Kegagalan Amerika Serikat di Afghanistan

31 December 2014

“Hari ini ISAF menggulung benderanya dalam atmosfer kegagalan dan kekecewaan tanpa meraih hasil yang substansial atau cukup terlihat…. Kami menganggap langkah ini sebagai indikasi yang nyata atas kekalahan dan kekecewaan mereka.” (Zabihullah Mujahid, juru bicara Taliban Afghanistan, 29 Desember 2014)

Setelah invasi Sekutu pada tahun 2001, Afghanistan berubah menjadi sebuah negara yang benar-benar tak tertata karena kedatangan pasukan tentara asing. Kabul menjadi ibukota yang tidak nyaman dan muram. Hanya ada sedikit kontrol dari pemerintah. Lembaga-lembaga swadaya masyarakat pun tak bisa berbuat banyak. Sejak era Presiden Hamid Karzai, kondisi pemerintahan endemik dengan korupsi.

Keamanan pun menjadi harga yang sangat mahal, terutama jika berhubungan dengan tentara AS. Sejak kedatangan pasukan AS dan NATO untuk periode kedua kalinya pada 2007, lebih dari 3.400 polisi Afghan tewas karena berbagai sebab. Namun, pasukan tentara AS dan NATO dihadapkan pada perlawanan Taliban yang tak mengendur.

Tahun 2009, Afghanistan sejenak bergeser dari "perang yang terlupakan", menjadi tanda-tanda awal perang kelelahan AS dan NATO. Direktur Intelijen Nasional Dennis Blair memberikan gambaran besar tentang pencapaian AS dan NATO selama di Afghanistan. Dari laporan tersebut, diperoleh sebuah kesaksian yang dramatis.

Pada 16 Maret 2011, Direktur Badan Intelijen Pertahanan AS Letnan Jenderal Ronald Burgess pernah mengatakan kepada para anggota dewan bahwa meski Taliban mendapatkan lebih banyak tekanan dibandingkan sebelumnya di Afghanistan, kelompok tersebut ulet dan mampu bertahan. Burgess juga menyatakan bahwa pengaruh Taliban masih tetap menyebar luas di seluruh penjuru negara, demikian dilaporkan Christian Science Monitor.

"Meski Taliban mengalami kekalahan taktis, mereka tetap mampu menjaga pengaruh di sebagian besar kawasan, khususnya di luar kawasan perkotaan," kata Burgess kepada Komite Pengawas Persenjataan Senat. "Pasukan AS meraih sejumlah kemenangan di timur dan mampu menyingkirkan sejumlah tokoh pemimpin kunci dari medan perang. Hal ini agaknya tidak memengaruhi kapasitas operasional mereka (Taliban), yang di antaranya t --ermasuk serangan tingkat tinggi terhadap sejumlah pangkalan (NATO) di tahun 2010," tambahnya.

Pandangan Burgess disampaikan setelah komandan AS di Afghanistan, Jenderal David H. Petraeus, menyoroti "perkembangan tak seimbang" di Afghanistan yang masih rentan dan dapat dibalikkan. Dalam rapat dengar pendapat yang berlangsung tiga jam di Senat kala itu, Petraeus tidak secara langsung menanggapi perkiraan intelijen AS bahwa keberhasilan yang diraih di medan tempur baru-baru ini gagal mengurangi kekuatan Taliban.

Petraeus justru mengklaim mendapat "pencapaian" dan mengakui bahwa masih ada banyak hal yang perlu dikerjakan. Tidak ada senator yang menentang dasar pemikirannya bahwa dibutuhkan banyak prajurit Amerika di Afghanistan untuk beberapa tahun ke depan.

"Dalam delapan bulan terakhir, dicapai perkembangan yang penting namun dicapai dengan perjuangan yang sulit di Afghanistan," kata Petraeus di hadapan para anggota dewan saat ia memberikan keterangan bersama Michele Flournoy, wakil menteri pertahanan di bidang kebijakan.

Setahun setelah Presiden Obama menyetujui penambahan 30.000 prajurit Amerika dan menjadikan jumlah total pasukan koalisi menjadi 140.000, Flournouy mengatakan, "Strategi kita berjalan baik."

Setelah hearing tersebut, Obama sempat memerintahkan penarikan sebagian pasukan pada bulan Juli 2011, namun Petraeus mengatakan bahwa dirinya belum memutuskan tingkat penarikan pasukan macam apa yang direkomendasikannya. Jumlahnya diperkirakan kecil.

"Momentum yang diraih oleh Taliban di Afghanistan sejak tahun 2005 telah dihentikan di sebagian besar negara dan dibalikkan di sejumlah kawasan penting," klaim Petraeus.

"Akan tetapi, meski perkembangan keamanan yang dicapai dalam satu tahun terakhir signifikan, (perkembangan) itu juga rapuh dan rentan dibalikkan. Lebih lanjut lagi, sudah jelas bahwa masih banyak kesulitan yang menanti saat rekan-rekan kami di Afghanistan harus memperkuat dan memperluas keunggulan kami menghadapi serangan Taliban, yang diperkirakan dilangsungkan musim semi (2011) mendatang," tambahnya.

