Narasi Perjuangan Jabhatun Nushrah, Analisis Video “The Heirs of Glory”

25 August 2015

“Pada masa lalu, Islam telah mengalami kemenangan gemilang yang menyeluruh. Islam telah membuktikan keberadaannya saat memerangi pasukan Barat: pertama, pada masa Khulafa Rasyidin, yaitu ketika Suriah dan Mesir dibebaskan dari kekuasaan Yunani yang telah membebani mereka selama hampir seribu tahun, dan kedua pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi dan Mamalik saat mengusir Pasukan Salib dan Tatar, yang dikalahkan dan dihinakan…

Sekarang (umat) Islam sedang tidur lelap. Namun, situasi global dapat membangunkannya untuk sekali lagi mengambil dominasi…. Semoga, ini tidak terjadi.”

Arnold Toynbee, Sejarawan Inggris

 

Kutipan di atas merupakan pembuka dari video yang dirilis oleh Jabhatun Nushrah (JN), cabang resmi Al Qaeda (AQ) di Suriah. Video mini-dokumenter berdurasi 43 menit ini berjudul  Waratsatul Majd (Pewaris Kemuliaan). Video tersebut juga diberi judul “the Heirs of Glory” dengan subtitle berbahasa Inggris. Video ini menceritakan perjalanan sejarah Islam dari sudut pandang yang tidak biasa secara mainstream. Salah satu fragmen penting yang ditampilkan adalah rekaman momen puncak dari Serangan 11 September dan klip audio dari pidato Usamah bin Laden.[1]

Dalam video tersebut, JN menyoroti rekaman Serangan 11 September setelah mengulang peringatan yang pernah disampaikan oleh Bin Laden pada tahun 1998. Bin Laden menegaskan pada waktu itu bahwa gabungan kekuatan “Salibis-Zionis” bertanggung jawab atas "agresi" terhadap negeri kaum muslimin. Pendiri Al Qaeda juga menggambarkan kehadiran tentara AS di Jazirah Arab, terutama selama Perang Teluk, d sebagai bagian dari plot yang sukses untuk menguasai Bilad Al-Haramain (Negeri Dua Tanah Suci), yaitu Mekah dan Madinah.

"Jadi kami berusaha untuk mendorong umat Islam sehingga mereka mau bangkit untuk membebaskan negeri-negeri mereka dan melakukan jihad di jalan Allah, dan untuk menegakkan hukum Allah, sehingga Kalimah Allah menjadi yang tertinggi," demikian yang Bin Laden sampaikan dalam klip rekaman wawancara dengan Al Jazeera pada tahun 1998.

Kemudian narator video juga menjelaskan, "Pesan-pesan dari Syekh Usamah terus tersampaikan ke Barat, yang meminta mereka agar menghentikan dukungan kepada orang-orang Yahudi di Palestina. Dia mengajak mereka berkali-kali untuk menghentikan penjarahan kekayaan umat Islam dan agar meninggalkan Jazirah Arab."

Klip video dari serangan terhadap menara kembar World Trade Center (WTC) muncul dalam video seiring perkataan narator, "Namun, Amerika bersikeras dan arogan. Dengan demikian, pilihan untuk merespons dengan cara yang sama ditemukan sebagai solusi yang paling efektif. Dengan demikian, Barat jadi tahu bahwa umat Islam tidak akan pernah tinggal diam untuk kejahatan yang dilakukan terhadap mereka, dan bahwa mereka akan menolak penindasan dan tirani."

Video dokumenter JN ini secara tidak langsung juga menyajikan bantahan atas isu dan spekulasi bahwa kelompok ini akan memutuskan hubungan dengan Al-Qaeda. Mengingat peran penting JN dalam perlawanan rakyat Suriah menentang rezim Bashar Al-Assad, sebagian kalangan mencoba menutupi atau menganjurkan JN untuk memutuskan hubungannya dengan Al Qaeda.

Sejak awal tahun ini, sumber-sumber yang ada di lingkungan mujahidin Suriah telah mengklaim bahwa JN akan meninggalkan Al Qaeda. Salah satu akun bahkan menyatakan bahwa Al Qaeda akan membubarkan sepenuhnya. Klaim-klaim seputar isu tersebut tampaknya mengabaikan bukti primer dari sumber utama yang mengindikasikan tidak benarnya isu tersebut. Termasuk fakta bahwa beberapa petinggi JN membantah bahwa perpisahan JN dan Al Qaeda sedang tertunda. Yang jelas, kelompok-kelompok jihad global di luar Suriah secara terbuka menyatakan kesetiaan kepada Al Qaeda.

Tiga orang petinggi JN tampil dalam video resmi mereka kali ini, yaitu Abu Sulaiman Al-Muhajir, Abu Abdillah Asy-Syami, dan Abu Firas As-Suri.

Abu Sulaiman berpindah dari Australia untuk mengambil bagian dalam upaya mediasi yang gagal antara kelompok Daulah Islamiyah (the Islamic State/IS) dan kelompok jihad kompetitornya. Pada bulan Mei, ia pernah ditanya tentang rumor perpisahan pada timeline Twitter-nya, yang dengan segera akunnya (@abusulayman01) diblokir. Abu Sulaiman membantah langsung bahwa JN akan meninggalkan Al Qaeda. Ia mengatakan bahwa kelompok tersebut memiliki baiat (sumpah setia) untuk Aiman Azh-Zhawahiri dan sumpah ini hanya dapat dibatalkan dengan seizinnya.

Adapun Abu Firas As-Suri ialah veteran Al Qaeda yang disalurkan dari Yaman ke Suriah setelah revolusi meletus. Kemudian ia menjabat sebagai salah satu juru bicara  resmi yang terkemuka di antara seluruh jajaran JN.

Kebangkitan Kembali Jihad

Sementara sebagian seruan jihad hari ini berfokus pada keuntungan taktis, atau dalam kasus IS dengan gambaran yang identik dengan “kengerian”, JN justru mengambil pendekatan yang berbeda dalam "The Heirs of Glory". Produksi video ini tampak dimaksudkan untuk mengaitkan upaya jihad saat ini di Suriah dengan usaha yang sudah lama berjalan untuk mengembalikan kegemilangan masa lalu ketika Khilafah Islamiyah tegak.

Video dibuka dengan kutipan dari sejarawan Inggris Arnold Toynbee, yang menulis bahwa "Islam sedang tidur nyenyak." (“Islam is in a deep slumber”). Toynbee menyimpulkan bahwa "situasi global sewaktu-waktu dapat membangunkannya untuk mendominasi sekali lagi." Kutipan dari Toynbee juga mengungkapkan, "Mudah-mudahan, ini tidak akan terjadi." Tapi, Al Qaeda dan umat berharap itu bakal terjadi, dan mereka terus bekerja untuk menghidupkan kembali khilafah meski butuh waktu lama.

“Melalui video ini kami berupaya untuk menggambarkan bahwa, meskipun masa keterpurukan kita telah berlangsung selama hampir dua abad, dahulu kita pernah memipin dunia ini selama lebih dari dua belas abad,” kata seorang jubir JN di awal video. “Pihak Barat sangat bernafsu untuk menyebarkan kekalahan psikologis di antara pemuda muslimin."

JN berpendapat bahwa "umat Islam telah mengetahui bahwa umat kita saat ini, terutama setelah revolusi (Arab Spring), telah mulai mendefinisikan kembali tonggak kebangkitan peradaban."

Penggunaan kata "kebangkitan" (inbi’ats) bukanlah kebetulan semata. Publikasi berbahasa Inggris terbaru dari As-Sahab, sayap media resmi Al Qaeda, memberi nama majalahnya yang berbahasa Inggris dengan nama Resurgence (Kebangkitan Kembali), yang membawa pesan bahwa Al Qaeda merupakan motor revolusi Islam global. Produser video panjang untuk hari ketika kekuasaan khilafah yang membentang di seluruh wilayah yang luas.

Dalam video tersebut,  JN menggambarkan bahwa para pemimpin Al Qaeda dan anggotanya sebagai pewaris ideologis dari berbagai kelompok jihadis lain yang berusaha untuk mengusir pengaruh asing dari Dunia Islam dan mengembalikan Khilafah Islamiyah.

