim dan pendukungnya, kini telah mulai mengarahkannya pada sesama mereka. Mereka yang dahulu bisa duduk mesra untuk merencanakan penyerangan bersama terhadap rezim, kini telah saling merebut markas-markas dan tempat-tempat checkpoint. Dan mereka yang dahulu mereka bahagia dengan kedatangan ‘saudara’ muhajirin mereka, kini sudah mulai menganggap mereka sebagai ancaman. Inilah wajah baru fase jihad kini. Dalam pemberitaannya mengenai konflik ini, media seakan-akan mengesankan bahwa konflik tersebut mengerucut pada pemicu konflik yaitu Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS).

Secara garis besar, ada dua pendapat yang menjelaskan penyebab mengapa konflik internal ini terjadi. Pendapat pertama, karena kesalahan langkah strategi dan kebijakan yang diambil oleh ISIS dalam beberapa permasalahan, sikap ISIS yang agak keras dalam menerapkan syariat Islam, dan keengganan ISIS untuk menyelesaikan masalah tersebut pada mahkamah bersama atau mahkamah independen. Pendapat kedua, konflik tersebut terjadi disebabkan konspirasi internasional terhadap gerakan jihad global, terkhusus pada ISIS, kelompok jihadi yang bermanhaj Al-Qaidah meskipun tidak berafiliasi langsung padanya, meski tanpa menafikan beberapa kasus kesalahan dan kesalahpahaman ISIS dengan kelompok-kelompok lainnya. Isu pertikaian antara sesama jihadi dijadikan tangga untuk menyerang kelompok jihad Islam yang terkuat, kemudian menyerang kelompok jihad islam secara keseluruhan. Tujuan utama konspirasi ini adalah untuk menyematkan label ‘teroris’ pada gerakan jihadi Islam di Suriah, selain juga untuk mengamankan rencana pembentukan negara Syiah Nushairiyah yang menguasai wilayah-wilayah pesisir (yang memasukkan propinsi-propinsi: Homs, Hama, Idlib, Latakia, Liwa’ Iskandarun, Thurthus, Damaskus, dan Quneitra). Dengan demikian, Ahlus Sunnah di Suriah akan dikepung oleh negara-negara Syiah, Syiah Rafidhah Irak di sebelah timur dan Syiah Nushairiyah di sebelah Barat.

Di kalangan jihadi, isu-isu ini mulai terangkat luas ke permukaan ketika Dr. Yusuf Al-Ahmad menulis sebuah surat terbuka kepada Abu Bakar Al-Baghdadi dan Hassan Abbud secara khusus, kemudian kepada para pejuang di Suriah, yang intinya untuk mengakhiri pertikaian dan bentrokan berdarah antara sesama pejuang pada umumnya, terkhusus sesama jihadis, dan usulan untuk membentuk Dewan Syariat yang mengikat seluruh kelompok-kelompok pejuang. Dengan berbagai interpretasi, ide Dr. Yusuf Al-Ahmad ini mendapat pro dan kontra. Kemudian dilanjuti oleh Dr. Abdullah Al-Muhaisini dengan Mubaadarah Al-Ummah-nya yang pada intinya hampir sama dengan ide Dr. Yusuf Al-Ahmad, yaitu berupa ajakan untuk menghentikan adu tembak dan segera untuk membentuk Dewan Syariat Independen untuk mengadili peristiwa-peristiwa tersebut. Meski tidak dinafikan, bahwa media-media mainstream anti-jihadi justru lebih dominan untuk menyebarkan dan membebarkan konflik internal jihadi tersebut, yang sering kali lebih fokuskan kepada konflik pejuang oposisi dan Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS).

Aleppo, itulah nama provinsi tempat terjadinya fase baru jihad ini. Kota yang dalam bahasa Arab dikenal dengan Halab ini, telah menjadi saksi bisu atas berbagai peristiwa itu semua. Lantaran peristiwa di sana yang terjadi akhir-akhir inilah, para ulama jihadi dan pro proyek Daulah Islamiyah dan Khilafah Islamiyah memberikan  arahan-arahan mereka. Mulai dari pimpinan Al-Qaidah pusat Dr. Aiman Azh-Zhawahiri, pimpinan Jabhah Nushrah yang merupakan cabang resmi Al-Qaidah di Syam, Abu Muhammad Al-Julani, pimpinan dan juru bicara Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) yang dikenal memiliki link dengan Al-Qaidah, Abu Bakar Al-Baghdadi dan Abu Muhammad Al-‘Adnani, ulama jihadi yang berada dalam pelarian seperti Abu Bashir Ath-Thurthusi dan Husein bin Mahmud, dan ulama jihadi yang sedang mendekam dalam jeruji besi seperti Abu Muhammad Al-Maqdisi dan Abu Qatadah Al-Filishthini, hingga beberapa pengamat dan peneliti pergerakan Islam seperti Dr. Akram Hijazi, Dr. Hani As-Siba’i, dan Dr. Iyad Qunaibi.

MENGGESER MUSUH BERSAMA

Bagi intelijen AS, Suriah adalah problem from hell. Komunitas intelijen AS memperkirakan jumlah pasukan pemberontak dalam perang sipil Suriah sejumlah 110.000 pejuang anti-pemerintah yang terpisah dalam 1.600 kelompok, dimana 7.000 diantaranya adalah foreign fighters dari 50 negara. Dalam dengar pendapat di depan Senat AS, kepala intelijen AS, James Clapper, menambahkan bahwa 26.000 pejuang bergabung dengan ISIS dan Jabhat al-Nusrah, kelompok yang menurut mereka ekstrim. Clapper mendeskripsikan Suriah sebagai “magnet besar bagi para ekstrimis” dan menyamakannya dengan wilayah kesukuan di wilayah Pakistan yang saat ini diduga menjadi tempat perlindungan bagi Al Qaidah. Kondisi tersebut, menurut Clapper, membuat harapan perdamaian tidak akan bisa dibayangkan di masa depan.

Suriah dianggap sebagai peluang emas bagi Al Qaidah, momen kebangkitan setelah bertahun-tahun dianggap melemah oleh AS. Karena itu, AS berupaya dengan sekuat tenaga untuk menghentikan laju ini. Setelah selama ini mengambil kebijakan abstain dan hanya membatasi bantuan dalam bentuk non-lethal aid, kini mereka mencoba meningkatkan agresivitas dengan memberikan bantuan persenjataan kepada kelompok oposisi moderat, baik secara langsung maupun melalui tangan sekutunya di Timur Tengah, Arab Saudi dan Qatar. Sasarannya bukan Assad, rezim diktator yang telah membantai ratusan ribu rakyatnya sendiri, yang sejak awal resolusi dianggap sebagai musuh yang harus ditumbangkan. Namun, pasokan senjata tersebut justru digunakan untuk menghadang kelompok jihadi yang dianggap sebagai ancaman sesungguhnya bagi AS.

Kekhawatiran AS diwakili oleh ungkapan John Kerry,Menteri Luar Negeri AS, yang menganggap bahwa aksi-aksi Bashar Assad justru menjadikannya sebagai magnet bagi tumbuhnya terorisme. Bukan aksi Assad yang dia kecam, namun efek dari aksi tersebut yang berpotensi menjadi lahan subur bagi tumbuhnya kelompok radikal. Dalam sebuah pertemuan tertutup, dua orang senator AS menceritakan tentang pengakuan John Kerry, bahwa kebijakan pemerintah AS soal Suriah selama ini telah gagal. “Sekarang saatnya untuk mempersenjatai kelompok oposisi moderat, sebelum pejuang Al Qaidah mencoba untuk menyerang AS,” kata Kerry.[1] Pernyataan tersebut dikuatkan oleh pengakuan Senator Lindsay Graham mengutip pernyataan Kerry dalam pertemuan tersebut, “Kerry secara terbuka berbicara tentang dukungan persenjataan kepada para pemberontak. Dia juga secara terbuka berbicara tentang pembentukan sebuah koalisi untuk melawan Al Qaidah, karena mereka adalah ancaman langsung.”[2] Graham juga menambahkan bahwa “pada akhirnya kita harus memerangi Al Qaidah. Bagi saya, pilihannya tinggal: apakah kita akan menyerang mereka setelah mereka memukul kita, ataukah kita menyerang mereka sebelum mereka memukul kita?”[3]

Bagi Kerry, tumbuhnya ektrimisme di Suriah mengancam kestabilan di wilayah Timur Tengah. “Itulah mengapa semua pihak mempunyai pertaruhan. Seluruh negara Teluk, aktor-aktor regional, Rusia, dan AS dan juga banyak pihak lain di belahan dunia lainnya bertaruh untuk memukul mundur teroris yang tidak menghargai hukum, tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mengambil alih kekuasaan dan mengacaukan kehidupan dengan kekuatan.”[4]

Rencana itu mulai berjalan, Washington secara diam-diam telah mendukung langkah Arab Saudi dan Qatar untuk memberikan senjata dan uang tunai kepada kelompok pemberontak untuk melawan Daulah Islam Irak dan Syam (ISIS) di Suriah. Bahkan, Amerika sendiri yang membagi-bagikan jutaan dolar untuk kelompok pemberontak yang paling siap untuk melawan ISIS.

Perkembangan tersebut menandai fase baru dalam konflik, dimana para pendukung internasional bekerja secara langsung dengan beberapa komandan pemberontak untuk menyerang sel-sel Al Qaidah, yang dipandang sebagai ancaman utama oleh badan-badan intelijen Barat. Sel-sel tersebut seperti faksi ISIS dan Jabhah Nusrah. Bahkan, salah seorang komandan kelompok pemberontak yang berafiliasi dengan Supreme Military Council (SMC) mengatakan bahwa “setiap orang menawarkan kami dana untuk melawan mereka. Kami dulu tidak memiliki senjata yang dapat digunakan untuk melawan rezim, tapi sekarang stok penuh.”[5] Para pemberontak di wilayah utara Suriah awalnya berencana melakukan serangan atas ISIS pada musim semi nanti, namun rencana tersebut dipercepat karena ISIS semakin dekat menguasai kota-kota strategis.

