KONFLIK DI KRIMEA, NASIB MUSLIM TATAR KRIMEA

30 April 2014

Dalam beberapa bulan belakangan ini telah terjadi konflik di Krimea, sebuah wilayah otonomi khusus yang merupakan bagian dari Ukraina. Konflik tersebut melibatkan Ukraina, Krimea dan Rusia. Konflik terjadi karena adanya tarik ulur kepentingan antara fihak-fihak yang bertikai. Secara umum ada tiga opsi kepentingan yang menyebabkan pertikaian di Krimea: keinginan untuk mempertahankan Krimea tetap sebagai bagian Ukraina, keinginan untuk menjadikan Krimea sebagai bagian Rusia, dan keinginan untuk menjadikan Krimea sebagai negara yang merdeka. Konflik yang terjadi di Krimea tidak lepas dari sejarah perjalanan hubungan politik antar negara di sekitar wilayah tersebut dan kondisi demografis di Krimea.

Wilayah Krimea dihuni oleh 3 etnik utama yaitu Rusia (59%), Ukraina (20%), Tatar Krimea (15%) dan sisanya etnik lain (6%)[1]. Media massa saat ini lebih banyak menyorot pertikaian antara etnik Rusia dan Ukraina yang mempunyai kepentingannya masing-masing. Etnik minoritas Tatar Krimea yang Muslim seolah terjepit diantara kepentingan 2 etnik lainnya di Krimea. Padahal dahulu etnik Muslim Tatar Krimea merupakan mayoritas, pernah berkuasa di wilayah tersebut selama beberapa abad dan menjadikan semenanjung ini sebagai salah satu pusat budaya Islam.

Kondisi Geografis, Iklim, Ekonomi dan Pemerintahan di Krimea

Krimea merupakan wilayah yang berada di daerah selatan Ukraina di Semenanjung Krimea. Wilayah ini dikelilingi oleh Laut Hitam disisi barat-selatan dan laut Azov disisi timur dan mencakup hampir seluruh wilayah semenanjung itu dengan pengecualian Sevastopol, sebuah kota yang saat ini sedang diperdebatkan oleh Rusia dan Ukraina. Luas wilayah Krimea adalah 26.100 km persegi. Krimea berbatasan dengan distrik Kherson (Ukraina) di utara dan dipisahkan dari Krasnodarsky Kray (Rusia) oleh Selat Kerch disebelah timur.

Semenanjung Krimea dipisahkan dari Ukraina oleh sistem Sivash laguna dangkal. Garis pantai Krimea berliku-liku dan terdiri atas beberapa teluk dan pelabuhan. Topografi Krimea relatif datar karena sebagian besar semenanjung ini terdiri dari padang rumput semi kering atau padang rumput tanah. Pegunungan Krimea terletak di sepanjang pantai tenggara semenanjung itu.

Ibu kota Republik Otonomi Krimea adalah Simferopol. Beberapa kota utama yang ada di Krimea adalah Feodosia, Kerch, Sevastopol, Simferopol, Sudak, Yalta, dan Yevpatoria.

Pantai selatan Krimea memiliki iklim sub-Mediterania, dengan musim panas yang kering panas dan musim dingin ringan yang lembab hangat. Suhu rata-rata di musim panas (Juli) +23,0° sampai +24,5° dan di musim dingin (Januari) +2,0° sampai +4,0°. Curah hujan tahunan di pantai selatan Krimea adalah sekitar 350-650 (mm). Daerah ini memiliki 250-300 hari bersinar matahari per tahun.

Bagian pegunungan yang memisahkan pantai selatan Krimea dari bagian tengah Krimea memiliki iklim benua ringan yang hangat dengan musim panas ringan yang lembab dan musim dingin yang dingin lembab.

Bagian tengah dari Krimea memiliki iklim stepa benua ringan dengan musim panas yang kering panas dan musim dingin yang dingin lembab. Suhu rata-rata di musim panas (Juli) +22,0° sampai +23,5 ° dan di musim dingin (Januari)  -2,3° sampai - 0,0°. Curah hujan tahunan di bagian tengah dari Krimea adalah sekitar 340-480 (mm).[2]

Perekonomian Krimea utamanaya didasarkan pada pariwisata dan pertanian. Kota Yalta adalah tempat tujuan wisata yang terkenal di Laut Hitam bagi orang-orang Rusia, demikian juga dengan Alushta, Eupatoria, Saki, Feodosia dan Sudak. Produk pertanian utama Krimea adalah biji-bijian, sayuran dan anggur. Pemeliharaan ternak sapi, ayam dan domba juga merupakan sumber ekonomi yang penting. Krimea memiliki beberapa sumber alam seperti garam, batu mulia, batu kapur dan pasir besi.[3]

Krimea telah menjadi bagian dari Ukraina sejak 1954. Pemimpin Uni Soviet saat itu, Nikita Khrushchev "memberikan" wilayah ini pada Ukrania yang kemudian menjadi bagian dari Uni Soviet hingga negara ini bubar pada 1991. Sejak saat itu, Krimea menjadi wilayah semiotonom dari negara Ukraina yang memiliki ikatan politik kuat dengan Ukraina, namun memiliki ikatan budaya yang kuat dengan Rusia.  Krimea memiliki badan legislatif sendiri -Dewan Tertinggi Krimea beranggotan 100 wakil rakyat- dan kekuasaan eksekutif yang dipegang Dewan Menteri yang dipimpin seorang ketua yang berkuasa atas persetujuan Presiden Ukraina.  Pengadilan adalah bagian dari sistem peradilan Ukraina dan tidak memiliki otoritas otonom.[4]

Sejarah bangsa Tatar Krimea

Tatar Krimea adalah penduduk asli Krimea yang sejarahnya berawal sejak berabad-abad yang lalu. Kekuatan dan wibawa bangsa Tatar Krimea mencapai puncaknya sebagai Khanate Krimea yang independen, yang muncul pada paruh pertama abad ke-15 dan terus berlangsung sampai 1783. Selama lebih dari 300 tahun itu, ia menjadi kekuatan utama dan memainkan peran penting dalam internasional, maupun hubungan politik dan militer di seluruh Eurasia.[5]

Dengan maksud untuk secara penuh memahami sejarah Tatar Kremia perlu dilihat kembali pendahulu Khanate Krimea, yaitu Golden Horde. Golden Horde dibentuk oleh cucu Jenghis Khan, Batu, meliputi wilayah yang luas pada apa yang sekarang menjadi Rusia dan Ukraina, termasuk semenanjung Krimea di selatan. Dalam beberapa abad setelah kematian Batu, Krimea menjadi tempat berlindung bagi calon-calon yang tidak berhasil menduduki tahta Horde tersebut.[6]

Pada tahun 1443, salah satu dari pesaing-pesaing ini, Haci Giray telah berhasil memisahkan diri dari Golden Horde dan mengangkat dirinya sendiri sebagai pemerintah independen pada sebagian Krimea dan area perbatasan dari stepa tersebut. Keturunannya memerintah di Krimea dengan beberapa pengecualian sampai akhir abad 17.

Sebagai salah satu dari banyak pecahan Golden Horde, Khanate Krimea, "lebih dari yang lain dalam melestarikan tradisi dan institusi Golden Horde". Haci Giray, "keturunan Cingis Khan (Jengis Khan)", menjalankan kekuasaan yang merdeka antara tahun 1420 sampai 1441. Ia mendirikan sebuah dinasti yang memerintah Khanate Krimea tanpa gangguan sampai tahun1783, pada saat aneksasi Rusia atas Krimea.[7]

Khanate Krimea yang berbagi semenanjung Krimea dengan Genoa, mencoba untuk mendapatkan kembali pelabuhan dan kota-kota mereka di bagian selatan dan barat daya  Krimea. Dalam upaya ini mereka masuk ke dalam aliansi dengan Khilafah Utsmaniyah yang relatif baru, yang ingin merebut "mimpi berabad-abad Muslim dan Turki tentang Konstantinopel, ibukota Kekaisaran Romawi Timur." Sejak dari situasi itu selamanya berubah untuk Genoa, yang perdagangannya tergantung pada selat yang kini dikendalikan oleh Khilafah Utsmaniyah. Pada tahun 1454, Tatar dan Turki membuat serangan yang gagal pada pelabuah Kefe; pada tahun 1475 mereka akhirnya merebutnya dari Genoa, hal itu memperkuat hubungan politik dan militer Krimea-Utsmaniyah di masa depan.[8] Hubungan dan peran Khanate Krimea dengan Khilafah Utsmaniyah akan dijelaskan lebih rinci pada bagian berikutnya.

