APAKAH DUNIA BERANGSUR-ANGSUR RUNTUH?

30 September 2014

Para pakar dan pengamat memperingatkan dunia bahwa saat ini tampak sejumlah kesamaan mencolok dengan pemicu Perang Dunia I. Salah satu kesamaan yang disorot oleh sejarawan adalah keyakinan bahwa perang skala penuh antara negara-negara besar menjadi tidak terpikirkan setelah suatu periode berkepanjangan dilalui dengan damai. "Sekarang, seperti dulu, pawai globalisasi telah membuai kita ke dalam rasa aman semu.... Peringatan 100 tahun 1914 seharusnya membuat kita merenungkan dengan cara baru pada kerentanan kita atas kesalahan manusiawi, bencana tiba-tiba, dan insiden tak terduga,” kata Prof. MacMillan dari Universitas Cambridge.

Dunia dapat menjadi tempat yang berbahaya, menakutkan, dan tak terduga. Kita mendengar berita bahwa Amerika Serikat memulai serangan udara terhadap gerilyawan di Irak dan Suriah. Ketakutan memuncak tentang pergerakan pasukan Rusia di dekat perbatasan dengan Ukraina. Headline berita utama dunia juga dipenuhi liputan Perang Gaza. Ketegangan di Asia, Afrika, dan peristiwa global lainnya semakin memprihatinkan. Setiap hari media menyajikan kabar yang mengkhawatirkan akan ketidakstabilan dunia yang semakin memuncak.

Sepertinya tingkat gejolak benar-benar telah mencapai tahapan yang unik. Apakah ini perasaan segelintir orang saja ataukah sudah menjadi perhatian banyak pihak? Yang jelas, para pakar kajian stratejik dan sejumlah lembaga think tank telah memberikan perhatian yang serius akan fenomena ini. Bahkan, tak sedikit dari mereka yang mulai membandingkan situasi politik global pada tahun 2014 ini dengan kondisi seabad lalu, yaitu tahun 1914.

Peristiwa yang dianggap paling penting untuk dicatat adalah meletusnya Perang Dunia I. Yang dibandingkan adalah seberapa samakah prakondisi Perang Dunia I dengan situasi konflik global pada tahun ini? Jika terlalu banyak gejala yang mirip, terbuka peluang terjadinya serangkaian “peristiwa besar” di depan mata. Sementara, begitu banyak konflik geopolitik global yang belum menunjukkan titik terang akan usai.

Secara ringkas, antara tahun 1914 – 1918 Eropa diguncang "Perang Besar" (Great War), meskipun tidak sampai meluluhlantakkan seluruh negara. Selama Perang Dunia I, kekuatan Sentral (Jerman, Austria, Bulgaria, dan Turki) melawan Sekutu (Prancis, Inggris, dan Rusia). Selain ketiga negara di atas, Blok Prancis terdiri dari 20 negara lainnya, termasuk kelompok nasionalis Serbia dan Rumania. Italia masuk ke blok Prancis pada tahun 1915 setelah mengumumkan perang terhadap Austria, karena ingin mendapatkan daerah Tirol selatan, Istria, dan Delmatia milik Austria. Amerika Serikat (AS) juga ikut Blok Prancis pada tahun 1917, karena Jerman menenggelamkan kapal Lusitania milik Amerika Serikat. Ketika AS bergabung dalam perang, kemenangan semakin jelas tampak ada di pihak Sekutu. Pada bulan November tahun berikutnya (1918), Sekutu mencatatkan kemenangannya.

 Menengok Kembali Latar Belakang Perang Dunia I (1914-1918)

Penyebab Perang Dunia I, yang dimulai di Eropa Tengah pada akhir Juli 1914, termasuk faktor yang saling terkait, seperti konflik dan permusuhan sejak empat dekade menjelang perang. Militerisme, aliansi, imperialisme, dan nasionalisme juga memainkan peran utama dalam konflik ini. Meskipun begitu, asal usul langsung dari perang terletak pada keputusan yang diambil oleh para negarawan dan jenderal selama Krisis 1914.

Krisis itu terjadi setelah serangkaian pertikaian diplomatik yang panjang dan sulit antara negara-negara besar (Italia, Prancis, Jerman, Inggris, Austria-Hongaria, dan Rusia) atas isu-isu Eropa dan kolonial di dekade sebelum 1914 yang telah meninggalkan ketegangan tinggi. Pada gilirannya, bentrokan diplomatik ini dapat ditelusuri dengan perubahan keseimbangan kekuatan di Eropa sejak tahun 1867.[1] Kesimpulannya, peristiwa besar ini bukan hanya disebabkan oleh kejadian sesaat sebelum perang, tetapi melalui sebuah proses sejak dekade bahkan abad sebelumnya.

Penyebab lebih cepat untuk perang adalah ketegangan wilayah di Balkan. Austria-Hongaria bersaing dengan Serbia dan Rusia untuk wilayah dan pengaruh di kawasan ini. Mereka menarik seluruh negara-negara besar ke dalam konflik melalui berbagai aliansi dan perjanjian.

Topik penyebab Perang Dunia I adalah salah satu yang paling banyak dipelajari dalam sejarah dunia. Para ahli telah menafsirkan topik tersebut secara berbeda. Jika dilihat secara kronologis, dapat dilihat sebab umumnya sebagai berikut:

  1. Adanya pertentangan antara negara-negara Eropa, seperti antara Jerman dengan Prancis, Jerman dengan Inggris, dan Jerman dengan Rusia.

Penyebab pertentangan antara Jerman dengan Prancis karena Prancis ingin melakukan politik revanche. Prancis ingin membalas dendam atas kekalahannya dari Jerman pada perang tahun 1870-1871. Sementara pertentangan antara Jerman dengan Inggris adalah karena Inggris merasa tersaingi oleh Jerman dalam bidang Industri, daerah jajahan, dan pembangunan Angkatan Laut. Adapun penyebab pertentangan Jerman dan Rusia karena Jerman dianggap menghalangi Politik Air Hangat Rusia yang akan menerobos ke Laut Tengah via Krimea. Termasuk semangat membalas kekalahan dari Turki pada Perang Krimea pada tahun 1853.

  1. Adanya politik persekutuan/System of Alliances.

Politik persekutuan tersebut terbentuk karena masing-masing negara di Eropa merasa terancam oleh negara tertentu sehingga membentuk persekutuan yang mempunyai kesepakatan apabila salah satu anggota persekutuan diserang, maka anggota yang lain harus membantuinya. Politik persekutuan yang terbentuk adalah Triple Alliantie tahun 1882 dengan anggotanya Jerman, Austria, dan Italia, sedangkan persekutuan yang lain adalah Triple Entente tahun 1907 yang beranggotakan Inggris, Rusia, dan Prancis. Menariknya, meski Italia anggota aliansi Jerman, ambisi kepentingan nasionalnya mendorong untuk mengabaikan aliansi yang sudah disepakati.

  1. Perlombaan senjata yang timbul akibat adanya aliansi masing-masing negara, yang menumbuhkan sikap saling mencurigai dan saling mempersenjatai diri.

Adapun casus belli atau sebab khusus yang menjadi pemicu perang adalah peristiwa pada tahun 1914. Ketika itu militer Austria mengadakan latihan perang di Bosnia. Bagi Serbia, latihan perang tersebut merupakan tindakan provokatif atau tantangan, karena Serbia ingin menguasai Bosnia-Herzegovina. Sebagai akibatnya, Putra Mahkota Austria Archduke Franz Ferdinand dan istrinya Sophie Chotek yang sedang mengunjungi latihan perang tersebut dibunuh oleh Gavrilo Princip, seorang Serbia.[2]

Jerman pun mengumumkan perang kepada Rusia pada tanggal 1 Agustus 1914 karena Rusia mendukung Serbia. Pada tanggal 3 Agustus 1914, Jerman mengumumkan perang lagi terhadap Prancis dan Belgia, yang dikuti dengan pendudukan Jerman atas Belgia. Sehari kemudian, yaitu pada tanggal 4 Agustus 1914, Inggris menyatakan perang terhadap Jerman. Kemudian pada tanggal 6 Agustus 1914, Austria-Hongaria mendeklarasikan perang melawan Rusia berbarengan dengan tantangan Serbia kepada Jerman.