Kemunculan Petraeus di hadapan Kongres AS adalah kemunculan perdananya sejak menggantikan Jenderal Angkatan Darat AS Stanley A. McChrystal pada bulan Juni 2010, atau tepat setahun setelah menjabat. Itu dilakukan pada saat hasil jajak pendapat yang digelar Washington Post dan ABC News menunjukkan bahwa nyaris dua per tiga warga Amerika mengatakan bahwa perang di Afghanistan tidak lagi perlu dilakukan.

Sementara itu, dalam sebuah pernyataan di National Review, David Petraeus juga mengakui bahwa Taliban adalah pasukan yang paling kompeten dan taktis yang pernah dihadapi oleh NATO. Dalam kondisi sekarang, di mana rakyat Afghanistan berharap banyak pada Taliban, dan di mana Taliban mendapat dukungan cukup besar dari rakyat Afghanistan, tak heran gerilya Taliban menjadi sesuatu sangat diperhitungkan. Unit-unit kecil pasukan Taliban, seperti jebakan ranjau darat, pengintaian, dan pertahanan mereka sangat baik. Mereka jauh lebih terlatih dan berpengalaman daripada polisi Afghanistan sendiri.

Ketika rakyat Afghan terus memberikan dukungan kepada Taliban, dan percaya pada kekuatan perjuangan Islam dan pembelaan terhadap tanah air yang diusung, maka adalah logis jika pasukan AS tidak bisa berbuat banyak di bumi para pejuang bersorban tersebut. Pasukan AS mungkin bisa menghancurkan setiap sasaran yang mereka inginkan, tetapi belum tampak tanda-tanda mereka akan memenangkan perang di Afghanistan. David McKierna, komandan senior AS di Afghanistan, pernah mengatakan, "Dalam banyak hal, kami tak akan pernah menang perang."[1]

Gagalnya Program Rekonstruksi AS

Seorang pengawas AS telah memperingatkan bahwa dana sebanyak $ 104 M yang diberikan ke Afghanistan untuk proyek rekonstruksi bisa menguap sia-sia lantaran pemerintahan Afghanistan yang kacau. Korupsi dan lemahnya kontrol menjadikan dana tersebut raib tak berbekas.

Dalam laporan yang dikeluarkan pada tanggal 30 Oktober oleh SIGAR (Special Inspector General for Afghanistan Reconstruction) atau Inspektorat Jenderal Khusus untuk Rekonstruksi Afghanistan, memperingatkan bahwa pasukan keamanan nasional Afghanistan tidak berkelanjutan secara fiskal dan tidak dapat mempertahankan investasi.[2]

Laporan ini memperingatkan bahwa tanpa kontribusi donor, pemerintah Afghanistan tidak akan dapat memenuhi sebagian besar pengeluaran operasi atau perkembangannya. Ia juga mengatakan Amerika Serikat tidak memiliki strategi antikorupsi yang komprehensif dan bahwa operasi kontra narkotika tidak lagi menjadi prioritas utama bagi Amerika Serikat.

PBB juga menyebutkan produksi opium di Afghanistan mencapai tertinggi di antara waktu lainnya selama November. Afghanistan menempati urutan keempat dalam daftar negara terkorup di dunia versi lembaga non-pemerin-tah, Transparency International.  Sepertinya AS sudah kepalang tanggung, tak diberi uang pemerintah tidak bisa jalan, diberi uang dikorupsi.

Inkompetensi Militer AS di Afghanistan Terus Berlanjut

Selagi pasukan AS menarik diri dari wilayah Afghanistan, Taliban meraih sejumlah kemajuan di negara tersebut. Polisi Afghanistan dan tentara nasional secara perlahan menunjukkan keputusasaan, meskipun AS telah menghabiskan 13 tahun dan puluhan miliar dolar untuk melatih pasukan tersebut. Ketika AS menyelesaikan penarikan diri dari medan tempur pada akhir tahun ini, tren yang tidak menguntungkan bagi pihak asing ini dapat mengalami percepatan. Itu pun dengan harapan bahwa pasukan keamanan Afghanistan tidak runtuh sama sekali seperti halnya pasukan Irak yang dilatih AS.

Jadi, Perang Afghanistan telah tercatat sebagai perang terpanjang dalam sejarah Amerika. Hasilnya, militer AS telah gagal untuk meundukkan Afghanistan, seperti halnya kegagalan tiga kali upaya kekuatan adidaya, yaitu Imperium Britania pada abad ke-19, ke-20 dan Uni Soviet pada 1980-an. Bahkan, kekuatan luar belum pernah menaklukkan Afghanistan sejak Cyrus Agung melakukannya pada zaman Persia kuno.

Mengapa AS memiliki keangkuhan untuk berpikir bahwa mereka bisa berhasil menjinakkan Afghanistan, ketika semua usaha keras lainnya telah gagal? Karena banyak elite kebijakan luar negeri di AS, media, dan rakyat percaya pada "pengecualian Amerika." Seperti dikemukakan oleh politisi dari kedua kubu—misalnya, Hillary Clinton dan Madeleine Albright dari Partai Demokrat dan orang-orang seperti John McCain dan sidekick (pendamping setia)-nya Lindsay Graham dari Partai Republik—Amerika adalah "bangsa yang sangat diperlukan" untuk dunia yang tidak bisa memecahkan masalah-masalahnya yang paling utama dengan menggunakan kekuatan militernya.