Pertempuran melawan ISIS, yang dimulai awal Januari 2014 lalu telah menewaskan lebih dari 1.000 jiwa. Aksi ini disebut-sebut oleh para komandan lokal sebagai reaksi spontan terhadap serentetan pembunuhan rekan mereka oleh ISIS. Namun, Telegraph mengungkapkan bahwa pada akhir Desember, sebuah delegasi dari AS dan pejabat Saudi bertemu di Turki dengan pemimpin pemberontak senior. Menurut salah seorang sumber yang mempunyai saudara yang hadir dalam pertemuan tersebut, “Mereka berbicara tentang pertempuran dengan ISIS, dan Amerika mendorong para komandan untuk menyerang.”[6]

Syrian Revolutionary Front (SRF), dimana komandan utamanya, Jamal Maarouf, bersekutu dengan Arab Saudi, dan Jaisyul Islam, sebuah koalisi baru dari pemberontak moderat yang disponsori oleh Qatar, terus bekerja sama dengan CIA dan intelijen Saudi serta Qatar. Bahkan Jamal Maarouf bersama dengan pasukannya bersumpah untuk menyingkirkan ISIS dari Suriah, "Hari ini ISIS, esok Assad... Setiap orang yang mempunyai agenda asing, atau yang didorong atau dibayar oleh pihak luar, yang datang untuk memenuhi tujuan luarnya atau untuk menindas penduduk Suriah atau datang untuk mencuri revolusi ini, maka kami akan berdiri di hadapannya, sebagaimana kami berdiri di hadapan Assad."[7]

Jamaal Maarouf adalah mantan tentara Bashar yang kemudian membelot dan bergabung dengan kelompok oposisi. Sebelum dipilih sebagai pemimpin SRF, dia pernah menjadi pemimpin Brigade Syuhada Suriah. Menurut sebuah laporan dari European Council of Foreign Relations, citra Maarouf sebelumnya cukup buruk di mata para pejuang kelompok oposisi. Menurut mereka, Maarouf tak lebih dari seorang showman dan warlord, bukan seorang pejuang. Berulangkali berjanji ikut dalam pertempuran, yang dengannya dia mendapatkan dana dari para sponsor (terutama Arab Saudi), kemudian mundur seteleh pertempuran berlangsung dan setelah dia berhasil mendapatkan gambar yang cukup untuk diupload di Youtube. Dengan begitu, dia berharap popularitas kelompoknya meningkat meski pada kenyataannya dia tidak terlibat dalam pertempuran. Keluhan atas sikap Jamal Maarouf cukup merata di kalangan para pejuang Suriah. Bahkan banyak koleganya yang memanggil dia dengan julukan Jamal Makhlouf, nama sepupu Assad yang terkenal memonopoli bisnis di Suriah melalui korupsi dan nepotisme.[8]

Kelompok-kelompok moderat yang digalang untuk memerangi ISIS biasanya menerima bantuan dalam bentuk pasokan senjata. Menurut sumber yang memfasilitasi bantuan beberapa negara—baik berupa bantuan yang tidak mematikan maupun bantuan yang mematikan—kepada kelompok yang berkawan dengan Barat: “Qatar yang pertama kali mengirim senjata. Arab Saudi tidak ingin ketinggalan, sehingga satu minggu sebelum serangan terhadap ISIS, mereka memberikan  80 ton persenjataan, termasuk senapan mesin berat.” Seorang warga yang tinggal dekat dengan markas Jaisyul Islam dan SRF di provinsi Idlib Suriah mengatakan ia melihat 15 truk “penuh dengan senjata pergi ke basement.” Washington tidak secara langsung memberikan senjata, katanya, tetapi mereka mendukung Arab Saudi dalam pendanaan kelompok tersebut. Arab Saudi telah mengeluarkan dana  senilai $1 milyar untuk dibelikan senjata dari Eropa dan dikirim ke Suriah. Amerika Serikat juga telah memberikan $2 juta dalam bentuk kas setiap bulan sebagai bentuk bantuan tidak resmi, yang dibagikan kepada sejumlah kelompok pemberontak yang “ramah” pada Barat. Selain itu, AS juga telah memberikan subsidi $35,1 juta untuk menggaji 70.000 pejuang dengan gaji $50/bulan.[9]

Komandan senior pada kedua kelompok tersebut menegaskan bahwa mereka telah menerima sejumlah dana, namun menolak untuk mengatakan apakah itu khusus untuk tujuan menyerang ISIS. Mereka khawatir sedang dibandingkan dengan apa yang disebut “Sahwa” tahun 2006 di Irak, ketika militer AS mendorong mantan pemberontak untuk memberontak terhadap sekutu Al Qaidah mereka, karena banyak kelompok-kelompok Islam di Suriah menganggap bahwa istilah tersebut cenderung menyudutkan.

Tak hanya itu, usaha untuk menghadang laju ISIS dan kelompok radikal lainnya juga terus berlanjut. Pada tanggal 12 Februari 2014, kelompok oposisi moderat mengeluarkan semacam rencana Suriah pasca perang yang salah satu titik tekan utamanya adalah menyingkirkan seluruh kelompok militer eksternal dan foreign fighters dari seluruh wilayah Suriah.[10] Oleh AS, rencana tersebut dianggap sebagai bukti keseriusan kelompok oposisi. “Mereka terus membuat sketsa visi mereka tentang masa depan Suriah dan kami memuji mereka untuk itu.”[11]

Di wilayah selatan, mereka membentuk organisasi baru dengan fungsi yang sama dengan Syrian Revolution Front (SRF) di wilayah utara. Nama yang dipakai adalah “Southern Front”, yang terdiri dari 49 faksi. Dalam pernyataan resmi mereka, mereka menekankan sebagai “perwakilan suara moderat dan kekuatan persenjataan yang kuat dari rakyat Suriah; dan bertempur untuk membebaskan Suriah dari tirani dan para ekstrimis.”[12]

Usaha dunia internasional yang berusaha untuk menggeser tokoh antagonis, dari yang awalnya adalah rezim Bashar Assad, kini mencoba membidikkannya kepada para jihadis. Usaha-usaha untuk mencapai kesepakatan di Jenewa mentah, kecuali dalam satu hal, bahwa seluruh foreign fighters harus diusir dari Suriah dan seluruh kelompok radikal harus diperangi bersama. Usaha tersebut akhirnya berujung pada keluarnya Resolusi Dewan Keamanan PBB no. 2139 pada tanggal 22 Februari 2014 yang secara spesifik diarahkan pada satu kelompok tertentu, meski dalam sebuah perang seluruh pihak yang berperang berpotensi melakukan pelanggaran. Resolusi secara tegas menyerukan kepada seluruh pihak, “baik otoritas Suriah maupun kelompok oposisi untuk berkomitmen memerangi dan mengalahkan organisasi dan individu yang berasosiasi dengan Al Qaidah, cabang-cabangnya, dan kelompok teroris lainnya.”[13]

Seolah mengulang strategi yang dulu sempat berhasil mengalahkan Al Qaidah di Irak, kini langkah serupa coba dilakukan AS dan sekutunya di Suriah. Hanya saja, jika di Irak banyak mengandalkan faktor-faktor kesukuan, yang memang masih cukup berpengaruh dalam kehidupan masyarakat Irak, di Suriah mereka mencoba menggunakan tangan kelompok oposisi dari kalangan moderat.

FITNAH ATAU KONSPIRASI?

Tampaknya, faktor utama konflik internal kelompok pejuang di Suriah saat ini adalah perbedaan pandangan mereka mengenai apakah konflik ini fintah atau sebuah konspirasi. Perbedaan cara pandang ini akan membuahkan konsekuensi yang juga berbeda. Pandangan bahwa konflik ini adalah fitnah akan bersekuensi bahwa pilihan jalan keluar dari pertikaian ini adalah adanya tahkiim, yang terwujud dalam suatu Dewan Syariah bersama maupun yang independen. Sementara pandangan bahwa ini merupakan konspirasi terhadap kelompok jihad akan membuahkan hasil bahwa permasalahan utama sebelum adanya tahkim adalah memastikan bahwa para penengah tersebut harus betul-betul bersih dari segala kepentingan selain dari proyek Islam. Dikhawatirkan dengan adanya tahkiim sebelum terwujudnya hal ini akan berdampak secara umum pada perubahan arah haluan dari proyek Islam itu sendiri, yang dalam hal ini untuk mendirikan Daulah Islam sebagai embrio terbentuknya Khilafah, sedangkah secara khusus pada kelompok-kelompok jihad.

Pandangan bahwa ini merupakan fitnah umumnya banyak dianut oleh para ulama dan pimpinan jihad. Dari pesan audio terakhirnya, jelas bahwa Abu Muhammad Al-Julani berpandangan seperti. Dalam pesan yang berdurasi lebih dari sembilan menit itu, Amir Jabhah Nushrah itu juga menjelaskan bahwa faktor menonjol yang semakin menguatkan terjadinya konflik internal tersebut adalah kesalahan strategi yang diambil oleh ISIS di lapangan. Selain itu, masih menurut Al-Julani, faktor lain yang menyebabkan hal itu adalah tidak terbentuknya Dewan Syariat yang menengahi dan menyelesaikan clash antara sesama kataaib dan fashaail. Contoh dari clash tersebut adalah penangkapan terhadap Amir JN di wilayah Raqqa yang ditangkap oleh ISIS.[14] Sayangnya, Al-Julani tidak menjelaskan lebih jauh secara detail kesalahan strategi tersebut. Barangkali strategi tersebut adalah penyerangan yang dilakukan ISIS terhadap kataaib dan fashaail yang menyerang beberapa markas dan basecamp mereka sebelumnya.

