YAMAN, KONFLIK YANG TAK KUNJUNG USAI

25 February 2015

Yaman menjadi perhatian dunia karena negeri ini terus dilanda ketidakstabilan politik. Banyak pihak dan kepentingan berusaha meraih kemenangan. Ada kubu pemerintahan Presiden Abdurrabb Manshur Hadi, Syiah Hautsi, Ansharusy Syariah, hingga AS yang terus melancarkan serangan drone untuk menghabisi para pejuang AQAP (Al-Qa’idah Yaman).

1. Keistimewaan Yaman berdasarkan hadits Rasulullah SAW

Rasulullah telah mengabarkan keistimewaan penduduk dan negeri Yaman sebagaimana yang disebutkan dalam hadits-hadits beliau. Syaikh Abu Mush’ab As-Suri dalam tulisannya yang berjudul Posisi Strategis Yaman dalam Jihad Kontemporer[1] mengutip dari kitab-kitab hadits beberapa hadits tentang keistimewaan Yaman sebagai berikut.

  1. Al-Bukhari meriwatkan dalam  Shalihnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW, beliau bersabda: “Penduduk Yaman mendatangi kalian, mereka hatinya paling lunak dan nuraninya paling lembut. Fikih ada di Yaman dan hikmah juga ada di Yaman.
  2. Tercantum dalam Musnad Imam Ahmad secara marfu’. Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Akan keluar dari Aden Abyan 12.000 orang yang mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka adalah orang-orang terbaik antara aku dan antara mereka.
  3. Tercatat di dalam Sunan Abu Daud bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Pada akhirnya akan ada banyak kumpulan tentara: ada di Syam, Yaman, dan Irak.” Ibnu Hawalah berkata: “Pilihkan untukku wahai Rasulullah jika aku menjumpai kondisi itu.” Beliau menjawab: “Engkau harus bergabung dengan tentara yang ada di Syam. Karena Syam adalah bumi pilihan Allah. Allah memilih para hamba pilihannya ke sana. Jika kalian tidak mau, kalian harus bergabung dengan tentara yang ada di Yaman. Berilah minum dari sisa air hujan kalian. Karena Allah berjanji kepadaku akan menjaga Syam dan para penduduknya.
  4. Dalam musnad juga tercatat riwayat dari Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku mendapati nafas Ar-Rahman berasal dari arah Yaman.” Sebagian ulama menakwilkan “nafas Ar-Rahman” dengan makna jalan keluar yang Allah berikan kepada penduduk Yaman atas kesulitan-kesulitan yang menimpa umat Islam.
  5. Apa yang diriwayatkan dari beliau SAW dalam doanya: “Ya Allah berkahilah kami di Syam kami dan Yaman kami.” Para sahabat bertanya, “Bagaimana dengan di Nejd kami wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Ya Allah berkahilah kami di Syam kami dan Yaman kami,” Para sahabat mengulangi pertanyaannya, “Bagaimana dengan Nejd kami wahai Rasulullah?” Beliau berkata, “Ya Allah berkahilah kami di Syam kami dan Yaman kami.” Para sahabat kembali bertanya, “Bagaimana kalau di Nejed kami wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dari sanalah banyak fitnah, dari sanalah muncul tanduk syetan.

 

  1. Fakta fakta penting Yaman terkait Jihad Kontemporer

 Dalam tulisan yang sama Syaikh Abu Mush’ab As-Suri menjelaskan dan memberikan analisis tentang fakta-fakta penting Yaman terkait dengan jihad kontemporer. Beliau menekankan agar para ulama menjelaskan fakta-fakta penting tersebut umumnya kepada umat Islam dan khususnya kepada para pemuda Yaman, mujahidin Yaman dan pelopor shahwah (kebangkitan) di Yaman dan kemudian mereka harus melaksanakan haknya. Fakta-fakta penting tersebut secara ringkas adalah sebagai berikut.[2]

  1. Penduduk Yaman (dengan memasukkan Jazan dan Najran yang sekarang menjadi bagian kerajaan Arab Saudi) merupakan mayoritas terbesar (sekitar 75%) dari penduduk di Jazirah Arab.
  2. Dari sisi pertanian, kecukupan gizi dan tanah subur yang produktif di Yaman, merupakan lebih dari 75% dari seluruh tanah produktif di Jazirah Arab.
  3. Alam pegunungan yang masih terjaga di Yaman, menjadikannya sebagai benteng alam yang kokoh bagi seluruh penduduk Jazirah Arab, bahkan bagi seluruh wilayah Timur Tengah.
  4. Kekuatan dan kapasitas untuk berperanng yang dimiliki oleh penduduk Yaman. Struktur kesukuan yang solid, kekuatan, keberanian, dan cinta perang yang dimiliki para penduduk Yaman merupakan realita nyata sejak zaman dahulu.
  5. Tersebar-luasnya senjata dan amunisis di negeri Yaman dengan segala bentuknya. Hal ini terjadi karena beberapa hal: tradisi kesukuan yang suka membanggakan senjata; simpanan senjata yang ditinggalkan orang-orang komunis di Yaman Selatan; dan ramainya perdagangan senjata di pantai-pantai seberang Tanduk Afrika.
  6. Perbatasan negara Yaman yang terbuka memberikan kebebasan bergerak dan manuver militer. Perbatasan tersebut berupa pegunungan dan gurun-gurun disebelah utara yang terdapat banyak jalan menuju seluruh Jazirah Arab. Luas wilayah pegunungan dan gurun tersebut lebih dari 4000 km persegi. Di bagian barat dan selatan terdapat garis pantai mulai dari Laut Merah, Teluk Oman dan Laut Arab yang panjangnya lebih dari 3000 km.
  7. Alam kebebasan dan kemerdekaan yang dimiliki oleh penduduk Yaman. Mereka tidak menjadi tawanan, korban pembiusan dan penguasaan psikologis sebagaimana kondisi mayoritas pendudk Jazirah Arab lainnya. Alam kebebasan ini terbentuk oleh keterbukaan budaya dan ilmu; beragamnya orientasi; adanya berbagai gerakan pemikiran secara umum; gerakan Islam; gerakan dakwah; dan gerakan jihad.
  8. Kemiskinan yang merata pada mayoritas penduduk Yaman, ditambah dengan perasaan terzalimi dan tertipu, merupakan inti mesin penggerak perjuangan yang tersembunyi. Kondisi ini harus diarahkan dengan pengarahan Islami, syar’i, dan benar, sehingga dapat memjadi faktor strategi penting dalam menggerakkan orang-orang untuk berjihad guna mengembalikan hak dan kompetensi mereka sebagai penduduk Yaman yang diistimewakan oleh Rasulullah SAW.
  9. 3.    Geografi Yaman

