Jihad Al-Qaidah Negeri Maghrib Islam dan Ansharuddin di Mali

01 July 2013

Strategi Kontra-Terorisme Nasional AS (2006)

Itulah sumpah yang dilontarkan AS dan mulai dibuktikan lewat serangan ke Somalia pada awal tahun 2007. Tujuannya adalah memusnahkan benih jihad yang bersemi di sana. Mereka khawatir Somalia menjadi SAFE HEAVEN baru bagi Al-Qaidah dan kelompok jihad lain yang nantinya akan mengancam Barat dan kepentingannya. Prediksi mereka, Al-Qaidah akan memindahkan jihadnya ke Afrika.

Kekhawatiran itu kini mulai terbukti. Tidak sekadar memindahkan, namun justru melakukan ekspansi. Kawasan Af-Pak (Afghanistan-Pakistan) belum tuntas, kini muncul ladang baru di Yaman, Suriah, dan yang paling aktual, Mali serta kawasan Afrika Utara lainnya. Boko Haram mendeklarasikan diri di Nigeria, Aljazair geger dengan peristiwa penyanderaan ekspatriat asing, dan Mali pun berpotensi menjadi Afghanistan Baru di kawasan Afrika—sebuah tempat perlindungan yang memungkinkan Al-Qaidah dan kelompok jihad lainnya untuk berlatih dan menyiapkan serangan.

Situasi di Mali seperti “tong mesiu” yang bisa menimbulkan kegoncangan di wilayah sekitar dan membahayakan kepentingan Barat. Menanggapi pertempuran berikutnya di Afrika, Perdana Menteri Inggris David Cameron pun memberikan istilah baru dalam perang melawan Islam di Afrika: generational struggle atau “perjuangan generasi”.

“Bersama kawan kita di wilayah tersebut, kita kini berada di tengah sebuah ‘perjuangan generasi’ melawan ideologi Islam yang telah terdistorsi secara ekstrem…. Kita harus menghadang ideologi beracun ini di dalam dan luar negeri, serta menghambat usaha ideologi ini untuk memecah dunia ke dalam benturan peradaban.”

“Empat tahun lalu ancaman utama ekstremis Islam berasal dari kawasan Pakistan dan Afganistan. Berbagai usaha telah dilakukan untuk mengurangi skala ancaman tersebut. Namun, kini cabang Al-Qaidah telah tumbuh di Yaman, Somalia, dan wilayah Afrika Utara. Wilayah tersebut kini tidak lagi terancam oleh teroris, namun justru menjadi magnet yang akan menarik para jihadis dari berbagai negara untuk berbagi ideologi tersebut.”

Para pimpinan Al-Qaidah sendiri sudah lama merencanakan untuk membuka ladang jihad di Afrika. Pada bulan Juni 2006, dalam majalah Shada Al-Jihad, seorang penulis yang menamakan dirinya Azzam Al-Anshari menulis sebuah artikel berjudul “Al-Qaidah Bergerak Menuju Afrika”. Dalam artikel tersebut, ia menegaskan nilai strategis Afrika sebagai “tambang emas” yang belum banyak dieksplorasi bagi jihad global.

“Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qaidah dan para mujahidin mengapresiasi nilai penting Afrika bagi kampanye militer melawan pasukan Salib. Banyak pihak merasa bahwa benua ini belum menemukan peran yang tepat sebagaimana yang diharapkan. Tahap berikutnya dari konflik ini akan menjadikan Afrika sebagai ladang pertempuran berikutnya…. Afrika adalah tanah yang subur bagi pertumbuhan jihad dan mujahidin.”

Anshari menjelaskan beberapa faktor yang membuat Afrika begitu menarik bagi perjuangan Islam berikutnya, di antaranya:

(1) Meningkatnya kekuatan Islam di benua tersebut.

(2) Mudahnya pergerakan antarnegara dan di dalam negara yang pemerintahannya cenderung lemah.

(3) Lemahnya kekuatan militer dan pasukan keamanan local.

(4) Kemiskinan yang umum terjadi di sana yang memungkinkan mujahidin untuk memberikan bantuan finansial dan kesejahteraan—satu hal yang nantinya akan memudahkan dalam menempatkan operator penting di sana.

(5) Satu lagi—yang sangat penting—adalah jarak antara Eropa dan Afrika Utara yang memudahkan untuk melancarkan serangan ke jantung Barat di Eropa. Selat Gibraltar, yang memisahkan Maroko dan Spanyol hanya membentang seluas 13 km.

(6) Yang tak kalah penting dari jarak geografis adalah akses ke Eropa yang disediakan oleh para simpatisan Islam yang berasal dari imigran Afrika Utara di Eropa Barat.

Posisi yang lebih kuat di Afrika akan memberikan Al-Qaidah basis yang kuat untuk melakukan ekspansi lebih jauh lagi, termasuk ke Israel.

 

Mali: Medan Jihad Paling Bergolak di Afrika Hari Ini

Republik Mali—atau dalam bahasa Prancis disebut Republique du Mali—adalah sebuah negara yang terkurung daratan (land locked country) di Afrika Barat, yang sebelumnya merupakan jajahan Prancis terbesar kedua di Afrika Barat. Di sebelah utara berbatasan dengan Aljazair, dengan Nigeria sebelah timur, Burkina Faso dan Pantai Gading di sebelah selatan, Giunea di sebelah barat daya, serta Mauritania di sebelah barat. Perbatasannya di sebelah utara memanjang ke tengah Gurun Sahara.

Republik Mali terbagi menjadi 8 provinsi dan 1 distrik, yang meliputi Gao, Kayes, Kidal, Koulikoro, Mopti, Segou, Sakasso, Timbuktu, dan distrik Bamako (yang menjadi ibu kota Mali). Populasi penduduk Mali meliputi 15 juta jiwa dan mayoritas muslim. Sebagian besar penduduknya tinggal di wilayah selatan di mana terdapat Sungai Niger dan Senegal. Negara yang dulunya bernama Sudan Prancis ini mengambil namanya dari Kekaisaran Mali.

Pada Maret 2012 terjadi kudeta militer menggulingkan Presiden Mali Amadou Toumani Toure menjelang pemilu April 2012, di bawah pimpinan Kapten Amadou Sinogo, seorang perwira yang dilatih di AS. Kudeta dilakukan karena ketidakpuasan atas ketidakmampuan Toure dalam menahan pemberontak yang semakin meningkat perlawanannya di wilayah utara.

Peluang ini dijadikan kesempatan emas oleh para pemberontak untuk mendeklarasikan kemerdekaannya pada 6 April 2012, yang mencakup 2/3 wilayah Negara; sedikit lebih besar dari Prancis. Pada 14 Januari 2013 kekuasaannya sudah semakin merengsek ke selatan sekitar 400 km dari ibukota negara, Bamako.