Meskipun ada upaya untuk menjilat publik secara lebih personal terhadap kalangan militer dan veteran perang, sebagian kalangan menilai militer AS tidak cukup kompeten di sebagian besar keterlibatan konflik besar sejak Perang Dunia II, yang memerlukan pasukan darat secara signifikan. Hanya Operasi Desert Storm pada tahun 1991 yang dianggap sukses tanpa banyak pertanyaan dalam beberapa tahun terakhir. Angkatan Bersenjata AS mungkin lebih kuat daripada militer lainnya dalam sejarah dunia, baik secar mutlak maupun relatif atas negara-negara lain. Namun, kinerja lapangan mereka belum terlalu bagus, terutama terhadap pasukan gerilya yang bersifat ireguler di negara berkembang.

Pada era pasca-Perang Dunia II, militer AS mencoba untuk menekan bangsa miskin (ketika itu) Cina, yang kemudian menyeret AS ke dalam Perang Korea (1950-1953) tanpa kemenangan. Kemudian AS mengalami kekalahan dalam Perang Vietnam (1965-1973) dari gerilyawan Viet Cong dan pasukan Vietnam Utara (NVA); dan mengulangi kesalahan yang sama di Vietnam ketika di Irak dan Afghanistan. Awalnya menggunakan senjata yang berlebihan dan mengasingkan penduduk, padahal kesetiaan (dukungan) warga merupakan kunci untuk memerangi gerilyawan.

Bahkan, dalam operasi darat dengan level yang lebih rendah terhadap musuh yang “kecil dan lemah”, militer AS belum melakukan semua itu dengan baik. Meskipun sukses, invasi Grenada dan Panama menyajikan pertunjukan yang memalukan, seperti korban salah sasaran dari pihak sekubu, yang disebabkan oleh ketidakmampuan petugas AS untuk berkomunikasi dan berkoordinasi secara memadai. Di samping itu, penghancuran semena-mena daerah sipil dan jatuh korban dalam jumlah besar dari operasi yang secara terhormat disebut sebagai operasi pemulihan (surgical operation).

Misi penyelamatan sandera yang dilakukan di Iran pada tahun 1980 pun harus dibatalkan. Akhirnya, intervensi AS di Lebanon dan Somalia di bawah pemerintahan Reagan dan Clinton, dipaksa berhenti dan melarikan diri dengan cara yang memalukan dari negara-negara tersebut, setelah kesuksesan serangan musuh, yang kemudian menginspirasi Usamah bin Ladin untuk percaya bahwa dia bisa memaksa AS menarik diri dari intervensi luar negeri dengan meluncurkan serangan terhadap pasukan militer AS (USS Cole) dan fasilitas di luar negeri, bahkan hingga wilayah AS (Serangan 11 September).

Setiap kali militer AS mengalami kemunduran, biasanya petunjuk dicari di sekitar kepemimpinan sipil negara untuk lebih banyak disalahkan. Meskipun pemimpin sipil dipandang patut untuk disalahkan dalam sebagian besar kasus tersebut, tetapi militer juga tidak dibenarkan melarikan diri pengawasan publik untuk bencana yang sebagian besar disebabkan oleh mereka. Masalahnya adalah bahwa publik Amerika merasa bersalah karena dugaan penyalahgunaan kembali, seperti ketika era Perang Vietnam, di mana mereka dihadapkan kepada fakta bahwa rata-rata warga yang terlibat wajib militer telah dikorbankan secara berlebihan untuk petualangan militer AS di luar negeri.

Tentu saja, jika masyarakat benar-benar ingin melakukan sesuatu untuk mendukung petugas sipil dan militer AS, mereka harus menghentikan orang-orang tadi dari berjuang dan mati di negara berkembang, di tempat yang jauh, untuk memerangi dugaan yang berlebihan berupa ancaman terhadap AS. Sayangnya, kemarahan publik yang memadai, yang diperlukan untuk mengakhiri konflik itu dirasakan belum cukup jelas dan signifikan, baik untuk perang di Afghanistan maupun Irak.

Tapi, apa sebenarnya yang salah di Afghanistan? Tidak seperti di Vietnam dan Irak, militer AS tidak memerangi tentara konvensional, seperti halnya pasukan Irak selama Operasi Desert Storm, yang sejauh ini dipandang sebagai pencapaian terbaik. Sebaliknya, dari tiga negara tadi, AS menghadapi peningkatan jumlah pekerjaan sosial militer. Angkatan Bersenjata AS harus berhadapan dengan gerilyawan yang memiliki hubungan yang cair dengan penduduk sipil pribumi sebagai pendukung penting. Di Vietnam, pasukan AS menggunakan senjata yang berlebihan, sehingga warga sipil merasa terancam; sementara di Afghanistan dan Irak, militer AS melupakan pelajaran dari Vietnam, dan melakukan hal yang sama.