Salah satu tokoh jihadis tersebut adalah Dr. Abdullah Azzam, sosok pelopor yang membangkitkan kesadaran jihad sejak tahun 1980-an. Ia adalah guru sekaligus sahabat dekat Usamah bin Ladin. Dalam kutipan dari rekaman arsip JN, Dr. Abdullah Azzam mengatakan, "Tiga abad yang lalu, mereka berencana dan melakukan upaya sampai mereka mampu (untuk) menggulingkan khalifah muslim."

Syekh Azzam mengatakan kepada pendengarnya, "Akhirnya mereka merasa lega dari ‘hantu’ yang menakut-nakuti mereka siang dan malam, dan mengejar mereka ketika tidur dan ketika terbangun, yang meninggalkan mata mereka saat tidur serta membuat mereka merinding setiap kali mereka ingat khilafah. Seluruh dunia sepakat bahwa khilafah tidak pernah dapat izin untuk bangkit kembali."

Dr. Abdullah Azzam meninggal pada tahun 1989. Pembunuhnya sampai hari ini sulit untuk diidentifikasi secara pasti. Namun, kata-katanya masih membawa pengaruh besar hari ini, seperti yang terlihat pada pencantuman dalam video JN kali ini. Tokoh yang kurang dikenal lainnya juga dimasukkan dalam mini-dokumenter ini, termasuk Muhammad bin Abdul Karim Al-Khatthabi (yang berjuang melawan pasukan Eropa di Maghrib pada awal 1920-an) dan Umar Al-Mukhtar ("yang berjihad di jalan Allah terhadap pendudukan Italia [di Libya] dan menyebabkan mereka menderita banyak kerugian pada rentang 20 tahun sampai ia ditangkap setelah terluka").

Selanjutnya, ada Imam Syamil dan cucunya (yang menentang "pendudukan Tsar Rusia” kemudian “pendudukan Komunis " di Kaukasus Islam.  Juga, Izzuddin Al-Qassam (yang berjuang menentang pendudukan Prancis di Suriah, "klien Alawiyah", serta "pendudukan Inggris dan Yahudi di Palestina sampai ia meraih syahadah pada tahun 1935.")

Situasi berubah. Namun, sepertinya negara-negara Barat hanya berkenan menyerahkan kekuasaan kepada para penguasa lokal. Menurut JN, ini berarti bahwa Barat kini memerintah secara tidak langsung. "Pemberontakan melawan pendudukan muncul di banyak negeri Muslim yang memaksa pendudukan untuk mengubah cara mereka; dari pendudukan militer langsung dengan pekerjaan tidak langsung, politik, dan ekonomi, setelah jalan dimuluskan untuk tahap pascamiliter," kata narator video.

"Fase pascamiliter" ini pada pertengahan abad ke-20 melihat pengenalan konstitusi berdasarkan prinsip Barat, sebagai lawan hukum syariah. Tetapi, generasi baru jihadis yang menentang kekuatan-kekuatan yang didukung Barat, termasuk Sayyid Quthub, seorang ideolog utama yang berasal dari Ikhwanul Muslimin, Mesir. Klip penuntutan Quthub di Mesir ditayangkan dalam video.

"Di antara para pemimpin kebangkitan yang penuh berkah, muncullah Sayyid Quthb, yang mengobarkan perang terhadap konstitusi buatan manusia, dan melalui tulisan-tulisannya menyerukan undang-undang syariah dan memberikan contoh terbesar melalui pengorbanan dan ketabahan di atas agama sampai ia dihukum mati dengan cara digantung pada tahun 1966," kata narator video.

"Ini setelah ia menolak untuk mencapai kesepakatan dengan rezim Mesir dalam tawar-menawar untuk meringankan hukumannya. Dia menjawab tawaran mereka dengan mengatakan, 'Jari telunjuk yang membuktikan keesaan Allah dalam shalat tidak akan pernah menulis satu kata pun ketundukan terhadap aturan thaghut'."

Pujian JN untuk Sayyid Quthb tidaklah mengherankan. Selama bagian kedua dari wawancara dengan Al Jazeera, yang disiarkan sekitar sebulan sebelumnya, Amir JN Abu Muhammad Al-Jaulani mengatakan bahwa organisasinya mengajarkan salah satu buku Quthb di sekolah-sekolah yang mereka kelola di Suriah.

Menurut JN, sosok lain seperti Qutb adalah Syekh Marwan Hadid, yang "meyakini bahwa ujian seperti Partai Baath Suriah tidak dapat dihadapi kecuali melalui jihad." Hadid mendirikan "Thali’ah Muqatilah" dan "memulai usahanya di jalan jihad”, tetapi kemudian ditumpas oleh tank-tank Partai Baath pada tahun 1965. Dia mencoba lagi pada tahun 1970 hingga tertangkap kemudian digantung pada tahun 1975. "

Pusat Jihad yang Siap Meledak

JN menjelaskan bahwa pada awal 1980-an, "gerakan jihadi tampil menantang rezim-rezim itu dengan kekuatan senjata," tetapi "belum berhasil mencapai tujuan mereka akibat bentrokan dengan rezim yang brutal dan tidak seimbang, yang didukung oleh kekuatan kaum kafir global."

Ini "upaya terutama berakhir pada penangkapan dan pemenjaraan sampai jihad Afghanistan melawan Rusia, ketika umat Islam, dari berbagai lapisan masyarakat, menjawab panggilan Jihad. Dan tanah Afghanistan menawarkan kesempatan untuk mengumpulkan para mujahidin dunia. Rekaman ikonik dari Aiman Azh-Zhawahiri di dalam sel Mesir ditampilkan untuk menekankan kegagalan upaya pra-Afghanistan ini.

Konsep “pusat jihad” menyatakan bahwa mujahidin, melalui kekuatan iman mereka sendiri, mengusir Soviet dari Afghanistan pada 1980-an, yang menyebabkan runtuhnya kekaisaran Soviet. Video JN mengulangi penekanan ini, meskipun banyak faktor lain yang bukan primer bisa disebutkan.

Abu Firas As-Suri (lihat: foto di atas), veteran Al Qaeda yang menjadi juru bicara JN itu, menjelaskan kepada pemirs tentang pentingnya kekalahan Uni Soviet dari perspektif jihadis. "Sebenarnya, kemenangan mujahidin melawan Rusia memiliki banyak efek. Saat itu Rusia dianggap sebagai negara yang paling kuat kedua di dunia, bahkan beberapa menganggapnya yang paling kuat," kata Abu Firas. “Rusia dengan bangga mengatakan bahwa mereka memiliki senjata nuklir yang secara teori memiliki potensi untuk menghancurkan Amerika sebanyak 280 kali, sementara kita hanya ingin menghancurkannya sekali.”

“Saudara-saudara kami, para mujahidin suci, menghancurkan raksasa ini,” kata Abu Firas. “Ini memberikan harapan dan kehidupan dalam jiwa muslimin di seluruh penjuru dunia. Para Muslim sanggup, jika ia berjihad dan bergantung pada imannya, untuk mencapai banyak hal besar.”

Ikhtiar mujahidin di Afghanistan sebagai kunci hanyalah satu bagian dari penggambaran dalam video. Abu Firas menjelaskan bahwa apa yang Al Qaeda berusaha untuk lakukan adalah menyebarnya revolusi di seluruh dunia di mana mayoritas Muslim berada. Hal ini agak berbeda dari penjelasan sebagian analis Barat, yang sering menggambarkan Al Qaeda sebagai kelompok yang “secara dangkal” hanya berfokus pada menyerang AS dan sekutunya.

Selama beberapa dekade setelah jatuhnya khilafah, "konsep jihad di Syam absen dari pikiran orang," kata Abu Firas. "Tidak ada yang mendengar tentang kata jihad. Pada kenyataannya, Syam dianggap sebagai salah satu jantung wilayah yang paling penting di Dunia Islam karena kedekatannya dekat dengan Palestina, ke Hijaz (Arab Saudi), dan berada di pusat dunia Islam. "

Abu Firas kemudian memperkenalkan pemirsa pada konsep "pusat jihad yang siap meletus," bukan hanya di Syam, tapi di tempat lain. Dan ia menarik pada pemikiran Marxis untuk menjelaskan apa yang dimaksudkannya."