Selain Al-Julani, yang menyebutkan contoh clash tersebut adalah Hassan Abbuud, pimpinan umum Harakah Ahrar Syam. Abbud yang mempunyai nama panggilan Abu Abdillah Al-Hamawi menyebutkan beberapa contoh clash tersebut seperti kasus Abu Ubaidah Al-Binnisyi (penanggung jawab seksi bantuan Ahrar Syam), Muhammad Faris, dan Dr. Abu Rayyan.

Disamping pandangan bahwa konflik ini adalah fitnah, sering kali pandangan tersebut dibarengi dengan beberapa krikiran terhadap kesalahan-kesalahan jihadis, baik kritik itu berasal dari para pimpinan dan ulama jihadi yang langsung terjun di lapangan maupun yang berada di luar Suriah melalui berita yang disampaikan oleh orang yang mereka percayai. Beberapa pimpinan dan ulama jihadi menyebut beberapa kesalahan ISIS dan sebagian lagi tidak menyebutkan kelompok tertentu secara definitif, namun mayoritas pendukung jihadi menyematkannya pada ISIS.

Diantara ulama yang mengingatkan mengenai kesalahan tersebut adalah Abu Muhammad Al-Maqdisi. Ulama kelahiran Palestina yang mendapat julukan Ibnu Taimiyyah abad ini tersebut, berdasarkan berita yang disampaikan oleh orang yang dipercayainya, sangat bersedih dengan kabar kelompok jihadi tertentu yang membolehkan membunuh pejuang lain hanya berdasarkan praduga (Zhann), alasan-alasan yang tidak dibenarkan, dan sebab-sebab yang tidak mengizinkan bagi seorang Muslim untuk membunuh kafir musta’man, apalagi untuk membunuh seorang Muslim, terkhusus jihadis. Praduga tersebut seperti dakwaan memiliki koneksi dengan sebagian kelompok, atau dakwaan bahwa seseorang ikut berperang dengan shahawat (prajurit-prajurit bayaran musuh) atau prinsip ‘siapa yang tidak berperang bersamaku maka dia musuhku’, atau dakwaan seseorang dulu adalah bagian kelompok kami lalu melepaskan diri dari bai’at kepada kami, atau dakwaan mereka tidak berbai’at kepada kami.[15] Dakwaan lebih janggal lagi adalah seperti yang disampaikan oleh Jaisyul Mujahidin, kolompok pejuang yang terang-terangan memerangi ISIS. Mereka menyatakan bahwa sebab mereka memerangi ISIS adalah karena ISIS menumpahkan darah para jihadis, mengusir paksa mereka dan keluarga mereka dari wilayah-wilayah yang berhasil mereka bebaskan, mencuri mobil-mobil rakyat sipil dan merampas penghasilan mereka, juga menangkap para pimpinan militer, memenjarakan dan menyiksa mereka, serta membunuh mereka.[16] Selain ada juga yang menuduh ISIS adalah takfiiri yang mengafirkan kelompok di luar kelompoknya.

Anggapan Al-Maqdisi bahwa alasan sekelompok jihadi yang membolehkan personelnya untuk membunuh personel kelompok lain dengan dakwaan-dakwaan yang tersebut di atas, jika dimaksudkan kelompok adalah ISIS, adalah dakwaan yang tidak seluruhnya benar. Apalagi alasan-alasan yang disampaikan Jaisyul Mujahidin. Bagaimana mungkin, sebagaimana yang disampaikan oleh Abu Bakar Al-Baghdadi dalam pesan audionya terakhir, mereka (ISIS) yang sangat perhatian terhadap kesalamatan penduduk Syam dan satu-satunya faksi yang mengemban secara terang-terangan memerangi para kelompok pencuri, perampok, dan pembunuh (penduduk Syam) di tuduh sebagai pembunuh mereka dan pembuat kuburan masal buat mereka. Apakah logis, ketika ISIS memasuki suatu desa, kota, atau distrik kecuali pasti umat Islam di sana merasakan keamanan pada harta, jiwa, dan kehormatan mereka, serta kaburnya para pencuri, perampok dan para penjahat, dituduh menyababkan rasa takut pada umat Islam dan menghalalkan kehormatan mereka. Juga apakah tega, ISIS yang rela meninggalkan keluarga dan negeri mereka, lalu mempertaruhkan nyawa mereka dan menggadaikannya dengan sangat murah fi sabiilillah demi menerapkan syariat Allah di atas muka bumi, dituding sebagai taghut dan tidak mau berhukum dengan hukum Allah.[17] Atau sebagaimana yang ditulis oleh Husein bin Mahmud saat mengomentari pengakuan seseorang bahwa personel ISIS telah membelah perut seorang wanita yang sedang hamil lalu mengeluarkan janinnya, kemudian memanggal kepalanya. Husein menulis, “Tentara-tentara ISIS adalah orang-orang Islam yang berpemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Banyak diantara mereka dari kalangan penuntut ilmu, bahkan banyak diantara mereka yang hapal al-Quran seluruhnya. Mereka rela meninggalkan istri, anak-anak, dan orang tua mereka, lalu berangkat demi membela kaum wanita umat Islam dan kehormatan mereka. Apakah logis mereka membelah perut-perut wanita Muslimah dan membunuh janinnya? Mereka yang tidak membolehkan menampar pipi wanita kafir dalam rangka melazimi agama dan menjaga wibawa mereka, apakah logis mereka melakukan perbuatan itu?”[18] Meski beberapa Dewan Syariat ISIS mengaakui bahwa beberapa personel ISIS melakukan berbagai kesalahan dan ada diantara mereka yang bersifat ghuluw namun itu bakanlah kebijakan dari para komandan dan petinggi ISIS.[19]

Adapun pandangan bahwa konflik internal yang terjadi adalah konspirasi terhadap gerakan jihad global terkhusus terhadap proyek Daulah Islam dan Khilafah Islam, merupakan pandangan resmi dari ISIS.[20] Diantara ulama jihadi yang mendukung pendapat ini adalah Abu Sa’ad Al-‘Amili[21] (dewan penasehat majalah jihad online bulanan Al-Balaagh) dan Husein bin Mahmud.[22]

Hipotesis utama dari pandangan ini adalah bahwa setelah dideklarasikannya ISIS dengan menggabungkan Jabhah Nushrah dan Daulah Islam Irak (Islamaic State in Iraq, ISI), yang diikuti dengan sedikit ketegangan antara Al-Qaidah Pusat dengan afiliasi dan linknya, konflik pada tahapan ini belum terjadi. Segala sesuatu berjalan dengan baik dan lancar. Mujahidin terjun dalam berbagai peperangan, dari satu medan ke medan lainnya, tanpa problem apa pun. Antara sesama Brigade memiliki ruang-ruang operasi bersama. Seluruhnya bekerja dengan rapi dan sesuai kesepakatan.

Menurut analisa Husein bin Mahmud, awal benih konflik ini terjadi ketika berlangsungnya Ghazwu As-Saahil (Perang Wilayah Pesisir)[23], yang terjadi pada awal Agustus 2013 atau bertepatan sepuluh hari terakhir Ramadhan. Bagi jihadis, hari-hari ini  adalah  hari-hari dimana Allah akan melipat gandakan ibadah hamba-Nya, termasuk di dalamnya ibadah jihad. Lantaran alasan inilah barangkali nama lain dari perang tersebut mereka namakan dengan Ghazwu ‘Asyri Awaakhir (Perang Sepuluh Terakhir Ramadhan).

Mengenai wilayah-wilayah pesisir tersebut, Barat telah bersepakat dengan Syiah Rafidhah dan Nushairiyah berkaitan dengannya, yaitu mendirikan Negara Nushairiyah di Barat Suriah di sepanjang pesisir pantai yang memasukkan propinsi-propinsi: Homs, Hama, Idlib, Latakia, Liwa’ Iskandarun, Thurthus, Damaskus, dan Quneitra. Wilayah ini mengikat antara Irak dan Syam, dan menghalangi Ahlus Sunnah untuk memiliki perbatasan-perbatasan di wilayah pesisir atau perbatasan-perbatasan yang berdampingan dengan Palestina yang sedang terjajah. Dengan itu, Syiah Rafidhah dan Nushairiyah (juga tentara Mesir) dapat membentuk pagar untuk melindungi Israel, dan mengepung Ahlus Sunnah di Timur Laut Suriah diantara Irak yang Rafidha, Turki yang Liberal, dan Negara Nushairiyah Baru.[24]

Isu mengenai rencana pembentukan negara-negara baru akibat gelombang Arab Springs bukanlah suatu yang tersembunyi. Klasifikasi rencana pembentukan negara-negara tersebut yaitu berdasarkan sekte keagamaan atau kebangsaan dan kesukuan. Amerika sendiri telah merencanakan untuk membagi Suriah menjadi tiga negara, yaitu negara Sunni, negara Bangsa Kurdi, dan negara Syiah Nushairiyah.[25] Selain juga terdapat agenda pembentukan negara Syiah Raya yang dikenal dengan Hilal Syi’i (Bulan Sabit Syiah).

Namun ISIS berusaha menggagalkan agenda tersebut, lalu berangkat ke wilayah pesisir dan mulai membebaskan desa-desa Nushairiyah di sana dalam usaha merintangi secara terang-terang terhadap rencana-rencana Barat. Dari sini, sebagaimana dijelaskan Husein bin Mahmud, faksi-faksi yang pro-Barat dan anti proyek Daulah Islam dan Khilafah Islam lantas membunyikan sirine tanda bahaya dan meminta menggalang pembentukan pasukan dari negara-negara yang memiliki kepentingan dengah hal itu. Maka berkumpullah faksi-faksi tadi dengan negara-negara yang berkepentingan di Turki, Yordania, dan Riyadh untuk melakukan transaksi-transaksi dan mengajarkan berbagai konspirasi dan rencana-rencana yang harus diambil.

