PERANG GENERASI KEEMPAT (4GW), Mengubah Paradigma Perang

31 October 2014

Pergeseran generasi terjadi sepanjang waktu seiring dengan perubahan lingkungan dan teknologi, yang membuat praktik-praktik yang diikuti sebelumnya nampak ketinggalan zaman. Perubahan generasi perang terjadi melalui usaha yang dilakukan oleh para pelaku untuk memecahkan problem spesifik terkait dengan pertempuran mereka melawan musuh yang jauh lebih kuat.

Perang Generasi Keempat (4GW) bukanlah hal baru, namun merupakan sebuah aplikasi kreatif dan adaptif dari bentuk sebelumnya, dimana dimensi moral lebih penting daripada teknologi. Perang generasi keempat menggambarkan transisi dimana kekuatan tradisional didefinisikan ulang: fokus kini berpindah dari teknologi tinggi menuju ide. Konflik bergeser dari strategi atrisi menghancurkan target militer dengan menggunakan daya tembak pasukan reguler menuju pengacauan pusat sosial ekonomi dan kultur politik dengan serangan kejutan, subversi, organisasi bayangan, dll.

Jantung dari fenomena terjadinya Perang Generasi Keempat adalah karena terjadinya krisis legitimasi negara. Di seluruh dunia, warga negara mentransfer loyalitas utamanya dari negara untuk hal-hal lain: agama, suku, kelompok etnis, geng, ideologi dan sebagainya. Banyak orang yang tidak lagi berjuang untuk negaranya namun akan berjuang untuk loyalitas primer baru mereka.

Ciri menonjol perang dalam generasi ini adalah melibatkan dua aktor atau lebih dengan kekuatan yang tidak seimbang dan mencakup spektrum perang yang luas. Perang dalam generasi ini bersifat transnasional, tidak mengenal medan perang yang pasti, tidak membedakan sipil dan militer, tidak mengenal masa perang dan damai, serta tidak mengenal garis depan. Aktor Generasi Keempat pada umumnya memiliki tujuan regional yang jauh lebih luas dan bahkan visi global. Mereka berusaha menerapkan sistem sosial yang sama sekali baru berdasarkan ideologi atau agama mereka.

Perang Generasi Keempat antara lain ditandai dengan menurunnya harmoni dalam masyarakat; menurunnya loyalitas kenegaraan dan meningkatnya loyalitas alternatif, terutama budaya; hilangnya monopoli negara atas perang; munculnya entitas non-negara yang mampu menguasai loyalitas utama masyarakat; peran dominan dari propaganda dan tekanan psikologis adalah untuk mengubah pikiran para pembuat kebijakan politik.

Perang Generasi Keempat berakar dari aturan fundamental yang menyatakan bahwa kemauan politik yang lebih superior, bila digunakan dengan benar, dapat mengalahkan kekuatan ekonomi dan militer yang lebih besar. Perang Generasi Keempat tidak berusaha untuk menang dengan mengalahkan pasukan militer musuh. Sebaliknya, mereka secara langsung menyerang kemauan politik musuh dengan menggabungkan antara taktik gerilya atau pembangkangan sipil dengan jaringan ikatan sosial, budaya dan ekonomi, kampanye disinformasi dan aktivitas politik yang inovatif.

Perang Generasi Keempat mencakup spektrum aktivitas manusia yaitu politik, ekonomi, sosial dan militer. Secara politis, Perang Generasi Keempat melibatkan organisasi dan jaringan transnasional, nasional dan sub-nasional untuk menyampaikan pesan kepada khalayak sasaran.

Secara strategis, Perang Generasi Keempat berfokus pada mematahkan kehendak pembuat keputusan. Mereka menggunakan jalur yang berbeda untuk menyampaikan pesan yang berbeda kepada sasaran yang berbeda. Pesan ini digunakan demi tiga tujuan: untuk mematahkan semangat musuh; mempertahankan kehendak rakyat mereka sendiri; dan memastikan pihak yang netral tetap netral atau memberikan dukungan diam-diam atas alasan yang mereka gunakan. Secara operasional, mereka menyampaikan pesan tersebut dalam berbagai cara mulai dari serangan militer secara langsung yang berdampak tinggi hingga serangan ekonomi tidak langsung yang dirancang untuk menaikkan harga minyak.

Secara taktis, pasukan Perang Generasi Keempat menghindari konfrontasi langsung jika memungkinkan. Mereka menggunakan bahan-bahan yang ada dalam masyarakat yang diserang. Perang Generasi Keempat juga merupakan perang yang panjang yang berlangsung dalam hitungan dekade.

Singkatnya, Perang Generasi Keempat bersifat politis, jaringan terbentuk secara sosial, dan membutuhkan durasi yang berlarut-larut. Ia adalah antithesis dari teknologi tinggi dan perang singkat yang selama ini disiapkan oleh Pentagon.

Perang generasi keempat menggunakan seluruh jaringan yang tersedia—politik, ekonomi, sosial, dan militer—untuk meyakinkan para pengambil keputusan politik musuh bahwa tujuan strategis mereka tidak bisa diraih atau terlalu mahal jika dibandingkan dengan manfaat yang diharapkan. Satu-satunya media yang bisa mengubah pikiran seseorang adalah informasi. Karenanya, informasi adalah elemen kunci dalam setiap strategi Perang Generasi Keempat.

Pada generasi sebelumnya, media lebih berfungsi untuk melaporkan peristiwa yang terjadi, bukan untuk membentuk arah perang. Dalam Perang Generasi Keempat, media digunakan untuk melemahkan kehendak lawan. Targetnya adalah para pengambil keputusan musuh atau masyarakat musuh. Selain itu, audiens global juga dijadikan target untuk membentuk cara pandang dunia. Karena itu, manajemen media sama pentingnya dengan taktik lain dalam Perang Generasi Keempat. Perang jenis ini adalah konflik berbasis informasi. Karena tujuannya adalah untuk menargetkan pikiran musuh, informasi menjadi hal yang sangat penting.