Yaman terletak di sudut barat daya semenanjung Arab yang berbatasan dengan Saudi Arabia dan Oman. Laut Merah di bagian barat dan teluk Aden di selatan memisahkan Yaman dengan Tanduk Afrika. Bab el Mandeb, selat dengan lebar 18 mil yang menghubungkan dua lautan ini, merupakan jalur pelayaran minyak tersibuk keempat di dunia, dan dianggap sebagai "chokepoint transit minyak dunia" oleh Departemen Energi AS. Sekitar 3,3 juta barel minyak dari Teluk Persia melewati selat ini setiap hari dalam perjalanan ke Eropa dan Amerika Utara.[3]

Meskipun Yaman menawarkan medan yang sangat bervariasi, negeri ini secara umum miskin sumber daya. Tanah yang subur kurang dari 3 persen, dan rata-rata curah hujan tahunan hanya 15 inci. Di Yaman tidak ada sungai permanen, dan kurang dari 1 persen lahan di Yaman yang ditanami tanaman permanen. Sebagian besar lahan pertanian yang berharga digunakan untuk menumbuhkan qat, sebuah tanaman semi-narkotika yang menguntungkan tetapi tidak bergizi yang telah menjadi pokok kehidupan sehari-hari dan bisnis sepanjang sejarah Yaman. Negara ini memiliki cadangan energi terbukti yang rendah; Departemen Energi AS mengklaim cadangan minyak sekitar 3 miliar barel, meskipun pemerintah Yaman baru-baru ini memperkirakannya 11,9 miliar barel. Yaman juga memiliki sekitar 480 miliar meter kubik cadangan gas alam terbukti.[4]

Interior dari bagian utara dan barat negeri ini -umumnya disebut sebagai "Yaman bagian atas" (Upper Yemen)- terutama berupa wilayah dataran tinggi yang gersang dengan relatif sedikit sumber daya alam dan sedikit lahan pertanian beririgasi. Mayoritas penduduk Yaman terletak di wilayah ini, termasuk kota-kota besar seperti Sana'a (ibukota Yaman) dan Ta'izz (kota terbesar ketiga). Wilayah pesisir di bagian selatan dan timur negara itu -dan dataran rendah Laut Merah di barat- jauh lebih subur. Daerah ini sering disebut sebagai "Yaman bagian bawah" (Lower Yemen), dan kota pelabuhan Aden merupakan daerah perkotaan utamanya. Akhirnya, hamparan yang membentang di bagian timur negara itu sebagian besar adalah gurun panas terik yang jarang penduduknya, tetapi di dalamnya terkandung porsi yang signifikan dari cadangan minyak dan gas alam. Yaman dibagi menjadi 21 provinsi, yang sering disebut sebagai "gubernuran."[5]

  1. 4.    Demografi Yaman

Dengan 23 juta penduduk, Yaman merupakan negara kedua terpadat di Semenanjung Arab setelah Arab Saudi. Hal ini terutama disebabkan oleh tingkat pertumbuhan yang cepat yangmana penduduk negara itu telah berlipat dua kali dalam rentang hanya dua dekade. Sementara perebutan sumber daya telah menjadi penyebab yang lebih besar terjadinya konflik di antara penduduk Yaman daripada sektarian, terutama bila dibandingkan dengan negara-negara Timur Tengah lainnya, ada perpecahan sektarian geografis yang lembut di dalam negeri itu. Sebagian besar penduduk Yaman bagian atas, termasuk sebagian dari ibukota, menampilkan populasi mayoritas Zaydis, sebuah sekte Syiah yang membentuk sekitar 40 persen dari keseluruhan penduduk di negara itu. Sa'dah di Yaman utara yang merupakan jantung bagi orang-orang Zaidi adalah tempat pemberontakan yang sedang berlangsung terhadap rezim, tetapi keluhan yang mendasarinya adalah lebih banyak terkait politik dan ekonomi daripada sektarian. Yaman bagian bawah dan padang pasir terpencil di Timur sebagian besar berpenduduk Syafi'iyah, aliran Sunni yang membentuk antara setengah sampai 2/3 dari total penduduk Yaman.

Secara etnis, sebagian besar orang Yaman adalah beretnis Arab, namun rezim telah menyambut sejumlah besar pengungsi Afro-Arab yang berasal dari tetangga dekat Tanduk Afrika. Menurut perhitungan pemerintah, lebih dari 800.000 warga Somalia berada di Yaman, banyak dari mereka adalah pengungsi di kamp-kamp kumuh di selatan. Meskipun Yaman tidak pernah memiliki perpecahan etnis yang mendalam, retakan bisa mulai terbentuk jika negara tersebut menjadi semakin tidak stabil.

 

  1. 5.    Sejarah Yaman

Peradaban dan budaya orang-orang Yaman telah tercatat sejak ribuan tahun yang lalu. Namun disisi lain, Yaman modern, lebih memperlihatkan konstruksi kartografis daripada negara-bangsa yang terpadu. Yaman modern yang merupakan penggabungan dari beberapa entitas sejarah, muncul ketika negara Yaman Utara -yang menempati sebagian besar Yaman bagian atas, sebagian dari Yaman bagian bawah dan pesisir Laut Merah- menyerap Yaman Selatan yang sebelumnya independen, pada tahun 1990. Baik Yaman bagian atas maupun bagian bawah mengalami beberapa dekade konflik internal, yang terjadi karena mereka merupakan komunitas dan suku-suku yang bervariasi yang telah diperintah dengan berbagai tingkat kontrol dari tempat-tempat yang berbeda seperti Ta'izz, Sana'a, Aden, Bombay, Istanbul dan London.

Masa lalu yang bermasalah ini tercermin dalam ketidakpastian dan kerapuhan Yaman masa kini: pemerintah pusat tidak efektif, kesukuan yang kuat, pemberontakan di utara negara itu, keinginan pemisahan di selatan, dan pertumbuhan yang semakin pesat dari cabang Al-Qaeda dalam beberapa provinsi.