Negara-negara lain yang anti proyek Daulah Islam dan Khilafah Islam membentuk pemerintahan bayangan di luar Suriah dan menampilkan anggota-anggota pemerintahan bayangan ini di media. Anggota-anggota tadi lantas melakukan  berbagai konferensi, diberikan hak untuk mewakili rakyat Suriah, dan seterusnya, hingga pada pemilu-pemilu. Anehnya, pemerintahan bayangan yang terbentuk ini langsung diakui oleh bangsa Arab dan Non-Arab hanya selang beberapa hari. Meskipun pemerintahan itu tidak diterima oleh rakyat dan tidak memiliki tempat di bumi Suriah. Inilah rencana pertama mereka.

 Sementara rencana kedua yaitu menghentikan bantuan jihad di wilayah-wilayah yang dijanjikan untuk Syiah Nushairiyah. Hal itu telah sukses mereka lakukan setelah memberikan suatu ‘bantuan’ pada sebagian kelompok-kelompok pejuang. Namun mereka harus berhadapan dengan beberapa rintangan, yang paling menonjol diantaranya adalah ISIS. Untuk itulah diputuskan untuk menghancurkan ISIS dan menyibukkannya dari menguasai wilayah pesisir dengan urusan-urusan yang lain.

Cita-cita tersebut sepenuhnya diharapkan pada konferensi Jenewa, dimana Barat telah mengisyaratkan kepada Negara Nushairiyah untuk menggunakan senjata kimia sebagai alasan mereka untuk tidak ikut intervensi langsung dengan dalih menjaga hak hidup rakyat Suriah. Dengan demikikan, ketika negara-negara Barat tiba untuk menolong umat Islam di Suriah maka seluruhnya akan bersorak-sorak dan bertepuk tangan, mengelu-elukan kedatangan mereka.

Oleh itu, pemberangusan terhadap faksi-faksi yang mengingkari pembicaraan, perjanjian kesepahaman (MoU), dan semisalnya merupakan suatu keniscayaan. Negara-negara Arab lantas mengisyaratkan kepada sebagian kelompok pejuang untuk memerangi ISIS. Hal itu sukses terlaksana, dan media sengaja menyembunyikan konspirasi ini sehingga menyebabkan ISIS hilang kesabaran dan mulai memerangi kelompok-kelompok tersebut. Saat itulah, media  mulai berteriak tanpa henti: “ISIS memerangi kelompok-kelompok jihad di Suriah!”, “ISIS tidak memerangi Nushairiyah!”, “ISIS adalah tentara-tentara asing!”, “ISIS adalah antek-antek Iran dan negara-negara Barat!”, “ISIS berpahaman takfiiri!”.

Untuk membendung tuduhan dan tudingan itu semua, ISIS tidak memiliki stasiun-stasium tv mainstream, tidak mempunyai delegasi-delegasi yang berkeliling menemui ulama dan para penuntut ilmu dan berbicara kepada media dan meneriakkan yel-yel di tempat-tempat keramaian dan di alun-alun. Permusuhan terhadap ISIS rapat tersembunyi, sementara pembelaan ISIS terhadap institusi mereka tersebar di hadapan umum. Keburukan-keburukan yang terjadi di Suriah seluruhnya disematkan pada ISIS. Meski terkesan sia-sia, ISIS melalui jubir resmi, Amir, dan para personelnya telah berusaha membela diri, namun negera-negara baik Barat maupun Timur yang anti mereka, telah menggelontorkan milyaran uang, membeli orang-orang yang bisa dijadikan pelindung, dan membuka pintu imigrasi bagi person-person berbagai kelompok yang memerangi ISIS agar mereka bisa berkeliling di berbagai wilayah untuk mengadukan ISIS secara langsung pada setiap orang yang diakui pendapat, penilaian dan pertimbangannya, serta ucapan atau tulisannya.

Para konsulat intelijen Arab pun mulai berdusta dan berdusta, serta terus berdusta, sehingga mereka pun dibenarkan oleh sebagian umat Islam  yang berpandangan bahwa membenarkan mereka lebih terkesan logis dibanding tertipu oleh berbagai kedustaan. Mereka terus memanipulasi, menyesatkan dan berdusta bahkan salah seorang dari mereka berani menulis suatu kesaksian yang tidak mungkin dilakukan oleh personel ISIS.

Tatkala melihat bahwa seluruh rencana-rencana ini tidak berhasil meruntuhkan ISIS maka mereka menggulirkan konspirasi baru dengan memberikan beberapa pengantar (terlebih dahulu): “ISIS berlakuan seperti setan” dan mengisyaratkan pada agen-agen mereka di Suriah untuk membunuh orang yang berhijrah menuju mereka untuk berjihad. Kemudian tibalah giliran sandiwara berbagai pembicaraan yang men-tahdzir orang-orang yang menganjurkan para pemuda untuk berjihad di Suriah. Aktor utama sandiwara inilah adalah para intelektual kelompok Jamiyyah. Maka tersebarlah berbagai aksi tahdzir di stasiun-stasiun tv mainstream, aplikasi-aplikasi media sosial, koran-koran, dan majalah-majalah. Seluruhnya mulai menyayangkan terhadap para pemuda yang tertipu, yang jiwanya dikorbankan demi isu yang negaranya tidak memiliki kepentingan. Setelah seluruh usaha yang besar ini, tibalah giliran kelompok ‘As-Sami’ yang mengkriminalkan orang yang berperang di luar negeri dan berada  di bawah naungan kelompok-kelompok jihadi dan islamis, atau mendukung dan menolong kelompok-kelompok teroris.

Menariknya, meski antara Jabhah Nushrah, Harakah Ahram Syam, dan ISIS berbeda pandangan dalam masalah penyebab konflik ini, namun mereka sama-sama merasa menjadi faksi yang terzalimi, akan lebih terfokus untuk memerangi rezim, dan hanya akan memerangi faksi yang lebih dahulu memerangi mereka.[26] Dari sini, tampaknya mereka sikap yang sama dalam menghadapi konflik ini. Perbedaan antara mereka bisa jadi disebabkan penerapan sikap tersebut berdasarkan realita langsung yang terjadi di lapangan.

PROTO-STATE ATAUKAH ANOTHER NON-STATE ACTOR?

Keberhasilan ISIS menguasai beberapa wilayah di Suriah, bersama dengan cita-cita jihad lintas negara menuju tegaknya khilafah yang mereka gulirkan membuat ISIS dianggap menerapkan apa yang disebut dengan istilah proto-state. Di beberapa wilayah yang mereka kuasai, ISIS menerapkan aturan hukum, menyediakan bantuan makanan, mengelola ekonomi, dan mengelola sekolah. Sikap sebagai sebuah negara ini bukan tanpa masalah yang menyertai. Bagi beberapa kelompok lain ISIS adalah sebuah kelompok sebagaimana kelompok yang lain, namun ISIS menganggap dirinya sebagai sebuah negara dimana kekuasaan, hukum, dan ekonomi berada dalam kontrol penuh mereka. Menurut beberapa analis, ISIS mencoba untuk menerapkan apa yang disebut sebagai proto-state.

Perbedaan krusial antara proto-state dengan shadow state adalah shadow state masih diakui oleh sebagian besar pemerintah dunia dalam kapasitas yang terbatas, sedangkan proto-state tidak mendapatkan pengakuan dan perlindungan dari super power.

Basis paling utama dari state building adalah kemampuan untuk menegakkan hukum dan dikenal sebagai sebagai kekuatan memaksa yang sah (legitimate coercive force) di wilayah yang sudah didefinisikan. Proto-state terdiri dari human capital dengan karakteristik kesukuan, etnis, atau ideologi tertentu; milisi yang menjadi alat pemaksa dan tentara yang dimobilisasi secara politik; serta struktur kesukuan yang memberikan garis komunikasi dan struktur organisasi hirarkis; sedangkan pemilik tanah dan pemimpin milisi memberikan modal dan manajemen.

Pembangunan proto-state dimulai saat seorang aktor (suku atau kelompok, atau koalisi beberapa kelompok) yang berusaha mengembangkan identitas politiknya sendiri. Pembangunan proto-state biasanya dilakukan di wilayah yang miskin, dan dilakukan dengan cara melakukan mobilisasi dukungan melalui ideologi, kesukuan, agama, atau gabungan dari ketiganya. Pembangunan proto-state biasanya dilakukan karena kekecewaan pada pemerintah pusat yang lemah—yang tak lebih dari sekadar proto-state yang lebih berkembang—atau karena keyakinan, atau karena keduanya.

Proto-state baru dikatakan tercipta jika mereka mampu menggunakan sumber daya alam sendiri atau memiliki industri, yang dengannya mereka bisa membentuk milisi sebagai kekuatan yang memaksa dalam wilayah tertentu. Milisi tersebut juga harus bisa berfungsi untuk mencegah penaklukan dari aktor lain, baik proto-state lainnya maupun state.