Khanate Krimea sangat kuat di awal keberadaannya. Namun, pada abad 17 dan 18 para khan ini mulai kehilangan kekuatan mereka karena ketidakstabilan domestik. Para pemimpin suku setempat, yang memperoleh kekayaan tertentu, kekuasaan politik dan militer,  menjadi kurang tergantung pada khan, dan bertindak sendiri tanpa persetujuan khan.

Khilafah Utsmani kehilangan kekuatan di Eropa dan, sebaliknya, Rusia mendapatkan kekuasaannya. Rusia memiliki kepentingan untuk mendapatkan akses ke Laut Hitam dan, mengeksploitasi ketidakstabilan internal dan kelemahan Krimea, menyerangnya dan tahun 1774 memaksa khan di bawah pengaruhnya; dan kemudian pada tahun 1783, Krimea dianeksasi oleh kekaisaran Rusia.[9]

Setelah aneksasi itu, Catherine II membuat reorganisasi pemerintahan di Krimea. Itu bukan pengalaman pertama bagi Rusia untuk memerintah wilayah Muslim di kekaisaran Rusia: Kazan Tatar dan Bashkir Volga telah dianeksasi sebelum aneksasi Krimea. Untuk memenuhi keputusannya, Catherine mengadakan sensus di Krimea, sebuah studi sistem administrasi perpajakan Krimea, dan menunjuk Pemerintah Distrik Krimea yang baru didirikan Tavricheskaya oblast', "area bekas Khanate Krimea dari Sungai Dnepr ke Taman (yang​​membentang jauh melampaui Semenanjung Krimea itu sendiri dan termasuk sepotong besar wilayah Ukraina sekarang)."

Sistem administrasi Khanate yang lama digantikan oleh sistem administrasi yang biasa berada dalam kekaisaran Rusia masa itu. Dalam hal agama, kebijakan Rusia akhir abad 16 dan 17 dimaksudkan untuk memberantas Islam dalam kekaisaran Rusia. Kemudian pada tahun 1773, Catherine sendiri yang tidak beragama, menerbitkan keputusan 'Toleransi pada semua kepercayaan', yang memungkinkan bangsa Tatar untuk mempraktekkan Islam.

Catherine memungkinkan masing-masing orang Krimea "untuk mendapatkan kewajiban dan hak yang sama seperti yang didapatkan rekannya di Rusia." Pada saat yang sama, ia membiarkan bagi mereka yang tidak ingin memiliki kewarganegaraan Rusia berangkat ke Kekaisaran Utsmaniyah. Diperkirakan bahwa selama dekade pertama setelah aneksasi, jumlah Tatar yang meninggalkan Krimea berkisar dari sekitar 20.000-30.000 sampai 150,000-200,000, dengan jumlah penduduk Tatar Krimea pra-aneksasi "sedikit kurang dari setengah juta." Eksodus massal Tatar selama dekade terakhir dari Khanate Krimea (sejak 1772) dan dekade pertama setelah aneksasi telah meninggalkan sejumlah besar lahan kosong, yang selain berefek negatif pada demografi, juga memiliki beberapa efek negatif pada pertanian.

Di sisi lain, lahan bebas di negara yang ditinggalkan itu telah menarik para penjajah. Pada awal abad kesembilan belas, selain 8.746 orang Rusia yang ada sebelumnya, sekitar "35.000 non-Muslim telah menetap di semenanjung Krimea, bekas Khanate Krimea, yang meliputi tanah dari Dnestr ke sungai Kuban, yang hanya ditinggali kurang dari 100.000 pemukim Rusia."

Aneksasi Krimea merupakan peristiwa penting dalam sejarah Rusia. "Dengan menganeksasi Krimea, Rusia mencapai apa yang banyak dianggap sebagai perbatasan selatan 'alami' nya." Nasionalisme Krimea abad kesembilan belas telah menyebar ke entitas Muslim lain dalam Kekaisaran Rusia dengan semakin meningkatnya perasaan anti-Rusia, yang disebabkan oleh tidak hormatnya Rusia terhadap budaya Tatar dan Russifikasi yang dipaksakan.

Selama revolusi Rusia 1917-1918 para nasionalis Tatar meningkatkan klaim kemerdekaan mereka. Perang Dunia pertama menyebabkan krisis dalam identitas Tatar Krimea. Di satu sisi, Tatar yang diwakili di Duma (parlemen), dalam eksekutif Rusia mereka berpartisipasi dalam organisasi-organisasi Muslim dan berjuang di barisan depan barat Perang Dunia I. Di sisi lain, Kekaisaran Utsmaniyah mendukung musuh Rusia di perang Dunia I dan gagasan untuk melawan perang itu hampir tidak dapat diterima.

Selama Perang Saudara Rusia dari 1918-1921, Krimea adalah arena untuk berjuang kelompok-kelompok yang berkepentingan. Tatar tidak menerima pembela kepentingan mereka baik dari Bolshevics maupun Whites, Tentara Relawan yang terdiri dari mantan tentara tsar. Tidak ada pihak yang tertarik untuk menyebabkan Krimea merdeka; masing-masing dari mereka menginginkan Rusia bersatu di bawah kekuasaan mereka sendiri. Akhirnya, pada bulan Oktober 1920, Bolshevics menduduki Krimea dan tinggal di sana sampai invasi Jerman pada tahun 1941.

Di Uni Soviet, Krimea menerima status Otonomi Krimea Republik Sosialis Soviet (Crimean ASSR) dan, secara administratif, merupakan bagian dari Republik Federasi Sosialis Rusia (RSFSR). Pada saat itu, rakyat Tatar Krimea merupakan sekitar seperempat dari populasi ASSR Krimea. Otonomi tersebut bersifat terbatas dan Moskow tetap bertanggung jawab atas sebagian besar kegiatan Krimea, dengan pengecualian barangkali pada masalah-masalah keadilan, pendidikan, dan kesehatan. Dua kota pelabuhan penting, Sevastopol dan Evpatoria, dikeluarkan dari yurisdiksi Krimea dan disubordinasikan langsung ke Moskow.

Selama Perang Dunia II, Krimea relatif mudah diduduki oleh Jerman, Rumania, dan Italia untuk jangka waktu dari 1941 sampai 1944, dengan pengecualian adalah Sevastopol yang secara heroik dipertahankan hingga Juli 1942. Segera setelah Krimea kembali di bawah kontrol Soviet pada awal tahun 1944, Stalin memerintahkan deportasi Tatar Krimea dan minoritas kecil lainnya sebagai hukuman kolektif untuk kerjasama mereka dengan Nazi. Pada tahun 1967, Tatar telah direhabilitasi tapi dilarang kembali ke Krimea.

Crimean ASSR dihapuskan pada tahun 1945 dan direorganisasi menjadi Oblast Krimea bagian dari RSFSR. Pada tahun 1954, Krimea dipindahkan di bawah yurisdiksi Ukraina SSR karena kedekatan hubungan geografis, ekonomi, dan budaya dengan Ukraina, dan sebagai sikap persahabatan yang melambangkan ulang tahun ke-300 perjanjian yang menyatukan Rusia dan Ukraina. Selama beberapa tahun setelah Perang Dunia II dan sampai pembubaran Uni Soviet, Krimea dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata dan pangkalan untuk Armada Laut Hitam (BSF).