  1. a.        Yaman Utara: dari Imamah sampai Republik Arab, 1911-1990
  • Pemerintahan Utsmaniyah dan Imamah, 1911-1962

Secara historis, wilayah Yaman bagian atas telah  didominasi oleh dua konfederasi suku besar (Hashid dan Bakil), dan berada di bawah kendali intermiten dari Kekhalifahan Utsmaniyah mulai tahun 1872. Pada tahun 1911, setelah perang yang sengit antara pasukan Utsmaniyah dengan suku-suku dataran tinggi, Istanbul menandatangani Perjanjian Da'an dengan Imam Zaidi, "Yahya" Mahmud al-Mutawakkil, yang memberikan kekuasan pribadi terakhir pada sebagaian besar Yaman bagian atas. Setelah disintegrasi Kekhalifahan Utsmaniyah pada tahun 1918, Yahya mengubah wilayah ini menjadi negara Yaman independen modern pertama, dengan ibukotanya di Ta'izz. Kerajaan Mutawakkiliyah di Yaman (sering disebut sebagai Yaman Utara) secara resmi merupakan pemerintahan teokrasi oleh seorang Imam Zaidi. Suksesi imam seharusnya ditentukan oleh dewan tetua Zaidi, tetapi Yahya hanya menunjuk putra sulungnya Ahmad sebagai penggantinya. Yahya menghabiskan sebagian besar waktu pada tahun 1920-an dan 1930-an untuk membangun hubungan dengan Fasis Italia dalam upaya mendapatkan perlindungan dan memperluas Imamah Zaidi-nya dengan mengorbankan para tetangganya. Namun, ia ditentang oleh Inggris di selatan, Saudi di utara dan suku-suku Yaman hampir di semua wilayah.

Berbasis di dan sekitar dataran tinggi gersang Yaman bagian atas, kerajaan Yahya miskin sumber daya, tetapi kaya dalam jumlah penduduk, setidaknya dibandingkan dengan tetangga-tetangga terdekatnya. Campuran ini memberikan resep bagi Yaman modern untuk mengatur tradisi dan institusi. Imamah ini didasarkan, setidaknya dalam teori, hukum Islam (syariah), tetapi konfederasi suku besar di kawasan ini –dan seiring dengan status yang dinikmati oleh para pemimpin suku (syekh)- meyakinkan bahwa banyak orang dalam kerajaannya masih menganut hukum adat kesukuan ('urf qabalî). Meskipun hukum-hukum adat ini membantu menengahi dan menyelesaikan sengketa antar-suku, konflik terus-menerus di antara suku-suku -dan antara suku-suku dengan pemerintah- atas tanah dan sumber daya (khususnya air dan makanan) menyebabkan Yahya menyusun sebuah sistem pemerintahan yang bertahan hingga saat ini.

Pertama, dia merekrut tentara dari suku-suku dataran tinggi dan mendorong mereka untuk menjarah daerah yang lebih subur di Yaman bagian bawah. Selain untuk meringankan kekurangan sumber daya, praktek ini mengarahkan energi suku-suku untuk menjauh dari konflik dengan Imam. Kedua, ia menghadiahi suku-suku yang setia dengan memungkinkan mereka untuk merampas dan menjarah tanah dan desa-desa dari suku-suku yang tidak setia. Ketiga, ia membeli syekh lain yang vokal didalam konfederasi suku dengan tunjangan bulanan. Akhirnya, ia mengendalikan anak-anak dan saudara-saudara dari syekh yang tersandera tersebut sebagai pencegah terhadap kerusuhan suku.

Sementara strategi membagi-dan-menaklukkan ini memungkinkan negara Yaman baru itu untuk memperluas, membangun dan bertahan, namun hal itu kurang mampu menyelesaikan sengketa dengan suku-suku tetangga kerajaan itu. Hal ini sering menimbulkan konflik dengan suku-suku di Yaman bagian bawah dan daerah subur lainnya, dan karenanya berlaku pepatah populer: "Roti Yaman” (yaitu daerah subur di Yaman bagian bawah) selalu dijarah dan ditindas oleh "Angkatan Darat Yaman" (yaitu perampok dari Yaman bagian atas). Ketegangan ini sangat memberikan pengaruh pada Yaman hari ini.

  • Perang sipil, 1962-1970

Yahya terbunuh dalam kudeta tahun 1948 dan dengan cepat digantikan oleh putranya dan pengganti yang ditunjuknya Ahmad. Disebut "Iblis" karena banyaknya korupsi dan represi yang ekstrim, Imam Ahmad membangkitkan permusuhan dari para syekh suku, pemimpin militer, nasionalis Arab dan reformis, sampai militer berusaha untuk menggulingkannya pada tahun 1955. Hal ini menciptakan krisis suksesi pada saat kematiannya pada tahun 1962. Dalam beberapa bulan perang saudara besar-besaran pecah antara "Republikan" yang dipimpin oleh Abdullah as-sallal dan "royalis" yang dipimpin oleh putra Ahmad, Muhammad al-Badr, yang telah mencoba merebut kekuasaan ayahnya pada tahun 1959. Secara umum, komitmen kaum republikan untuk memodernisasi negara yang sangat terbelakang itu memenangkan dukungan dari Yaman bagian bawah dan kota-kota besar, sementara gerilyawan royalis didukung terutama oleh suku Zaidi di Yaman bagian atas.

Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser mendukung pemerintah republik baru yang mengangkat dirinya sendiri di Sana'a, dan Uni Soviet memberikan persenjataan tambahan dan uang $ 140 juta untuk pembangunan pelabuhan dan lapangan terbang, sementara Arab Saudi, Yordania dan Inggris mengirim uang dan senjata untuk kaum royalis. Pada puncak perang di pertengahan tahun 1965, Nasser telah mengirimkan hampir 75.000 pasukan utama Mesir ke Yaman Utara untuk menopang rezim Sallal dan untuk memicu pemberontakan anti-Inggris di apa yang ia sebut " Selatan yang diduduki." Namun, suku-suku Yaman telah menyebabkan kerusakan luar biasa pada militer Nasser. Pada saat mengundurkan diri pada tahun 1967, besarnya kerugian Mesir adalah sedemikian rupa sehingga "Yaman" dalam memori kolektif orang-orang Mesir menjadi serupa dengan "Vietnam" di Amerika Serikat. Yaman Modern juga terkena dampak oleh warisan perang, dengan pemenang (rezim saat ini) berjuang untuk menaklukkan pemberontakan oleh yang kalah (the Zaydis) sejak tahun 2004.