Mungkin warga Amerika bertanya-tanya, "Bukankah pasukan kita lebih hati daripada Taliban yang brutal? Mengapa Taliban masih mendapatkan begitu banyak dukungan di Afghanistan?" Jawabannya: Karena mereka adalah orang Afghanistan. Ivan Leland menguraikan hal ini di dalam bukunya yang berjudul The Failure of Counterinsurgency: Why Hearts and Minds Are Seldom Won.[3] Ketika memerangi pemberontak pribumi, penjajah asing tidak pernah mendapatkan manfaat dari keraguan. Poin penting ini menyulitkan kekuatan besar untuk memenangkan perang melawan pemberontak, tidak peduli seberapa baik mereka mencoba untuk memperlakukan warga sipil. Sering kali militer AS tidak cukup terbiasa dengan bahasa dan budaya negeri-negeri jauh yang diintervensi, sehingga sulit untuk mendapatkan informasi yang baik tentang siapa yang tergolong gerilyawan dan siapa yang bukan.

Sering kali satu-satunya cara yang digunakan untuk memenangkan kontrainsurgensi adalah dengan memusnahkan seluruh negeri dengan kekerasan tanpa pandang bulu dan menyasar siapa saja yang berpotensi sebagai ancaman. Contohnya adalah Uni Soviet, yang menggunakan kebijakan bumi hangus seperti di Afghanistan dan terbukti tidak menang. Selain itu, militer AS akan mengalami kesulitan menjual kebijakan dengan kebangkrutan moral, yang membawa pesan bahwa AS sedang "menghancurkan negeri dalam rangka menyelamatkannya". Namun, sekali lagi: “Amerika adalah perkecualian.”

Berada jauh dari pusat konflik dunia, AS berusaha mewujudkan keamanan intrinsik terbaik dibandingkan setiap kekuatan besar dalam sejarah dunia. Logikanya sederhana. Seperti dalam birokrasi publik lainnya, ketika orang-orang menghabiskan uang orang lain maka banyak hal berjalan serba salah. Dengan demikian, menurut Ivan Leland, mengirim militer untuk perang hanya boleh dilakukan dalam kasus-kasus yang paling mengerikan (mengancam langsung keamanan nasional). Mnurutnya pula, menahan diri dari penggunaam militer merupakan visi para pendiri negara AS. Sayangnya, kini warga AS telah melayang jauh dari konsep tersebut dan menjadi masyarakat militeristik dalam perang konstan.[4]

Kegagalan Strategi Kontrainsurgensi (COIN) AS

Pemerintah yang dibentuk atas dasar pembagian kekuasaan antarfaksi saat ini di Afghanistan kemungkinan tidak akan sukses; serupa dengan di Irak selama periode Nuri Al-Maliki. Demokrasi yang layak hanya mungkin jika pemilihan yang adil menghasilkan pemenang yang diakui dan oposisi yang loyal juga tetap eksis—setidaknya ada satu yang cukup loyal sehingga tidak sampai secara fatal menumbangkan kelompok yang berkuasa. Masalahnya, budaya politik Afghanistan tidak memenuhi satu pun prasyarat tersebut.

Pemilihan Afghanistan terakhir dikritik korup dan karena itu dipertanyakan keabsahannya. Dengan demikian, tidak ada jaminan satu kelompok pun akan tetap loyal. Karena hasil yang gagal tersebut, AS kemudian mengatur agar dua kandidat yang bersaing dalam pemilihan—Ashraf Ghani—yang mewakili Pashtun—dan Abdullah Abdullah—yang mewakili kelompok etnis lainnya—akan berbagi kekuasaan, dengan Ashraf Ghani menjadi presiden dan Abdullah menjadi kepala eksekutif (perdana menteri).

Yang pasti, pemerintahan baru Afghanistan mewarisi PR lama, yaitu perlawanan Taliban yang justru semakin meningkat intensitasnya. Gelombang operasi syahid dari Taliban telah mengguncang kepercayaan diri pihak Kabul, sementara serangan Taliban yang terus-menerus di daerah pedalaman telah berlangsung sejak lama dan telah merugikan tentara nasional dan polisi Afghanistan. Karena aktivitas perlawanan yang tak kunjung reda ini, AS akan terus memberikan dukungan dari kekuatan udara bagi pasukan keamanan Afghanistan, bahkan setelah misi tempur daratnya berakhir pada akhir Desember ini.

Yang jelas, AS telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk bertempur dengan Taliban dan melatih pasukan keamanan Afghanistan. Dengan demikian, belanja anggaran dalam jumlah yang sangat besar tersebut terancam menjadi upaya pengembangan yang sia-sia ketika kekalahan Taliban—sebagai target yang jelas—tak kunjung terwujud.

Dalam bukunya, The Failure of Counterinsurgency: Why Hearts and Minds are Seldom Won, Ivan Leland mengkritik kebijakan kontrainsurgensi AS seperti “terus menuangkan uang ke lubang tikus dengan sia-sia”. Ia juga mengeksplorasi, mengapa perang kontra tersebut sangat sulit untuk dimenangkan oleh kekuatan besar.