Pemberontakan ini bermula dari ketidakpuasan etnis Tuareg yang menempati Mali bagian utara atas diskriminasi sosial yang mereka dapatkan. Januari 2012 meletuslah pemberontakan, meluncurkan lagi perang puluhan tahun lalu yang pernah terjadi sejak kemerdekaan dari pemerintah kolonial Prancis pada tahun 1960. Mereka menuntut kemerdekaan Tuareg di wilayah utara, yang mereka klaim sebagai negara mereka. Pemberontakan ini diperkuat oleh gerilyawan bersenjata berat yang baru kembali dari Libia.

Etnis Tuareg merupakan etnis unik yang tinggal di hamparan barat wilayah Sahel Sahara yang mencakup beberapa negara, termasuk Mali bagian utara, Aljazair, Libia, Niger, dan Burkina Faso. Para pemberotak terdiri dari kubu nasionalis sekuler dan Islam militan yang berasal dari tubuh etnis Tuareg sendiri dan dari negara-negara tetangga dengan agenda masing-masing. Namun, pada akhirnya perjuangan diambil alih sepenuhnya oleh kelompok-kelompok jihadi.

 

Intervensi Negara Asing

Pascakudeta militer, negara-negara Barat dan Afrika—termasuk Kanada—memberikan sanksi terhadap Mali. Namun, sanksi tersebut dicabut setelah kekuasaan diserahkan kepada pemerintahan sipil sementara meskipun militer masih terus memegang kendali. Pada Desember 2012 Dewan Keamanan PBB mengeluarkan Resolusi Otorisasi Intervensi Militer di Mali yang berkekuatan sekitar 3.300 tentara dari beberapa negara anggota yang bergabung dalam ECOWAS (Masyarakat Ekonomi Negara Afrika Barat).

Prancis pun melancarkan intervensinya pada Jumat (11/1/2013) setelah pemerintahan sementara negara itu “mengundang” mereka guna menghentikan peningkatan serangan kelompok “pemberontak” yang memiliki jaringan dengan Al-Qaidah. Bombardir pesawat tempur dan helikopter tempur Prancis menyasar posisi mujahidin Ansharuddin dan Al-Qaidah Negeri Maghrib Islam (AQIM) di kota Sevare dan Kona, Mali Utara. Saat itu ekspansi mujahidin menunjukkan perkembangan yang mengarah ke ibukota Bamako. Serangan udara sukses memukul mundur pejuang, dan kota-kota strategis pun berhasil direbut kembali.

Intervensi ini terutama dimotivasi oleh ketakutan jika para “pemberontak” (baca: Al-Qaidah) mendapatkan kontrol yang lebih besar di Mali, sehingga mereka memperoleh kebebasan yang lebih luas untuk melancarkan serangan terhadap kepentingan bangsa-bangsa lain di sekitarnya. Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian pun memperingatkan bahwa mengizinkan Mali jatuh ke pemberontak bisa mengakibatkan kondisi di mana teroris berada di depan pintu Prancis dan Eropa.

Intervensi Prancis ke Mali juga dilatarbelakangi adanya sekitar enam ribu warga negaranya di Mali; tujuh di antaranya disandera oleh AQIM. Prancis menjadi negara pertama yang memberikan dukungan militer kepada pasukan Mali dalam menghadapi mujahidin. Tercatat 750 tentara di ibukota dan meningkat terus hingga tak kurang 4.000 personel, sejumlah jet, dan helikopter tempur dikirim ke sana.

Selanjutnya, pada 15 Januari 2013, seorang perwira Prancis mengadakan pertemuan di Bamako, di mana pejabat militer Barat di Afrika dan Prancis bertemu bersama dengan rekan-rekannya di ECOWAS. Mereka membahas mengenai penyebaran pasukan di Mali. Para pemimpin ECOWAS bersumpah untuk menyebarkan pasukan segera. Sementara itu, Presiden Prancis Francois Hollande, Menteri Luar Negeri Prancis Laurent Fabius, dan Menteri Pertahanan Prancis Jean-Yves Le Drian menggebu-gebu menggalang dukungan Inggris, Amerika Serikat, dan Barat untuk segera menerjunkan pasukannya dalam rangka mendukung invasi militer tersebut.

Inggris dan Kanada menawarkan bantuan logistik untuk operasi Prancis, masing-masing mengirimkan pesawat kargo. Harper mengutarakan alasan mengapa Kanada terlibat dalam konflik  ”Pembentukan daerah teroris di tengah Afrika adalah keprihatinan yang mendalam bagi masyarakat internasional yang lebih luas termasuk Kanada dan sekutu dekat kami.”

Dunia internasional mengikuti berita dan perkembangan invasi militer tersebut dengan penuh tanda tanya. Hakikat persoalan yang terjadi di Mali Utara dan invasi militer tersebut pada mulanya belum dipahami oleh banyak pihak. Dampak invasi militer tersebut terhadap aspek ekonomi, politik dan keamanan Negara Mali, negara-negara Afrika Barat dan Barat sendiri pun dipertanyakan. Para analis juga memperingatkan bahwa negara-negara Barat bisa terlibat dalam banyak konfik yang lebih rumit dari apa yang mereka alami di Afghanistan dan Irak. Intervensi mereka juga bisa dibaca sebagai “serangan lain” terhadap kaum muslimin.

Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Catherine Ashton mengatakan bahwa Uni Eropa kini memobilisasi aksi yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat. ”Aksi militer itu diperlukan, dukungan logistik telah datang dari negara-negara anggota…bekerja sama untuk membawa dukungan yang komprehensif”, katanya. Misi memiliki mandat 15 bulan dengan biaya € 12,3 juta dan markas misi berada di ibukota Mali, Bamako. Para tentara Mali akan dilatih untuk menghadapi pertempuran sengit bersama Prancis menghadapi militan Islam. Sekitar 500 tentara akan pergi. Uni Eropa juga berencana menggulirkan bantuan sekitar € 60 juta untuk pasukan internasional yang dipimpin oleh Afrika. Belum lagi bantuan pembangunan (rekonstruksi) setelah kemenangan berhasil dicapai.

Prancis pun mendapatkan tawaran bilateral segar. Jerman menawarkan 2 pesawat, Spanyol mengirimkan pesawat dan 50 tentara dalam misi pelatihan. Italia, Irlandia, dan Hungaria telah merencanakan bantuan. Belgia, Inggris, Denmark, dan Belanda telah memberikan dukungan. Beberapa sekutu Prancis di Eropa disinyalir mengirimkan pasukan tempur. Jerman termasuk negara yang menghimbau hal tersebut meskipun hanya untuk sementara waktu.