  • Republik Arab Yaman, 1962-1970

Kaum republikan akhirnya menang setelah delapan tahun pertempuran brutal dan tuntas yang menewaskan sedikitnya 100.000 orang Yaman Utara dan sebanyak 26.000 tentara Mesir. Yaman Utara secara resmi menjadi "Republik Arab Yaman", rezim lama khususnya karakter Zaidi ditinggalkan dan konstitusi baru, setidaknya diduga berdasarkan syariah, diadopsi. Namun, akhir perang tidak membawa perdamaian. Abdul Rahman al-Iryani, yang menggulingkan Sallal pada tahun 1967 menjadi presiden sipil pertama dan satu-satunya di Yaman, menjalankan perang singkat melawan Yaman Selatan pada tahun 1972 sebelum digulingkan pada tahun 1974. Selama empat tahun kemudian negara itu mengalami tiga perubahan lain dalam kepemimpinan, termasuk pembunuhan terkait dengan Arab Saudi dan Yaman Selatan. Presiden  Ali Abdullah Saleh naik ke tampuk kekuasaan dengan kudeta pada tahun 1978, dan segera terlibat dalam perang singkat yang kedua melawan Yaman Selatan. Di dalam negeri, ia menerapkan strategi memecah belah dan memerintah berdasarkan pada pendahulunya. Ia memadamkan dua upaya kudeta di tiga tahun pertama masa kepresidenannya. Pada tahun 1990, Republik Arab Yaman berubah nama menjadi "Republik Yaman" seperti saat ini pada saat penyerapan/penggabungan Yaman Selatan.

  1. b.        Yaman Selatan: Dari Outpost Inggris sampai Republik Rakyat, 1839-1990
  • Outpost Inggris, 1839-1967

Ada sangat sedikit tumpang tindih antara sejarah entitas-entitas yang akhirnya membentuk Yaman Selatan dengan tetangga utaranya. Yaman Utara adalah entitas semi-menyatu dibawah Utsmaniyah sebelum menjadi negara merdeka pada tahun 1918. Sebaliknya, Yaman Selatan eksis hanya sebagai federasi suku-suku independen yang sangat terfragmentasi dan sebuah koloni otonom yang diperintah oleh berbagai organ dari Kerajaan Inggris sampai akhir 1960-an.

Pada tahun 1839, Persekutuan India Timur Inggris (the British East India Company) menaklukkan pelabuhan Aden untuk digunakan sebagai tempat mengisi batu bara dalam perjalanan ke India. Awalnya, Inggris berharap untuk menghindari wilayah suku-suku di sekitarnya sama sekali. Namun, kekhawatiran dengan kehadiran Utsmaniyah yang berkembang di Yaman bagian atas memacu Gubernur-Jenderal India Inggris untuk menandatangani perjanjian konsultasi dan perlindungan dengan berbagai suku di Yaman selatan yang dimulai pada tahun 1873. Pada tahun 1886, India Inggris telah menandatangani 90 perjanjian dengan  beberapa suku individu di Yaman bagian bawah dan gurun timur jauh, membentuk "Protektorat Aden” dan mengukir sebuah lingkaran pengaruh di Yaman selatan, meskipun tanpa menciptakan sebuah entitas politik yang koheren. Protektorat yang melampaui lingkungan terdekat kota pelabuhan itu, juga memasukkan kesultanan tradisional independen Hadhramout di padang pasir Timur. Secara historis, Hadhramout telah berdagang dengan India dan Asia Tenggara -bukan Semenanjung Arab- dan dengan demikian tidak menganggap dirinya terikat sangat erat dengan suku-suku dari Yaman bagian bawah. Sementara itu, pelabuhan Aden tetap menjadi entitas yang sama sekali terpisah dan diperintah secara langsung dari India Inggris.

Menjelang Perang Dunia I, London dan Istanbul menetapkan perbedaan posisi mereka pada tahun 1914 dengan membuat apa yang disebut sebagai Jalur Ungu untuk membatasi lingkup pengaruh masing-masing di selatan Semenanjung Arabia. Seperti yang sering terjadi di wilayah tersebut, kekuatan-kekuatan luar memutuskan perbatasan di Yaman dengan sewenang-wenang, tanpa berkonsultasi dengan orang-orang Yaman, meskipun fakta bahwa garis tersebut membelah wilayah kesukuan yang telah ada. Jalur Ungu ini mendekati batas umum yang ada antara dua Yaman sampai penyatuannya pada tahun 1990.

Inggris lebih lanjut mengkotak-kotak Yaman Selatan dengan membagi Protektorat itu menjadi dua bagian Timur dan Barat pada tahun 1917, memindahkan kendali unit-unit ini dari India ke Kantor Luar Negeri Inggris di London dan kemudian membuat koloni mahkota Aden (Aden Crown Colony) yang terpisah pada tahun 1937. Sementara Aden menjadi pusat perdagangan global yang makmur (terutama untuk pengisian minyak), Inggris menciptakan Protektorat Aden Timur sebagai pemerintahan lebih kecil yang terpisah, untuk wilayah Hadhramout setelah menemukan cadangan minyak berpotensi signifikan di padang pasir timurnya. Hal ini adalah cocok alami untuk wilayah Hadhramout, mengingat medan yang sulit, lokasi terpencil, dan sejarah otonominya dari Yaman bagian bawah.

London mempertahankan sedikit porsi kendali atas wilayah ini dan wilayah kesukuan lainnya dengan menggabungkan bantuan keuangan dan bujukan lain dengan kampanye pemboman udara. Hal ini terutama berlaku di Protektorat Aden Barat, yang meliputi sebagian besar dari Yaman bagian bawah dan telah menanggung beban serangan dari Yaman bagian atas. Bahkan, Inggris membayar suku-suku di Protektorat Aden Barat untuk melawan Yaman Utara dalam perang perbatasan yang tidak dideklarasikan -tapi merusak- pada 1950-an. Sebagaimana disebutkan oleh Perdana Menteri Harold Macmillan, "akan lebih baik untuk meninggalkan syekh-syekh dan penguasa lokal dalam kondisi persaingan dan keterpisahan, di mana mereka [bisa] dimainkan antara satu dengan yang lain, daripada membentuk mereka menjadi satu kesatuan". Upaya "pasifikasi" Inggris seperti ini di pedalaman menyebabkan menjadi kekal adanya fragmentasi otoritas dan memperdalam sifat otonom provinsi-provinsi bagian timur Yaman modern, dan akhirnya berkontribusi terhadap ketidakpercayaan yang dirasakan oleh daerah ini terhadap Sana'a hari ini.