Melihat pilihan strategi AS, seolah-olah seperti tidak ada track record sebelumnya di Afghanistan untuk memperingatkan pemerintah AS dari bahaya pekerjaan sosial bersenjata yang mereka tempuh. Padahal, sekali lagi, tidak ada kekuatan asing yang berhasil menundukkan Afghanistan sejak sebelum Masehi, termasuk dua kali kegagalan Inggris pada abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 hingga keterpurukan Uni Soviet setelah invasi pada 1980-an.

Secara historis, demokrasi berkelanjutan harus menggelembung naik dari bawah, dengan budaya kompromi politik yang sesuai, yang harus terwujud sebelum insitusi kekuasaan dapat memerintah secara demokratis, bukan sebaliknya. Selain itu, demokrasi memiliki lebih sedikit kesempatan abadi jika kekuatan asing memaksakannya dengan paksa, terutama di negara-negara yang belum pernah memiliki tradisi demokrasi yang memadai. Di samping itu, kesenjangan antara kekuasaan mayoritas dapat mengakibatkan tirani sebagian kelompok masyarakat (Syi’i terhadap Sunni), seperti yang terjadi di Irak.

Apalagi dalam praktik demokrasi liberal, di mana hak-hak minoritas yang penting dan aturan hukum terjamin. Lebih lanjut, menurut demokrasi liberal asli, untuk mempertahankan diri dan berkembang dalam jangka panjang, sering kali tingkat pendapatan masyarakat tertentu harus dicapai. Ini akan meningkatkan munculnya kelas menengah politik kuat yang menantang elite bercokol. Baik di Irak maupun Afghanistan, level ini gagal untuk dicapai. Di Irak, kemakmuran telah dilemahkan oleh tahun-tahun perang yang panjang dan sanksi ekonomi internasional, sedangkan Afghanistan tetap menjadi negara yang sangat miskin.

Dengan demikian, mempertahankan sekitar 10.000–12.500  pasukan darat AS di Afghanistan, ditambah penggunaan kekuatan udara AS, membuka peluang yang lebih mungkin bahwa AS akan terseret kembali ke dalam konflik untuk mempertahankan rezim pemerintah kompromis yang tidak layak untuk menghadapi perlawanan Taliban yang semakin meningkat. Sekali lagi, AS terperangkap seperti di Irak, bahkan tanpa meninggalkan jumlah pasukan yang cukup besar di sana setelah tanggal penarikan. Konflik di “negara-negara buatan” yang dilingkupi perpecahan sosial yang mendalam kemungkinan akan terus menjerat AS.

Jika Taliban diminta untuk belajar bahwa mereka akan dijatuhkan dari kekuasaannya karena sikap enggan mereka dengan menampung “teroris” anti-Amerika—dan seterusnya demikian di masa depan, di wilayah mana saja yang mereka perintah—maka AS pun dipandang perlu untuk membatasi keterlibatannya dalam pemboman atas alasan “menghancurkan kamp pelatihan teroris dan infrastruktur mereka” dari udara. Karena, faktanya begitu banyak jatuh korban sipil yang justru menguatkan permusuhan rakyat Afghanistan terhadap AS. Oleh karena itu, AS layak mempertimbangkan penarikan semua pasukan darat yang tersisa dan mengakhiri dukungan udara tempur bagi pasukan keamanan Afghanistan, dalam rangka menghindari tersedot kembali ke rawa kesia-siaan yang tak kunjung habisnya.[5]

NATO secara Resmi Menarik Diri dari Afghanistan Tanpa Kemenangan

Pasukan Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang tergabung dalam ISAF, Ahad (28/12), secara resmi mengakhiri operasi militer di Afghanistan yang telah berlangsung selama 13 tahun. Mereka menggelar upacara resmi untuk mengakhiri misi militer di Afghanistan bertempat di Pangkalan Militer AS, Kabul. Operasi tersebut merupakan perang terpanjang yang dialami AS dan NATO, tanpa menuai kemenangan, karena selama itu pula NATO belum mampu melumpuhkan apalagi menghentikan perlawanan Taliban.

“Kita bersama telah mengangkat rakyat Afghanistan dari kegelapan dan memberikan mereka harapan akan masa depan,” kata Komandan ISAF, Jenderal John Campbell, kepada pasukan NATO dalam acara seremonial tersebut. Campbell menghibur pasukannya dengan mengatakan bahwa kalian telah berperan besar dalam perubahan rakyat Afghanistan.

Saat ini, Jenderal tersebut mengklaim Afghan merasa lebih aman. “Anda membuat rakyat Afghanistan lebih kuat dan negaranya lebih aman.” Pada akhir pembicaraannya, Campbell mengucapkan terima kasih atas pengorbanan anak buahnya. Ia mengungkapkan bahwa pertempuran di Afghanistan merupakan pertempuran terpanjang yang belum pernah dialami AS sebelumnya.

Upacara penutupan misi militer itu sendiri digelar dengan sederhana dan tertutup. Hal itu menyusul potensi ancaman Taliban yang beberapa bulan terakhir gencar dilakukan di ibukota Afghanistan. “Seremoni digelar secara rahasia dan dalam waktu singkat. Hal itu untuk menghindari ancaman serangan Taliban,” lansir sejumlah media internasional, seperti dikutip dari Arabi21.com.