Keberadaan pusat jihad terus meletus di Syam sangat penting sehingga orang terus mendengar tentang jihad," kata Abu Firas. “Bahkan teoris Barat seperti Regis Debray dari Prancis, penulis Revolution in the Revolution mengonfirmasi perlunya pusat revolusi yang meletus secara berkelanjutan agar revolusi terus berlangsung.”

Buku Debray adalah buku tentang perang gerilya, terutama di Amerika Latin, dan menjadi rujukan pendekatan revolusioner yang digunakan oleh sayap kiri radikal pada pertengahan abad ke-20. Abu Firas mengatakan bahwa “jelas dia bukan teladan kita untuk dicontoh, begitu pula Castro ataupun Guevara, tapi ini adalah fakta.” Dengan demikian, penjelasan teori revolusi telah memberikan banyak pelajaran bagi jihadis. Seperti yang diketahui dari berbagai sumber—termasuk Dokumen Abbottabad—bahwa Al Qaeda telah mempelajari Che Guevara, Mao, dan revolusioner politik lainnya dalam rangka lebih memahami kunci keberhasilan dan kegagalan mereka.

"Fakta" tesis Debray "menjadi bukti dari apa yang disampaikan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam," kata Abu Firas. “Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim: “Akan terus ada kelompok dari Umatku yang akan berperang di jalan Allah, mereka tidak akan disakiti oleh mereka yang menentang mereka.”

Abu Firas mengatakan ini berarti bahwa "akan tetap ada kelompok jihadi yang berperang di Dunia Islam, pusat untuk meletusnya jihad," sehingga "orang-orang terus mendengar bahwa ada jihad di Mesir dan Aljazair! Ada jihad di Kashmir dan India! Ada jihad di Afghanistan!"

"Ide dari jihad secara praktik diterapkan dan terus meletus serta dilaksanakan," kata Abu Firas. “Bukan hanya menjadi sesuatu yang kita baca di buku sejarah, bahwa zaman dahulu nenek moyang kita biasa berjihad… tidak!”

Abu Musab As-Suri

Saat ini sosok Abu Musab As-Suri diperkirakan sedang dipenjara di Suriah sejak penangkapannya di Pakistan pada tahun 2005. Abu Musab merupakan salah satu pemikir jihad berpengaruh dalam 25 tahun terakhir dan masih sangat dihormati di kalangan Al Qaeda. Kutipan panjang dari Abu Musab dari karya pentingnya, Da’wah Al-Muqawamah Al-Islamiyyah Al-‘Alamiyyah (“Seruan Perlawanan Islam Global") juga ditampilkan dalam video ini.

Mengacu pada ungkapan yang sama seperti yang direferensikan oleh Abu Firas, Abu Musab menulis, "Karena Allah berfirman untuk melindungi agama-Nya dan Kitab-Nya dan menjaga kebenaran, senantiasa ada kelompok dalam umat Islam yang berjuang untuk agama, tidak memberi mudarat orang-orang yang menghinakan mereka atau orang-orang [yang] menentang mereka."

Oleh karena itu, menurut Abu Musab, "benih Kebangkitan Islam dan kebangkitan yang diberkati telah ditaburkan dari hari pertama setelah jatuhnya khilafah, di berbagai madrasah pemikiran." Semua “madrasah ini berupaya menuju tujuan yang sama, yaitu kembalinya umat Islam kepada agama, Syariah, dan hukum Rabbnya."

Kemudian dalam video, JN menampilkan klip dari Abu Musab menguraikan tema seputar ini dalam salah satu kuliahnya. "Sekarang Kebangkitan Islam sedang mencoba untuk menemukan solusi untuk krisis kita," kata Abu Musab menjelaskan.

Sementara beberapa aktivis Islam berusaha melakukan perubahan melalui cara lain, Abu Musab dan Al Qaeda menyimpulkan bahwa ada persoalan yang solusinya hanya dengan jihad. Abu Musab mengatakan bahwa dia tidak meragukan "niat yang baik" dari pihak lain yang berusaha untuk mengakhiri "krisis" di dunia yang berpenduduk mayoritas Muslim. Ia menambahkan bahwa ia "menganggap niat mereka tulus."

Meskipun demikian, ia tidak sepakat. Hanya jihadlah yang kemungkinan 'bisa berhasil dalam membangkitkan sebuah daulah islamiyah. "Seperti orang lain memiliki solusi yang diusulkan untuk krisis, solusi kami adalah melalui senjata," kata Abu Musab pendengarnya di rekaman video.

Abu Musab melanjutkan, "Ini tidak akan selesai tanpa senjata. Jenis krisis tidak bisa diselesaikan tanpa senjata, karena ini adalah tentang kekosongan pemerintahan, konflik dengan orang-orang murtad, keberadaan tentara salib, yang berarti keberadaan NATO, yang berarti pasukan perang, adanya armada.Orang-orang Yahudi berarti Pasukan Pertahanan Israel (IDF), yang berarti Mossad, berarti bencana. Isu-isu ini tidak diselesaikan melalui reformasi spiritual atau tarbiyah!"

JN sebagai Front dari Al Qaeda

JN menggunakan ceramah Abu Musab untuk memperkenalkan Al Qaeda sebagai salah satu organisasi jihad yang diciptakan untuk mengatasi "krisis." JN tidak bersembunyi dari warisan al Qaeda. Kelompok Abu Muhammad Al-Jaulani ini sepenuhnya mencakup al Qaeda sebagai organisasi induknya.

"Adapun orang-orang yang memilih untuk mengangkat tangan, solusi untuk setiap satu dari mereka adalah untuk tetap teguh pada medan perang mereka, membela kehormatan umat ini terhadap [musuh], yang [telah] datang bersama-sama dan sepakat untuk mencegah umat Islam untuk bangkit kembali," kata narator JN.

"Di antara kelompok-kelompok yang berperang adalah Al Qaeda, yang menganggap solusi untuk fokus pada ‘kepala ular’ global, Amerika, dan membuat langsung, kekuatan memukul mundur menghadapi penghinaan mereka, sehingga dapat menghentikan mengenai Muslim menjadi mudah menangkap, menyerang mereka kapanpun dan di manapun mereka tolong, tanpa memperhatikan setidaknya konsekuensi. "

Pada poin ini JN juga memperkenalkan rekaman arsip Bin Laden dan Azh-Zawahiri pada pra-11 September di Afghanistan. Klip Bin Laden dari tahun 1998—tahun yang sama ia mendeklarasikan front untuk menghadapi "Zionis dan Salibis), adegan-adegan dari serangan 9/11 dan, terakhir kutipan kata-kata penting dari Bin Laden.

Bagian terakhir dari video ini menunjukkan kutipan kata-kata Bin Laden yang mengomentari Arab Spring yang melanda Timur Tengah dan Afrika Utara sesaat sebelum ia gugur pada Mei 2011.  "Jadi, kepada semua pejuang revolusi di seluruh dunia, berpegang teguhlah dengan urusan Anda dan berhati-hatilah dengan 'dialog.' Tidak ada jalan tengah antara kebenaran dan kepalsuan, sekali-kali tidak!"

Bin Laden memperingatkan, "Ingatlah bahwa Allah telah menganugerahkan rahmat-Nya atas Anda dengan hari ini, setelah itu akan datang yang lebih baik. Anda adalah ksatria dan pemimpin saat ini. Di tangan Anda ada kendali; umat telah mempersiapkan Anda untuk hari yang menakjubkan ini; melanjutkan perjalanan, dan tidak takut kesulitan.... Perjalanan telah mulai ke tujuan. Kebebasan telah berbaris tercantum dalam [tekad]. Dan ketika memulai perjalanan mereka dengan ikhlas, mereka tidak akan merasa lelah atau pengorbanan mereka berhenti!"