Setelah Perang Dunia Kedua dan menarik-diri/mundurnya di India dan Suez, Inggris berharap untuk membuat sebuah pos utama di Timur Tengah dengan menyatukan Koloni Aden dengan beberapa protektorat yang ada disekitarnya. Sebagai bagian dari rencana ini, Inggris mendirikan markas untuk Pasukan Inggris Semenanjung Arab yang baru dibentuk, di Aden pada tahun 1958. Pada tahun 1962 -ketika seluruh pasukan Yaman Utara hanya berjumlah 12.000 orang- 40.000 tentara Inggris ditempatkan di Aden. Namun, Inggris tidak banyak berbuat untuk memperbaiki kondisi sosial ekonomi Aden yang miskin atau menyalurkan penerimaan pajak secara efektif, sehingga hal itu mengucilkan sebagian besar rakyat. Dalam upaya untuk mengimbangi meningkatnya agitasi anti-Inggris dan mengkonsolidasikan cengkeramannya atas wilayah tersebut, London menyajikan suatu penyatuan berbentuk gambar daun dengan mengubah Protektorat Aden Barat menjadi Federasi Arab Selatan (termasuk koloni Aden) pada awal 1963. Federasi baru ini bahkan memiliki kekuatan 4.000 tentara yang dipimpin oleh orang Inggris. Yang penting, Protektorat Aden Timur tidak bergabung dengan federasi baru ini, tetapi tetap menjadi sebuah protektorat yang digabungkan lebih longgar (berganti nama menjadi Protektorat Arab Selatan pada tahun 1963).

  • Darurat Aden, 1963-1967

Gerakan-gerakan ini gagal untuk memadamkan meningkatnya ketidakstabilan. Didorong oleh sebagian pasukan Nasser di Yaman Utara, serikat pekerja di Aden dan para pemimpin suku di seluruh wilayah selatan mulai melancarkan pemogokan, kerusuhan dan serangan anti-Inggris. Inggris mengumumkan keadaan darurat di seluruh wilayah itu pada akhir 1963 ("Darurat Aden") karena pasukannya menghadapi berbagai konflik. Dari tahun 1963 sampai tahun 1967, tentara Inggris, milisi Marxis dan suku pedesaan yang miskin semua berperang satu sama lain dalam bentrokan yang sangat brutal di jalan-jalan kota dan melintasi benteng pegunungan di Federasi Arab Selatan yang baru dibentuk. Mesir mempersenjatai dan membayar kelompok Marxis dan para pemimpin suku untuk membentuk koalisi pemberontak seperti "Serigala Merah Radfan" yang memberikan banyak korban pada pasukan Inggris di daerah pedalaman dan kota-kota. Situasi di Inggris menjadi tidak dapat dipertahankan secara strategis karena jatuhnya banyak korban jiwa dan pers di London mengecam "perang yang berlarut-larut tanpa akhir yang terlihat." Pada tahun 1966, Inggris mengumumkan akan meninggalkan Yaman secara keseluruhan pada tahun 1968, tetapi kemudian mengundurkan diri dengan segera pada tahun 1967.

  • Republik Demokratik Rakyat Yaman, 1970-1990

Kepergian yang tergesa-gesa ini menciptakan kekosongan kekuasaan di Aden karena hal itu menjadi jelas bahwa permusuhan terhadap pendudukan Inggris adalah penyebab bersama yang  terendah untuk menyatukan Yaman selatan. Dua kelompok Marxis terkemuka -Front Pembebasan Nasional (NLF) dan Front Pembebasan Pendudukan Yaman Selatan (FLOSY) –berperang satu sama lain untuk menguasai wilayah yang baru dibebaskan tersebut. Akhirnya NLF menang dan secara nominal memegang kendali, namun berbagai faksi dalam NLF kemudian berperang satu sama lain sampai tahun 1970. Pada saat itu, faksi Marxis NLF yang paling radikal merebut kekuasaan dari faksi berkuasa yang lebih moderat dan mendeklarasikan Republik Demokratik Rakyat Yaman (PDRY).

NLF berubah menjadi Partai Sosialis Yaman (YSP) yang berkuasa dan menetapkan membangun negara dalam suatu wilayah yang terbagi antara bekas zona penyangga Inggris atas suku-suku autarkis dan sebuah pelabuhan industri makmur yang dipimpin oleh elit perkotaan. Menurut konstitusi PDRY yang baru, proyek ini berpusat pada "pembebasan masyarakat dari kemunduran tribalisme" di Yaman Selatan dan Utara.

Meskipun, kaum Marxis yang bertanggung jawab di Aden telah bekerja dengan keras untuk memecah tradisi suku, namun, proyek mereka kandas saat berhadapan dengan sejarah politik terfragmentasi di kawasan itu, dan surat perintah rezim jarang yang melampaui ibukota. Pada saat yang sama, YSP melanjutkan praktek Inggris dalam mengobarkan ketidakstabilan di Yaman Utara. Di atas semua ini, pertarungan politik di antara para pemimpin YSP adalah begitu endemik - kudeta terjadi pada tahun 1978 dan 1980- yang bahkan Fidel Castro meminta PDRY: "Kapan kalian akan berhenti saling membunuh?"

  1. c.         Penyatuan Yaman: Perang Sipil dan Gerakan Jihad, 1990-sekarang
  • Penyatuan, 1990

Penggabungan dua Yaman pada tahun 1990 merupakan perkawinan kenyamanan yang terbaik antara dua negara yang secara substansial berbeda. Yaman Utara secara resmi adalah sebuah rezim republik konservatif yang berkuasa atas masyarakat yang sangat bersifat kesukuan, sementara Yaman Selatan adalah sebuah negara Marxis yang secara fanatik berusaha untuk mengubah masyarakatnya sejalan dengan garis sosialis. Sepanjang tahun 1970-an dan 1980-an, hubungan antar-Yaman sering bermusuhan, dengan perang perbatasan meletus pada tahun 1972 dan 1979. Sana'a menghabiskan periode ini untuk membangun hubungan dengan Arab dan dunia Barat -ia adalah anggota pertama dari Liga Arab yang melanjutkan hubungan diplomatik dengan Amerika Serikat setelah Perang Enam Hari-, sementara Aden menjadi klien utama Timur Tengah bagi Uni Soviet (dan yang paling radikal). Pada tahun1986, sebanyak 5.000 penasihat Soviet ditempatkan di Yaman Selatan, dan Aden menjadi basis strategis bagi pasukan angkatan laut dan udara Soviet (seperti halnya yang terjadi pada pasukan Inggris di dekade sebelumnya). Negara ini juga memelihara hubungan yang kuat dengan kaum komunis Cina dan Kuba, dan mendukung pemberontak Marxis dengan kekerasan di negara tetangga Oman di awal 1970-an. Bahkan monarki yang sangat konservatif Arab Saudi mendukung rezim sosialis PDRY sebagai sarana mengungkung Yaman Utara dan mencegah munculnya negara kesatuan di perbatasan barat daya nya.

Yaman Selatan melemah secara politik dan militer oleh perang saudara yang brutal antara faksi-faksi sosialis yang saling bersaing pada tahun 1986, yang mengakibatkan kematian 10.000 orang.