Di bawah Uni Soviet demografi Krimea berubah secara signifikan. Bencana kelaparan pada 1921-1922 mengakibatkan penurunan populasi penduduk lebih dari 21 persen. Seratus ribu orang meninggal karena kelaparan (60 persen dari mereka adalah Tatar Krimea) dan lima puluh ribu, terutama Tatar, mengungsi ke luar negeri. Pada tahun 1923, 25 persen (seratus lima puluh ribu) dari populasi Krimea adalah Tatar. Sebanyak 35000 - 40000 Tatar Krimea dipindahkan ke Siberia sebagai bagian dari serangan Stalin pada nasionalisme Tatar Krimea; padahal sebelum perang populasi Tatar Krimea adalah sekitar 300 ribu sampai 2 juta, dan pada akhir 1970-an kurang dari seribu dua ratus keluarga Tatar yang tercatat di Krimea.

Perubahan dramatis tersebut disebabkan oleh deportasi terhadap Tatar dan minoritas lainnya. Deportasi Tatar Krimea dan minoritas lainnya dari Krimea diprakarsai oleh Stalin pada tahun 1944 setelah pembebasan Krimea oleh Tentara. Selama pendudukan Jerman terhadap  Krimea sejumlah 15.000-20.000 Tatar Krimea membantu Jerman untuk pendukung perang di pegunungan Krimea. Fisher mengacu pada perkiraan yang berbeda menyatakan bahwa sekitar 20,000-53,000 Tatar Krimea berperang melawan Jerman bergabung dalam Tentara Merah dan sampai sekitar dua belas ribu bertahan dan bersembunyi bawah tanah. Stalin mengabaikan partisipasi Tatar Krimea pada Great Patriotic War melawan Nazi Jerman dan memerintahkan deportasi mereka ke Asia Tengah.

Dengan terjadinya disintegrasi Uni Soviet pada tahun 1991, Krimea menjadi bagian integral dari negara Ukraina merdeka yang baru. Krimea adalah wilayah yang bukan tipikal Ukraina karena beberapa alasan. Secara etnis, Krimea adalah satu-satunya daerah di Ukraina dengan mayoritas besar adalah orang-orang Rusia. Secara kultural Krimea adalah berkultur Rusia; bahkan administrasinya masih menggunakan bahasa Rusia pada dokumennya, meskipun fakta bahwa satu-satunya bahasa resmi di Ukraina adalah bahasa Ukraina. Secara historis, setidaknya dari sudut pandang Rusia, Krimea adalah bagian dari Rusia sampai saat Khrushchev, etnis Rusia dan mantan pemimpin Ukraina, memindahkannya ke Republik Sosialis Soviet Ukraina pada tahun 1954. Krimea adalah pangkalan untuk BSF dan Sevastopol masih dianggap sebagai "kota kejayaan Rusia."

Krimea yang dianggap sebagai “daerah panas" merupakan ancaman yang cukup berarti bagi kesatuan negara Ukraina. Pada tahun 1991, walaupun oblast Krimea adalah bagian dari SSR Ukraina, pemerintah daerahnya menjalankan referendum untuk mendirikan Otonomi Krimea Republik Sosialis Soviet (ASSR) dalam Uni Soviet, dengan dukungan lebih dari 80 persen populasinya. Legitimasi hukum untuk referendum itu dipertanyakan, karena "tidak ada hukum referendum pada waktu itu baik di Uni Soviet maupun di Ukraina." Namun hal itu mencerminkan fakta demografis yang tak terbantahkan.

Pengaruh Tatar Krimea terhadap hasil referendum itu disamakan dengan nol. Pada saat itu Tatar merupakan segmen kecil dari populasi Krimea. Pada musim semi tahun 1987 hanya ada 17.400 Tatar Krimea sebagai bagian dari lebih dua juta penduduk Krimea saat itu. Mereka diberikan hak kembali ke tanah air sebelum Uni Soviet runtuh, dan pada bulan Juni 1991 populasi Tatar Krimea telah meningkat menjadi 135.000. Selain itu, sebagian besar Tatar memboikot referendum karena mereka lebih memilih untuk tetap sebagai bagian dari Ukraina.

Pada bulan April 1992, parlemen Ukraina mengadopsi hukum tentang Status Republik Otonomi Krimea  yang memberikan kekuasaan yang lebih luas dibandingkan dengan badan-badan teritorial lainnya di Ukraina. Sebagai tanggapanyan, pada bulan Mei 1992 parlemen Krimea mengadopsi “Konstitusi ditambah Deklarasi Kemerdekaan," bagaimanapun, klaim bahwa republik Krimea diproklamasikan adalah bagian dari republik Ukraina dan bahwa hubungan antara kedua republik 'independen' itu harus tetap didasarkan pada perjanjian.

Pengalaman Krimea berada dalam Ukraina merdeka dapat dibagi menjadi dua periode, dengan Revolusi Oranye tahun 2004 sebagai batasnya. Periode pertama terdiri dari dua sub - periode: periode 1992-1995 ditandai dengan upaya pemisahan diri yang diprakarsai oleh kekuatan politik pro-Rusia; dan periode kedua dari 1995-2004 ditandai dengan kondisi relatif stabil dari sikap separatis. Periode kedua sejak tahun 2004 pada gilirannya telah ditandai dengan munculnya konflik antara Krimea dengan pemerintah pusat. Pembagian ini adalah bersyarat karena hubungan Ukraina - Krimea telah tak normal sejak Ukraina merdeka. Hubungan Russo - Ukraina, dalam sengketa Krimea, berkisar pada hak-hak etnis Rusia di Krimea, pembagian Armada Laut Hitam dan hak pangkalannya. Akhirnya, terkait dengan Tatar Krimea yang kembali dari pengasingan membawa ketegangan tambahan di wilayah tersebut. Masalah tanah, pemulihan hak-hak Tatar Krimea, dan hubungan antar-etnis menjadikan lebih rumit situasi di Republik Otonomi Krimea, dan meradikalkan baik etnis Rusia maupun Tatar Krimea.

Hubungan dan Peran Muslim Tatar Krimea terhadap Khilafah Utsmaniyah

Hubungan dan peranan Muslim Tatar Krimea terhadap Khilafah Utsmaniyah pada masa Khanate Krimea cukup erat dan penting bagi keduanya. Berikut ini adalah terjemahan bebas sebagaian dari sebuah laporan yang ditulis oleh Brian Glyn Williams yang berjudul The Sultan’s Raiders, The Military Role of the Crimean Tatars in the Ottoman Empire, dan diterbitkan oleh The Jamestown Foundation, Washington, D.C. pada Mei 2013.[10]

Dari abad 14 sampai 17, bangsa-bangsa Kristen Eropa dan syiah Persia dipaksa untuk mempertahankan tanah mereka melawan serangan Khilafah Utsmaniyah yang selalu berekspansi, sebuah kekaisaran yang mempunyai mesin perang mengagumkan pada saat itu yang tampaknya cukup kuat untuk menyerap tetangga-tetangga dekatnya. Selama rangkaian kampanye tersebut, banyak dari bangsa Eropa diperkenalkan dengan kiblat dunia ketika ghazis Utsmaniyah (mujahid) dari Asia menduduki sepanjang Balkan dan Eropa Tengah.

Dalam rombongan besar sultan tersebut, ditemui berbagai macam bangsa yang menyusun kekaisaran Turki Raya dengan bermacam-macam etnis. Turki, Arab, Circassian, Kurdi, Maghrib, Bosnia, Poma, Albania dan beberapa bangsa lain yang keberadaannya di Eropa Barat tidak diketahui, dapat ditemukan berjuang bersama dibawah bendera Sultan. Salah satu yang paling menarik, dan secara militer kelompok yang efektif digunakan oleh Khilafah Utsmaniyah dalam perangnya yang tampaknya tidak pernah berakhir, adalah Tatar dari semenanjung Krimea.

Dalam tiga ratus tahun layanannya, Tatar Krimea memberikan kontribusi terhadap militer Utsmaniyah lebih banyak daripada pembantu-pembantu lain Sultan yang bukan bangsa Turki, dan catatan layanan terhadap Sultan ini, merupakan babak yang paling luar biasa dalam sejarah Eropa.