JN percaya bahwa Revolusi Arab telah "diberi hidup sekali lagi" dengan umat Islam. Dan kelompok ini bangga untuk mewakili Al Qaeda pada era baru ini. (F. Irawan)

Referensi:

Abu Mush’ab As-Suri, Da’wah Al-Muqawamah Al-Islamiyyah Al-‘Alamiyyah, Minbar At-Tauhid wa Al-Jihad, 2003.

Pieter van Ostaeyen, “Al-Manara al-Bayda: New video by Jabhat an-Nusra: The Heirs of Glory”, 28 Juni 2015.

Thomas Joscelyn, “Al Nusrah Front celebrates 9/11 attacks in new video”, TheLongWarJournal, 29/6/ 2015.

Link video terjemahan “The Heirs of Glory” dengan subtitle berbahasa Indonesia bisa dilihat di: http://www.kiblat.net/2015/08/03/video-edisi-terjemah-heirs-of-glory-para-pewaris-kemuliaan

 

LampiranTranskrip Terjemahan Video

 The Heirs of Glory (Para Pewaris Kemuliaan)

 “Pada masa lalu, Islam telah mengalami kemenangan gemilang yang menyeluruh. Islam telah membuktikan keberadaannya saat memerangi pasukan Barat: pertama, pada masa Khulafa Rasyidin, yaitu ketika Suriah dan Mesir dibebaskan dari kekuasaan Yunani yang telah membebani mereka selama hampir seribu tahun, dan kedua pada masa Shalahuddin Al-Ayyubi dan Mamalik saat mengusir Pasukan Salib dan Tatar, yang dikalahkan dan dihinakan…

Sekarang (umat) Islam sedang tertidur lelap. Namun, situasi global dapat membangunkannya untuk sekali lagi mengambil dominasi…. Semoga, ini tidak terjadi.”

Arnold Toynbee, Sejarawan Inggris

                                                                                                                     

Pihak Barat sangat bernafsu untuk menanamkan kekalahan psikologis dalam benak pemuda-pemuda Muslim, untuk mempertahankan negara Islam dalam kemunduran dan tidak lagi bangkit. Selain itu, mereka telah berupaya melalui strategi yang disusun dengan teliti untuk mengakarkan budaya mereka di dalam komunitas Muslim, serta untuk mengubah dan menghilangkan sejarah nenek moyang kita. Telah diketahui bahwa negara kita kini, terutama setelah revolusi, mulai membangun ulang tonggak kebangkitan peradaban.

Di sini di Al-Manarah Al-Baidha untuk Media Islam. Kami yakin akan perlunya menyambungkan masa kini dengan masa lalu, sehingga kami berharap video dapat menelaah kembali beberapa buku sejarah yang mengagumkan untuk melihat sejarah gemilang hingga saat ini. Melalui video ini kami berupaya untuk menggambarkan bahwa, meskipun masa keterpurukan kita telah berlangsung selama hampir dua abad, dahulu kita pernah memipin dunia ini selama lebih dari dua belas abad.

Sebelum tiba misi dari penutup para nabi, Muhammad bin Abdullah (SAW), terdapat dua kekuatan dunia, yaitu Kekaisaran Romawi dan Persia. Sementara Jazirah Arab merupakan negara yang jauh di sana yang penduduknya suku-suku yang saling berperang, dan yang menyembah berhala. Kaum yang kuat menindas yang lemah, ketidaksenonohan, dan korupsi tersebar secara terbuka di antara mereka.

Mereka menolak untuk meninggalkan apa-apa yang disembah oleh nenek moyang mereka dan mengikuti apa yang Allah tunjukkan. Mereka menolak untuk menganggap apa-apa yang Allah izinkan sebagai yang diizinkan untuk mereka dan apa-apa yang Allah larang sebagai yang dilarang untuk mereka.

Begitu juga dengan perkara moral lainnya, seperti minum alkohol, perjudian, pemalsuan, pembunuhan, pencurian, penguburan hidup-hidup bayi perempuan, penggunaan harta anak yatim, penindasan yang merajalela, serta pelanggaran yang tidak dibenarkan.-

Benar adanya bahwa kaum Quraisy sejak dulu memuja berhala. Namun, kaum Quraisy, seperti kaum yang tidak beriman lainnya terbagi menjadi dua golongan, golongan penguasa dan pemimpin serta golongan pengikut.

Mereka yang mempertahankan pemujaan berhala merupakan golongan pengikut karena yang mereka khawatirkan adalah perkara-perkara konkret. Sementara untuk golongan pemimpin dan penguasa, pemujaan berhala penting bagi mereka selama hal tersebut mengamankan loyalitas dan kepatuhan dari para pengikut mereka untuk mereka.

Pada kenyataannya, perkara penyembahan berhala bukan merupakan hal utama yang meresahkan mereka. tetapi hal utama bagi para pemimpin dan penguasa adalah kekuasaan. Siapa yang memegang kekuasaan? Siapa yang memegang pemerintahan?

Seperti itulah keadaan Jazirah Arab sampai Allah mengirim utusan-Nya, mengajak mereka kepada tauhid, untuk membawa mereka keluar dari kegelapan menuju cahaya, untuk mengatur hidup mereka, memperbaiki akhlak mereka,dan mengangkat mereka ke puncak peradaban dan kemajuan di bawah syariah Yang Maha Penyayang.

Panggilan kepada tauhid ini menghasilkan generasi istimewa, yang mana melalui usaha mereka, Allah mencerahkan hati mereka dan membebaskan negeri mereka. Mereka memerintah berdasarkan syariah Allah, menyebarkan keadilan dan mengangkat penindasan.

Ini merupakan generasi dari sahabat-sahabat yang mulia, pencetak sejarah, pembangun negara, mereka yang membangun kejayaan dan kehormatan untuk negara Islam. Panggilan dari Rasulullah SAW membesarkan generasi Al-Qur’an yang istimewa.

Perubahan yang fundamental terjadi dalam hati para sahabat Radhiyalahu ‘anhum. Contoh paling nyata adalah ‘Umar bin Al-Khattab (RA). Pada zaman jahiliah, beliau adalah seorang Arab yang kasar dan keras. Saat Umar (RA) menjadi seorang Muslim, Islam mengubahnya.

Ajaran dari Rasulullah SAW mengubahnya. Begitu pula persahabatannya dengan Rasulullah SAW, serta yang beliau pelajari dari moral-moral Islam dan kenabian. Umar menjadi contoh dari rahmat dan kelembutan sampai pada titik beliau sangat takut kepada Allah SWT.

Beliau juga khawatir tidak sanggup menunaikan hak-hak muslimin dan juga hak-hak hewan. Beliau mengatakan dalam salah satu pernyataannya yang terkenal, “Seandainya ada kambing yang terporosok di negeri Irak, aku takut Allah SWT akan bertanya kepadaku kenapa aku tidak memperbaiki jalannya.”

Para sahabat yang mulia membawa misi untuk menyebarkan agama ini, dan dimulailah penaklukan Islam selama masa Khulafa Rasyidin. Karena itu, cahaya dari panggilan Islam menyebar ke seluruh Jazirah Arab, kemudian ke Negeri Syam dan Mesir, dan mencapai Tunisia di barat, berlanjut ke Armenia dan Azerbajian di utara, dan ke timur mencapai Irak, daerah Sindh, dan Khurasan.

Perkara yang perlu dipertimbangkan mengenai penaklukan ini adalah bagaimana muslimin penakluk mampu membawa perubahan kepada masyarakat dari negara-negara yang ditaklukkannya; sehingga mereka mencintai dan mengadopsi agama barunya, sampai menjadi agama yang mereka pertahankan dan perjuangkan untuk disebarkan ke negara-negara tetangga.

Dengan berakhirnya masa Khulafa Rasyidin, masalah demi masalah mulai merayap masuk ke dalam tubuh Negara Islam. Namun, semuanya cepat terkekang kembali karena masih dekatnya masa tersebut dengan masa kenabian.

Penaklukan Islam terus berlanjut selama masa Khilafah Bani Umayyah dan negeri-negeri dipersatukan. Para Muslimin mencapai Cina di timur, Andalusia, Prancis Selatan di barat, dan sampai ke Tembok Konstantinopel.