Membayangkan Bagaimana Konflik Global Bisa Terpicu pada Tahun 2014

Apa yang terjadi jika Iran menenggelamkan sebuah kapal Angkatan Laut AS di Teluk ketika ekspor minyak dihalangi? Atau Al-Qa’idah memukul semua target Amerika Serikat secara simultan, terutama di Timur Tengah? Dan apa yang terjadi jika mujahidin memutuskan untuk merebut daerah buffer yang diduduki Israel? Ingat, betapa Israel telah dipaksa mundur dari Lebanon Selatan, kemudian wilayah Golan berhasil diduduki oleh mujahidin Suriah, serta Ansharul Mujahidin berhasil mendestabilisasi wilayah Sinai.

Atau bagaimana jika rudal-rudal mujahidin HAMAS mulai menghujani Tel Aviv, serta bagaimana pengaruh Salafi Jihadi mulai menguat di wilayah pendudukan, apa yang terbayang dalam benak Netanyahu dan Obama? Kemudian apakah Israel tidak akan tergoda untuk benar-benar melakukan serangan pre-emptive?

Dan tentu saja Hizbullah dan Iran tidak mungkin hanya duduk diam sambil memutar-mutar tasbih ketika melihat sekutu dekatnya Suriah babak belur dihajar oleh serangan mujahidin atau kecanggihan mesin-mesin perang Barat? Apakah Iran dan Hizbullah akan melupakan rezim Assad begitu saja?

Ada juga beberapa skenario yang bisa disimulasikan, di mana seluruh Timur Tengah bisa berkobar jika Barat benar-benar nekat menggempur Suriah, dan itu mungkin tidak akan terjadi sejak awal. Meski Rusia dan China secara tegas memperingatkan pemerintah AS dan tidak akan terlibat perang di Suriah, namun kedua negara itu mewanti-wanti Barat akan rusaknya hubungan dua negara adidaya global.

Namun, sejak tanggal 23 September 2014, AS telah mendeklarasikan perang di Suriah. Bukan untuk memerangi Bashar Assad, tetapi kelompok jihadis. Ini bisa menjadi titik awal reaksi di mana kelompok mujahidin bertekad untuk melawan dan menyatakan perang, bukan hanya terhadap AS, tetapi juga sekutu-sekutu negara Arab di Timur Tengah.

Mungkinkah ini menjadi awal dari suatu mata rantai peristiwa yang akhirnya dapat menyebabkan konflik global besar dengan Rusia dan Cina di satu sisi, dan Amerika Serikat di sisi lain? Tentu saja tidak akan langsung terjadi, masih perlu waktu, tapi yang ditakutkan oleh semua orang saat ini adalah apa yang terjadi adalah sebuah setting dan skenario yang akan mengakibatkan beberapa hal yang benar-benar buruk bagi seluruh kehidupan umat manusia di muka bumi, sebagaimana Perang Dunia I dipicu oleh persoalan beberapa dekade sebelumnya.

Sejarah memang tidak pernah berulang secara persis, berbeda dengan sajak. Belum lama ini, paling tidak seorang sejarawan internasional yang dihormati, Prof. Margaret MacMillan, memperingatkan dunia bahwa saat ini tampak sejumlah kesamaan mencolok dengan pemicu Perang Dunia I.

Tentara mekanik yang belum pernah diproduksi sebelumnya, dan baru diproduksi pada awal abad ke-20, di medan perang yang diklaim sebagai "perang untuk mengakhiri semua perang" digunakam setelah percikan menyala di Balkan dengan pembunuhan Putra Mahkota Austria-Hongaria Franz Ferdinand. 

Profesor dari Universitas Cambridge ini berpendapat bahwa Timur Tengah dapat dipandang sebagai gejala zaman modern yang setara pada wilayah bergolak ini. Sebuah perlombaan senjata nuklir akan cenderung dimulai jika Iran mengembangkan bom "yang akan membuat dunia yang sangat berbahaya memang, yang dapat menyebabkan rekreasi (penemuan kembali) atau perlombaan senjata dari jenis yang mudah terbakar, seperti yang meledak di Balkan 100 tahun yang lalu. Hanya saja, kali ini dengan ‘awan jamur’ (mushroom clouds)," tulisnya dalam sebuah esai untuk Brookings Institution, lembaga think-tank terkemuka AS.[3]

"Meskipun sejarah tidak terulang secara persis, Timur Tengah saat ini memiliki kemiripan yang mengkhawatirkan dengan Balkan dalam perkembangannya," katanya. "Kombinasi yang terjadi pada nasionalisme beracun mengancam untuk menarik kekuatan-kekuatan luar seperti Amerika Serikat, Turki, Rusia, dan Iran yang terlihat akan melindungi kepentingan dan klien mereka."

Profesor MacMillan juga menyoroti serangkaian paralel lain antara hari ini dan satu abad yang lalu. Teroris Islam modern mencerminkan komunis revolusioner dan anarkis yang melakukan serangkaian pembunuhan atas nama filosofi yang menggunakan sanksi pembunuhan untuk mencapai visi mereka tentang dunia yang lebih baik. Dan pada tahun 1914, Jerman adalah kekuatan meningkat yang berusaha untuk menantang kekuatan yang dominan waktu itu, yaitu Inggris. Saat ini, pertumbuhan kekuatan China dianggap sebagai ancaman oleh beberapa negara, di antaranya Amerika Serikat.

Transisi dari satu kekuatan dunia kepada yang lain selalu dilihat sebagai hal yang berbahaya. Pada akhir 1920-an, AS menyusun rencana untuk perang dengan Kerajaan Inggris yang dapat mendorong invasi ke Kanada, sebagian karena diasumsikan bahwa konflik akan pecah ketika AS mengambil alih peran Inggris sebagai negara adidaya utama dunia.

Profesor MacMillan, yang bukunya The War That Ended Peace diterbitkan tahun lalu (2013), juga mengatakan, sentimen sayap kanan dan nasionalis meningkat di seluruh dunia, seperti juga gejala yang menjadi faktor sebelum Perang Dunia I.

Di China dan Jepang, nafsu patriotik telah meradang oleh sengketa serangkaian pulau di Laut Cina Timur, yang dikenal sebagai Senkaku di Jepang dan Diaoyu di Cina. "Peningkatan belanja militer China dan penumpukan kapasitas angkatan lautnya menyarankan dalam kebijakan stratejik Amerika bahwa Cina bermaksud untuk menantang AS sebagai kekuatan Pasifik, dan kami sekarang melihat perlombaan senjata antara kedua negara di wilayah itu," tulisnya dalam esainya. "The Wall Street Journal memiliki laporan otoritatif bahwa Pentagon sedang mempersiapkan rencana perang melawan China—untuk berjaga-jaga."

AS memiliki perjanjian pertahanan diri bersama dengan Jepang dan pada tahun 2012 secara khusus menegaskan bahwa ini melingkupi Kepulauan Senkaku. Pada bulan November, China mendirikan sebuah zona "pertahanan udara" di atas wilayah kepulauan. Beberapa hari kemudian dua pesawat pembom AS B-52 terbang di atas pulau-pulau yang menyimpang dari arah Beijing tersebut.

"Hal ini cukup menggoda--dan perlu diseriusi—untuk membandingkan hubungan saat ini antara China dan Amerika Serikat dengan antara Jerman dan Inggris seabad yang lalu," Profesor MacMillan menuliskan. Dia menunjuk kepada keresahan yang berkembang di AS selama investasi China di Amerika sementara "Cina mengeluh bahwa AS memperlakukan mereka sebagai kekuatan kelas dua". Ini juga bisa dilihat dari kekhawatiran AS lewat larangannya kepada perusahaan AS untuk menggunakan vendor teknologi komunikasi dari China—seperti Huawei dan ZTE—karena khawatir dimata-matai.