Menurut, Andrew Merz, ada beberapa syarat yang harus ada untuk membangun apa yang dinamakan sebagai proto-state:[27]

  1. Teritorial,

Yaitu batas-batas wilayah proto-state yang secara aktual mereka kontrol. Luas teritorial yang dikontrol atau diklaim oleh sebuah proto-state merupakan aspek yang sangat esensial untuk dipertimbangkan. Meski terkadang susah untuk ditentukan, luas teritorial menunjukkan besarnya pengaruh yang dimiliki oleh proto-state tersebut atas penduduk yang mereka kuasai. Tingkat kontrol sangat penting, proto-state yang memiliki kontrol yang lebih besar dalam wilayah yang mereka klaim akan lebih mampu mencapai tujuan politik dan ekonomi mereka.[28]

  1. Aktivitas koersif (coercive activities),

Sejauh mana proto-state melakukan masing-masing dari keempat hal ini. "i) Membuat peperangan (war making): menghilangkan atau menetralisir saingan di luar wilayah di mana mereka memiliki prioritas yang jelas dan berkesinambungan sebagai pemegang kekuatan. Ii) Membuat negara (state making): menghilangkan atau menetralisir saingan yang berada di dalam wilayah teritorial. iii) Perlindungan: menghilangkan ataumenetralisir musuhdari klien mereka. iv) Ekstraksi: Mendapatkansaranaatau alat untuk melaksanakantiga kegiatanpertama, yaitu membuatpeperangan, membuatnegara, dan perlindungan".

War making dan state making adalah tindakan yang akan dilakukan oleh sebuah proto-state untuk meningkatkan kontrol atas wilayah teritorial mereka. Perlindungan berfokus pada membatasi kerusakan properti dan korban sipil yang disebabkan oleh entitas luar, serta mengurangi konflik internal diantara para penduduk. Perlindungan juga meliputi aspek administrasi terpusat, termasuk dengan membuat lembaga peradilan yang berfungsi untuk memutuskan pelanggaran-pelanggaran hukum yang terjadi. Selain itu, memiliki aliran dana yang konsisten juga merupakan hal yang sangat penting bagi keperluan ekspansi dan vitalitas sebuah proto-state.

  1. Identitas dan legitimasi

Identitas penduduk proto-state (bagaimana mereka melihat diri mereka sendiri), dan sejauh mana kegiatan koersif dan struktur proto-state dipandang sah oleh penduduknya. Membuat identitas nasional sangat penting untuk keberhasilan dari sebuah proto-state. Membuat identitas dilakukan dengan cara perang propaganda melawan nation-state sebagai usaha untuk membangun legitimasi di mata penduduk yang mereka kendalikan dan pihak lain yang ingin mereka kontrol. Suatu tindakan yang dipandang legitimateakan lebih mungkin untuk sukses karena ia tidak mendapati perlawanan yang signifikan dari para penduduk. Identitas merupakan hal yang sangat kompleks, namun bila digunakan dengan tepat akan dapat menyebabkan perekrutan yang lebih besar.

  1. Tujuan politik dan motivasi lainnya

Tujuan kepemimpinan proto-state, dan motivasi dari berbagai aktor yang membentuk proto-state. Memiliki tujuan politik, ekonomi, militer, dan kebijakan luar negeri yang terdefinisikan dengan jelas sangat penting bagi perkembangan organisasi. Dengan mencapai tujuan yang telah ditetapkan, sebuah organisasi berarti telah membangun legitimasi dan krediblitas yang lebih besar, untuk kemudian akan menjadikan proto-state tersebut semakin kuat. Momentum perubahan yang tanpa hambatan merupakan hal sangat penting dalam kesuksesan segala bentuk pergerakan.

  1. Organisasi dan struktur

Karakter aparat administrasi proto-state, sejauh mana birokrasi telah berkembang (jika ada). Ini juga mencakup struktur tidak resmi yang sudah ada seperti hirarki kesukuan, pengaturan pemilik tanah, dan jaringan keuangan informal yang dapat berfungsi sebagai pemulus atau penghambat pembangunan proto-state.

Dari kriteria tersebut, apakah ISIS merupakan proto-state ataukah another non-state actor, masih perlu diukur secara lebih teliti. Namun, ISIS beralasan bahwa penegakan daulah adalah sebagai sebuah upaya untuk tidak mengulangi kesalahan berbagai perjuangan di masa lalu, dimana para jihadis seringkali ditelikung di saat-saat akhir oleh kelompok sekuler dan nasionalis, sebagaimana yang diutarakan oleh Abu Jihad Asy-Syisyani, wakil komandan militer kalangan Muhajirin di ISIS. Meski demikian, para analis menganggap bahwa penolakan terhadap ISIS dari faksi lain lebih disebabkan oleh perilaku kelompok tersebut, bukan soal ideologi mereka.[29]

BAGAIMANA AS DULU MENGALAHKAN AL QAIDAH DI IRAK?

Sejak tahun 2006, yang oleh AS disebut sebagai fase kedua perang Irak, dianggap sebagai tahun kemenangan AS atas Al Qaidah di Irak. Fase ini ditandai dengan meningkatnya frekuensi penggunaan special force yang melakukan serangan atas target-target penting Al Qaidah dengan tingkat presisi yang tinggi, meningkatnya konflik sektarian di Irak, dan munculnya gerakan kebangkitan dari suku-suku di Anbar yang dikenal dengan istilah sahwa.

Tiga faktor yang paling dianggap signifikan dalam mengalahkan Al Qaidah di Irak adalah: penolakan para pemimpin suku-suku lokal di Anbar terhadap AQI; meningkatnya kemampuan kontra network pasukan khusus (Special Force) yang dipimpin oleh AS, dan berpartner dengan para komandan pasukan lokal; perubahan dalam strategi keamanan AS, yang melibatkan banyak komponen, terutama yang paling efektif adalah memastikan keamanan lokal melalui pos-pos kecil di depan sebuah wilayah dan patroli lapangan yang dilakukan bersama dengan tentara lokal Irak.

Faktor yang paling signifikan dalam menentukan kesuksesan tersebut adalah adanya gerakan Sahwa. Gerakan ini menandakan terjadinya konflik berdarah antara AQI dan suku-suku Sunni di provinsi Anbar. Bibit-bibit konflik sudah mulai muncul sebelum tahun 2006,  saat ketegangan terjadi antara beberapa suku dan AQI. Ketegangan ini terjadi diduga disebabkan oleh kekerasan yang dilakukan oleh AQI di wilayah Anbar. Setelah itu, koalisi suku-suku lokal membentuk Anbar Salvation Control (ASC) yang mendeklarasikan perang terhadap Al Qaidah. Momentum ini dimanfaatkan oleh AS dibawah komando Kolonel MacFarland dengan memanfaatkan gerakan tersebut untuk menghantam Al Qaidah. Merasa mendapat keuntungan dengan semakin berkembangnya gerakan sahwa, para komandan AS membuat program pelengkap yang dikenal dengan nama Abnaul Iraq (Son of Iraq), yang terdiri dari para pejuang lokal dan pasukan keamanan paruh waktu. Tugas mereka adalah mengamankan wilayah lain di luar wilayah yang sudah ada Sahwa di dalamnya. Program tersebut terbukti sukses besar. Mereka juga berhasil menarik para pejuang lokal untuk meninggalkan Al Qaidah dengan iming-iming gaji besar.

Pada akhir tahun 2006 hingga awal 2007, para pejabat AS menganggap Al Qaidah sebagai penggerak utama pemberontakan. Namun, pada tanggal 26 April 2007, Jenderal David Petraeus menyebut AQI sebagai musuh bersama nomor satu.

Pada bulan Januari 2007, Presiden Bush mengumumkan strategi baru di Irak, yang berfokus pada kontra insurgensi dan melakukan serangan secara bergelombang ke wilayah-wilayah kunci. Elemen vital dari strategi ini, yang selama ini tidak pernah ada dalam strategi kontrainsurgensi sebelumnya, adalah melibatkan orang-orang lokal dalam hal keamanan, yaitu Sahwa dan Abnaul Iraq. Selain itu, strategi ini juga bertumpu pada penggunaan pasukan dalam unit-unit kecil dan menekankan hubungan mereka dengan penduduk lokal.

Gerakan Sahwa adalah salah satu dari sekian strategi yang diluncurkan Amerika Serikat dalam menghadapi mujahidin di Irak. Gerakan tersebut mulai dimobilisasi tahun 2005, namun secara resmi didirikan tahun 2006. Mereka diciptakan, gaji, dipersenjatai, dengan bantuan dana dari Amerika untuk satu tujuan, melawan mujahidin di Irak.

Selain gerakan Sahwa, terdapat beberapa strategi lain Amerika Serikat yang diterapkan di Irak. Pada tahun 2006, Combating Terrorism CenterU.S Military Academy dalam sebuah dokumen berjudul “Harmony and Disharmony” memberikan rekomendasi beberapa langkah yang perlu ditempuh untuk menaklukkan gerakan jihad di Irak.

Langkah tersebut antara lain:

-          Batasi keamanan lingkungan Al Qaidah

-          Ganggu kontrol operasi dan batasi efisiensi keuangan mereka,

-          Menahan diri dari aksi yang bisa menyatukan preferensi kelompok tersebut,

-          Buat organisasi tersebut kesulitan untuk memberikan hukuman yang layak pada anggotanya

-          Tingkatkan pertikaian internal antar pemimpin organisasi,

-          Umumkan secara publik tentang perbedaan yang terjadi antara Al Qaidah dengan cabang-cabangnya,

-          Pahami dan eksploitasi perpecahan ideologi diantara gerakan jihad,

-          Buat bingung para propagandis jihadis,

-          Fasilitasi ketidaksepahaman dan kepahaman atas tujuan dan kemampuan Amerika Serikat,

-          Runtuhkan otoritas komandan senior,

-          Bingungkan, rendahkan, lemahkan semangat dan permalukan para petinggi jihadi,

-          Balikkan strategi para pelopor jihadi melawan mereka sendiri,

-          Cegah kelompok jihad dari keuntungan mendapat wilayah aman

-          Lakukan studi agresif tentang strategi jihad dan kebijakan luar negeri

-          Prioritaskan usaha pada titik rawan sub-kelompok

-          Tingkatkan operasi pengumpulan intelijen

-          Buat strategi screening nampak berisiko

-          Ciptakan ketidakpastian tentang informasi teknis yang relevan secara operasional

-          Antisipasi transformasi Al Qaidah dari sebuah organisasi menjadi gerakan sosial,

Beberapa strategi tersebut disimpulkan Alreigh William Dean dalam empat program utama: iluminasi, swarming, pengacauan informasi, dan fusi.