Bayangkan jangkauan negara itu; lebih besar dari kerajaan manapun yang pernah manusia ketahui. Di dalam jangkauan negara itu, bila Kekaisaran Romawi dimasukkan, besarnya hanya akan mencapai sekitar sepertiga atau setengahnya dari negara itu.

Selama Khilafah Umawiyah, para khalifahnya sendiri ikut pergi berjihad dan mereka akan memerintahkan putra-putra mereka untuk memimpin pasukannya. Bukti paling nyata adalah aksi dari Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan, yang menahan gaji dari sanak-saudaranya jika mereka tidak pergi berjihad melawan Pasukan Salib Romawi.

Khilafah Bani Umayyah berdiri selama kurang lebih 90 tahun, di mana selama itu para Muslim berhasil meraih penaklukan-penaklukan yang besar, hingga perintah Allah tiba dan mengakhirkan dinasti mereka, yang kemudian diwarisi oleh Khilafah Abbasiyah yang melanjutkan perjalanannya. Selama Khilafah Abbasiyah, Islam terhormat dan bermartabat.

Diceritakan tentang seorang wanita Muslim yang ditangkap di Amorium (Kekaisaran Byzantium). Dia berteriak memanggil Khalifah Abbasiyah Al-Mu’tashim, “Wahai Mu’tashim!”

Seorang prajurit Romawi menjawabnya (dengan sarkastis), “Biarkan Al-Mu’tashim datang kepadamu dengan kuda hitam putih.” Dan saat Al-Mu’tashim mendengar berita itu, dia memerintahkan untuk pasukannya disiapkan, termasuk 80 ribu kuda hitam putih!

Al-Mu’tashim membawa kampanye terkenalnya, yang diabadikan oleh penyair Abu Tammam dalam puisinya, di mana ia berkata:

Pedang lebih nyata dalam berita daripada tulisan manapun, pada ujungnya adalah batasan antara kesungguhan dan gurauan.

Dan Baghdad menjadi ibukota timur, dan tujuan dari orang-orang yang datang dari segala penjuru untuk mencari ilmu.

Pada saat yang sama, Kordoba merupakan ibukota dari Eropa serta pusat peradaban dan ilmu-pengetahuan di Barat. Khilafah Umawiyah, jika dipertimbangkan dengan benar, merupakan masa penaklukan.

Khilafah Abbasiyah merupakan masa dari keunggulan dalam perkembangan dan peradaban, terkenal dengan perkembangan ilmiah di bidang ilmu agama dan materi. Contohnya pada bidang ilmu agama, mereka membuat perkembangan dalam ilmu syariah Islam, dalam ilmu bahasa dan penyebaran dari empat mazhab ilmu hukum Islam dan lainnya.

Selain itu, terdapat pula perkembangan dalam ilmu dunia, yaitu ilmu kedokteran dan teknik dan bidang lainnya. Jadi, dapat dikatakan Khilafah Abbasiyah adalah masa keilmiahan, pembangunan intelektual, arsitektur, dan juga seluruh aspek peradaban.

Khilafah Abbasiyah memasuki tingkat-tingkat terakhirnya dan mulai kehilangan komponen-komponennya yang jauh, yang menyebabkan pemisahan dari beberapa emiratnya. Namun, mereka tidak menghentikan sedikitpun pertarungannya melawan pasukan Salib, yang berhasil memasuki beberapa daerah di Syam.

Imaduddin Az-Zinki bangkit melawan mereka dan bertempur di jalan Allah. Melanjutkan perjuangannya, putranya, Nuruddin Al-Zinki, menetapkan peraturan utama untuk jihad melawan Pasukan Salib di Syam.

Shalahuddin Al-Ayyubi mengikuti jejak para Zinki dan Ayyubi serta menyatukan Mesir dan Syam di bawah satu panji, dan karena itu, Jerusalem bebas dari tangan para Pasukan Salib pada tahun 583 H (1187 M). Dalam Perang Hittin sebagai puncak dari perjuangan, yang bertahan selama lebih dari 40 tahun.

Percikan muncul di sana-sini, seperti Al-Muzhaffar Qutuz dan Azh-Zhahir Baibars di Mesir yang bangkit melawan serangan Tatar yang dipimpin oleh Hulagu, yang hampir menghancurkan kekuatan Islam di dunia. Mereka mendorong negara Islam untuk bangkit dalam kewajiban mereka untuk berjihad dan mempertahankan Islam sehingga Allah memberikan mereka kemenangan melawan Kaum Tatar, mengirim kembali mereka dalam usaha yang sia-sia setelah pertempuran Ain Jalut.

Yusuf bin Tasyfin yang zuhud bangkit di tanah Al-Maghreb, dan melaluinya Allah menyatukan Maghrib Raya dan Andalusia. Demikianlah, beliau mendapatkan kekuatan militer dan kekaguman dari pada Muslim di daerah itu, setelah terbagi-bagi menjadi kelompok dan negara bagian, dimanipulasi oleh Pasukan Salib selama masa Thawa’if.

Pada abad ke-10 Hijriah Allah mengizinkan negara Islam kembali bersatu di bawah satu panji. Khilafah Utsmaniyah berhasil menyatukan Negara Islam di bawah Khalifah Utsmaniyah Salim I setelah Pasukan Salib ditaklukkan. Mereka telah menyerang pesisir Negara Islam setelah mereka mengalahkan Kekaisaran Byzantium dan menaklukkan ibukotanya, Konstantinopel, sehingga kekuatan militer dari para Muslim diperkuat sekali lagi.

Kaum muslimin bertambah dalam hal kekuatan dan perluasan selama Dinasti Utsmaniyah, saat tanah para Muslim dibersihkan dari Pasukan Salib. Mereka mampu memasuki pedalaman Eropa sampai mengepung Wina.

Sultan Utsmaniyah mungkin adalah orang yang paling berkuasa pada abad ke-16 dan 17. Khilafah Utsmaniyah mampu membentuk pasukan yang sangat ditakuti Eropa. Masa Sulaiman dapat dilihat sebagai periode waktu di mana Eropa sangat kagum dan takut pada Khilafah Utsmaniyyah.

Pada masa Khilafah Utsmaniyah, muslimin memiliki kehormatan yang tinggi. Pada waktu itu Laut Mediterania dianggap sebagai Danau Utsmaniyah (Islam). Juga pada Dinasti Utsmaniyah, Laut Merah dianggap sebagai Laut Suci karena kedekatannya dengan kedua Tempat Suci (Mekah dan Madinah), serta kapal-kapal Pasukan Salib tidak diizinkan masuk.

Untuk mengetahui seberapa besar kehormatan yang dicapai para Muslim selama masa ini, Sang Perwira Sultan Sulaiman Yang Agung biasa menulis awalan suratnya dengan kutipan dari Al-Quran Al-Karim:

“Sesungguhnya ini adalah dari Sulaiman, dan ini dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.”

Inimenandakan tingkat dari kehormatan yang dinikmati kaum Muslim selama masa itu

Cukup diketahui bahwa ketujuh negara dari daerah Balkan masuk ke dalam negara Islam pada masa Khilafah Utsmaniyah.

Bani Utsman terkenal dengan semangatnya yang kuat untuk agamanya. Selama masa kekuatannya yang menyebar hingga abad ke-19 Masehi, muslimin berjalan dengan tegak dan bangga akan hubungannya dengan negara Islam.

Jika Anda bertanya kepada orang Eropa manapun, siapa itu orang-orang muslim, mereka akan menjawab, “Orang-orang Turki,” “Orang-orang Utsmaniyyah,” “Merekalah yang kami takuti.”

Namun, semakin menjauhnya Utsmaniyyah dari bahasa Arab dan kecenderungannya terhadap ajaran Sufi, dan juga penyebaran dari penindasan yang menyebabkan negara mereka perlahan-lahan menyimpang dari jalan yang lurus saat muncul faktor-faktor yang menyebabkan kehancuran internal negara dan kemudian kejatuhannya.