Salah satu kesuksesan terbesar umat Islam terhadap orang-orang Kristen, penaklukan Khilafah Utsmaniyah terhadap Konstantinopel pada tahun 1453 oleh Muhammad Al Fatih, terjadi 10 tahun setelah pembentukan Khanate Krimea dan tidak diragukan lagi menyebabkan perhatian Tatar Krimea yang mulai melihat pada Khilafah Utsmaniyah untuk membantu perjuangan mereka terhadap Khan Golden Horde. Dengan kejatuhan Konstantinopel, memberikan kekuasaan Muslim Turki dalam mengontrol Dardenelles dan Bosphorous.

Salah satu aksi Sultan untuk mendapatkan kendali terhadap pintu masuk Laut Hitam adalah dengan bergerak menduduki pusat-pusat perdagangan Genoese di pesisir selatan Krimea. Pada musim panas tahun 1454, sebuah armada Utsmaniyah terdiri atas 56 kapal memasuki Laut Hitam untuk memulai proses penguatan pemerintahan Muhammad II di area yang akhirnya dikenal sebagai “Danau Ustmaniyah” itu.

Khilafah Utsmaniyah tidak melibatkan diri ke dalam Krimea lagi sampai tahun 1466. Dalam tahun itu, Haci Giray pendiri Khanate Krimea meninggal dalam kondisi misterius, mungkin diracun oleh pemimpin klan Tatar yang iri dengan perkembangan kekuasaannya. Setelah kematiannya, dua anak lelakinya, Nurdevlet dan Mengli, memulai perebutan singgasana. Selama masa perang sipil ini klan-klan Krimea berkembang untuk memainkan peranan yang bertambah penting.

Pada tahun 1475, kepala klan Shirin yang sangat kuat, Eminek, mengundang Sultan Utsmaniyah Muhammad II untuk mengintervensi perang sipil tersebut. Muhammad II secara mudah diyakinkan tentang keuntungan keterlibatannya dalam interferensi di Krimea. Dia melihat hal itu sebagai sebuah peluang untuk mendapatkan pengaruh diantara bangsa Tatar, dan juga sebuah kesempatan untuk memberikan serangan pada bangsa Kaffa yang juga terlibat dalam perselisihan tersebut.

Pada tanggal 19 Mei 1475, armada Utsmaniyah berangkat ke Krimea untuk terlibat dalam perebutan singgasana tersebut dan menaklukkan kota-kota perdagangan Italia di semenanjung itu. Dua minggu kemudian komandan Utsmaniyah, Muhammad Pasha, sekali lagi memasang meriam Turki yang terkenal itu mengarah ke dinding Kaffa dan memulai pengepungan kedua terhadap kota itu. Bangsa Kaffa bertahan dari pemboman intensif Utsmaniyah selama hanya 4 hari sebelum penyerahan tanpa syarat terhadap pasukan Sultan.

Bangsa Kaffa mengalami penderitaan berat selama pertahanannya terhadap Ustmaniyah, dan sebagian besar penduduk Italia ditawan dan dibawa ke Istambul. Utsmaniyah yang tidak puas hanya dengan penaklukkan Kaffa, malanjutkan invasi ke pesisir selatan Krimea dan akhirnya menduduki kota-kota Genoese Inkerman, Sevastopol, Kerch, Balaklava, Sudak, dan benteng stategis Azov di Don Basin.

Setelah berakhirnya penaklukan tersebut, pesisir selatan Krimea berada dibawah langsung pemerintah Utsmaniyah dan bangsa Tatar Krimea menemukan diri mereka berbagi semenanjung itu dengan tetangga baru dan sangat kuat, Khilafah Utsmaniyah. Utsmaniyah juga berhasil dalam upayanya untuk memengaruhi hasil perang antara pasukan Mengli Giray dan Nurdevlet, dan pada tahun 1478 mereka telah menempatkan calon mereka, Mengli Giray, pada singgasana Krimea. Sebagai balasan terhadap bantuan tersebut, Mengli menjanjikan pada Muhammad untuk “menjadi musuh bagi musuhmu dan teman bagi temanmu”. Sultan diberi barmacam-macam hak di Krimea sebagai balasan atas bantuannya, yang paling penting adalah hak untuk menetapkan pemilihan klan-klan Tatar sebagai Khan.

Keterlibatan Khilafah Utsmaniyah di Krimea bukan sebagai ancaman bagi Tatar Krimea tetapi sebagai sekutu untuk menyelesaikan sengketa internal dan untuk membantu Khanate dalam perjuangan melawan Golden Horde. Aliansi Utsmani-Tatar dalam banyak hal mirip dengan aliansi Polandia-Lithuania yang mulai mengkoordinasikan kegiatannya di stepa tersebut di sekitar waktu itu. Gambaran dari Henry Howorth yang menyatakan bahwa para Khanate dipandang seperti "Mesir dan Tunisia di masa-masa berikutnya, sebagai provinsi tergantung dalam aturan pada Khilafah Utsmaniyah, meskipun menikmati sejumlah besar kemerdekaan" mungkin merupakan ringkasan yang paling akurat dari posisi Khanate Krimea terhadap Khilafah Utsmaniyah.

Ketika Sultan Ustmaniyah membutuhkan bantuan bangsa Krimea dalam sebuah kampanye, undangan dan hadiah dikirim ke Khan dan beberapa pejabat di kerajaannya. Sementara itu, Khan menerima pedang berhiaskan berlian, jubah kehormatan dan pembayaran yang dikenal sebagai "quiver price". Khan juga diberi kehormatan memiliki gaun parade penuh setibanya di kamp Utsmaniyah sebelum sebuah kampanye dan dianggap memiliki derajat yang lebih tinggi daripada Grand Vezir.

Akhirnya, Khilafah Utsmaniyah meningkatkan pengaruh mereka di Khanate Krimea, tetapi harus diingat bahwa Tatar Krimea tidak pernah menjadi subyek seperti bangsa Serbia atau Yunani, melainkan sebagai sekutu bawahan. Meskipun sejarawan mungkin tidak setuju tentang sifat yang tepat dari hubungan Utsmaniyah-Tatar, tidak ada kontroversi mengenai pentingnya prestasi Muhammad II di Krimea untuk keamanan kedua Kekaisaran Utsmaniyah dan Khanate Krimea.

Usahanya di Krimea, meskipun telah menerima relatif sedikit perhatian dari sejarawan (kecuali di Rusia) tidak diragukan lagi merupakan salah satu hal yang paling penting dan berpandangan jauh dari semua usaha Sang Penakluk (Muhammad Al Fatih), dan hal itu terbukti memberikan keuntungan bersama baik bagi Utsmaniyah maupun Krimea.

Dalam biografinya tentang Muhammad Al Fatih, Franz Babinger bahkan menempatkan lebih penting pada keberhasilan Sang Penakluk di wilayah Laut Hitam dan menempatkannya dalam konteks yang lebih luas. Babinger menyatakan:

“Tidaklah berlebihan untuk mengatakan bahwa penemuan rute perdagangan Atlantik baru, dengan konsekuensi penting untuk kehidupan ekonomi Barat, diakibatkan sebagai bagian dari ekspansi Utsmaniyah di wilayah Laut Hitam. Pelayaran ke Dunia Baru telah dilakukan dengan harapan menciptakan rute pengganti yang baru ke India dan Asia Tengah.”

Perang Krimea

Perang Krimea (1853–1856) adalah pertempuran yang terjadi antara kekaisaran Rusia melawan sekutu yang terdiri dari Perancis, Britania Raya, Kerajaan Sardinia, dan Khilafah Ustmaniyah. Kebanyakan konflik terjadi di semenanjung Krimea, dengan pertempuran lainnya terjadi di Turki barat dan laut Baltik. Perang Krimea kadang-kadang dianggap sebagai konflik modern pertama yang memengaruhi peperangan pada masa depan.