Harapan untuk pemulihan telah didukung oleh operasi eksplorasi dan produksi minyak secara ekstensif oleh Soviet 'di provinsi-provinsi bagian timur pada akhir tahun 1980, tetapi setelah itu tiba-tiba Yaman Selatan kehilangan Soviet sebagai penyelamat ketika Moskow harus berurusan dengan disintegrasi dalam diri mereka sendiri. Akibatnya, Yaman Selatan menyetujui penyerapan oleh Yaman Utara setelah menjadi jelas bahwa Soviet tidak akan mampu memberi dukungan lebih lama lagi.

Mengingat pecahnya secara tiba-tiba Uni Soviet pada tahun 1991, negosiasi penyatuani awal yang telah berlangsung sejak tahun 1980-an cepat dilacak. Secara signifikan, proses penyatuan serampangan ini mengharuskan setidaknya demokratisasi yang terbatas, karena hal ini tampaknya menjadi cara yang paling pragmatis untuk rekonsiliasi ekonomi dan politik yang berbeda antara Yaman Utara dan Yaman Selatan. Meskipun Yaman Selatan hanya menyumbang seperlima dari penduduk Yaman bersatu, partai yang berkuasa di Yaman Utara (GPC) sepakat untuk berbagi kekuasaan yang relatif sama dengan YSP selama masa transisi sebelum pemilihan umum dapat digelar. Namun, sifat tergesa-gesa dari penggabungan itu meninggalkan banyak masalah yang belum terselesaikan: pemilu yang tertunda, unit-unit militer gagal untuk berintegrasi, ekonomi yang goyah dan kontrol atas pendapatan ekspor energi yang dibiarkan mengambang.

  • Perang sipil, 1994

Perang sipil pecah pada bulan April 1994. Mantan presiden (Ali Salem al-Beidh) dan perdana menteri (Haidar Abu Bakar al Attas) Yaman Selatan mendeklarasikan Republik Demokratik Yaman (DRY) yang independen untuk menggantikan bekas PDRY, dan menghidupkan kembali Aden sebagai ibukota mereka. Arab Saudi mendukung DRY untuk membalik mundur kemunculan Yaman bersatu, yang dengannya dapat melanjutkan kebijakan lamanya yang memastikan sebuah Yaman yang "cukup kuat tapi tidak terlalu kuat," menurut kata-kata mantan atase militer AS di Sana'a. Selain itu, negara-negara satelit bekas Soviet menyediakan bagi mantan klien mereka di Aden dengan artileri, tank dan jet tempur bekas Soviet. Namun, tidak ada pemerintah asing yang mengakui DRY, dan Aden jatuh ke pasukan utara pada Juli 1994.

Meskipun singkat, konsekuensi perang itu cukup signifikan. Sebagai akibat dari kemenangan yang cepat oleh pihak Utara, Saleh memperketat cengkeraman rezim pada sumber daya alam yang kaya negara itu -yang sebagian besar terletak di bekas Yaman Selatan-, menyingkirkan sebagaian besar orang-orang Selatan dari jaringan patronnya dan menempatkan orang-orang Utara sebagai penanggung-jawab ekonomi dan keamanan di Selatan. Hal ini membuat semua menjadi lebih mudah dengan adanya fakta bahwa infrastruktur minyak bekas Yaman Selatan telah beroperasi lagi pada awal 1990-an. Selama perang itu, layanan keamanan Saleh membantu memperdalam kesenjangan utara-selatan dengan merekrut apa yang disebut sebagai "tentara populer" dari putra-putra suku, jihadis yang berpindah-pindah tempat, dan mantan mujahidin sebagai milisi proxy untuk membantu mencegah bangkitnya orang-orang sosialis Yaman Selatan. Akibatnya, saat ini legitimasi rezim di sebagian besar wilayah selatan terancam, dan kekerasan yang terinspirasi separatisme dan pembalasan terhadap pemerintah merupakan tema yang selalu berulang di provinsi-provinsi wilayah selatan.

 

  1. 6.    Arab Spring

Musim Semi Arab (Arab Spring) adalah rentetan gelombang revolusi unjuk rasa dan protes yang terjadi didunia Arab meski tidak semuanya dilakukan oleh orang Arab. Dimulai sejak 18 Desember 2010, telah terjadi revolusi di Tunisia dan Mesir; perang saudara di Libya; pemberontakan sipil di Bahrain, Suriah, dan Yaman; protes besar di Aljazair, Irak, Yordania, Maroko, dan Oman; dan protes kecil di Kuwait, Lebanon, Mauritania, Arab Saudi, Sudan, dan Sahara Barat. Kerusuhan di perbatasan Israel bulan Mei 2011 juga terinspirasi oleh kebangkitan dunia Arab ini. Rentetan protes ini menggunakan beberapa teknik di antaranya adalah pemberontakan sipil dalam kampanye yang melibatkan serangan, demonstrasi, pawai, dan pemanfaatan media sosial, seperti Facebook, Twitter, YouTube, dan Skype, untuk mengorganisir, berkomunikasi, dan meningkatkan kesadaran terhadap usaha-usaha penekanan dan penyensoran Internet oleh pemerintah. Banyak unjuk rasa yang ditanggapi secara keras oleh pihak berwajib, maupun milisi dan pengunjuk rasa yang pro-pemerintah. Slogan pengunjuk rasa yang didengungkan di dunia Arab itu adalah Ash-sha`b yurid isqat an-nizam ("Rakyat ingin menumbangkan rezim ini").

Rangkaian peristiwa pada Arab Spring ini berawal dari protes pertama yang terjadi di Tunisia tanggal 18 Desember 2010 menyusul peristiwa pembakaran diri oleh Mohamed Bouazizi dalam protes atas korupsi oleh polisi dan pelayanan kesehatan. Dengan kesuksesan protes di Tunisia, gelombang kerusuhan menjalar ke Aljazair, Yordania, Mesir, dan Yaman, kemudian ke negara-negara lain.