Sekjen PBB Ban Ki Moon mengatakan, Mali akan memerlukan dua pasukan penjaga perdamaian yang terpisah untuk memelihara ”perdamaian” wilayah tersebut. Bahkan, dalam salinan Laporan Sekjen PBB yang dikeluarkan terlebih dulu sebelum diajukan ke Dewan Keamanan, ia mengatakan, ”Pasukan penjaga perdamaian yang beranggotakan 11.000 tentara kelak akan mengambil alih misi pasukan awal yang dipimpin oleh Afrika.”

Ban Ki Moon juga menambahkan, karena masih adanya ancaman di Mali, harus ada kekuatan pasukan yang sepadan untuk menghadapi pertempuran besar dan menjalankan tugas kontraterorisme. Masyarakat internasional khawatir negara itu akan menjadi sarang baru teroris dan mereka mendukung sepenuhnya upaya Afrika untuk campur tangan secara militer.

 

Aktivitas Perlawanan

AQIM telah meningkatkan keterlibatannya pada situasi yang terjadi di Mali pasca kerusuhan di Libia. Jaringan AQIM yang berjalan melalui gurun sahara telah berhasil menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok jihad Islam lokal yang ada di Afrika. Pemberontakan Tuareg di Mali dan efek destabilisasi kudeta membuka pintu bagi para pejuang Ansharuddin dan Jamaah Tauhid dan Jihad di Afrika Barat (MUJWA/MUJAO) untuk merebut wilayah di bagian utara Mali. Sementara itu, Gerakan Nasional Pembebasan Azawad (MNLA)—yang mayoritas didominasi oleh orang-orang sekuler—juga mengadakan aliansi dengan Ansharuddin setelah terjadi kudeta.

Persenjataan dan pendanaan Ansharuddin cukup kuat sehingga mereka mampu mengatur dan menerapkan hukum syariah di wilayah yang dikuasainya. Ansharuddin merupakan kelompok jihadi Tuareg yang dikenal dengan ideologi salafi jihadi yang ingin menerapkan syariah di Mali Utara, yang dipimpin oleh Iyad Ag Ghaly, seorang tokoh karismatik. Adapun Jamaah Tauhid dan Jihad di Afrika Barat—kelompok jihad kecil yang dianggap cabang dari AQIM—juga telah berjuang bersama dengan Ansharuddin. Kehadiran kelompok-kelompok Islam jihadi seperti Boko Haram dari Nigeria juga telah dilaporkan berada di Mali sejak pertempuran dimulai.

Uang tebusan dari penculikan Barat diduga sebagai sumber pendanaan kelompok-kelompok Islam yang beroperasi di wilayah Sahel, suatu daerah transisi yang membentang di seluruh Afrika Utara. Diperkirakan persenjataan mereka peroleh dari “pasar gelap” dan dari peralatan militer yang ditinggalkan pasukan Mali saat mundur.

UNHCR mengatakan, lebih dari 35 ribu orang dari total populasi 15 juta jiwa telah mengungsi akibat konflik ke beberapa negara tetangga. Dalam hal ini belum terdata secara persis akumulasi jumlah korban jiwa yang jatuh akibat konflik yang berlangsung satu dekade. Konflik Mali tidak hanya terbatas pada teritorial mereka belaka, namun telah merambah ke negara tetangga, seperti Aljazair dan Niger, yang mana pejuang Islam di negara itu telah bersekutu dengan pejuang Mali. Ancaman ini memiliki konsekuensi lebih luas yang tidak hanya melampaui batas-batas wilayah, tetapi juga di luar Afrika.

Oumar Ould Hamaha, seorang komandan perlawanan Mali, memperingatkan kepada radio Prancis, ”Intervensi Prancis di Mali telah membuka gerbang neraka untuk semua, dan Prancis telah jatuh ke dalam perangkap yang lebih berbahaya daripada Iraq, Afghanistan, maupun Somalia.” Pemimpin perlawanan juga telah memperingatkan bahwa intervensi akan memiliki konsekuensi bagi tujuh warga Prancis yang di sandera AQIM. Hal ini memaksa Prancis untuk menghimbau sekitar 6000 warganya yang tinggal di Mali untuk segera meninggalkan negara itu.

Kelompok-kelompok terkait Al-Qaidah yang sebelumnya menguasai Mali Utara dan menjalankan pemerintahannya di sana sejak April 2012 terlihat berhasil dipukul mundur setelah intervensi Prancis sejak Januari 2013 lalu. Atas langkah yang diambil Prancis, negara ini kehilangan warganegaranya yang disandera. Komandan penyandera yang memancung kepala Phillip Verdon pada 10 Maret 2013 menyatakan, ”Prancis harus bertanggung jawab atas intervensinya di Mali Utara”. Adapun total warga Prancis yang disandera terhitung sejak 2010 ada 14 orang.

Intervensi Prancis masih berkelanjutan; bekerja sama dengan militer Mali serta didukung oleh negara-negara Barat maupun Amerika Serikat. Sementar ini mereka berhasil menahan dan memukul mundur kelompok jihadi yang bertindak di bawah payung Al-Qaidah Negeri Maghrib Islam (AQIM) dari wilayah Gao, Timbuktu, dan kota-kota lain di Mali Utara yang semula dikuasai oleh para pejuang Islam.

Kelompok jihadi ini dengan cepat menarik diri dari kota-kota utama di utara dan bergabung kembali di benteng terpencil mereka di gunung dekat perbatasan Aljazair. Perkembangan situasi yang berlangsung di Mali dan Afrika Barat terus menjadi perhatian, mengingat mujahidin terus berusaha untuk membuka daerah-daerah lain sebagai front baru dalam jihad.

 

Invasi Mali dalam Perspektif AQIM

Dalam surat pernyataannya yang dirilis pada Sabtu (11/5/2013), Al-Qaidah Negeri Maghrib Islam (AQIM) mengungkapkan bahwa Prancis menguras kekayaan Benua Afrika, melakukan hegemoni politik di benua itu, dan menjajahnya secara militer. Benua Afrika menjadi mangsa yang diolah oleh Prancis sesuai kehendaknya sendiri.

AQIM menyatakan bahwa Benua Muslim Afrika “secara militer dijajah, secara ekonomi mengekor, dan secara politik dilucuti kehendaknya,” laporan situs berita Sahara Media.

AQIM menambahkan, “Hampir tiada satu negara pun di Afrika Utara dan Afrika Barat yang lepas dari tiga hegemoni Prancis. Kedutaan Besar Prancis adalah penguasa politik yang sesungguhnya di negara-negara tersebut, pangkalan militer untuk melindungi kepentingan-kepentingan Prancis, serta para karyawan pencuri dan penghisap darah berseragam resmi.”