Kesamaan lain yang disorot oleh sejarawan adalah keyakinan bahwa perang skala penuh antara negara-negara besar tidak terpikirkan setelah suatu periode berkepanjangan yang dilalui dengan damai. "Sekarang, seperti dulu, pawai globalisasi telah membuai kita ke dalam rasa aman semu," katanya. "Peringatan 100 tahun 1914 seharusnya membuat kita merenungkan dengan cara baru pada kerentanan kita atas kesalahan manusiawi, bencana tiba-tiba, dan insiden tak terduga.”

"Alih-alih keluar dari keterpurukan bersama dari satu krisis ke yang lain, sekarang adalah waktu untuk berpikir lagi tentang pelajaran-pelajaran mengerikan dari abad lalu, dengan harapan bahwa para pemimpin kita, dengan dorongan kita, akan berpikir tentang bagaimana mereka dapat bekerja sama untuk membangun ketertiban internasional yang stabil."[4]

Bagaimana Masalah Suriah Berpotensi Memicu Perang Dunia III?

Jutaan pikiran manusia di dunia sekarang ini terfokus pada Suriah, di mana pemerintahan Obama telah melancarkan serangan militer yang berpotensi meluluhlantakkan negara tersebut. Meskipun alasan serangan itu adalah menghancurkan the Islamic State, namun gelagat bahwa serangan itu mulai—dan akan--menyimpang dari sasaran sudah tampak. Benarkah semudah itu ? Pada bagian ini, tulisan ini mencoba menyajikan sudut pandang dari pengamat, bagaimana konflik di Suriah sangat berpotensi memicu Perang Dunia III.

 Sebagian kalangan dari Barat menilai pemerintahan Obama telah bertindak “ceroboh” ketika memutuskan untuk melakukan serangan udara yang diklaim "terbatas". Namun, apa yang bisa dibayangkan ketika mujahidin Suriah justru balik melawan? Termasuk, bagaimana setelah AS menggalang negara-negara Liga Arab untuk memerangi Daulah Islamiyah (the Islamic State), ternyata justru membangkitkan kesadaran global kelompok jihadis untuk bersatu.

Salah satu kritik berasal dari Rosa Brooks, mantan senator yang juga profesor di Pusat Hukum Universitas Georgetown. Kolumnis, kontributor, sekaligus editor Foreign Policy ini mencatat setidaknya ada enam hal “bodoh” yang dilakukan Obama tentang perang AS di Suriah. Menurutnya, keterlibatan AS bisa membawa konflik ke arah yang lebih berbahaya.[5]

Rosa Brooks menyebutkan bahwa kebodohan pertama AS adalah ketakutan yang berlebihan terhadap ancaman the Islamic State. Peneliti tamu senior pada Bernard L. Schwartz fellowship di New America Foundation ini menyatakan bahwa sebenarnya Obama pun tahu jika IS tidak memiliki sel-sel organisasi di dalam negeri Amerika, sehingga tidak akan menimbulkan ancaman di dalam negeri AS.

Lebih lanjut, menurut  mantan penasihat untuk Under Secretary of Defense for Policy ini, serangan udara mungkin berhasil menurunkan kemampuan jangka pendek IS untuk menjadi kekuatan tempur yang efektif. Namun ada risiko lain yaitu bahwa serangan AS pada akhirnya akan menginspirasi lebih banyak lagi pemuda untuk bergabung dengan kelompok jihad.

Sejak menjabat, Obama dinilai semakin mengandalkan serangan pesawat tak berawak untuk melawan ancaman teroris. Seribu di antaranya mati kemudian, tetapi ancaman teroris global telah bermetamorfosis dan dalam banyak hal tampaknya telah menjadi lebih buruk dari sebelumnya.  Karenanya, Brooks mempertanyakan, mengapa Obama bisa berpikir bahwa pendekatan kontraterorisme yang telah diterapkan—namun sejauh ini tidak ada keberhasilan strategis—tiba-tiba diharapkan bisa berjalan efektif di Suriah.

Rosa Brooks pun memperingatkan, selagi AS meguras dana dan energi dalam memerangi IS, sebenarnya AS juga sedang berisiko menghadap ancaman lainnya. Rosa mempertanyakan, apakah IS benar-benar lebih berbahaya bagi AS daripada kekerasan kartel narkoba asal Meksiko, atau pemberontak Ukraina pro-Rusia yang menjatuhkan pesawat jet penumpang dengan rudal anti-pesawat pada bulan Juli, atau efek jangka panjang dari perubahan iklim. Brooks mengisyaratkan bahwa kesemuanya tidak kalah penting dan bisa berdampak serius jika terbengkalai.

Selanjutnya, Brooks memperingatkan bahwa Obama telah melupakan satu pertanyaan penting yang mungkin menjadi pertanyaan seluruh publik, “Bagaimana semua ini akan berakhir?” Obama mewarisi masalah Irak dari presiden sebelumnya, George W. Bush. Dan bisa jadi perang ini juga akan diwariskan ke presiden pengganti Obama kelak. Sebuah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab, yaitu perang tanpa target akhir yang jelas. Yang jelas, Obama terbukti “menjilat ludahnya sendiri” ketika mengatakan invasi AS ke Irak pada tahun 2002 lalu sebagai perang yang bodoh, namun kini melibatkan diri

Selanjutnya, Michael T. Snyder, seorang penulis AS yang mengelola blog The Economic Collapse, juga mengemukakan  dua puluhan alasan mengapa Perang Dunia III di Timur Tengah di ambang mata, dan menurutnya ini adalah ide yang sangat buruk dan sangat tidak menyenangkan.[6]

1. Rakyat Amerika pada dasarnya menentang tentaranya ikut berperang di Suriah.

Hingga saat ini, rakyat Amerika sangat menentang intervensi AS dalam perang sipil Suriah, dan mereka percaya Washington harus tetap keluar dari konflik itu, bahkan jika laporan bahwa pemerintah Suriah benar-benar menggunakan bahan kimia mematikan untuk menyerang warga sipil, demikian Reuters/Ipsos dalam jajak pendapatnya (2013). Sekitar 60 persen rakyat Amerika yang disurvei, mengatakan Amerika Serikat seharusnya tidak campur tangan dalam perang sipil Suriah, sementara hanya 9 persen berpikir bahwa Presiden Barack Obama harus bertindak di sana.

Namun, survei terkini (10/9/2014) di Washington Post menyebutkan bahwa 71% rakyat AS mendukung serangan udara ke IS, namun masih menolak serangan darat. Dukungan ini pun baru merangkak naik setelah ada terprovokasi oleh peristiwa pemenggalan jurnalis dan aktivis Barat. Meski demikian, Pemerintah AS tampak berhati-hati dari menegaskan tidak akan menerjunkan militer secara langsung di darat.

2. Pada titik ini, perang di Suriah bahkan lebih populer di mata warga Amerika daripada Kongres.

3. Pemerintahan Obama belum mendapatkan persetujuan Kongres untuk melaksanakan hajatnya untuk berperang dengan Suriah karena Konstitusi AS membutuhkan legitimasi itu. (CATO.org)

4. Amerika Serikat tidak mendapatkan mandat dan persetujuan PBB untuk menyerang Suriah dan tidak akan mendapatkan itu.

5. Suriah mengatakan, ia akan menggunakan "segala cara yang tersedia" untuk mempertahankan diri jika Amerika Serikat menyerang. Apakah itu termasuk serangan teror di dalam Amerika Serikat sendiri?

6. Menteri Luar Negeri Suriah Walid Muallem membuat pernyataan berikut pada hari Selasa, 26 Agustus 2013. "Kami memiliki dua pilihan: menyerah, atau mempertahankan diri dengan cara yang kita miliki. Pilihan kedua adalah yang terbaik: kami akan membela diri!"

7. Rusia baru saja mengirim rudal-rudalnya yang paling canggih anti-kapal ke Suriah. Apa yang Anda pikir jika Anda mendapati gambar-gambar kapal angkatan laut AS tenggelam dan mata Anda tak berkedip ketika menyaksikan gambar itu di layar kaca televisi? Dalam konteks ini, Rusia dapat melakukan proxy war.