Perang Krimea dikenal dengan nama yang berbeda. Di Rusia dikenal sebagai "Perang Oriental" (bahasa Rusia: Восточная война, Vostochnaya Voina), dan di Britania pada saat itu kadang-kadang dikenal sebagai "Perang Rusia".[11]

Perang Krimea terkenal karena kesalahan logistik dan taktis pada kedua belah pihak. Namun perang itu dianggap sebagai perang "modern" yang pertama, karena "memperkenalkan perubahan-perubahan teknis yang memengaruhi tata peperangan dimasa depan," termasuk taktis penggunaan pertama kereta api dan telegraf. Dalam perang ini juga terkenal pekerjaan yang dilakukan oleh Florence Nightingale, yang mempelopori praktik keperawatan modern ketika merawat tentara Inggris yang terluka. Perang Krimea juga perang yang pertama kali secara luas didokumentasikan dalam foto.

Diantara hal yang melatar belakangi perang Krimea secara ringkas dijelaskan sebagai berikut.

Pada akhir perang Napoleon, negara-negara besar berkumpul di Wina untuk mengembalikan sistem negara-negara Eropa yaitu keseimbangan antara berbagai kekuatan besar dan kecil yang menahan agresi oleh yang kuat, dan menjunjung tinggi hak-hak yang lemah.

Mereka berharap untuk membangun perdamaian permanen dengan menekan republik-republik yang revolusioner dan menegakkan kestabilan pada kerajaan-kerajaan yang tertib. Meskipun dengan tujuan dan ambisi yang berbeda diantara Rusia, Prusia, Austria, Inggris dan Perancis, sebuah kompromi telah dibuat, setelah gangguan singkat Napoleon 'selama seratus hari dan Pertempuran Waterloo.

Setelah Perjanjian Wina negara-negara besar menikmati tiga dekade perdamaian, beberapa tahun di mana tekanan-tekanan dari industri, politik, ekonomi, sosial dan nasionalis dapat ditekan atau dibelokkan. Tapi akhirnya sistem Wina rusak. Masalah awalnya adalah kelemahan dari Khilafah Utsmaniyah-Turki, dan kesempatan ini memberikan bagi Eropa untuk campur tangan dalam mendukung populasi Kristen.

Presiden baru Perancis, Louis-Napoleon Bonaparte, mengeksploitasi kelemahan Turki untuk mengamankan konsesi bagi gereja Katolik di Palestina, dan berharap mendapatkan dukungan konservatif untuk  rencana kudetanya. Ketika Tsar Nicholas I dari Rusia membalas, dengan mengirim misi untuk memulihkan hak-hak Ortodoks Yunani, Turki hanya memberi jalan bagi kedua belah pihak, dan berharap masalah itu akan hilang.

Setelah mendirikan Kekaisaran Kedua, (Louis) Napoleon III kehilangan minat, namun Nicholas memutuskan untuk menyelesaikan 'orang sakit di Eropa' (julukan bagi Khilafah Utsmaniyah yang sudah melemah) sekali dan untuk semua. Mengharapkan dukungan dari Prusia, Austria dan Inggris, ia berencana untuk mengukir bagian Eropa dari Turki.

Dia ternyata salah, baik Inggris maupun Austria tidak ingin melihat Rusia mengendalikan Dardanella. Merasakan adanya jalan pembuka untuk kesuksesan diplomatik yang berguna, Perancis bergabung dengan Inggris dalam mendukung Turki, yang menolak rencana keterlaluan Tsar.[12]

Rangkaian peristiwa yang membuat Perancis dan Inggris menyatakan perang terhadap Rusia pada tanggal 27 dan 28 Maret 1854 dapat dilacak dari peristiwa kudeta pada tahun 1851 di Perancis. Napoleon III mengirim duta besar untuk Khilafah Ustmaniyah dan berusaha memaksanya untuk mengakui Perancis sebagai "penguasa yang berdaulat" di Tanah Suci orang Kristen.  Rusia menolak perubahan "penguasa" baru di Tanah Suci tersebut. Merujuk pada dua perjanjian sebelumnya, yaitu tahun 1757 dan pada tahun 1774, Khilafah Utsmaniyah mengubah keputusan mereka sebelumnya, membatalkan perjanjian Perancis dan bersikeras bahwa Rusia adalah pelindung orang-orang Kristen Ortodoks di Khilafah Ustmaniyah.

Napoleon III menjawab dengan unjuk kekuatan, mengirimkan armada kapal Charlemagne ke Laut Hitam, yang merupakan pelanggaran terhadap Konvensi Selat London. Pamer kekuatan Prancis dikombinasikan dengan diplomasi dan uang yang agresif, memaksa Sultan Abdülmecid I untuk menerima perjanjian baru, mengakui Perancis dan Gereja Katolik Roma sebagai otoritas Kristen tertinggi di Tanah Suci dengan kontrol atas tempat-tempat suci Kristen dan memiliki hak atas Gereja Nativity, yang sebelumnya dipegang oleh Gereja Ortodoks Yunani.

Tsar Nicholas I kemudian mengirimkan angkatan perang korp ke-4 dan ke-5 di sepanjang Sungai Danube, dan menugaskan Count Karl Nesselrode, menteri luar negerinya, untuk melakukan pembicaraan dengan Khilafah Ustmaniyah. Nesselrode mengutarakan hal tersebut kepada Sir George Hamilton Seymour, Duta Besar Inggris di St Petersburg.

Karena konflik muncul atas masalah tempat-tempat suci, Nicholas I dan Nesselrode memulai sebuah serangan diplomatik, yang mereka harapkan akan mencegah baik Inggris atau Perancis ikut campur dalam konflik antara Rusia dan Khilafah Utsmaniyah, serta untuk mencegah persekutuan mereka.

Nicholas mulai merayu Inggris melalui percakapan dengan Duta Besar Inggris, George Hamilton Seymour, pada bulan Januari dan Februari 1853. Nicholas bersikeras bahwa ia tidak lagi ingin memperluas Kekaisaran Rusia tetapi bahwa ia memiliki kewajiban terhadap komunitas Kristen di Khilafah Ustmaniyah.

Tsar Nicholas selanjutnya mengirim seorang diplomat, Pangeran Menshikov, pada misi khusus ke Khilafah Utsmaniyah pada Februari 1853. Pada perjanjian sebelumnya, sultan  telah berkomitmen "untuk melindungi agama Kristen (Ortodoks Timur) dan gereja-gerejanya". Menshikov berusaha untuk menegosiasikan kesepakatan baru, sebuah konvensi formal dengan kekuatan perjanjian internasional, di mana Utsmaniyah akan memberikan pada Rusia hak yang sama untuk intervensi dalam urusan agama Ortodoks seperti yang baru saja diberikan pada Prancis sehubungan dengan penganut dan gereja Katolik. Perjanjian tersebut akan memungkinkan Rusia untuk mengendalikan hirarki Gereja Ortodoks di Khilafah Utsmaniyah.

Menshikov tiba di Istanbul pada 16 Februari 1853, dengan kapal perang bertenaga uap Gromovnik (Thunderer). Pada pertemuan pertamanya dengan sultan, ia menghina Turki dengan tampil dalam pakaian sipil bukan seragam militer adat dan tradisional dalam penyambutan resmi kepada Porte. Dia kemudian melanjutkan untuk mengecam konsesi Utsmaniyah kepada Prancis. Menshikov juga mulai menuntut penggantian pegawai sipil posisi tinggi Utsmaniyah terutama Fuad Efendi menteri luar negeri Utsmaniyah.

Tak lama setelah ia belajar dari kegagalan diplomasi Menshikov, pada bulan Juni 1853, Tsar mengumumkan akan mengirim tentara ke kerajaan-kerajaan Danubian yang dikendalikan Utsmaniyah yaitu Moldavia dan Wallachia. Tujuan misi militer ini adalah untuk “memaksa” sultan agar mau bekerja sama dan memenuhi tuntunan Rusia.

Namun, di belakang layar Duta Besar Inggris, Lord Stratford de Redcliffe, telah mendorong Sultan untuk menolak tuntutan Rusia. Mengetahui adanya ancaman dari Rusia, Inggris dan Prancis memutuskan untuk campur tangan. Pada tanggal 15 Juni 1853, gabungan armada Perancis dan Inggris dikirim ke Dardanella untuk menunjukkan solidaritas dengan Turki.