AQIM juga menjelaskan bahwa keberadaan Prancis di Benua Afrika dilandasi oleh kepentingan stratejik bagi eksistensi negara Prancis sendiri. Sebab, Prancis adalah negara debitor kapitalis asing terbesar di mana lebih dari 66 % utang negara-negara Afrika Barat dan Afrika Utara berasal darinya. Tumpukan gunung utang itu telah membuat negara-negara Afrika Barat dan Afrika Utara sebagai “negara yang digadaikan” kepada pihak asing. Hal itu menjadi alasan tambahan bagi pihak asing untuk memonopoli kekayaan alam negara-negara Afrika Barat dan Afrika Utara.

AQIM menegaskan bahwa invasi militer Prancis di membuktikan sampai saat ini kekuasaan tertinggi di Benua Afrika masih berada di tangan Prancis. Para rezim di kawasan itu hanyalah barisan boneka yang diangkat oleh Paris untuk menjaga kekayaan besar bernama Afrika. Rakyat Afrika dijual oleh penguasa yang zalim tanpa proses musyawarah. AQIM menyebut para penguasa negara-negara Afrika sebagai para budak dan barbar yang harus diberi hukuman sebagaimana mestinya.

Seberapa jauh persiapan dan kemampuan mujahidin Ansharuddin dan Al-Qaidah Negeri Maghrib Islam (AQIM) untuk melawan invasi militer “keroyokan” tersebut? Apa upaya kedua kelompok jihad Islam tersebut untuk menggalang dukungan dari rakyat Mali, negara-negara Afrika Barat dan dunia Islam pada umumnya? Bagaimana pandangan kedua kelompok jihad Islam itu terhadap rakyat negara-negara Afrika Barat dan Barat sendiri?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Amir Al-Qaidah Negeri Maghrib Islam (AQIM) Abu Mush’ab Abdul Wadud merilis video via Yayasan Al-Andalus, sayap media AQIM pada 3 Desember 2012 yang bertajuk Ghazwu Mali…Harbun Faransiyyatun bil Wakalah atau “Invasi Militer ke Mali: Perang Proxy Prancis”. Dalam video berdurasi 26 menit 11 detik, yang dipublikasikan sekitar lima pekan sebelum dimulainya invasi militer Prancis di Mali Utara tersebut, Abu Mush’ab Abdul Wadud menyampaikan enam pesan.

Pesan pertama membongkar tujuan sebenarnya dari invasi militer yang digelar Prancis, Barat, dan ECOWAS di Mali Utara.

Pesan kedua menjelaskan tujuan mujahidin adalah melindungi agama, tanah air dan kepentingan kaum muslimin dengan melawan penjajahan kekuatan zionis-salibis internasional dan menghentikan intervensi mereka atas urusan dalam negeri kaum muslimin.

Pesan ketiga merupakan ucapan selamat kepada para pemuda Mali Utara yang bergabung dengan mujahidin untuk menegakkan proyek penerapan syariat Islam. Pesan itu juga menyerukan kepada rakyat muslim Mali, para ulama, juru dakwah, pemuda, orang tua, orang-orang cerdas dan cendekiawannya, serta seluruh sukunya untuk melindungi proyek penerapan syariat Islam dengan mendukung mujahidin Ansharuddin.

Pesan keempat merupakan seruan kepada bangsa-bangsa Afrika untuk mendukung mujahidin dan menentang kezaliman penjajah salibis Barat.

Pesan kelima merupakan seruan kepada bangsa Prancis untuk melawan kebijakan invasi militer Presiden Prancis dan melengserkannya guna menghindarkan rakyat Prancis dari krisis ekonomi dan politik yang lebih parah.

Pesan keenam merupakan pernyataan sikap tegas kepada Presiden Prancis dan para pemimpin negara ECOWAS yang terlibat dalam invasi militer di Mali Utara. AQIM menjanjikan perang gerilya dalam jangka panjang yang akan menguras habis kemampuan ekonomi dan militer para agresor. AQIM juga menjanjikan serangan terhadap kepentingan-kepentingan penjajah salibis Prancis di Afrika Barat.

Selanjutnya, pada bagian akhir pesannya, Amir AQIM menegaskan:

“Saya sampaikan kepada setiap orang yang memobilisasi dan nekat menggelar perang yang zalim ini, di mana pemimpinnya adalah Presiden Prancis dan sebagian pemimpin negara-negara pesisir barat Afrika yang berbaris di belakang Presiden Prancis.

Saya katakan kepada mereka…

Jika kalian menginginkan perdamaian dan keselamatan di negara kalian dan negara-negara pesisir (Afrika Barat) serta negara-negara sekitarnya, maka kami menyambut baik keinginan tersebut…

Namun, jika kalian menginginkan peperangan maka kami pun akan melayani keinginan kalian… Padang Sahara yang luas akan menjadi kuburan bagi tentara-tentara kalian dan kehancuran bagi harta-harta kalian, dengan izin Allah…

Kami adalah putra-putra perang… Kami tumbuh dewasa dalam suasana perang dan kami memiliki pengalaman yang kaya dalam persoalan perang yang membuat kami akan memenangkan peperangan seperti ini…

Kami sampaikan kabar gembira kepada kalian bahwa kami memiliki nafas yang sangat panjang… Dahulu kami telah menerjuni peperangan yang memakan waktu dua puluh tahun dengan berbekal senapan berburu dan beberapa pucuk senapan mesin belaka.

Adapun sekarang Allah telah mengaruniakan kepada kami perbendaharaan yang besar berupa persenjataan, amunisi, dan para pemuda yang bersemangat baja. Maka kami mampu membalas segala bentuk serangan dan kami mampu memberikan perlawanan untuk satu abad ke depan…

Kami akan antusias menjadikan perang ini sebagai perang jangka panjang yang menguras energi kalian dan memperdalam krisis ekonomi dan politik kalian. Kami akan sangat antusias menjadikan pecahan-pecahan perang ini menghantam setiap rumah kaca lemah yang pemiliknya turut serta dalam menyerang kami.

Kami akan menerjuni peperangan suci demi Islam dan membela tanah air Islam, dengan meminta pertolongan kepada Rabb kami dan percaya sepenuhnya akan pertolongan-Nya kepada hamba-hamba-Nya yang beriman. Sesungguhnya, Allah—Yang telah mengalahkan Amerika dan antek-anteknya di di Afghanistan dan Irak—akan mampu untuk mengalahkan Prancis dan antek-anteknya di gurun terluas, yang akan menenggelamkan mereka dalam lautan pasirnya yang panas membakar.

