PERANG BARACK HUSSEIN OBAMA DI LEVANT Saat Uncle Sam menyerang Syam

30 September 2014

Perang yang dideklarasikan oleh Obama untuk menyerang Suriah menandai babak baru dalam perang panjang Amerika Serikat melawan Al Qaidah. Berdasarkan karakter dan definisi, perang ini disebut sebagai Perang Generasi Keempat (4GW), di mana aktor negara harus berjibaku menghadapi aktor non-negara. Perang generasi ini bersifat transnasional, tidak mengenal medan perang yang pasti, tidak membedakan sipil dan militer, tidak mengenal masa perang dan damai, serta tidak mengenal garis depan.

Tidak seperti generasi sebelumnya, perang generasi keempat tidak berusaha untuk meraih kemenangannya dengan cara mengalahkan kekuatan militer musuh. Namun, melalui jaringannya, mereka menyerang secara langsung pikiran para pembuat keputusan musuh untuk menghancurkan kemauan politik musuh. Perang generasi keempat juga berlangsung lama—yang dihitung dengan bilangan dekade, bukan sekadar bulan atau tahun. Perang generasi keempat menggunakan seluruh jaringan yang tersedia—politik, ekonomi, sosial, dan militer—untuk meyakinkan para pengambil keputusan politik musuh bahwa tujuan strategis mereka tidak bisa diraih atau terlalu mahal jika dibandingkan dengan manfaat yang diharapkan. Satu-satunya media yang bisa mengubah pikiran seseorang adalah informasi. Karenanya, informasi adalah elemen kunci dalam setiap strategi Perang Generasi Keempat.

Perang melawan sebuah entitas non-state membuat AS harus berpikir keras untuk menghadapinya. Lebih dari satu dekade sejak perang dideklarasikan oleh George W. Bush pasca peristiwa 11 September, AS masih terlibat dalam peperangan melawan Al Qaidah. Mereka masih berusaha untuk mengacaukan, membongkar, dan mengalahkan Al Qaidah—sebuah tujuan yang sampai saat ini belum bisa dikatakan tercapai meski setelah gugurnya Usamah bin Ladin sekalipun.

Triliunan dollar sudah digelontorkan, ribuan prajurit mereka telah tewas, ratusan ribu nyawa tak berdosa telah terbunuh, beragam metode penyiksaan dan pelanggaran HAM sudah dilakukan. Partner dari berbagai negara sudah digalang, penjara-penjara rahasia sudah disiapkan, beragam metode serangan pun sudah diujicobakan—mulai serangan masif sekutu ke Afghanistan dan Irak Rumsfled, strategi kontrainsurgensi David Petraeus, hingga pembunuhan dan serangan drone Vickers. Tak ketinggalan, panduan bagi partner lokal pun sudah dibagikan, mulai dari deradikalisasi, penggantian kurikulum yang lebih moderat, penegakan hukum, hingga pembunuhan terduga teroris. Semua sudah dijalankan, dengan dana triliunan dollar, demi sebuah satu tujuan: mengalahkan musuh terbesar yang mengancam tatanan hegemoni global yang mereka kuasai saat ini.

Dan kini perang tersebut telah membuka medan baru dengan dilancarkannya serangan ke Suriah pada tanggal 23 September 2014. Suriah menjadi negara muslim ketujuh yang dibombardir oleh seorang pemenang nobel perdamaian tahun 2009 bernama Barack Obama, setelah Afghanistan, Pakistan, Yaman, Somalia, Libya, dan Irak.

Baru sekitar satu tahun yang lalu para pejabat di pemerintahan Obama bersikeras bahwa mengebom dan menyerang Assad adalah perintah moral dan strategis. Kini, Obama justru mengebom musuh Assad dan dengan penuh kesopanan menginformasikan kepada rezim Assad tentang target serangan. Tampaknya tidak peduli dengan siapa AS berperang, yang penting bagi mereka adalah berperang, selalu dan selamanya. Puluhan koalisi internasional telah digalang untuk bersama membantu perang tersebut.