  1. a.      Swarming

Swarming adalah serangan yang dilakukan oleh beberapa unit pasukan yang otonom atau semi otonom dari berbagai arah yang berbeda. Unit counter-swarming akan melakukan serangan secara mengejutkan dan dengan tempo yang sangat cepat, untuk terus-menerus memaksa lawan bersembunyi atau menghindar.

AS menggunakan seluruh aspek offensive-swarming untuk melawan Al-Qaidah Irak (AQI) pada periode ini. Integrasi antara pengumpulan data intelijen dan fusimembuat AS mampu meningkatkan tempo serangan. Mereka menggunakan data intelijen sebagai pengarah operasi.Bahkan, hanya dengan sedikit tanda adanya aktivitas AQI, itu bisa menjadi titik awal menuju pengumpulan data yang lebih banyak dan penting.

Mereka melakukan serangan mengejutkan secara gencar, cepat, dan tepat, di mana informasi yang didapatkan dari satu serangan menggiring pada target berikutnya. Mereka melakukan pulsing secara efektif dengan lebih memahami konteks lingkungan lokal. Mereka menganggap bahwa aspek operasi yang paling penting dalam pembunuhan Abu Mush’ab Az-Zarqawi bukanlah gugurnya beliau, tapi 405 serangan berikutnya yang dilakukan dalam selang waktu sepekan.

Swarming dilakukan dalam waktu 24 jam sehari dan 7 hari dalam sepekan atas simpul-simpul yang terlihat. Selain itu, AS juga diuntungkan dengan adanya serangan cepat dariAbna’ul Iraq (Sons of Iraq/SOI) atas AQI di tempat-tempat yang menjadi basis AQI.

  1. b.      Iluminasi (Illumination)

Iluminasi adalah sebuah usaha untuk mengidentifikasi dan menentukan letak simpul dalam sebuah jaringan. Usaha iluminasi dilakukan antara lain dengan: (1) memanfaatkan pertalian sosial atau basis dukungan dan jaringan masyarakat di mana jaringan tersebut dibentuk, (2) memancing kelompok tersebut agar melakukan operasi, (3) melakukan eksploitasi melalui interogasi dan pengumpulan informasi, (4) melakukan infiltrasi dengan false group dan aktivitas umpan.

Langkah awal AS dalam melakukan ‘iluminasi’ adalah dengan melakukan pemahaman atas hubungan sosial dan jaringan kesukuan di Irak. Kemudian mereka menggunakan siklus F3EA (Find, Fix, Finish, Exploit, Analyze) untuk mengumpulkan data intelijen.

Siklus F3EA ini penting untuk memetakan kelompok klandestin dan pendukung mereka, menggunakan seluruh data intelijen untuk menyibak kondisi lingkungan lokal, jaringan sosialnya, dan para pembuat keputusan diantara mereka. Salah satu aspek penting dari siklus ini adalah penggunaan drone untuk melakukan pengawasan dan pengumpulan data intelijen. Selain itu, usaha iluminasi juga dimudahkan oleh konflik sektarian dan pertempuran diantara para pemberontak yang memaksa AQI untuk muncul ke permukaan.

Cara berikutnya adalah dengan mengelola sistem penahanan secara ramah dan efisien, melakukan teknik interogasi secara efektif, dan cara lain yang membuat para tahanan mau memberikan informasi yang berharga.

  1. c.       Pengacauan Informasi (Information  Disruption)

Pengacauan informasi berfungsi untuk melawan ketergantungan jaringan yang tinggi pada informasi, dan mencoba mengeksploitasi kelemahan yang terungkap dalam strategi informasi jaringan tersebut. Menurut Lawrence Freedman, dalam perang irregular, superioritas dalam hal fisik hanya akan bernilai kecil kecuali jika bisa diterjemahkan ke dalam keuntungan di dunia informasi. Pengacauan informasi dimaksudkan untuk melawan tujuan lawan melalui pelemahan, pembelokan, atau bahkan penolakan atas tujuan yang dinyatakan oleh lawan. Salah satu cara untuk melakukan pengacauan informasi adalah dengan mengisolasi aktor yang seharusnya berfungsi sebagai hub komunikasi, menabur ketidakpercayaan untuk memperlambat dan bahkan memblokir informasi yang seharusnya dapat dibagi, membiarkan jaringan untuk berkomunikasi sebanyak mungkin, serta melakukan tipu daya untuk mengganggu aliran informasi baik internal maupun eksternal.

Pengacauan informasi ini sangat diuntungkan atas “kesalahan besar” AQI yang sering melakukan “serangan brutal dan tanpa pandang bulu”. Kampanye media AS selama ini gagal dalam menyanggah kampanye perlawanan AQI, sampai AQI membuat “kesalahan” dengan mengecam umat Islam Sunni “moderat”.

AS berhasil mendiskreditkan AQI dengan menyorot aspek-aspek ‘horor’ dari aksi-aksi AQI. Strategi informasi AQI semakin kalah saat suku-suku lokal melakukan kampanye media untuk menyudutkan AQI, yang membuat popularitas AQI semakin melorot dan menguatkan usaha-usaha AS.

Selain itu, AS juga melakukan pengumpulan data intelijen dari berbagai sumber sebagai alat untuk mengacaukan sumber-sumber teknis, dibarengi dengan kehadiran secara fisik di lapangan yang mencoba untuk menghentikan penggunaan kurir dan mekanisme-mekanisme dukungan lainnya. Pengusiran AQI dari ‘persembunyian amannya’ juga memicu mereka untuk meningkatkan komunikasi dalam rangka memulihkan diri; satu hal yang akhirnya untuk pengumpulan data baru bagi AS.

  1. d.      Fusi

Fusi dilakukan AS dengan menyatukan beberapa agensi dan kelompok kedalam satu unit kerja. Unit tersebut disatukan oleh niat dan tujuan yang sama, di mana ‘senseof urgency, tujuan, dan komitmen untuk menyelesaikan satu misi’ menyatukan beberapa elemen tersebut.

Strategi tersebut dipandang sukses oleh Amerika dan membuat David Petraeus, perancang utama strategi tersebut, dijuluki sebagai “pahlawan Amerika Serikat abad 21”. Keberhasilan strategi tersebut, dengan “Sahwa” sebagai ikon utamanya, membuat Amerika Serikat mencoba menerapkannya di ladang jihad lainnya. Di Yaman, Amerika Serikat bersama dengan rezim Yaman membuat “Komite Rakyat” (al-lijan al-shabiya) dengan fungsi yang sama dengan gerakan Sahwa di Irak. Mereka terdiri dari suku-suku lokal oportunis yang dieksploitasi dengan iming-iming bantuan dana besar untuk memerangi mujahidin di Yaman.

Di Suriah, tanda-tanda tersebut mulai muncul. Aaron Zelin dari Washington Institute menyimpulkan bahwa tanda-tanda tersebut mulai menyala. Mungkin dengan nama lain, karena istilah Sahwa terlanjur menimbulkan citra buruk di mata para pejuang Suriah, namun substansi dan fungsinya gerakan tersebut tetaplah sama.

 

LANGKAH MENUJU PERDAMAIAN

Sebagai bentuk perhatian mereka, para ulama pro jihad telah menyarankan dan menasehati faksi-faksi jihadi yang tertikai tersebut untuk melakukan ishlah (perdamaian) dan kembali menyatukan barisan mereka untuk memerangi rezim. Untuk itu, sejak pertikaian ini muncul banyak sekali tulisan-tulisan mengenai hal itu diposting di internet. Diantara sekian banyak seruan ishlaah tersebut, yang terbanyak diperbincangkan dan ditanggapi adalah seruan Dr. Abdullah Al-Muhaisini, Mubaadarah Al-Ummah.

  • Anisiatif Abdullah Al-Muhaisini: Mubadarah Ummah

Al-Muhaisini yang bernama lengkap Abdullah bin Muhammad Al-Muhaisini adalah warga negara Saudi yang meninggalkan anak-anak, istri, serta keluarganya untuk bergabung  berjihad di Suriah. Al-Muhaisini memperoleh gelar doktornya dalam bidang Syariat Islam dengan desertasi yang berjudul Ahkaam Laaji’i al-Harb fi al-Fiqh al-Islaami. Selain memiliki gelar dalam akademik, Al-Muhaisini juga diuntungkan dengan anugerah harta yang banyak. Di Suriah, Al-Muhaisini membentuk suatu  yayasan independen tersendiri, Markaz Du’aat Al-Jihaad. Besar kemungkinan, lantaran tidak berkaitan dengan faksi manapun secara khusus dan dikenal memiliki hubungan yang baik dengan faksi-faksi lain itulah alasan mengapa Mubaadarah tersebut banyak diterima kalangan luas. Ditambah lagi dilaporkan bahwa dia termasuk alumni dalam jihad Afghanistan.