Dalam pidatonya, komandan NATO Jenderal John Chambell mengatakan kepada pasukannya bahwa kalian telah memberikan rasa aman bagi warga Afghanistan. Kalian telah berkorban selama 13 tahun untuk menghadapi “teroris”.

Di sisi lain, Taliban mengatakan bahwa upacara tersebut menunjukkan kegagalan telak yang dialami AS di Afghanistan. Mereka pulang dengan kekalahan. Cibiran itu dikeluarkan sehari setelah NATO menggelar upacara penutupan di pangkalan militer mereka di ibukota Kabul.

“Upacara hari ini menunjukkan kegagalan mutlak dari misi AS dan NATO,” kata juru bicara Taliban, Zabihullah Mujahid. “Mereka melarikan diri dari Afghanistan. Mereka tidak mencapai tujuan mereka mengalahkan mujahidin Afghanistan, tetapi mereka tetap mempertahankan beberapa pasukan mereka untuk mencapai tujuan kejinya,” tambah Mujahid. “Tiga belas tahun misi militer AS dan NATO (di Afghanistan) sepenuhnya gagal, upacara penutupan hari ini menunjukkan kegagalannya,” tegas Mujahid, sebagaimana dikutip oleh Foreign Policy. [6]

Gerakan yang juga dikenal dengan nama resmi Emirat Islam Afghanistan itu kembali menegaskan bahwa AS dan sekutunya serta organisasi internasional yang mendukung mereka benar-benar telah mengalami kekalahan melawan kekuatan yang lebih lemah. “Kami menganggap tahap ini secara jelas menunjukkan kekalahan dan keputusasaan mereka,” kata Taliban dalam pernyataannya, Senin (29/12).[7] Taliban juga mengungkapkan bahwa NATO telah membawa Afghanistan menjadi negara yang penuh dengan pertumpahan darah.

Surat kabar Inggris, The Independent menyebutkan bahwa kekuatan Taliban masih tangguh di Afghanistan. Di sisi lain, kekuatan pemerintah masih diragukan dapat menghadapi kekuatan Taliban. Bahkan, upacara penutupan misi militer ini sengaja digelar sembunyi-sembunyi dan sederhana. Hal itu untuk menghindari ancaman serangan Taliban yang beberapa waktu terakhir berhasil menembus tempat-tempat dengan pengamanan super ketat di ibukota Kabul.

Resolute Support dan Operasi Freedom’s Sentinel: Misi Baru AS di Afghanistan

Sebenarnya, pasukan asing tidak sepenuhnya ditarik dari Afghanistan. Setelah melihat serangan Taliban semakin gencar, AS memutuskan untuk tetap menempatkan sebanyak 12.500 pasukan. Menurut AS, misi ribuan tentara itu untuk melatih militer pasukan Afghanistan yang belum kuat. AS khawatir jika menarik diri sepenuhnya dari Afghanistan, Taliban akan kembali merebut ibukota. Secara resmi, upacara berakhirnya Operasi Enduring Freedom juga menjadi ajang perkenalan sebuah misi baru—Resolute Support (Dukungan Tegas)—di negara tersebut. [8]

Tapi ada misi lain yang terkait juga sedang berjalan saat ini: Operasi Freedom’s Sentinel. Menteri Pertahanan AS Chuck Hagel mengatakan dalam sebuah pernyataan pada hari itu juga bahwa operasi ini akan mencakup dua komponen inti:
1. Bekerja dengan sekutu dan mitra di Resolute Support.

2. Melanjutkan operasi kontraterorisme terhadap sisa-sisa Al-Qaeda. “Untuk memastikan bahwa Afghanistan tidak pernah lagi digunakan untuk melancarkan serangan terhadap tanah air kami," katanya.

Setelah 13 tahun, momen ini menandai perubahan yang signifikan secara militer. "OEF"—singkatan yang umumnya dikenal di kalangan perwira pasukan dan satuan tempur—tidak hanya mencakup operasi di Afghanistan, tetapi juga meliputi upaya untuk menargetkan militan dan melatih militer negara sahabat, misalnya OEF-Filipina yang menargetkan Abu Sayyaf dan OEF-Trans Sahara yang menyasar AQIM. Seperti halnya Operasi Iraqi Freedom, singkatan OEF menjadi bagian dari leksikon pasukan dan disematkan dalam berbagai hal, dari penghargaan hingga stiker yang ditempel di bumper.

Untuk misi di Filipina sudah agak mereda. Para pejabat AS pernah menyampaikan pada bulan Juni lalu bahwa AS telah membubarkan sebuah gugus tugas Operasi Khusus yang ada di sana untuk melatih polisi dan pasukan militer Filipina.[9] Laksamana Samuel Locklear, yang menjabat sebagai Panglima Komando Pasifik AS, juga mengatakan pada akhir April lalu bahwa misi tidak akan berakhir sepenuhnya, tapi bergeser sebagian untuk fokus pada pelatihan jajaran kepolisian Filipina untuk melindungi pulau-pulau selatan, daerah di mana gerilyawan aktif.[10]

Sementara itu, misi di Trans-Sahara akhirnya mengambil nama Juniper Shield, sebagai misi yang diperluas untuk mencakup lebih banyak negara di Afrika Utara. Demikian menurut laporan tahun 2012 untuk Congressional Research Service. Situs GlobalSecurity.org mencatat bahwa kedua operasi—OEF-TS dan Juniper Shield—masih berjalan hingga awal tahun 2014 ini.[11]

Pengumuman Operasi Freedom’s Sentinel ini pun mendapat reaksi beragam. Sejumlah kalangan mulai bertanya-tanya apakah operasi ini cukup "keren". Adapun yang lain mempertanyakan, apakah itu tidak terdengar agak berlebihan; seperti ‘sesuatu’ yang keluar dari sebuah buku komik. Yang jelas, operasi ini dimunculkan seiring dengan meningkatnya serangan terhadap para pejabat tinggi pemerintah Afghanistan dan jatuhnya korban dalam jumlah tinggi dari kepolisian dan unit tentara.