8. Ketika Amerika Serikat menyerang Suriah, ada kesempatan yang sangat baik, di mana Suriah akan menyerang Israel.

Anggota Dewan Nasional Suriah dari partai Ba'ath, Halef al-Muftah, sampai saat ini menjadi ajudan menteri propaganda Suriah, pada hari Senin, 25/08/13, mengatakan, Damaskus melihat Israel sebagai agresi belakang. Oleh karena itu, api dapat membakar Tel Aviv jika Suriah diserang oleh Amerika Serikat, karena Suriah bisa nekat menyerang Israel seperti pada Perang Arab-Israel 1967.

Dalam sebuah wawancara untuk American stasiun radio Sawa dalam bahasa Arab, anggota partai Presiden Bashar Assad mengatakan: "Kami memiliki senjata strategis, dan kami bisa membalas. Dan pada dasarnya, senjata strategis itu hanya ditujukan untuk Israel."

Al-Muftah menekankan bahwa ancaman AS tidak akan mempengaruhi rezim Suriah, "Jika AS atau Israel melalui agresi dan mengeksploitasi masalah kimia, wilayah ini akan naik dalam kobaran nyala api tak berujung, dan mempengaruhi tidak hanya keamanan di wilayah itu, tetapi dunia ini."

9. Jika Suriah menyerang Israel, akibatnya bisa benar-benar menjadi bencana. Bahkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjanjikan setiap serangan akan ditanggapi dengan "tegas".

"Kami bukan pihak dalam perang sipil di Suriah, tetapi jika kami mengidentifikasi dari upaya apapun yang menyerang kami, kami akan merespons, dan kami akan merespons dengan tegas"

10. Hizbullah Lebanon kemungkinan akan melakukan apa pun yang bisa dilakukan untuk memperjuangkan kelangsungan hidup rezim Assad. Dan itu bisa mencakup target mencolok kedua negara, Amerika Serikat dan Israel.

11. Sekutu terdekat Iran adalah Suriah. Apakah kita berpikir Iran hanya akan duduk diam ketika sekutu terdekatnya dihapus dari papan catur?

12. Memulai perang dengan Suriah akan menyebabkan kerusakan yang signifikan pada hubungan dengan Rusia. Pada hari Selasa, 27/08/13, Wakil Perdana Menteri Dmitry Rogozin mengatakan, Barat bertindak seperti "monyet dengan sebuah granat di tangan."

13. Memulai perang dengan Suriah akan menyebabkan kerusakan signifikan terhadap hubungan dengan Cina.

Dan apa yang akan terjadi jika Cina memutuskan untuk mulai membuang sejumlah besar utang AS yang dipegang? Suku bunga akan benar-benar meroket, dan AS dengan cepat akan menghadapi skenario mimpi buruk.

14. Dr. Jerome Corsi dan Walid Shoebat mengumpulkan beberapa bukti mengejutkan, bahwa sebenarnya pemberontak Suriah itu dukungan AS yang bertanggung jawab atas serangan senjata kimia yang digunakan sebagai pembenaran untuk pergi berperang dengan Suriah.

Dengan bantuan dari mantan anggota PLO dan juru bicara Liga Arab, Walid Shoebat, mengatakan, senjata kimia yang dikumpulkan menujukkan bukti-bukti dari berbagai sumber Timur Tengah yang justru menimbulkan keraguan terhadap Obama yang mengklaim pemerintah Assad bertanggung jawab atas serangan pekan lalu (Agustus 2013).

Hanya saja, fakta di lapangan menunjukkan bahwa kelompok perlawanan di Suriah memiliki spektrum yang luas, dengan beragam latar belakang dan kepentingan (agenda  politik).

15. Tindakan rezim Assad yang menggunakan senjata kimia terhadap perempuan dan anak-anak merupakan langkah irasional.

Pihak yang akan mendapat manfaat dari serangan seperti itu—dari sisi penggalangan opini—adalah pemberontak. Sebuah pertanyaan mendasar yang perlu ditanyakan tentang serangan mengerikan ini terhadap penduduk sipil. Untuk keuntungan siapa penggunaan gas saraf terhadap perempuan dan anak-anak Suriah itu? Tentu saja bukan untuk Assad, seperti yang dapat kita lihat dari kehebohan dan ancaman terhadap dirinya, bahwa penggunaan gas telah menghasilkan hasil ancaman terhadap Suriah.

16. Jika Saudi benar-benar ingin menggulingkan rezim Assad, mereka harus melakukannya sendiri. Mereka seharusnya tidak mengharapkan Amerika Serikat untuk melakukan pekerjaan kotor mereka hanya demi manfaat mereka.

17. Seorang mantan komandan Komando Sentral AS mengatakan, serangan AS terhadap Suriah akan menghasilkan perang yang sangat, sangat serius.

18. Sebuah perang di Timur Tengah akan menjadi buruk lagi bagi pasar keuangan. Sebagai contoh, Indeks Dow Jones (NYSE) turun sekitar 170 poin akibat kekhawatiran tentang perang dengan Suriah (28/8/2013).

19. Sebuah perang di Timur Tengah akan menyebabkan harga minyak naik.

20. Pemerintah AS telah mengambil pilihan untuk tidak mendukung pemberontak Suriah dari kalangan jihadi. Sementara, kelompok dominan dari para pejuang—seperti Jabhah An-Nushrah dan Ahrar Asy-Syam—telah berjanji setia atau memiliki hubungan baik dengan Al-Qaidah. Jika pemerintah AS gagal mencegah kelompok jihadis untuk mengambil alih kekuasaan di Suriah dan Iraq, maka bisa menjadi pemicu meluasnya konflik di Timur Tengah.

21. Banyak warga sipil tak berdosa di Suriah akan terbunuh. Sudah, banyak warga Suriah mengekspresikan keprihatinan tentang mengenai intervensi asing, dan itu berarti mereka dan keluarga mereka akan lebih prihatin lagi, dan prihatin lagi.

"Dulu, saya selalu menjadi pendukung intervensi asing, tapi sekarang tampaknya seperti kenyataan, saya sudah khawatir, keluarga saya akan terluka atau terbunuh," kata seorang wanita, Zaina, yang menentang Assad. "Saya takut serangan militer sekarang."

"Ketakutan terbesar adalah, mereka akan membuat kesalahan yang sama seperti di Libia dan Irak," kata Ziyad, seorang pria berusia 50-an. "Mereka akan memukul semua sasaran sipil, dan kemudian mereka akan menangis bahwa itu karena kesalahan, tapi ribuan dari kami akan terbunuh."

22. Jika pemerintah AS bersikeras dan keras kepala, untuk berperang dengan Suriah tanpa persetujuan rakyat Amerika, Kongres AS atau PBB, maka AS akan kehilangan banyak teman dan kredibilitas AS turun di seluruh dunia. Ini benar-benar hari yang menyedihkan ketika Rusia terlihat seperti "orang baik" dan kita terlihat seperti "orang jahat".

Apa gunanya keluar dan terlibat di Suriah? Seperti yang tertulis, pemberontak dukungan Obama adalah kelompok anti-Israel dan anti-Barat. Jika mereka menguasai Suriah, Suriah akan menjadi sarang jihadis yang lebih dikhawatirkan daripada sekarang.

Masa depan tampak suram jika AS terlibat perang di Suriah. Dengan menyerang Suriah, Amerika Serikat dapat menyebabkan perang regional yang besar yang meletus di Timur Tengah yang akhirnya bisa menyebabkan Perang Dunia III. Dukungan rezim-rezim Timur Tengah pun dapat memicu sikap antipati publik Arab sehingga dukungan pun bisa dialihkan kepada kelompok jihadis sebagai pihak yang terzalimi dan berjuang atas nama agama dan rakyat. Namun yang jelas, memulai Perang Dunia III di Timur Tengah bukanlah ide populer yang disukai banyak pihak.