Mubaadarah Al-Ummah digulirkan Al-Muhaisini pada tanggal 22 Rabi’ul Awwal 1435 H (21 Januari 2014).  Inisiatif ini bisa jadi merupakan murni idenya, namun besar kemungkinan bahwa hal itu merupakan saran dari beberapa pimpinan jihad dan ulama di lapangan, termasuk Al-Julani dalam pesan audionya terakhir, demikian juga Dr. Aiman Azh-Zhawahiri. Poin penting dari Mubaadarah itu sendiri yaitu: (1) seruan untuk menghentikan kontak senjata antara sesama pejuang di seluruh wilayah Syam, (2) himbauan untuk membentuk mahkamah syariat yang terdiri dari beberapa qadhi (hakim) independen yang disetujui oleh semua pihak. Qadhi tadi dipilih dari faksi yang tidak bertikai dengan faksi manapun, selain juga memiliki akidah yang lurus seperti Shuquur Al-‘Izz, Katiibah Al-Khadhraa’, dan Kataaib Jund Al-Aqsha. (3) memberitakan tenggat waktu selama lima bagi faksi-faksi yang bertikai untuk menyetujui atau menyatakan sikapnya terhadap Mubaadarah tersebut.

Hampir seluruh ulama pro proyek Daulah Islam dan Khilafah Islam menyetujui Mubaadarah ini, termasuk Husein bin Mahmud yang segera menyetujuinya tidak lama bersalang setelah pengunguman Mubaadarah. Selain itu, Husein juga mengajak kepada faksi-faksi jihad di Syam untuk segera menyetujuinya sebagaimana persetujuan para pimpinan jihad termasuk Aiman Azh-Zhawahiri.[30] Sikap yang sama juga ditunjukkan oleh Al-Julani dan Hassan Abbud.

Sikap yang berbeda diambil oleh ISIS. ISIS dalam keterangan resminya menyebutkan bahwa mereka meminta Al-Muhaisini dan faksi-faksi lain untuk menjelaskan dua poin penting sebelum menerima Mubaadarah tersebut. Pertama,  sikap syariat yang jelas terhadap ideologi dan faksi-faksi yang anti penerapan syariat Islam, seperti ideologi demokrasi, liberelisme, dan Dewan-dewan yang secara jelas mewakili ideologi tersebut, seperti Haiah Al-Arkaan, Al-I`tilaf Al-Wathani, dan Al-Majlis Al-‘Asykari, serta yang semisalnya. Dengan dijelaskannya hal ini maka jelas jugalah sikap secara syar’i terhadap jama’ah-jama’ah dan faksi-faksi yang bernaung di bawah nama-nama tersebut, atau yang berkaitan dengannya, atau yang berperang di bawah benderanya, serta apa yang harus dilakukan oleh semuanya mengenai bagaimana berinteraksi dengan mereka dan simbol-simbol mereka. Dua, sikap syariat yang jelas terhadap rezim-rezim penguasa di Timur Tengah seperti pemerintahan Yordania, Saudi, Qathar, Uni Emirat Arab, Turki, dan lainnya. Sehingga akan jelaslah sikap secara syar’i terhadap jama’ah-jama’ah dan faksi-faksi yang berinteraksi dengan pemerintahan-pemerintahan ini, atau dengan intelijen-intelijennya, atau dengan intelijen-intelijen negera-negara Barat, seperti Amerika, Prancis, dan lainnya, atau membantu pemerintahan-pemerintahan ini dan agen-agen intelijennya untuk menjalankan proyeknya di Syam. Pada akhir keterangannya, ISIS menegaskan bahwa jika dua poin tersebut telah dijelaskan maka posisi urutan peradilan dan urusan-urusan yang mengikutinya seperti pelakasanaan secara khusus Mubaadarah ini atau lainnya akan menjadi mudah.[31]

Mengomentari syarat yang diajukan ISIS tersebut, Al-Muhaisini menilai bahwa syarat-syarat ini tidak ada dalam kitab Allah dan tidak pula dalam sunnah Rasul-Nya. Al-Muhaisini juga menegaskan bahwa mempersyaratkan agar setiap lawan kita mengumumkan masalah-masalah ini sehingga setelah itu kita rela bersamanya untuk berhukum kepada syariat Allah adalah sedikit pun bukan bagian dari agama Allah.[32] Mungkin lantaran ISIS mengajukan syarat terlebih dahulu tersebut, muncullah anggapan bahwa ISIS tidak mau berhukum dengan syariat dan hukum Allah.

Berbeda dengan Al-Muhaisini, Akram Hijazi menilai bahwa pada dasarnya ISIS tidak menolak Mubaadarah Al-Muhaisini, namun hanya meminta jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan sikap syar’i terhadap filsafat-filsafat dan ideologi-ideologi liberal dan nilai-nilainya, atau terhadap rezim-rezim penguasa, atau terhadap kerangka-kerangka politik dan militer yang ada pada revolusi Suriah. Akram menambahkan bahwa mungkin pertanyaan-pertanyaan tersebut merupakan pembenaran di tengah-tengah eforia dakwaan-dakwaan yang muncul untuk meminta menghukumi apa yang dinamakan dengan manhaj yang menyimpang menurut ISIS dari satu sisi, dan menghukumi keberadaan ISIS di Suriah dari sisi lainnya. Padahal pertanyaan-pertanyaan seperti ini semestinya hanya ditujukan hanya kepada penginisiatif Mubaadarah, bukan kepada faksi-faksi lain. Masih menurut Akram, kelemahan Mubaadarah tersebut adalah tidak menentukan tema peradilan tersebut; apakah peradilan tersebut berkaitan dengan hak-hak dan kezaliman-kezaliman, atau mengenai manhaj dan keberadaan ISIS di Syam. Untuk itu, Akram menyarankan bahwa Mubaadarah tersebut hanya sebatas pada peradilan yang berkaitan dengan hak-hak dan kezaliman-kezaliman dahulu, sebelum masuk pada tema-tema yang masih menjadi perdebatan yang pada dasarnya bukanlah termasuk hak peradilan dan juga bukan cakupan dari Mubaadarah.[33]

  • Sikap Bijak Husein bin Mahmud

Sikap menarik mengenai upaya untuk melakukan ishlaah ini dan dapat dijadikan contoh adalah apa yang dilakukan Husein bin Mahmud. Di satu sisi, Husein juga memberikan nasehat dan kritikannya terhadap ISIS dengan sikap hikmah dan adil, dan di sisi lain juga memberikan penyedaran kepada para pengkritik ISIS bahwa meski ISIS melakukan beberapa kesalahan, namun jasa ISIS jauh lebih besar dari akumulasi kesalahan tersebut.

Untuk nasehat dan kritikan untuk ISIS yang lansung ditujukan untuk Amirnya, Abu Bakar Al-Baghdadi, Husein bin Mahmud menyatakan beberapa poin, yaitu: Pertama, menerima tahkiim, karena hal itu mengandung kemaslahatan bagi umat secara umum dan kepada mujahidin secara khusus. Sebab hal itu dapat menutup kesempatan bagi jama’ah-jama’ah dan faksi-faksi yang masih belum jelas, selain juga agar tercapai kesatuan. Hampir semua ulama jujur mendukung upaya ini. Jika kebenaran berada di pihak ISIS maka mereka dapat mengambil kembali hak mereka, adapun jika kebenaran di pihak lawan, maka mereka bisa mengembalikan hak tersebut pada pemiliknya yang benar. Dua, sebagai faksi yang menamakan diri dengan Daulah, tidak layak suatu Daulah memiliki beberapa juru bicara yang memberikan keterangan-keterangan yang saling kontradiksi. Ini dapat memberikan bahaya bagi ISIS. Seharusnya pemberian keterangan tersebut disatukan dengan mengadakan perjumpaan pers yang dapat mengumpulkan antara para penuntut ilmu dan para awak media. Seyogianya ISIS memiliki seorang juru bicara resmi yang mampu menyampaikan keterangan dengan baik dan memiliki kebijaksanaan, serta melarang yang lainnya untuk menyampaikan keterangan-keterangan rancu yang bisa dimanfaatkan oleh musuh di satu sisi, dan membuat bingung para pendukung. Tiga, merilis penjelasan umum bagi personel-personel ISIS dan pendukungnya untuk tidak mencela ulama dan para da’i. Penjelasan tersebut berisi sikap Ahlus Sunnan wal Jama’ah terhadap orang yang menyelisihinya. Para personel dan pendukung ISIS kemudian diharuskan untuk menerapkan sikap tersebut sehingga tidak terjadi kekisruhan. Sebagian ulama yang memberikan nasehat tersebut akan menerima saran jika disampaikan secara adil dan beradab. Empat, ISIS seharusnya memiliki lembaga syar’i yang terdiri dari para ahli ilmu yang bisa dimintai fatwa dalam perkara-perkara penting namun masih samar. Untuk urusan peperangan internal, yang boleh berijtihad hanyalah orang-orang yang mendalam keilmuannya. Pimpinan sariyyah atau katiibah tidak boleh berijtihad seorang diri. Karena hal ini berkaitan dengan nyawa dan darah yang pada dasarnya dilindungi, dan bahayanya juga akan kembali pada umat. Lima, umat sangat gembira dengan keberhasilan operasi ISIS di Irak dalam menyerbu penjara dan membebaskan para tawanan Muslimah dari sana, namun para tawanan Muslimah yang berada di penjara-penjara Syiah Nushairiyah, banyak Mujahidin yang seakan-akan melupakannya. Siapa lagi yang lebih diharapkan untuk membebaskan mereka di Homs, Aleppo, dan Yarmuk? Berapa banyak Muslimah yang berteriak minta tolong pada saudara-saudaranya namun tak seorang pun yang mampu menolong mereka. Apa yang akan kita katakan pada para wanita yang menjaga kesucian mereka yang kini berada dalam kepungan Syiah Nushairiyah, sementara suadara-saudara mereka melupakan mereka disebabkan perselisihan diantara mereka. Enam, serangan gencar media yang telah memberikan penyesatan opini pada ISIS adalah suatu yang dimaklumi, namun sebagian yang disematkan pada ISIS merupakan buah dari perbuatan dan ijtihad sebagian saudara dari ISIS. Disana memang terdapat beberapa kesalahan yang harus disikapi dengan tegas, karena ini bukan sekedar urusan suatu jama’ah atau kelompok, namun merupakan urusan umat. Tujuh, tak seorang ulama pun yang bergembira dengan peperangan internal di Syam, seluruhnya menganggap sebagai suatu yang buruk. Untuk itu, tanpa melihat pada realita yang terjadi, peperangan tersebut harus segera dihentikan dan kembali di arahkan untuk memerangi Syiah Nushairiyyah. Delapan, ISIS dan para pimimpin dari faksi lain untuk kembali meninjau mengenai cara menyikapi orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Tidak sepantasnya perdebatan ditunjukkan secara terang-terangan. Para pimpinan seharusnya menyelesaikan perselisihan ini sesama mereka dengan cara rahasia. Jika perselisihan ini diketahui oleh khalayak ramai maka akan menjadi santapan orang-orang rendahan, dan akan diambil kesempatan oleh musuh, serta menyebabkan orang yang sakit hatinya akan membersihkan setiap akun yang bertentangan dengannya. Sembilan, jika memang hasil mahkamah tersebut ISIS diminta untuk meninggalkan Syam dan menyerahkannya kepada Jabhah Nushrah dan membiarkan beberapa peersonal yang ingin tetap di Syam, maka hal ini tidak akan memberikan bahaya bagi mujahidin. Apa yang baru-baru terjadi di Irak memerlukan sikap-sikap dan langkah-langkah yang lebih serius. ISIS telah menyerang Syiah Nushairiyah melalui pedangnya, Al-Julani, orang yang telah dikenal ISIS. Bisa jadi keberadaan beberapa personel ISIS yang ingin tetap di Syam akan memberikan maslahat pada mereka dan bagi umat. ISIS juga bisa meninggalkan personel yang dibutuhkan Al-Julani di Syam, kemudian ISIS lebih berfokus ke Irak,  disebabkan beban terlalu berat ISIS untuk menghadapi keduanya secara besamaan, untuk melemahkan rezim Syiah Rafidhah dan mengembalikan peradaban Khilafah Abbasiyah ke tangan umat Islam. Dan jika Al-Julani meminta bantuan personel, maka ISIS sebelumnya telah memberikan contoh pada manusia untuk membatalkan setiap perbatasan antara negara-negara Islam.[34]