Sampai September 2012, unjuk rasa ini telah mengakibatkan penggulingan empat kepala negara. Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali yang kabur ke Arab Saudi, mengakhiri kekuasaannya pada tanggal 14 Januari 2011 setelah protes revolusi Tunisia.  Di Mesir, Presiden Hosni Mubarak mengundurkan diri pada 11 Februari 2011, setelah 18 hari protes massal dan mengakhiri masa kepemimpinannya selama 30 tahun. Pemimpin Libiya Muammar Gaddafi tumbang dari kekuasaannya pada 23 Agustus 2011, setelah Dewan Transisional Nasional (National Transitional Council, NTC)  mengambil kendali pada Bab al Azizia sebuah barak militer yang menjadi markas Muammar Gaddafi. Dia terbunuh pada tanggal 20 Oktober 2011, di Sirte kota kelahirannya setelah NTC menguasi kota tersebut. Presiden Yaman  Ali Abdullah Saleh menandatangani persetujuan pengalihan kekuasaan GCC. Dari hasil pemilihan presiden Abd al-Rab Mansur al-Hadi secara formal menggantikannya sebagai presiden Yaman pada 27 Februari 2012. Sebagai imbalan atas persetujuan tersebut Ali Abdullah Saleh mendapat kekebalan hukum.

Selama periode kerusuhan regional ini, beberapa pemimpin negara mengumumkan keinginannya untuk tidak mencalonkan diri lagi setelah masa jabatannya berakhir. Presiden Sudan Omar al-Bashir mengumumkan ia tidak akan mencalonkan diri lagi pada 2015,  begitu pula Perdana Menteri Irak Nouri al-Maliki, yang masa jabatannya berakhir tahun 2014,  meski unjuk rasa semakin menjadi-jadi menuntut pengunduran dirinya sesegera mungkin. Protes di Yordania juga mengakibatkan pengunduran diri pemerintah sehingga mantan Perdana Menteri dan Duta Besar Yordania untuk Israel Marouf al-Bakhit ditunjuk sebagai Perdana Menteri oleh Raja Abdullah dan ditugaskan membentuk pemerintahan baru. Di Kuwait juga terjadi pengunduran diri dan pembubaran kabinet Perdana Menteri Nasser Mohammed Al-Ahmed Al-Sabah.

Dampak protes ini secara geopolitik telah menarik perhatian global, termasuk usulan  agar sejumlah pengunjuk rasa dicalonkan untuk menerima Hadiah Perdamaian Nobel 2011. Tawakel Karman dari Yaman merupakan salah satu penerima Hadiah Perdamaian Nobel 2011 sebagai salah seorang pemimpin penting dalam Arab Spring.

  1. 7.      Arab Spring di Yaman

Revolusi Yamansebagai bagian dari Arab Spring terjadi setelah Revolusi Tunisia dan berbarengan dengan Revolusi Mesir dan beberapa protes massa lain di kawasan Timur Tengah dan Afrika pada tahun 2011. Pada fase awal, protes di Yaman terkait dengan tidak adanya lapangan pekerjaan, kondisi ekonomi, korupsi dan usulan pemerintah untuk memodifikasi konstitusi Yaman. Tuntutan para pendemo kemudian berkembang dengan menyerukan agar Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengundurkan diri. Penyebrangan secara massal dari militer maupun dari pemerintahan Saleh secara efektif menjadikan banyak wilayah negara berada diluar kendali pemerintah, dan para pendemo bertekad untuk menentang otoritasnya.

Demonstrasi yang besar dengan lebih dari 16.000 pendemo dilaksanakan di Sana’a, ibukota Yaman, pada 27 Januari 2011. Pada tanggal 2 Februari, Saleh mengumumkan bahwa dia tidak akan mengikuti pemilihan presiden pada tahun 2013 dan dia tidak akan mewariskan kekuasaannya pada putranya. Pada tanggal 3 Februari, 20.000 massa memprotes pemerintah di Sana’a, sementara itu demontrasi yang lain terjadi di Aden, sebuah kota pelabuhan di Yaman selatan, pada “Hari Kemarahan” . Sementara itu para prajurit, anggota “Konggres Rakyat Umum” (General People’s Congress) yang bersenjata, dan banyak pendemo yang pro pemerintah berkumpul di Sana’a. Pada suatu hari “Jumat Kemarahan” tanggal 18 Februari, 10 ribu penduduk Yaman mengambil bagian dalam demonstrasi anti pemerintah di Taiz, Sana’a dan Aden. Pada hari “Jumat Tidak Kembali” tanggal 11 Maret, pendemo menyerukan pengusiran Saleh di Sana’a, dimana tiga orang terbunuh. Demo-demo yang lain dilakukan di kota-kota lain, termasuk Al Mukalla, dimana satu orang terbunuh. Pada tanggal 18 Maret, para pendemo di Sana’a ditembaki yang meyebabkan 52 orang meninggal.

Dimulai pada akhir April 2011, Saleh yang awalnya menyetujui sebuah perjanjian yang diprakarsai oleh Dewan Kerjasama Teluk (Gulf Cooperation Council, GCC), kemudian mundur lagi beberapa jam sebelum jadwal penandatanganan, sampai tiga kali. Setelah ketiga kalinya, pada 22 Mei 2011, GCC mengumumkan penangguhan upaya-upaya untuk memediasi di Yaman. Pada 23 Mei 2011, sehari setelah Saleh menolak untuk menandatangani perjanjian transisi tersebut, Syeikh Sadiq al-Ahmar ketua federasi suku Hasyid, salah satu dari suku-suku yang paling kuat di negara itu, mengumumkan dukungannya pada oposisi dan para pendukungnya yang bersenjata memulai konflik dengan pasukan keamanan loyalis di ibukota Sana’a. Pertempuran jalanan yang hebat terjadi, termasuk tembakan artileri dan mortar. Saleh dan beberapa orang lain terluka dan setidaknya  lima orang meninggal pada saat terjadi pemboman istana Presiden pada 3 Juni 2011 ketika sebuah bahan peledak menghancurkan sebuah masjid yang digunakan oleh para pejabat pemerintah tingkat tinggi untuk sholat. Laporan belum dapat memastikan  apakah serangan tersebut disebabkan oleh tembakan atau bom yang ditanam. Pada hari berikutnya, Wakil Presiden  Abdul Rab Mansul al Hadi mengambil alih sebagai pejabat presiden, sementara Saleh terbang ke Saudi Arabia untuk perawatan. Massa merayakan pemindahan kekuasaan Saleh tersebut, tetapi pejabat-pejabat Yaman bersikeras bahwa ketiadaan Saleh hanya sementara dan dia akan segera kembali ke Yaman untuk melanjutkan tugasnya.

Pada awal Juli 2011 pemerintah menolak tuntutan-tuntutan oposisi, termasuk pembentukan sebuah dewan transisi dengan tujuan secara formal memindahkan kekuasaan dari pemerintah sekarang ke pemerintah sementara yang dimaksudkan untuk mengawasi pemilu demokratis yang pertama di Yaman. Sebagai tanggapannya faksi-faksi oposisi mengumumkan pembentukan dewan transisi mereka sendiri yang beranggotakan 17 orang pada 16 Juli 2011, meskipun Pertemuan Gabungan Partai-partai (Joint Meeting Parties, JMP) yang telah difungsikan sebagai payung bagi banyak kelompok oposisi Yaman selama pemberontakan tersebut, mengatakan bahwa dewan tersebut bukan representasi mereka dan tidak sesuai dengan “rencana” mereka untuk negara tersebut.