 Ketegangan Rusia dan Ukraina Bisa Memicu Perang Dunia III

Tentara Rusia dan tentara Ukraina dikabarkan masih sering terlibat tembak-menembak di timur Ukraina.[7] Akhir pekan bulan Agustus 2014, sebuah kekuatan yang sangat kuat yang terdiri dari "tank, artileri dan infanteri" telah membuka "front ketiga" dalam perang sipil Ukraina di bagian tenggara. Pasukan Ukraina yang kelelahan tiba-tiba berhasil dipukul mundur dengan cepat sehingga banyak orang luar bertanya-tanya bagaimana pemberontak yang hampir kalah tiba-tiba mampu berbalik menggalang kekuatan militer yang mengesankan.

Sebenarnya tidak banyak misteri. Tank-tank, artileri dan infanteri datang dari dalam Rusia. Dalam beberapa hari terakhir, unit Ukraina telah menangkap sepuluh pasukan Rusia dan ada bahkan telah pemakaman untuk pasukan payung Rusia yang tewas dalam aksi kembali ke rumah di Rusia. Meskipun terbuka kemungkinan bahwa Rusia telah melakukan invasi “siluman” ke Ukraina, Vladimir Putin masih menyangkalnya. Keadaan akan lebih berbahaya jika ia sampai mengakuinya secara terbuka.

Semntara itu, Pemerintah Ukraina, pada Kamis (18/9/2014), mengatakan bahwa Rusia telah menempatkan sebanyak 4.000 tentara di wilayah Krimea yang dekat perbatasan kedua negara.[8] "Berdasarkan informasi yang kami terima, hampir semua unit militer Rusia yang ditempatkan di wilayah utara Krimea dipindahkan ke dekat perbatasan Ukraina bersama seluruh peralatan dan amunisi," kata juru bicara Dewan Keamanan dan Pertahanan Nasional Andriy Lysenko. Lysenko mengatakan, unit-unit militer itu dengan total 4.000 personel, dikerahkan dalam kelompok-kelompok taktis kecil di perbatasan Krimea sepanjang 100 kilometer.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Rusia Sergei Shoigu awal pekan ini mengatakan Moskwa berencana menambah jumlah pasukannya di Krimea karena situasi di Ukraina yang memburuk dan mendeteksi pergerakan pasukan asing di perbatasan. Rusia merasa prihatin dengan NATO yang "bergerak" ke wilayah timur. Presiden Vladimir Putin pun menuduh Barat memprovokasi krisis Ukraina demi "menghidupkan kembali" pakta militer itu.

Untuk mengurangi ketegangan, rencana Ukraina untuk membeli persenjataan dan pesawat tanpa awak atau drone dari Israel tidak jadi dilaksanakan karena berbagai pertimbangan politis pemerintah Israel. Senjata tersebut diketahui akan digunakan untuk melawan pasukan separatis pro Rusia di wilayah Ukraina.

Ukraina sendiri sempat mendatangi Israel dengan maksud untuk memperoleh berbagai perlengkapan militer tersebut. Transaksi pun hampir berlangsung dan sudah mendapatkan lampu hijau dari Kementerian Pertahanan Israel, namun secara mendadak Kementerian Luar Negeri Israel memveto penjualan.

Alasan Kementerian Luar Negeri membatalkan penjualan tersebut karena ditakutkan akan menyebabkan kemarahan di pihak Rusia sehingga nantinya Rusia akan memprovokasi Moskow untuk menjual senjata lebih banyak lagi ke berbagai negara Timur Tengah, yaitu Suriah dan Iran, yang merupakan musuh dari Israel.[9]

Gencatan senjata yang dilakukan antara Ukraina dan separatis pro Rusia batal setelah adanya serangan yang menewaskan banyak korban semenjak penandatanganan gencatan senjata dari tanggal 5 September lalu. Dari peristiwa tersebut, pasukan Ukraina dan separatis pro-Rusia saling menyalahkan pihaknya yang telah melanggar perjanjian gencatan senjata.

Bulan September ini NATO sepakat untuk meningkatkan kehadirannya di Eropa Timur, sementara AS menggelar latihan perang di wilayah barat Ukraina bersama 14 negara. Barack Obama akan dipaksa mengambil sikap terbaik dan melakukan sesuatu jika invasi Rusia benar-benar terjadi, atau ia akan tampak lemah di mata publik. Namun, itu bukan hal yang mudah untuk diputuskan.

Ada telah banyak ditulis tentang siapa yang harus disalahkan untuk semua ini, dan bisa lebih banyak akan ditulis tentang siapa yang harus disalahkan di masa depan. Barat cenderung menyalahkan "agresi Rusia" untuk kekacauan di Ukraina. Sebagai balasannya, Rusia menunjukkan bahwa Barat-lah yang telah mendanai dan mengorganisir kelompok-kelompok “garis keras” yang menggulingkan pemerintahan “Pro-Rusia” yang telah dipilih secara demokratis Ukraina. Rusia bahkan mengibaratkan pemerintah Ukraina saat ini terdiri dari para “perampas teroris neo-Nazi” yang secara brutal sedang berusaha untuk menindas jutaan etnis Rusia di timur Ukraina.

Walaupun Presiden Petro Poroshenko memberikan pernyataan positif tentang masa depan negara, Kamis (25/9/2014), bentrokan berdarah tetap terjadi dan pemberontak di bagian timur Ukraina tetap akan melaksanakan pemilu tentang kemerdekaan bagian itu tanggal 2 November mendatang. Proshenko berharap, Rusia tidak akan mengakui hasil pemilu tersebut. Kantor berita Ukraina, Interfax mengutip keterangan pejabat Departemen Dalam Negeri Ukraina yang mengatakan, setidaknya 30 tentara tewas dalam serangan pemberontak pro Rusia, yang menembakkan roket ke arah mereka Jumat (26/09).

Negosiasi baru dalam debat soal harga bahan bakar yang bermotif politik akan diadakan di Berlin, antara Rusia, Ukraina dan Komisi Eropa. Rusia menunda penyaluran pasokan ke Ukraina Juni lalu karena tidak setuju masalah harga. Perdebatan ini, ditambah dengan biaya perang yang sangat tinggi serta ditutupnya industri raksasa di bagian timur, menambah buruk perekonomian Ukraina.

 Haluan Ukraina untuk Mendekat ke Barat

Poroshenko yang didukung negara-negara Barat menyatakan dalam konferensi pers pertamanya sejak dilantik Juni lalu, bahwa ia tidak akan membiarkan Kremlin dan orang-orang bersenjata mencegah ambisi Kiev untuk melepaskan diri dari rangkulan Rusia. Ia mengatakan, "Kami sudah terlalu lama menderita dalam kamp sosialisme dan tidak akan membiarkan orang lain menurunkan tirai besi di perbatasan barat negara kami," demikian dikatakan Poroshenko berkaitan dengan keterikatan Ukraina dalam Uni Soviet di masa lalu. "Saya tidak ragu, bagian paling besar dan paling berbahaya dari perang ini sudah berhasil kita lalui, berkat heroisme tentara Ukraina," tegasnya.

Konflik lima bulan di bagian timur Ukraina telah menewaskan lebih dari 3.200 orang, dan mengakibatkan 650.000 meninggalkan rumah mereka. Padahal dulu wilayah itu ibaratnya motor penggerak ekonomi negara. Pertempuran antara separatis pro Rusia dan militer Ukraina di sekitar kota-kota Luhansk dan Donetsk. Situasi bagi warga sipil di sana makin kritis, demikian pernyataan Komisi HAM PBB. Mereka terutama menuduh kaum separatis melakukan kejahatan besar.

Rusaknya hubungan antara Moskow dan Kiev mulai terjadi, ketika pemimpin Ukraina yang didukung Rusia digulingkan Februari lalu. Peristiwa itu disusul Rusia yang mengambilalih Krimea dari Ukraina, dan serangkaian tuduhan bahwa Rusia mendukung pemberontakan pro Rusia di bagian timur Ukraina.

Bulan lalu, Poroshenko menyetujui rancangan kesepakatan perdamaian yang ikut disusun Kremlin. Menurut rencana, daerah-daerah yang sekarang dikuasai pemberontak akan mengadakan pemilihan dewan pimpinan lokal 7 Desember mendatang untuk menegakkan hukum. Tetapi, para pemimpin gerakan separatis menolak rencana tersebut karena itu hanya akan memberikan mereka kuasa terbatas selama tiga tahun. Mereka kini berencana untuk membentuk parlemen "Soviet Tertinggi" untuk wilayah kekuasaan mereka dan memilih pemerintah resmi.