Jika kalian menginginkan perang, maka kami menyambutnya dan akan menambahnya. Kami akan meraih kemenangan dengan kekuatan dan pertolongan Allah semata, sebagaimana yang difirmankan Allah ‘Azza wa Jalla dalam Kitab-Nya: 

Orang-orang yang yakin bahwa mereka kelak akan menghadap Allah. Mereka itu mengatakan, “Betapa sering terjadi satu kelompok kecil mengalahkan satu kelompok besar atas izin Allah, dan Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar.” (Al-Baqarah: 249)

(Sumber: Yayasan Media Al-Andalus, AQIM, Desember 2012, —Muhib Al-Majdi/AR)

 

Pernyataan Terkini dari AQIM dan Ansharuddin

Mujahidin Ansharuddin terbukti cukup mampu memberikan perlawanan. Bahkan, setelah dua bulan kesibukan perang, kelompok jihad ini sempat merilis pernyataan tentang apa yang sebenarnya terjadi di Mali (26/3). Berikut ringkasan dari 13 poin pernyataan mereka—sebagaimana dikutip An-Najah.net:

1. Perang di Mali adalah Perang Salib, bukan seperti digambarkan oleh yang menyalakan api perang di sana yang mengklaim bahwa tujuannya adalah perang melawan terorisme, perlindungan hak asasi manusia, dan menghentikan bahaya yang mengancam keamanan dan stabilitas kawasan, dan di luar Eropa. Kenyataan sebenarnya bahwa kampanye ini memiliki dua tujuan utama:

Pertama, mencegah pembentukan setiap entitas yang berusaha untuk membebaskan bangsa dari perbudakan sekuler rezim tiran, dan seruan untuk hidup bebas di bawah naungan aturan hukum Islam.

Kedua: upaya Prancis untuk melanggengkan para pengkhianat dan tirani yang bekerja untuk mereka.

2. Perang Salib di Mali menjelaskan sebesar apa kebencian dan ketidaksukaan Prancis terhadap Islam dan Muslim. Hal ini tampak jelas dalam penargetan terhadap jamaah shalat di masjid. Bangunan masjid dihancurkan saat mereka sedang tenang menunaikan shalat.

3. Permainan media Prancis yang menjijikkan untuk menipu mata kaum muslimin dunia, di mana mereka menggambarkan Muslim Mali suka mabuk, merokok, dan menyanyi. Media juga menggambarkan kaum muslimin Mali meminta Prancis memasuki Mali. Ini hanyalah tipuan untuk membenarkan niat busuk Prancis.

4. Umat Islam bertanggung jawab untuk memahamkan kepada bangsa Mali, siapakah sejatinya anak-anak bangsa Mali dan siapakah pemimpin mereka yang ikhlas, yang berupaya mengembalikan kehormatan dan kemuliaan bangsa Mali.

5. Kami memberitakan kepada saudara-saudara kami di Mali bahwa putra-putra kalian yang bergabung dengan Ansharuddin dalam keadaan baik. Kepemimpinan mereka dipegang oleh Syekh Abu Fadhl Iyad Ag Ghali, dan ia pun dalam keadaan sehat. Dialah yang memimpin perjuangan melawan tentara Salib Prancis.

6. Media Prancis telah mengklaim angka fiktif terkait jumlah korban terbunuh dari pihak Mujahidin. Itu mereka lakukan untuk mendongkrak semangat tentara mereka yang lemah.

7. Kami mengucapkan selamat kepada saudara-saudara kami yang ditempatkan di Quaoa dan Timbuktu, serta lainnya di setiap medan pertempuran. Mereka telah menunjukkan pengorbanan dan perlawanan terbaik menghadapi Tentara Salib.

8. Kami menyampaikan ucapan terima kasih kepada umat Islam, yang ikut mendukung perlawanan terhadap agresi Prancis di tanah kami. Kami mengapresiasi kesadaran kalian tentang hakikat konflik ini. Kami juga berterima kasih kepada ulama dan pemimpin yang telah mengungkap kebusukan politik Prancis.

9. Kami menyatakan kebohongan media yang memberitakan bahwa kami melakukan pembakaran naskah kuno di Pusat Ahmed Baba di Timbuktu.

10. Kami tidak akan pernah lalai dari setia kejahatan dan pelanggaran terhadap saudara-saudara kami di Mali yang didalangi oleh Prancis.

11. Kami memohon kepada ahli ilmu dan para pemikir yang berpengaruh untuk tidak berpangku tangan hanya karena hasutan dan tipuan. Sejatinya, Prancis ingin membenamkan kami dalam kebinasaan dan menanam kebencian dan permusuhan di antara kami, serta memicu perang saudara.

12. Kami berpesan kepada warga Mali di dalam maupun di luar negeri untuk mendukung saudara-saudara mereka, dan menunaikan kewajiban yang telah diturunkan oleh Allah bagi orang-orang Islam, yaitu untuk berjihad melawan agresor yang menargetkan agama, tanah air, dan kehormatan. Terutama karena lawan kali ini adalah tentara salib.

13. Kami menyampaikan pesan kepada setiap individu dan kelompok yang berbeda dengan kami dan tidak setuju dengan visi kami, kami menyampaikan bahwa perang kami melawan antek Prancis adalah jihad yang sah, sesuai syariat. Dalil-dalil syar’i menunjukkan kebenarannya dan disepakati oleh ulama umat ini.

Kemudian pada hari Sabtu (6/4/2013), secara resmi AQIM mengeluarkan pernyataan resmi yang membantah klaim Prancis tentang gugurnya Amir AQIM kawasan Sahara. Dalam pernyataannya, AQIM menegaskan bahwa pengangkatan Komandan Yahya Abu Hammam dilakukan oleh AQIM lima bulan sebelum penjajah salibis Prancis melakukan invasi militer di Mali Utara. Kebohongan itu sengaja dilakukan oleh presiden Prancis guna mengangkat populitasnya yang anjlok di dalam negeri. AQIM juga menjanjikan jihad seluruh suku muslim di Afrika Barat dan Afrika Utara untuk mengusir penjajah salibis Prancis.

Selanjutnya pada 25 April 2013, AQIM kembali merilis pesan audio berdurasi 19 menit 32 detik itu diberi judul Al-Harbu ‘ala Mali (Invasi terhadap Mali). Tampil dalam audio tersebut Ketua Dewan Penasihat Al-Qaidah Negeri Maghrib Islam (AQIM) Abu Ubaidah Yusuf Al-Anabi. Dalam video tersebut ia menguraikan empat motif utama invasi militer salibis Prancis di Mali Utara. Selain itu, ia juga menyerukan seruan jihad dan persatuan kepada umat Islam untuk menolong umat Islam di Mali Utara. Berikut ini sebagian terjemahannya: 

Sesungguhnya Perang Salib yang dilancarkan oleh Prancis pada hari ini terhadap kaum muslimin merupakan salah satu bagian dari hakikat yang sangat terang ini, hakikat yang telah ditetapkan dan ditegaskan oleh Al-Qur’an Al-Karim, meskipun—seperti biasanya—Prancis selalu menyangkalnya. Maka tidak heran, kita mendapati Prancis berada dalam kesembronoan setiap kali ia mencoba mencari alasan pembenaran bagi invasi militer yang ia lancarkan di Mali.