Di seluruh Eropa, diplomat bergegas untuk mencoba mencegah terjadinya perang. Sebuah rancangan kompromi, yang disusun oleh Austria, ditolak oleh Sultan. Pada bulan Juli, Tsar memerintahkan pasukan Rusia ke Moldavia dan Wallachia, dibawah komando lapangan Marshall Ivan Paskevich dan Jenderal Mikhail Gorchakov menyeberangi Sungai Pruth. Kurang dari setengah dari 80.000 tentara Rusia yang melintasi Pruth pada tahun 1853 yang berhasil selamat. Sejauh ini, sebagian besar kematian disebabkan oleh penyakit bukan karena pertempuran. Tentara Rusia mendapatkan layanan medis yang buruk atau bahkan tidak ada layanan.

Pada tanggal 5 Oktober 1853, didukung oleh harapan bahwa Inggris dan Perancis akan membantunya dan tidak ingin melihat runtuhnya Kekaisaran Turki, Sultan secara resmi menyatakan perang terhadap Rusia, dan memulai melakukan serangan. Pasukannya bergerak menuju tentara Rusia di dekat Danube pada akhir bulan Oktober. Rusia dan kekaisaran Utsmaniyah memusatkan pasukannya pada dua front utama, Kaukasus dan Danube. Pemimpin Utsmaniyah Omar Pasha berhasil mencapai beberapa kemenangan di front Danubian. Di Kaukasus, Utsmaniyah mampu menahan lawan dengan bantuan Muslim Chechnya yang dipimpin oleh Imam Shamil.

Nicholas merespon dengan mengirimkan kapal perang, yang dalam Pertempuran Sinop pada 30 November 1853 berhasil menghancurkan satu skuadron patroli kapal perang Utsmaniyah saat mereka berlabuh di pelabuhan Anatolia utara. Penghancuran kapal Utsmaniyah memberikan alasan bagi Inggris dan Perancis untuk menyatakan perang melawan Rusia berada pada fihak Kekaisaran Utsmaniyah. Pada 28 Maret 1854, setelah Rusia mengabaikan ultimatum Anglo-Perancis untuk menarik diri dari kerajaan-kerajaan Danubian, Inggris dan Perancis secara resmi menyatakan perang.

Beberapa catatan penting terkait perang Krimea adalah sebagai berikut.[13]

  • Perang Krimea adalah satu-satunya perang Eropa yang diperjuangkan oleh Inggris antara 1815 sampai 1914.
  • Ini adalah perang yang terkenal karena ketidakmampuan militer dan kekacauan administratif.
  • Ini adalah perang di mana istri diizinkan untuk menemani suami mereka untuk terakhir kalinya.
  • Ini adalah perang di mana kepahlawanan dan kecerobohan dari serbuan Brigade Ringan (Light Brigade) di Balaclava menciptakan segudang kontroversi yang masih membingungkan sejarawan hari ini.
  • Perang Krimea, juga menciptakan dan memecah reputasi. Ia menciptakan reputasi Florence Nightingale dan, belakangan, Maria Seacole. Ia menghancurkan reputasi komandan Lord Raglan, dan merusak reputasi dari Lords Lucan dan Cardigan.
  • Perang ini memiliki dampak jangka panjang pada masyarakat Inggris yang mengubah institusi dan menciptakan sebuah profesi.
  • Perang Krimea adalah salah satu perang besar pertama dimana sejumlah besar saksi mata telah selamat, dan ini adalah perang besar pertama dimana foto-foto dan surat kabar menghentak meja sarapan dan panti kelas menengah Victoria .
  • Ini adalah perang yang menimbulkan keraguan tentang kompetensi kelompok kecil elit bangsawan untuk menjalankan Angkatan Darat Inggris, tentang kemampuan pemerintah Inggris dan tentang efisiensi pemerintahan Inggris.

Lokasi peperangan terjadi di beberapa tempat diantaranya semenanjung Krimea,  Kaukakus, Balkan, Laut Hitam, Laut Baltik, Laut Putih dan Timur Jauh. Jumlah korban perang meninggal sekitar 350,000–375,000 orang difihak sekutu dan sekitar  220,000 orang difihak Rusia. Sebagian besar korban karena penyakit dan luka-luka yang tidak tertangani dengan baik. Akhir peperangan dimenangkan oleh aliansi sekutu (Inggris, Perancis dan Khilafah Utsmaniyah) dan menghasilkan Perjanjian Paris yang menandai diakhirinya perang Krimea.[14]

Krisis di Krimea saat ini

Krisis dan konflik di Krimea dan secara luas di Ukraina pada saat laporan ini ditulis masih berlangsung. Konflik yang  berawal Nopember tahun lalu, merupakan cerminan pertarungan geopolitik di  kawasan Rusia dan Eropa Timur. Berikut adalah gambaran kronologi singkat dari jalannya konflik tersebut yang dikumpulkan dari berbagai sumber.

Pada tanggal 21 November 2013 pemerintah Ukraina yang pro Rusia secara tiba-tiba mengumumkan penundaan pembicaraan Perjanjian Asosiasi dan Perdagangan dengan Uni Eropa, demi membangun hubungan ekonomi yang lebih erat dengan Rusia. Langkah itu memicu kemarahan kelompok oposisi yang pro-Eropa, yang kemudian berencana melakukan demonstrasi.  

Pada tanggal 30 November 2013, polisi menyerang sekelompok pengunjuk rasa, dan menahan 35 orang. Foto-foto pengunjuk rasa yang berdarah oleh serangan polisi dengan cepat menyebar sehingga meningkatkan dukungan publik untuk demonstrasi. Memasuki bulan Desember demonstrasi semakin membesar sampai mengumpulkan demonstran sebanyak 300.000 orang, yang terbesar di Kiev sejak Revolusi Oranye tahun 2004. Aktivis merebut Balai Kota Kiev.

Pada tanggal 17 Desember 2013 Presiden UkrainaYanukovych berangkat ke Moskwa, Rusia, bertemu dengan Putin untuk menandatangi kesepakatan dana talangan sebesar 15 miliar dolar Amerika Serikat (sekitar Rp 177.18 trilun) dan mendapat potongan harga untuk membeli gas Rusia.

Pada bulan Januari 2014 unjuk-rasa terus berlanjut dan terjadi bentrok dengan polisi yang menyebabkan jatuhnya korban. Pada tanggal 28 Januari 2014, Perdana menteri mengundurkan diri dan parlemen mencabut undang-undang anti protes baru yang keras yang memicu kekerasan seminggu sebelumnya. Kedua pihak mencapai kesepakatan bersama yang bertujuan untuk meredakan krisis.

Pada 2 Februari 2014 para pemimpin oposisi meminta mediasi internasional dan bantuan finansial dari Barat di hadapan lebih dari 60.000 demonstran di Kiev. Tanggal 5-6 Februari 2014 Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Catherine Ashton dan utusan khusus AS untuk Eropa, Victoria Nuland, mengunjungi Kiev. Tanggal 7 Februari 2014 Presiden Yanukovych bertemu dengan sekutunya Presiden Rusia, Vladimir Putin, di sela-sela acara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Sochi, Rusia. Pada 9 Februari 2014 sekitar 70.000 demonstran berkumpul di Lapangan Merdeka. Selanjutnya pada14 Februari 2014 sebanyak 234 demonstran yang ditahan sejak Desember 2013 dibebaskan, tetapi dakwaan atas mereka tidak dicabut. Tanggal 16 Februari 2014 para demonstran meninggalkan balai kota Kiev yang mereka duduki sejak 1 Desember 2013. Puluhan ribu orang berkumpul di Lapangan Merdeka.

Pada 18-19 Februari 2014 sebanyak 28 orang, termasuk 10 polisi, tewas dalam bentrokan berdarah di Lapangan Merdeka. Demonstran kembali menduduki balai kota Kiev. Polisi antihuru-hara melancarkan serangan terhadap demonstran sepanjang malam. Pada 19 Februari 2014 Presiden Yanukovych mencopot kepala staf angkatan bersenjata Ukraina dan mengumumkan digelarnya "operasi anti-teroris" di negaranya sendiri. Negara-negara Barat mengecam aksi kekerasan di Ukraina dan mengancam akan menjatuhkan sanksi. Tanggal 20 Februari 2014 para demonstran menyerang polisi di Kiev, mengabaikan kesepakatan gencatan senjata yang dicetuskan Yanukovych. Sekitar 25 orang tewas dalam peristiwa itu, Kementerian Dalam Negeri Ukraina mengatakan dua orang polisi tewas ditembak dalam insiden itu.