Terdapat cara-cara kehancuran, siapa yang mengikutinya akan dihancurkan. Begitu pula ada cara untuk membentuk pemerintahan, dan siapa yang mengikutinya dapat memperolehnya.

Imam Ibnu Taimiyyah berkata, “Sesungguhnya Allah memberikan pemerintahan kepada negara yang adil meskipun ada orang-orang yang tidak beriman, dan Dia tidak memberikan pemerintahan kepada negara yang zalim, meskipun ada orang-orang Islam.” Ini disebabkan ada cara-cara, dan cara-cara tersebut datang dari Allah.

Negara Utsmaniyyah memilih jalan kehancuran: penindasan semakin menyebar, pasukan Janissary, pembunuhan saudara, hal-hal yang tidak dibenarkan. Ini dan juga faktor-faktor lain berkontribusi besar terhadap melemahnya kekhalifahan.

Disertai tambahan kekuatan-kekuatan baru yang muncul di pertempuran seperti Inggris, Prancis, dan Rusia. Target dari negara-negara tersebut adalah menghancurkan Khilafah Utsmaniyah untuk membagikan tanahnya di antara mereka dan menghancurkan sejarah serta kultur Islam dari benak generasi masa depan.

Bagian Islam dan bagian Arab belum menemukan sejarah mereka karena sejarah mereka dihancurkan dengan sengaja pada masa kolonisasi. Sayangnya, saat mereka menemukannya, adalah dalam bentuk kepingan-kepingan sejarah.

Pasukan Salib Barat telah lama menyadari tingkat kekuatan dan solidaritas dari peradaban Islam. Sejak kekalahan mereka dalam Perang Salib, mereka menyibukkan diri mereka dalam studi yang terorganisir untuk mencari sumber kekuatan para Muslim.

Mungkin apa yang dilaporkan oleh peneliti Amerika, David Fromkin—dalam bukunya “Kedamaian untuk Mengakhiri Seluruh Kedamaian”—memperjelas beberapa usaha politisi Inggris di awal abad ke-20 untuk mengerti khilafah. Pemisahan antara otoritas duniawi dan spiritual, yang terjadi pada Eropa abad pertengahan, tidak terjadi dalam Dunia Islam.

Kitchener (dan lainnya) salah menganggap bahwa khalifah merupakan pemimpin spiritual saja. Dalam Islam, seluruh aspek kehidupan, termasuk pemerintahan dan politik, termasuk ke dalam pemerintahan Syariah, sehingga di mata muslim Sunni, seperti Sultan Utsmaniyah dan Amir Makkah, kekuasaan Khalifah meliputi menegakkan Syariah. Yang tidak dilihat oleh Kairo Inggris adalah bahwa khalifah juga merupakan amir: pemerintah dan pemimpin di pertempuran dan juga imam dalam ibadah.

Setelah Perang  Salib, pihak Barat melihat bahwa kaum Muslim tidak dapat dikalahkan dengan militer, sehingga Prancis dan Inggris bersegera mencari celah-celah dari dalam Kesultanan Utsmaniyyah, sementara Rusia berusaha untuk memecah Kesultanan secara militer. Prancis dan Inggris lama berusaha keras untuk menghancurkan Kesultanan Utsmaniyah, tetapi mereka menunggu waktu yang tepat untuk melakukannya.

Prancis dan Inggris sama-sama memiliki rencana untuk menghancurkan Kesultanan Utsmaniyyah. Rencana dasar Prancis adalah untuk menjadikan seorang Arab dari keturunan Rasulullah SAW, membuatnya sebagai tokoh pemimpin yang penting, dan menjadikan orang-orang Arab berkumpul bersamanya untuk memulai revolusi melawan Kesultanan Utsmaniyah, dengan Prancis sebagai diktator yang mengatur pemimpin boneka tersebut.

Inggris mengetahui rencana ini, mencurinya dari Prancis, dan memilih Syarif Husain untuk menjalankan rencana yang sama. Mereka meyakinkannya untuk melawan Utsmaniyah bersama mereka, untuk membentuk Khilafah Arab, di mana dia akan menjadi khalifah. Mereka memberinya banyak janji (secara diam-diam) bahwa dia akan menjadi amir dari Syam bagian Asia,

Perjanjian Sykes-Picot adalah persetujuan antara Inggris dan Prancis yang dibuat pada sekitar pertengahan perang mengenai bagaimana Timur Tengah akan dibagi sesuai keuntungan mereka masing-masing saat perang berakhir.

Ini adalah perjanjian yang esensial untuk dipegang menurut Skyes, karena dia telah diberitahu oleh teman-teman Arabnya di Kairo bahwa sangat penting bagi Inggris mengetahui apa yang dapat mereka berikan untuk pemimpin Arab yang diharapkan, Syarif Hussein. Sebelum mereka tahu apa yang dapat mereka berikan untuknya, mereka harus tahu apa yang mereka berikan untuk Prancis.

Perjanjian itu menyatakan bahwa Syam (Suriah, bukan seluruh Syam) menjadi milik Prancis. Sebagaimana yang diketahui dalam Deklarasi Balfour pada tahun 1917. McMahon meyakinkan Syarif Husain akan perlunya orang-orang Yahudi yang malang dan tertindas (secara sarkastis) untuk kembali ke Palestina, dan untuk Palestina menjadi negara mereka.

Husain menyetujui semua dari perjanjian itu. Untuk Palestina menjadi negeri orang-orang Yahudi, untuk Suriah dan Lebanon menjadi milik Prancis, dan untuk anaknya Abdullah menjadi raja di Yordania.

Perang Salib yang baru berakhir dengan invasi Inggris pada Palestina pada tahun 1917 M, di bawah komando Jendral Allenby yang berkatan saat memasuki Jerusalem, “Kini Perang Salib telah berakhir.”

Kaum kafir dunia mengalirkan rantai dari rencana yang detil dan konspirasi yang diawali dengan melemahkan Kesultanan Utsmaniyah, khilafahnya, yang mengawali keruntuhannya. Untuk memastikannya tidak bangkit dengan cepat, mereka mengukung Negara Islam dengan dua belenggu yang kuat:

Pertama adalah perjanjian yang membagi-bagi negara Islam, terutama perjanjian Sykes-Picot, yang memisahkan pusat dari negara Islam, yaitu Dunia Arab.

Kedua adalah Deklarasi Balfour,  saat kekuatan kaum kafir dunia memberikan dan menjanjikan orang-orang Yahudi tanah air di Palestina.

Tiga abad yang lalu mereka merencanakan dan menyusun. Akhirnya mereka mampu menjatuhkan Khalifah Muslim Sultan Abdul Hamid pada tahun 1909 M dan kemudian Khilafah pada 2-2-1924.

Akhirnya, mereka terbebas dari hantu yang biasa menghantui mereka siang malam. Yang mengejar mereka saat tidur dan bangun, yang membuat mata mereka tidak bisa tidur dan membuat mereka takut setiap kali mereka mengingat kekhalifahan. Seluruh dunia setuju bahwa khilafah tidak diizinkan untuk bangkit kembali.

Demikianlah, jatuh kerajaan terakhir yang menyatukan umat Muslim dan menolak rencana-rencana orang-orang kafir terhadap mereka. Meskipun begitu, ruh jihad tidak mati dalam negara Islam, karena para pencari kemuliaan telah dikirim untuk melawan pasukan yang menjajah negara yang diduduki kaum Muslinm dan mengajarkan mereka pelajaran yang besar yang telah diabadikan dalam buku-buku sejarah.

Di Maghrib Islam, Amir Muhammad bin Abdul Karim Al-Khattab muncul, yang berhasil mengalahka pasukan dari kelima negara Eropa dalam Pertempuran Annual pada tahun 1921 M, di mana 10 ribu tentara dan lebih dari 100 jenderal ditangkap. Reputasinya menyebar sebagai ikon dari peperangan gerilya modern.

Di Libia bangkitlah Singa Padang Pasir, Umar Al-Mukhtar, yang berjihad di jalah Allah melawan pendudukan Italia dan menyebabkan banya kerusakan dalam selang waktu 20 tahun hingga ia ditangkap setelah terluka. Para penjajah mengeksekusinya, dengan kalimat terakhirnya, “Kami tidak menyerah…kami menang atau kami mati.”