Pertama, Prancis memberikan alasan-alasan pembenaran yang satu sama lainnya saling bertentangan saat menyatakan ia terpaksa memenuhi permintaan tolong yang diajukan oleh presiden Mali.

Kedua, Prancis memberikan alasan-alasan pembenaran yang satu sama lainnya saling bertentangan saat menyatakan ia terpaksa melakukan invasi militer guna melindungi para warga Prancis yang hidup di negara Mali.

Pada kali berikutnya (ketiga—pnj), Prancis memberikan alasan-alasan pembenaran yang satu sama lainnya saling bertentangan saat menyatakan bahwa alasan utama invasi militer tersebut adalah menyelamatkan penduduk Azawad dari cengkeraman para aktivis jihad.

Prancis berturut-turut mengungkapkan alasan-alasan pembenaran lainnya, namun semuanya adalah dalih-dalih yang sangat lemah, sampai-sampai tidak mampu meyakinkan warga negara Prancis sendiri. Hari ini seluruh dunia mulai mengetahui bahwa klaim-klaim Prancis tersebut adalah kebohongan tulen. Sebab, seandainya klaim-klaim Prancis itu benar, tentulah Prancis akan melakukan invasi militer di Suriah di mana warga Prancis di Suriah lebih banyak dan lebih penting, selain karena Prancis mendapat seruan yang banyak dan berulang kali dari berbagai pihak di tubuh oposisi Suriah.

Prancis kemudian mengklaim bahwa penduduk Azawad mengalami penindasan dan kekerasan dari mujahidin yang selamanya tidak bisa dibandingkan dengan penderitaan rakyat Suriah berupa pembantaian dan pengusiran yang tersistematis selama dua tahun penuh, di mana selama waktu tersebut Prancis hanya berpangku tangan saja, memandang penderitaan umat Islam di Suriah dengan pandangan orang yang senang karena musuhnya menderita.

Sementara itu Prancis bersegera mempertontonkan “ototnya yang kekar” di Mali dengan dalih-dalih yang keji dan palsu. Begitu tentara invasi Prancis memasuki kota Gou, Timbuktu dan Kedal, mereka langsung melepaskan antek-anteknya yaitu tentara Mali, milisi Mautur dan beberapa milisi etnis lainnya yang sangat mendengki penduduk asli wilayah-wilayah tersebut. Tentara Mali dan milisi-milisi itu langsung melakukan pembantaian, perampokan, pemerkosaan, dan pengusiran terhadap penduduk asli di desa-desa dan kota-kota yang mereka masuki...

Mustahil pembantaian-pembantaian itu terjadi tanpa adanya kerelaan Prancis atau isyarat Prancis, sebab Prancis mengetahui persis tentara Mali memendam kebencian dan dendam membara terhadap penduduk Mali Utara.

Di antara hal yang membuktikan bahwa semuanya telah dirancang adalah adanya larangan terhadap liputan media massa yang netral. Prancis memaksakan invasi militer di Mali tanpa foto, tanpa video, tanpa saksi-saksi, sehingga dunia tidak mendengar berita kecuali berita yang dikatakan oleh Prancis, dan tidak melihat liputan kecuali liputan yang dipublikasikan oleh Prancis...

Setelah jelas bagi kita bahwa alasan-alasan pembenaran yang diungkapkan secara terang-terangan bagi invasi militer Prancis ini adalah bukan alasan-alasan yang sebenarnya. Maka kita hanya perlu mencari alasan-alasan tersembunyi di balik invasi militer Prancis ini.

Orang yang mengikuti perkembangan peristiwa tidak memerlukan usaha yang besar untuk bisa mengungkap keinginan-keinginan pemerintah Prancis di balik invasi militer ini, di mana ia bisa dibatasi pada empat motif utama.

Motif pertama, motif agama

Sesungguhnya permusuhan Prancis kepada agama Islam telah berlangsung sejak sangat lama. Sejak negara Prancis muncul sebagai kekuatan internasional dan memulai invasi-invasi kolonial salibisnya, maka serangan dan permusuhan Prancis kepada kaum muslimin terus berlangsung sampai hari ini. Meskipun pada masa-masa terakhir ini permusuhan Prancis kepada kaum muslimin melalui cara-cara, yang lebih bernuansa kekejian, tipudaya, kelicikan, dan membongkar “struktur bawah” peradaban dan identitas keislaman guna meruntuhkannya dan menghapus rambu-rambunya; tidak lagi terburu-buru mempergunakan kekuatan militer. Invasi salibis terbaru Prancis ini hanyalah bukti lain dari betapa sangat mengakarnya permusuhan terhadap kaum muslimin dalam hati para politikus Prancis masa sekarang dan masa dahulu, politikus liberalis dan politikus sosialis, politikus moderat dan fundamentalis, sama saja tidak ada perbedaannya di antara mereka.

Motif kedua, motif sejarah

Sampai saat Prancis tetap ngotot menyatakan bahwa daerah-daerah jajahannya pada masa lalu, di antaranya Mali, sebagai wilayah-wilayah dominasi Prancis semata, tidak boleh didominasi oleh negara-negara adidaya lainnya seperti China dan Rusia, bahkan Amerika sekalipun. Prancis memposisikan dirinya dengan negara-negara bekas jajahannya tersebut seperti posisi wali pengasuh yang selalu melakukan campur tangan dalam urusan-urusan negara-negara bekas jajahannya tersebut, baik urusan kecil maupun urusan besar, perkara dalam negeri maupun perkara luar negeri.

Motif ketiga, motif ekonomi

Sudah diketahui bersama bahwa Prancis memiliki kepentingan-kepentingan ekonomi strategis di benua Afrika. Sumber-sumber penghasil uranium terpenting berada di Niger di kawasan Azawad. Ladang minyak dan gas terpenting berada di Libya dan Aljazair, yang mensuplai Prancis dengan harga paling murah, berada di perbatasan Azawad. Prancis pasti membayangkan bahwa tegaknya pemerintahan Islam di wilayah-wilayah itu akan menghadapkan kepentingan-kepentingan Prancis ke dalam bahaya. Dalam logika Prancis yang terbalik, setiap ancaman terhadap kepentingan-kepentingan strategis Prancis merupakan ancaman bagi keamanan nasional Prancis dan pasti berakibat kepada peperangan.

Motif keempat, motif pribadi Presiden Francois Hollande

Hollande sangat bersemangat melancarkan peperangan ini, sampai-sampai ia menganggap invasi militer ini sebagai kebijakan terpenting yang pernah ia ambil dalam karir politiknya. Karena kebodohan, kurang pengalaman dan kelemahan ingatannya, Hollande menyangka bahwa ia bisa menarik perhatian penduduk Prancis dengan peperangan ini dan bisa melalaikan penduduk Prancis dari krisis-krisis dalam negeri mereka yang bertumpuk-tumpuk. Ini dari satu sisi. Di sisi lain, Hollande menyangka bahwa ia bisa meraih dukungan rakyatnya yang akan mengangkat popularitasnya, atau setidaknya menghentikan kemerosotan popularitasnya dalam berbagai jajak pendapat.