Pada tanggal 21 Februari 2014 para pemimpin oposisi menanda-tangani pakta perdamaian dengan Presiden Yanukovych yang dimediasi oleh Uni Eropa. Pada 22 Februari 2014 parlemen Ukarina mengadakan pungutan suara untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Yanukovych. Tanggal 26 Februari 2014 parlemen Ukarina menunjuk pemerintah baru. Hal ini menyebabkan kemarahan Rusia sehingga menyiapkan sebanyak 150.000 prajuritnya dalam kondisi siaga tinggi. Pada hari yang sama sejumlah pasukan bersenjata pro-Rusia tanpa identitas secara perlahan mulai mengambil kendali di semenajung Krimea. Tanggal 27 Februari 2014 pasukan tak dikenal menduduki gedung parlemen regional dan Gedung dewan kementrian Krimea di Simferopol.

Pada tanggal 28 Februari 2014, sementara orang-orang bersenjata menduduki gedung, parlemen mengadakan sidang darurat, dan melakukan pungutan suara untuk mengakhiri pemerintah Krimea, dan mengganti Perdana Menteri Anatolii Mohyliov dengan Sergey Aksyonov. Aksyonov adalah anggota Partai Persatuan Rusia, yang menerima 4% suara dalam pemilu terakhir. Sidang darurat ini juga melakukan pungutan suara untuk mengadakan referendum tentang otonomi yang lebih besar pada tanggal 25 Mei. Orang-orang bersenjata tersebut telah memotong semua komunikasi pada gedung tersebut dan mengambil ponsel anggota parlemen saat mereka masuk. Tidak ada wartawan independen diizinkan di dalam gedung ketika pemunggutan suara sedang berlangsung. Beberapa anggota parlemen menyatakan bahwa mereka diancam dan bahwa suara diberikan untuk mereka dan anggota parlemen lainnya, meskipun mereka tidak berada di ruangan.

Pada 1 Maret 2014, Putin memenangkan persetujuan parlemen untuk menginvasi Ukraina. Hal ini memicu kemarahan Gedung Putih. Tanggal 6 Maret 2014 parlemen Krimea melakukan pemungutan suara untuk bergabung dengan Rusia, dan menjadwalkan referendum tentang hal itu pada tanggal 16 Maret 2014.

Pada 16 Maret 2014, referendum diselenggarakan di Krimea, dan menunjukkan dukungan yang luar biasa untuk bergabung dengan Federasi Rusia, meskipun diboikot oleh Tatar Krimea dan penentang referendum lainnya. Parlemen Ukraina menyatakan referendum itu inkonstitusional. Amerika Serikat dan Uni Eropa mengutuk referentum itu ilegal, dan kemudian memberlakukan sanksi terhadap orang-orang yang dianggap telah melanggar kedaulatan Ukraina.

Tanggal 21 Maret 2014, Putin menandatangani undang-undang untuk melengkapi aneksasi Krimea. AS memberlakukan sanksi terhadap Putin dan sekutu dekatnya Uni Eropa mengikuti dengan langkah-langkah yang sama. Pada tanggal 24 Maret 2014, Kementerian Pertahanan Ukraina mengumumkan bahwa sekitar 50% dari tentara Ukraina di Krimea telah membelot ke militer Rusia. Tanggal 27 Maret 2014 Majelis Umum PBB mengeluarkan resolusi tidak mengikat yang menyatakan referendum Krimea yang didukung Moskow tidak valid. Resolusi disahkan dengan 100 suara mendukung, 11 menentang dan 58 abstain dalam majelis 193 negara.

Pada tanggal 1 April 2014 NATO mengumumkan menagguhkan semua kerjasama sipil dan militer dengan Rusia. Pada 7 April 2014 aktivis Pro-Rusia menguasai gedung-gedung pemerintah di kota-kota timur Donetsk, Luhansk dan Kharkiv, serta menyerukan referendum kemerdekaan. Pihak berwenang Ukraina mendapatkan kembali kontrol dari gedung Kharkiv hari berikutnya. Pada 11 April 2014 perdana menteri sementara Ukraina menawarkan untuk memberikan kekuasaan lebih bagi wilayah timur, saat separatis pro-Rusia terus menduduki bangunan di Donetsk dan Luhansk. Tanggal 12 April 2014 milisi bersenjata Pro-Rusia mengambil alih kantor polisi dan gedung badan keamanan di kota Slovyansk, 60 kilometer dari Donetsk di mana militan pro-Rusia mengambil alih markas polisi.

Pada tanggal 15 April 2014 parlemen Ukraina meloloskan RUU yang menyatakan semenanjung Krimea selatan sebagai wilayah yang sementara diduduki oleh Federasi Rusia dan memberlakukan larangan perjalanan bagi penduduk Ukraina untuk mengunjungi Krimea.

Seiring dengan berjalannya waktu tampaknya konflik di Ukraina dan Krimea belum akan segera berakhir. Akankah konflik ini akan dapat memicu ketegangan yang lebih luas bahkan perang besar yang melibatkan beberapa negara sebagaimana yang pernah terjadi di Krimea pada tahun 1853-1856?

Posisi Muslim Tatar Krimea dalam Konflik Krimea saat ini

Tatar Krimea yang sebagian besar Muslim saat ini merupakan etnik minoritas di Krimea. Krisis yang terus berlanjut di Ukarina dan Krimea menjadikan Muslim Tatar Krimea seakan terjepit karena posisinya sebagai minoritas. Kekhawatiran akan nasib mereka diungkapkan oleh salah seorang dari mereka sebagaimana diberitakan oleh reuters. "Jika ada konflik, sebagai minoritas, kami akan menjadi yang pertama menderita," kata Usein Sarano, 57, bersamaan dengan berkumandangnya adzan dari menara batu abad ke-16 dari Bakhchisaray, yang pernah menjadi ibukota kuno Tatar. “Kami mengkhawatirkan keluarga kami, anak-anak kami. Ini dapat menjadi Yugoslavia baru."[15]

Beberapa waktu yang lalu ribuan Tatar Krimea turun di jalan-jalan Simferopol, ibukota regional Krimea, berbaris mendukung pemerintahan baru Kiev pada sebuah demonstrasi tandingan terhadap demonstrasi yang dilakukan oleh separatis Rusia. Beberapa orang terluka dalam suatu bentrokan. Dalam aksi itu Tatar Krimea meneriakkan Allahu Akbar untuk menunjukkan kesetiaan kepada pemerintah baru di Kiev dan menentang tuntutan separatis oleh mayoritas etnis Rusia di kawasan itu.

Keesokan paginya sebelum fajar, orang-orang bersenjata tak dikenal menduduki parlemen Krimea dalam serangan misterius, sebagai bukti telah dimulainya operasi militer yang diluncurkan oleh Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengambil alih wilayah tersebut.

Sejak saat itu, belum ada tanda-tanda lebih lanjut adanya protes dari Tatar. Pemimpin masyarakat itu Refat Chubarov – yang selalu vokal dalam penentangannya terhadap prospek bahwa Rusia mungkin mencoba untuk merebut semenanjung itu- memilih kata-katanya dengan hati-hati pada konferensi pers di Simferopol. "Kita harus melakukan apapun untuk mencegah suasana ketakutan dan ketidakpercayaan di Krimea ini semakin meningkat," katanya. "Warga Krimea, bersama-sama dengan tetangga mereka terlepas apapun kebangsaannya, harus menjaga perdamaian."[16]

Seorang pensiunan Tatar yang menyebut namanya hanya sebagai Rustem mengatakan bahwa masyarakat telah diberitahu oleh para pemimpin mereka untuk bersikap rendah hati karena ketidakpastian politik. "Putin adalah orang gila yang haus kekuasaan. Dia sudah mengaduk perbedaan di sini untuk sementara waktu," kata Rustem, sambil berdiri di bawah bayang-bayang Masjid Jami-Kebir. Masjid tersebut,  dibangun pada tahun 1508. Ini adalah bangunan tertua Simferopol dan bukti akan keberadaan akar mendalam Tatar di sini.