Awan gelap memang saat ini menggelayut di langit Aleppo, tak hanya hujan birmil dari pasukan Nushairiyyah, namun juga pertikaian yang terjadi di antara pejuang di sana. Dan awan tersebut nampak semakin gelap setelah terjadi serangkaian pembunuhan misterius terhadap para pemimpin pejuang di Aleppo, mulai dari pembunuhan Kolonel Abdul Qadir Shalih, pemimpin Liwa Tauhid, kemudian Abdul Aziz Al-Qatari, pemimpin Jundul Aqsha, lalu disusul dengan Hajji Bakar, orang kedua di ISIS, dan yang terkini orang yang menjadi kepercayaan Aiman Azh-Zhawahiri di Suriah, Abu Khalid As-Suri, pun terbunuh. Konflik yang memang tidak diinginkan oleh semuanya ini berdampak negatif pada tujuan utama kelompok jihadi, yaitu menjatuhkan rezim Syiah Nushairiyah Basyar Asad. Namun, beberapa kalangan jihadi yakin bahwa konflik ini merupakan fase pemutihan barisan dan isyarat akan dekatnya kemenangan yang dijanjikan dalam nubuwah. Tidak kalah penting untuk diperhatikan bahwa konflik ini tidak terjadi di seluruh wilayah Suriah, bahkan sebagian besar berjalan seperti biasa. Harapannya, setelah berlalu fase ini, persatuan dan kesolidan bisa tercapai. Persatuan yang dihasilkan setelah peperangan memang tercatat dalam lembaran sejarah Islam, bahkan itu terjadi pada generasi terbaiknya. Jika kelompok jihadi di Suriah, terpaksa menjalani fase ini hingga proses pemutihan barisan ini usai, maka para pendukung jihad global yang bijaksana semestinya tetap memberikan dukungan moral maupun meteri kepada rakyat Suriah. Dukungan moral berupa memunajatkan doa agar konflik internal ini segera berlalu dan mereka segera memperoleh kemenangan, sementara dukungan materi berupa aluran bantuan uang atau lainnya karena rakyat Suriah di pengungsian jauh lebih banyak dari yang berjuang. Selain itu, tak kalah pentingnya juga adalah untuk tidak saling mencemooh, mencela, dan menghina sesama mereka, terkhusus pendukung Jabhah Nushrah dan Daulah Islam Irak dan Syam yang merupakan para aktor dan panutan utama jihad global. Ada yang harus senantiasa diingat, meski Daulah Islam Irak dan Syam bukan afiliasi resmi dari Al-Qaidah Pusat, namun afilasi resmi Al-Qaidah Pusat, Jabhah Nushrah, merupakan afilasi tidak resmi dari Daulah Islam Irak dan Syam



[1]Lihat http://www.thedailybeast.com/articles/2014/02/03/senators-kerry-admits-obama-s-syria-policy-is-failing.html

[2]idem

[3] idem

[4] Lihat http://www.strategic-culture.org/pview/2014/01/15/geneva-ii-washington-plan-b-for-regime-change-in-syria.html

[5] Lihat http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/middleeast/syria/10588308/US-secretly-backs-rebels-to-fight-al-Qaeda-in-Syria.html

[6] idem

[7] Lihathttp://www.pbs.org/wgbh/pages/frontline/foreign-affairs-defense/syrias-second-front/battle-against-isis-may-help-unify-fractured-syrian-rebels/

[8] Lihat http://ecfr.eu/content/entry/commentary_syrias_uprising_within_an_uprising238

[9] Lihat https://now.mmedia.me/lb/en/commentaryanalysis/535135-southern-comfort

[10] Lihat http://www.al-bab.com/arab/docs/syria/opposition-principles-for-settlement-in-syria.htm#sthash.8hDYNY8R.UlhcE3BY.dpbs

[11] Lihat http://ca.reuters.com/article/topNews/idCABREA1B14720140212?sp=true

[12] Lihat https://www.zamanalwsl.net/news/46545.html

[13] Lihat http://blog.unwatch.org/index.php/2014/02/22/full-text-un-security-council-resolution-2139/

[14] Simak pesan Abu Muhammad Al-Julani, Allaah ...Allaah fi Saahah Asy-Syaam, yang dipublikasikan pada 07 Januari 2014. http://www.youtube.com/watch?v=ON7vWsaU7UA

[15] Lihat Abu Muhammad Al-Maqdisi, Allaahumma Inni Abra’u Ilayka Mimmaa Shana’a Haa’ula`.  http://tawhed.ws/r?i=25011401

[16] Lihat https://www.facebook.com/The.mujahedin.army, terkait pernyataan resmi dari Jaisyul Mujahidin tertanggal 4 Januari 2014.

[17] Simak pesan audio Abu Bakar Al-Baghdadi, Wallaahu Ya’lamu Wa Antum Laa Ta’lamuun, https://t.co/pnSircDDnv

[18] Lihat  Husein bin Mahmud, Wa Saqathat Ad-Daulah, .... http://www.dawaalhaq.com/?p=10450

[19] Lihat Abu Ubadah Al-Maghribi, Yaa Laita Qaumy Ya’almuun,

[20] Simak pesan audio Abu Bakar Al-Baghdadi, Wallaahu Ya’lamu Wa Antum Laa Ta’lamuun,

[21] Baca Abu Sa’ad Al-‘Amili, Ta’liiq Kalimah Amiir al-Mu’miniin Abi Bakr Al-Baghdaadi, http://justpaste.it/e56y

[22] Baca Husein bin Mahmud, Wa Saqathat ad-Daulah,                                     

[23] Baca Husein bin Mahmud, Wa Saqathat ad-Daulah,

[24] Baca Husein bin Mahmud, Wa Saqathat ad-Daulah,

[25] Lihat http://www.nytimes.com/interactive/2013/09/29/sunday-review/how-5-countries-could-become-14.html?_r=0

[26] Simak pesan Abu Muhammad Al-Julani, Allaah ... Allaah fi Saahah asy-Syaam, pesan audio Hassan Abbud mengenai kondisi Suriah terakhir, http://www.youtube.com/watch?v=RYa7MnqeqsI  dan pesan Abu Bakar Al-Baghdadi, Wallaahu Wa’lamu Wa Antum Laa Ta’lamuun

[27] Andrew A. Merz, "Coercion, Cash-Crops and Culture: From Insurgency to Proto-State in Asia’s Opium Belt," (Thesis, Naval Postgraduate School, 2008), hal 37.

[28] Alexander Geoffrey Lovell, “Differentiating the Shadow State from the Non-State: Explanation and Policy Implications”, (Thesis, American Public University System, 2012), hal. 16

[29] Lihat http://www.ft.com/intl/cms/s/0/b535fca2-77a5-11e3-807e-00144feabdc0.html#axzz2txkWpgqU

[30] Lihat Husein bin Mahmud, Ta’liiq ‘Alaa Mubaadarah al-Ummah, http://alplatformmedia.com/vb/showthread.php?t=36154

[31] Lihat rilis resmi ISIS mengenai keterangan mereka terhadap Mubaadarah Al-Muhaisini, http://www.hanein.info/vb/showthread.php?t=348923

[32] Simak keterangan audio Abdullah Al-Muhaisini yang berjudul Alaa Hal Balaghtu, http://www.youtube.com/watch?v=s08_Tm_Mbyg&feature=youtu.be [ Diakses pada 03/02/2014]

[33] Lihat https://www.facebook.com/almoraqeb1/posts/1520579194833779?stream_ref=10

[34] Lihat Husein bin Mahmud, Risaalah Ilaa Al-Baghdaadi,  https://alfidaa.info/vb/showthread.php?t=93059