Motif-motif yang kami sebutkan ini adalah motif-motif sebenarnya di balik invasi salibis Prancis di Mali. Jika bukan karea motif-motif tersebut, lantas apa bahayanya bagi Prancis jika Prancis membiarkan kaum muslimin di Mali melaksanakan ajaran-ajaran agama mereka dan menegakkan syariat Rabb mereka di tengah mereka, saling memerintahkan perbuatan yang makruf dan saling melarang dari perbuatan mungkar di antara mereka sendiri?

Bangsa Mali adalah bangsa muslim, negeri itu adalah negeri Islam, sementara jarak yang memisahkan antara Mali dan Prancis adalah ribuan kilometer. Apa yang membuat para politikus Prancis ketakutan dari penerapan syariat Islam di negara yang jauh tersebut? Bukankah saudara-saudara kita, gerakan Ansharuddin telah berusaha dan mengerahkan kemampuan mereka untuk menenangkan semua pihak bahwa mereka tidak akan menjadi ancaman bagi pihak manapun, baik pihak lokal maupun pihak internasional? Bukankah Ansharuddin telah menegaskan bahwa tujuan mereka adalah melaksanakan hak mereka untuk hidup secara mulai di atas landasan agama mereka yang lurus, namun agama Islam sebagaimana yang dipahami oleh para ulama Islam, bukan agama Islam sebagaimana yang diinginkan oleh para pemimpin kafir?!..

Wahai umat Islam di penjuru timur dan barat Bumi!

Di hadapan invasi salibis terbaru Prancis dan penjajahan Prancis terhadap salah satu negeri kaum muslimin ini, kami tidak memiliki pilihan selain menyerukan kepada kalian semua untuk melakukan mobilisasi secara menyeluruh dan pengerahan massa untuk berperang.

Kami meminta pertolongan kalian untuk menolong saudara-saudara kalian dengan cara-cara pertolongan apapun yang kalian mampu. Kami memperingatkan kalian bahwa jihad setelah adanya serangan Prancis ini menjadi fardhu ‘ain atas setiap orang yang mampu di antara kalian. Sebab persoalan saudara-saudara kalian di Mali bukanlah persoalan pertumbuhan ekonomi, keterbelakangan ekonomi atau pengangguran dan kemiskinan semata. Namun, lebih penting dan lebih besar dari itu semua, ini adalah persoalan agama yang hendak dihapus, bangsa yang hendak dimusnahkan dan identitas yang hendak dihancurkan.

Telah wajib atas kalian, wahai seluruh kaum muslimin, untuk melawan serangan ini dengan mengincar kepentingan-kepentingan Prancis di setiap tempat, karena sejak hari dimulainya invasi militer Prancis ini, maka kepentingan-kepentingan Prancis tersebut telah menjadi target-target yang disyariatkan untuk kalian serang.

Presiden Prancis yang membawa sial bagi dirinya sendiri dan bangsanya itu menghendaki invasi salibis yang dilancarkannya berlangsung fokus, berlangsung singkat dan terbatas pada tempat dan waktu yang sempit, agar ia bisa menghindarkan negaranya dari terperosok ke dalam rawa serupa yang telah membenamkan Amerika di Irak dan Afghanistan.

Maka wajib bagi kalian, wahai kaum muslimin, untuk merusak rencananya dan menyeretnya kepada peperangan terbuka dari aspek waktu dan tempat, perang yang akan menguras habis ekonomi negara Prancis dan menghabisi kemampuannya, sehingga kalian bisa mendorongnya mundur, mengkerut dan menyusut di sudut yang hina itu dari benua tua Afrika yang sudah tidak bisa lagi—akibat kezaliman dan arogansi Prancis—menjadi poros dunia sebagimana kondisinya dua abad sebelumnya, dan ia tidak akan menjadi poros dunia lagi kecuali dengan izin Allah Ta’ala.

Wahai kaum muslimin…

Ada satu perkara lagi yang tidak boleh kita lalaikan dalam setiap waktu, yaitu keseriusan untuk menyatukan barisan dan pendapat serta saling membantu dalam kebajikan dan ketakwaan. Kebajikan apakah yang lebih utama daripada menolong sebuah bangsa mukmin yang tertindas, yang menghadapi serangan salibis terkeji dan terganas dari beberapa negara arogan?

Lihatlah, bagaimana Prancis tidak berani menyerang dan memerangi mujahidin, sekalipun jumlah mujahidin sedikit dan persenjataan mereka sederhana, sampai Prancis meminta bantuan setiap negara Barat dan memobilisasi tentara negara-negara aliansi Afrika, bahkan menggerakkan DK PBB dan meminta dikeluarkan ketetapan-ketetapan DK PBB yang diinginkannya guna menjadi alasan pembenaran bagi invasi militer salibisnya dan memberinya payung hukum.

Maka kita, umat Islam, lebih layak dari Prancis untuk saling membantu, menolong dan menyatukan tangan kita. Cukuplah bahwa kitab Allah dipenuhi dengan ayat-ayat yang mendorong dan menghasung kita untuk melakukan hal ini. Allah berfirman:

Dan perangilah orang-orang musyrik semuanya sebagaimana mereka semuanya memerangi kalian. Dan ketahuilah sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bertakwa. (At-Taubah [9]: 36)

Allah berfirman:

 “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam satu barisan yang rapi seakan-akan mereka satu bangunan yang kokoh.” (Ash-Shaf [61]: 4)

Wahai kaum muslimin, hendaklah kalian mengetahui bahwa sebuah umat yang telah menceburkan dirinya dalam rawa-rawa kebejatan moral dan kekejian sampai tingkatan kefasikan, kegilaan, kesesatan dan kebodohan seperti ini benar-benar layak untuk tidak menimbulkan kegentaran sedikit pun di hati kalian, meskipun persenjataan udaranya sangat canggih. Hendaknya Prancis mengetahui bahwa faktor yang akan memenangkan pertempuran dalam perang agama ini bukanlah pesawat tempur, melainkan dengan izin Allah adalah senjata akidah dan iman!

Adapun syariat Islam yang karenanya Prancis memerangi kita, niscaya ia akan kembali insya Allah untuk memimpin Negara Mali karena bangsa kita di Mali memiliki perasaan dan keterikatan yang sangat mendalam dengan Islam, yang tidak mungkin bisa dicabut oleh kekuatan atau pasukan, khususnya saat pasukan tersebut terdiri dari orang-orang yang memiliki kelainan seksual seperti kondisi pasukan Prancis.