Hagel mengatakan bahwa dengan "menjamin kerja sama keamanan", AS akan terus membantu pemerintah Afghanistan untuk membangun kapasitas dan kemandirian. “Kami akan terus bekerja dengan mitra-mitra Afgan kami untuk mengamankan kemajuan yang telah kita raih sejak 2001, untuk mencapai peluang yang menentukan ini bagi masa depan Afghanistan,” ia menambahkan. [12]

Faktor Internal: Daya Tahan Taliban

1. Kemampuan dalam memainkan diplomasi internasional. Mereka mampu melobi Pemerintah Qatar agar diperbolehkan membuka kantor perwakilan di Doha.

2. Mampu mempertahankan posisi tawar di dalam negeri. Ini dibuktikan lewat tawaran pemerintah Kabul untuk terus melakukan lobi dialog dengan pihak Taliban.

3. Dukungan langsung dari kelompok-kelompok di luar Afghanistan, seperti TTP dan kelompok jihadi Asia Tengah (Uzbekistan dan Xinjiang)

4. Kontrol terhadap perdagangan opium.

5. Kemampuan terkini di dalam menggunakan teknologi IT. Ini bisa dilihat dari situs resmi mereka (Shaamat-English.com) dan majalah rutin terbitan Emirat Islam Afghanistan, yaitu InFight dan Azan Magazine.[13]

6. Kemampuan menyelenggarakan pelayanan publik terbatas. Misalnya, ketika Taliban mempersilakan lembaga Internasional untuk melakukan pelayanan kesehatan, di antaranya vaksinasi.

Dalam reportase yang dilakukan Aljazeera Channel, yang berjudul The State of Taliban, kelompok ini juga terbukti mampu menyelenggarakan proses arbitrase dalam penyelesaian sengketa masyarakat.

Faktor Eksternal: Mengapa Amerika Serikat tidak Kunjung Menang Melawan Taliban?

1. Rakyat Amerika sendiri sudah pesimis akan perang Afghanistan. Alih-alih memberi semangat. Bagi banyak rakyat Amerika, tidak pernah tergambar yang namanya “negara” Afghanistan. Yang ada hanyalah kumpulan dari suku, golongan, dan klan yang belum lengkap. Jika pun ada yang namanya "Afghanistan", pemerintahnya sangat korup dan tidak mampu mengendalikan negaranya sendiri. Jadi, apa untungnya AS berperang di sana?

2. Dulu, ketika Hamid Karzai menjadi presiden Afghanistan, sekutu dan wakil resmi AS ini sebenarnya lebih suka bahwa AS meninggalkan Afghanistan. Setidaknya itulah yang dia katakan untuk konsumsi internal dan itu pula yang diharapkan oleh Loya Jirga. Ia tidak punya tujuan praktis yang lebih besar daripada Walikota Kabul.

Fox News sempat melaporkan Rabu (24/9/2014), bahwa Karzai mengungkapkan kekesalannya pada Amerika tersebut dalam pidato penyerahan kekuasaan kepada presiden baru Ashraf Ghani Ahmadzai.‘’Kami tidak mendapatkan perdamaian karena Amerika tidak menginginkan perdamaian,’’ kata Karzai dalam pidatonya di Istana Kepresidenan di Kabul.

Dalam pidatonya itu, Hamid Karzai menuding Amerika tidak bisa membawa kedamaian di Afghanistan. Karzai menyebutkan bahwa yang menikmati peperangan di Afghanistan adalah pihak asing.‘’Sehingga warga Afghanistan menjadi domba korban dan korban peperangan ini,’’ katanya.

Sebenarnya, hanya Karzai-lah satu-satunya presiden Afghanistan sejak Amerika menggulingkan Taliban di Afghanistan. Ada kemungkinan Karzai merasa “dibuang” oleh Amerika, atau mencari simpati karena berani “menentang” Amerika.

Dalam kesempatan itu, Hamid Karzai mengucapkan terima kasih kepada India, Jepang, Tiongkok, Arab Saudi, Korsel dan Jerman yang telah membantu Afghanistan. Tapi, bekas presiden Afghanistan selama 13 tahun itu tidak berterima kasih pada AS.

Pada akhir pemerintahannya, Hamid Karzai menolak menanda tangani perjanjian keamanan dengan AS. Isinya, memberi kesempatan bagi 10 ribu penasihat militer dan pelatih AS untuk tetap di Afghanistan selama setahun.