Pada tanggal 23 Noveember 2011, Saleh menandatangani sebuah perjanjian pemindahan kekuasaan yang diprakarsai oleh GCC di Riyadh, yang dengannya dia akan memindahkan kekuasaannya ke Wakil Presiden dalam 30 hari dan meninggalkan posnya sebagai presiden pada Februari 2012, sebagai pertukaran dengan kekebalan hukum baginya.Walaupun kesepakatan GCC tersebut diterima oleh JMP, namun ditolak oleh banyak pendemo dan Houthi.

Sebuah pemilihan presiden telah dilaksanakan di Yaman pada 21 Februari 2012. Sebuah laporan mengklaim bahwa pemilu tersebut diikuti 65 persen dari pemilihnya, dan Hadi memenangkan suara 99,8%.  Abd Rabb Mansur al Hadi diambil sumpahnya di parlemen Yaman pada 25 Februari 2012. Saleh kembali pada hari yang sama untuk menghadiri pelantikan presiden Hadi. Setelah beberapa bulan demonstrasi, Saleh mengundurkan diri dari presiden dan secara formal memindahkan kekuasaan pada penggantinya, yang mengakhiri 33 tahun pemerintahannya.

 

  1. 8.      Kondisi Yaman Saat Ini

Selama bertahun-tahun, Yaman dirongrong oleh berbagai kelompok militan yang bertikai satu sama lain, di antara kelompok Syiah al-Houthi yang menguasai provinsi di sebelah Utara Yaman, gerakan separatis di wilayah Selatan, al-Qaeda di Semenanjung Arab, faksi-faksi dalam militer dan ditambah lagi dengan simpatisan mantan Presiden Ali Abullah Saleh yang lengser dari jabatannya pada revolusi Yaman 2011 silam.

Korupsi, kesenjangan sosial, lemahnya kontrol pemerintah, kemiskinan serta minimnya infrastruktur merupakan hal utama yang menyebabkan gerakan separatis tumbuh subur di Yaman.

Protes rakyat Yaman 2014 merupakan sederertan aksi-aksi demonstrasi di Yaman yang akhirnya meningkat menjadi konflik bersenjata. Protes tersebut dimulai pada tanggal 18 Agustus 2014  saat terjadi serangkaian demonstrasi Houthi di Sana’a menolak kenaikan harga BBM. Pada tanggal 21 September 2014, kelompok Houthi mengambil alih kendali Sana’a. Perdana Menteri Mohammad Basindawa mengundurkan diri dan Houthi menandatangani sebuah kesepakatan untuk pembentukan pemerintah bersatu yang baru dengan partai-partai politik lainnya. Protes tersebut ditandai dengan adanya pertentangan antara Houthi dengan pemerintah dan juga pertentangan antara Houthi dengan Al Qaeda di semenanjung Arab (AQAP).

Protes tersebut terjadi mengikuti suatu fase ekspansi Houthi yang berpuncak pada pengambilan alih Amran sebuah ibukota provinsi, oleh Houthi pada 8 Juli 2014. Kelompok Houthi mengalahkan 310 Brigade Armored dan membunuh komandannya Hameed Al Koshebi.

Namun demikian, penyebab segera dari protes adalah kenaikan harga BBM hampir 100% akibat keputusan pemerintah Yaman pada 29 Juli 2014 untuk memotong subsidi BBM. Pada tahun 2013, biaya untuk subsidi BBM yang dikeluarkan pemerintah Yaman sebesar $3 miliyar, hampir sepertiga belanja negara. Sabagai tanggapan atas pemangkasan subsidi tersebut, Houthi memulai protes untuk mengembalikan subsidi dan pembentukan pemerintahan baru.

Protes pertama terjadi pada 18 Agustus 2014, ketika Houthi mendirikan markas protes di Sana’a. Puluhan ribu orang berpartisipasi dalam protes tersebut, yang segera diikuti dengan adanya kekerasan. Pada 10 September 2014, tujuh orang pendemo ditembak oleh pasukan keamanan. Pertentangan yang terjadi lagi pada 18 September menyebabkan 40 pendemo dan anggota milisi Sunni meniggal.

Pada tanggal 19 September 2014, pemberontak menyerang Sana’a dan pada 21 September 2014 maju memasuki kota tersebut dan menduduki kantor-kantor pemerintahan. Hal ini menyebabkan pengunduran diri Perdana Menteri Yaman Mohammed Basindawa, dan digantikan oleh Ahmad Awad bin Mubarak. Pertempuran tersebut menyebabkan kematian 123 orang dari kedua belah pihak. Houthi bersama dengan beberapa kelompok politik lain, menandatangani sebuah kesepakatan Perjanjian Perdamaian dan Pesekutuan yang menetapkan formasi pemerintahan bersatu yang baru.

Pada tanggal 22 September, sedikitnya 240 orang terbunuh dalam pertempuran di Sana’a. Pertempuran tetap berlanjut setelah penandatangan perjanjian pembagian kekuasaan.

Pada tanggal 9 Oktober 2014 sebuah bom bunuh diri terjadi di Tahrir Square sebelum rapat umum yang telah dijadwalkan dimulai. Serangan tersebut menewaskan 47 orang dan melukai 75 orang yang sebagian besar adalah pendukung Houthi. Pejabat pemerintah meyakini serangan tersebut dilakukan oleh AQAP.

Komposisi kabinet baru diumumkan pada 25 Oktober 2014. Kabinet tersebut terdiri atas 34 portofolio, yang akan dibagi antara Houthi, Konggres Rakyat Umum (General People’s Conggress), Gerakan Yaman Selatan (South Yemen Movement) dan Partai-partai Pertemuan Gabungan (Joint Meeting Parties). (Rudi Azzam)



[1] Tulisan beliau tersebut dijadikan suplemen dalam buku Syam Bumi Ribath dan Jihad karya Muhammad bin Sa’id Al-Barudi, diterbitkan oleh Jazera, Solo, 2013.
[2] Idem
[3] Michael Makovsky, Blaise Misztal, dan Jonathan Ruhe, Fragility and Extremism in Yemen, A Case Study of The Stabilizing Fragile States Project, Bipartisan Policy Center, Januari 2011.
[4] Idem
[5] Idem