Janganlah cerita Prancis tentang kemenangan yang mereka raih dalam perang ini membuat kalian takut, sebab itu hanyalah angan-angan kosong Prancis belaka. Sejak Prancis menjadi kekuatan agresor dan penjajah, Prancis belum pernah menerjuni sebuah peperangan kecuali ia mengalami kekalahan dan kerugian. Baik perang di Eropa sendiri, perang di Indocina, Afrika, dan Timur Tengah.

Kita yakin sepenuhnya, dengan izin Allah, bahwa nasib Prancis hari ini di Timbuktu, Gao, dan Kedal akan lebih buruk dari nasib Prancis di Vietnam; bahwa Prancis akan merasakan derita di Pegunungan Efogas seperti derita yang dahulu Prancis rasakan di Pegunungan Wansyaris, Jurjura, dan Awras. Maka penilaiannya, wahai kaum muslimin, diambil dari manisnya kesudahan peperangan, bukan dari pahitnya awal peperangan.

(Sumber: Al-Fajr Media Center—Muhib Al-Majdi/AR)

 

Penutup

Sebagai penutup, terdapat analisis menarik dari Abdullah bin Muhammad dalam salah satu artikelnya yang berjudul “Imajinasi Kolonial Prancis”:

Ketika Paus Urbanus II ingin menggerakkan masyarakat Eropa ke Palestina dalam Perang Salib I tahun 1059 M, ia mengangkat slogan membebaskan orang-orang Kristen Timur dari tekanan teroris Islam. Namun, kampanye tersebut, serbuan para raja Eropa untuk menjajah kota-kota dan benteng-benteng Islam, perselisihan yang terjadi di antara mereka, dan lupanya mereka terhadap tujuan utama, menunjukkan bahwa slogan yang digunakan Paus Urbanus II untuk menggairahkan perasaan masyarakat Eropa tidak lain hanya kedok pelindung bagi para feodal senior untuk menguasai kekayaan negara-negara Islam!

Taktik yang digunakan pertama kali oleh Paus ini menjadi watak turun-temurun pada setiap Perang Salib setelah itu, baik yang dilakukan pada masa pemerintahan gereja maupun yang berlanjut setelah Revolusi Prancis. Napoleon di Mesir, Jenderal Giroud di Syam, De Gaulle di Aljazair; mereka semua menggunakan slogan kemanusiaan, pencerahan, dan budaya. Namun, budaya yang tidak lain hanya budaya eksploitasi dan pencurian yang mereka warisi secara turun-temurun hingga terakhir sampai ke Belanda!

 

Strategi Prancis di Mali

Di antara Perang Salib yang melanda bagian timur dan barat dunia Islam, Prancis yang paling banyak berimajinasi dalam meletakkan tujuan-tujuan penjajahan mereka. Imajinasi inilah yang mendorong Napoleon membinasakan pasukannya di labirin Rusia dengan harapan dapat mempersatukan Eropa menjadi satu kerajaan! Ia juga yang mendorong Jenderal Peugeot untuk menggunakan kebijakan bumi hangus dan genosida dengan harapan mengubah demografi pulau-pulau Aljazair hingga menjadi kepanjangan dan permulaan bagi Prancis Afrika!

Saya percaya bahwa imajinasi ini tidak hilang pada invasi Prancis saat ini di bagian utara Mali. Slogan yang diangkat untuk memerangi teroris sejajar dengan ambisi ekonomi untuk menguasai kekayaan Mali yang mengandung emas. Karena Mali termasuk negara Afrika ketiga penghasil emas, sedangkan harga emas dunia sekarang meningkat berlipat ganda. Ditambah eksplorasi menjanjikan uranium, berlian, dan minyak bumi. Mali memiliki lebih dari 2 juta ton cadangan biji besi. H

Hanya saja, saya percaya bahwa dampak parah dari krisis ekonomi di Prancis dan tingginya tingkat pengangguran akan membuat para politisi Inggris lebih banyak berimajinasi untuk menyelamatkan Prancis dari ambang kebangkrutan. Lalu mau pergi ke mana imajinasi Prancis kali ini?

Prancis kini sangat pragmatis dalam menyikapi situasi di lapangan di Mali utara. Setelah menurunkan pasukan khususnya untuk menghentikan kemajuan gerakan Anshar Ad-Din ke arah selatan, mereka kembali dan menyerukan mitranya di NATO dan Afrika Utara untuk berkontribusi dalam serangannya ke utara. Hal ini tidak saja akan menghabiskan banyak biaya perang, tetapi juga akan membutuhkan kekuatan perang yang akan dimulai setelah berakhirnya operasi-operasi perang di Utara. Akidah militer berbagai pergerakan jihad menyebabkan penarikan-penarikan secara teratur di depan pasukan invasi yang menyebabkan jatuhnya kota-kota besar Gao-Timbuktu-Kidal dengan mudah. Strategi ini bertujuan untuk menyeret tentara invasi kepada perang gerilya di pedalaman Gurun Alozoadah. Perang semacam ini adalah favorit bagi pejuang jihadi gurun.

Situasi ini akan memberikan kepada Prancis pembenaran yang diperlukan untuk kelangsungan keberadaannya di Mali hingga mendukung kemenangan yang telah dicapai seperti yang dilakukan Amerika Serikat setelah menginvasi Afghanistan. Ini berarti mereka akan membangun serangkaian pangkalan militer untuk melanjutkan perang melawan terorisme. Pemusatan konsentrasi dan situasi ini akan memungkinkan Prancis untuk mengontrol proses politik di Mali untuk mengangkat “Karzai Afrika” supaya membantu mereka melakukan penjarahan kekayaan negaranya secara sistematis dan konstitusional!

Seiring berjalannya waktu, kehadiran militer Prancis—tepatnya di wilayah Azwad—akan membuat keadaan kacau akibat perang gerilya dan akibat perselisihan-perselisihan yang diciptakan oleh Prancis antara Tuareg dan rezim yang berkuasa di wilayah tersebut. Konflik-konflik yang diciptakan dalam kotak geografis yang dikenal dengan nama Bozoad ini, yang termasuk bagian dari Mali, Nigeria, Aljazair, dan Mauritania dan yang membantu Prancis serta mitra internasionalnya pada kasus Tuareg di PBB untuk memaksakan referendum guna menentukan nasib sendiri.

Ini merupakan mimpi dan permintaan lama Tuareg. Hal ini juga kunci untuk mengangkat Karzai lain supaya Prancis dapat menguasai tambang minyak selatan Aljazair, yang terletak di daerah-daerah Tuareg. Meski saat ini tujuan tersebut tampak jauh, namun imajinasi kolonial Prancis mampu mendekatkan semua hal yang tampak jauh! (Ferry Irawan)