Di Kaukasus Islam, cucu dari Imam Syamil melanjutkan untuk melawan pendudukan Tsar Rusia, kemudian pendudukan Komunis pada tahun 1934 M, dalam jihad yang pada saat itu pada abad ke-3nya, tanpa mundur atau menyerah.

Di Syam, syaikh dari mujahidin muncul, Izzuddin Al-Qassam, dari Jablah, sebuah kota di Suriah. Ia berperang melawan pendudukan Prancis dan kliennya, para Alawi, di penjuru pesisir Suriah. Jihadnya menyebar hingga ke pendudukan Inggris dan kumpulan Yahudi di Palestina, hingga ia syahid pada tahun 1935 di dekat Jenin, dalam pertempuran yang memberikan jalan untuk pemberontokan besar pertama di Palestiina pada tahun 1936.

Pemberontakan terhadap pendudukan muncul di banyak negara Muslim yang memaksa penjajah untuk mengubah cara mereka dari penjajahan militer menjadi penjajahan politik dan ekonomi, setelah diberikan jalan untuk fase pascamiliter.

Syaikh Abu Mush’ab as-Suri menulis dalam bukunya Seruan Perlawanan Islami Global:

“Untuk tahap ini… penjajah Eropa melanjutkan rencana mereka untuk ghazwul fikri melawan kaum muslimin dalam rangka mendapatkan dominansi absolut atas mereka.

Para penjajah membentuk pemerintahan politik dan elit di bawah supervisi mereka di negara-negara Muslim, dan menyiapkannya untuk menjadi representasi mereka di daerah itu untuk mencapai tujuan mereka, sementara mereka (para penjajah) bebas dari tanggung jawab untuk konfrontasi dengan pihak perlawanan.

Karena kepemimpinan nasional ini muncul di depan masyarakat sebagai simbol kemerdekaan, sehingga ‘kemerdekaan’ itu diumumkan di negara-negara kami, agar anak-anak kami yang lulus dari sekolah hukum di universitas Barat membentuk konstitusi, legislasi, dan hukum yang dibangun pada fondasi hukum Barat….

Legislator ini, yang mencuri hak dari Yang Mahakuasa dan legislasi melanjutkan membuat hukum dan menyusun konstitusi yang berasal dari hukum Prancis dan Inggris yang kemudian menjadi fondasi tempat bergantungnya otoritas dan juga kerangka politik di negara Muslim.

Karena Allah berfirman akan menjaga agama-Nya dan Kitab-Nya serta menjaga kebenaran abadi, senantiasa ada kelompok dalam negara Islam yang bertempur untuk melawan. Tidak merugikan mereka pihak yang menjatuhkan dan menentang mereka.

Benih dari kebangkitan Islam dan kebangkitan yang diberkahi disemai sejak hari-hari pertama setelah keruntuhan kekhalifahan antar berbagai madrasah pemikiran. Namun, semuanya berjuang menuju tujuan yang sama, yaitu kembalinya negara Islam kepada agamanya, syariahnya, dan hukum Rabbnya.

Di antara pemimpin-pemimpin dari kebangkitan yang diberkahi tersebut adalah Sayyid Quthb, yang memerangi konstitusi buatan manusia dan melalui tulisannya meminta legislasi Syariah dan menetapkan contoh yang paling besar melalui pengorbanan dan ketegarannya dalam agama hingga ia dihukum gantung pada tahun 1966.

Demikianlah, setelah ia menolak membuat perjanjian dengan rezim Mesir sebagai ganti keringanan hukumannya. Beliau merespons tawaran mereka dengan berkata, “Jari telunjuk yang bersaksi akan keesaan Allah saat sholat tidak akan menulis satu katapun untuk mengakui kekuasaan seorang tiran.”

Di Suriah, Syaikh Marwan Hadid melanjutkan di jalan yang sama. Beliau yakin bahwa bencana seperti di sisi Ba’ath Suriah tidak dapat dilawan kecuali dengan jihad, sehingga beliau membentuk Thali'atul Muqatilah (Pejuang di Barisan Terdepan) dan memulai upayanya dalam jihad, yang ditekan oleh tank-tank pihak Ba’ath pada tahun 1965.

Beliau mengulang usahanya pada tahun 1970, hanya untuk ditangkap dan digantung pada tahun 1975, semoga Allah merahmatinya. Setelah itu, revolusi jihadi modern yang paling lama dimulai melawan pemerintahan penjajah di dunia Arab, berakhir pada kejadian di Hama pada tahun 1982, yang mengungkap kebencian rezim Alawi terhadap muslimin.

Konsep Jihad di Syam absen dari pikiran penduduknya. Bahkan tidak ada yang pernah mendengar kata Jihad sebelumnya. Pada kenyataannya, Syam dianggap sebagai salah satu pusat paling penting di Dunia Islam karena jaraknya yang dekat dengan Palestina, dengan Hijaz dan menjadi pusat dari dunia Islam.

Adanya jihadi yang meletus secara berkelanjutan berpusat di Syam adalah kritis agar orang-orang terus mendengar tentang jihad. Bahkan teoris barat seperti Regis Debray dari Prancis, penulis ‘Revolusi dalam Revolusi’ mengonfirmasi diperlukannya pusat revolusi yang meletus secara berkelanjutan agar revolusi terus berlangsung.

Jelas, dia bukan teladan kita untuk dicontoh, begitu pula Castro ataupun Guevara, tapi ini adalah fakta; fakta yang menjadi bukti dari apa yang disampaikan Rasulullah SAW dalam hadits yang diriwayatkan oleh Muslim “Akan senantiasa ada kelompok dari umatku yang akan berperang di jalan Allah. Mereka tidak akan disakiti oleh pihak yang menentang mereka.”

Ini berarti akan ada kelompok dari umat Nabi yang akan berperang di jalan Allah sehingga akan terus ada kelompok jihadi yang berperang di Dunia Islam, pusat untuk meletusnya jihad, dan orang-orang akan terus mendengar ada jihad di Mesir dan Aljazair! Ada jihad di Kashmir dan India! Ada jihad di Afghanistan!

Ide dari jihad secara praktek diaplikasikan dan terus meletus dan diimplementasikan. Bukan hanya menjadi sesuatu yang kita baca di buku sejarah, bahwa zaman dahulu nenek moyang kita biasa berjihad… tidak!

Di seluruh negeri-negeri Islam, gerakan jihadi tampak menantang rezim-rezim itu dengan angkatan bersenjata. Namun, mereka belum berhasil mencapai tujuan mereka akibat bentrokan dengan rezim yang kasar dan tidak adil, yang didukung oleh kekuatan kaum kafir dunia.

Usaha-usaha seperti itu pada umumnya berakhir dengan penangkapan dan hukuman penjara, sampai jihad Afghanistan melawan Rusia, saat kaum Muslim dari berbagai jalan hidup menjawab panggilan jihad, dan bumi Afghanistan memberikan kesempatan untuk menyatukan mujahidin-mujahidin di dunia.

Perang Afghanistan berlangsung selama 10 tahun di mana mujahidin lokal dan asing mencatat banyak aksi-aksi heroik. Mereka mampu menyebabkan jatuhnya salah satu kekuatan dunia yang paling besar saat itu. Mujahidin mampu menjatuhkan Uni Soviet setelah penyerangan mereka, dan negara Islam kemudian merasakan kemenangan untuk pertama kalinya di abad ke-20.

Sebenarnya, kemenangan mujahidin melawan Rusia memiliki banyak pengaruh. Rusia dianggap sebagai negara terkuat kedua di dunia, dan beberapa menganggapnya yang paling kuat. Rusia dengan bangga mengatakan mereka memiliki senjata nuklir yang memiliki potensi, dalam teori, untuk menghancurkan Amerika sebanyak 280 kali, sementara kita hanya ingin menghancurkannya sekali saja.

Saudara-saudara kami, para mujahidin suci, menghancurkan raksasa ini. Ini memberikan harapan dan kehidupan di jiwa-jiwa para Muslim di penjuru dunia. Para Muslim sanggup, jika ia berjihad dan bergantung pada imannya, untuk mencapai banyak hal-hal besar.