Sejak 2001, Washington telah menghabiskan dana sebesar $100 miliar untuk memberi bantuan peralatan perang, membangun sarana jalan dan rumah sakit serta sekolah. Sekitar 2.200 tentara AS tewas di Afghanistan sejak operasi militer 2001, dan 20 ribu serdadu luka parah. Data PBB menyebut sedikitnya 8 ribu warga Afghanistan terbunuh dalam lima tahun terakhir.

Bagaimana dengan Ashraf Ghani Ahmadzai yang baru? Presiden baru Afghanistan itu bersedia menanda tangani perjanjian dengan AS.

3. Satu-satunya hal yang menyatukan rakyat Afghanistan adalah kebenciannya kepada orang asing. Pasukan asing—di mana saja, apa pun niat mereka—akan selalu dilihat sebagai penjajah dan musuh.
4. Jenghis Khan, Inggris, dan Rusia semua berusaha untuk "menang" di Afghanistan, dan mereka semua gagal. Bukan kebetulan jika Afghanistan gagal ditaklukkan tiga imperium besar.

5. AS tidak dapat menang perang ketika terus membunuh warga sipil. Namun, di Afghanistan di mana batas antara kombatan dan warga sipil adalah tipis, AS harus membunuh warga sipil banyak sekali setiap waktu. Itulah yang menyebabkan warga Afghanistan lebih memilih untuk mendukung Taliban.

6. Mungkin AS harus kembali bertanya apakah mereka berperang melawan terorisme ataukah melawan Islam? Pertanyaan semisal ada di benak masyarakat Afghanistan.

7. AS tidak akan bisa membuat warga Afghanistan merasa bebas sementara AS sendiri mengokang senapan, dan itulah yang dilakukan oleh tentara AS di Afghanistan.

8. Tidak ada cara yang lebih baik untuk melahirkan teroris baru daripada membuat perang terhadap umat Islam atas nama perang melawan terorisme.

9. AS tidak bisa menyelamatkan dunia, dan risikonya kehilangan apa yang terbaik di homeland Amerika ketika nekat untuk melakukan hal itu. Lewat alokasi anggaran yang tidak pada tempatnya.

10. Kekuatan militer dan senjata yang luar biasa yang diterapkan dari luar lebih cenderung merusak daripada mempertahankan perkembangan demokrasi di negara berkembang. Padahal, demokrasi inilah alasan utama yang digembar-gemborkan.

11. Al Qaeda bukanlah Afghanistan dan bukan pula Taliban. Jika AS beralasan memerangi Al Qaeda, kenyataannya yang jadi korban adalah rakyat Afghanistan, dan kini Al Qaeda bukan hanya ada di Afghanistan.

12. AS tidak bisa membiayai perang luar negeri yang kerap dipertanyakan dan malah tidak mampu memulihkan ekonomi di rumah sendiri, dan jika mencoba melakukannya malah cenderung menyebabkan perang tanpa arah dan merusak keadilan bagi rakyatnya sendiri.

Tampaknya bahwa AS mengalami kepayahan, apalagi militernya berperang tanpa target yang jelas. Cukup masuk akal jika ‘pulang’ adalah pilihan yang pada akhirnya kembali diambil. (F. Irawan)



[1] Robert M. Gates: “Unwinable stupid war.” (Antiwar.com) Washington Times, 27/11/2014.

[2] High-Risk List: Report on program areas and elements of reconstruction effort that are especially vulnerable to waste, fraud, and abuse. http://www.sigar.mil/pdf/spotlight/High-Risk_List.pdf

[3] http://smile.amazon.com/Failure-Counterinsurgency-Praeger-Security-International/dp/1440830096/antiwarbookstore

[4] http://original.antiwar.com/eland/2014/12/01/in-afghanistan-a-continuing-trend-of-us-military-incompetence/

[5] http://original.antiwar.com/eland/2014/12/08/the-failure-of-counterinsurgency-afghanistan/

[6] http://foreignpolicy.com/2014/12/29/taliban-u-s-leaving-afghanistan-in-defeat/?utm_content=bufferba120&utm_medium=social&utm_source=twitter.com&utm_campaign=buffer

[7] http://shahamat-english.com/index.php/paighamoona/51809-statement-of-the-islamic-emirate-regarding-the-approaching-withdrawal-date-of-the-foreign-invading-forces

[8] http://www.washingtonpost.com/world/nato-flag-lowered-in-afghanistan-as-combat-mission-ends/2014/12/28/5a3ad640-8e44-11e4-ace9-47de1af4c3eb_story.html

[9] http://bigstory.ap.org/article/us-disband-anti-terror-force-philippines

[10] http://foreignpolicy.com/2014/04/29/u-s-commando-mission-in-philippines-getting-overhaul/

[11] http://www.globalsecurity.org/military/ops/oef-ts.htm

[12] http://www.washingtonpost.com/news/checkpoint/wp/ 2014/12/29/meet-operation-freedoms-sentinel-the-pentagons-new-mission-in-afghanistan/

[13] Lihat: Laporan Khusus Lembaga Kajian SYAMINA edisi VI/Oktober 2013 yang berjudul “Peran Penting Media dalam Menyuarakan Jihad” di www.syamina.org