Poroshenko menunjukkan bahwa ia berkeras akan melanjutkan haluan negara mendekati Barat, ketika ia mengumumkan reformasi komprehensif di bidang sosial dan ekonomi, yang disebutnya sebagai strategi 2020. Ia mengatakan, reformasi "akan jadi langkah persiapan bagi Ukraina untuk bisa mengajukan permintaan jadi anggota Uni Eropa dalam enam tahun".[10]

Jadi Rusia tampaknya diri mereka sebagai "orang baik" dalam konflik ini dan begitu juga dengan dunia barat. Tapi itu adalah bagaimana sebagian besar perang dimulai. Kedua belah pihak biasanya merasa secara moral dibenarkan pada awal konflik. Dalam analisis akhir, bagaimanapun, adalah benar-benar akan peduli sangat banyak yang "benar" dan yang "salah" jika hasil akhirnya adalah Perang Dunia III?

Jika pemberontak di timur Ukraina mampu mengalahkan pasukan pemerintah Kiev sendiri, Putin mungkin akan menjadi konten untuk membiarkan mereka melakukan itu. Tapi sebaliknya, mereka telah merangsek kembali ke dua kota besar dan tampak di ambang kekalahan. 
Tampaknya kekuatan militer Ukraina mengalami "kepanikan dan penarikan besar-besaran".

Tank, artileri dan infanteri telah menyeberang dari Rusia menjadi bagian “tak tersentuh” dari timur Ukraina dalam beberapa hari terakhir, menyerang pasukan Ukraina dan menyebabkan kepanikan dan penarikan mundur tidak hanya di kota perbatasan. Serangan luar kota ini dan di daerah utara pada dasarnya telah membuka baru, front ketiga dalam perang di Ukraina timur antara pasukan Ukraina dan separatis pro-Rusia, bersama dengan pertempuran luar kota Donetsk dan Luhansk.

Bagaimana ini terjadi? “Ini adalah Rusia” menjadi hal yang sulit disangkal. Bahkan, jika tentara Ukraina, mereka sangat jelas tentang siapa lawan mereka sekarang. "Saya beri tahu Anda bahwa mereka adalah Rusia, tapi ini adalah apa bukti yang saya miliki," kata Sersan. Aleksei Panko, sambil mengangkat ibu jari dan jari telunjuk untuk membentuk nol. Sersan Panko memperkirakan, sekitar 60 kendaraan lapis baja menyeberang dekat Novoazovsk. "Inilah yang terjadi. Mereka (militer Rusia) menyeberangi perbatasan, mengambil posisi dan mulai menembak."

Brigade Ukraina di Vinnytsia mengaku bertemu muka lintas batas selama enam kilometer dari pedesaan memisahkan Novoazovsk dari perbatasan Rusia, tetapi kemudian mundur ke tepi barat kota sepanjang jalan raya Rostov-Mariupol, di mana tentara luruh pada kelelahan di pinggir jalan. "Sekarang ini adalah perang dengan Rusia," kata Sersan Panko.

Lebih dari itu, kekuatan Ukraina bahkan telah menangkap sepuluh pasukan terjun payung Rusia. Daripada menyangkal siapa mereka, pemerintah Rusia mengklaim bahwa mereka berjalan ke Ukraina secara tidak sengaja.

Sepuluh tentara Rusia ditahan di wilayah Donetsk dari Ukraina bagian timur. Security Service negara itu mengatakan Selasa, karena ketegangan direbus selama konflik antara pasukan Ukraina dan pemberontak pro-Rusia. Para prajurit Rusia ditangkap dengan dokumen dan senjata mereka, kata Dinas Keamanan. Moskow telah berulang kali membantah klaim Kiev bahwa mereka telah mengirimkan pasukan dan senjata melintasi perbatasan ke Ukraina, di mana militer Ukraina memerangi pemberontak pro-Rusia.

Kantor berita RIA Novosti yang dikelola Rusia mengutip sebuah sumber di Kementerian Pertahanan Rusia mengatakan bahwa tentara telah berpatroli perbatasan dan "kemungkinan besar terjadi insiden" pada titik ditandai. Penolakan bahwa pasukan Rusia secara aktif beroperasi di wilayah timur Ukraina telah menjadi begitu masuk akal, bahkan beberapa pihak dari kalangan pers Rusia secara terbuka mempertanyakan mereka. Sementara itu, hubungan antara AS dan Rusia terus  menurun drastis, di mana kedua belah pihak tampak mencari cara untuk saling melemahkan satu sama lain.

Epilog: Pendapat Para Pakar

Pada akhirnya, konflik saat ini dikhawatirkan bisa berakhir pada satu titik yang belum pernah tercapai pada Perang Dingin. Perang Dunia III mungkin tidak akan terjadi pekan depan, bulan depan atau bahkan tahun depan, tapi sekarang kita berada di jalan yang akhirnya dapat mengarah pada terpikirkan.

Para ahli dari lembaga think tank Carnegie Endowment for International Peace, misalnya, ketika dimintai penilaian terkait situasi global, terutama tentang sejumlah hotspot konflik geopolitik saat ini, mengindikasikan bahwa “situasi yang memusingkan saat ini membutuhkan analisis yang juga memabukkan” (It’s some much-needed sober analysis during heady times). [11]

1. Apakah ketidakstabilan di seluruh dunia historis signifikan? Bagaimana konflik saat ini dibandingkan dengan waktu lain? 

Thomas Carothers[12]: Ketika riam (air terjun) krisis menghantam sistem internasional, seperti yang terjadi selama setengah tahun terakhir, selalu sulit untuk menilai pentingnya abadi peristiwa bergolak yang tiba-tiba mendominasi berita. Tak satu pun dari titik nyala (flashpoint) saat ini merusak tatanan internasional secara keseluruhan, namun itu semua cukup penting di luar bahaya mereka saat ini, karena memiliki potensial sebagai manifestasi jangka panjang, jauh jangkauannya dari tren dalam sistem internasional.

Ketegangan di Laut Cina Selatan adalah refleksi dari naiknya tensi berkelanjutan Cina dan perimbangan dari urutan keamanan dasar di Asia. Krisis di Ukraina adalah paku terakhir pada peti mati upaya utama AS sejak lima tahun terakhir untuk membangun hubungan luas yang kooperatif dengan Rusia.

Perang saudara di Irak dan Suriah merupakan bagian dari gelombang besar tak menyenangkan dari spiral konflik di dunia Arab, dan indikasi yang jelas bahwa lokus utama jihad radikal telah pindah dari Al-Qaidah di Asia Selatan ke berbagai kelompok di Timur Tengah. Pertempuran antara Israel dan Gaza menyoroti fakta bahwa proses perdamaian yang gagal antara Israel dan Palestina berada di tempat di mana bukan status quo yang bisa diterapkan, tetapi konflik mendasar akan turun menjadi kekerasan.

Dalam cara yang berbeda, titik-titik nyala ini semua menggarisbawahi difusi terus-menerus kekuasaan yang menjauh dari AS kepada aktor-aktor lain, baik itu kekuatan regional yang berbeda maupun aktor non-state. Mereka mengingatkan kita bahwa difusi tersebut akan memperbanyak sumber konflik kekerasan di dunia. Mereka juga adalah tonik memabukkan bagi siapa saja yang mulai percaya bahwa kekuatan militer—entah bagaimana caranya—merupakan jalan keluar dalam hubungan internasional.

Prof. Steven Pinker mungkin benar tentang penurunan keseluruhan dalam kekerasan di dunia ketika melihat dalam perspektif sejarah yang lebih besar. Tapi ini, beberapa titik nyala membuat jelas bahwa kekerasan, atau ancaman kekerasan oleh pelaku dalam berbagai jenisnya, akan terus membentuk bagian yang berbeda dari lanskap internasional di masa mendatang.