Setelah kejatuhan Uni Soviet, dunia memasuki tahapan kekuasaan unipolar di seluruh penjuru dunia, tanpa ada kekuatan yang menyandinginnya, Amerika menunjuk dirinya sebagai penguasa dunia dan mengambil alih media global, mempromosikan dirinya sebagai pelindung kedamaian dan kemakmuran dan istilah-istilah ‘lembut’ lainnya, sementara bersembunyi di belakangnya adalah kebencian para pasukan salib terhadap Islam.

Pada kenyataannya, Amerika bekerja untuk membangun Yahudi di Palestina, mengirim pasukan dan sarana militernya ke negeri dua tempat suci dan mencuri kekayaan dan sumberdaya dar i tanah orang-orang Muslim. Di balik kenyataan pahit ini, para elit yang tulus dari putra-putra negara Islam setuju bahwa keadaan negara-negara Islam sekarang ini adalah bencana besar dan yakin akan perlunya pergerakan untuk mengubah kenyataan itu.

Kini kebangkitan Islam sedang mencari solusi untuk krisis kita, Tabligh sedang berusaha menyelesaikan krisis kita, dengan beragam madrasah pemikiran mereka yang berbeda. Salafi sedang berusaha menyelesaikan krisis kita, Ikhwanul Muslimin sedang berusaha menyelesaikan krisis kita, Hizbut Tahrir sedang berusaha menyelesaikan krisis kita, At-Takfir wal Hijrah sedang berusaha menyelesaikan krisis kita, semua mengklaim metode untuk menyelesaikan krisis kita.

Jadi, apa solusinya sekarang? Kita sedang berada dalam krisis. Kita tidak membicarakan krisis kebangkitan atau krisis mujahidin, melainkan krisis umat secara keseluruhan. Apa solusinya?

Contohnya Tabligh, mereka melihat solusinya yaitu melalui perbaikan diri tiap individu. Jika setiap individu memperbaiki diri, maka masyarakat akan memperbaiki diri, dan masyarakat yang bersih akan menghasilkan pemerintahan yang bersih.

Ini dia! Melalui perbaikan individu dan membawa muslim kembali kepada Allah, dari lingkungan yang kurang bermoral ke lingkungan yang saleh.

Sufi menganggap solusinya adalah melalui mengumpulkan orang-orang dan secara spiritual membersihkan mereka melalui ibadah. Jika jiwa mereka telah dibersihkan dan sikap mereka menjadi lurus, mereka akan bertindak lurus.

Saudara-saudara kita, Salafiyun, mengatakan, “Tidak, tanpa iman yang kuat, tidak akan ada yang kuat.” Karena itu, mengoreksi iman orang-orang akan mengarahkan kepada masyarakat dengan iman yang kuat.

Menyebarkan dakwah salafiyah, tauhid murni, iman yang murni, dan mengikuti jejak para pendahulu kita dan tradisi beragama yang murni akan mengarahkan ke komunitas yang saleh dengan benar. Dan karena itu, “Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubahnya sendiri.” (Q.S. 8: 53).

Jika mereka mengubah diri mereka sendiri, realitas mereka akan berubah. Mereka menyimpulkan solusinya seperti itu. Adapun At-Takfir wal Hijrah menganggap solusinya adalah untuk melihat massa Muslim sebagai orang-orang yang tidak beriman dan berpisah dari mereka sepenuhnya.

Intinya, ada solusi-solusi yang diberikan dan visi-visi yang ada sangat banyak. Semua memberikan solusi untuk keluar dari krisis, dengan mengabaikan orang-orang yang tersesat dan salah arah.

Saya memiliki asumsi yang baik untuk semua solusi yang disebutkan tadi dan menganggap niat mereka tulus. Secara umum, para penganut dari semua solusi yang disebutkan tadi melihat krisis.

Ini adalah bagaimana pikiran dan kontemplasi mereka menjadikan mereka berpikir. Ini adalah solusi dari perspektif mereka.

Sebagaimana semua orang memiliki solusi untuk krisis, solusi kami adalah melalui senjata. Tidak akan terselesaikan tanpa senjata.

Krisis seperti ini tidak bisa diselesaikan tanpa senjata. Karena ini adalah tentang kosongnya pemerintahan. Konflik dengan orang-orang murtad, keberadaan pasukan Salib, berarti keberadaan dari NATO, berarti pasukan perang, adanya armada.

Orang-orang Yahudi berarti Pasukan Pertahanan Israel (IDF), berarti Mossad, berarti bencana. Isu-isu ini tidak diselesaikan melalui perbaikan spiritual atau tarbiyah (saja)!

Bagi mereka yang memilih untuk menangkat senjata, solusi dari tiap-tiap mereka akan untuk berdiri teguh di medan perang, mempertahankan kehormatan dari negara ini dengan melawan musuh, yang datang bersama dan bersepakat untuk mencegah kebangkitan kembali negara Islam.

Di antara kelompok-kelompok yang berperang ini adalah Al-Qaidah, yang menganggap solusinya adalah difokuskan pada pusat dari kekafiran, Amerika, dan menciptakan kekuatan perlawanan yang cepat untuk melawan keangkuhan mereka. Harapannya, mereka (Amerika) berhenti menganggap muslim sebagai tangkapan mudah dan berhenti menyerang mereka kapanpun dan di manapun; sesuka hati tanpa memperhitungkan konsekuensinya.

Namun, Amerika bersikeras dan arogan sehingga pilihan untuk merespons dengan cara yang sama dianggap sebagai solusi paling efektif, agar Barat tahu bahwa kaum muslimin tidak akan tinggal diam terhadap kejahatan-kejahatan yang dilakukan terhadap mereka, dan mereka akan terus melawan penindasan dan kezaliman.

“Kalian bersama kami, atau kalian bersama teroris.” Setelah Peristiwa 11 September, penguasa Amerika mengungkap wajah aslinya. Klaim mereka atas kebebasan terlihat, yang selama ini menggunakan topeng demokrasi dan hak asasi manusia, yang biasa mereka gunakan untuk membohongi masyarakat.

Dengan demikian, Perang Salib kembali ke asal mula mereka. Selama bertahun-tahun, para penjajah hanya melawan negara-negara Muslim yang mereka catat melalui negara klien mereka yang ada di daerah itu.

Generasi ini telah menyadari hakikat dari Amerika dan para penguasanya. Standar kehidupan dan sosial mereka memburuk, dan menjadi sangat disulitkan oleh kezaliman pemimpin-pemimpin dan penindasan mereka.

Ketegangan umum telah meningkat, menghasilkan pemberontakan sosial yang besar, mengguncang tahta para penindas, menggulingkan para penganiaya di Tunisia, Mesir, Libia, dan Yaman, sementara revolusi berlanjut melawan tirani Syam.

 

Negara Muslim telah diberi kehidupan sekali lagi dengan para penyeru pembaruan. Semoga Allah memberkahi revolusi ini.

Untuk semua revolusioner di seluruh dunia, berpegang teguhlah kepada urusanmu dan hati-hatilah terhadap ‘dialog’. Tidak ada jalan tengah antara kenyataan dan kedustaan. Sama sekali tidak!

Ingatlah bahwa Allah telah memberikan rahmat-Nya kepadamu dengan hari-hari ini, di mana setelahnya akan datang yang lebih baik. Kalian adalah prajurit dan pemimpin masa kini.

Di tangan kalianlah kekuasaan yang dijaga umat untukmu untuk hari menakjubkan ini. Teruskanlah perjuangan dan jangan takut akan kesulitan.

Perjuangan telah dimulai untuk mencapai tujuan. Orang-orang yang bebas telah maju dengan tekad kuat, dan saat orang-orang yang bebas memulai barisan mereka, mereka tidak akan lelah dan tidak akan berhenti



[1] Video tersebut disosialisasikan pada tanggal 26 Juni 2015 melalui akun Twitter resmi JN @ManaraMorasel (sekarang @SHMM_9). Lihat: https://justpaste.it/Glory_1