Keanehan kampanye militer ini membuat Obama harus berusaha lebih untuk menjualnya. Dia berusaha menekankan bahwa operasi ini legal. Meski dengan melakukan permainan kata atas sebuah definisi. Untuk mengesankan adanya ancaman dalam waktu dekat (imminent threat) terhadap AS, pengertian “ancaman dalam waktu dekat” pun bisa dimaknai “ancaman dalam waktu tidak dekat”. Untuk mengeliminir tuduhan adanya korban sipil, pengertian warga sipil pun diubah, dimana seluruh laki-laki dengan usia militer yang terbunuh dalam setiap serangan AS, maka dia dihitung sebagai kombatan, tak peduli dia bersalah atau tidak. Dalam pandangan pemerintah AS, bunuh siapa pun yang Anda inginkan, selama mereka adalah laki-laki dengan usia tertentu. Dengan demikian, Anda bisa menghapus adanya pembunuhan warga sipil.

Untuk meyakinkan publik bahwa ia tidak akan menggunakan pasukan di lapangan, definisi bertempur pun diubah secara sangat sempit ke dalam  sebuah definisi yang ditolak oleh hampir seluruh ahli militer. Menurut pemerintahan Obama, 1.600 penasihat militer yang ditugaskan ke Irak tidak termasuk dalam definisi ini, meskipun fakta menunjukkan bahwa penasihat militer bisa: menempel dengan pasukan Irak, membawa senjata, menembakkan senjata jika diserang, dan bisa memerintahkan serangan udara. Dalam kamus perang yang dipakai oleh Gedung Putih, kualifikasi semacam itu tidak masuk dalam pengertian bertempur.

Dalil otorisasi penggunaan kekuatan militer (AUMF) yang dikeluarkan oleh Kongres AS tahun 2001 untuk menyerang Al Qaidah dan resolusi perang 2002 yang ditujukan untuk menyerang Saddam Hussein di Irak digunakan sebagai dasar hukum serangan ke Suriah. Dengan kata lain, otoritas legal yang diberikan kepada Gedung Putih secara khusus untuk menyerang Al Qaidah dan menginvasi Irak 12 tahun yang lalu, saat ini diterjemahkan bahwa AS boleh melakukan perang melawan organisasi yang BUKAN Al Qaidah, di negara lain yang BUKAN Irak.

Bagi pemerintah AS, legal bermakna apapun yang diinginkan presiden, terorisme berarti segala sesuatu yang tidak disukai oleh pemerintah AS. Jadi mulai sekarang, jika kita mendengar istilah “serangan dalam waktu dekat”, “warga sipil”, “pasukan di lapangan”, berhati-hatilah: jika pemerintah mengatakan bahwa mereka tidak menyesatkan Anda, mungkin ini dikarenakan mereka secara diam-diam sudah mengubah definisi dari istilah “menyesatkan”.

Sungguh luar biasa hasil yang bisa didapatkan ketika kita menganggap sebuah istilah mempunyai makna yang sama sekali berbeda dari yang dimaksudkan sebenarnya. Jika kita bisa membuat istilah yang mempunyai makna apapun yang kita inginkan, maka tidak ada batasan atas apa yang bisa kita lakukan. Jika demikian, maka untuk apa ada hukum jika hukum pada dasarnya adalah permainan kata yang bisa diisi sesuai dengan apa yang kita inginkan? Obama mengajari, bahwa jika Anda bisa mendefinisikan ulang seluruh kata di kamus, Anda bisa mencari justifikasi atas seluruh aksi yang Anda lakukan.

Ancaman teror palsu pun disebarkan untuk mendukung legalitas serangan. Nama Kelompok Khurasan dimunculkan hanya seminggu sebelum serangan dengan tuduhan adanya ancaman dalam waktu dekat dari mereka, namun begitu serangan usai digulirkan kita disuguhi pergeseran skenario tentang Kelompok Khurasan dari “berada dalam tahap akhir rencana serangan” menuju “belum ada rencana konkrit yang dijalankan.” Sebagaimana kampanye propaganda media/pemerintah, kebenaran hanya akan dimunculkan saat propaganda tersebut dirasa tidak lagi bertenaga. Kebohongan AS menunjukkan bahwa dalam perang, kebenaran adalah korban pertama.

Obama, yang datang ke Gedung Putih dengan slogan “change we believe in”, kini kembali memakai mantel George W. Bush untuk melanjutkan perang panjang Amerika Serikat melawan kelompok yang berusaha menggoyahkan hegemoni mereka, Al Qaidah. Perang yang mungkin akan menjadi titik balik Amerika Serikat, menuju kejayaan ataukah menjadi pintu awal menuju kehancuran imperium mereka.