2. Apa risiko dari invasi militer Rusia ke Ukraina? Di mana pemerintah Ukraina berdiri?

Andrew S. Weiss[13] : Kami tidak benar-benar tahu bagaimana risiko invasi Rusia perlu dikhawatirkan. Presiden Barack Obama mengatakan kepada Thomas Friedman dari New York Times pada awal Agustus (2014) bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin "bisa menyerang" setiap saat. Sekretaris Jenderal NATO Anders Fogh Rasmussen juga mengatakan bahwa "ada kemungkinan tinggi" aksi militer Rusia.

Kegelisahan ini mencerminkan fakta bahwa Moskow sedang membangun kehadiran pasukan di sepanjang perbatasan, sedangkan pasukan Ukraina memberi tekanan serius pada separatis di dalam dan di sekitar dua basis mereka di timur Ukraina. Akankah Putin hanya berdiri dan meninggalkan proxy-nya? Apakah Putin akan rela dipermalukan ketika mereka dibantai oleh musuh (Ukraina) yang telah dipojokkan sedemikian rupa oleh media yang dikontrol oleh Pemerintah Rusia?

Pada saat yang sama, Moskow mungkin memiliki alat-alat lain yang bisa memperpendek invasi dan dapat membantu membeli waktu atau mempertahankan “keseimbangan” Ukraina di Donetsk dan Luhansk. Ada juga kecurigaan yang berkembang bahwa Putin tidak benar-benar mengendaki pemimpin kunci separatis atau nasionalis radikal yang berperang ke Ukraina, yang bisa berbalik melawan Rusia sendiri, karena mereka bisa menjadi faktor destabilisasi untuknya di rumah.

Presiden Ukraina Petro Poroshenko sepertinya lebih tertarik untuk menyelubungi operasi militer di timur sehingga ia bisa fokus pada agenda reformasinya, situasi ekonomi suram yang dihadapi negara, dan pemilihan parlemen di mana ia ingin mempertahankan jabatan pada bulan Oktober. Satu kerutan menarik bagi Ukraina adalah tumbuhnya pengaruh politik dari unit-unit paramiliter dan relawan ireguler yang telah melakukan sebagian besar pertempuran. Para pejuang—seperti halnya oligarki dan broker kekuasaan daerah yang membiayai sendiri batalion mereka—akan menjadi kekuatan untuk diri mereka sendiri dalam politik Ukraina dalam beberapa bulan mendatang.

3. Apakah ada akhir yang terlihat untuk konflik di Gaza? Apa kemungkinan Israel dan Palestina menikmati masa depan yang stabil?

Marwan Muasher[14]: Sayangnya, konflik yang berlangsung di depan mata belum tampak akan berakhir. Sebuah gencatan senjata yang berlangsung selama lebih dari beberapa hari kemungkinan akan mencapai akhirnya. Tapi, itu mungkin akan mirip dengan yang sebelumnya, dan ada sedikit harapan bahwa itu akan memindahkan proses perdamaian ke depan.

Israel sedang mengejar tujuan taktis untuk menenangkan ketakutan publik dan garis keras dalam kabinet Israel dengan mengorbankan rakyat Palestina. Jika niat Israel adalah untuk melucuti atau melemahkan Hamas, itu mungkin akan berjalan pergi dengan tangan kosong. Tiga serangan darat dalam enam tahun terakhir (dan perang lain melawan Hizbullah di Libanon pada tahun 2006) semua gagal mencapai tujuan melucuti dan melemahnya lawan-lawannya.

Bahkan, Hamas membuktikan bahwa mereka telah mampu memperkuat kemampuan militer dari waktu ke waktu. Hal ini jelas lebih siap kali ini. Sementara roket diluncurkan terhadap Israel belum menghasilkan banyak kerusakan fisik, mereka mungkin mulai menghancurkan rasa aman semu yang dinikmati oleh banyak orang Israel. Dan tentara Israel telah kehilangan nyawa mereka dalam pertempuran.

Hamas juga mendapatkan popularitas sebagai hasil dari langkah terbaru Israel. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, Hamas lebih populer daripada Fatah dalam jajak pendapat. Gambar-gambar dari kematian warga sipil, terutama perempuan dan anak, di jaringan televisi Arab tampak mengerikan dan nyata sehingga menggeser mood publik untuk mendukung Hamas. Klaim Israel bahwa mereka bertindak hati-hati untuk mengurangi korban sipil secara luas diabaikan di seluruh Dunia Arab.

Tanpa menangani masalah inti dari konflik—yaitu pendudukan Israel—hanya ada sedikit harapan bahwa siklus ini tidak akan berulang. Sah-sah saja jika orang-orang khawatir akan serangan di masa mendatang, diikuti dengan gencatan senjata yang tidak akan bertahan, lalu diikuti oleh lebih banyak serangan, sementara warga Palestina di Gaza dan di tempat lain akan terus menanggung beban tindakan ini. Tidak heran jika kebanyakan orang hanya melihat sedikit prospek terobosan yang secara tuntas akan menyudahi pendudukan.

3. Apakah pencapaian Daulah Islamiyah (the Islamic State) di Irak dan Suriah akan berlanjut? Apa yang akan terjadi berikutnya di kedua negara?

Lina Khatib[15]: Lewat kemajuan yang diraihnya di Irak dalam beberapa bulan terakhir, militan Daulah Islamiyah telah berhasil menghubungkan wilayah yang berada di bawah kekuasaan mereka di Irak dan Suriah, menghapus perbatasan, dan mendeklarasikan sebuah kekhalifahan. Kontrol kelompok di kedua negara kemungkinan akan bertahan, tetapi belum tentu berkembang secara signifikan.

Daulah Islamiyah menggunakan campuran kekerasan dan negosiasi untuk merebut wilayah. Strategi hibrida yang dipamerkan di Irak dan Suriah, termasuk keputusan untuk membentuk aliansi dengan sejumlah klan dan suku setempat.

Di Irak, dukungan suku-suku Sunni itu diraih dan membawa kemajuan pesat terutama didorong oleh keluhan luas terhadap Pemerintah Irak. Sunni telah didiskriminasi oleh semua tingkat pemerintah, dan Daulah Islamiyah menawarkan suku-suku tersebut kesempatan untuk membalas dendam. Jadi, kelompok ini sengaja menghasut kebencian sektarian untuk menggalang Sunni Irak melawan warga Syiah.

Serangan udara AS terhadap Daulah Islamiyah di wilayah Kurdi akan mencegah pejuang kelompok ini dari kemajuan di daerah utara. Namun, mereka tidak akan memecahkan masalah yang lebih besar, yang berusaha “dibeli” oleh Daulah Islamiyah untuk dituntaskan di kalangan lokal Sunni Irak. Membentuk pemerintahan yang inklusif semestinya menjadi prioritas utama bagi Perdana Menteri Irak yang baru terpilih. Selama pemerintah Irak tidak terlibat dalam upaya reformasi serius yang memikirkan kembali struktur dan kebijakannya, Daulah Islamiyah akan terus menggunakan kartu sektarian untuk keuntungannya.

Di Suriah, konflik terus menggilas. Ketakutan dan kelelahan yang menyebabkan banyak untuk memilih diam dalam menghadapi Daulah Islamiyah, sementara yang lain, dalam upaya untuk mempertahankan diri, berusaha untuk bersekutu dengan kelompok yang muncul untuk menjadi yang terkuat, terkaya, dan paling bertahan lama. Beberapa pejuang Al-Qaeda juga membelot, memperkuat jangkauan Daulah Islamiyah dan sumberdaya, sementara oposisi moderat dan Jabhah An-Nushrah belum mampu untuk menyejajarkan diri dengan Daulah Islamiyah.

Meskipun pemerintah Suriah baru-baru ini mulai mengubah sikap terhadap kelompok ini dan menyerang basis mereka di Raqqah, melawan kelompok tersebut bukan prioritas rezim Assad. Sebaliknya, rezim akan memfokuskan energinya untuk mempertahankan kontrol atas wilayah utama yang masih ada di bawah kekuasannya, serta meninggalkan wilayah timur untuk Daulah Islamiyah. Hal ini sebagiannya karena kedua belah pihak—baik tentara Suriah maupun Daulah Islamiyah—tidak benar-benar mampu untuk mengatasi pihak lain secara militer.