Sebagai masyarakat berbeda yang berasal dari semenanjung pegunungan ini yang merupakan saudara sepupu penutur Turki lainnya di seluruh Asia dan Eropa Rusia, Tatar Krimea hampir dihapuskan atas perintah Moskow, pertama oleh Tsar dan kemudian oleh Soviet.

"Dari saat Kaisar Rusia Yekaterina II mengirim pasukan ke sini untuk mencaplok wilayah ini, penderitaan kami dimulai," kata Enver Sherfiyev, 26, memamerkan topi berajut hitam dan janggutnya di luar masjid, dan mengingatkan kembali akan sebuah penaklukan Rusia abad ke-18 bahwa setiap Krimea Tatar masih dapat berhubungan.

Pada tahun 1944, diktator Soviet Josef Stalin mendeportasi seluruh populasi Tatar Krimea dari semenanjung Krimea ke Asia Tengah, ribuan mil jauhnya. Ribuan orang meninggal dalam perjalanan.

Bakhchisaray, dengan masjidnya yang elegan, menjadi daya tarik wisata Soviet yang menyeramkan, seluruhnya dikosongkan dari orang.

Ia terlahir kembali di akhir 1980-an, awal dari pemulihan yang melihat sebagian besar Tatar Krimea kembali dari pengasingan ke tanah air mereka, pertama di bawah pemimpin Soviet Mikhail Gorbachev dan kemudian setelah Ukraina merdeka.

Dengan kenangan pahit perlakuan terhadap mereka oleh Rusia, mereka telah lama membanggakan diri pada loyalitas mereka ke Ukraina, membual bahwa suara mereka memberikan margin kemenangan di Krimea pada referendum kemerdekaan Ukraina dari Uni Soviet tahun 1991.

Pemerintah Krimea yang pro-Rusia sekarang merencanakan plebisit (referendum) baru pada tanggal 30 Maret yang akan membuat semenanjung itu "berdaulat", secara luas dilihat sebagai awal untuk memisahkan diri dari Ukraina menjadi protektorat Rusia seperti halnya pemisahan daerah di Georgia dan Moldova.

"Aku bahkan tidak mengenali gagasan referendum. Apa yang akan mereka lakukan, memikirkan hal yang baru setiap tahun?" kata Nimatulayeva Khadirova, seorang pensiunan Tatar yang mengajarkan bahasa Rusia.

"Semua tetangga saya orang Rusia dan mereka semua datang ke rumah saya untuk minum kopi sepanjang waktu," katanya. "Kami adalah warga negara Ukraina sekarang dan kami ingin tetap demikian. Apa yang salah dengan cara hal-hal itu?"

Berdasarkan ungkapan-ungkapan diatas terlihat bahwa umumnya orang-orang Tatar Krimea lebih memilih untuk tetap bergabung dengan Ukraina karena sejarah membuktikan bahwa ketika berada dibawah kekuasaan Rusia, mereka menderita bahkan terusir dari tanah airnya.

Namun kita sebagai sesama Muslim yang diikat dengan ukhuwah Islamiyah dengan Muslim Tatar Krimea perlu melihat sejarah lebih jauh ke belakang bahwa sesungguhnya Krimea pada mulanya bukanlah bagian dari Ukraina, tetapi disana pernah berdiri sebuah Khanate Krimea yang diperintah berdasarkan hukum Islam dan berada dibawah perlindungan Khilafah Utsmaniyah (sebagai protektorat atau vassal). Pada massanya kaum Muslim Tatar Krimea pernah mengalami kejayaan Islam.

Tatar Krimea memiliki peran yang besar bagi kaum Muslim Krimea dalam berjihad melawan Rusia bersama negara Islam di zaman kekhilafahan Utsmani. Krimea menghadapi tekanan yang dilakukan Rusia dan Jerman. Bahkan Rusia dapat menginvasinya pada tahun 1783 M, setelah Rusia membunuh 350 ribu kaum Muslim Krimea. Pada tahun 1928 M., sang drakula Stalin mendirikan entitas Yahudi di Krimea, sehingga mendapat perlawanan kaum Muslim yang dipimpin oleh para imam masjid dan kaum intelektual. Akibatnya 3.500 dari mereka itu dieksekusi mati. Dan pada tahun 1929 M., lebih dari 40 ribu kaum Muslim dibuang dari Tatar ke wilayah Sverdlovsk di Siberia. Statistik menunjukkan penurunan jumlah kaum Muslim Tatar, dari 9 juta jiwa pada tahun 1883 M. menjadi sekitar 850 ribu jiwa pada tahun 1941 M. Semua itu disebabkan oleh politik pembunuhan dan pengusiran yang ditempuh oleh pemerintah Rusia, baik pada era Kekaisaran maupun Bolshevik. Dan perlakukan buruk juga menimpa masjid dan al-Qur’an, dimana kaum Komunis Rusia telah menghancurkan sekitar 1.558 masjid, serta sejumlah perguruan tinggi dan sekolah, yang kemudian di atas puing-puingnya didirikan bar-bar dan kandang ternak, serta mereka membakar al-Qur’an.[17]

Ketidakberdayaan kaum Muslim Tatar Krimea dalam krisis saat ini secara umum disebabkan kaum Muslim sudah terpecah-belah dan bercerai-berai, tidak berpegang teguh dengan agamanya, serta runtuhnya negara mereka, maka semua inilah yang memberi peluang musuh-musuhnya untuk menghancurkan, mengganyang dan mengalahkannya.

Kewajiban kita selaku sesama Muslim adalah menolong mereka Muslim Tatar Krimea dengan berbagai cara sesuai tuntunan syari’at Islam semampu kita, minimal adalah do’a untuk mereka.



[1] Public Opinion Survey Residents of the Autonomous Republic of Crimea May 16 – 30, 2013, dimuat pada laman http://www.iri.org/sites/default/files/2013%20October%207%20Survey%20of%20Crimean%20Public%20Opinion,%20May%2016-30,%202013.pdf, diakses pada 26 April 2014.

[2] http://www.crimeaconsulting.com/crimea.html, diakses pada 26 April 2014.

[3] http://en.wikipedia.org/wiki/Crimea, diakses pada 26 April 2014.

[4] http://www.antaranews.com/berita/422113/lima-fakta-kunci-tentang-krimea.

[5] The Crimean Tatars: Overview and Issues, Oktober 2009, dimuat pada laman http://www.unpo.org/images/2009_Presidency/crimean%20tatars,%20overview%20and%20issues,%20october%202009.pdf.

[6] Brian Glyn Williams, The Sultan’s Raiders, The Military Role of the Crimean Tatars in the Ottoman Empire, The Jamestown Foundation, Washington, D.C., 2013.

[7] Igor Davydov, The Crimean Tatars and Their Influence on the ‘Triangle of Conflict’ — Russia-Crimea-Ukraine, Thesis Naval Postgraduate School, Monterey  California, Maret 2008

[8] Idem

[9] Idem

[10] Naskah aslinya dapat diunduh dari laman http://www.jamestown.org/uploads/media/Crimean_Tatar_-_complete_report_01.pdf

[11] http://en.wikipedia.org/wiki/Crimean_War

[12] http://www.bbc.co.uk/history/british/victorians/crimea_01.shtml

[13] AS History: Unit 2 The Crimean War dimuat pada laman www.whshumanities.co.uk/attachments/download.asp?file=259...pdf

[14] http://en.wikipedia.org/wiki/Crimean_War

[15] http://www.reuters.com/article/2014/03/02/us-ukraine-crisis-tatars-idUSBREA210VI20140302

[16] http://www.reuters.com/article/2014/03/02/us-ukraine-crisis-tatars-idUSBREA210VI20140302

[17] http://hizbut-tahrir.or.id/2014/03/31/konflik-atas-semenanjung-krimea/