Selama rezim terus meneror dan kelaparan rakyatnya sendiri, sementara oposisi Suriah yang moderat gagal untuk memberikan hasil politik dan militer yang nyata, Daulah Islamiyah akan terus memegang wilayah di bawah kendali di timur. Peluang yang telah dimainkan untuk keuntungan Daulah Islamiyah masih cukup kuat. Artinya, Daulah Islamiyah kemungkinan akan terus memperdalam akar berpijaknya di daerah yang sudah dikontrolnya di Suriah dan Irak. Prospek menumpas kelompok ini di kedua negara dalam waktu dekat terlalu mengada-ada.

4. Apa risiko konflik di perairan Asia? Akankah China mengejar klaim teritorial secara lebih agresif?

Douglas Paal [16]: Risiko konflik di perairan Asia telah meningkat selama lebih dari empat tahun. Tapi, itu masih merupakan risiko yang relatif kecil.

Semua pemain pada dasarnya adalah pemerintah yang berhati-hati dan berusaha menghindari terlanggarnya garis merah. Sejak lama yang menjadi perhatian adalah apakah mereka mengerti dengan jelas mana garis merah di mana mereka akan bermanuver untuk keuntungan. Salah pikiran adalah variabel kunci yang dapat mendorong ketegangan ke titik konflik.

China, untuk sebagian, sekarang yang paling percaya diri di wilayah tersebut dan telah membangun kemampuan dan sumberdaya selama dua dekade terakhir yang melampaui orang-orang dari negara-negara tetangganya.

Beijing percaya harus memperbaiki kerusakan kepentingannya yang telah diwariskan sejarah. Dalam pemikiran Beijing, gangguan-gangguan terjadi pada klaim teritorial China oleh negara-negara tetangga dan imperialis, seiring dengan periode isolasi yang menimpa China. Jadi, China tidak menganggap diri mereka sebagai agresif, namun sebagai reaktif terhadap tindakan orang lain pada saat mereka sekarang dapat lebih membela kepentingan mereka.

Apa implikasi dari semua kekacauan internasional ini? Apakah ada pelajaran mendasar bagi AS?

Thomas Carothers: Riak krisis internasional memiliki beberapa implikasi bagi AS dan dunia.

Pertama, kejadian ini menyoroti fakta bahwa kekuatan AS kini terus-menerus diuji oleh meningkatnya pelaku berusaha untuk menentukan berapa banyak kemampuan dan AS akan memiliki untuk menjaga ketertiban. Respons AS untuk tes di satu wilayah akan bergema keras sebagai contoh bagi pelaku di wilayah lain.

Kedua, gagasan poros ke Asia mungkin memiliki beberapa daya tarik ketika pemerintahan Obama melayang itu, tetapi setiap gagasan bahwa Amerika Serikat tidak akan terus menghadapi tantangan keamanan yang mendasar di Timur Tengah, Eropa, dan di tempat lain di luar Asia sekarang jelas ilusi. Apa poros karena itu harus benar-benar terdiri dari benar-benar jelas.

Setelah dari itu adalah implikasi ketiga. Pembentukan kebijakan AS suka mencoba membingkai US keamanan dalam hal satu menyeluruh tantangan-seperti perang melawan terorisme-dan memobilisasi sumber daya yang sesuai. Namun apa yang dilakukan Amerika Serikat menghadapi di dunia adalah tantangan keamanan yang sangat berbeda yang memerlukan jenis yang sama sekali berbeda dari tanggapan.

Washington perlu menjauh dari kebiasaan mengonfigurasi mesin kebijakan luar negerinya untuk satu hal besar-kita harus sama-sama mahir, dilengkapi, dan siap untuk mengajukan diplomasi strategis ahli di Asia; tanggapan diplomatik, ekonomi, dan politik cerdas untuk Rusia; upaya yang efektif untuk menangani penyebaran pelaku jihad di dunia Arab dan Afrika sub-Sahara; dan banyak lagi. Kebiasaan lama berpikir tentang doktrin tunggal atau pendekatan menyeluruh untuk kebijakan luar negeri AS adalah buruk usang.

Sebagai penutup, penting untuk dicatat bahwa beberapa asumsi mulai terbukti seiring berakhirnya tahun 2014. Tampak Bagaimana AS—sebagai polisi dunia—memiliki beban berat sebagai “pemimpin dunia” yang harus menghadapi dan terlibat dengan seluruh persoalan, termasuk masalah yang tidak mereka sebenarnya tidak ingin terlibat. Yang jelas, ketika kapal memuat beban lebih dari kapasitasnya, kesudahannya adalah tenggelam! (F. Irawan)



[1] Lieven, D. C. B. 1983. Russia and the Origins of the First World War. New York: St. Martin's Press.
[2] Henig, Ruth B. 2002. The Origins of the First World War. London: Routledge.
[3] Journal of International Affairs, Volume 90, Issue 1Artikel dipublikasi online pertama kali pada 10 Januari 2014.
 
[4] http://www.independent.co.uk/news/world/politics/is-it-1914-all-over-again-we-are-in-danger-of-repeating-the-mistakes-that-started-wwi-says-a-leading-historian-9039184.html
[5] Rosa Brooks, “We Don't Need Another Dumb War”, 11 September 2014,
http://www.foreignpolicy.com/articles/2014/09/11/we_don_t_need_another_dumb_war_obama_speech_isis_isil_iraq_syria_islamic_state?wp_login_redirect=0
[6] http://theeconomiccollapseblog.com/archives/22-reasons-why-starting-world-war-3-in-the-middle-east-is-a-really-bad-idea
[7] http://theeconomiccollapseblog.com/archives/the-road-to-world-war-3-russia-and-ukraine-are-now-engaged-in-a-shooting-war Dipublikasikan pada 27 Agustus 2014.
[8] Kompas, 18 September 2014.
[9] Kompas, 16 September 2014.
[10] http://www.dw.de/pemimpin-ukraina-yakin-perang-akan-berakhir/a-17956763 . Diakses 30 September 2014.
[11] http://carnegieendowment.org/2014/08/14/is-world-falling-apart
[12] Thomas Carothers is the founder and director of the Democracy and Rule of Law Program and oversees Carnegie Endowment Europe in Brussels. He has also worked extensively with the Open Society Foundations (OSF), including currently as chair of the OSF Think Tank Fund and previously as chair of the OSF Global Advisory Board. He is an adjunct professor at the Central European University in Budapest and was previously a visiting faculty member at Nuffield College, Oxford University, and Johns Hopkins SAIS. Prior to joining the Endowment, he practiced international and financial law at Arnold & Porter and served as an attorney adviser in the Office of the Legal Adviser of the U.S. Department of State.
[13] Andrew S. Weiss is vice president for studies at the Carnegie Endowment, where he oversees research in Washington and Moscow on Russia and Eurasia. He was director of the RAND Corporation’s Center for Russia and Eurasia and executive director of the RAND Business Leaders Forum. He previously served as director for Russian, Ukrainian, and Eurasian Affairs on the National Security Council staff, as a member of the State Department’s Policy Planning Staff, and as a policy assistant in the Office of the Under Secretary of Defense for Policy during the administrations of Presidents Bill Clinton and George H. W. Bush.
[14] Marwan Muasher is vice president for studies at Carnegie, where he oversees research in Washington and Beirut on the Middle East. He is a PhD-graduate from Purdue University.
[15] Lina Khatib is director of the Carnegie Middle East Center in Beirut. She was the co-founding head of the Program on Arab Reform and Democracy at Stanford University’s Center on Democracy, Development, and the Rule of Law.
[16] Douglas Paal previously served as vice chairman of JPMorgan Chase International and as unofficial U.S. representative to Taiwan as director of the American Institute in Taiwan (2002–2006). He was on the National Security Council staffs of Presidents Reagan and George H. W. Bush between 1986 and 1993 as director of Asian Affairs and then as senior director and special assistant to the president. He held positions in the policy planning staff at the State Department, as a senior analyst for the CIA, and at U.S. embassies in Singapore and Beijing.